Kyoukai no Kanata (#1 Carmine)

Kyoukai no Kanata
(ChanYeon Version)
#1 Carmine

Author : Kang Rae Hwa
Length : Multichapter (1 of ?)
Rating : PG 13+ – PG 16
Genre : Fantasy, slice of life, supernatural, school life
Main Cast : Kim Taeyeon SNSD
Park Chanyeol EXO
Oh Sehun EXO a.s Jung Sehun
Jessica Jung (SNSD)
Supporting Cast : Kim Woobin a.s Jung Woobin, Seohyun SNSD, Sunny SNSD, Yuri SNSD, F(Victoria) Song, Kangta

Disclaimer : Original story milik Nagomu Torii. FF ini aku adopsi dari sebuah anime Jepang dengan beberapa perubahan pada dialognya. Over all mohon tetap dihargai. Keseluruhan cast adalah milik Tuhan, orang tua dan agensi terkait.
Author’s Note : Terimakasih readers yang kemarin udah ngasih komen+tetap mau nunggu kelanjutan FF ini, semoga sesuai harapan kalian yaaa. Juga kepada admin yg sudah mau menampung FF aku. Mohon kritik dan sarannya di kolom komentar di akhir cerita ini ya readers. Mohon dukungan dan kerjasama dari semuanyaa.
Credit poster : Thanks to KYUHYUNBAEKHYUNSOOYOUNG
@exoluhanfanfictionindonesia ^^

Kyoukai no Kanata
#1 Carmine
Taeyeon POV
Hari ini seperti biasa aku memulai kembali rutinitasku di sekolah. Ya tepatnya di ruang klub sastra. Aku memang tertarik dengan hal tersebut. Meski menurut kebanyakan murid di sini, klubku ini hanyalah sebuah hal yang hanya membuang – buang waktu saja. Entahlah aku suka sekali jika sudah bersantai di ruangan yang terbilang sempit dan memang tidak untuk orang banyak. Di dalamnya terdapat rak – rak yang tersusun rapih dan buku – buku baik itu fiksi, non-fiksi maupun ilmiah semua ada di sini.
Berbicara soal anggota, boleh dibilang klub ini memang sangat minim peminat. Buktinya saat aku baru masuk sekolah dan diwajibkan memilih salah satu klub yang ada di sekolah hanya aku yang dengan semangat mengajukan diri dan datang ke ruangan tersebut. Dan sisanya mereka bergabung dengan alih – alih daripada tak punya klub. Sungguh menjengkelkan, pada akhirnya pun anggota yang tersisa hanya tinggal 2 orang saja termasuk aku.
Siang ini seperti biasa aku sedang berada di ruang klub sastra ditemani teman seklubku Jung Sehun. Kami sedang membaca dan mendiskusikan genre novel yang akan kami buat.
“Mutilasi ya ?” Tanya Sehun yang sedang asyik membaca novel tanpa menatapku.
“Bukan berarti membunuh orang dengan cara kejam seperti itu bisa membuat pembaca tertarik” jawabku sembari membersihkan lampu duduk milik Sehun yang ia sumbangkan untuk klub sastra.
“Kalau begitu cara membunuh yang seperti apa ?” ia menatapku dengan tatapan penasaran.
“Menurutku, yang paling diminati pembaca adalah apa yang dilakukan pelaku dan motifnya. Kita menemukan mayat yang termutilasi– itu tidak mungkin diotopsi– jadi aku tinggalkan tempat kejadian perkara. Aku paling benci dengan cerita dimana orang dimutilasi karena alasan yang sepele.”
Setelah selesai kubersihkan, kuletakan lampu duduk tersebut di meja tempat Sehun membaca.
“Di sini tak apa ?”
“Ne” dia hanya merespon ku datar tanpa beralih dari bukunya.
Akupun duduk dan memandangi setumpuk buku fiksi yang ada di sampingku. Kubuka halaman salah satu novel paling atas dari tumpukan dengan sembarang. Lalu Sehun pun memanggilku
“Taeyeon…Seniormu di klub sastra mencurahkan hati mereka dalam kertas buangan itu. Kau harusnya memperlakukannya dengan hormat.” Ia berkata sambil menatap kearah tumpukan buku di depannya. Ucapan Sehun sukses membuatku kesal.
“ Aku sedikitpun tidak melihat rasa hormat di raut wajahmu” jawabku ketus.
Ia pun bangkit dari duduknya dan mulai meregangkan ototnya yang mungkin sudah terasa kaku karena berjam jam membaca buku.
“Mau bagaimana lagi, lihat dengan teliti. Ini semua salahmu,karena mengatakan soal antologi. Selanjutnya adalah jilid ke 150, untuk disetorkan pada pembimbing kita.” Dia berbicara sambil tetap memperhatikan tumpukan buku tersebut dengan tatapan jengah.
“Berdasarkan keadaan klub saat ini, kita harusnya sudah tahu kalau dia akan meminta kita membuat kompilasi terbaik kita pada edisi peringatan ulang tahun sekolah ini” Tambahnya.
“Kaulah yang menyuruhku untuk mengatakan itu padanya, Sehun” Akhirnya akupun bisa menghakiminya balik. Namun bukan Sehun jika ia tidak bisa mengalahkanku dalam berargumen. Ia pun kembali mengambil sebuah buku fiksi yang ada dihadapanku.
