Darling Smoker (Chapter 5)

A Storyline Present By:
@diantrf

Darling Smoker
(What’s Going On?)

Cast:
Xiao Luhan, Zhang Yixing/Lay, Kim Jongin/Kai (EXO) | Park Cheonsa, Han Hyunna (OC)

Genre: Romance, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:
Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4

DC:
Terinspirasi dari sebuah komik dengan judul yang sama (Darling Smoker—Mizuto Aqua). Banyak adegan yang sama antara cerita asli dan ff ini, namun yang membedakan adalah adanya pengembangan cerita dan gaya bahasa khas penulis sendiri.

0o0

Yang pertama kali kulihat ialah langit-langit kamar yang cukup rendah. Beralih ke kanan aku dapat melihat boneka beruangku yang terduduk di atas nakas. Di samping kiri pula terpampang jelas mading kamarku yang memajang banyak sekali catatan sekolah dan juga target hidupku. Mataku berkedip untuk pertama kalinya.

Ini di kamarku? Benarkah?

Refleks aku duduk terbangun dengan napas tersengal. Tidak, tidak mungkin! Apakah semuanya hanya mimpi? Benar-benar hanya mimpi? Mobil itu… Vilanya? Luhan…

“Semuanya hanya mimpi, ya?” Aku tertawa kecil, agak tak ikhlas.

Kepalaku menunduk dalam, napasku tak teratur. God, it just a dream? Jinjayo? Huh, mengapa semuanya terasa sangat nyata semalam? Suara bahkan juga segala memori di sana. Benarkah hanya mimpi?

This is crazy! Aku bisa gila jika seperti ini jadinya. Oh Tuhan, mengapa seperti ini? Mengapa harus seperti ini? Kukira semuanya nyata dan akan berakhir bahagia, atau setidaknya segalanya memang nyata walaupun tak berakhir bahagia. Tapi apa ini? Mengapa aku bisa terbangun di kamarku sendiri?

“Cheonsa, cepat turun dan sarapan!”

God, jam berapa sekarang? Jika Eomma sudah memanggilku untuk sarapan, berarti…

“It’s eight o’clock! I must be late!”

Dengan tergesa aku berlari menuju kamar mandi dan membasuh diri seadanya. Setidaknya walaupun tidak mandi tubuhku masih masuk kategori bersih, tidak seperti Jongin yang walaupun sudah mandi tetap saja—aish, mengapa aku masih bisa memikirkan Jongin saat ini?!

“Cheonsa, cepatlah!”

“Ne, Eomma!”

Huh, selalu pergi dinas tapi jika sudah di rumah akan menjadi sangat berisik, itulah orangtuaku. Kadang aku berharap mereka dinas ke luar negeri yang jauh dan baru kembali saat natal dan tahun baru. Oke, itu permintaan yang sangat konyol.

Aku menuruni anak tangga satu per satu dengan cepat, sesekali membenahi seragamku yang takutnya kusut atau apa. Park Cheonsa tak kenal yang namanya seragam berantakan, tentu saja. Langsung saja aku berbelok ke arah dapur saat tiba-tiba saja mendapati sebuah pemandangan paling absurd abad ini.

Appa, yang sedang sarapan. Shit, bukan ayahku yang kupermasalahkan, tapi seseorang yang duduk di hadapannya, memakai seragam yang sama denganku with another version of me. Rambutnya cokelat dan seakan bercahaya, mungkin akibat efek terkejut dalam diriku. Dia Luhan!

“Cheon? Kenapa melamun di pintu? Cepat sarapan karena Luhan sudah lama menunggu.”

Seandainya Appa tahu betapa terkejutnya diriku saat ini. Seandainya saja mereka tahu betapa aku ingin sekali berteriak karena frustrasi. Bagaimana bisa ada Luhan di sini dan dengan bodohnya kedua orangtuaku seakan santai saja dengan hal itu?! Lagi juga, mengapa mereka saling kenal?

“Sepertinya terbentur pinggiran kolam renang kemarin membuatnya melupakan beberapa hal, Abeoji.”

Apa? Abeoji? Sejak kapan ia jadi saudaraku?! Sejak kapan pula Luhan menjadi sedekat itu dengan keluargaku?

And hell, what he said? Aku terbentur pinggiran kolam renang dan melupakan sesuatu? Gila, benar-benar gila! Apa-apaan itu? Tak mungkin itu terjadi. Aku masih cukup waras untuk mengingat jika yang terakhir kali terjadi di antara kami ialah aku yang terjebak di dalam kamar sialan yang sama dengan Luhan, dan juga Luhan yang akan—

Tidak, pipiku memanas dan Luhan sepertinya bisa membaca pikiranku! Oke Tuan Drama, kita lihat siapa yang memiliki kemampuan akting lebih baik.

Walaupun pura-pura fokus mengunyah makanan, aku yakin seribu persen jika Luhan tengah tersenyum mesum saat ini. Dasar penjilat, aku benar-benar menyumpahinya berkali-kali dan berharap semoga ia bereinkarnasi menjadi katak!

