The Unpredictable Heart Attack (Chapter 1)

cats 59

Title : The Unpredictable Heart Attack

Author : Kim Dhira (@farahwijaya)

Cast :

Kim Jong In  <>  Kim Hye Ra (oc)  <> Jung Daehyun

Genre : school life, romance, little bit abusive

Ratting : PG-17

Length : chapter

Disclaimer : Cerita di dalamnya serta poster murni aku yang bikin. Pemainnya kembali kepada keluarga mereka masing-masing.

Oke.. enggak akan berlama-lama jadi Happy Reading J

<<<<<>>>>>

Mengisi waktu lenggang dengan bersantai memang dambaan bagi siapa pun. Apa lagi jika dilakukan untuk mengurangi kadar stress setelah seharian beraktivitas. Sungguh kesenangan seperti itu bisa membuat kita merasa berada di dunia yang lain.

Dan hal itulah yang tengah dilakukan oleh seorang gadis berambut hitam, yang tengah duduk sendiri di ruangan besar yang penerangannya tak terlalu baik. Penarangannya tak baik bukan karena ruangan itu tempat hiburan malam yang hanya diterangi oleh beberapa lampu dengan watt yang kecil, tetapi itu karena sang gadis yang hanya menyalakan lampu pada bagian depan saja. Sedangkan dia duduk dipinggir ruangan yang kurang terjamah oleh cahaya lampu.

Sejenak sang gadis mengalihkan pandangannya dari layar datar -yang terus dipandanginya sejak beberapa saat yang lalu- saat suara decitan pintu menggema keseluruh seluk ruangan itu. Namun tak lama, gadis itu kembali memalingkan pandangannya.

“ckck apakah kau tak bosan, eo?” Tegur seseorang yang tadi baru saja masuk. Ia menarik salah satu kursi dan mendudukinya di samping gadis yang tak merespon kedatangannya.

Sosok itu menghela nafas kasar. Ia seperti kehabisan kata-kata -walau dalam nyatanya ia baru berbicara beberapa patah kata saja- saat gadis di sampingnya tak juga merespon kehadirannya.

Sesaat, sesuatu melintas dipikirannya. Membuat sebuah lengkungan kelicikan terpatri pada wajah bulatnya. “ah~ aku tahu. kau pasti akan berhenti saat Jong In sunbea yang menegur mu, iya kan?”

Spontan gadis berambut hitam legam itu menoleh pada lawan bicaranya. Ia terlihat begitu terkejut sekaligus kesal.

“apa yang kau katakan? aku? YA! kau gila? apakah kau lupa ingatan? ha?!” Maki gadis itu. Namun sosok tadi hanya tersenyum -menahan tawanya yang ingin meledak-, membuat gadis itu naik pitam.

“jinjjayo? bukankah kau me………..”

“sudah ku katakan kan, kalau aku TAK ME-NYU-KAI JONG IN SUN-BEA!!” Tekan gadis itu.

“eo lalu bagaimana dengan berita yang terseba-”

“yak! bukankah itu ulah mu?! kau kan yang membuat gosip murahan itu!!!” Selak sang gadis saat ia merasa bahwa lawan bicaranya akan mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan kenyataan.

Dan untuk kesekian kalinya, sang lawan bicara mencoba untuk menahan tawanya. Namun gagal dan berakhir pada tawa menyakitkan bagi sosok gadis itu.

“yak Shin Hyejin! berhenti tertawa!!!” Hardik sang gadis, dan bersamaan dengan itu pintu ruangan yang awalnya tertutup tiba-tiba terbuka. Menampakan wajah-wajah keterkejutan yang sangat kentara dari orang-orang yang baru saja membuka pintu tersebut.

“apa yang terjadi? kenapa kau berteriak Kim Hye Ra?!” Tanya sosok gadis yang berdiri dipaling depan deretan orang yang baru memasuki ruangan.

“Hye Ra menyukai Jong In sunbea, Minyoung sunbea.” Celetuk Hyejin disela tawanya. Dan hal itu langsung membuat Hye Ra mengutuki Hyejin dan juga merutuki dirinya sendiri. Oh ayolah, coba kalian pikirkan, andai saja kalian berada diposisi Hye Ra saat itu. Apakah kalian tak akan melakukan hal yang sama? Terlebih jika sosok yang berkaitan juga berada di antara deretan orang-orang itu.

