Be My Shine (Kai’s Story: Oppa & I Part B)

Be My Shine Kai Ver.

Be My Shine (Kai’s Story Part B: Oppa & I)

Title : Be My Shine
Sub – Title : Kai’s Story: Oppa & I (Part B)
Author : AlifyaA (ID LINE: alifyanandiani)
Main Cast :
 EXO’s Kai as Kim Jong In
 You as Park Min Ni (Mini) (OC)
Support Cast :
 Red Velvet’s Joy as Soo Young
 Red Velvet’s Seulgi as Seul Gi
 EXO’s D.O. as Do Kyung Soo
 Park Min No (Mino) : Mini’s Twin Oppa (OC)
Genre : Romance
Rating : G
Type : Series (Be My Shine Series)

***

We have two sides in ourselves..
The bright side and the dark side
Sometimes, we don’t even know our other part. Ourselves.
Je Suis Comme Je Suis
By AlifyaA
***

Maaf reader-nim karena lamaaaa sekali ngirim lanjutannya. Author lagi sibuk jadi mahasiswa baru.. hehe. Sekarang Author belajar di Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Jurusan Sastra Cina (panjang amet dah). Terima kasih untuk semua Reader yang sudah membaca semua FF Author dan memberikan dukungannya. Dan juga terima kasih untuk admin eonni yang sudah mempost. Komen membangun sangat dibutuhkan dan maaf jika ada kesalahan.
Ini daftar Versi – versi Be My Shine Lain yang Sudah Dipublish:
 Be My Shine ( Kai’s Story Part A: Oppa & I )
 Be My Shine ( Kris’ Story: Show Yourself or Be Alone )
 Be My Shine ( D.O.’s Story: Someone In the Train )
 Be My Shine ( Lay’s Story: When the Light was Disappear )
 Be My Shine ( BaekHyun’s Story: Pervert, Naughty & Talkative, Nt: Be My Shine ini admin eonni publish dengan nama ‘Be My Shine’ saja)
 Be My Shine ( Suho’s Story : The Unlucky Guardian )
 Be My Shine ( SeHun’s Story : Noona, Jebal! )
 Be My Shine ( LuHan’s Story: Cold Winter With the Warm Heart)
 Be My Shine ( ChanYeol’s Story: Poor You! )
 Be My Shine ( XiuMin’s Story: Who Is the Girl? Who Is the Boy? )
Don’t Forget to RCL ^^~
Mohon dibaca terlebih dahulu ^^
Note :
 Mini sering menggunakan bahasa Inggris, jadi Author menuliskan terjemahannya di kalimat selanjutnya dan diberi tanda kurung juga diketik miring agar mudah dipahami.
 Jika tulisan ditulis miring tanpa kurung atau kata bahasa Inggris sebelumnya berarti itu diucapkan dalam hati atau dibayangkan.
 AA’s POV = Author’s POV
Happy Reading!

