When Our Love Came Suddenly (Chapter 7)

When Our Love Came Suddenly
(chapter 7)

Author : Hwang Sung Ji and Xiu Yu Ri
Main Cast :
Lin Da (OC)
Ayu (OC)
Kim Joon Myun a.k.a Suho EXO
Park Chanyeol a.k.a ChanYeol EXO
Other Cast :
All EXO Member
Shin Yunra a.k.a Chanyeol ex-yeojachingu

Genre : Happy, Romantic, Friendship, School life, Little Comedy
Length : Chapter
Rating : PG 16

(Author POV)
“ Arraseo,!!!! Kau menang!!! Puas!!”Chanyeol menghempaskan tangannya ke udara. Kakinya melangkah keluar dari ruangan bertuliskan dance room itu, mungkin dia minder😀
“Ya..eodiga!! Ya!! Park Chanyeol!! Chanyeol-ah” Baekhyun terus memanggil nama sahabatnya itu. Dia mengejar sahabatnya dan ikut keluar. Ayu yang merasa bersalah padanya juga menguntit mereka dari belakang.
.
.
.
“Baekhyun-ah, bagaimana bisa aku kalah dengan seorang yeoja? Dan aku akan menjadi pesuruhnya selama dua minggu penuh. Aiiiiissshhhh!!!!!” Chanyeol menghempaskan tubuhnya kasar di atas bangku panjang di bawah pohon akasia.
“Ck! Bukannya kau sendiri yang mempertaruhkan harga dirimu itu? pabo!!” Baekhyun memejamkan matanya. Mereka tidak sadar jika di belakang mereka berdiri seorang yeoja yang membuat Chanyeol malu.
“Park ahjussi. Mianhae. Aku tidak bermaksud mempermalukanmu.” Ayu datang mengejutkan dua namja tampan yang terkenal dengan keserasian mereka. Chanyeol menatap tajam pada yeoja itu lalu membuang wajahnya ke arah lain.
“Baiklah aku akan kembali kesana dulu ne. Ayu-ya bersabarlah padanya.” Baekhyun menepuk pundak Ayu. Yeoja itu hanya mengangguk tersenyum dan berjalan menuju Chanyeol.
Yeoja itu benar-benar merasa bersalah pada Chanyeol. Dia yang membuat Chanyeol malu setengah mati di dance room tadi. Padahal, Ayu hanya menginginkan agar dia dan eonninya bisa bergabung dengan club itu, hanya itu saja. Dia duduk perlahan di samping Chanyeol.
“Chanyeol-ah, mianhae. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu malu seperti itu. Aku hanya ingin..”
“Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Aku akan memenuhi janjiku. Aku mau kembali kesana.” Chanyeol berdiri dan mulai mengambil langkah, namun Ayu menarik tangan Chanyeol.
“Sudahlah abaikan tentang taruhan itu. Aku hanya ingin masuk ke club itu dengan nyaman. Arraseo.” Ayu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan kembali ke dance room. Chanyeol hanya berdiri mematung.
“Andwae..” Chanyeol berhasil membuat langkah Ayu terhenti dan menatapnya.
“Aku akan menepati janjiku. Apa yang kau inginkan sekarang? Marhaebwa.” Lanjut Chanyeol sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
“Jinjjayo??????????? Huwwoooo!! Assaaaa!!!” Ayu tersenyum senang dan menggosokkan kedua telapak tangannya. Chanyeol tersenyum melihat tingkahnya. Seketika emosinya menghilang karena yeoja yang meloncat-loncat tak jelas di depannya.
“Permintaan pertamaku…mmm..gendooonggggg!!!!” Ayu merengek seperti anak kecil. Chanyeol menatap tak percaya.
“Mwoo??? Shireo!!! Tidak adakah yang lain? Kau itu berat!!” Chanyeol menggeleng berkali-kali yang membuat yeoja itu semakin merengek.
