HeLL(o), Dear! (Chapter 8)

HeLLo, dear

Title : Scent of Past- HeLL (o), Dear !
Author : usney or mee-icha
Main Cast: Kang Hye Yeon, EXO
Length : Chapter
Disclaimer : http://asniishere.wordpress.com/
Note :Hai all readers… I’m back with this chapter. Maaf karena lama banget ga update.Blog gw sendiri udah hampir nggak pernah keurus hehe… tapi syukur masih ada cerita yang sudah terlanjur terbuat ini, jadi mau nggak mau harus lanjut meskipun update-nya kadang satu semester sekali *big apology for this one.

Well, kalau ada kesalahan dalam pengejaan yang tidak diinginkan, mohon dimaklumi udah lama nggak nulis lagi.Kalau bahasanya juga rada kaku aku juga minta maaf, kamus kosa kata mulai terhapus satu persatu karena udah jarang nulis atau baca-baca lagi.
Last but not the least. Well, I hope all of you will like it. But always feel free to tell me if you disappointed with this chapter. Well, enjoy it and don’t forget to write your comment.
^^^
~ Sebelumnya ~
“Kang Hye Yeon.” Panggil Hyorin mantap.
Hye yeon terdiam sesaat saat namanya dipanggil.Tatapannya terlihat berubah.Kyungsoo dan Namjoo yang sedang berbincang dengannya langsung bisa merasakan perubahan suasana yang terjadi.Hye yeon menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.Dia tahu siapa yang menyerukan namanya.
“Hai, Jung Hyorin.” Balas Hye yeon berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Hyorin.Tanpa disadarinya kedua tangannya mengepal sempurna.“Long time no see.”
~ Lanjut Ya ~
Hyorin mendengus tak percaya mendapat respon tersebut.Namun dalam waktu singkat tatapannya berubah kesal sambil menggeram.“Ternyata kau benar-benar Hye yeon.Wah, kapan yah terakhir kali kita bertemu?Seperti sudah lama sekali.”Hyorin membeo sendiri tanpa mempedulikan orang sekitarnya yang menatapnya bingung.“By the way, Apa kau sudah waras untuk bisa sekolah disini? Seingatku, otakmu sudah sedikit… yah kau tahulah… ” Hyorin berucap santai dengan senyum tipis menyeringai diwajahnya.
“Hyorin eonni, kenapa kau berkata seperti itu?”Ujar Namjoo yang melihat tidak ada reaksi apapun dari Hye yeon kecuali matanya yang menatap tajam pada lawan bicaranya itu.
Hyorin memandang sekilas pada orang-orang yang berada disekitarnya.“Mianhe, Namjoo-a.Bukannya aku bermaksud tidak sopan, hanya saja kita tidak bisa membiarkan orang gila bersekolah disini, benarkan?”Hyorin berucap semanis mungkin untuk meyakinkan siswa lainnya.
“Orang gila?Maksudmu apa, Hyorin-si?”Kali ini Chanyeol tidak bisa lagi menahan rasa penasaran akibat suasana tak nyaman ini.
Hyorin berpura-pura memasang wajah bingungnya.“Omo, Chanyeol oppa tidak tahu kalau Hye yeon itu… gila?”Ujarnya dengan nada yang sangat didramatisir. “Apa dia sudah sembuh ya?Eh, tunggu dulu… memangnya orang gila bisa sembuh ya?”Tambahnya sambil melirik mengejek pada Hye yeon.
“Hyorin-si, jaga bicaramu. Dia itu sunbae-mu.”Tegas Sehun dengan nada suaranya yang berubah dalam.“Kau berbicara seperti orang yang tidak berpendidikan sama sekali.Pakai otakmu sebelumberbicara, jangan cuma mulutmu saja.”Tambahnya saat berdiri tepat disamping Hyorin.
Mata Sehun melirik kearah sekeliling ruang kelasnya saat melihat beberapa siswa yang mulai berbisik-bisik sambil menunjuk kearah Hye yeon.Pandangan Sehun akhirnya tertuju pada Hye yeon yang masih berdiri dalam diam. Tanpa banyak kata lagi, Sehun melangkah kearah Hye yeon dan langsung menarik tangan gadis itu begitu tiba didekatnya.Hye yeon sempat mendelik kaget dan berusaha menarik lepas tangannya dari genggaman Sehun sebelum akhirnya menyerah karena namja itu sepertinya tidak menunjukkan sikap untuk mengalah.
“Oppa… Sehun oppa… kau mau kemana?”Hyorin berteriak kesal saat Sehun pergi meninggalkan ruang kelas tersebut bersama Hye yeon.“Eh… itu… itu… kenapa Sehun oppa menarik tangan Hye yeon seperti itu?Eh, mereka mau kemana?”… “Oppa, kau tidak ingin mengejarnya? Bagaimana kalau gadis itu tiba-tiba histeris dan melakukan sesuatu pada Sehun Oppa”Mulut Hyorin merocos(?) tanpa henti sambil memandang Chanyeol dengan tatapan memohon.
“Dibanding Hye yeon, kau terlihat lebih histeris, kau tahu itu? Dan kurasa Hye yeon tidak akan melakukan apapun pada Sehun. Lagi pula kau pikir Sehun itu anak kecil ya?Sehun bisa mengurus dirinya sendiri, dia tahu apa yang harus dilakukannya.”Balas Chanyeol yang terlihat terganggu dengan sikap berlebihan gadis manja itu.
“Tapi… itu Hye yeon, kau ti….” Hyorin masih berusaha mempengaruhi Chanyeol.
“Hyorin eonni, kau sebenarnya ada masalah apa dengan Hye yeon eonni?”Namjoo bertanya dengan kesal.Dia tidak peduli jika ucapannya menginterupsi perkataan gadis itu.Sejak awal dia memang sudah tidak menyukai gadis yang doyan bergelayut manja pada oppa-nya, apalagi sekarang harus melihat gadis itu histeris seakan Sehun adalah miliknya.
Hyorin menghentikan protesnya dan berbalik menghadap pada Namjoo.“Aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa kita tidak bisa membiarkan orang gila bersekolah di tempat yang sama seperti kita.”Jawab Hyorin dengan tampang polosnya.
“Bagiku Hye yeoneonni baik-baik saja.Aku rasa kau yang gila.Gila Per…ha…ti…an. Berhenti mencari sensasi dengan berucap yang aneh-aneh.Kau hanya akan membuat dirimu terlihat bodoh, eonni.”Balas Namjoo lalu mengerucutkan mulutnya dan meninggalkan ruangan tersebut. Dan entah dengan alasan apa Kyungsoo bangkit dan pergi mengikuti Namjoo.
Hyorin sempat mendelik kaget saat mendengar ucapan Namjoo.“Ada apa dengan anak itu?Apa dia marah padaku? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?Aku ‘kan hanya ingin menyelematkan sekolah ini dari orang gila tadi itu.”Hyorin memutar kepalanya untuk menghadap pada Chanyeol untuk mencari dukungan.
“Huuuuhhh…Entahlah…” Ucap Chanyeol kemudian berjalan pergi dan meninggalkan Hyorin sendiri dengan kotak bekal yang masih rapi dan belum tersentuh sama sekali.
“Oppa, tunggu dulu…” Hyorin mencegah Chanyeol pergi dengan menarik tangannya.“Apa Sehun oppa dan Hye yeon saling kenal?Kenapa dia menarik Hye yeon seperti itu?”
