You Should Be Mine (Chapter 3)

YOU SHOULD BE MINE

Untitled

Tittle                           : You Should Be Mine

Author                                    : DarkEyes

Main Cast                   : Oh Sehun (EXO)

                                   Kim Hana (OC)

Additional Cast          : find it by yourself

Genre                          : romance

Rating                         : General

Length                        : Chaptered

Disclaimer                   : I don’t own anything beside the story and OC. This pure my imagination. If there are similarity, it’s not intentional and I apologize. Casts belongs to God and their parents. Please don’t be a plagiator and SIDERS. HAPPY READING!

Pernah dipublish di https://choupang.wordpress.com

 

WARNING!!! TYPO EVERYWHERE!!

 

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2]

 

Author POV

Matahari mulai meninggi, memancarkan seluru sinarnya ke penjuru dunia. Sinar itu mengintip dengan malu di sela-sela gorden putih yang bergerak pelan tertiup angin pagi, sedikit menyinari ruangan gelap di belakangnya. Sebuah ketukan halus terdengar di seluruh penjuru ruangan. Membuat sang empunya ruangan mengerang pelan. Siapa gerangan yang mengganggu tidur tenangnya di pagi yang secerah ini? Hanya menggeliat pelan dan kembali pada kagiatannya, tanpa memberi respon lebih lanjut pada suara bising itu.

Ketukan yang semula pelan dan halus kini sudah berubah menjadi pukulan-pukulan yang sangat berisik disusul dengan suara seorang wanita paruh baya, “YA! OH SEHUN! BANGUN KAU ANAK NAKAL! KAU ADA KULIAH PAGI INI BODOH” teriak eommanya dari balik pintu.

Sehun mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan pengelihatannya dengan cahaya pagi. “Aish. Dasar wanita tua yang menyebalkan” runtuknya lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.

“Ya! Kau itu manusia apa batu hah? Eomma membangunkanmu dari setengah jam yang lalu dan kau baru bangun sekarang? Kau bahkan belum tua tapi kau lupa kalau sekarang memiliki jadwal kuliah pagi? apa gunanya otak jeniusmu itu jika kau pelupa? Cepat mandi dan ganti bajumu, Appa sudah menunggu untuk sarapan” cerocos Eommanya seperti kerata api dengan rem blong.

“Arasseo” balasnya singkat dan datar lalu kembali menutup pintu kamarnya.

“Ya Tuhan, dia bahkan begitu dingin kepada Eommanya sendiri? Aku tidak percaya kalau aku ternyata melahirkan sebuah batu” runtuk Nyonya Oh yang kemudian melenggang turun ke lantai bawah.

Walaupun Nyonya Oh tidak mengatakannya dengan keras, tapi Sehun masih bisa mendengarkan ucapan eommanya tersebut dengan jelas. Sehun hanya mendengus kecil tersenyum tipis mendengarkan sumpah serapah eommaya. Menurutnya itu adalah bimbingan rohani yang ia terima disetiap pagi. Ceramah eommanya sudah seperti rutinitas pagi yang tidak akan terlewatkan di setiap hari bahkan hari minggu sekalipun. Tapi, ia tau kalau celotehan beliau itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang yang tulus untuknya.

Sehun menatap pantulan dirinya di balik cermin. Dipasangnya muka dingin dan angkuhnya. Namun yang ia lihat di pantulan cermin itu adalah muka tersenyum dan hangat seorang Oh Sehun. Sehun hanya menyeringai memandangi pantulan dirinya, lalu melenggang masuk ke kamar mandi.

Setengah jam kemudian Sehun sudah berada di meja makan menikmati sarapan pagi bersama Tuan dan Nyonya Oh. Tidak ada percakapan yang terjadi diantara meraka. Hanya keadaan sunyi dan dentingan sendok dan garpu yang menemani. Hingga suara Tuan Oh memecah keheningan. “Kapan kau akan lulus dari kuliah mu?” tanyanya pada Sehun.

“Pertengahan tahun depan” balasnya singkat tanpa menoleh sama sekali.

“Setelah lulus nanti aku akan menaikan jabatanmu menjadi Direktur Eksekutif di cabang pusat. Kau hanya harus menyelesaikana tugas Menejermu dengan baik sampai hari itu tiba” tambah Tuan Oh.

“Ne, Abeoji. Kamsahamnida” balasnya. Sehun hanya tertawa dalam diamnya. Menaikan jabatannya? Kenapa tidak langsung mengangkatnya sebagai Presdir saja. Toh akhirnya dia akan menduduki posisi itu. Sebenarnya dia tidak sudi mengucapkan terima kasih kepada Ayahnya itu. Tapi setidaknya dia adalah orang yang berpendidikan dan bermoral, yang masih menghormati orang tuanya. Cih. Apa ayahnya itu masih bisa dipanggil sebagai “orang tuanya”? persetan dengan semua itu.