“Lalu apa ini, misteri dengan motif yang lemah dan tema yang tidak sesuai dengan analisa ilmiah”
Aku pun hanya mampu menghela nafas saat ia selesai menganalisa buku tersebut. “Jika sudah tahu bakal seperti ini, lebih baik aku biarkan sajalah…”
Sehun sepertinya masih belum puas menghakimiku, ia pun kembali mengambil sebuah buku bersampul ungu dengan aksen bunga yang ada di hadapanku.
“ Yang ini soal dongeng, tapi agak menarik.”
Dengan ogah akupun meladeninya “Judulnya ?’
“Kulepas Kerudung Merahku” (Bayangkan cerita Gadis Berkerudung Merah tapi si gadis tersebut melepas kerudungnya)😄
“Kalau begitu kita tidak tahu siapa sebenarnya tokoh utamanya !!!” teriakku frustasi..
Tiba – tiba sebuah suara dari luar ruangan menghentikan aktivitas debat kami.
“Park Chanyeol ?” Sehun seolah tahu siapa pelaku yang membuat suara tersebut.
Kuhela nafas, “Mungkin…” akupun beranjak dari tempatku berniat menghampiri sumber suara tersebut. Namun, sebelum aku pergi Sehun menghentikanku
“Apa kau bermaksud membuatku mengerjakan semua ini sendiri ?” Tanya Sehun sembari memperhatikan kembali setumpuk buku di meja yang kini sudah berserakan.
“Aku akan segera kembali kok” Tanpa mempedulikannya aku langsung keluar dan menutup pintu.
Setelah aku keluar tidak ada seorang pun disana, namun tanpa orang tersebut sadari aku sebenarnya tahu dia sedang bersembunyi dibalik meja di sebelah kiri tempatku berdiri. Akupun sengaja melanjutkan langkahku memancingnya keluar dari persembunyiannya. Umpanku berhasil, perlahan ia pun merangkak keluar dari meja dan mengikutiku. Sebelum ia sempat mengejutkanku akupun terlebih dahulu mengejutkannya.
“Ah..” kagetku padanya
Ia pun tampak terkejut kemudian ia membuka lemari yang ada di sebelahnya berharap bisa bersembunyi dariku. Malangnya bukannya berhasil sembunyi ia malah terkena timpukan sapu, lap pel dan alat – alat kebersihan lainnya yang ada di dalamnya.
“Adu..du..duh..” ringisnya saat semua kenaasan tersebut berhenti.
“Eh, Chanyeol sshi ? kenapa kau ada di tempat ini ?” aku bertanya seolah aku tidak tahu apa – apa
Ia tampak bingung dan membetulkan letak kacamatanya, sepertinya ia sedang berusaha mencari alasan yang tepat untuk mengelak.
“Cuma kebetulan saja… jeongmal” dengan tampang polosnya dia menjawab pertanyaanku tadi.
“Mana mungkin kebetulan seperti ini terjadi !!” teriakku kasar.
“Menyebalkan..”
Aku hanya memutarkan bola mataku dan menghela nafas. “Kau sedang apa ?” tanyaku lebih lembut dari sebelumnya.
Ia kembali terkejut kemudian ia melepas kacamatanya dan mulai membersihkannya, kebiasaannya jika sedang berbohong.
“A.. Aku..”
“Kau pikir bisa mendapatkan alasan yang bagus dengan membersihkan kacamata itu ?”
“A-a-a-aku tidak berniat mencari alasan !”
“Tapi kau terlihat bergetar”
“I-i-itu karena nuna berbicara yang aneh – aneh !!!”
“Bukankah lebih baik jika kau menyerah saja ?” Aku berusaha mengarahkan pembicaraan ini menjadi lebih serius. “Seperti yang kubilang sebelumnya, aku ini tidak bisa mati? Tidak peduli seberapa banyak kau memberiku tusukan yang mematikan, kau tidak bisa membunuhku.”
Ia masih gugup dan berusaha membersihkan kembali kacamatanya, “ A-a-apa yang kau katakan?”
“Pura – puramu itu ketahuan sekali. Kau pikir sudah berapa kali kau menusukku selama seminggu ini ?” sambil kutunjuk – tunjuk dadaku.
Chanyeol pun tampak mulai menghitung dengan kedua jarinya,
“Hana, deol, shet..”
“Dihitung dengan kedua tangan saja tidak akan cukup !!!”
“Ini semua salah nuna, aku tak pernah dengar orang yang dirasuki “Youmu”dapat selamat walau terkena serangan mematikan…”
*Youmu adalah makhluk dari dunia roh yang berkeliaran di dunia manusia. Mereka bisa sangat agresif bila di malam hari.
“Aku sudah pernah bilang kan ?! Aku ini tidak kerasukan, tapi aku ini setengah Youmu..
Makhluk langka yang terlahir dari manusia dan youmu..” jelasku pada Chanyeol agar dia mengerti.
“Kalau begitu tidak ada masalah kan ?” ia berkata sambil menunduk.
“Wae ?”
“Sebanyak apapun aku menusuk nuna, kau tidak akan mati kan ?”
“Hei ! Aku bukan monster kacangan yang ada di dalam game tahu..” Aku semakin kesal meladeni Chanyeol yang sangat keras kepala dengan statusku.
“Selain itu, selama aku menjadi Ikaishi dan nuna adalah youmu, yang kulakukan ini adalah benar.” *Ikaishi adalah orang – orang berkemampuan khusus yang bekerja sebagai pemburu youmu ( Prajurit dunia roh)
“Permisi…” ia mengakhiri ucapannya dan berniat pergi, tetapi baru saja ia melangkah Chanyeol kembali terjatuh karena kakinya mengenai gagang sapu yang tadi jatuh karena ulahnya sendiri. Aku hanya memutar bola mataku malas.