“Eobta..Park ahjussi, gendong nee..” Ayu membinar-binarkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali. Chanyeol menghembuskan nafasnya berat lalu berjalan ke depan Ayu. Kemudian, namja itu tiba-tiba jongkok di depan Ayu dan menunjuk ke punggungnya.
“Kajja tuan putri.” Chanyeol tersenyum. Ayu bertepuk tangan. Lalu, kedua tangannya di lingkarkan di leher Chanyeol. Chanyeol dengan berhati-hati berdiri kemudian berjalan meninggalkan tempat mereka tadi.
(Ayu POV)
Kalian pasti akan beranggapan bahwa kalian yeoja paling beruntung di dunia. Aku seorang yeoja biasa dari Indonesia, benar-benar sebuah lucky chance bisa bersekolah dan mengenal mereka terumata namja yang sedang menggendongku, Park Chanyeol.
“Chanyeol-ah” aku memanggil Chanyeol yang sedari tadi diam.
“Em?” Chanyeol menoleh kecil ke arahku.
“Yunra-sshi..” aku menarik nafas panjang. Langkah Chanyeol terhenti.
“Jangan bahas yeoja itu. Aku muak dengannya.” Nada bicara Chanyeol meninggi. Memangnya ada apa dengan mereka? Apa jangan-jangan aku yang menyebabkan mereka seperti ini.
“Hah..ara..” aku menenggelamkan kepalaku di pundak Chanyeol.
Sebenarnya, kejadian beberapa waktu lalu di bawah tangga. Aku benar-benar merasa bersalah pada Yunra. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya cemburu. Memang dia yang mencelakaiku, tapi..
“Ah..geurae. Sebaiknya kita cepat berlatih. Acaranya sebentar lagi, aku tidak mau kau merusak popularitasku di atas panggung. Arrachi?” Chanyeol mengangkat pundaknya yang ku buat sebagai bantal daguku.
“Aisshh!! Terserah lah.” Aku menjitak kepalanya.
Aku menyukainya? Entahlah, aku tidak tau apa yang aku rasakan. Terkadang aku tersenyum dan tersipu malu karena perlakuannya. Namun dalam sekejap, dia berubah menjadi namja yang sangat sangat menjengkelkan. Yang aku tau, dia adalah namja yang bisa membuat hatiku berdegup lebih kencang.

(Lin Da POV)
Aku mengintip mereka. Yap, Chanyeol dan Ayu. Setidaknya melihat Chanyeol seperti itu, aku tidak terlalu khawatir pada Ayu. Banyak sekali yeoja yang mengidolakan namja jangkung itu. Setelah kejadian di lapangan beberapa minggu yang lalu, aku lebih over protective pada sahabat yang sudah aku anggap yeodongsaengku.
“ Kau juga ingin di gendong sepertinya?” aku terlonjak kaget ketika suara berat dari namja bermarga Kim terdengar. Omo, sejak kapan dia ada di belakangku?
“Ah..aniyo. Aku hanya..” kata-kataku terputus ketika melihat dua orang yang sedang aku intip dari tadi tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Aku yakin mereka tadi disana.
“Chakaman. Dimana mereka?” aku bertanya pada Suho sambil membuang pandanganku di seluruh tempat itu. Aku berlari berniat mencari mereka, namun tangan kekar Suho menghentikanku.
“Gwaenchana, sahabatmu aman jika bersamanya. Kajja, aku antar kau pulang.” Katanya sambil melepas pegangannya.
“Keundae..” belum selesai aku berbicara, tanpa ba-bi-bu tangannya menarikku dan mengajakku pergi dari sana.
.
.
.
“Lin Da-ya..Waeyo? kau melamun dari tadi?” katanya sesekali menatapku yang termenung. Sadar ada keganjalan padaku, Suho membanting setir mobilnya menepi dari jalanan kota Seoul.
