When Our Love Came Suddenly (Chapter 8)

When Our Love Came Suddenly

When Our Love Came Suddenly

(chapter 8)

Author : Hwang Sung Ji and Xiu Yu Ri

Main Cast    :

  • Lin Da (OC)
  • Ayu (OC)
  • Kim Joon Myun a.k.a Suho EXO
  • Park Chanyeol a.k.a ChanYeol EXO

Other Cast :

  • All EXO Member
  • Shin Yunra a.k.a Chanyeol ex-yeojachingu

Genre : Happy, Romantic, Friendship, School life, Little Comedy

Length : Chapter

Rating : PG 16

Tok..Tok..Tok..

Terdengar suara ketukan pintu di apartement. Mereka semua saling pandang sambil menebak-nebak siapa yang datang. Ayu segera berdiri dari tempat duduknya dan bergegas membuka pintu apartement.

“Annyeonghaseyeo…” semua mata tertuju pada seseorang di luar sana.

(Chapter 8)

(Author POV)

“Ah ye..Annyeonghaseyeo. Nuguseyeo?” Tanya Ayu ramah dengan senyum manis.

“Aku pengirim paket. Ada paket untuk Erlinda agasshi.” Kata orang itu sambil memberikan kotak berwarna biru dan berpita pink pada Ayu.

“Ah?? Untuk eonni? Eonn…eonni!! Ono paket kiloooo!!” teriak Ayu dengan logat khasnya, Jawa. Lin Da berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke pintu.

Sembilan orang namja saling pandang satu dengan yang lain, ada dua hal yang bisa mereka pikirkan. Pertama, arti dari ucapan yeoja itu. Kedua, paket dari siapa itu. Mereka semua saling bertanya satu dengan yang lain, kecuali satu namja yang tengah tersenyum manis.

“Paket? Untukku? Siapa yang mengirimnya?” Lin Da terlihat keheranan.

“Maaf agasshi, tapi aku hanya di minta untuk mengantarkan ini. Silahkan tanda tangan disini.” Orang itu memberikan sebuah bolpoin pada Lin Da dan memintanya menandatangani kertas itu.

Lin Da kembali ke ruang dimana 10 namja masih mengunyah makanannya, sementara Ayu menutup pintu apartementnya. Ayu segera berlari dan duduk di sebelah eonninya, mereka berdua saling pandang dan mengira-ira siapa pengirimnya.

“Ah..sepertinya teman kita ada urusan lain. Kajja kita pulang. Lagi pula kita semua sudah kenyang. Heuheu..” Sehun berdiri dari tempat duduknya sementara yang lain memandanginnya aneh.

“Heh..kkaepsong!!” ucap Baekhyun. Tak lama kemudian, 9 namja yang lain juga mulai beranjak dari tempat duduknya.

“Lin Da, Ayu. Gumawobseumnida.” Ucap mereka kompak sambil membungkuk 90 derajat kecuali Chanyeol. Suho yang ada di sebelahnya segera menarik kepala Chanyeol agar membungkung.

“Yaa..Hyung!!” protes Chanyeol berusaha menegakkan badan tingginya.

“Ah..aniya!! gwaenchana!! Jangan seperti itu.” ucap Lin Da tidak enak. 10 namja itu segera menegakkan badannya dan mulai berjalan ke arah pintu disusul Lin Da dan Ayu.

Mereka semua berpamitan dan berkata jika akan kembali lagi untuk mencoba masakan Indonesia buatan Lin Da. Mereka sukses membuat pipi yeoja itu merona karena pujian mereka. Setelah melihat mereka mulai berangsur-angsur meninggalkan apartement itu, Lin Da dan Ayu berlari untuk membuka paket itu.

“Kajja..kita buka!!” Lin Da segera membuka ikatan pita pada kotak itu. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka menemukan sebuah dress casual cantik berwarna pink soft selutut dengan sepucuk surat di atasnya. Kurang lebih berisi seperti ini.

Annyeong Lin Da-sshi

Aku harap kau menyukai dress ini.

Ini adalah pertama kalinya aku membelikan seorang yeoja pakaian.

Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.

Aku akan menjemputmu besok jam 2 siang.

Pakai dress ini, ne.

Annyeong..

 

“Mwo!! Eheey!! Rupanya ada yang tertarik padamu. Wuuushshshshsh!!” Ayu bertepuk tangan ria dan menggoda eonninya yang tengah merona pipinya.