“annie sunbea. aku tak mengatakan apa pun. perempuan ini hanya-”

“tak usah mengelak Hye Ra-aa, seluruh murid di sekolah ini sudah tahu kalau kau menyukai Jong In.” Selak gadis berambut coklat yang berdiri tepat diambang pintu. Gadis itu melirik singkat pada seorang laki-laki yang berdiri tak terlalu jauh dari dirinya.

“Jong In-ah, kau dengarkan. Hye Ra menyukai mu.” Bisik gadis itu, tapi tetap saja dengan volume yang cukup untuk didengar oleh orang lain yang berada di dekatnya.

“Hyo sunbea!!” Seru Hye Ra seketika. Ia kini benar-benar mengutuk seorang Shin Hyejin. Karena gadis itu kesialan akan datang kepadanya.

Sementara Hye Ra sibuk menyumpah serapahkan Hyejin, sosok-sosok yang masih berdiri di depan pintu kini tengah sibuk tertawa -terkecuali sosok bernama Jong In-. Senang atas penderitaan yang tengah melanda Hye Ra.

“sudah. lebih baik sekarang kita mulai rapat kita.” Ujar Miyoung sembari berjalan menuju kursi paling depan. Walaupun nyatanya ia masih ingin tertawa, tetapi melihat bagaimana raut Hye Ra, membuat rasa keibaannya tergugah hingga memutuskan untuk memulai rapat. Terlebih Hye Ra tak hanya bawahannya dikeorganisasian, tetapi Hye Ra juga merupakan sepupunya. Yang tinggal satu atap dengan dirinya.

Seluruh anggota organisasi langsung berhambur menempati tempat mereka masing-masing. Dan tak lama, Miyoung memulai rapat mereka.

“mengenai acara tahunan sekolah. apakah kalian telah membuat demo untuk setiap kegiatan yang akan diadakan pada acara tersebut?” Tanya Miyoung mengawali rapat kali itu.

Sesaat ruang rapat itu bagaikan tempat pemakaman yang sepi sekali dari suara. Namun selang beberapa detik kemudian, seorang laki-laki berdiri memecahkan keheningan.

“ya, kebutulan aku baru menyelesaikan demo untuk dance competition dan pemilihan ‘King & Queen’ dance. apakah kalian ingin melihatnya? sekaligus memberikan masukan untuk video demo ini?” Tawar laki-laki itu pada seluruh jajaran anggota organisasi, yang langsung mendapat anggukan persetujuan. Dengan senang hati laki-laki itu berjalan menuju meja paling depan dengan membawa laptop berwarna putih miliknya.

Sementara itu, Hye Ra masih saja merundukan kepalanya. Ia masih merasa tak memiliki muka setelah ucapan yang dilontarkan Hyejin tadi.

“baiklah, aku akan memulai video-nya.” Ucap laki-laki tadi dan bertepatan dengan itu lampu-lampu di ruangan tersebut menjadi redup.

Video itu mulai berputar, menunjukan wajah-wajah orang yang tengah meliukan tubuh mereka tanpa mengenal lelah. Mereka dengan percaya dirinya menunjukan seluruh kemampuan yang dimiliki di depan kamera yang tengah merekam mereka. Dan tepat saat video itu menunjukan penampilan sosok laki-laki yang duduk berhadapan dengan Hye Ra, seluruh mata anggota organisasi langsung berpaling dan menatap Hye Ra yang masih menundukan kepalanya.

“Hye Ra-ah, coba angkat kepalamu dan lihat video itu.” Tegur salah seorang gadis yang duduk disamping Miyoung.

“ne lihat video itu.” Ucap Hyejin sembari menyikut lengan Hye Ra.

“ah~ aku tahu, kau pasti lebih memilih melihat Jong In yang ada di depanmu dibandingkan Jong In yang ada divideo ini kan?” Ujar laki-laki pemilik laptop berwarna putih itu yang berhasil membuat Hye Ra mengangkat kepalanya sesaat, dan kembali menundukannya saat melihat laki-laki yang duduk dihadapannya.