“Kenal?” Ulang Chanyeol. “Tentu saja.Mereka sekelas atau lebih tepatnya kami sekelas.”Ujar Chanyeol santai.
“Sekelas?Maksudmu gadis gila itu seakan dengan kalian?Bagaimana mungkin?Diakan seharusnya seangkatan denganku?”Hyorin kembali berucap histeris.
Chanyeol muak mendengar ocehan gadis itu.“Hyorin-si, jaga ucapanmu.Benar ucapan Sehun tadi, suka atau tidak, Hye yeon adalah sunbae-mu disekolah ini.Jadi, berhenti berucap hal yang tidak sepantasnya.”Kemudian Chanyeol langsung melengos pergi tanpa mau repot-repot mendengarkan ocehan lanjutan dari gadis itu.
“Sepantasnya… Eh, oppa mau kemana? Cih… ada apa dengan orang-orang itu? Kenapa mereka semua membela Hye yeon?”Hyorin menggumam sendiri dengan sudut bibir kanannya terus menerus terangkat keatas, kesal. “Waeyo…?Kenapa memandangku seperti itu?”Ucapnya saat melihat siswa-siswa yang sedang berbisik-bisik dan memandang dirinya dengan aneh.Kemudian pergi begitu saja dengan meninggalkan kotak bekal itu sembarangan disana.
^^^
Sehun menghentikan langkahnya setelah mereka tiba dibagian teratas gedung sekolah.Tempat ini juga merupakan salah satu tempat favorit yang biasa dikunjungi Hye yeon secara diam-diam. “Apa hubunganmu dengan Hyorin?Kenapa dia bisa sampai berkata seperti itu padamu?” Sehun menatap pada Hye yeon dengan penuh tanda tanya.
Hye yeon menggunakan tangan kirinya untuk melepaskan genggaman yang dilakukan Sehun pada tangan kanannya.“Kau tidak perlu tahu.Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”Tepat saat Hye yeon memutar badannya untuk pergi, Sehun kembali menggenggam lengan gadis itu untuk menahannya.
“Apa maksudmu?”Sehun bingung.
Hye yeon melirik singkat.“Maksudku adalah kau tidak perlu ikut campur dengan masalahku.Urus saja gadis manja itu.Sepertinya dia tergila-gila sekali padamu.”Balas Hye yeon asal.Sejujurnya saat ini dia tidak ingin berdebat dengan Sehun atau siapapun.Dia perlu mengatur pikirannya sendiri.Tapi Sehun sepertinya tidak cukup peka terhadap hal itu.Rasa kesalnya semakin bertambah karena itu.
“Bagaimana mungkin aku tidak perlu ikut campur bila yang disebut gadis gila itu adalah tunanganku sendiri?”Sehun berucap dengan nada bicaranya yang menggebu-gebu.Kalimat Hye yeon barusan seakan menyulut kemarahan dalam dirinya. Entah untuk alasan apa. Tubuhnya terlihat bergerak naik turun secara perlahan dan nafasnya seakan memburu.
Untuk sepersekian menit Hye yeon hanya menatapnya dalam diam. Hye yeon tidak pernah menyangka bahwa namja dihadapannya itu akan mengakuinya sebagai tunangannya. Hye yeon kembali teringat dengan kado serta kartu berisi ucapan selamat yang diberikan Sehun padanya. Sebuah pertanyaan muncul begitu saja dibenak Hye yeon, apa namja dihadapannya ini mulai peduli padanya ataukah semua hal itu hanya bentuk rasa kasihan saja?
“Calon tunangan lebih tepatnya.”Hye yeon mengoreksi kalimat Sehun.“Berhentilah bersikap seolah kau akan menjadi tunangan yang baik untukku dengan menunjukkan sikap peduli tentang apa yang terjadi padaku. Seingatku, tidak satupun dari kita berdua yang setuju dengan pertunangan ini.” … “Jika kau ingin membantuku, jauhkan saja gadis manja itu dariku. Atau… Jika kau mau, kau bisa menggunakannya untuk memutuskan pertunanagan ini.”Hye yeoan menyelesaikan kalimatnya dengan nada sarkastik.Tanpa mau menunggu lagi dan Hye yeon langsung menghempas tangan Sehun sekuat tenaga dan berjalan menjauhinya.
Untuk sepersekian detik Sehun kehilangan kata-katanya karena reaksi Hye yeon barusan.“Baiklah. Lakukan apa yang kau mau. Selesaikan masalahmu sendiri.Aku yang bodoh kenapa mau menolong gadis sepertimu.”Teriak Sehun saat Hye yeon sudah berada jauh dihadapannya. Sehun menghadapkan tubuhnya kearah yang berbeda dan beberapa detik kemudian dia mendengar suara pintu yang banting. “Arrrrggghhh… kenapa ada orang seperti dia. Huh… gadis itu benar-benar menyebalkan.”Teriaknya sendiri.Frustrasi.Namun kemudian, ada perasaan menyesal yang tiba-tiba terbesit dibenaknya.Dia kembali menghela nafas panjang sambil menunduk.
^^^
Hye yeon membanting tubuhnya begitu saja diatas tempat tidur begitu tiba dikamarnya.Helaan nafasnya terasa berat.Matanya terpejam selama beberapa saat. Salah satu upaya untuk menenangkan dirinya yang sedang kalut oleh masalah yang tiba-tiba datang menyapanya. Hye yeon sudah mengetahui bahwa dirinya satu sekolah dengan Hyorin setelah beberapa hari kepindahannya ke sekolah itu. Dia memang tidak punya pilihan, entah suka atau tidak, suatu saat nantimemang harus berhadapan dengan Hyorin secara langsung karena mereka bersekolah ditempat yang sama,.Hanya saja, menurutnya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menghadapi masalah itu. Masalah memang tidak pernah datang pada waktu tepat, karena kalau datang pada waktu yang tepat, itu tidak akan pernah disebut masalah.
Jika mengingat bagaimana tatapan para siswa siswi disekolah itu pada dirinya, Hye yeon bisa memastikan bahwa ucapan gadis manja itu sudah tersebar ke seluruh sekolah. Kalau sudah begini, dia hanya ingin kembali pada aktivitasnya yang dulu, home schooling. “Eomma, bogosippeo…” bisiknya pada udara sambil menutup matanya dengan lengannya.Hari ini terasa sangat melelahkan baginya.
Tok…Tok…Tok…
Suara pintu kamar yang diketuk seolah mengembalikan kesadarannya setelah beberapa saat yang lalu tertidur.
“Agasshi, ada nona Eunji dibawah. Kau ingin turun menemuinya atau…” Tanya Min Ajhumma setelah muncul dari balik pintu.
“Suruh dia langsung ke kamarku saja.”Ujar Hye yeon tanpa menunggu kalimat Min ajhumma selesai.“Ajhumma, tolong bawakan cemilan dan minuman.Aku lapar.”Hye yeon kembali berucap sambil membetulkan posisi duduk.
“Mau sekaligus saya siapkan makan malam?”Tawar Min ajhumma.
“Makan malam?” Hye yeon bergumam sambil berusaha memperjelas penglihatannya pada jam dinding yang dikamarnya. Saat melihat jarum jam yang menunjukkan jam setengah 7 malam, barulah dia mengerti kenapa perutnya terasa lapar. “Kalau begitu siapkan makan malam saja.cemilannya tidak usah.”