“Geunde, tidak ada nama pengirimnya.” Lin Da tersadar jika di surat itu tidak tertera nama pengirim paket untuknya.

“Ah, matta.. Eihhh, Dweitda.. lagipula besok kau juga tahu siapa yang menjemputmu. Aku akan membuatmu cantik eonni.” Ayu mengeluarkan evil smirknya.

(Chanyeol POV)

“Apa kalian tidak penasaran?” Sehun membuka pembicaraan di dalam mobil milik Suho.

“Soal paket yang diterima Lin Da itu?” tanyaku.

“Ah, kotak itu? sepertinya ada yang menyukainya?” perkataan Baekhyun membuat seisi mobil membelalakkan matanya kecuali yang berkonsentrasi dengan jalan.

Benar juga, sebenarnya aku juga penasaran dengan kotak itu. Kotak pink berpita biru. Tidak mungkin jika yang mengirimkan itu tidak bermaksud apa-apa pada Lin Da. Aku yakin, jika kotak itu dari seseorang yang menyukainya. Apa mungkin..

“Ya!!! Chanyeol-ah? Kau melamun? Apa kau tau siapa yang mengirimnya?” Lay mengagetkanku. Aku hanya menggeleng dan pandanganku tertuju pada namja di sebelahku, Suho hyung.

“Hyung, apa kau tau siapa yang mengirimnya?” tanyaku curiga pada Suho. Menurutku semenjak paket itu datang, Suho lah yang tingkahnya paling tidak wajar.

“M..mm..molla..” jawabnya gagap. Evil smirkku muncul, kena kau Hyung. Kau tidak bisa membohongiku.

(Lin Da POV)

Entahlah, aku masih tidak yakin akan hal ini. Di dalam otakku masih berpikir siapa yang mengirim dress ini. Di tengah-tengah kesibukan ku yang sedang ditarik kesana kesini untuk membeli perlengkapan make up, jujur hal ini sebenarnya menggangguku. Siapa orang itu? apa mungkin..

“Eonni. Otte? Kau lebih suka warna ini atau ini?” Ayu menyodorkan dua buah lipstick berwarna merah muda.

“Entahlah, warnanya seperti sama.” Aku membandingkan warna dua lipstick yang sudah berada di tanganku. Dengan kasar, Ayu menarik lipstick-lipstick itu.

“Ya!! Aisssh!! Pabo..kau bahkan tidak bisa membedakan warna. Aigo.” Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya!! Sebenarnya yang mau berkencan itu siapa? Kenapa jadi kau yang repot uh? Sudahlah kita pulang, lagi pula itu sudah cukup. Aku tidak mau menor-menor.” Aku mulai merengek mengajaknya pulang. Karena jika tidak, bisa semua kosmetik di toko ini dia beli.

“Ya sudah lah. Permisi, aku ingin membeli dua lipstick ini.” Ucapnya seraya memberikan benda itu pada penjualnya. Benarkan kataku, bahkan dia membeli keduanya. Dasar! Ck.

.

.

.

“Eonni, kau harus terlihat cantik nanti.” Aku benar-benar heran dengan sikapnya. Bukankah yang berkencan adalah aku? Tapi dia yang terlalu antusias.

“Apakah kau harus menaruh mentimun-mentimun ini? Hey, sudahlah. Hanya bertemu, kenapa harus berlebihan seperti ini?” aku memandanginya yang masih saja menaruh irisan mentimun di wajahku. Sepertinya ucapanku tidak dihiraukan.

“Ya..setelah ini kau mandi sana. Sudah jam 11. Tiga jam lagi dia menjemputmu. Okay.” Ayu meninggalkanku dengan mentimun-mentimun ini. Setidaknya dia telah berusaha dan aku akan menghargai itu. Gumawo nae dongsaeng.

(Author POV)

Di dalam apartement itu sedang kalang kabut karena seorang yeoja sedang mempersiapkan temannya untuk berkencan. Lin Da tengah duduk manis di atas kursi meja rias yang ada di kamar mereka. Sementara Ayu sedang bergulat dengan peralatan make up yang dia beli kemarin.

“Ya!! Kau apakan wajahku ini? Huh?” Lin Da memejamkan matanya karena perintah Ayu.

“Malhaji maseyo eonni, jika kau banyak bicara, kau akan merusak hasil karyaku. Tunggu sebentar aku hampir selesai.” Ayu sedang memakaikan eyeshadows yang warnanya terlihat natural dengan kulit Lin Da.