“aaaggghhh~ bodoh. bodoh.” Batinnya.

o  O  O  O  o

Hye Ra merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah mengunci pintu kamar dan menghidupkan musik. Rasa lelah membuat tubuhnya seperti melayang atau bahkan tak bertulang. Ia merentangkan tangannya, memejamkan mata berharap ia akan tertidur, ya setidaknya untuk mengistirahatkan otaknya walau hanya beberapa saat saja.

Namun rentetan kejadian yang membuatnya terasa sepeti terbakar di pinggir tebing membuat otaknya tak dapat berhenti bekerja. Oh ayolah.. ia hanya gadis normal yang hanya menginginkan kehidupan sekolahnya juga normal. Bukannya diterpa isu dengan salah satu senior favorit sekolah hingga membuat ia juga menjadi pusat perhatian bagi seluruh murid sekolah, terutama murid perempuan.

Hye Ra mengacak rambutnya begitu frustasi. “ini semua karena Shin Hyejin. gadis menyebalkan itu-lah biang kerok dari semua isu tak bertuan itu!!!!”

o  O  O  O  o

Langit hitam telah berganti warna menjadi kebiruan yang ditemani dengan nyanyian merdu dari para burung. Sang pemilik cahaya terbesar pun juga ikut muncul bersamaan dengan perubahan warna langit. Begitupun dengan Hye Ra, ia telah terjaga sejak burung yang hinggap pada pohon di luar kamarnya bersenandung untuk yang pertama kali.

Tanpa membiarkan banyak waktu yang terbuang, Hye Ra langsung merapihkan perlengkapan sekolahnya setelah ia keluar dari kamar mandi. Memasukan buku-buku pelajarannya, dan tak ketinggalan satu buah folder besar yang telah diisi dengan kertas-kertas putih, dan juga seperangkat alat tulis dan gambar. Dan tak lupa, ia juga merapihkan penampilannya sebelum beranjak pergi.

Dengan cepat Hye Ra berjalan menuruni tangga. Dan kembali bergerak cepat menuju keluar rumah, dengan harapan Miyoung -kakak sepupunya- tak menyadari kepergiannya. Masa bodoh dengan bagaimana saudaranya itu berangkat. Yang jelas ia harus sampai di sekolah sebelum kumpulan orang-orang tenar di sekolahnya datang. Bisa gawat jika saat ia datang orang-orang itu telah berada di sana. Tepatnya di depan pintu koridor, tempat yang selalu mereka gunakan untuk menunggu bell masuk berbunyi. Aneh? Gila? Ya.. begitulah orang-orang itu.

Supir yang biasa mengantar kedua saudara itu terlihat bingung manakala hanya Hye Ra saja yang masuk ke dalam mobil. Namun bukan Hye Ra namanya bila tak memiliki beribu macam cara untuk melaksanakan aksinya. Dan pada akhirnya, supir itu segera melajukan mobilnya menuju sekolah dimana Hye Ra harus segera berada.

Hye Ra mengeluarkan foldernya dan juga beberapa alat tulis dari dalam tas. Ia berencana untuk setidaknya membuat sedikit sketsa atau tidak menemukan tema untuk tugasnya dikeorganisasian. Namun sayangnya selama mobil yang ditumpanginya melaju, tak ada satu pun garis yang tergambar difoldernya. Bahkan ide sekali pun belum ia dapatkan sampai mobil itu berhenti di area parkir di depan pintu koridor sekolahnya.

Hye Ra menghela nafasnya. Ternyata menemukan sebuah ide tak semudah yang ia bayangkan. Dan dengan gerakan cepat, ia kembali memasukan folder serta berbagai macam benda yang tadi ia keluarkan ke dalam tas. Dan setelah itu tangannya hendak membuka pintu, tapi urung ia lakukan ketika retinanya menangkap bayangan yang sangat ia hindari.

Senior-senior yang digilai oleh hampir seluruh siswi di sekolahnya telah berdiri di tempat yang mau tak mau pasti ia lewati. Apakah perlu ia sebutkan siapa saja yang berdiri disana? Oh ayolah.. untuk mengingat serta menjelaskan mereka tak membutuhkan waktu yang lama. Mulai dari dua orang tertinggi disana, Choi Minho dan Kris Wu. Mereka sangat digilai karena mahir dalam olah raga. Lalu Kim Kibum dan Kim Minseok, kedua laki-laki itu yang paling mahir dalam ilmu bela diri. Dan jangan lupakan sosok yang paling dihindari Hye Ra, Kim Jong In dan juga teman satu clubnya Lee Taemin. Entah terbuat dari apa tubuh mereka hingga mampu meliuk-liukan tubuh dengan durasi waktu yang cukup lama. Dan tak ketinggalan Xi Luhan dan Oh Sehun, pembawaan mereka yang tenang juga berhasil membuat kedua laki-laki itu berada dijajaran yang sama dengan keenam teman mereka.

