Getting Lost

req-gecee-getting-lost1

Title : Getting Lost

Author : Gecee

Genre : Friendship, Romance

Length : Oneshot

Rating  : T

Main cast : Zhang Yixing (Lay EXO), Wang Jiwei (OC)

Poster by : Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : The casts belong to God, their family, and their agency. I just own the story line.

~Happy reading~

***

Bodoh… bodoh… bodoh… bodoh… bodoh…

Aku merutuki diriku sendiri dengan kesal. Percaya atau tidak, ini merupakan penyesalanku yang ke lima belas dalam seharian ini. Orang bilang penyesalan selalu datang terlambat, dan sepertinya mereka benar. Menyesal aku mengapa waktu itu aku tanpa pikir panjang mengiyakan ajakan Wang Jiwei untuk mengikuti camp musim panas yang bodoh ini.

“Zhang Yixing, kau mau kan ikut acara camp musim panas tahun ini? Mau kan? Mau kan?”  tanya Jiwei waktu itu dengan nada suara memohon. Matanya yang sipit itu menatapku lurus-lurus. Kelopak matanya berkedip beberapa kali. Demi Tuhan, bagaimana aku bisa menolak permintaannya kalau begitu?

Dan di sinilah aku sekarang. Di acara camp musim panas yang bodoh ini. Jujur, tidak ada alasan lain untuk mengikuti camp ini selain untuk menghabiskan waktu bersama Jiwei. Aku sudah menyukai Wang Jiwei dari setahun yang lalu dan aku rasa camp musim panas ini adalah waktu yang tepat untuk memiliki waktu yang khusus dengannya. Namun harapan tinggallah harapan. Sebagai salah satu panitia camp ini, Wang Jiwei sangatlah sibuk. Sejak tadi ia mondar-mandir kesana kemari memastikan semua acara lancar. Jangan berharap ada waktu untuk kami duduk berdua di bawah pohon dan bercakap-cakap satu sama lain. Interaksi yang terjadi di antara kami seharian ini hanyalah ‘toiletnya ada di sebelah mana?’ dan ‘daerah tenda pria ada di sebelah sana’.

Sementara aku? Aku bukanlah orang pecinta petualangan atau alam hingga aku memutuskan untuk mengikuti camp ini. Bisa dibilang seharian ini aku tidak membantu apa-apa selain membawakan tenda yang masih terlipat dari panitia untuk dibangun oleh teman-temanku. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara membangun tenda. Belum lagi sifatku yang pelupa membuat aku meninggalkan barang-barang penting yang ada di rumahku. Aku meninggalkan seluruh peralatan mandiku. Untungnya aku menemukan sikat gigi lipat entah milik siapa di tas ransel besarku. Aku meninggalkan handukku, dan juga map serta kompas padahal barang-barang itu sangat penting untuk acara penjelajahan besok. Untungnya teman-teman setendaku berbaik hati mau meminjamkan peralatan milik mereka padaku. Huft.. rasanya aku ingin pulang. Aku hanya menjadi beban di sini.

Aku melongok melihat air di dalam panci yang dimasak di atas kompor parafin. Airnya belum mendidih juga. Aku mengipas-ngipas leherku yang terasa panas.Terkadang aku mengelap keringat yang mengucur dari dahiku dengan lengan bajuku. Udara di tempat camp ini panas sekali. Oh astaga… berapa lama lagi airnya akan mendidih?

“Ni hao, Zhang Yixing!”

Aku menoleh dan mendapati Wang Jiwei sedang berdiri di dekatku. Ia menatap kompor parafin itu sejenak kemudian ikut berjongkok di sebelahku.

“Kau masuk ke area tenda pria?” tanyaku.

Gadis itu tersenyum bangga. “Salah satu keuntungan sebagai panitia. Kau boleh berkeliaran kemana saja.” Sepertinya gadis itu melihat mataku yang membulat, dan ia cepat-cepat menambahkan,  “Maksudku selama kau bisa mempertanggungjawabkannya. Tenang saja, aku tidak menggunakannya untuk melihat yang aneh-aneh, kalau itu yang kau maksud.” Jiwei menatap sekeliling sejenak, lalu kembali menoleh ke arahku. “Dimana teman-temanmu?”