“Ah..aniyo. Nan gwaenchana.” Aku mencoba meyakinkannya. Suho masih terlihat khawatir.
“Kau bisa cerita padaku jika ada sesuatu.” jari-jemari Suho menggenggam erat tanganku.
“Amugeotdeo aniya. Kau tidak usah khawatir.” Kali ini dia membalas dengan senyum tipis di bibirnya. Tidak seharusnya aku merasakan detak jantung seperti ini di dekatnya.
Matanya kini kembali fokus pada jalanan. Aku masih belum bisa memalingkan pandanganku dari wajah angelicnya. Dia terlalu perfect. Aku hanya seorang yeoja biasa, aku tidak seharusnya berada di sekitarnya. Dia seperti bintang yang benar-benar jauh.

(Suho POV)
Apa salah jika aku menyukainya? Bahkan aku mulai menyayanginya. Walaupun di bilang cukup sebentar aku mengenalnya, tapi setiap aku di dekatnya dia mampu membuat darah ini berdesir. Lin Da-ya, kalau saja kau tau. Nan jeongmal saranghae, neomu jeongmal.
“Suho-ya, kau tidak mau masuk?” Lin Da membungkukkan sedikit badannya.
“Ah aniya. Kau pasti butuh istirahat. Nan kalle. Annyeong.” Kataku sambil melambaikan tanganku padanya.
“Gumawoyeo Suho-ya. Annyeong.” Lambaian tangannya mengiringi deru mesin mobilku yang mulai meninggalkan pekarangan apartementnya.
Nal annaehaejwo, yeah..geudaega salgo inneun gose
Nado hamkke deryeogajwo..oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi ne..
Ponselku berbunyi. Aku melihat ke layar ponsel milikku sambil berusaha menepikan mobilku. Aku melihat nama Sehun tertera disana. Untuk apa dia menelponku?
“Yeoboseyeo. Oh, Sehun-ah wae?”
“Hyung, apa besok kau ada acara?”
“Sepertinya kosong. Kau ingin mengajakku pergi?”
“Ne, hyung. Kajja besok kita berkumpul. Aku tunggu di rumahku jam 9, ne. Aku sudah memberi tahu yang lain.”
“Geurae.”
“Daa, Hyung”
Dia menutup teleponnya. Tidak biasanya dia mengajak berkumpul di hari libur. Bahkan setauku, dia sering menghabiskan hari liburnya dengan tidur di kamarnya seharian.
.
.
.
(Author POV)
Suasana tenang menyelimuti apartement dua yeoja yang berasal dari Indonesia itu. Walaupun begitu, mereka terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Yeoja berlesung pipi sibuk dengan laptop pinknya, sementara yeoja berkacamata sedang berkutik dengan peralatan dapur.
“Eonni, apa kau tidak rindu dengan masakan Indonesia?” Tanya Ayu sambil masih mengobrak-abrik isi kulkas.
“Keureomyeon..” jawabnya singkat dengan jari-jari masih menari di atas keyboard laptopnya. Ayu hanya mendengus kesal melihat eonninya yang menjawab pertanyaannya dengan singkat.
“Eonni, bagaimana jika kita membuat rujak? Otte? Aku akan pergi ke supermarket untuk membeli buah.” mendengar sebuah ide cemerlang di bibir kecil sahabatnya. Lin Da mulai beranjak dari tempat duduknya.
“Ok. Let’s make it.” Katanya seraya mengambil beberapa bumbu yang sudah ada di kulkas mereka. Ayu mengambil dompetnya dan berjalan menuju pintu apartemennya.
“Ah, matta. Kenapa aku tidak memintanya membeli cemilan sekalian?” Lin Da yang selesai mengabsen bumbu dapur segera berlari mengejar yeodongsangnya.
“Ayu-ya, nan..OO-Ommo..?” matanya terbelalak ketika melihat 10 namja tampan sedang berdiri di ambang pintu apartementnya. Keadaan yang sama juga terjadi pada yeoja satunya.