Saat ia tengah mengamati kedelapan orang itu, matanya tak sengaja menangkap siluet tubuh seorang gadis yang sangat ia kenali. Dan saat pemilik siluet itu benar-benar muncul, Hye Ra tak mampu menutupi keterkejutannya. Shin Hyejin. Gadis itu juga tengah berada di antara kumpulan orang-orang itu. Hye Ra mendecak. Ia tak habis pikir dengan temannya yang satu itu. Untuk apa ia berada di sana?? Tapi persetan dengan alasan gadis itu yang ikut berkumpul di sana, yang membuatnya menjadi bingung kini adalah…….

Apa yang harus ia lakukan agar bisa masuk dalam keadaan baik-baik saja. Terlebih di sana sudah bergabung gadis menyebalkan yang menyebarkan isu mengenai dirinya yang menyukai Jong In.

Hye Ra melirik sekilas pada jam tangan putih yang terikat dipergelangan tangannya. Pukul enam lebih lima, dan Miyoung masih berada di rumah. Hye Ra kembali menghela nafasnya. Dan dengan berat hati ia turun dari mobil, dan membiarkan mobil itu kembali melaju guna menjemput kakak sepupunya.

Tepat saat mobil itu telah melaju pergi, Hye Ra menatap kearah pintu koridor. Ia perhatikan setiap lekuk pintu itu. Mencari celah yang bisa ia lalui dengan selamat. Namun selama apapun ia mencoba mencarinya, pintu itu tetaplah sebuah benda berbentuk persegi panjang yang terbuat dari besi dengan berbagai ukuran yang terpasang pada tembok sisi kanan, kiri, dan atasnya. Tak ada celah sekecil apapun di sana.

Dan untuk kesekian kalinya nafasnya terhembus. Lebih tepatnya nafas putus asa dan menyerah. Entahlah, otaknya sudah tak mampu lagi memikirkan apa yang akan menimpanya saat ia hendak melewati pintu itu dan bertemu dengan senior-senior tenar itu dan tak ketinggalan gadis mungil bernama Shin Hyejin.

Masih dengan memandangi kumpulan orang-orang itu dan juga pintu koridor, Hye Ra mulai melangkahkan kakinya. Mencoba sebisa mungkin untuk terlihat biasa-biasa saja. Tapi nampaknya usahanya tak membuahkan hasil apapun, karena tepat saat ia akan melewati kerumunan orang-orang itu, namanya dipanggil oleh seorang gadis yang sangat diyakini adalah Hyejin.

Hye Ra merundukan badan memberikan salam kepada senior-seniornya itu. Seakan dewa kematian tengah berdiri di belakangnya, kini tubuhnya terasa seperti terbakar. Tanganya berkeringat dan ia sulit untuk menelan salivanya sendiri. Dan keadaan tubuhnya semakin memburuk manakala sosok Jong In malah melangkah maju mendekati dirinya. Kontan tubuhnya menegang seketika.

“apakah kau telah mengerjakan tugas keorganisasian?”

“belum sunbea, aku akan mengerjakannya sekarang. kalau begitu aku ke kelas dulu. annyeong.” Hye Ra buru-buru melangkah pergi dari tempat itu. Membiarkan tatapan aneh dari senior-seniornya menatap kepergiannya.

o  O  O  O  o

Hye Ra melangkahkan kakinya mencari tempat yang paling nyaman guna mengerjakan tugas yang diberikan Miyoung kemarin saat rapat. Setelah bell istirahat berbunyi, gadis itu langsung melesat pergi meninggalkan kelasnya menuju rooftop sekolah -tempat yang selalu memberikan ketenangan padanya-. Hye Ra masih mengedarkan matanya, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk memilih bagian samping kanan rooftop. Bagian yang tak memiliki perbedaan apapun dengan bagian lain, tapi entahlah. Mungkin jika ia duduk di sana, ia akan mendapatkan banyak inspirasi untuk tugasnya.