xoxoEXOxoxo

[ Mini’s POV ]
Aku terus menatap heran ke arah bayanganku yang tampak di cermin. Beberapa kali aku mengusap wajahku, namun aku tetap merasa sangat aneh. Tiba – tiba seseorang masuk ke toilet, seorang yeoja yang cukup tinggi dengan rambutnya yang agak berwarna pirang. Ia langsung berdiri di depan washtafel yang berada di sebelahku dan membuka kerannya. Dia mencuci tangannya sambil menatapku lewat cermin.
“Mengapa Oppa mengantarmu?” tanyanya tiba – tiba dengan nada dingin.
“Pardon me?” (“Maaf?”) tanyaku sambil berbalik ke arahnya.
“Kau tidak bisa berbicara bahasa Korea atau hanya ingin terlihat keren? Memang, sebagian besar orang Korea tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kau ingin menunjukkan seberapa cerdasnya dirimu, hah? But you know exactly what I asked to you.” (..Tapi kau tahu persis apa yang aku tanyakan padamu.”)
“Aku rasa kau salah paham, I don’t mean it.” (..Aku tidak bermaksud begitu.”)
“Haaah..” dia mendesah dengan kasar dan langsung menatap ke arahku. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa Oppa mengantarmu?”
“Oppa?” tanyaku heran.
“Ha! Kau tau siapa yang ku maksud. Mengapa Jong In Oppa mengantarmu, Slut?”
“Wh-what? Excuse me, you called me what?.. Slut? I think you choose the wrong person!” (“Ap-apa? Maaf, kau panggil aku apa?.. ‘Slut’ Aku rasa kau memilih orang yang salah!”)
Dia langsung menarik kunciran rambutku dengan kasar dan berteriak di depan wajahku. “NEO! JANGAN BERMAIN – MAIN DENGANKU! AKU TAU NAE OPPA TIDAK PERNAH PUNYA DONGSAENG! APA ITU? KAU MENGATAKAN PADA ORANG – ORANG DI KELAS UNTUK TIDAK MENDEKATINYA, HAH?! KAU PIKIR KAU SIAPA? YOU SHOULD KNOW BETTER. AND LET ME TELL YOU SOMETHING.. HE BELONG TO MY SISTER! YOU SLUT!” (..KAU SEHARUSNYA TAHU BETUL. DAN BIAR KU BERITAHU KAU SESUATU.. DIA MILIK KAKAK KU! KAU ‘SLUT’!”)
Dia menarik ikat rambutku kasar hingga ikatannya terlepas bersama beberapa helai rambutku yang ikut tercabut. Dengan angkuhnya dia menatap jijik helaian rambutku yang ada di sela – sela jarinya dan membuangnya kasar ke lantai dan berbalik untuk pergi. Aku benar – benar kesal. Tanpa berfikir panjang aku langsung masuk ke salah satu bilik toilet yang paling dekat ke pintu keluar dan menarik selang yang menggantung di sebelah kloset. Sebelum yeoja aneh itu pencapai pintu, aku langsung penyemprotnya dengan air. Dia terkejut dan berbalik.
“MWOHANEUNGWOYA?!!” Tanpa mengijinkan dia berbicara atau tepatnya berteriak, aku terus menyemprotkan air ke wajahnya.
“YA!! HAJIMA!!” Teriaknya murka. Aku pun menjatuhkan selangnya dan berjalan dengan angkuh, mencoba mengcopy-nya. Aku terus mendekat ke arahnya dengan tangan yang dilipat. Aku menatapnya dingin sedangkan dia membalasnya dengan tatapan marah.
“I told you, you choose the wrong person. You ‘worse Slut’.” (“Aku sudah memberitahumu, kau memilih orang yang salah. Kau ‘worse Slut’.”) Ucapku dingin di dekat telinganya dan berjalan melewatinya.
“YA, NEO!” teriaknya di belakangku. Aku pun berbalik ke arahnya.
“REMEMBER THIS! NAN.. PARK SOO YOUNG! TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!!”
“Siapa peduli?” Dan berhenti berteriak.. “Kau hanya menunjukkan seberapa bodoh dan barbarnya dirimu dengan berteriak seperti itu.” Ucapku ‘terlalu’ santai dan berbalik pergi.