“Asssaaaa!!!! Sekarang, bukalah matamu perlahan. 1..2..3..Jjjjaaangg!!!!” Lin Da mulai membuka matanya perlahan seiring hitungan Ayu. Matanya membulat ketika melihat yeoja cantik di pantulan cermin itu.

“A..apa..itu aku?” Tanya tak percaya. Ayu hanya memberikan evil smirknya.

“Otte? Kau suka?” Ayu terlihat sangat puas dengan hasil karyanya.

Lin Da masih terkagum-kagum dengan dirinya sendiri. Selama ini, dia belum pernah melihat dirinya sendiri secantik ini. Kali ini dia benar-benar berterima kasih pada dongsaengnya yang telah membantunya.

Tingg Tongg!!!

Yeoja-yeoja itu terkejut ketika suara bel di apartementnya berbunyi. Terutama yeoja cantik yang bernama Lin Da. Ayu melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 14.05.

“Chakaman gidaryeo, aku akan membuka pintunya.” Ayu segera berlari ke pintu.

Dia mengintip pada lubang yang ada di pintunya. Di depan pintunya kini tengah berdiri seorang namja yang tengah membelakanginya. Merasa tidak bisa menebak orang yang ada di depan sana, dengan perlahan dia membuka pintu apartement perlahan.

“Annyeong..” tangan namja itu melambai pada Ayu.

“Omo..N..ne..neo!!” Ayu tersentak kaget melihat namja yang tengah berdiri tersenyum di depannya.

“Apa Lin Da sudah siap??” Tanya namja yang tak lain adalah.

“Suho. J..jadi..k..kau yang memberikan..” Ayu masih membelalakkan matanya tak percaya.

“Ne. Apa Lin Da sudah siap??” tanyanya lagi.

“Aigo..Omo..Eonni..Lin Da Eonni!!! Palli!! Palli!! Dia sudah datang…” Ayu mulai berteriak memanggil eonninya dengan penuh semangat yang membara.

“Ne..Chakamanyeo.” teriaknya dari dalam kamar.

Seorang yeoja yang memiliki lesung pipi dan berambut hitam legam ini mulai menampakkan dirinya. Mata Suho berbinar-binar ketika melihat Lin Da berbalut dress yang dipilihnya. Dress casual namun benar-benar terlihat sempurna di tubuhnya. Tak henti-hentinya Suho memuji Lin Da dalam hatinya.

“Ah..Suho-ya. Untuk apa kau..Omooo!! Apa kau yang…” Lin Da tampak terkejut bahwa Suho yang menjemputnya. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya tak karuan.

“Kajja. Kita pergi.” Ajak Suho sambil mengulurkan tangannya pada Lin Da halus. Lin Da masih dalam lamunannya sampai akhirnya Ayu mendorongnya keluar apartement seolah mengusirnya. Ayu menatap mereka berdua yang mulai menghilang dari pandangannya.

(Suho POV)

Mataku benar-benar tersihir dengan kecantikannya. Entahlah, aku hanya tidak mau sedetik pun memalingkan pandanganku darinya. Dia sangat sempurna kali ini. Aku kira Lin Da tidak akan menyukai dress itu. Eomma, terimakasih sudah memilihkannya.

“Lin Da-ah. Neo jeongmal yeppeoda.” Mataku masih memandanginya.

“Ne? ah jinjja? Gumawo.” Dia tersipu malu di balik senyuman berlesungnya. Aku mulai melajukan mobilku pergi dari apartement mereka.

“Geunde, kau ingin mengajakku kemana?” katanya sambil meraih seatbelt dan memasangnya.

“Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku harap kau suka.” Aku sesekali memandanginya. Jika saja aku tidak menyetir, akan kupastikan aku tak akan berkedip melihat yeoja di sampingku ini.

.

.

.

“Kajja kita sampai.” Aku berhenti di sebuah peternakan kuda milik keluargaku. Aku turun dari mobil dan berlari untuk membukakan pintu untuk yeojaku. Sebentar? Yeojaku?

“Apa ini peternakan kuda milikmu?” Lin Da memandangi sekelilingnya. Di samping kanan kami ada sebuah hutan yang dipenuhi dengan pohon yang daun-daunnya sedang berguguran.

“Ne. apa kau pernah menaiki kuda sebelumnya?” aku mulai melangkahkan kaki. Dia mengikutiku dan mengsejajarkan langkah kami.

“Langsung? Aku rasa tidak. Di tempat kami ada semacam kereta kuda yang biasa kami sebut andong atau dokar.” Ucapnya. Aku berpikir sejenak dengan kata-kata yang dia ucapkan. Sepertinya dia sadar jika aku bingung.