“Baik, Agasshi.” Kemudian Min ajhumma pergi meninggal kamar Hye yeon.
Kurang dari semenit Eunji sudah muncul di ambang pintu.
“Kau baru bangun tidur?”Sapa Eunji saat melihat Hye yeon yang sedang mengucek-ucek matanya.
“Hmm.”Gumam Hye yeon sambil mengangguk singkat.
Eunji duduk tepat disamping Hye yeon.“Kau baik-baik saja?”Eunji bertanya dengan hati-hati.
Hye yeon menghela nafas sesaat.“Menurutmu?”
“Setidaknya kau lebih baik dari apa yang kubayangkan.”
Hye yeon hanya tersenyum singkat mendengar jawaban Eunji.“Sepertinya berita itu sudah menyebar ke seluruh sekolah.Apa yang harus kulakukan? Ahh… Aku benar-benar tidak ingin masuk sekolah.”
Eunji menepuk pelan pundak Hye yeon untuk memberinya semangat.“Tidak usah kau pikirkan. Nanti juga berita seperti itu akan hilang dengan sendirinya. Andai saja aku ada disana saat dia(Hyorin) mengatakan hal itu, pasti sudah ku tampar wajahnya. Ouuhh… Gad…”
“Apa kau pernah berpikir aku gila?”Sela Hye yeon tanpa mau memandang kearah sahabatnya.Hye yeon lebih memilih memandang ujung kakinya.
Eunji menatap sabahatnya itu sesaat.“Bagaimana denganmu?”
“Eh?” Hye yeon tidak mengerti.
“Apa kau pernah berpikir bahwa dirimu… gila?”
Hye yeon hanya terdiam.
“Hye yeon-a, aku tidak pernah berpikir bahwa kau gila atau semacamnya. Aku tahu kau stress dan tertekan karena kehilangan ibumu, tapi tidak berarti kau gila. Awalnya aku tidak mengerti mengapa kau berubah jadi begitu pendiam dan mungkin terlihat… aneh.Tapi bukan berarti aku menganggapmu gila, ingat itu.Hanya saja kau jadi lebih sering memilih sendiri dan tiba-tiba kau menangis sendiri.Saat aku mendekatimu kau selalu menyuruhku menjauh.Saat itu aku kecewa padamu. Yah… saat itu aku benar-benar kecewa.” … “Tapi… itu semua karena aku tidak mengetahui seberapa besar kau menderita saat itu.Tapi, sekitar 2 tahun setelah kau pindah keluar negeri, si kitty mati, kucing kesayangku.Tanpa bermaksud membandingkan kucingku dan ibumu, asal kau tahu saja, aku tidak mau makan selama beberapa hari hingga aku harus dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi dan kekurangan gizi.Tidak pernah kubayangkan bagaimana jadinya kalau aku yang berada diposisimu.Bahkan saat itu kau masih sangat belia.Bagiku kau hebat.Kau melalui semua itu dan sekarang kau berada disampingku seperti ini.Mereka yang berani mengatakan kau gila, hanyalah pengecut yang tidak mengerti bagaimana sulitnya menjalani hidup sepertimu.Jadi tidak perlu kupikirkan orang seperti mereka.Buang-buang waktu.”Eunji mengakhiri kalimatnya senyum khasnya.
Hye yeon sempat tersenyum sesaat.“Tapi sekarang orang satu sekolah berpikir seperti itu tentangku.”
“Aku tidak.”Balas Eunji cepat “Dan kurasa namja itu… juga tidak.”
Hye yeon mengerutkan dahinya “Namja itu?”
“Sehun sunbae. Hey… jangan memandangku begitu. Dia yang memberitahuku tentang masalah ini dan memintaku untuk menemuimu.Tapi bukan berarti aku kesini sebagai antek-anteknya #halahbahasanya.Siapa dia bisa menyuruh-nyuruhku, betul ‘kan?”Eunji mengatakan sambil tersenyum lebar supaya Hye yeon tidak berpikir macam-macam.
Hye yeon hanya membuang muka dengan malas.Untuk beberapa detik, wajah Sehun saat mereka sedang berada diatap sekolah seolah melintas dalam pikirannya.Entahlah, tapi Hye yeon merasa sedikit menyesal dengan sikapnya yang seperti tadi.
“Hye yeon-a, mmm… masalah pertunanganmu bagaimana?Acaranya kurang dari dua minggu lagi ‘kan?Kau… masih tetap akan melanjutkannya?”Eunji berujar penasaran.
Hye yeon melirik singkat pada sahabatnya itu dan menghembuskan nafas berat.
Eunji langsung menyesal bertanya seperti itu begitu melihat perubahan ekspresi diwajah Hye yeon.“Mianhe Hye yeon-a, kau tidak perlu menjawabnya.Maaf, aku tiba-tiba menanyakan hal itu.Sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa.Hanya penasaran saja.Kau tidak perlu menjawabnya.Sungguh.”
“Gwencana… cepat atau lambat aku memang harus memikirkannya.Aku jadi ragu untuk melaksanakan pertunangan ini.Gadis itu sepertinya sangat menyukai Sehun.Aku benar-benar malas harus berurusan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan gadis itu.” Hye yeon berucap tanpa semangat
“Tapi setahuku, Sehun sunbae tidak menyukainya.Gadis itu saja yang kegenitan dan selalu mengejar-ngejarnya.”Balas Eunji dengan mengingat-ingat bagaimana Hyorin selalu berusaha menempel pada Sehun apalagi saat ada jadwal pertandingan basket.“Menurutku, sunbae malah lebih perhatian padamu.”
Hye yeon mendelik sesaat mendengar kalimat itu.Belakangan ini Hye yeon memang merasa bahwa Sehun bersikap berbeda padanya, terutama setelah kejadian di pemakaman ibunya waktu itu.“Kurasa Baekhyun juga begitu padamu.Malah, sangat sangat perhatian, sepertinya” Balas Hye yeon sambil menyipitkan matanya pada Eunji seakan mencurigai sudah mulai ada ‘sesuatu’ antara sahabatnya itu dan teman sekelasnya.
“A…a…apa maksudmu?” Eunji gelagapan karena ‘diserang’ pertanyaan tiba-tiba seperti itu.
Hye yeon mengangkat sudut bibitnya.Dia menyeringai melihat reaksi Eunji.“Kenapa kau jadi gelagapan seperti itu? Hei… hei… hei… sudah sejauh apa hubungan kalian? Apa kau sudah menerimanya jadi pacarmu?”Mata Hye yeon membulat saking penasarannya.
“Apa-apaan sih pertanyaanmu itu.Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.” Balas Eunji sambil membuang muka kearah lain.
Hye yeon tersenyum jahil.“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau terlihat malu-malu seperti itu. Eiiihhh..mukamu mulai memerah lohhhhhh…” Hye yeon mulai menggoda Eunji habis-habisan.
“Apa-apaan sih?Sejak kapan perbincangan ini berubah jadi tentangku?”Eunji protes sambil pura-pura marah.
Hye yeon hanya tertawa menanggapi kalimat Eunji barusan.Ini pertama kalinya dia bisa tersenyum setelah menghadapi masalah tadi siang.Mood-nya terasa lebih baik saat ini.“Jadi sekarang kau juga mulai menyukainya?”