FEW HOURS LATER..
Sekolah baru saja bubar beberapa menit yang lalu. Oppa bilang dia akan menjemputku jika jam kuliahnya selesai, tapi jika belum juga maka aku dengan sangat terpaksa harus naik transportasi umum untuk pulang. Jadi sebelum pulang aku memutuskan untuk menunggu Oppa dulu sekitar 15 menit, jika dia belum juga datang maka aku akan berjalan ke arah halte bus dan menunggu bus. Menyebalkan!
Kenapa aku tidak menelfonnya saja ya? Aku pun langsung mengeluarkan phone cell-ku dari tas. Hah.. matta! Aku kan tidak punya nomor Oppa. Nan jeongmal babo gatha! Oppa juga tadi pagi bilang kalau ada sesuatu telfon saja, tapi kenapa dia tidak memberiku nomornya dan lebih bodohnya lagi, kenapa aku tidak memintanya.
Aku pun duduk berjongkok dan terus menunggu. Tak lama, phone cell dalam genggamanku berdering. Aku pun menatap layarnya dan mengerutkan alisku. Mwoya? Sepertinya aku belum pernah menamai nomor seperti ini ke kontakku tapi.. ‘The Most Sexy Oppa In Universe’ (Oppa Terseksi di Alam Semesta)? Dengan penasaran aku menggeser icon telfon berwarna hijau dan mendekatkannya ke telinga kiriku.
“Yeobseyo?” jawabku ragu.
“Mini, kau sudah pulang?” Tanya sebuah suara yang sepertinya aku kenal.
“Jong In Oppa?”
“Ne. Kau sudah pulang?”
“Yaaa… ku pikir siapa! Ani, aku di depan gerbang sekolah. Oppa, ppali ppali! Aku tidak mau naik angkutan umum!”
“Arraseo, cerewet!” dia pun langsung menutup telfonnya tanpan mengatakan apapun lagi. Dasar!
Tujuh menit menunggu akhirnya aku melihat mobil Oppa mendekat dan menghentikannya di depan ku. Dia menurunkan kaca mobil dan melihatku.
“Apa kau menunggu lama?” tanyanya.
“NE! APA KAU INGIN AKU HITAM JUGA SEPERTIMU KARENA KEPANASAN!”
“Aish! Peraturan ke..”
“Arraseo arraseo.” Potongku sambil mencoba menarik handle pintu mobil Oppa. Tapi tiba – tiba ada yang berteriak di belakangku.
“OPPAAAA!!” aku pun berbalik. Cih! Yeoja menyebalkan yang ada di toilet tadi. Dia memakai baju olah raga sekarang, aku rasa karena aku berhasil membuat bajunya basah. Tanpa menghiraukanku dia langsung mendekat ke kaca mobil yang terbuka.
“Oppa!” panggilnya riang.
“Oh.. Soo Young-ah! Kau juga sekolah di sini?” Shit! Ternyata mereka benar – benar saling mengenal.
“Ne~ Youngi sekolah di sini.” jawabnya ‘sok’ imut.
“Kenapa kau memakai baju olahraga?” Tanya Jong In Oppa.
“Igeooo.. tadi ada yeoja gila yang menyemprot Youngi dengan air.” Aku langsung menoleh ke arahnya. “Kalau begitu seharusnya kau melaporkannya ke guru konseling.” DEG!
“Anio~ walau dia jahat tapi kalau Youngi melaporkannya, dia akan mendapat masalah.”
“Ooo.. heoksi! Soo Young memang baik.”
“Dasar penjilat! Dan apa itu? Dia terus menyebut dirinya Youngi Youngi, padahal Oppa memanggilnya Soo Young, hanya Soo Young.” ucapku dalam hati.
“Oppa!” panggilku.
“Wae?”
“Tadi ada yeoja ‘kesurupan’ menarik rambutku,” ucapku. Kenapa kau melakukan ini, Mini? Babo Mini!
“Ne? Kesurupan?” Tanya Oppa dengan kedua alis berkerut.
“Ani. Maksudku yeoja yang marah – marah dan menarik rambutku padahal aku tidak melakukan apa – apa.”
“Nugu? Biar Oppa temui dia.” Tanyanya benar – benar menunjukkan wajah khawatir.. atau..? Kau pasti salah Mini!
“Ani! Kenapa Oppa harus menemuinya secara langsung? Ini di sekolah, jadi sekolah yang harus menyelesaikannya.” Ucap yeoja aneh itu dengan kesal.
“Aniyo.. Oppa harus menjaga Mini.. aku.. aku sudah janji.”
“Hah! Jadi karena janji ke Mino! Percuma saja aku merasa senang.”
“Lupakan tentang itu! Oppaaa~ Bolehkah Youngi ikut mobil Oppa, arah kita sama kan?” yeoja itu sepertinya sudah kembali ke aegyo mode-nya yang menjijikkan.
“Kureom.”
“MWO?! ANDWE!” teriakku refleks.
“Wae andwe?” tanyanya kesal ke arahku.
“Terserah kalau begitu!” Aku pun membuka pintu depan dan tanpa tahu malu, yeoja itu langsung masuk lewat pintu yang ku buka.
“Youngi duduk di sebelah Oppa, ya?”
“Ne? Mm.. kalau begitu Mini duduk di belakang.” Ucap Jong In dengan nada yang menunjukkan kalau dia sedikit tidak enak. Hah! Siapa peduli? Oppa bukan namjachingu-ku! Jadi kenapa aku harus marah? Kenapa aku..? Forget it! Aku pun langsung duduk di belakang dan mencoba menutup mataku. Menghiraukan candaan mereka yang terdengar menyenangkan tanpa diriku terlibat di dalamnya. Cih!