“Sudahlah lupakan. Hahaha, kau lucu saat kebingungan.” Tawanya renyah. Aku hanya menggaruk tengkukku.

(Author POV)

Meninggalkan kesenangan dan keromantisan yang akan dimulai Suho dan Lin Da. Kini beralih pada seorang yeoja yang tengah terdiam seribu bahasa di dalam apartementnya. Ayu berulang kali menekan tombol-tombol pada remote tv.

“Otteokae?? Aku benar-benar bosan di apartement sendiri. Huaaa!!!” Ayu memulai kegilaannya yaitu berbicara sendiri.

Tingg Tongg!!

Terdengar suara bel apartementnya pertanda ada tamu yang datang. Ayu terlihat berpikir keras sambil menyipitkan matanya dan sesekali melihat ke arah pintu. Dia sesegera mungkin mematikan tv dan berjalan mengendap-endap ke arah pintu.

“Yaa!! Cepat buka!! Aku tau kau di dalam Ayu-ya!!” teriak seseorang di luar sana. Ayu mengintip di lubang pintu seperti saat Suho datang dan betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang ada di sana.

“C..Ch..Chanyeol-ah” Ayu membelalakkan matanya dan segera membalikkan badannya. Dia bingung apa yang harus di lakukan sementara Chanyeol terus menggebrak-gebrak pintu apartement. Ayu menegapkan tubuhnya, merapikan rambutnya dan bajunya yang kusut lalu berbalik menghadap pintu. Dengan perlahan sekali, Ayu membuka pintunya.

“O..o..nuguseyeo?” katanya sambil menatap Chanyeol polos. Kalian tahu jika dia hanya membuka sedikit pintunya dan hanya menampakkan kepalanya saja.

“Ya!! Mwoaneungoya??” tanyanya sinis. Chanyeol segera mendorong pintu apartement dan memaksa masuk. Itu membuat Ayu terdorong ke belakang.

“Yaa!! Ya!! Siapa yang mengizinkan kau masuk? Cepat keluar!! Aku tidak mau tetanggaku salah sangka!!” usir Ayu. Tanpa mengindahkan perkataan yeoja itu, Chanyeol segera menutup pintu apartement dan menarik tangan Ayu.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?? Appo!!” Ayu berusaha melepaskan genggaman erat Chanyeol. Chanyeol terus menariknya dan membawanya ke kamar yeoja itu.

Chanyeol segera melepaskan genggaman tangannya ketika mereka mulai masuk di kamar Ayu. Keringat dingin Ayu mulai keluar. Jantungnya berdetak dengan kencang mengira-ngira apa yang akan di lakukan namja itu bersamanya di kamar ini. Pikirannya sudah kemana-mana.

“A..app..apa yang akan kk..kau lakukan??” Ayu tergagap-gagap dan segera menyilangkan tangannya di depan tubuhnya. Chanyeol memutar bola matanya jengah.

“Ya!! Apa yang kau pikirkan? Dasar yadong!!” ucap Chanyeol ketus. Ayu melirik tajam ke arahnya.

“Mworago? Yaaa!!” Ayu memukul punggung Chanyeol berkali-kali.

“Hajimaa!! Dimana lemarimu?” Chanyeol menelurusi isi kamar itu sampai akhirnya menemukan apa yang dia cari.

Chanyeol segera menghampiri lemari dan membuka isinya. Dia melihat deretan pakaian-pakaian Ayu dan Lin Da yang terjajar rapi. Tangannya mulai mengambil satu persatu baju itu dan membuangnya ke kasur di belakangnya. Ayu hanya memasang wajah cengo melihat kejadian di depannya.

“Palli pakai ini!!” Chanyeol menyodorkan sebuah baju rajutan berwarna violet serta celana jeans. Ayu hanya memberinya tatapan kosong.

“Shireo!! Pakai saja sendiri!!” Ayu berjalan meninggalkan kamar dan mulai membuka pintu. Chanyeol segera menarik tangannya dan mendorongnya ke tembok.

“Kau benar-benar menolaknya?” Chanyeol meletakkan tangannya di sebelah kiri yeoja itu dan mengunci pergerakannya.

“Kau tidak bisa mengancamku lagi Tuan Park.” Ayu dengan keras menurunkan tangan Chanyeol yang menghalanginya keluar. Namun Chanyeol tidak kehabisan akal, dia segera menarik tangan yeoja itu kembali dan memeluknya dari belakang.