“Sudahlah.Berhenti bertanya tentang dia. Aku kesini bukan untuk membahas tentang hubunganku dan Baekhyun sunbae.” Eunji kembali protes
Hye yeon mengangguk-angguk sambil mengambil kesimpulan sendiri dan terus menerus menggoda Eunji.“Jadi, kalian sudah ada hubungan yah?Oke. Kau bisa cerita lain waktu padaku.”
“Hye yeon-a, Geumanhae. Kau membicarakan semua ini hanya untuk mengalihkan pembicaraan kita kan?” Eunji mulai ‘menyerang’ balik.
Hye yeon memutar bola matanya sembarang.Pura-pura tidak mengerti.“Pembicaraan apa?”
“Sehun sunbae yang mulai perhatian padamu.”Tegas Eunji. Kali ini dia tidak mau kalah.Jangan sampai Hye yeon kembali menggoda tentang Baekhyun.
“Apa yang harus dibicarakan tentangnya jika memang tidak apa-apa diantara kami?”Ujar Hye yeon cuek.
Eunji menatap sesuatu diatas meja yang berada disamping tempat tidur Hye yeon.“Yakin tidak ada ‘sesuatu’?” dan Hye yeon hanya menanggapinya dengan gumaman pelan dan anggukan kepala.Eunji melanjutkan kalimatnya karena tidak ingin kehilangan moment untuk menggoda Hye yeon “Tapi kenapa bola kaca itu berada tepat disana, disamping tempat tidurmu?Sepertinya kau selalu memainkannya sebelum kau tidur. Sepertinya hadiah itu seakan menjadi treasure bagimu.” Senyum jahil menghiasi wajah Eunji saat dia menyelesaikan kalimatnya dan melihat Hye yeon yang mulai kebingungan dan salah tingkah.
“Ah… ooh..itu… aku belum sempat merapikannya dan meyimpannya.” Jawab Hye yeon asal-asalan.
“Oh ya??? Sudah sekitar dua minggu lalu kau menerimanya dan masih belum sempat menyimpan karena itu kau menaruh ditempat terdekat denganmu supaya kau bisa terus memandangnya, begitu kan?” Goda Eunji dengan mengucapkan kata demi kata dengan sangat perlahan.
“Aniya.”Jawaban Hye yeon hampir terdengar seperti pekikan.
Eunji sempat kaget melihat respon Hye yeon sebelum akhirnya tertawa puas.Hye yeon hanya bisa memandang kesal pada Eunji sambil melangkah untuk mengambil bola kaca tersebut dan menyimpannya sembarang dalam laci meja.“Hentikan tawamu itu.”Ujar Hye yeon sambil melempar batal kearah Eunji.Eunji pun tidak mau kalah dan mulai ikut-ikutan melempar bantal ke arah Hye yeon.
Tepat saat perang bantal itu dimulai ponsel Eunji dan Hye yeon bunyi bersamaan.Entah itu takdir atau hanya sebuah kebetulan belaka, Hye yeon menerima sms dari Sehun sedangkan Eunji menerima sms dari Baekhyun. Setelah masing-masing melihat isi sms, mereka berdua saling bertatapan sampai akhirnya mereka menanyakan pertanyaan yang serupa satu sama lain.
“Dari siapa?” Eunji dan Hyeyeon berujar dalam waktu yang sama.
“Kau duluan, dari siapa?” Tukas Eunji. Hye yeon terlihat menimbang-nimbang apa jawabannya.
“Sehun sunbae ya?”Sela Eunji saat Hye yeon baru mau bersuara dan langsung mengangguk pelan.
“Dan kau?Baekhyun ya?”Tebak Hye yeon dan Eunji hanya mengguman untuk mengiyakan tebakan Hye yeon.
Eunji yang berinisiatif untuk duluan bertanya tentang isi SMS tersebut. “Dia bilang apa didalam pesan itu?”
“Mmm… cuma permintaan maaf saja.”Ujar Hye yeon sambil menyerahkan pada Eunji supaya gadis itu bisa langsung membaca sendiri isi pesan dari Sehun.
Eunji langsung melayangkan pertanyaan setelah beberapa detik membaca SMS itu.“Memangnya apa yang kalian lakukan di atap.”
“Tidak ada.Dia hanya ingin tahu apa sebenarnya hubunganku dengan Hyorin hingga gadis itu berucap seperti itu padaku.”
“Dan kau jawab apa?” Eunji kembali bertanya tanpa jeda.
“Aku bilang saja bukan urusannya.Lebih baik dia mengurusi si Hyorin supaya gadis itu tidak menggangguku lagi.”
Eunji sempat tak percaya mendengar ucapan Hye yeon. “Hye yeon-a, apa menurutmu ucapanmu tidak terlalu kasar? Dia ‘kan hanya ingin menolongmu.Kurasa seharusnya kau yang minta maaf padanya, bukan dia yang minta maaf padamu.”
Hye yeon hanya mengedikkan bahu. “Entahlah.” … “Baekhyun mengirimu pesan apa?” Gantian Hye yeon yang penasaran dengan SMS yang diterima Eunji.
“Dia menanyakan kabarmu dan…” Eunji menggantungkan kalimatnya karena ragu.
“Dan apa?”Desak Hye yeon.
“Aniya.Tidak ada apa-apa.”Eunji menggeleng cepat.
Hye yeon menyipitkan matanya karena merasa Eunji menyembunyikan sesuatu darinya.Tanpa menunggu waktu lama, Hye yeon langsung merebut ponsel Eunji dari tangannya untuk bisa melihat langsung isi pesan yang dikirimkan Baekhyun pada gadis itu.Eunji sempat kaget dengan prilaku Hye yeon namun akhirnya memilih menyerah dan membiarkan Hye yeon membaca isi pesan tersebut.
Hye yeon membulatkan matanya setelah beberapa saat dan memandang Eunji dengan serius. “Jujur padaku, sebenarnya hubungan kalian sudah sejauh apa? Dia mau menjemputmu?Tunggu dulu, jangan katakan padaku kalau kau kesini juga diantar olehnya.”
“Aniya.Aku kesini naik bus kok.” Sanggah Eunji.
Hye yeon mengambil posisi duduk tepat didepan Eunji.“Jujur padaku, kau suka padanya?”
Eunji menatap Hye yeon selama beberapa detik.“Bagaimana denganmu, kau suka pada Sehun?”Balas Eunji tidak kalah serius.
Hye yeon menarik mundur wajahnya perlahan.Matanya berputar menyusuri ruangan kemudian mendesah malas. “Ah, kita sepertinya akan terus berputar-putar. Kalau kau tidak ingin menceritakan padaku tentang Baekhyun, tidak apa-apa.Ayo kita makan malam aja.Aku lapar.”Hye yeon bangkit dari posisi duduknya tapi Eunji malah menarik tangan Hye yeon sehingga membuat gadis itu kembali terduduk.
“Bukannya aku tidak mau menceritakannya padamu. Hanya saja, hanya saja… Aku tidak tahu harus menceritakan apa, sama sepertimu yang tidak bisa menceritakan apapun saat kutanyakan hal yang sama tentang Sehun. Keadaan kita berdua hampir sama, hanya saja permasalahannya yang membuatnya berbeda.” Jelas Eunji.