Keheningan kembali menghampiri mereka. Keheningan itu terus menemani mereka hingga selesai sarapan. Sebelum Sehun hendak beranjak dari kursinya, Nyonya Oh memanggilnya. “Hun-ah, tunggu jangan berangkat dulu. Harus ada yang kau bawa” ucap Nyonya Oh sambil menghilang ke ruang tengah. Sehun hanya mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Memangnya apa yang harus ia bawa selain tas dan kunci mobilnya?

Nyonya Oh kembali dengan setumpuk buku-buku kecil seperti…… undangan. “Ini undagan pertunanganmu dengan Hana. Acara pertunangannya akhir minggu ini, jadi bawa lah dan bagikan kepada teman mu yang ingin kau undang” Sehun mengangguk paham sambil menerimanya lalu pergi. Dia tau, hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Tapi dugaannya sedikit meleset. Ternyata hal ini datang lebih lambat dari perkiraannya.

Sehun hanya mendengus dan melemparkan setumpuk undangan itu ke kursi di sampingnya, lalu melajukan mobilnya menuju kampus.

–*_*–

“Waahh tidak ada lagu tidur paling merdu selain suara Professor Jung. Sekali kau mendengarnya, rasa kantuk akan langsung menghampirimu” celoteh Baekhyun. Sehun yang sedari tadi diajak bicara hanya diam tanpa membalas perkataan Baekhyun. Matanya hanya terfokus pada jalanan. “Ya, hun-ah. Sebenarnya ada perlu apa kau mengajakku ke parkiran?” Tanya Baekhyun.

Sehun menoleh, “Ada sesuatu yang harus kau kerjakan” balasnya datar dan kembali mengalihkan pandangannya ke jalan. Baekhyun hanya manggut-manggut dengan dahi yang mengernyit. Tidak mungkinkan Sehun akan menyuruhnya membuat bahan skripsi? Ayolah bahkan bahan skripsinya sendiri saja belum jadi. Sehun langsung menuju mobil Ferrari merahnya. Membuka pintu penumpang, mengambil sesuatu di jok, lalu menutupnya lagi. Matilah kau Byun Baekhyun. Sehun membawa berkas-berkas bahan skripsinya untuk kau selesaikan.

“Ya, Sehun-ah. Kau tidak menyuruhku untuk menyelesaikan bahan skripsimu kan?” tanyanya was-was.

Sehun hanya terkekeh pelan, “Aku tidak akan melimpahkan tanggung jawabku kepada orang lain seenak jidat hyung. Kau tenang saja”

Baekhyun menghembuskan nafasnya lega. “Lalu apa yang kau bawa itu?” sehun mengangkatnya lalu memberikannya pada Baekhyun. “Ini undangan pertunanganku. Kau sebarkan ke orang-orang yang ingin kau undang ke pertunanganku” ucapnya santai.

Baekhyun mengernyit heran, “Ya! Sejak kapan kau punya yeojachingu yang bisa diajak bertunangan seperti ini?” selidik Baekhyun.

“Aku bahkan bisa mendapatkan istri dalam hitungan jam hyung. Cepat sebarkan, ku tunggu di taman belakang kampus” timpalnya lalu melenggang meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri dengan wajah keheranan.

“Ya! Sehun-ah! Oh Sehun! Kau kira aku pembantumu apa?” yang diteriaki hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

Sehun menunggu Baekhyun menyebarkan undangan bodoh itu dengan membaca buku dibangku taman. Hari mulai menjelang gelap karena matahari mulai lelah untuk berpijak di langit. Angin dingin musim gugur mulai mencengkam. Kenapa hyung bodoh itu belum kembali juga? Apa susahnya membagikan undangan hah?

Pikirannya melayang, ia masih tak menyangka bahwa minggu depan ia akan tinggal dengan orang asing. Konyol. Benar-benar konyol. Ia sudah memperkirakan hal-hal apa saja yang akan direncanakan abeojinya untuk dirinya, dan ya hampir 99% tepat sasaran kecuali hal ini. Dia tidak menyangka akan mengakhiri masa lajangnya diusia yang masih menginjak 22 tahun, dengan dijodohkan pula.

Dia tidak butuh sosok wanita untuk jadi istrinya saat ini. Wanita? Dia sudah mendapatkannya setiap malam di club langganannya. Kau bahkan bisa bergonta-ganti sesuai keinginanmu bukan? Tidak hanya terpaku pada seorang saja. Cih itu sangat membosankan.

Imajinasinya terputus mendapati seseorang yang berjalan melewatinya dengan gontai. Wajah yang tidak asing itu tanpa sadar mengukir sebuah senyuman sinis di muka Sehun. Sedang apa kau di sini hah? Batinnya.

Mata elangnya mengikuti setiap gerak-gerik orang itu dengan seksama. Hingga seorang yeoja menghampiri orang itu dari belakang lalu berteriak “YAAA!!! KIM HANA!! APA KAU SEKARANG JADI KANIBAL HAH!!” dua gadis bodoh sudah berkumpul. Sehun tidak mempedulikan kedua gadis itu dan melanjutkan membaca bukunya.