Author POV
Setelah selesai dengan urusannya dengan Chanyeol, Taeyeon kembali lagi ke dalam ruang klub sastra. Disana Sehun masih sibuk dengan buku yang ia baca tadi sebelum Taeyeon keluar. Yang berbeda hanyalah saat ini ia sedang mengemut sebuah lollipop kesukaannya.
“Otte ?” Tanya Sehun yang melihat Taeyeon sudah kembali masuk ke ruangan.
“Tak ada kemajuan…” Taeyeon duduk kembali di tempatnya tadi.
“Taeyeon…”
“Nde ?” balas Taeyeon malas sambil menatap Sehun.
“Jika kau tidak mengerjakan bagianmu, impianmu tentang aku yang menyatakan cinta padamu saat kelulusan nanti tak akan pernah terwujud.” Sehun memandangi Taeyeon dengan tatapan so menggodanya.
Entah kenapa Taeyeon merasa tertarik sekaligus aneh saat mendengar Sehun mengucapkan hal tersebut.
“Sejak kapan itu menjadi impianku ?”
“Eh ? Jadi kau yang mau menyatakan cintamu padaku ?”
“Bukan itu maksudku, dari awal kau ini sudah salah paham !”
“Maaf kalau begitu, aku lupa kalau kau itu orang yang matre yang mau dengan siapa saja asalkan dia kaya raya. Tidak ada alasannya kalau orang itu adalah aku ya ?” Sehun mulai lagi dengan ejekan yang sungguh membuat Taeyeon jangar.
“Mengejekku mungkin adalah hobbimu, tapi aku akan marah jika itu sudah keterlaluan…”
Sehun kemudian berhenti mengemut lollipopnya dan malah mengarahkan lollipop tersebut ke arah Taeyeon dan menutupi kepala Taeyeon dari pandangannya, sehingga seolah – olah lollipop tersebutlah kepala Taeyeon.
“ Daripada hobi, lebih tepat disebut sebagai rutinitas… walaupun kau marah, aku tidak bisa menelantarkan misi yang sudah diberikan kepadaku.”
“Bukan itu maksudku !!” Ahh kesabaran Taeyeon hampir habis saat ini.
“Kenapa kau tidak menyerah saja dan biarkan dia menusukmu sesuka hatinya ?” Sehun mengalihkan pandangannya kemudian menatap Taeyeon.
Taeyeon berdiri dengan tetap memandangi Sehun, “Kutolak… Biarpun tidak mati, aku masih bisa merasakan sakit…”
Kemudian Taeyeon berjalan menjauhi Sehun menuju arah rak buku, “Isi tubuh yang dikeluarkan dari tempatnya itu rasanya sakit sekali tahu”
“Oh ? Kedengarannya seperti sebuah penghargaan luar biasa bagi seorang matrealistis sepertimu.”
“Jangan seenaknya memberiku julukan matrealistis. Selain itu, kenapa ia begitu gigih ?” alih – alih mencari buku di salah satu rak padahal Taeyeon hanya tidak ingin semakin terlihat konyol dihadapan Sehun yang sepertinya sangat pintar dalam memancing amarahnya.
“Apakah ada yang terpikirkan olehmu? Mungkin karena…”
Taeyeon terkesiap seolah mendapat sebuah ilham,,
“Cinta ?!… Benar – benar menakjubkan ! Aku tak percaya, namja yang cocok mengenakan semua jenis kacamata menyukaiku…”
“Kupikir tidak ada obat untuk menyembuhkan orang matre sekaligus narsis sepertimu… Yah pokoknya, sebaiknya kau jangan terlibat dengan Park Chanyeol lagi.”
“Wae ?”
“Keluarga Jung yang memimpin ikaishi ada di daerah ini, dan aku, putra mereka, yang memberimu nasehat”
Sehun menutup bukunya lalu beranjak dari tempat duduknya sambil membawa tas sekolahnya.
“Jika kau masih tidak mengerti…” Ia berhenti disamping Taeyeon kemudian melirik kearah Taeyeon.
“ Berarti kau orang bodoh…”
Sehun pun pergi
Chanyeol POV
Bel tanda jam pelajaran berakhirpun sudah berbunyi kurang lebih 15 menit yang lalu. Namun seorang yeoja malah baru terlihat akan bergegas pulang. Seperti biasa ia akan pulang sore hari setelah keadaan sekolah sudah mulai sepi. Ia baru saja mengunci pintu ruangan klub sastranya. Yap betul, dia adalah Kim Taeyeon. Sunbae di sekolah baruku yang akhir – akhir ini sering sekali berurusan denganku.
Seperti menyadari keberadaanku ia pun langsung menghentikan aktifitasnya.
“Apa kau tidak bosan melakukan ini setiap hari ?” Tanyanya yang sedang memunggungiku.
“Mau mencoba membunuhku lagi hari ini ?”
“Nuna sendiri ? Kenapa nuna tiap hari tetap berada di sekolah sampai selarut ini ?”
“Jika aku pulang lebih awal, bisa – bisa kau menyerangku di depan siswa lain.” Jawabku logis…
“Nuna tidak perlu mengkhawatirkan hal itu…aku selalu memastikan bahwa tidak ada manusia yang melihat kita.” Terlihat api kehijau – hijauan menyala dari beberapa ujung tongkat besi yang sudah aku pasang di tiap sudut ruangan.
“Kalau begitu aku berterima kasih. Tapi, aku belum pernah dengar kalau ada yang bisa membuat pedang menggunakan darah.”