“Aku tahu.” … “Ah, sudahlah.Aku tidak ingin membahas masalah seperti ini lagi.Kalau kau ingin bercerita, silahkan cerita.Aku tidak menuntutnya lagi.Begitu pula denganmu, jangan memaksaku bercerita tentang namja itu. Aku sedang malas memikirnya, terlebih karena kejadian hari ini.” … “Kajja, makaaaaaaannn… eh, tunggu apa kau mau makan malam bersama Baekhyun juga?”
“Naega wae?”Eunji balik bertanya.“Aku akan bilang supaya dia tidak menjemputku. Boleh aku minta tolong Kim ajhussi saja yang mengantarku pulang?”
“Kau yakin?”Hye yeon melirik curiga.
“Berhenti menatapku seperti itu.”Eunji berujar sambil menjentikkan jarinya pada jidad Hye yeon dan langsung sukses membuat meng-aduh pelan.“Kajja kita makan.”Tambahnya cuek lalu melenggang keluar dari kamar Hye yeon.
^^^
Dugaan Hye yeon tentang reaksi siswa siswi sekolah itu saat melihatnya sudah seperti apa yang dibayangkannya sepanjang malam. Dalam satu hari dirinya benar-benar jadi terkenal dan menjadi perbincangan hampir disetiap sudut sekolah itu.Dia berjalan dengan headset terpasang dikedua telinganya, pandangannya lurus tanpa memperhatikan kanan kiri. Dia memilih tidak mempedulikan sama sekali apa yang terjadi pada sekitarnya. Dia tidak ingin terpengaruh oleh ucapan orang-orang yang sebenarnya tidak pernah mengenal siapa dirinya.
Saat tiba didalam kelas, siswa kelas terlihat langsung berbisik-bisik sambil menatap dirinya. Dia hanya berjalan menuju bangkunya dan langsung membuka buku pelajarannya tanpa repot menoleh kanan kiri lagi. Saat Kyungsoo tiba dan mencoba untuk memulai pembicaraan dengannya juga tidak dipedulikannya.Sosok Sehun yang sempat tertangkap oleh iris matanya juga dianggap seperti tidak pernah ada. Pandangannya hanya berganti antara buku dan papan tulis saja selama jam pelajaran berlangsung. Hari itu Hye yeon benar-benar memilih untuk puasa bicara. Bahkan Eunji pun tidak sanggup membuatnya membuka mulut hingga jam sekolah berakhir.
Hye yeon hanya menghabiskan waktunya dalam kamar tanpa keluar sekalipun.Berbagai pikiran seakan menyerang kepalanya sekaligus.Hye yeon hanya duduk sambil memeluk kaki yang ditekuknya dengan memikirkan pertimbangan ini dan itu untuk masalah yang dihadapinya.Sejujurnya dia benci dirinya yang seperti ini.Menjadi seperti ini hanya membuatnya terlihat semakin tidak berdaya dan lemah.Tapi dia juga belum mampu untuk membuka diri setiap kali ada masalah yang membuatnya jadi pusat perhatian walaupun hanya sekedar ingin mengatakan sebuah kenyataan yang sebenarnya.Tak pelak pandangan negative tentang dirinya selalu muncul diantara berita yang berkembang.Berusaha tidak tahu adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya saat ini.
Hal ini sudah terjadi hampir seminggu lamanya dan Hye yeon masih saja bersikap sama untuk menanggapi keadaan sekitar. Padahal perhatian orang terhadapnya sudah mulai memudar tapi dia hampir tidak merubah sikapnya yang lebih banyak untuk membisu.Menurutnya bersikap seperti ini lebih mudah dan bukanlah hal buruk yang harus dihindarinya.Toh, bersikap seperti ini malah sudah membantunya bertahan selama seminggu belakangan.
“Hye yeon hakseng, ini sudah ketiga kalinya kau terlambat memasuki jam pelajaranku.” Tegur Im songsaenim saat melihat Hye yeon memasuki ruang kelas setelah 15 menit sejak jam istirahat berakhir. Sontak seluruh wajah yang sedang menatap lembaran soal langsung terangkat dan menatap pada Hye yeon.
Hye yeon tidak menjawab atau merespon apapun.Gadis itu hanya diam di tempat sambil menunduk dan memandang ujung sepatunya.
“Jika kau masih berniat melakukan hal seperti ini lagi pada jam pelajaranku, untuk selanjutnya tidak akan ada lagi teguran untukmu. Kau akan langsung berdiri didepan kelas hingga jam pelajaran sebagai hukumanmu.” Ujar Im Songsaenim yang lagi-lagi tidak mendapat respon apapun dari Hye yeon.“Duduklah dibangkumu, ini kertas soalmu. Yang lain sudah mulai mengerjakan sejak 10 menit yang lalu. Tidak akan ada tambahan waktu untukmu.”Im songsaenim menghembuskan nafas pelan melihat kelakuan siswa yang sempat menjadi murid kesayangannya itu.
“Ayo…ayo… semuanya kembali fokus pada soal ujian kalian. Ujian kali ini akan membantu nilai kalian yang jelek pada ujian sebelumnya.”Im songsaenim berusaha mengembalikan konsentrasi siswa-siswa kelas yang malah mulai sibuk mengoceh sendiri karena kehadiran Hye yeon.“Bagi sudah selesai bisa langsung pulang duluan.”Tambah Im songsaenim untuk meningkatkan semangat siswanya.
Menit demi menit berlalu dalam keheningan meski sesekali terdengar krasak krusuk siswa yang ingin berniat mencontek satu sama lain namun malah berakhir dengan mendapatkan tatapan menusuk serta teguran keras dari sang songsaenim.
Sehun berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada kertas yang baru sepertiga terisi oleh jawaban.Itupun dia tidak yakin seratus persen dengan deretan angka tertulis disana.Ditambahkan lagi dengan kebiasaan yang timbul sejak beberapa hari yang lalu yaitu memperhatikan Hye yeon secara diam-diam, ternyata juga mengganggu konsentrasi belajarnya.
Setelah 30 menit berlalu, raut wajah penduduk kelas itu mulai memperlihatkan efek samping dari lembaran kertas soal yang mereka terima.Perlahan tapi pasti kerutan mulai timbul menghiasi wajah para siswa.Semakin keras mereka berpikir, semakin jelas kerutan yang muncul. Semakin keras mereka berusaha berkonsentrasi, semakin ribut mulut mereka mendumel(?) dan menggerutu.
“Sam (panggilan untuk guru), apa soal ini tidak terlalu sulit?Soal ini terlalu banyak, sam.Bagaimana kalau setengahnya saja.Sisanya bonus saja ya, sam.”Keluh Seung myun dan langsung disetujui oleh siswa lainnya. Suara mereka saling timpang tindih satu sama lain untuk memaksa sang songsaenim menyetujui pengurangan soal ujian tersebut. Dalam sekejap, ruang yang begitu tenang itu langsung berubah rusuh.
Im songsaenim mulai menimbang-nimbang untuk memberikan sedikit keringanan pada siswa-siswanya saat Hye yeon tiba-tiba berdiri sambil menenteng tasnya dan berjalan menuju Im songsaenim untuk menyerahkan kertas soal dan jawaban miliknya.Dan dalam sekejap pula suasana ruangan itu kembali hening.Mereka semua menatap pada Hye yeon.Ada tatapan kagum, tatapan kesal, tatapan iri dan ada pula yang tersenyum melihatnya.
“Songsaenim, igeoyo…”Hye yeon menyerahkan kertasnya.“Saya boleh pulang ‘kan?”