“Mandi,” jawabku singkat. Oh, airnya sudah mendidih. Aku mengambil kain lap entah milik siapa yang kutemukan di tenda dan menggunakannya sebagai alas tanganku untuk mengangkat panci. Nah, sekarang bagaimana cara mematikan apinya?

Gadis itu sepertinya bisa membaca pikiranku karena ia bergerak maju lalu mulai mematikan api tersebut. Tangannya dengan cekatan membereskan kompor parafin sementara ia bertanya lagi padaku,  “Kenapa kau tidak mandi? Kau sudah mandi?”

Aku tersenyum malu. “Aku lupa membawa peralatan mandi.Jadi aku harus menunggu Duizhang selesai mandi baru aku bisa meminjam peralatan mandinya.”

Jiwei tersenyum maklum. “Oh, Yixing.Aku baru ingat sesuatu!” ujarnya. Ia merogoh tas selempang hitamnya dan mengeluarkan dua buah cup mie instan. “Berhubung sekarang kita punya air panas cukup banyak, bagaimana kalau kita gunakan sedikit untuk makan ini? Kau tidak lapar?”

Mataku berbinar cerah ketika melihat mie instan rasa kari tersebut. Tangan kami dengan cekatan membuka tutup cup dan merobek bungkus bumbu mie, kemudian menuangkan air panas. Sambil menunggu mie itu matang, kami bercakap-cakap mengenai camp ini. Jiwei menceritakan kesibukannya sebagai panitia bagian konsumsi. Tak bisa kupungkiri jantungku berdebar tak karuan dengan hadirnya Jiwei di sini.

“Nah sepertinya mienya sudah siap. Ayo makan, Yixing!” ajak Jiwei. Tetapi belum kami mulai makan, handy talkie gadis itu berbunyi. Jiwei menaruh cup mie instannya di tanah lalu menjauh sejenak dariku. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan wajah sendu.

“Maaf Yixing, aku harus pergi. Ada sedikit masalah di tenda panitia dan aku harus membereskannya. Oh ya, jangan lupa sebentar lagi ada makan malam bersama lalu acara api unggun. Zai jian!” Jiwei lalu pergi meninggalkanku. Begitu saja. Aku hanya dapat menatap kepergiannya.

“Hei, Yixing! Lihat apa kau? Melamun begitu?” Rupanya Duizhang telah kembali dan dengan enaknya ia menoyor kepalaku begitu saja. “Wah, kau punya mie instan? Kenapa kau tidak bilang-bilang? Aku minta ya!”

***

Penyesalan berikutnya dalam camp musim panas tahunan yang bodoh ini. Aku hampir lupa kalau di hutan tidak ada toilet. Sepanjang perjalanan tracking sampai siang hari ini, aku hanya dapat menahan rasa sesak di kantung kemihku. Aku merasa menyesal minum air banyak-banyak sebelum tracking karena aku takut aku akan mati kekeringan. Kenyataannya, sekarang aku malah ingin buang air kecil tetapi terlalu gengsi untuk sekedar bersembunyi di balik pohon dan mengeluarkan rasa sesak ini.

Oh, baiklah. Sepertinya aku harus membuang rasa gengsi ini, setidaknya untuk sekali ini atau aku akan terkena penyakit ginjal. Mama sering bilang tidak boleh menahan pipis karena dapat menyebabkan batu ginjal. Aku tentu tidak ingin membawa oleh-oleh batu ginjal dari camp ini. Akhirnya aku meminta izin kepada Luhan selaku ketua regu untuk buang air kecil. Aku bergegas mencari tempat yang cukup jauh tapi aman dan… mengeluarkan rasa sesak yang telah ku tahan sejak tadi. Ah… leganya.

Dengan bergegas aku kembali untuk menemui teman-teman reguku. Lho, dimana mereka semua? Apakah mereka telah pergi ke pos berikutnya? Bukankah tadi mereka ada di sini? Aku mencoba berbalik dan menyusuri jalan yang lain, tetapi yang ku dapatkan hanyalah pohon-pohon yang berlumut yang rasanya tidak pernah kulihat. Keringat dingin mulai mengucur di punggungku. Dimana aku?