***

[ KAI’s POV ]
DAY 7
Ini hari ke tujuh, tidak terasa sudah masuk hitungan minggu Mini tinggal bersamaku. Walau aku sudah membuatkannya 300 peraturan dia tetap sulit diatur. Tapi aku bisa melihat kalau dia sedang berusaha. Pagi ini dia sudah memecahkan dua gelas, satu mangkuk dan dua piring saat dia melaksanakan peraturan yang entah nomor berapa, ‘Mencuci piring setelah makan’. Aku rasa mulai sekarang aku yang harus melakukannya. Dia benar – benar buruk dalam hal ini. Tangannya terus tergelincir dan menjatuhkan barang – barang. Jika aku terus menyuruhnya melaksanakan peraturan itu, aku rasa dalam satu bulan kita tidak akan lagi punya piring untuk makan. Tapi yang terburuk adalah dia bisa terluka.
“Gwaenchana?” tanyaku cemas.
“Mwo? Kau tidak lihat? Aku berdarah.”
“YA! SEHARUSNYA KAU TIDAK BOLEH BEGITU CEROBAH!” Entah bagaimana aku malah berteriak padanya.
“LET ME ASK YOU! WHO’S SOMEONE WHO FORCE ME TO DO THIS??!!” (“COBA KU TANYA! SIAPA ORANG YANG MEMAKSAKU MELAKUKAN INI??!!”)
“YA, SUDAH! KALAU KAU TIDAK MAU MEMATUHI PERATURANKU, JANGAN TINGGAL DI RUMAHKUUU! DAN SEHARUSNYA KAU LEBIH BERHATI – HATI!”
“WHAT???!! ARE YOU BLIND? I’M HURT NOW! SO STOP SCREAMING AT ME LIKE THAT!!” (“APA???!! APA KAU BUTA? AKU TERLUKA SEKARANG! JADI BERHENTI BERTERIAK PADAKU SEPERTI ITU!!”)
“SUDAH BEBERAPA KALI KU KATAKAN, JANGAN MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS!! INI KOREA, ANAK BUSAN!!”
“I HATE YOU, OPPA!” (“AKU MEMBENCIMU, OPPA!”)
“I HATE YOU TOO!” (“AKU JUGA MEMBENCIMU!”)
“I HATE YOU MORE!” (“AKU LEBIH MEMBENCIMU!”)
“I HATE YOU FIRST!” (“AKU MEMBENCIMU DULUAN!”)
“I HATE YOU SINCE I WAS BORN!” (“AKU MEMBENCIMU SEJAK AKU LAHIR!”)
“YOU DON’T EVEN KNOW ME BACK THEN!” (“KAU BAHKAN TIDAK MENGENALKU PADA SAAT ITU!”)
“I DON’T HAVE TO KNOW YOU! YOU HUGE DEVIL!” (“AKU TIDAK PERLU MENGENALMU (UNTUK MEMBENCIMU)! KAU SETAN BESAR!”)
“Ne? Ish.. he..he..”
“he he he he..”
“Hahahahahahahaha…”
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH………”
Aku tidak tau. Aku cemas, lalu marah dan pada akhirnya kita hanya berkelahi dan menertawakan kebodohan kita bersama.
“Sini, biar Oppa obati.”