Im songsaenim menerima lembaran kertas tersebut kemudian langsung mengambil pena dan memeriksa jawaban yang ditulis Hye yeon. Siswa lain ada yang menatap dalam diam, ada juga yang mengambil kesempatan untuk mencontek pada temannya dan ada pula yang mulai sibuk bercerita tentang kelakuan Hye yeon. “Kerjakan soal kalian.Jangan pikir aku tidak memperhatikan kalian.Dan satu hal tidak ada pengurangan soal atau semacamnya.”Sontak saja dari ruang kelas tersebut langsung terdengar sorak sorai menyuarakan ketidaksetujuan mereka.“Diam dan kerjakan soal itu… atau jika kalian tidak sanggup, kalian bisa keluar sekarang juga mengikuti jejak Hye yeon.”Im songsaenim menatap tajam seluruh penjuru ruangan.
“Kau boleh pulang sekarang.Besok, saat jam istirahat siang temui saya diruang guru.”Ujar Im songsaenim saat pandangannya kembali pada Hye yeon.
Hye yeon hanya mengangguk singkat dan meninggalkan kelas itu dalam hitungan detik.
“Seung myun hakseng, kau ingin keluar juga?Kalau tidak, sebaiknya kau mulai kembali fokus pada lembaranmu dari pada menoleh kanan kiri seperti itu.”Im Songsaenim berucap dengan sedikit membentak sehingga membuat Seung myun tertunduk kaku dibangkunya.“Kerjakan soal kalian baik-baik.Jangan terpengaruh oleh Hye yeon yang baru saja keluar. Jangan sampai kalian tidak teliti yang akhirnya hanya akan mengurangi nilai kalian… seperti Hye yeon barusan. Ini kesempatan terakhir sebelum Ujian Akhir Semester menyapa kalian awal bulan depan.”
“Memangnya Hye yeon mendapatkan nilai berapa, sam?”Celetuk Miryeong yang langsung menarik rasa penasaran teman sekelas mereka termasuk Kyungsoo.
Im songsaenim memutuskan untuk memberitahu mereka nilai Hye yeon supaya mereka lebih-lebih berhati-hati untuk mengerjakan soal. “Kalau saja dia lebih teliti, mungkin dia bisa mendapatkan nilai sempurna…”
“Memangnya nilainya berapa, sam?”Ulang Baekhyun yang sudah terlanjur ikut penasaran.
Dengan ekspresi kecewa Im songsaenim berucap “Hye yeon hanya bisa mendapat nilai 80…”
“Hanya? 80?” Ujar Baekhyun terperangah tak percaya.“Uwaaah… seteliti apapun aku, belum tentu bisa dapat nilai segitu.”
Sudut bibir kanan Kyungsoo terangkat.“Sudah kuduga.Setidaknya untuk masalah pelajaran, dia masih Hye yeon yang kukenal.”
^^^
“Eomma, haruskah aku yang menemanimu?Kenapa bukan Namjoo saja?Kalian ‘kan sama-sama perempuan jadi melakukan hal seperti ini pasti menyenangkan bagi kalian berdua.Kenapa harus aku yang menemanimu?”Sehun terus menerus meneror Nyonya Oh hampir setiap 10 menit sekali.Baginya menemani wanita berbelanja adalah salah satu aktivitas paling menyebalkan dalam hidupnya.
“Sehun-a, berhentilah menggerutu seperti itu.Nikmati saja.Eomma tidak akan lama kok. Kau juga tahu Namjoo sedang fokus belajar belakangan ini, mana mungkin eomma mengganggunya.”Nyonya Oh mencoba menjelaskan entah untuk keberapa kalinya.
“Terus, menurut eomma aku tidak belajar?”Sehun membela dirinya.Kalimat Nyonya Oh barusan seakan mengatakan bahwa dirinya tidak pernah belajar.
“Kapan eomma pernah mengatakan hal seperti itu?Tentu saja kau belajar apalagi sebentar lagi kau mau ujian akhir.Hanya saja adikmu itu sepertinya sedang sangat semangat dan eomma tidak ingin merusak semangat belajarnya.Bagaimana kalau tiba-tiba dia berubah kembali seperti dulu?Kau juga tahu ‘kan dulu yang dikepalanya hanyalah mall mana yang akan dikunjungi untuk sekedar memenuhi hobi shopping-nya. Entah apa yang terjadi padanya, tapi belakangan ini dia menjadi rajin sekali belajar. Kau tahu betapa senangnya eomma karena hal itu?”Nyonya Oh berujar dengan wajah sumringahnya.
Sehun tidak membalas ucapan Nyonya Oh.Dia hanya mengangguk-angguk pelan sebagai persetujuan atas ucapan Nyonya Oh tentang perubahan yang terjadi pada adiknya.Setahunya Namjoo itu bukan siswa yang bodoh.Saat duduk dibangku Sekolah Dasar, dia pernah masuk dalam perikngkat 10 besar, walau hanya untuk lingkup kelasnya saja.Namun sejak masuk Sekolah Menengah Pertama, dia menjadi malas belajar karena pergaulan dengan teman-temannya.
Nyonya Oh kembali bertanya sambil mencari sesuatu Dalam tas tangannya. “Sehun-a, kau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada adikmu?”
Sehun melirik Nyonya Oh sekilas.“Entahlah, kenapa eomma tidak bertanya saja langsung padanya?”
Nyonya Oh menghentikan aktivitasnya sebentar lalu menatap geram anak lelakinya itu.“Kau ini tidak peduli sekali pada adikmu.Jadilah oppa yang perhatian sedikit pada adikmu.”
“Ya bukan salahku.Dia ‘kan tidak bercerita apapun padaku.Bagaimana aku bisa tahu?”
“Tapi ‘kan dia adikmu.Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada adikmu?”
“Eomma bicara apa sih?Katanya senang kalau Namjoo jadi rajin belajar, tapi kenapa tiba-tiba berbicara seolah hal buruk akan terjadi pada Namjoo?”… “Eomma, dia baik-baik saja.Mungkin saja dia sudah ketularan sifat kutu buku anak itu.”Sehun mengeluarkan pendapatnya secara asal-asalan.
“Anak itu?Siapa yang kau sebut ‘anak itu’?”Nyonya Oh menjadi sangat tertarik dengan informasi yang barusan diterimanya.
Sehun mengarahkan wajahnya kearah lain sambil berkedip beberapa kali seakan mencoba mengingat kalimat yang baru saja diucapkannya tanpa sengaja.
“Apa Namjoo punya pacar baru?Anak itu seorang kutu buku, begitu?Berarti dia pintar dong? Eh, tunggu dulu, berarti dia sudah putus dengan pacarnya yang lama? Atau dia ma…” Nyonya menyerang Sehun dengan pertanyaan tanpa henti yang Sehun sendiri tidak tahu jawabannya.
“Eomma…”Sehun sedikit berteriak pada Nyonya Oh yang seketika membuat wanita berusia di kepala empat itu menatapnya dengan kesal.“Semua pertanyaan itu, tanyakan langsung pada Namjoo.Aku tidak tahu apa-apa.”
“Eiiih kamu ini…” Nyonya Oh langsung menjitak pelan kepala anak sulungnya itu.