Dengan kerongkongan tercekat aku berusaha berjalan melalui arah lain. Tetapi rasanya aku tidak menemukan jalan keluar. Yang kutemui hanyalah hutan dengan pepohonan yang makin banyak. Jantungku berdebar begitu keras. Bayangan harimau dan singa hutan yang sering kulihat di buku biologi mulai menghantuiku. Demi Tuhan… aku tidak ingin mati dimakan hewan buas di sini…

Lelah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya aku dengan pasrah hanya bisa duduk di bawah salah satu pohon. Aku meminum air mineral terakhir yang kubawa, entah dengan apa aku bertahan hidup sampai beberapa jam ke depan. Oh, aku sangat berharap ini tidak akan lama. Aku sangat berharap para panitia cepat menemukanku. Aku hendak menghubungi Luhan atau Duizhang tetapi aku baru ingat kalau aku meninggalkan ponselku di tenda karena Duizhang mengatakan bahwa kita akan bermain air. Huft…

Angin sepoi-sepoi dari pepohonan yang bergoyang di hutan membuat mataku terasa berat. Belum lagi badanku yang sebelumnya tidak pernah ikut tracking seperti ini terasa lelah. Merasa mengantuk, aku terduduk dengan menelungkupkan wajahku di atas meja. Dalam hati aku berdoa agar aku cepat ditemukan.

“Zhang Yixing?”

Suara itu. Suara yang sangat familiar. Aku menoleh dan mendapati Wang Jiwei sedang membungkuk ke arahku.“Sedang apa kau di sini? Kau tersesat juga?”

Aku mengernyitkan dahi. “Juga? Kau juga tersesat?”

Gadis itu mengangguk. Wajahnya terlihat sedih.

“Bagaimana bisa?” tanyaku.

“Aku sedang menjaga pos yang dekat air terjun itu. Lalu tiba-tiba ada panggilan soal konsumsi untuk makan malam dan aku dipanggil ke tenda panitia. Maksudku adalah mencari jalan pintas agar cepat sampai, tetapi yang ada aku malah tersesat,” jelas Jiwei. “Ni ne?”

“Entah, aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya izin sebentar untuk buang air kecil dan ketika aku kembali, reguku sudah pergi. Aku mencoba menyusul tetapi yang ada aku malah berakhir di sini.”

“Semoga para panitia cepat menemukan kita,” gumam gadis itu.

Aku melihat handy talkienya sekilas dan mataku membulat. “Jiwei! Tidak bisakah kita menggunakan handy talkiemu itu?”

Jiwei menggeleng dengan sedih. “Tidak bisa, aku telah mencobanya. Sepertinya kita berada di bagian hutan belantara dan tidak ada sinyal yang masuk ke sini.”

Mendengar kata hutan belantara membuatku bersedekap. Jiwei tersenyum sejenak dan menatapku maklum. “Wei shen me?”

“Hutan belantara katamu?” tanyaku balik. “Aku takut ada harimau atau singa di sini. Kita tidak akan mati di sini kan?”

Jiwei tertawa terbahak-bahak. “Astaga… tentu saja tidak, Zhang Yixing. Hutan ini belumlah hutan yang seliar itu.” Gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. Mendadak aku merasa malu. Tentu saja, mana mungkin lokasi hutan liar dipilih sebagai tempat pelaksanaan camping?

Kami memutuskan untuk berjalan sedikit demi sedikit menyusuri hutan itu, dengan harapan siapa tahu kami menemukan jalan keluar menuju area camp. Sepanjang perjalanan, Wang Jiwei menceritakan kegiatannya bersama Lin Zhiping dan Wu Lao Shi saat menjaga pos dekat air terjun. Aku senang melihat gaya gadis itu bercerita. Ia selalu bercerita dengan ekspresi. Tangannya bergerak-gerak dan ekspresi wajahnya seolah-olah ikut bercerita. Dalam hati aku mulai merasa bahwa tersesat di hutan saat ini tidaklah terlalu buruk.

Ketika Jiwei bertanya tentang kegiatanku, aku menceritakan tentang kegiatan trackingku bersama reguku tadi. Aku juga menceritakan Haichuan yang terjatuh dan membuat lutut serta sikunya luka, Zitao yang masuk ke lumpur, serta Fenqiang yang muntah karena mual dan mengenai ujung sepatuku. Mendengar ceritaku, Jiwei tertawa-tawa. Kembali lagi, aku senang melihat Jiwei tertawa.