DAY 32
Sekarang sudah pukul setengah dua belas malam, tetapi tidak satu pun dari kami yang sudah tertidur. Tadi pukul sepuluh aku menyuruh Mini untuk mematuhi peraturannya, “Tidak boleh menonton tv di atas pukul sepuluh”, jadi aku menyuruhnya menonton film itu besok siang saja. Tapi dia mengelak dan mengatakan bahwa dia ingin menonton film hantu, dan menonton film hantu di siang hari itu sama sekali tidak seru. Dia malah mengajakku untuk nonton bersama. Saat aku bilang tidak mau, dia malah bilang kalau aku itu penakut. Jadi dengan ‘sangat-amat-teramat’ terpaksa aku pun ikut menonton film itu bersama Mini.
“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!”
“YA! KAU MENGEJUTKANKU, MINI!! JANGAN BERTERIAK!! SEHARUSNYA AKU TERKEJUT KARENA FILMNYA, BUKAN TERIAKKANMU!”
“Op-paa~~ it..itu… hantunya.. jelek sekali..” ucapnya pelan sambil menutupi wajahnya dengan lenganku.
“Kalau kau takut, seharusnya jangan kau tonton. Dasar! Dan.. kau ingusan ya? Lengan bajuku basah.”
“Hiks.. aku menangis bukan ingusan.. Oppa benar – benar bodoh ya..”
“Aish! Sudah! Jangan ditonton lagi, Oppa matikan tv-nya ya..” saat aku ingin beranjak untuk mematikan tv, tiba – tiba menjadi gelap.
“AAAAAAAAAAAAA!!!!”
“YA, JANGAN BERLEBIHAN! HANYA MATI LISTRIK!”
“Oppa, eodiga?” aku pun kembali duduk di samping Mini.
“Aku tepat di sini.” Dia pun langsung melingkarkan tangannya ke lenganku.
“Oppa gelap sekali. Kau sudah hitam, jadi semakin tidak kelihatan.”
“YA, dalam situasi seperti ini kau masih bisa meledek? Oh, mana handphoneku?” aku pun mencoba meraba – raba meja karena tadi sepertinya aku meletakkannya di sana. Tapi aku tetap tidak berhasil menemukannya.
“Op-pa.. kenapa leherku tiba – tiba dingin?”
“Jangan bercanda!”
“Jinjja.. aku tidak sedang bercanda. Op-pa.. kau.. dengar suara itu?”
“Suara apa? Jangan membuatku takut!”
“Haahhhhh…”
“Mini kau mengeluarkan suara macam apa itu?”
“Itu.. bu-kan aku..”
“Mwo? Jadi.. AAAAAAAAA!!!”
“AAAAAAAAA!!” kami pun berlari ke arah balkon bersama, masih dalam keadaan yang benar – benar gelap gulita.
Pada akhirnya kita duduk di ayunan yang diletakkan di balkon. Gara – gara dia yang terus mengatakan hal – hal aneh, aku juga jadi berfantasi tentang hantu – hantu. Udaranya dingin, aku bisa merasakan Mini yang bergetar di bawah tanganku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Detak jantungku benar – benar terdengar keras di telingaku, entah karena apa. Aku hanya terduduk kaku dengan lengan Mini yang terus memeluk tubuhku.
“Oppa, di sini gelap sekali.”
“Setidaknya kita masih bisa melihat bulan,” ucapku pelan, sambil mengabaikan detak jantungku yang menggila.
DAY 50