“Appo, eomma.Kapan selesainya acara belanja ini?Kakiku sudah mulai sakit.”Sehun menunduk sambil berpura-pura memijit-mijit betisnya.Namun, begitu dia mengangkat kepalanya Nyonya Oh sudah tidak berada disampingnya lagi.Kepalanya mulai menoleh ke segala arah untuk mencari sosok eomma-nya.Untungnya dalam hitungan detik Sehun langsung menemukannya yang terlihat sedang berbincang dengan seseorang.Tanpa ragu Sehun langsung menghampiri Nyonya Oh untuk sekedar meluapkan kekesalan karena dirinya ditinggalkan begitu saja dan dibiarkan berbicara dengan angin.
Tanpa peduli dengan lawan bicara Nyonya Oh, Sehun langsung membuka mulutnya “Eomma, kenapa meninggalkan aku sendiri?”
Nyonya Oh hanya melihat sekilas pada anaknya terlihat sedang kesal tersebut.“Mianhe Sehun-a. Eomma terlalu excited melihat Hye yeon.”
Nama yang barusan diucapkan oleh Nyonya Oh langsung membuat Sehun melihat kearah seseorang yang menjadi lawan bicara Nyonya Oh sejak beberapa menit lalu.Ekspresi kaget terpampang jelas diwajah Sehun dan tak satupun kata keluar dari mulutnya.Kalimat apapun yang diucapkan oleh Nyonya Oh tak lagi dihiraukannya.Sedangkan Hye yeon sudah duluan merasakan cemas sejak Nyonya Oh tiba-tiba menyerukan namanya saat dia sedang berbincang dengan Eunji. Dan perasaannya semakin menjadi tak menentu karena menyadari bahwa Nyonya Oh tidak sendiri, melainkan bersama sang anak yang beberapa hari belakangan sengaja dihindarinya.
“Kajja, kita makan.”Ujar Nyonya Oh dengan nada riang sambil menggandeng Hye yeon dan memaksanya berjalan mengikuti langkah Nyonya Oh.“Enaknya kita makan apa yah? Kalian berdua sedang diet yah?” Nyonya Oh memandang bergantian antara Hye yeon dan Eunji.
“Aniya.Kita makan semuanya kok.” Balas Eunji sambil memaksakan sebuah senyum manis.
“Baguslah kalau begitu.Sehun-a, kau mau makan apa?” Nyonya Oh memutar arah pandangnya tapi tidak dapat menemukan Sehun disisinya.“Anak itu kenapa?”Nyonya Oh bergumam sendiri saat menyadari bahwa Sehun masih berdiri diam ditempatnya.
Hye yeon dan Eunji hanya saling pandang kemudian menghela nafas pelan.
“Sehun-a, kau sedang apa disana?” Seru Nyonya Oh yang langsung menyentakkan kesadarannya yang melayang entah kemana.
Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. Dia benar-benar merasa canggung mendapati ketiga wanita itu sedang menatap kearahnya.
Dalam waktu kurang dari 20 menit, Sehun sudah duduk diantara 3 wanita yang sedang sibuk berbincang, terutama Nyonya Oh dan 2 orang lainnya hanya bisa tersenyum sambil sesekali mengangguk setuju. Sehun benar-benar kebingungan harus bersikap seperti apa saat ini.
“Eomma… bisakah aku tidak usah ikut acara makan ini? Aku..”
“Memangnya kau mau kemana?Bukankah kau bilang bahwa hari ini tidak ada jadwal apa-apa?Lagian eomma sudah memesan makanan untukmu.”Selidik Nyonya Oh tanpa peduli ekspresi air muka Sehun yang sudah terlihat semakin kesal sejak awal mereka memasuki restoran bergaya Eropa ini.
“Aniya.Bukan itu maksudku.Disini sudah ada Hye yeon dan Eunji, kalian bisa shopping bersama.Bukankah para wanita senang shopping jika sudah bersama?”Sehun beralasan sambil melirik singkat pada Hye yeon dan Eunji.
“Aniya…aniya…”Nyonya Oh menggeleng cepat.Sebuah ide terlintas dibenaknya begitu saja.“Bagaimana kalau sekarang kita membahas sedikit tentang rencana pertunangan kalian.Acaranya ‘kan tinggal beberapa hari lagi? Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu kalian tentang permasalahan ini, tapi aku terlewat excited dengan hal ini. Hye yeon-a, apa kau sudah menerima gaun yang kukirimkan untukmu? Bagaimana, kau suka?Ukurannya tidak kebesaran atau kekecilan ‘kan?”Nyonya Oh memandang Hye yeon dengan ekspresi wajah riang.
Hye yeon terdiam sesaat dan berusaha mencari alasan tepat yang bisa diucapkan supaya tidak menyinggung perasaan Nyonya Oh.“Keuge… mmm…”
“Waeyo Hye yeon-a?Kau belum mencobanya?”Lagi-lagi Nyonya Oh mengajukan pertanyaannya tanpa memperhatikan bahwa lawan bicaranya belum selesai mengucapkan kalimatnya.Kali ini ada sedikit nada kecewa yang terdengar dari wanita berumur empat puluhan itu.
Aku bahkan belum menyentuh kotak itu sama sekali, Hye yeon membatin. “Uhm… Mianhe ajhumma.Tapi aku janji setiba dirumah aku pasti akan langsung mencobanya.”
“Gwencana.Kau pasti juga sibuk dengan tugas sekolahmu dan gugup tentang acara pertunangan itu.”Ujar Nyonya Oh kemudian memandang satu persatu tiga manusia yang masih berdarah muda itu.Nyonya Oh baru menyadari bahwa sepertinya hanya dirinya yang bersemangat tentang acara pertunangan itu sedangkan tiga remaja dihadapannya ini seakan sibuk dengan masalahnya masing-masing atau terang-terangan membuang muka supaya bisa menghindari setiap pertanyaan yang diucapkannya.Nyonya Oh memutuskan untuk berhenti menyinggung masalah pertungangan itu dan memilih untuk sesekali memuji atau bertanya kabar keluarga Hye yeon dan Eunji disela-sela waktu menikmati makanan yang tersaji.
Setelah memberikan kartu kreditnya pada sang waiters untuk membayar makanan tersebut, Nyonya Oh memutuskan untuk mengucapkan perpisahan dan membiarkan mereka pergi melanjutkan aktivitasnya masing sedangkan beliau dan Sehun akan langsung pulang.
“Ajhumma, terima kasih atas makanan.”Ujar Hye yeon dan langsung disetujui oleh Eunji.
“Tidak perlu sungkan.Aku senang kita bisa makan bersama seperti ini. Supirmu akan menjemputkan kalian saat pulang ‘kan?” Nyonya Oh berusaha memastikan para gadis itu pulang dengan selamat.
“Ne, ajhumma.”
“Baiklah kalau begitu. Oh ya Hye yeon-a, dua hari sebelum hari H aku akan ke rumahmu untuk mengecek persiapan serta gaunnya. Kau tidak masalahkan?” Ucap Nyonya Oh dan langsung mendapatkan anggukan dari Hye yeon. “Dan Eunji-a, besok gaun untukmu dan Namjoo akan selesai. Kau ingin gaun itu diantar kemana?Atau… bagaimana kalau kita berkumpul dirumah Hye yeon saja untuk melihat kalian semua memakai gaun itu?”
“Ne ajhumma.Akan lebih menyenang jika kita semua berkumpul.”Eunji berucap sopan.