Tapi dasar gadis berisik, ocehan mereka berdua terus terdengar di gendang telinga Sehun, mengganggu konsetrasi membacanya saja. Lama kelamaan Sehun tidak menyadari bahwa dia sudah tidak membaca bukunya lagi melainkan mendengarkan percakapan 2 yeoja itu sambil tersenyum meremehkan. “Jadi apakah calon tunanganmu itu tampan? Apa lebih tampan dari kyuhuyun oppa? Ani. Kalau aku membandingkannya dengan cho kyuhyun itu aku sudah tau kau akan menjawab apa. Apa lebih tampan dari chanyeol oppa?”

Itu pertanyaan mudah. Bahkan anak TK pun bisa menjawabnya. Aku jelas lebih tampan daripada yoda itu, batin Sehun.

“Ehmm….. lebih tampan chanyeol oppa mu itu” YA! Apa dia sudah gila? ia jelas lebih dan lebih dalam berbagai hal terutama tampang jika dibandingkan dengan Park Chanyeol. Sepertinya kau harus memeriksakan matamu atau mungkin psikismu ke rumah sakit terdekat Nona Kim.

Melihat Baekhyun yang tidak kunjung kembali, Sehun memutuskan untuk pergi. Ia menutup bukunya dan akan beranjak ketika sebuah suara memanggilnya, “Hun-ah!”

Hana POV

Sebuah suara terdengar memanggil nama yang tak asing di telingaku. Tawaku terhenti lalu menoleh ke sumber suara tersebut. Aku mendapati seorang namja berpawakan tinggi sedang membawa buku berdiri membelakangi ku tak jauh di sana. Punggung itu……. Nampak tak asing, batinku. Lalu tak lama kemudian namja yang bepawakan lebih pendek dari namja sebelumnya berlari-lari kecil menghampiri namja tinggi itu.

“Apa yang sedang kau lihat” Tanya Na Young, memutar tubuhnya, ikut memperhatikan apa yang ku lihat sedari tadi.

“Oh itu Baekhyun oppa, teman sekelas Chanyeol oppa” celetuk Na Young sambil menunjuk namja pendek di sana.

Aku mengalihkan pandanganku padanya, “Kau mengenalnya?” Tanya ku heran.

Na Young mengangguk antusias, “Dia Baekhyun oppa sahabat Chanyeol oppa di jurusan teknik arsitek. Kami sering keluar bersama hanya sekedar untuk bersenang-senang”

Tidak tidak tidak. Kalau namja yang kata Na Young bernama Baekhyun itu aku tidak pernah melihatnya sama sekali, tapi tidak untuk namja yang dia ajak bicara itu. “Lalu siapa namja yang dia ajak bicara itu?” Tanya ku tanpa melepaskan pandanganku dari mereka berdua.

“Seingatku dia juga teman Chanyeol oppa dijurusannya, tapi aku lupa siapa namanya. Dia orang yang cuek dan sangat dingin. Meskipun sebenarnya dia sangat tampan, tapi sifatnya yang menurutku sangat arogan dan tidak bersahabat itu memberinya nilai minus yang talak” Hana mengangguk paham.

“Tapi kalau masalah tampang, ku akui dia namja tertampan yang pernahku temui seumur hidupku. Wajahnya bak ukiran patung-patung dewa Yunani, begitu tegas dan detail. Perpaduan yang sangat sempurna dari tangan Tuhan” tambahnya sambil menggenggam kedua tangannya di dada sambil menatap binar ke langit.

Aku hanya terkekeh mendapati tingkah sahabatku ini. “Kau sangat berlebihan Na Young-ah. Mana ada namja seperti itu di dunia ini” Na Young memang selalu melebih-lebihkan dalam hal berbicara, batinku.

“Ya! Aku sedang tidak mengada-ada. Bahkan orang-itu-yang-aku-lupa-namanya memiliki banyak fans di kampus ini, mungkin sekitar 50 ani 70 persen gadis di kampus ini masuk dalam basis fans klub dia” balas Na Young. Aku memutar bola mataku malas. Ayolah bukankah itu terlalu berlebihan hah?

Aku kembali mengalihkan pandanganku kepada dua namja tadi. Tapi kedua namja itu sudah pergi entah kemana. “Cepat sekali mereka menghilang. Perasaan barusan mereka masih berada di sana”

Trrrttt Trrrtttt Trrrrrtt

Sebuah sms masuk yang langsung mengalihkan perhatianku dari tragedy hilangnya 2 namja tadi.

From : Kyuppa

            Hana-ya. Aku sudah di depan gerbang universitasmu. Kau cepatlah keluar

 

To : Kyuppa

            Arasseo oppa. Tunggu aku ne. sebentar lagi aku akan keluar dengan Na Young

“Na Young-ah, Kyu oppa sudah menjemputku di depan, apa kau mau ikut bersama kami?” ajak ku menawarkan tumpangan.

