[EXOFF Drabble] Karma

Judul : KARMA

Prompt : Han

Length : 388 words

Genre : Psychology

Rating : General

 

Angin laut nan lembut itu menyapu surai legam milik seseorang. Langit biru dengan gumpalan kapasnya menyatu dengan sinar mentari sekaligus buih – buih air laut yang memukau tiap iris yang memandangnya. Jemarinya menggerus kasar lembaran – lembaran buram dengan ujung – ujung pensil yang menari di atasnya. Memainkan tarian kasar dengan menceritakan sebagian dari cerita – cerita nafasnya yang tak kunjung menghentikan deruan ego-nya.

Ia terkantuk pada usia seperempat abad hingga menyandarkan hidupnya sejenak di atas tebing curam, berciuman dengan ombak – ombak laut. Wajahnya yang nampak sayu itu berteriak dengan keras dalam hati memanggil kapal yang seharusnya miliknya kembali dan membawanya mengarungi arus. Pelupuknya seolah mengering, meninggalkan bekas air yang bahkan sama korosif-nya dengan air lautan favoritnya.

Jahat. Kenyataannya air laut memang jahat. Ia tak percaya.

Ketika suguhan blue sea menyatu dengan langit light blue dan gumpalan awan yang seolah menunggangi lautan. Atau mungkin hm–– suara seruling alam ala – ala ketika ombak memecah karang dengan burung camar saling beradu kecepatan di udara atau mungkin bisa juga aroma asin yang menggelitik serta pasir putih lembutnya yang membelai sela – sela jemari.

Manis sekali. Oh, awalnya ia dibuai dalam.

Untuk beranjak saja ia enggan, namun untuk tetap tinggal ia juga tak sanggup. Berkali – kali ia meremas ujung bajunya kuat – kuat untuk tetap bertahan. He does not even care about, dia ingin memilih lajurnya sendiri. Ia menunggu detik tiap detik hingga merubah menjadi beberapa kali bumi ini berputar mengitari matahari.

Dia memohon untuk didengar. Gerakannya tersendat, dilemparnya jauh lembaran – lembaran menyebalkan itu menjauh hingga tiap seratnya menyerap habis lautan tepat di dasarnya. Dadanya naik – turun, ia geram mengapa tiap dermaga yang ia datangi dengan kapal – kapal yang ia cintai hanya berakhir acuh dan tak berbekas dalam lubuknya.

Suara tawanya merekah bersama buliran bah yang selama ini mendesaknya. Ia menyadari kebodohannya, menganggap bahwa Tuhan tak menyayanginya. Ia terlalu ––terlalu bahagia dan terbuai saat arungan laut membuainya hingga membuatnya memanggil – manggil memohon ketika arungan itu tak lagi menemaninya. Hampa, sekujur tubuhnya mati secara psikologis walau fisiknya masih hidup total.

Segalanya harus berakhir. Ia terlalu lelah menunggu tanpa kepastian sementara gendangnya menerima banyak sengatan menyakitkan. Kapalnya tak akan kembali walau ia meminta. Mungkin dengan menyatu bersama air laut akan membuat ia jauh lebih mudah menemukan kapalnya.

Mungkin.

Rrrrr

“Do Kyungsoo ! Kau ada dimana, sekarang ? Jangan bertindak bodoh, kumohon !.”

Maafkan aku, aku tak mampu.

Byurr !

Baca FF lainnya di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s