Hye Ra membuka foldernya. Mengeluarkan satu buah pensil beserta penghapusnya. Sejenak ia pejamkan matanya. Masih mencoba mencari ide untuk tugasnya.

“ah..” Hye Ra membuka mata dan menjentikan jarinya. Ia tersenyum sebelum kembali berkata “kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya.”

Ia mulai menggerakan pensilnya. Menorehkan berbagai macam garis di atas kertas putih itu. Menyatukan garis-garis tersebut hingga lambat laun garis itu berubah menjadi bentuk yang sebelumnya tergambar diotaknya.

“ah.. akhirnya.” Hye Ra mengangkat folder itu. Menyejajarkannya dengan matanya.

“ini memuaskan. setidaknya aku hanya tinggal memberikan warna pada bagian-bagian yang penting.” Sambungnya.

Hye Ra kembali meletakan pensilnya. Beralih meraih satu kotak berukuran sedang berisi alat-alat pewarna yang biasa dipakainya. Ia keluarkan beberapa warna yang akan ia gunakan untuk menghias beberapa bagian dari gambar yang dibuatnya.

Setelah memilah warna-warna apa saja yang akan ia gunakan, perlahan jari jemarinya mulai tergerak menuangkan tinta-tinta berwarna itu di atas bagian-bagian sketsanya. Mulai dari warna merah, biru, sampai hitam. Semua itu mulai memenuhi tempat-tempat kosong yang sengaja dibuat oleh Hye Ra.

Hingga yang terakhir adalah pewarna bewarna perak yang mulai ia tuangkan diatas kertas yang sudah tidak putih lagi.

“ternyata kau memang berada di sini.”

Hye Ra menghentikan aktivitasnya saat tiba-tiba saja ia mendengar seseorang mengajaknya berbicara. Ia angkat kepalanya melihat pada sosok yang telah berdiri tepat di depannya.

“Daehyun..”

o  O  O  O  o

Teriknya mentari hari itu membuat siang yang melelahkan semakin bertambah melelahkan bagi sebagian besar penghuni bangunan bertingkat berwarna coklat itu. Setiap ruangan yang ditempati oleh hampir tiga puluh siswa itu sudah terlihat tak bersemangat dalam aktivitas mereka sejak bell pertanda jam istirahat berakhir menggema keseluruh penjuru bangunan.

Dan Hye Ra adalah salah satu dari sebagian besar penghuni bangunan itu yang mulai kehabisan tenaganya untuk melanjutkan aktivitasnya. Sejak pelajaran terakhir dimulai, ia telah mempersiapkan tangannya sebagai alat penopang kepala jika nanti ia sudah tak mampu lagi untuk memperhatiakan sosok laki-laki paruh baya yang tengah menjelaskan pelajaran di depan. Dan saat bell nyaring pertanda seluruh kegiatan belajar mengajar berakhir berbunyi, Hye Ra dengan cepat mengangkat kepalanya dan dengan cepat pula memasukan seluruh alat tulis dan juga bukunya ke dalam tas.

“Hye Ra-aa..”

Hye Ra mengangkat kepalanya. Melihat sosok yang tengah berjalan kearahnya.

“eo Daehyun-ah. wae?” Tanya nya sembari kembali merapihkan buku-buku miliknya.

“Jong In mencarimu. kau diminta untuk menemuinya di ruang latihan dance khusus sekarang.”

Sontak Hye Ra menghentikan aktivitasnya. Menatap laki-laki bernama Daehyun itu dengan terkejut. Jong In? Mencarinya? Dan ruang latihan khusus? Apakah laki-laki itu bercanda? Apakah ucapannya hanya sebuah lelucon? Jika ia, itu sama sekali tak lucu!

“kau tak sedang bercandakan? memangnya untuk apa aku kesana?” Tanya Hye Ra pada akhirnya. Sebisa mungkin ia tak menunjukan sesuatu yang mencurigakan dihadapan laki-laki itu.

“annie, aku serius. tadi ia sendiri yang mengatakannya padaku. katanya kau harus menyerahkan tugas keorganisasian. entahlah, aku tak mendengarnya dengan jelas.”