“Big nono ma sista. Aku tidak ingin menjadi pengganggu kencan kalian, lagian aku juga tidak mau menjadi obat nyamuk di sana” timpal Na Young sambil mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa mendengar jawaban Na Young.

“Apa aku seperti itu kepadamu?” tanyaku

“Demi Tuhan. Kau tidak menyadarinya Nona Kim? Aku sudah cukup mengalami hal itu 3 kali dalam hidupku. Aku tidak mau mengulanginya untuk yang ke 4 kali” tawaku pun semakin meledak.

“Arasseo, aku mengerti perasaanmu. Maafkan aku chingu” ucapku sambil memeluknya.

“Kajja. Pangeran bermercedes putihmu sudah menunggu di gerbang depan. Kau tidak mau membuatnya lumutan karena menunnggumu bukan?” Aku mengangguk antusias lalu kami pun beranjak meninggalkan taman.

Sesampainya di Gerbang depan aku bisa melihat sosok Kyuhyun oppa yang terbalut jas kantornya. Sangat tampan dan berkelas. Dia melambaikan tangannya ke arah ku memberikan tanda bahwa dia ada di sana. Aku membalasnya dengan lambaian tangan ku yang ehem lebih antusias mungkin.

“Annyeong Kyu oppa” sapa Na Young ketika kami sudah berada di depan Kyuhyun oppa.

“Annyeong Na Young-ah. Bagaimana kabarmu? Apa kau mau ikut bersama kami?” balas Kyuhyun oppa ramah.

“Well… seperti yang kau lihat oppa, aku baik-baik saja. Anio oppa. Aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian berdua” timpal Na Young yang langsung mendapat jiwitan gemas di pinggangnya dari Hana.

“Hehehe apa aku melakukan itu padamu?” ucap Kyuhyun mengusap tengkuknya pelan.

“Anio oppa. Na Young bercanda. Dia memang suka bercanda di waktu yang tidak tepat” timpalku sambil melirik Na Young dengan tatapan mematikan.

“Hahahaha Hana benar oppa, aku memang suka bercanda di waktu yang tidak tepat” balas Na Young keder melihat tatapan mematikan dari ku. “Kalau begitu aku pergi dulu oppa, Chanyeol oppa sepertinya sudah menunggu ku di gerbang sebelah. Annyeong, nikmati waktu berdua kalian” tambahnya lalu berlari-lari kecil meninggalkan kami.

“Dasar Kang Na Young” ucapku terkekeh geli. Kyuhyun oppa pun hanya geleng-geleng kepala mendapati hoobae SMA nya dulu yang tidak berubah sama sekali. Kyuhyun Oppa lalu mengajakku untuk segera masuk ke mobilnya dan kami pun melaju meninggalkan universitasku.

Author POV

Kyuhyun melajukan mobilnya menuju sungai Han. Tempat yang biasa mereka kunjungi di waktu-waktu senggang. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berdua memutuskan berjalan-jalan di tepi sungai sambil mencari makanan yang bisa mereka jumpai di sana. “Jadi ada alasan apa oppa kali ini mengajakku keluar? Apa oppa sedang memenangkan tender proyek besar? Apa oppa naik jabatan?” ucap Hana dengan berjalan mundur di depan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum simpul sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Ani. Apa aku butuh alasan untuk mengajakmu jalan-jalan? Dan berhenti berjalan mundur seperti itu, kau bisa terjatuh” titahnya.

Hana tersenyum lebar mendengar Kyuhyun yang memberikan perhatian padanya. Tapi sekelebat bayangan tentang undangan pertunangannya membuat senyum indah itu luntur. Haruskah ia memberi tau Kyuhyun yang sebenarnya, bahwa ia akan bertunangan akhir minggu ini? Haruskah ia mengundang Kyuhyun juga?

Kyuhyun menyadari perubahan ekspresi Hana yang tiba-tiba. “Kenapa ekspresimu seperti itu huh? Apa kau tidak suka jalan-jalan dengan ku lagi? Apa sudah bosan bersama dengan ku?” ucapnya sambil tersenyum.

Melihat senyuman Kyuhyun Hana berusaha mengubah ekspresinya kembali, seperti tidak terjadi apa-apa. “Ya. Aku bosan terus bersama mu week” jawab Hana sambil menjulurkan lidahnya kemudian lari meninggalkan Kyuhyun di belakang.

“Ya! Dasar yeoja nakal. Tunggu aku! Jangan berlari nanti kau terjatuh”

Kini mereka berdua duduk di bangku taman tak jauh dari tempat parkir mobil Kyuhyun. Sebotol soju dan sebungkus ddobboki menemani perbincangan mereka malam ini. “Aku….. akan ke Cina besok pagi” ucap Kyuhyun membuat Hana terpaku kaget. Memang sudah hal biasa bagi Hana mendengar Kyuhyun bertugas ke luar negeri untuk mengurus perusahan keluarganya, SJ Group. Tapi, kepergian Kyuhyun kali ini sedikit tidak tepat.