“Para ikaishi membenci keluarga kami karena memiliki garis keturunan terkutuk ini.”
“Wae ?”
“Mungkin karena kami terlalu kuat. Karena para ikaishi memiliki kekuatan gaib, kami cenderung mencoba menyingkirkan orang-orang dengan kekuatan yang sangat menonjol. Hasilnya seluruh keluargaku mati, dan yang selamat hanyalah aku.”
“Cerita yang sangat suram ne ?”
“Jinjja ? kurasa semua ini sudah biasa.”
Aku pun membuka perban di tangan kananku dimana pedang merah darahku biasa muncul, pedangku telah terbentuk dengan sempurna. Ku kibaskan pedangku diselingi dengan percikan darah segar.
“Kajja kita mulai pertempuran ini !” Tantangku pada Taeyeon nuna.
Taeyeon nuna hanya menghela nafas seolah bosan dengan tantangan ini.
“Neee, tapi sebelumnya aku ingin bertanya satu hal. Kenapa kau begitu terobsesi padaku?”
Aku menelan salivaku, kemudian malah semakin mengeratkan tanganku pada pedangku menghunuskannya, kemudian menatapnya tajam.
“Ya ampun…” Keluh Taeyeon nuna. Ia menatap langit-langit, sejurus kemudian ia melesat pergi melewatiku sampai-sampai aku tak menyadarinya.
“Wa-wae nuna malah melarikan diri ?!”
“Aku tidak melarikan diri, aku hanya membuat sebuah taktik untuk mundur ! Aku tahu takkan bisa menang berdasarkan pertarungan kita selama ini.” Teriak Taeyeon nuna bersiap turun ke lantai bawah.
“Tidak bisa dipercaya !!” saat aku mencoba mengejar Taeyeon nuna, ternyata aku tersandung kawat tipis yang sudah disiapkannya. Alhasil akupun terjatuh. Namun aku kembali bangun dan mengejarnya yang sedang berlari menuruni tangga.
“Yak Nuna !!…”
Kukejar Taeyeon nuna, saat jarakku dan jaraknya cukup dekat akupun melompat dan kuarahkan pedangku kearah Taeyeon nuna. Namun ia masih tetap bisa mengelak dari seranganku. “Sial arrghhh…”
Taeyeon nuna terus berlari, sesampainya di persimpangan kelas aku hampir saja kehilangannya. Saat aku edarkan pandanganku ke kanan dan kiri lorong akhirnya aku menemukannya meloncati jendela menuju keluar. Dan benar saja ia sedang berlari menuju kea rah gerbang sekolah. Tanpa pikir panjang akupun kembali melompat dan bersiap menyerangnya kembali. Seperti menyadari keberadaanku ia menoleh kebelakang “Kyaaaaa… darimana kau muncul ?!” teriaknya histeris.
Kemudian dia mengambil sebuah tong sampah di dekatnya dan melemparnya kearahku. “Rasakan ini pabooo…” aku cukup terkejut, untung saja bisa langsung kutebas dengan pedangku. Aku sedikit terantuk ke tanah, saat aku berbalik ia masih berusaha menyerangku dengan berbagai macam benda yang ia temukan.
“Rasakan juga ini…” Taeyeon nuna melempariku sebuah ember yang berisi air, aku masih mampu untuk menghindar dan menghancurkannya. “Hei, jangan menghancurkan ember !!”
Belum sempat aku bangkit tiba-tiba sebuah benda mengarah kembali padaku, kutebas lagi benda tersebut. Alangkah terkejutnya aku saat kulihat benda yang telah terbelah menjadi dua bagian tersebut adalah pot bunga. Kulihat Taeyeon nuna sudah berhasil menghilang menuju belokan gedung sekolah. Aku berusaha mengejarnya tapi sial aku kembali tersandung sebuah tongkat besi. “Duh… sial”.
Aku bergegas menuju ruangan kelas lagi. Sesampainya di salah satu ruangan kelas, kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru ruangan beraharap Taeyeon nuna bersembunyi di ruangan ini. Aku mendekat kearah meja tempat biasa seongsaenim mengajar. Kulihat ke bawah meja, namun nihil. Selanjutnya aku mengendap-endap menuju ke belakang kelas. Kuhunuskan pedangku, tiba- tiba terdengar suara seperti jam weker berdering, sontak aku berbalik ke depan kelas. Ternyata dari arah belakang lemari yang tepat berada di hadapanku bergerak dan jatuh tepat kearahku.
Author POV
Lemari tersebut jatuh dan mengenai Chanyeol. Ternyata Taeyeon sengaja menjatuhkannya agar Chanyeol berhenti mengejarnya. Ia menghela nafas…
“Kurasa sudah saatnya kita mengakhiri ini” Taeyeon kemudian berjalan mundur untuk bersandar pada dinding. Namun, sebuah pedang berhasil muncul dari dalam lemari tersebut.
“Memangnya ini film horror ?” Taeyeon tak percaya Chanyeol masih berusaha keluar untuk menyerangnya. Pedang itupun bergerak perlahan membelah lemari tsb menajdi dua.
Skip
Chanyeol sudah berhasil keluar namun kepalanya tertutupi oleh subuah ember.
“Ge-Gelap.. Nuna apa yang kau lakukan padaku ?!” Panik Chanyeol.
Taeyeon memutar bola matanya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. “Itu cuma ember.”
Chanyeol terdiam, dan membuka ember yang berada di kepalanya. Setelah itu, terdengar suara perut Chanyeol yang meraung-raung meminta perhatian. Seketika hening…
“Apa kau lapar ?” Taeyeon angkat bicara.