DEG!!

“Y..yya!! A..appa yang kau lakukan.” Ayu membelalakkan matanya. Tubuhnya mulai tidak bertenaga menerima perlakuan dari Chanyeol. Detak jantungnya mulai tidak berirama. Darahnya berdesir dengan cepat.

“Jika kau tidak mau memakainya. Em..kira-kira apa yang bisa dilakukan yeoja dan namja yang hanya berdua di apartement yang sepi ini? Bagaimana? Kau mau tahu apa yang bisa di lakukan.” Chanyeol berbisik seduktif tepat di telinga Ayu dengan suaranya yang errrr berat.

Chanyeol membalikkan tubuh Ayu agar bisa menghadapnya. Dalam hatinya sedang tersenyum penuh kemenangan karena yeoja itu tidak bisa berkutik lagi. Ini adalah kesempatan baginya.

“Cepat nona. Kau memilih memakai ini dan kau selamat atau kau lebih memilih bersamaku di sana?” Chanyeol menyodorkan pakaian itu dan juga menunjuk tempat tidur di kamar itu. Sekali lagi Ayu membelalakkan matanya.

“Arraseo..arraseo!! aku memakainya!! Byuntae.” Katanya sambil berbisik pada kata terakhir.

“Ahh..kyeoptaa!!” Chanyeol mengacak-acak rambut Ayu sambil tersenyum manis. Sementara Ayu menghembuskan nafasnya kasar dan menghempaskan tangan Chanyeol. Chanyeol berjalan keluar kamar dan duduk di depan tv.

Hampir 15 menit lebih Chanyeol menunggu. Sudah dua puluh majalah yang dia baca, dia juga sudah hampir sampai ke channel nomor 100. (*author lebay) Chanyeol mendengus kesal dan segera berdiri dari tempat duduknya menuju kamar Ayu.

“Yaa!!! Kenapa kau lamaa sekaa…” Ayu membuka pintu kamarnya

“Li…” Lanjut Chanyeol. Chanyeol membelalakkan matanya melihat yeoja di depannya. Bagi Chanyeol dia terlihat sangat-sangat menawan. Pakaian casual sopan namun tetap membuat yeoja itu memperlihatkan sisi cantik dan manis. Perfect.

Mereka saling menatap sampai beberapa saat. Namun seketika wajah mereka berdua berubah merah. Chanyeol berdehem menutupi kegugupannya sekarang. Dia berusaha tidak memperlihatkan detak jantungnya yang benar-benar di luar normal.

“Kajja..” Chanyeol mempersilahkan Ayu untuk berjalan di depannya. Ayu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

.

.

.

Chanyeol melajukan mobil sport putih kesayangannya meninggalkan apartement. Di dalam mobil hanya ada keheningan yang tidak seperti biasanya. Sesuatu yang mustahil jika seorang Chanyeol bisa berhenti beradu mulut dengan yeoja di sebelahnya. Namun tidak untuk kali ini.

“Mm..aku akan memutarkan lagu untuk penampilan kita.” Chanyeol membuka percakapan. Ayu hanya mengangguk pelan sambil mencuri-curi pandang pada Chanyeol.

Sebuah lagu berjudul I’m Going To Meet You Now di putar oleh Chanyeol. Ayu memperhatikan dengan seksama lagu itu. Chanyeol masih terfokus pada jalan walaupun sesekali melihat Ayu yang masih berkonsentrasi dengan lagu itu.

“Ambil ponselku. Cari liriknya disana. Aku sudah membuat bagian-bagiannya. Kau tinggal menghafalkannya.” Chanyeol menjelaskan dengan mata yang masih fokus dengan jalan.

Mobil sport putih milik Chanyeol berhenti di depan gerbang rumah yang bisa dibilang seperti istana. Ayu hanya membulatkan matanya dan membuka lebar-lebar bibir kecilnya, sementara Chanyeol terlihat sangat santai. Dua orang penjaga tengah membuka gerbang rumah itu.

“Eodiga? Kenapa kita kesini?” Ayu menatap Chanyeol. Namun Chanyeol lebih memilih diam seribu bahasa.

Sekarang mobil itu sedang di parkirkan bersama 5 mobil lainnya yang berjajar rapi di garasi rumah itu. Ayu masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Chanyeol turun dari mobil disusul dengan Ayu.

“Welcome to My House, Agasshi!”

TO BE CONTINUED

2 thoughts on “When Our Love Came Suddenly (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s