Di tengah aku bercerita, tiba-tiba Jiwei memekik dan memeluk punggungku erat. Untuk sejenak punggungku menegang, terkejut. Aku menoleh dan menatap gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya di balik punggungku itu.

“Ada apa?” tanyaku

Tangan kanan gadis itu menunjuk sesuatu di depanku, sementara wajahnya masih tersembunyi di balik punggungku. “Ada kucing..” jawabnya dengan suara yang terdengar ketakutan.

Aku mengikuti arah tangannya dan melihat seekor kucing kurus berbulu cokelat yang sedang melintas. Percayalah padaku bahwa ini pertama kalinya aku melihat Jiwei ketakutan seperti ini. Selama ini Jiwei selalu terlihat hebat, apalagi ketika sedang mengenakan seragam klub pecinta alamnya. Jiwei terlihat hebat ketika sedang berdiri di panggung dan menerima piala juara kelas. Di mataku, Jiwei adalah gadis kuat yang pemberani. Ketika field trip ke kebun binatang saat sekolah menengah, para gadis terlihat takut begitu melihat ular kobra, sementara gadis itu hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi. Ketika Meilian terjatuh dari tangga di sekolah dan membuat bibir serta hidungnya mengeluarkan darah, Jiwei bisa tanpa rasa gentar dan dengan cekatan membawa gadis itu ke UKS. Tapi baru kali ini aku melihat Jiwei ketakutan, dan untuk alasan yang cukup tidak disangka.

Dengan menahan tawa aku bertanya pada gadis yang masih memelukku walau tidak seerat tadi. “Kau takut pada kucing?”

Gadis itu mengangkat wajahnya dan mengangguk.

“Astaga… Tidak apa-apa, Jiwei. Kucing tidak berbahaya.”

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Tetapi entah kenapa jalan keluar tidak juga bisa kami temukan. Entahlah sekarang kami sedang berjalan menuju ke luar hutan atau malah makin masuk ke dalam hutan. Tidak ada satupun dari kami yang membawa kompas atau peta. Jiwei meninggalkan kompas serta petanya di tenda panitia.

“Yixing, aku lelah. Kakiku pegal sekali. Bagaimana kalau kita duduk?” pinta Jiwei.

Aku mengiyakan permintaan gadis itu.Kami berdua duduk di bawah salah satu pohon yang rindang. Perutku keroncongan. Aku mengeluarkan satu bungkus roti dari dalam tasku dan membuka bungkusnya. Aku menawarkan pada Jiwei dan gadis itu mengambil sedikit potongan roti. Satu bungkus roti habis. Karena di antara kami tidak ada yang membawa minum, kami berdua harus menahan haus.

Mungkin karena lelah dan kerongkongan kering, kali ini tidak ada dari kami yang memulai percakapan. Jiwei hanya duduk dengan wajah tertelungkup sementara aku mengidarkan pandangan ke sekeliling, sambil dalam hati berjuta-juta doa kupanjatkan agar para panitia itu cepat menemukan kami.

Sedang asyik aku mengamati dua ekor belalang yang sedang kawin di batang salah satu pohon, tiba-tiba pundakku terasa berat. Aku menoleh. Jiwei tertidur dengan kepalanya bersandar pada pundakku. Astaga, gadis itu pasti sudah sangat lelah. Bisa-bisanya ia tertidur di tempat seperti ini.

Merasa bahwa posisi gadis itu tidak nyaman, dengan perlahan aku meluruskan kakiku lalu membenahi posisi gadis itu tidur, membuatnya berbaring dengan pahaku sebagai alas kepalanya. Gadis itu menggumam tidak jelas lalu membalikkan tubuhnya hingga sekarang ia tertidur dengan menyamping menghadapku. Matanya terpejam, napasnya teratur. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari gadis yang terlihat lelah ini.