Pipi Chanyeol berubah merah merona karena malu, ia pun mengalihkan pandangannya ke luar kelas. Matanya kemudian membulat melihat sebuah bayangan tengah menuju ke arah Taeyeon.
“Noo-nunaaa !!”
Taeyeon kaget kemudian dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Betapa terkejutnya mereka saat bayangan tersebut menghantam keras jendela kelas.
Sesosok makhluk besar dan berbulu tengah berdiri di hadapan mereka berdua.
“Youmu…” Taeyeon langsung bereaksi melihat sosok yang disebut youmu tersebut.
“N-ne” Chanyeol mengiyakan apa yang dikatakan Taeyeon. Namun ia terlihat sangat gemetar sambil berusaha mengeratkan pegangannya pada pedangnya. Taeyeon yang melihat pemandangan tersebut merasa aneh.
Sebuah teriakan terdengar dari arah pintu masuk kelas.
“Menyingkir !” seorang yeoja berpakaian formal, tengah berlari memasuki ruangan dan pandangannya tertuju pada youmu dihadapan Taeyeon dan Chanyeol. Wanita bersurai hitam diikat kuda yang ternyata lebih tua dari mereka kemudian melompat lalu menendang youmu tersebut. Youmu tersebut berhasil melompat keluar dari jendela. Dibawah sana terlihat dua orang siswi sedang berbincang-bincang tanpa menyadari keberadaan youmu tersebut. *Hanya para ikaishi dan Taeyeonlah yang dapat melihat dan merasakan keberadaan youmu.
“Sial…” Gerutu yeoja tersebut. “Maaf, Taeyeon ah, bisakah kau memanggil petugas kebersihan untukku ? Kalian juga akan memanggilnya kan ?” Yeoja tadi kemudian melihat lemari yang Chanyeol rusak dengan pedangnya. “Anyeong..” Yeoja tersebut memberikan wink nya pada Taeyeon dan bergegas melompat jendela untuk kembali mengejar youmu yang sudah hilang entah kemana.
Taeyeon dan Chanyeol hanya terdiam dan membiarkan yeoja tersebut pergi.
“Nuguya ?” Chanyeol sepertinya belum mengenal siapa yeoja tersebut.
“Victoria Song, panggil saja Victoria. Seorang ikaishi yang lumayan terkenal di daerah ini” Taeyeon berusaha menjelaskan yeoja yang bernama Victoria tersebut pada Chanyeol.
“Jinjja ?”
Chanyeol masih cukup ragu dan asing dengan Victoria, ia masih gemetaran. Taeyeon pun bisa melihat saat tangan Chanyeol bergetar memegangi pedangnya.
Taeyeon POV
“Kau tidak pernah melawan youmu sebelumnya ?” Kagetku setelah mengetahui alasan mengapa tadi Chanyeol begitu gemetar saat berhadapan dengan youmu. Kami sedang duduk di salah satu meja di sebuah restoran Jepang. Setelah kejadian tadi sore dan setelah menyadari bahwa Chanyeol kelaparan, akupun mengajaknya untuk makan omurice di restoran Jepang favoritku
“Bukan tidak pernah keunde, hampir tidak pernah…” Chanyeol memalingkan wajahnya setelah menyelesaikn penjelasannya.
“Bukankah kau seorang ikaishi ?”
Chanyeol berbalik menatapku “Seperti yang sudah aku katakan, keluargaku dibenci karena memliki kemampuan mengendalikan darah. Jadi aku berusaha menyembunyikan kemampuanku dengan menjauhkan diriku dari ikaishi lainnya. Selain itu…” Chanyeol menghentikan ucapannya lalu sedikit menunduk.
“Selain itu…” aku merasa penasaran.
“Aniyo” Chanyeol kemudian kembali memalingkan wajahnya.
Sebenarnya aku belum merasa mendapatkan jawaban serta alasan pastinya. Aku menghela nafas dan menatapnya
“Jadi, kau menganggapku youmu, dan mengerahkan semua keberanianmu untuk menyerangku ?” kuberikan penekanan pada kalimat terakhirku lalu menancapkan garpu ke daging yang ada di atas omuriceku.
“Ne” Jawab Chanyeol sambil mengangguk mengiyakan. “Kemudian nuna berkata kalau nuna tidak bisa mati. Kalau begitu, kau tidak akan mati meski kutusuk berkali-kali.” Ia kembali memalingkan wajahnya “Selain itu, aku belum pernah berhadapan dengan youmu..”
“Jakkaman, kau menggunakanku untuk alat latihan ?”
“Tak apa kan ? Nuna tidak kehilangan apapun ?!” Ia berkata setengah berteriak.
“Kau salah, kau selalu saja mengiris sisa jantungku !” Aku balas meneriakinya sambil menunjuk ke arah dimana ia selalu menusukku.
Aku menggebrak meja kesal “Sudah kubilang kalau itu sakit, bukan ?! Apa kau tahu seberapa sakitnya ? Melakukan sesuatu seenaknya pada kami yang tidak bisa mati sama dengan diskriminasi!!..”
“Orang-orang akan mendengarmu.”
“Tidak masalah, aku sudah memastikan tidak ada orang di sekitar kita.”
“Maaf menunggu” Suara seorang pelayan membuyarkan obrolanku. “Ini ramen, omurice kare dan steak pesananannya.”
Kami saling menatap intens satu sama lain. “Selamat menikmati” Pelayan tersebut segera meninggalkan meja kami yang masih saling beradu pandang.