Hari ini aku berkunjung ke apartemen Kyung Soo Hyung. Aku menekan tombol belnya beberapa kali. Tak lama, Kyung Soo Hyung langsung membukakan pintunya. Tanpa mengatakan apapun, aku langsung menerobos masuk ke apartemennya dan berjalan ke arah dapur, membuka kulkas, dan mengambil sekaleng soda.
“Ya anggap saja rumah sendiri,” sindir Kyung Soo Hyung.
“Sudah,” ucapku sambil menunjukkan smirk-ku dan duduk santai di sofanya.
“Dasar!” tiba – tiba Kyung Soo Hyung terus menatapku.
“Aku tau aku sexy, jangan membuatku takut!”
“Neo.. jinjja.. aku masih normal!”
“Oh ne, matta! Mana Min Hyo Noona (tokoh yeoja di Be My Shine (D.O.’s Story: Someone In the Train))? Biasanya tidak pagi , tidak malam, bahkan saat Hyung bekerja, dia selalu berkeluyuran di sini.”
“Apa maksudmu berkeluyuran? Jangan bicara dengan cara seperti itu jika membicarakan Min Hyo-ku!”
“Arraseo arraseo. Jadi Min Hyo Noona kemana?”
“Dia sedang mengunjungi Imo-nya.”
“Tumben kau tidak mengantarnya, biasanya kau terus menyempatkan diri untuk mengantarnya. Saat Min Hyo Noona ke Jepang saja, kau ikut.”
“Aku sudah bilang akan mengantarnya, tapi dia menolak dan takut aku kecapean untuk rapat besok jika bolak – balik tanpa menginap dulu.”
“Oooooo…oh ya, jadi kalau bukan karena menyukaiku, kenapa Hyung terus menatapku?”
“Aku menyukaimu..”
“MWO? Aku pamit pulang dulu.”
“YA YA YA YA.. Maksudku aku memang menyukaimu, tapi sebagai dongsaeng. Kau pikir kau juga bisa berteman kalau kau tidak menyukai chingu-mu?”
“Oooo, mian. Jadi kenapa?” ucap ku kembali duduk santai.
“Aku hanya heran, belakangan ini kau benar – benar terlihat senang.”
“Bukankah aku selalu terlihat seperti itu?”
“Ani, maksud ku.. aura mu benar – benar cerah.”
“Hyung, sejak kapan kau menjadi cenayang dan bisa membaca aura?”
“YA, maksudku.. ah, lupakan! Kau benar – benar bodoh!”
“……”
“Wae wae wae wae??? Biasanya kau marah jika aku bilang kau bodoh.”
“Oh.. itu~ aku sudah sering mendengarnya, jadi sudah kebal.”
“Hah?”
“Sudah, Hyung. Aku pulang dulu.”
“Kenapa cepat sekali?”
“Aku meninggalkan Mini sendirian di rumah.”
“Oh, karena itu, kau terlihat benar – benar ‘begitu’.”
“Apa sih maksudmu? Itu? Begitu?”
“Kau ‘menyukai’ Mini.. romanticly.”
“Jangan konyol, dia hanya anak sekolah ingusan.”
“ ‘Kau bisa mencintai seseorang tanpa alasan’, itu yang kau ucapkan dulu saat mendorongku.” (Kai pernah mengatakannya di Be My Shine (D.O.’s Story: Someone In the Train)
“ Aku rasa sekarang kau yang perlu pencerahan, kejar dia! Tidak lama lagi dia pergi, kan?”
Tidak lama lagi. Ya, benar. Kau tidak perlu mengingatkanku, Hyung.
“Yeobseyo? Oh, Mino! Ada apa?”
“Hyung, aku hanya ingin bilang. Aku hanya akan menitipkan Mini selama dua bulan. Setelah itu aku akan membawanya ke rumah nenek di Osaka untuk meneruskan kuliahnya. Sampai saat itu, mohon bantuannya ya, Hyung.”
“Kyung Soo Hyung, aku pulang dulu. Mini sudah menunggu.”