Kyuhyun melanjutkan, “Ada cabang SJ Group yang sedang terkena masalah serius, jadi Abeoji menyuruhku untuk turun tangan langsung”

“Apa itu akan lama?” Tanya Hana sambil menundukkan kepalanya.

“Tidak tau. Mungkin kalau aku bisa menyelesaikannya dengan cepat sekitar 2 mingguan” timpalnya dengan mata terpejam dan muka mengadah ke atas. “Kalau saja Taejin Group mau membantuku mungkin akan lebih mudah” tambahnya yang kini sekarang tersenyum menatap Hana.

“Kalau begitu kenapa oppa tidak minta bantuan Appa ku saja huh” Kyuhyun terkekeh mengacak-acak puncak rambut Hana pelan.

“Apa menurutmu itu mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan? Aku akan menyelesaikannya sendiri. Aku orang yang cukup bertanggungjawab asal kau tau” jawabnya sembari menyunggingkan smirk. Hana tau kalau Kyuhyun itu pekerja keras dan bertanggungjawab, karena itu nilai plus dari seorang Cho Kyuhyun yang membuat Hana sangat tergila-gila padanya.

“Cha, kita pulang. Sudah pukul 11 malam. Kalau aku tidak segera membawamu pulang, Abeonim akan mencincangku menjadi keripik kentang” Kyuhyun mengulurkan tangannya mengajak Hana beranjak dari sana. Hana tersenyum dan meraih tangan itu.

Kyuhyun memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Hana. Ia turun dan berlari membukakan pintu untuk Hana. “Gomawo oppa” ucap Hana lalu keluar dari mobil. Kyuhyun menutup pintu mobilnya dan kini mereka berdiri berhadapan. Hawa canggung mulai menghampiri mereka. Kyuhyun mengelus tengkuknya yang tidak gatal. “Apa oppa tidak mau mampir dulu?” ucap Hana mencoba memecah hawa canggung diantara mereka.

“Ani. Sudah malam, Abeonim mungkin juga sudah tidur” Hana mengangguk paham. Hingga tiba-tiba Kyuhyun memeluknya. Pelukan Kyuhyun selalu terasa hangat dan nyaman. Hana menyukai bau cologne Kyuhyun. Begitu segar dan maskulin walaupun sudah bercampur dengan keringat seharian. “Aku harap kau akan baik-baik saja selama aku pergi. Dan jangan pulang larut malam saat aku tidak ada, arra?” bisik Kyuhyun di daun telinga Hana.

Hana mengangguk dengan senyuman di bibirnya yang terendam di balik dada bidang namja itu. Kyuhyun memang selalu seperti itu. Memberi perhatian padanya layaknya seorang kekasih. Menjemputnya di kampus, mengantarkannya pulang, mengajak makan dan nonton film bersama layaknya pasangan pada umumnya. Tapi, selama 6 tahun sudah berlalu Kyuhyun sama sekali belum mengungkapkan perasaannya pada Hana. Membuat perasaannya menjadi bingung.

Kyuhyun melepas pelukannya. Menangkup wajah yeoja itu dan mengecup keningnya lembut. Bagaikan keju mozarela di atas panganggan, kaki Hana meleleh. Blusss. Pipi Hana sudah memanas seperti tomat. Kyuhyun terkekeh melihat ekspresi bengong Hana. Sangat menggemaskan.

“Apa kau akan terus berdiri di sini?” ucap Kyuhyun. Hana hanya menunduk menggelengkan kepalanya tidak berani menatap namja itu. “Kalau begitu cepat sana masuk atau kita berdua akan mati kedinginan di-”

“Oppa”

“Hmm”

CUP

Hana mengecup bibir Kyuhyun sekilas, membuat Kyuhyun terpaku kaget. “Annyeong Oppa. Jaljja” Hana langsung berlari menuju rumahnya. Meninggalkan Kyuhyun yang masih terbengong akibat ulah Hana yang tiba-tiba. Seutas senyum mulai terukir di bibir namja itu. “Kim Hana bodoh” ucapnya lalu masuk ke mobil dan melaju pergi dari sana.

Sesampainnya di kamar tubuh Hana langsung ambruk. Tidak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan. “Ya! Kim Hana bodoh! Apa yang sudah kau lakukan hah” Hana meruntuki kebodohan dirinya. Ia juga terkejut dengan apa yang dirinya lakukan. Hal itu terjadi begitu saja tanpa kehendaknya. “Ini membuatku gila” dia manegacak-acak rambut panjangnya frustasi.

Trrrttt Trrrtttt Trrrrttt

Ada sms masuk. “Jebal, jangan bilang ini dari Kyuhyun oppa. Jebal”

From : Kyuppa

            Sampai bertemu 2 minggu lagi. Jaljja

Aaaahhh matilah kau Kim Hana.