“Kau memesan makanan lagi ?!” teriakku kasar pada Chanyeol ketika suasana sudah kembali sepi.
“Menyebalkan” Dengan tenangnya Chanyeol bereaksi.
“Kupikir kaulah yang menyebalkan. Bukan hanya menjadikanku bahan latihanmu, kau bahkan berani memintaku mentraktir makan malammu…”
“Memintamu ? Bukankah ini bagian dari perjanjian kita ? Aku batalkan menantangmu bertarung malam ini, sebagai gantinya nuna mentraktirku makan.” Chanyeol pun mulai memotong steak yang ia pesan.
“Kalau begitu, besok kau akan menyerangku lagi ?”
“Apa aku salah ?” Kemudian Chanyeol meniup steak yang siap ia masukan ke dalam mulutnya lalu melahapnya tanpa ampun seolah ia sama sekali belum makan selama 3 hari. Aku hanya mampu memutar bola mata dan menghela nafas berat.
Change the place
“Memang benar, youmu merasuki manusia dan membunuh mereka. Tapi dengan adanya kekuatan yang dimiliki ikaishi, mengatasi mereka bukanlah hal yang sulit. Paling tidak, seharusnya itu lebih mudah daripada mencoba menikamku.” Aku dan Chanyeol sekarang sedang berjalan di stasiun kereta bawah tanah, bergegas pulang. Aku berjalan mendahului Chanyeol dan dia mengekoriku di belakang.
“Aku sudah tahu itu” Jawabnya dari belakang.
“Lalu kenapa kau tidak melakukannya ?”
Terdengar langkah Chanyeol yang terhenti. Aku yang menyadari Chanyeol sudah tak mengekoriku berhenti dan menoleh ke belakang. Ia tertunduk, diam dan tampak sedang berpikir. Kereta pun melintas, saat kereta tersebut pergi Chanyeol sudah tak ada dihadapanku. Aku berbalik kearah tangga stasiun,
“Park Chanyeol sshi…”
Ia membalikan badannya dan membungkuk padaku, “Kamsahamnida atas makanannya” ia pun berbalik dan melanjutkan langkahnya. Aku hanya diam melihat kepergiannya tanpa mencoba mencegah ataupun mengejarnya.
Sesampainya di apartemenku, sebelum aku masuk kuperiksa tempat posku siapa tahu ada kiriman postcard lagi dari appaku atau hanya sekedar brosur iklan. Setelah sampai di kamar, aku letakkan tas selempangku di atas meja belajar. Kubuka blazer sekolahku dan kugantung, rasanya lelah sekali hari ini jadi kuputuskan untuk langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur sebelum aku membersihkan diri. Kilasan kejadian hari ini dan saat di restoran tadi bersama Chanyeol pun kembali terbersit dibenakku.
“Eottokhae…?”

Keesokan harinya di sekolah. Entah angin apa yang membuat Sehun mengajakku makan siang di kantin sekolah. Padahal selama ini aku dan dia hanya suka mengahabiskan waktu makan siang ataupun hanya sekedar membicarakan hal tidak penting di ruang klub.
“Eoh, Taeyeon sshi makan siang di kantin juga ya ?” Tanya Sooyoung seperti terkejut mendapatiku tengah berada di kantin sambil membawa nampan berisi ramyun. “Ya, sekali-kali” aku hanya cengengesan menanggapinya. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan akhirnya kudapati Sehun tengah berada di meja yang berada di pojok belakang dekat jendela sembari meminum bubbletea kesukaannya.
“Ada angin apa kau tiba-tiba meminta bertemu di kantin ?” Selidikku sesampainya di tempat ia tengah duduk.
“Kata-katamu itu membuatku seolah selalu mengurung diri dalam ruangan klub.”
Akupun duduk di hadapannya, “Tapi memang benar kan ?” Sehun tampak jengkel saat ia mendengar ucapanku tersebut.
“Arrasseo, aku tidak menyangkal itu” Ia menghela nafas berat kemudian melanjutkan perkataannya, “Aku menjalani kehidupan sekolah yang menyedihkan dimana kau, yeoja yang terkenal makan seorang diri di toilet, adalah satu-satunya orang yang bisa aku ejek.”
“Chakkaman, apa kau mencoba membuatku menjadi orang yang paling menyedihkan di sini?” Tukasku yang tidak terima dengan penghinaan Oh Sehun.
“Lebih baik kita langsung membahas urusan kita.” Sehun pun kembali memotong kekesalanku dengan mengalihkan pembicaraan sepihak.
“Bisakah sesekali kita lewati pembukaan penuh ejekan seperti tadi ?”
“Aku tidak ikut kegiatan klub hari ini.”
Kuangkat sebelah alisku saat menyadari maksud dan tujuan Sehun mengajakku ke kantin.
“Kau memanggilku ke sini hanya untuk mengatakan itu?”
“Ne, jadi yang kulakukan selanjutnya adalah berbicara sendiri. Arraseo?” Balasnya sambil menatap ke arah bawah meja.
“Eoh” Aku hanya menghela nafas dan menatapnya.
“Tolong jangan menjawab perkataan orang yang bicara sendiri.” Ia berkata sambil masih menatap kebawah.
Aku tak menjawab dan tetap menatapnya.
“Mana jawabannya ?”
“Maumu apa sih ?” Aku menghentakan kakiku berulang kali karena jengah dengan ulah Sehun yang ternyata hanya sedang mempermainkanku. Namun ia malah memberikan sebuah isyarat kepadaku dengan menggerakan telunjuknya kearahnya bermaksud agar aku mendekat. Aku menghentikan rutukanku lalu memajukan badanku sedikit kearahnya.