***
Setibanya di apartemen aku mendengar suatu keributan di dalam. Aku pun bergegas masuk dan melihat apa yang terjadi. Aku terkejut saat melihat Mini terduduk di lantai sambil mengusap pipinya yang memerah dengan tubuh seorang yeoja di depannya. Seul Gi.
“HEY, APA YANG KAU LAKUKAN?!” bentakku sambil mendekati mereka dan mencoba membuat Mini yang terduduk berdiri.
“Oh, Oppa sudah pulang?” ucap Seul Gi dengan nada manja yang menjijikan.
“Apa yang telah kau lakukan?” ucapku dingin.
“Aku mendengar dari Soo Young bahwa ada yeoja genit di rumahmu, aku hanya mencoba mengusirnya agar Oppa tidak terganggu.” Aku hanya menggretakkan gigiku sambil melihatnya kesal.
“YA, gadis kecil.. ku bilang keluar dari rumah Oppa.”
“Keluar!” ucapku dingin.
“Kau dengarkan? Oppa meminta mu keluar.”
“Maksudku kau.. keluar!”
“Op-pa.. apa maksudmu? K-kau tidak seriuskan?”
“AKU BILANG KELUAR, SEUL GI!”
Aku melihat Seul Gi terkejut, lalu menatap Mini yang ada di sampingku dengan tatapan membunuh.
“OPPA, APA MAKSUDMU? KAU MENGUSIR YEOJACHINGU-MU SENDIRI DAN MALAH MEMBIARKAN SLUT KECIL INI TINGGAL!!”
“JANGAN BICARA SEMBARANGAN TERHADAP MINI! DAN KAU BUKAN YEOJACHINGU-KU, AKU TIDAK PERNAH MENGANGGAPMU YEOJACHINGU-KU! KELUAR, SEBELUM AKU MENGUSIRMU DENGAN KASAR!”
Seul Gi hanya berlari keluar apartemenku sambil menangis, dan aku hanya menghiraukannya. Aku menoleh ke sebelahku dan menatap Mini yang diam terpaku.
“Gwaenchana?” tanyaku. Mini tetap terdiam. Aku menyentuh pipi kirinya yang mulai membiru, dia pun mengarahkan tatapannya padaku. Tanpa mengatakan apapun Mini langsung memelukku. Aku terdiam kaku untuk sesaat, ketika aku berhasil mendapatkan kesadaranku kembali, aku balas memeluknya.
“Wae?” tanyaku lembut. “Kau biasanya tidak selemah ini?”
“Aku sedih bukan karena itu” ucap Mini lemah.
“Kalau begitu ada apa?”
“Tepat sebelum yeoja itu datang, Mino menelefon.”
“Lalu?” ucapku mulai mengerti. Tiba – tiba Mini menangis, masih di dalam pelukanku.
“Oppa.. Jong In Oppa.. aku tidak ingin pergi,” aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
“Waahh.. Seul Gi harus berterima kasih pada Mino yang berhasil membuatmu tidak fokus, jika tidak pasti sekarang rambutnya sudah botak karena kau jambaki,” godaku.
“Oppaaa, aku serius.”
“Kalau begitu jangan pergi,” ucapku lembut di telinganya.
“N-ne?”
“Peraturan ke 301, “Jangan pergi dan tetap di sampingku.” Dia terkejut, melepaskan pelukkannya dan menatapku dengan pandangan sayu, masih dengan mata yang berkaca-kaca akibat tangisnya.
“Wae?” tanyanya. “Kenapa kau membuat peraturan seperti itu? Kau tahu, aku harus mematuhinya.” Aku langsung menarik Mini kembali ke pelukanku. “Patuhilah,” ucapku.
“Kalau begitu beritahu aku alasan untuk mematuhinya,” ucapnya pelan.
“I love you..” (Aku mencintaimu)
“Ne?” aku bisa merasakan nafasnya yang tercekat.
“Wae? Kau tidak menjawabnya?” tanyaku pura – pura merajuk.
“I..I love you too.. Op-pa” (Aku juga mencintaimu, Oppa) ucapnya benar-benar pelan, namun masih bisa ku dengar. Aku hanya tersenyum.
“I love you more.. hehe.” (Aku lebih mencintaimu)
“I love you first.” (Aku mencintaimu duluan)
“I love you since I was born.” (Aku mencintaimu sejak aku lahir)
“You don’t even know me back then.” (Kau bahkan tidak mengenalku saat itu)
“I don’t have to know you. You little angel.. (Aku tidak perlu mengenalmu (untuk mencintaimu). Kau malaikat kecil).. hehe ini lucu mengatakan benci dengan suara yang berteriak tapi mengatakan cinta dengan suara yang benar-benar pelan.”
“Karena aku malu..” ucap Mini lebih pelan.
“Ne? Ish.. he..he..”
“he he he he..”
“Hahahahahahahaha…”
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH………”
Aku tidak tau. Aku cemas, lalu merasa takut dan pada akhirnya kita hanya berpelukan dan menertawakan kebodohan kita bersama.
“Sini, Oppa masih ingin memeluk Mini.”
“SHIREO!”
“MWO?!”

THE END

One thought on “Be My Shine (Kai’s Story: Oppa & I Part B)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s