“Untuk apa kalian kesini?” Tanya Lin Da tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kami ingin melihat-lihat isi apartementmu. Keunde, sepertinya kalian mau pergi? Eodiga?” Kai menatap mereka berdua.
“Ah, igo..aku mau pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Masuklah, aku pergi dulu, ne. Annyeong!!” Ayu melambaikan tangannya pada 10 orang namja yang baru masuk dan duduk di apartementnya.
“Chakkaman, aku ikut bersamamu.” Chanyeol membuat seluruh mata di apartement itu memandanginya aneh termasuk Ayu yang berdiri di depan pintu.
“Mwo?” Chanyeol memandangi mereka.
“Geurae, kajja.” Ajak Ayu. Chanyeol segera mengenakan kembali sepatu yang sempat di lepasnya tadi.
“Ayu-ah. Tolong telpon Shin Ri Ahjumma, ne.” perintah Lin Da.
“Em..Eonni.” Ayu menutup pintu apartementnya.
“Lin Da-ya, kau mau membuat apa?” D.O membantu Lin Da yang sibuk dengan bumbu-bumbu dapur.
“Some Indonesian cuisine, I think.” Katanya seraya tersenyum pada Kyungsoo.
“Bolehkah aku membantu? Aku cukup hebat dalam masak memasak.” Tawar Kyungsoo pada Lin Da. Lin Da hanya tersenyum pertanda memberi izin pada temannya itu.
Melihat mereka berdua, entah apa yang sedang dipikirkan Suho. Suho merasa iri pada Kyungsoo yang bisa berdua di dapur. Aniya, bukan iri. Lebih tepatnya cemburu melihat mereka berdua. Suho berniat mendekat pada mereka, namun Tao mengagetkannya.
“Hyung, waeyeo?” tanyanya sambil melihat ekspresi Suho yang bisa dibilang sulit di artikan.
“Ah..aniya. kajja.” Katanya sambil menarik tangan Tao menjauh dari sana. Dia berusaha menyembunyikan perasaanya pada Lin Da dan tak ingin siapapun tau akan hal itu. Walaupun dengan berat hati meninggalkan mereka berdua disana, tapi Suho harus melakukannya.
(Chanyeol POV)
“Yeoboseyeo..oh Ahjumma. Hari ini kita kedatangan tamu. 10 orang namja. Dia teman sekelas kami…Oh, ne..gwaenchana??..ne Ajhumma..Kamsahamnida..” yeoja di sebelahku menutup teleponnya.
“Nugu?” tanyaku padanya. Kami sedang berada di perjalanan menuju supermarket. Supermarket itu tidak terlalu jauh dari apartement mereka, jadi kami berjalan kaki kesana.
“Ah..dia yang bertanggung jawab padaku dan eonni selama di Korea. Kajja, aku mulai kedinginan.” Terangnya. Ku lihat hidungnya sudah mulai memerah, sepertinya dia benar-benar kedinginan.
Kedua telapak tangannya ditiup dan digosok-gosokkan berulang kali. Dengan gerakan reflek, aku meraih sebelah tangannya dan menggenggamnya erat. Entahlah, sebenarnya aku merutuki perbuatanku ini, tapi aku benar-benar tidak tega melihatnya. Aku tau dia membulatkan matanya.
.
.
.
“Chanyeol-ah, bisakah kau mengambilkan mentimun di atas itu?” Ayu terlihat kesusahan meraih satu kotak mentimun yang letaknya memang cukup tinggi. Tanpa menjawab, aku segera mengambilnya. Yap, kami sudah ada di supermarket untuk membeli barang-barang.
“Keunde, apa yang mau kalian buat dengan buah-buahan ini. Bukan kah ini terlalu banyak?” tanyaku. Bagaimana tidak? Di keranjang bawaannya sudah ada mentimun, jambu, strawberry, nanas, dan berbagai macam buah lainnya.