To : Kyuppa

            Ne…

Hana tidak tau harus membalas bagaimana, otaknya tiba-tiba berhenti untuk bekerja.

–*_*–

Hana POV

Setiap manusia selalu merasa ingin tau tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya di kemudian hari. Apakah aku akan mendapatkan hal-hal baik atau sebaliknya? Maka dari itu Tuhan memilih untuk merahasiakan masa depan dari manusia, agar manusia itu sendiri tidak hanya terdiam, berpangku tangan dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya, tetapi mau berusaha untuk meraih masa depan yang ada di angan-angannya sendiri.

Dan ada kalanya juga apa yang sudah manusia usahakan dengan begitu keras, namun tidak berjalan sesuai dengan angan-angannya. Itu bukan berarti Tuhan tidak menyayangi hambanya, tapi Ia memiliki rencana yang lebih baik daripada semua itu. Atau yang biasa manusia sebut dengan takdir. Ya takdir. Setiap manusia memiliki takdir mereka sendiri-sendiri. Ada yang ditakdirkan menjadi cantik dan tampan begitu pula sebaliknya. Ada juga yang di takdirkan kaya dan ada pula yang miskin. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari takdirnya. Begitu pula dengan ku, yang ditakdirkan untuk bersama Sehun.

Aku tau, Tuhan memiliki rencana yang hebat dibalik ini semua. Tapi, apa hebatnya rencana itu yang harus sampai menyangkutkan namja menyebalkan bernama Oh Sehun? Dan mungkin juga sikap menyebalkannya itu juga merupakan takdir untuknya? Yang membuat seorang Oh Sehun menjadi laki-laki yang kesepian sampai akhir hayat? Ohhhhh…. Oh Sehun-ssi kau berhutang budi pada ku, karena telah mengeluarkan mu dari takdir burukmu.

“Berhentilah tersenyum seperti orang gila dan cepat pilih cincin yang kau inginkan. Aku tidak mau berlama-lama bersama denganmu” ucap namja menyebalkan – yang seharusnya menjadi perjaka tua seumur hidupnya – itu dengan tangan dilipat di dada sambil bersandar di kaca etalase toko.

Saat ini aku dan Sehun sedang berada di toko perhiasaan untuk membeli cincin pertunangan kami. Errrr… lidahku rasanya sangat gatal menyebut kata-kata ‘pertunangan kami’. Tadi pagi Sehun ke rumahku, mengusik ketentraman tidurku – karena hari ini aku hanya ada kuliah sore – dengan alasan Eommanya menyuruhnya bersamaku membeli cincin pertunangan. okeh itu memang alasan yang masuk akal mengingat besok adalah hari pertunangan kami, dan kami belum memiliki cincin.

“Cih. Kau kira aku juga mau menghabiskan waktu berharga ku denganmu huh?” balas ku tak kalah ketus. Sehun menoleh ke arahku, menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis, seolah berkata padaku ‘apa peduliku’. Kim Hana kau harus bersabar. Anggap saja ini sebagai training pelatihan pengendalian emosi.

“Tolong ambikan yang itu” ucapku menunjuk sepasang cincin di depanku. Cincin itu tampak indah dengan kombinasi emas putih dan kuning yang di buat bergelombang pada tengahnya. Sederhana namun, tampak cantik dan elegan.

“Aku tidak suka modelnya” intrupsi Sehun sambil melirik ke arah cincin yang sedang ku pegang. Aku mendengus kesal, berusaha bersabar dengan menuruti permintaannya. Aku mengembalikan cincin itu ke pemilik toko, lalu memilih cincin lagi yang terletak tak jauh dari cincin sebelumnya.

“Itu terlalu mencolok” ucap Sehun bahkan sebelum pemilik toko itu sempat mengambil cincin yang ku tunjuk. Begitu pula dengan pilihan-pilihan cincin selanjutnya, selalu ia tolak dengan alasan yang sepele. Hampir semua cincin yang ada di toko ini sudah dikeluarkan dan mendapat tolakan dari Oh Sehun, hingga tersisa 1 cincin terakhir.

“Ini cincin terakhir yang ada di toko kami” ucap pemilik toko.

“Aku tidak suka bentuknya” ucap Sehun. Oh ayolah memangnya dia berharap bentuk cincinnya seperti apa? Segitiga? Kubus? Semua cincin bentuknya sama bodoh, lingkaran! LINGKARAN! Batinku gemas ingin segera mendepak muka namja itu dengan sol sepatuku saat ini juga.

“Aku lebih suka cincin yang pertama tadi. Itu lebih baik daripada semua setelahnya” tambahnya.

Aku melongo. Apa dia sedang bercanda denganku? Halo apa ini semacam acara candid camera atau semacamnya? Ku alihkan pandanganku padanya. “Dasar namja menyebalkan. Kehadiranmu tidak membantu sama sekali Oh Sehun-ssi” desisku tajam. Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya disertai angkatan bahu seolah mengatakan ‘apa peduliku’. Ohhh Kim Hana, kau akan bener-benar hidup di neraka sebentar lagi.