Setetes keringat mengucur dari dahi Jiwei. Aku merogoh tas ranselku dan mengeluarkan selembar tissue. Perlahan aku menyeka keringat yang mengucur tersebut. Lalu aku merapikan beberapa helai rambut Jiwei yang terlihat berantakan. Tak bisa kucegah tanganku untuk tidak membelai rambut kecoklatannya. Jantungku berdebar begitu cepat ketika melakukannya. Ini bisa dibilang pertama kalinya bagiku berada dalam jarak sedekat ini dengan Jiwei. Pertama kalinya gadis itu bersandar pada pundakku, berbaring di pahaku, atau memelukku erat seperti tadi. Bibirku terus menerus menyunggingkan senyum seraya aku menatap gadis lelah yang tetap terlihat cantik itu.

Angin sepoi-sepoi hutan perlahan mulai membelai mataku, membuatku mengantuk. TIdak boleh, aku harus tetap terjaga. Kami – terutama gadis ini – dalam keadaan tidak aman bila aku sampai tertidur.  Siapa yang tahu apa yang akan terjadi bila kami berdua terlelap? Aku mengucek kedua mataku, berusaha untuk menghilangkan kantuk. Tetapi apa daya, sepertinya badanku sudah terlalu lelah. Dan angin sialan ini terus membelai mataku.

Aku menguap sekali lagi, lalu menyandarkan kepala pada batang pohon, memejamkan mata, dan tertidur.

***

“Zhang Yixing…”

Aku merasakan bahuku diguncang. Kubuka mataku dengan malas. Jiwei sedang menatapku dengan sebuah senyum di bibirnya. “Bangun,” ujar gadis itu lembut. “Ayo kita kembali ke camp. Wu Lao Shi telah menemukan kita.”

Seketika rasa kantukku hilang dan cepat-cepat aku mengambll tasku. Dengan bantuan kompas Wu Lao Shi, kami bertiga keluar dari hutan dan beberapa saat kemudian kami telah sampai kembali di area camp. Kedatangan kami langsung disambut oleh para panitia dan juga peserta camp.

Luhan memelukku erat-erat. “Zhang Yixing! Dari mana saja kau? Katanya kau mau buang air kecil, huh?” Ia menoyor kepalaku. “Buang air kecil saja lama sekali! Kau tahu betapa khawatirnya aku begitu mengetahui kau hilang?”

Aku tersenyum meminta maaf. “Dui bu qi, aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Duizhang menyiratkan tatapan penuh arti kepadaku. Kemudian ia berjalan menghampiriku.  “Apa yang kau lakukan berdua dengan Jiwei?” bisiknya.

Aku hanya tertawa kecil. “Itu rahasia, kawan.Yang pasti tidak akan seperti yang kau bayangkan.”

Duizhang menggelengkan kepalanya dan aku hanya terkikik kecil. Aku pun berjalan ke arah tendaku. Badanku sudah sangat lelah dan sepertinya berbaring di tenda adalah kegiatan yang paling baik untuk dilakukan. Ketika aku sedang berbaring, ponselku berbunyi menandakan pesan masuk. Aku merogoh tas, mengeluarkan ponsel, dan melihat pesan yang masuk itu. Rupanya Jiwei mengirimkanku pesan.

Zhang Yixing, terima kasih untuk hari ini. Senang bisa menghabiskan waktu denganmu. Sepertinya tersesat di hutan bersamamu bukanlah hal yang buruk. Wo hen ai ni.

Tanpa bisa kucegah seulas senyum merekah di bibirku. Aku menekan layar ponsel beberapa kali, menjawab pesan itu.

Wo ye hen ai ni, Wang Jiwei

THE END

***

A/N

Mendekati hari ulang tahun Lay, aku memutuskan untuk membuat ff ini… Yeay!! Terinspirasi dari film ‘Lima Elang’ dan Lay yang (katanya) punya sifat pelupa. Gimana, agak gaje kah ceritanya? Maafkan kalau masih ada typo.. Anyway komen dan sarannya sangat ditunggu. Thank you😀

2 thoughts on “Getting Lost

  1. Sumpah ini lucu2 sweet gimanaa gitu aaaaaakkk suka bgttt. Lay nya digambarkan dgn baik hihihi nice Author-nim! Jadiin series dong😂✌

    1. oh ya? Aku pikir malah penggambarannya kurang.. aaa thanks for your appreciation..😀
      series ya? Aku pertimbangkan deh🙂
      anyway thanks sudah baca dan komen😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s