“Keluarga Jung mengawasi Park Chanyeol.”
“Waeyo ?”
“Dari seluruh generasi, tuan tanah tempat ini adalah orang yang kolot dan tidak ramah.”
“Chakkaman, apa yang sebenarnya ingin kau katakan ?” Aku makin penasaran.
“Jangan terlibat lagi dengan Park Chanyeol”
Aku cukup kaget dengan apa yang dimaksud Sehun bahwa aku tidak boleh terlibat lagi dengan Chanyeol.
“Walaupun aku berbicara seperti itu, kau akan tetap melakukannya kan ?” Ia berkata sembari memainkan jari-jari panjangnya yang cukup terawat.
“Keunde, aku tidak bisa mati. Walau dalam situasi seburuk apapun, aku takkan mati”
Tiba-tiba dengan cepat Sehun bergerak memajukan badannya padaku dan membisikan sesuatu di telingaku.
“Kuharap kau bisa mati…”
Author POV
Sore itu seperti biasa Taeyeon keluar dari ruangan klub sastranya dan mengunci pintu ruangan tersebut kemudian bergegas pulang. Namun ternyata di belakangnya telah berdiri seorang namja berkacamata yang tengah berdiri lesu di belakangnya.
“Hari ini kau mau apa ?”
“Eoh?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu” Taeyeon pun berbalik dan tersenyum.
Taeyeon dan Chanyeol pergi terlebih dahulu ke sebuah kedai tteobokki. Sebenarnya Chanyeollah yang menyarankannya karena ia merasa lapar.
“Ini totalnya 390 won” sebut ahjushi penjual tteokbokki sambil menyerahkan sekantung tteokbokki.
“Kalau begitu 500 won…” Chanyeol mulai mencari uang senilai 500 won dari dompetnya. Namun sepertinya ia tak menemukannya. Taeyeon yang melihatnya pun langsung mengambil dompet di dalam tasnya dan mengambil selembaran uang lalu menyerahkannya pada ahjushi tersebut.
Sesampainya di taman kota, kami berdua langsung duduk disebuah kursi panjang dekat kolam.
“Mianhe…” Ujar Chanyeol yang canggung karena kejadian tadi.
“Tak usah dipikirkan”
“Jadi apa yang akan nuna katakan ?”
“Kupikir kau datang ke kota ini karena suatu tujuan…”
“Ani, wae?”
Taeyeon bangkit dari duduknya. “Sebenarnya seseorang memberitahuku, untuk tidak terlibat denganmu.” Sejenak aku diam lalu kembali melanjutkan ucapanku, “Chanyeol sshi – “
“Kenapa aku selalu dibenci?! Di blog atau di twitterku juga selalu dicemooh…” Chanyeol tampak sedang mengetik sebuah tulisan di hpnya dengan sangat cepat.
“Tapi aku tidak menyangka tweet terakhirmu nuna bisa mengatakan hal tersebut. Bahkan avatarmu, haha kau sangat menyedihkan.” Chanyeol menunjukan tweet terakhirku di twitter mengenai kejadian saat aku tengah bertengkar dengan Sehun sehingga untuk menghindarinya aku yang biasa makan siang di klub terpaksa malah makan di toilet dan juga avatarku yang sangat iyuhhh. “Wah benar…” gumam Taeyeon saat melihat tweet tersebut.
Chanyeol berbalik memunggungi Taeyeon dan menertawai kekonyolan tersebut. “Ah, benarkan hahahaa”
“Ah, aku hanya sedang bercanda. Nanti pasti akan kucari dan kufollow twittermu. Wah, jadi tidak sabar –“ Taeyeon kembali tersadar dengan tujuan awalnya mengajak Chanyeol bicara
“Bukan itu! Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini ? Apa benar-benar tidak ada ?”
“Kalaupun ada, apakah aku akan mengatakan itu di sini sekarang ?”
“Jadi, intinya, kau datang karena suatu hal ?” Mereka pun mulai bicara serius.
“Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang sama dua kali.”
Chanyeol membuka bungkusan tteokbeokki tadi dan mulai memakannya.
“Kenapa Kau tidak memakannya di rumah saja ? Jakkaman, apa ada alasan yang tidak bisa membuatmu makan di rumah ?”
Chanyeol nampak terkejut dengan spekulasi Taeyeon, seperti biasa ia akan terlihat gugup jika sedang berbohong.
“Wae-waeyo nuna bisa berpikiran seperti itu ? Tentu saja tidak ada”
“Kebohonganmu itu sangat terbaca pabbo”
Chanyeol terdiam lalu merapikan rambutnya, “Menyebalkan”
“Apa kau tidak bisa membayar tagihan sewamu ?” Taeyeon berusaha menerka alasan tepatnya.
“Aku sudah melunasinya sampai akhir bulan” sergah Chanyeol.
“Apa kau tidak bisa masuk karena tempatmu banyak sampah ?” Spekulasi kedua Taeyeon.
“Aku sudah membersihkannya !” Sangkal Chanyeol lagi.
“Jadi, apa karena ada youmu di rumahmu ?”
Tampaknya spekulasi Taeyeon kali ini tepat. Chanyeol langsung gugup dan mulai membersihkan kacamatanya pertanda ia sedang berbohong.
“Noo-noo-nuna pikir itu mungkin terjadi ? i-itu adalah tempat yang kebetulan aku tempati sewaktu aku pindah, tak mungkin kebetulan ada youmu di dalamnya !” jelas Chanyeol mencoba meyakinkan Taeyeon.