–*_*–

Pernah merasakan hidup di neraka sehari penuh? Kalau kalian pernah merasakannya, berarti kalian tahu bagaimana perasaanku hari ini. Seharian penuh harus menyuguhkan fake smile dan berpura-pura bahagia kepada siapa pun, sungguh melelahkan. Acara pertunanganku dengan Sehun sudah berakhir, dan sekarang kami dalam perjalanan menuju apartemen yang dibelikan oleh orang tua Sehun untuk kami.

“Kau langsung pulang dengan Sehun saja. Appa tidak bisa mengantarkan kalian” ucap Appa saat aku mengajak beliau untuk pulang.

“Tapi Appa, aku bahkan belum mengemasi bar-”

“Cho Ahjumma sudah melakukannya untukmu. Semua barang-barangmu sudah tertata rapi di apartemen kalian” potong Appa.

Ku hembuskan nafasku dengan kasar. Mengingat semua perkataan Appa, aku merasa seperti beliau telah mengusirku saja. Belum lagi ditambah ceramah panjang dari Na Young sepanjang acara tadi, membuat kepalaku semakin pusing.

“YA! Kim Hana! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau tunanganmu itu Oh Sehun dari jurusan teknik arsitek universitas kita hah?” ucapnya setelah berhasil menarikku menjauh dari Sehun.

“Apa pentingnya memberitahu semua orang bahwa Oh Sehun adalah tunanganku. Membuang-buang waktu saja” timpalku ketus.

Na Young menghembuskan nafasnya pelan, “setidaknya kau memberitahu ku gadis nakal. Aku baru tahu saat Chanyeol oppa mengajakku untuk pergi ke pertunangan kalian bersama” aku hanya terkekeh pelan melihat muka cemberut Na Young.

“Keunde….” Bukan Na Young namanya kalau tidak menggali apa yang dia tahu sampai sedalam-dalamnya. “Apa kau mengundang teman-teman kampus kita?” aku menaikkan alisku, lalu menjawabnya dengan gelengan. Muka Na Young tampak cemas bercampur dengan bingung.

“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanyaku.

“Jelas ada. Kau ingat, aku pernah bercerita kalau tentang namja teman chanyeol oppa? Aku baru mengingatnya, dia Oh Sehun, dan jangan lupa juga dia punya banyak penggemar di universitas kita bukan?”

“Lantas?” jawabku bingung.

“Kau akan mati dicincang mereka bodoh kalau mereka sampai tahu kau sudah merebut ‘oppa’ mereka” aku bergidik ngeri. Yang benar saja, aku juga tidak menginginkan pertunangan ini, kenapa aku juga harus mati dicincang. Itu tidak adil namanya! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku membayangkan hal-hal buruk apa saja yang menanti di kemudian hari.

“Lehermu akan patah jika kau seperti itu. Cepat turun, jika kau tidak menginginkan bermalam di mobil” suara namja menyebalkan itu membangunkanku kembali ke dunia nyata. Aku mengikuti Sehun turun dari mobil dan mengekor di belakangnya menuju elevator tak jauh dari tempat parkir kami.

Menurut informasi yang tak sengaja ku dengar saat Sehun berbincang dengan eommanya, apartemen kami berada di lantai teratas gendung ini, atau lebih tepatnya penthouse. Demi Tuhan, seharusnya aku memiliki pobia ketinggian yang bisa ku gunakan sebagai alasan untuk tidak tinggal bersamanya di sini.

TING!

Pintu elevator terbuka. Sehun melangkah masuk dalam diamnya. “Apa kau ingin bermalam di situ sampai besok?” ucapnya dengan nada menyebalkan. Aku mendengus kesal, lalu melangkahkan kaki ku masuk ke dalam elevator. Sunyi. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara aku dan Sehun, sampai kami sudah berada di dalam apartemen hadiah orang tua Sehun.

“Selera eomma tidak buruk juga” ucap Sehun pelan yang terdengar lebih mirip gumaman tetapi masih bisa terdengar dengan jelas olehku. Ku alihkan pandanganku menyusuri seluruh penjuru ruangan. Lantai kayu erk berwarna coklat kehitaman, dipadu nuansa putih yang mendominasi sebagian besar ruangan, dan perabotan-perabotan yang sebagian besar didominasi warna putih dan hitam, memberi kesan nyaman dan maskulin yang berpadu dengan sempurna. Sangat cocok dengan karakter seorang Oh Sehun.

Kualihkan kembali pandanganku ke namja menyebalkan itu dan mendapatinya sudah tidak ada di tempatnya semula. Mataku bergerak lincah menyusuri setiap inci ruangan, mencari sosok Sehun dan menemukannya berdiri di ambang pintu dengan gaya sok kerennya. Chi. Membuatku ingin menamparnya dengan highheels yang sedang ku kenakan.