“Benar.Benar. Kita bisa sekaligus bergosip ria…hehe… Ah… akan menyenangkan sekali punya banyak anak perempuan… hehe…” Tawa Nyonya Oh langsung berhenti begitu mendengar Sehun yang sengaja berdeham.“Baiklah, kalian hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam”
“Ne, ajhumma. Annyeong… mmm… Bye Sehun-si” Hye yeon mengakhiri ucapannya dengan agak ragu.
“Ne. Bye.” Balas Sehun pelan namun cukup untuk terdengar oleh telinga Hye yeon.
^^^
Hye yeon memandang lurus pada pantulan sosoknya pada cermin dihadapannya ditemani oleh Eunji dan Namjoo yang berada masing-masing disisi kanan dan kirinya. Pandangannya terasa kosong, tidak ada raut bahagia nan berbinar yang biasa menghiasi wajah seorang wanita yang dalam hitungan menit akan melangsungkan acara pertunangannya. Gaun sewarna biru laut yang membalut tubuhnya seakan tidak mampu memberi tambahan energi positif.
“Hye yeon-a, tersenyumlah.Kau cantik bila tersenyum.”Hibur Eunji sambil berusaha tersenyum memandang pantulan dirinya dan sahabat baiknya tersebut.
“Majayo eonni.Kau akan tambah cantik jika tersenyum.” Tambah Namjoo. Sejujurnya Namjoo merasa dirinya tidak pantas mengatakan hal tersebut.Jauh didalam hatinya dia mengerti bahwa gadis yang terduduk disampingnya itu tidak menginginkan pertunangan ini tapi dia tidak bisa berbuat apapun selain menghibur gadis tersebut.
“Eonni, aku tidak tahu harus mengatakan hal ini tapi kalau boleh aku ingin menyampaikan sedikit tentang isi hatiku…” Namjoo beruar serius namun penuh kehati-hatian(?).
Hye yeon hanya merespon dengan menatap pantulan bayangan Namjoo pada cermin tersebut tanpa berkata apapun.Hye yeon merasa mulutnya sangat kelu bahkan untuk berkata sepatah katapun.
“Sejujurnya aku senang sekali kalau eonni benar-benar jadi bagian dari keluarga kami.Sejak bertemu dengan eonni pertama kali atau lebih tepatnya bertemu kembali setelah eonni kembali Korea, aku sangat menyukai eonni.Entahlah, aku juga bingung kenapa bisa begitu.Aku hanya merasa eonni itu orang baik.Aku jarang menyukai yeoja-yeoja yang dekat dengan oppa tapi dengan eonni, aku tidak pernah merasa keberatan.Tapi semakin hari, senyum eonni semakin hilang, kepribadianmu juga semakin tertutup dan kau juga sempat berada dalam keadaan kritis.Aku merasa itu terjadi karena keluarga kami. Aku minta maaf padamu sebagai perwakilan dari keluarga kami karena telah membuatmu menjadi seperti ini… Rasanya egois sekali kalau aku meminta eonni tetap bertahan dengan keadaan seperti ini hanya karena aku menginginkan eonni menjadi bagian dari keluarga kami… Sedikit, ya walau sedikit… adakah bagian dari hati kecilmu yang ingin pertunangan ini terus berlanjut, eonni?”Namjoo kini telah menatap Hye yeon dengan penuh keseriusan.
Hye yeon menghela nafas pelan sebelum mulai mencoba mengeluarkan kata-kata yang berkeliaran dikepalanya.Hatinya tiba-tiba terasa sesak dan membuatnya semakin bingung merangkaikan setiap kata yang ingin diucapkannya. “Entahlah…” Semua kata terhenti disini dan Hye yeon hanya bisa menuduk sambil berusaha keras supaya air matanya tidak menetes tapi dia sungguh tak kuasa hingga perlahan tetes demi tetes air matanya mulai mengalir.
“Eonni…”
“Hye yeon-a…”
Namjoo dan Eunji saling bertatap kebingungan satu sama lain karena tingkah Hye yeon. Mereka sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri gadis tersebut. Tidak henti-hentinya mereka berusaha menghibur dan menenangkan gadis itu hingga mereka mendengar sebuah ketukan dipintu yang membuat mereka mengalihkan perhatian mereka.
Wajah orang mereka kenal muncul dari balik pintu yang terbuka.“Bisa aku bicara dengan Hye yeon sebentar?”
“Oppa, kurasa sekarang bukan waktu yang tepat.”Namjoo berucap diiringi dengan gelengan kepala.
“Gwencana Namjoo-a.”Ujar Hye yeon sambil menghilangkan jejak air mata yang tersisa diwajahnya. Untung saja make up yang dipakainya minimalis dan waterproof sehingga air matanya tidak terlalu memberikan perubahan yang berarti pada wajahnya.
“Kau yakin, Hye yeon-a?”Eunji terlihat agak ragu dengan keputusan Hye yeon tersebut.
Hye yeon mengangguk pelan.
“Kalau begitu kami akan meninggalkan kalian berdua untuk saling berbincang… Kajja Namjoo-a.” Eunji dan Namjoo berjalan langkah berat sambil saling berganti pandangan satu sama lain.
Entah berapa menit waktu berlalu dalam keheningan. Hye yeon masih terdiam didepan cermin dengan pikiran yang melayang entah kemana sedangkan Sehun berdiri beberpa meter dibelakang Hye yeon sambil menatap lurus pada pantulan wajah Hye yeon pada cermin besar dihadapan gadis itu.
“Kau ingin bicara apa?” Ucap Hye yeon memecah keheningan diantara mereka namun masih dengan tatapan kosong pada cermin tersebut.
“Aku ingin tahu alasanmu ingin tetap melanjutkan pertunangan ini.”Akhirnya pandang Sehun dan Hye yeon bertemu meski hanya melalui pantulan cermin tersebut.
“Kau tidak perlu tahu tentang hal itu.Pertunangan ini bukan hal besar yang harus dipermasalahkan.”Hye yeon tampak serius dan tegas dengan ucapannya.
Sehun berjalan mendekat dengan kedua tangan pada saku celananya.“Baiklah.Kau tidak perlu menceritakan sekarang kalau kau memang tidak mau membahasnya.Tapi, suatu saat nanti kau harus menceritakannya padaku.Harus.”Sehun melirik sekilas respon Hye yeon yang ternyata tak banyak berubah.“Baiklah, aku akan meninggalkanmu sendiri lagi.Kau mau aku memanggil Eunji atau Namjoo untuk menemanimu lagi?”
“Tidak perlu.”Hanya itu? Dia hanya ingin bertanya itu?, entah kenapa hal itu terbesit begitu saja dikepala Hye yeon.
“Aku duluan kalau begitu.”Sehun memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu.Tangannya yang memutar kenop pintu tertahan sesaat.Tubuhnya kembali memutar kearah Hye yeon.“Hye yeon-si, kau… cantik.” Sehun tersenyum hangat saat Hye yeon yang menatapnya dari cermin dengan ekpresi penuh tanda tanya, kebingungan.

To Be Continued
Nah loh… Panjangkan?Benerkan ?
Yang masih pengen FF ini dilanjutkan mohon partisipasinya untuk mengkomentari hasil kerja saya ini.Jangan jadi silent reader yang bangga baca hasil karya orang seenaknya.
Speak your mind in your comment and don’t be a silent reader
See you in next chapter… bye

Iklan

Satu pemikiran pada “HeLL(o), Dear! (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s