“Sudahlah jangan banyak bicara. Kajja kita bayar.” Dia menarikku ke kasir. Aigo, sifatnya yang menyebalkan mulai keluar.
Aku menunggunya di depan supermarket. Kalian tau? Aku adalah orang yang paling tidak suka menunggu, dan yang paling aku benci adalah menunggu yeoja yang sedang berbelanja seperti yang aku lakukan sekarang.
“Mianhae, apa lama?” dia berlari ke arahku. Aku memasang muka masam.
“Kau bisa melihat tanganku beku karena menunggumu.” Kataku sinis. Dia mempoutkan bibir kecilnya. Aku menarik tangannya dan segera mengajaknya kembali karena aku benar-benar tidak tahan dengan dingin yang menusuk ini.
.
.
.
“Aku pulang!!!” teriakku mengagetkan seisi apartement.
“Ya!! Memang ini rumahmu? Kau bahkan hanya tamu disini.” Kata Lin Da sinis.
“Ck..pabo ya.” Ayu menggeleng melihat tingkah anehku. Apa yang salah jika berkata seperti itu?
“Eonni, aku sudah membeli buahnya. Bagaimana dengan bumbunya?” Tanya yeoja berkacamata disampingku sambil menaruh barang-barangnya di dapur. Aku mengekorinya.
“Siap. D.O membantuku.” Lin Da tersenyum manis pada Kyungsoo. Wae? Ada apa dengan mereka? Ini mencurigakan.
(Author POV)
Sekarang adalah giliran Ayu yang menyiapkan buah-buah yang dia beli di supermarket. Chanyeol hanya melihat apa yang yeoja itu perbuat. Dalam benaknya, ada perasaan kagum pada Ayu. Melihat yeoja itu memakai apron biru muda, memunculkan sisi lain yang susah dijelaskan.
“Aaah…!!!” teriakan Ayu menggelegar. Jari telunjuk kirinya tak sengaja terkena pisau, membuat darah segar mengalir.
“Ya!! Neo gwaenchana??” Chanyeol segera menghampiri Ayu dan menarik jarinya. Tanpa bertele-tele, Chanyeol segera memasukkan jari yeoja itu ke mulutnya bermaksud menghentikan pendarahannya.
“Appo ya!!” Ayu meringis kesakitan karena jarinya itu.
“Apa yang terjadi??” Xiumin berlari ke arah mereka di ikuti yang lain.
“Jarinya teriris hyung. Lin Da-ya, apa ada obat merah?” Chanyeol terus memegangi jari Ayu. Lin Da segera berlari mengambil obat dan memberikannya pada Chanyeol. Dia meminta Chanyeol agar mengobati sahabatnya.
“Biar aku yang memotong buahnya, lebih baik kau obati dia.” Perintah Lin Da pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk dan membawa Ayu ke depan tv, begitupun para member lain terkecuali tuan Guardian Angel Suho.
“Lebih baik kau ikut ke depan Lin Da. Aku yang memotong buahnya.” Suho mendekati yeoja itu dan mengambil pisau yang berada di sampingnya.
“Jinjja? Baiklah.” Lin Da berdiri di samping Suho sambil melipat tangannya di depan dada. Dia terus memperhatikan bagaimana cara namja itu memotong buah. Melihat beberapa potongan buah hasil karyanya, Lin Da menahan tawanya.
“Ya..kau salah memotongnya. Aissh!! Pabo!! Hahaha. Untung aku tidak ikut kedepan.” tawanya renyah. Suho tersenyum dan menggaruk tengkuknya. Dia terus melihat bagaimana lihainya jari jemari lentik Lin Da mengiris buah-buah itu.
“Kau akan menjadi istri yang sempurna.” Suho mengucapkan apa yang ada di benaknya dengan lirih.
