[EXOFF Drabble] Thorn Tree

Judul           : Thorn Tree
Prompt       : Han
Length        : 377 words
Genre          : Song-fic, angst
Rating         : General
 
          Aku, seorang gadis malang, yang dibuang, dikhianati dan dibenci. Tumbuh sebagai anak yang dibuang membuatku memiliki banyak hasrat. Salah satunya adalah hasrat akan kasih sayang. Ya, dulu aku memilikinya, sebelum semuanya berubah menjadi kepahitan yang mendalam. Yang menggerogoti sebagian hati kecilku. Dan dari situ, semua hasrat yang kumiliki menjadi sia-sia.

          Berbekal pendidikan yang kuampu selama dua belas tahun, aku berkeja di sebuah café  sebagai pelayan di sana, dan itu pun hanya paruh waktu. Yang membuatnya berbeda adalah, setiap aku melangkah keluar seusai sift kerjaku, seorang namja selalu tertangkap di mataku berdiri di tembok sebelah pintu masuk café. Ia menunggu seseorang, menungguku.
          “Sudah selesai?” Tanyanya dengan senyum manis yang tak pernah lepas dari wajahnya.
          Aku tak menanggapinya, hanya menoleh sekilas dan berlalu pergi, sudah menjadi formalitas begiku mendengarnya berkata seperti itu. Dan setelah itu, ia akan mengikutiku sampai ke rumahku, atau lebih tepatnya rumah singgahku. Sebuah balok bertembok yang memiliki atap, kecil, dan murah.
          Sesampainya di depan pintu rumahku, aku berhenti melangkah, aku bisa merasakan lelaki itu pun berhenti melangkah.
          “Walau pada akhirnya aku akan tetap mencintaimu, aku tidak bisa menerimamu,” kesunyian mulai merambat, hawa dingin menusuk tulang semakin terasa, “karena di dalam diriku ada kegelapan yang tidak bisa tertolong, ada kesedihan yang tidak bisa kumenangkan, itu semua mengambil tempat singgahmu di hatiku, dan menjadikannya hutan yang penuh pohon berduri.”
          “Aku akan singgah di hutan itu, menjadikannya taman bunga yang indah,” Balasnya.
          Apakah ini anugrah Tuhan? Bisakah aku mempercayai itu?
          “Tidak, karena setiap pergerakan yang kau perbuat, menyebabkan dahan-dahan kering itu mendorong satu sama lain, dan menorehkan luka yang menadalam,”
          “Bagiku, kau adalah seekor burung mungil yang kelelahan setelah mencari pohon tempat singgahnya. Sebuah tempat singgah setelah tertusuk oleh duri-duri. Maka dari itu, ijinkanlah aku menjadi pohonmu, tempatmu mengistirahatkan sayap-sayapmu yang mulai rapuh.”
          Aku membalikkan tubuhku, menatap manik matanya yang penuh akan keyakinan dan kejujuran. Bolehkah kali ini aku menjadi seseorang yang benar-benar berarti?
          ‘ya’ sebuah kata tak terucap darinya yang disalurkan lewat ciuman hangat, yang menjawab semua keraguanku.
END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s