“Begitu ya. Yah kudengar youmu itu tertarik dengan kekuatan para ikaishi”
Chanyeol sedikit terhenyak. Kemudian Taeyeon pun berjalan melewati Chanyeol yang saat ini masih dalam posisi duduk.
“Jjakkamman, kau mau pergi kemana ?!” teriak Chanyeol tak lama setelah Taeyeon berniat pergi meninggalkannya.
“Ayo basmi dia, akan aku bantu” Taeyeon berbalik dan memandang Chanyeol. “Selain menghasilkan uang, kalau kau mulai percaya diri, aku tidak perlu takut terkena tikam lagi.”
Akan tetapi ekspresi dari raut wajah Chanyeol berubah menjadi murung.
“Shirreo”
“Waeyo ?”
“Aku takut… aku takut merenggut nyawa” Nampak sebuah kilasan balik ingatan Chanyeol di sebuah tempat yang dikelilingi pohon kering dan dipenuhi oleh salju, ia tampak gemetar dan berlumuran darah. Flashback end—
“Kalau begitu kenapa tidak berhenti menjadi iikaishi saja ?”
“Jika aku bisa,,, jika aku bisa sudah kulakukan dari dulu !
“Aku mencoba berhenti, aku berusaha untuk berhenti menjadi ikaishi. Berhenti membunuh youmu dan hidup normal… tapi darah terkutuk yang mengalir di dalam nadiku ini tidaklah normal” Ia nampak mengurangi penekan di akhir kalimatnya. Chanyeol memegang tangan kanannya yang tertutupi perban dan menggenggamnya erat.
“Kekuatan milikku…” bahunya bergetar seolah menahan tangis.
“Kalau itu, aku juga sama…”
Chanyeol terkejut dan menatap Taeyeon. Saat itu Taeyeon tersenyum simpul dan kemudian kembali berjalan pergi.
Chanyeol POV
“Jakkaman” Aku sudah sampai di apartemen yang baru aku tempati 2 bulan terakhir ini. Kuputuskan menerima tawaran Taeyeon nuna untuk membasmi youmu yang berada di apartemenku. Kunyalakan lampu,
“Apa ada yang berbeda ?” Tanya Taeyeon nuna setelah memasuki apartemenku dan melihat kesekeliling ruangan.
“Anio” aku pun akhirnya masuk. “Kendeu…”
Tak lama kemudian lampu apartemenku berkedip-kedip, kran air yang berada di dapur pun tiba-tiba menyala kemudian mati.
“Bersiaplah” Sepertinya Taeyeon nuna juga sudah mulai menyadari keberadaan youmu tersebut. Aku pun melepas perban di tangan kananku dan kukeluarkan pedang darahku.
Tak ada tanda-tanda pergerakan dari youmu. Tiba-tiba sesuatu seperti debu berwarna hitam bergerak cepat dari dinding menuju kerarahku.
“Chanyeol shii—“
Aku bergerak cepat dan meyerangnya balik namun sayang pedangku tak mengenainya, ia berhasil lolos. “Di bawahmu ?” Teriak Taeyeon nuna.
Dari lantai muncul bayangan hitam tersebut dan kembali menyerangku. Meskipun aku berhasil menghindar namun youmu tersebut berhasil menyerangku dengan sebuah serangan balasan cepat, alhasil sebelum aku sempat menghindar serangan tersebut sukses mengenaiku hingga terpental ke dinding. Namun aku masih sempat melawannya dengan pedangku. Bayangan hitam itupun berceceran.
Other side
Sementara itu, Sehun yang sedang berada di kamarnya seperti dapat merasakan apa yang sedang terjadi, ia yang sedang rebahan sambil membaca buku, terbangun, menegang, kemudian meremas bukunya kuat.
Back to Chanyeol POV
Ternyata youmu tersebut belum menyerah. Ia kembali menyerangku dengan wujud helaian kain. Aku juga masih berusaha menghindari serangan tersebut meskipun sedikit kewalahan karena ini baru pertama kalinya aku bertarung dengan youmu sungguhan selain Taeyeon nuna yang mengaku setengah youmu setengah manusia.
Other Side
Di sudut lain, nampak seorang namja yang sedang tersenyum seolah menyadari apa yang sedang terjadi. Di belakang namja tersebut, tampak pula seorang yeoja dengan scarf merah yang menutupi lehernya, juga tengah berdiri menyadari kejadian tersebut.
Back to Chanyeol POV
Aku masih berusaha menyerang balik bagian youmu tersebut, kemudian saat aku melompat dan akan menyerang youmu tersebut. Helaian kain yang menyerangku berkumpul, menyatu dan menampakan tubuh inti dari youmu yang tengah aku hadapi.
Tubuh inti dari youmu tersebut kini sangat jelas, tepat berada dihadapanku.

“Youmu….”

TBC

Otte ? Jelek kah ? Ah aku sangat mengantisipasi chapter pertamaku ini. Aku rasa aku masih cukup bingung dengan gaya dan bahasa juga kata sambung yang bisa menggambarkan suasananya. Mungkin feelnya masih sangat belum terasa. Padahal animenya bagus, karena itulah aku berusaha keras supaya FF adopsi ini bisa sedikit mengimbangi. Hehe
Terimakasih kepada readers yang dengan senang hati meluangkan waktunya untuk membaca FF ini. Ditunggu kritik dan sarannya di kolom yang ada di bawah ini. Chapter selanjutnya mohon antisipasi juga 
Gomawo, anyeong😉

One thought on “Kyoukai no Kanata (#1 Carmine)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s