“Aku akan memakai kamar ini, kau gunakan kamar di ujung sana” ucapnya sambil menunjuk ruangan yang tak jauh dari tempatnya berpijak.

“Dan segera bereskan semua kopermu dari kamarku” hey! Tunggu dulu. Appa bilang barang-barangku sudah dipindahkan oleh Cho Ahjumma ke apartemen ini, bukankah berarti kamar itu seharusnya menjadi kamar ku bukan? Kenap aku harus pindah?

“Ya, Oh Sehun-ssi. Bukankah itu seharusnya menjadi kamarku hah? Kenapa aku harus pindah, itu tidak adil namanya!” cercaku. Sehun hanya tersenyum sinis sambil menatap tajam ke manik mataku.

“Dengarkan aku baik-baik nona Kim Hana. Pertama, apartemen ini dibeli oleh orang tua ku yang berarti apartemen ini milikku. Kedua, itu berarti aku berhak memilih kamar mana saja yang ingin ku gunakan. Dan yang ketiga, kau tidak ada hak untuk melarangku melakukan apapun yang ku inginkan” Sehun terus melangkahkan kakinya ke arahku dengan tatapan mengintimidasi yang akhirnya menyudutkanku ke dinding.

Jarak kami saat ini begitu dekat sampai aku bisa merasakan nafas hangat Sehun di puncak keplaku. Ia menyondongkan kepalanya agar sejajar dengan mataku. “A-apa mau mu hah?” Tanya ku terbata. Tidak ada respon dari Sehun. “A-aku tidak takut pa-“

“Dengarkan baik-baik perkataanku karena aku tak akan mengulanginya. Aku tidak suka ada orang yang membantah perintahku, termasuk dirimu. Camkan itu Kim Hana-ssi jika kau masih ingin tinggal di sini dengan tenang” aku hanya mengangguk, tidak berani menjawab. Detik selanjutnya Sehun sudah melangkah mundur dan pergi ke kamarnya, meninggalkanku yang lemas di tempatku berpijak.

“Oh Kim Hana. Ku pikir kau sekarang sedang tinggal dengan seorang psikopat” umpat ku pelan.

–*_*–

Klantang klantang klantang

Dentingan panci, piring, gelas, sendok dan garpu berpadu menjadi satu, seperti dalam acara orkestra-orkestra dengan nada yang amburadul. Semua ini gara-gara namja menyebalkan – yang namanya tidak mau kusebutkan. Kalau saja aku tidak harus pindah kamar dan menata ulang semua barang-barangku, aku tidak akan tidur larut malam dan bangun kesiangan seperti ini.

Aku meruntuki kebiasaan sarapan pagi yang tidak bisa ku tinggalkan. Tanpa kebiasaan itu sekarang aku mungkin sudah setengah jalan menuju kampusku. “Cah. Selesai juga” dua potong roti panggang dengan selai stroberi ditambah segelas teh hangat. Sarapan simple yang biasa ku andalkan dalam situasi genting seperti saat ini. Senyuman kecil terukir di bibirku beberapa detik sebelum seklebat ingatan tentang kepindahanku melintas sambil melambai-lambai manja di kepalaku.

“Aahh.. aku lupa. Aku sekarang sudah pindah entah di mana dan kampusku berada di sebelah mana” runtukku. Semalam aku tidak memperhatikan jalanan, terlalu pusing dan lelah akan semuanya. Sehun. Akhirnya nama itu tersebut juga dari bibirku. Hanya Sehun yang tau jalanan daerah ini, karena ia yang menyetir semalam. Kulirik pintu kamar namja menyebalkan itu. Sunyi. Apa dia tidak ada kuliah pagi? batinku. Setidaknya aku bisa menebeng padanya.

“Hei. Dasar bodoh. Kenapa kau tidak naik taksi saja. Supir taksi kan tahu semua jalanan di korea” umpatku meruntuki kebodohanku. Ku angkat piring roti dan gelas teh ku menuju meja makan di sebelah dapur hingga sebuah suara mengalihkan pandanganku.

PRANGGGG!!!

“What the….”

To Be Continue

 

 

Huuffftt akhirnya jadi juga chapter ini. Maafkan author kalau kalian ga dapet feelnya ff ini, karena author sendiri lagi kehilangan feel sama Sehun dan lagi baper sangat sama bbh -__- tapi lagi diusahain kok cari lagi feel nya sama Sehun ._. buat next chapternya aku ga bisa janji bakal cepet soalnya laptop sama hape author mau ditarik sama abeoji author tanggal 30 september besok T_T dan baru dibalikin entar kalo udah masuk kuliah, atau bisa dibaca taun depan *mojok* *berendem di rawa-rawa*

Tarik nafas. Buang. Okeh tapi author usahain nyempil-nyempil ngetik sama ngirim lanjutannya d laptop temen author kok ^^ aku harap kalian ga keburu kabur dan mau baca ff ini sampai end. papoiii

20 thoughts on “You Should Be Mine (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s