Hye Ra kembali diam. Tugas keorganisasian? Ya ia tahu dan sangat tahu kalau Jong In merupakan partnernya dalam tugas yang diberikan Miyoung kemarin padanya. Tapi siapa dia? Dia hanya seorang senior biasa yang memiliki kedudukan yang sama dengannya dikeorganisasian. Jadi sebenarnya ia tak berhak memerintah Hye Ra untuk datang menemuinya. Jikapun ia membutuhkan tugas itu, kenapa tidak ia saja yang datang?!

“em Daehyun-ah, setelah ini kau akan kemana?”

Daehyun menautkan alisnya. Merasa aneh atas pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir gadis dihadapannya.

“menemui Yoon saem, la-”

“apakah kau akan menemui Taemin sunbea? jika ia tolong sekalian berikan tugasku ini pada Jong In sunbea.” Pinta Hye Ra. Ia menggenggam tangan laki-laki itu. Memasang wajah penuh harap, berharap laki-laki itu merasa iba dan mau menolongnya.

“em.. baiklah. tapi jika ia tidak-”

“pasti mereka tengah berkumpul. kau kan tahu sendiri bagaimana kelompok senior itu.”

o  O  O  O  o

Hentakan musik menjadi backsound dari perbincangan sekelompok laki-laki muda nan tampan yang tengah berkumpul. Candaan-candaan yang mereka lontarkan membuat mereka semakin terhanyut di dalam dunia mereka sendiri. Hingga tiba-tiba saja pintu berwarna coklat yang awalnya tertutup kini terbuka. Menampakan sosok laki-laki yang tengah membawa dua map berwarna merah ditangannya.

“Taemin-ah, ini data dari Yoon saem.” Ujar laki-laki itu sembari menyerahkan salah satu map yang dibawanya pada sosok laki-laki bernama Taemin.

“ne gomawo Daehyun-ah.” Balas laki-laki itu sembari meraih map merah yang diberikan Daehyun padanya.

“oh iya, ada satu lagi.” Daehyun membuka tasnya. Mengambil satu buah folder berwarna biru langit dari sana.

“tadi Hye Ra memintaku untuk memberikan tugas ini padamu Jong In-ah.”

Daehyun menyerahkan folder itu pada laki-laki yang tengah terduduk dengan dua kancing teratas kemejanya yang tak terkancing. Laki-laki itu mengambilnya. Membuka folder tersebut, dan melihat isinya.

“lalu dimana gadis itu?” Tanya nya dengan masih membulak-balikan tiap lembaran kertas di dalam folder itu.

“katanya ia ada urusan lain, makanya ia memintaku untuk memberikan folder itu padamu.” Daehyun kembali menutup tasnya. Ia kenakan tas itu. Dan berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“kalau begiu aku pergi.” Pamitnya. Ia segera melangkah menuju pintu dan setelah itu tubuhnya menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup.

Ruangan itu tiba-tiba saja menjadi sunyi. Tak ada yang bersuara setelah kepergian Daehyun dari sana. Semua tengah sibuk menatap Jong In yang tengah terduduk dengan wajah yang begitu kesal.

“lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya laki-laki dengan kulit putih susunya yang duduk berseberangan dengan Jong In.

Jong In menutup folder itu kasar. Wajahnya yang kesal kini telah berubah. Entah berubah menjadi apa. Air wajahnya sama sekali tak dapat dijelaskan.

“apakah kau akan memperlakukannya seperti apa yang kau lakukan pada gadis terdahulumu itu?” Tanya sosok laki-laki tertinggi di sana.

“entahlah. mungkin aku akan menggunakan cara itu.”
To Be Continued

Hallo.. sebelumnya aku mau ucapin makasih sama admin yang udah bersedia untuk publish cerita ini. Dan aku juga gak akan berlama-lama, aku cuma mau bilang kalau part keduanya mungkin akan lama karena masih dalam tahap pengerjaan. Tapi doakan saja biar cepet selesai. Dan semoga cerita ini bisa memuaskan dunia khayal kalian semua ya.. dan kalau mau kenalan silahkan mampir ke twitter aku @farahwijaya atau instagram di @dhirawijaya.

 

Udah deh.. aku pamit ya. See you di part 2nya…..:)

3 thoughts on “The Unpredictable Heart Attack (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s