“Ne..? kau mengucapkan sesuatu?” Lin Da menatap Suho yang terlihat salah tingkah. Suho hanya menggeleng. Tangan kirinya mengacak-acak rambut hitam Lin Da. Pipi yeoja itu terlihat memerah karena perlakuan Suho.
.
.
.
“Ya!! Bagaimana kau bisa teriris seperti itu? hah? Pabo!!” Chanyeol menyentil jidat Ayu. Ayu menggosok-gosok jidatnya. Chanyeol segera menarik jari Ayu dan menetesinya obat merah.
“Aahhh!!! Yaa!! Kau tidak bisa lebih halus sedikit eoh?” protes yeoja itu. Chanyeol memutar bola matanya. Dia dengan teliti dan berhati-hati mengobati Ayu. Ayu hanya bisa terdiam dan memandangi wajah serius Chanyeol yang benar-benar tampan. Apalagi bagaimana saat namja itu menggembungkan pipinya untuk meniup-niup jari Ayu.
Chanyeol mengambil kapas di kotak P3K itu, dia membersihkan tetesan obat merah yang mengalir di jari Ayu. Sesekali Ayu menahan sakit di jarinya karena Chanyeol yang tidak sengaja menekan lukanya. Tiba-tiba Chanyeol menghentikan aktifitasnya dan memperhatikan yeoja itu.
“Aku tau kalau aku cantik, tapi secantik itukah sampai kau tidak memalingkan wajahmu dariku?” kata Ayu sambil tetap fokus membalut lukanya. Chanyeol tersadar dari lamunannya dan segera membereskan kotak P3K. Mereka tidak sadar jika 8 pasang mata menatap mereka heran dari tadi. Apalagi dengan Baekhyun yang menatap mereka dengan tatapan curiga nan tajam tapi tetap tidak meninggalkan kesan imut di wajahnya *mbak yuni cemburu nih?
“Jjaaaaaa….sudah siaap!!!” Lin Da berteriak sambil berlari membawa beberapa piring penuh buah-buahan. Suho mengekorinya dari belakang.
“Selamaat Makaan!!!” semua berteriak kompak. Ini adalah kali pertama 10 namja yang disebut EXO mencoba makanan Indonesia yang bernama rujak. Mereka baru bisa membaca nama itu setelah Ayu menuliskannya dalam bentuk hangul.
“Geunde..jangan terlalu banyak mengambil sambalnya, perut kalian akan terasa panas.” Peringatan Lin Da tidak digubris oleh mereka semua. D.O yang notabennya adalah eomma EXO memuji masakan yeoja Indonesia itu.
“Masitta..lain kali buatkan yang lain, ne. Aku ingin mencoba menu lainnya.” Kata Kai tanpa berhenti mengunyah.
“Ya!! Kau kira ini restoran, huh?” Ayu menjitak kepala namja yang terkenal pervert di sekolahnya itu. Mereka hanya tertawa melihat Kai meringis karena jitakan di kepalanya.
Tok..Tok..Tok..
Terdengar suara ketukan pintu di apartement. Mereka semua saling pandang sambil menebak-nebak siapa yang datang. Ayu segera berdiri dari tempat duduknya dan bergegas membuka pintu apartement.
“Annyeonghaseyeo…” semua mata tertuju pada seseorang di luar sana.
TO BE CONTINUED…

Hayo-hayo hayoo…kira-kira siapa nih yang dateng?? Hahaha. Sebenernya aku bingung sih bikin karakter mereka ini. Kaya Chanyeol sama Ayu yang plin-plan. Suatu saat mereka jail tapi romantic juga. Terus sifat Lin Da yang garang-garang imut manis gitu ya. Hahaha. Tapi, overall, kita tetep berharap dapet respon positif dari kalian, dan makasih banget udah mau baca karya amburadul dari kami. saranghae~

4 thoughts on “When Our Love Came Suddenly (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s