“Cheonsa, cepat duduk dan habiskan makananmu.”

“Aku tidak lapar, Eomma. Aku ingin langsung berangkat,” ucapku singkat lalu mencium pipi Eomma, tak lupa menghampiri Appa dan mencium pipinya.

Aku menatap tajam Luhan dan berlalu begitu saja menuju pintu. Kupercepat langkah kakiku sembari mengikat rambutku menjadi satu ke belakang, yang sialnya langsung ditarik oleh seseorang yang kuyakini ialah titisan hantu penunggu gua di gunung Fuji bersama dengan yeti.

“Cepat berangkat sekarang atau kita akan terlambat,” katanya tanpa menoleh ke arahku. Dasar tidak sopan! Dia pikir karena dia senior dan bisa memperlakukanku seenaknya? Stop dreaming, Luhan.

Aku menepis tangannya yang hendak menggenggam telapak tanganku. Tanpa mengatakan apa pun aku langsung kembali berjalan dan meninggalkannya. Hingga lagi-lagi jalanku terhenti olehnya, yang kini menggenggam lenganku dengan sangat kuat. “Kau tak ingin berangkat denganku? Sepuluh menit lagi bel akan berbunyi dan kupastikan kau harus datang ke ruanganku untuk menjalani hukuman.”

Masa bodoh dengan hukumannya aku tak peduli. Tanpa menatap wajahnya lagi-lagi aku menepis tangannya dari lenganku dan kembali berjalan keluar gerbang. Sepertinya ia tak mengikutiku, tapi aku mendengar teriakan super keras yang sangat menyebalkan.

“Baiklah jika itu maumu. Sampai jumpa di ruanganku dua puluh menit lagi!” Cih, bisa-bisanya ia memprediksi waktu kehadiranku. Dia pikir ia itu siapa?

Langkahku baru mencapai pertigaan depan jalan besar saat mobil Luhan melaju dengan kecepatan ekstrem di sampingku. Bagaimana aku tahu kalau itu mobil Luhan? Dilihat dari kecepatan gilanya dan aku memang masih mengingat bagaimana penampakan mobil Luhan. Lihat, kan? Semua itu bukan mimpi melainkan kenyataan! Aku harus mengetahui kejadian sebenarnya mengapa aku bisa terbangun di kamarku dan Luhan yang mengungkit-ungkit aku yang terbentur pinggiran kolam renang.

Sesekali aku melirik jam di pergelangan tanganku. Baiklah, aku resmi akan telat hari ini. Bus tercepat baru akan datang lima menit lagi, bertepatan dengan bunyi bel masuk jam pertama. Matilah kau, Cheonsa. Ini semua karena aku terlalu memikirkan Luhan hingga melupakan sekolah. Dasar ikan teri!

0o0

Jujur, aku pernah terlambat satu kali dan yang menangani sekaligus orang yang mengurangi poinku ialah senior tampan bernama Kim Myungsoo, bukannya ikan teri menyebalkan bernama Luhan.

“Jadi Nona Park, apakah alasan keterlambatanmu?”

Sial, harusnya aku mengikuti pelajaran Kimia saat ini dan melakukan eksperimen pencampuran senyawa yang sangat aku nantikan sejak bulan lalu. Huh, Jongin yang bodoh itu pasti akan meledakkan laboratorium dua puluh menit lagi jika aku tak segera keluar dari ruangan menyebalkan ini.

“You’ve already knew the reason why I was late, Sunbaenim,” ujarku dengan penuh penekanan dan emosi yang tertahan. Persetan dengan perasaan cintaku untuknya, ia sungguh menyebalkan!

Kulihat Luhan membulatkan matanya sepersekian detik, membuatku sedikit mengulas senyum kemenangan. Rasakan itu! Bukan hanya kau saja yang bisa bertingkah swag menyebalkan.

Ia kembali menjatuhkan fokusnya padaku dan berucap, “Really? Salah siapa tidak mau ikut denganku? Kau harusnya menurut dan lihat sekarang, kau harus menjalani pengurangan poin—“

“Bisakah Sunbae bersikap profesional dan langsung saja kurangi poinku tanpa bicara panjang lebar lebih lama lagi? Aku harus kembali ke kelas Kimia jika Sunbae tak ingin mendengar laboratorium kita terbakar sepuluh menit lagi.”

One strike, Park Cheonsa! Luhan kembali terdiam dan memandangku tak percaya. Yah, mungkin ia bingung dengan maksud laboratorium yang terbakar karena aku tak menjelaskan detil bagaimana buruknya Jongin dalam mencampurkan berbagai senyawa asing, yang hebatnya lagi mungkin ia bisa langsung direkrut salah satu negara komunis besar di dunia karena telah berhasil membuat ramuan bom yang sempurna. Oke, aku terlalu banyak berpikiran nonsense, kita kembali pada Luhan.

Bukannya terdiam atau apa, aku merasakan hawa aneh di sekitar sini. Wajah Luhan menyiratkan sesuatu, kerlingan mata hazeld-nya yang seolah ingin memakanku atau bahkan lebih parah…

Aku harus keluar dari sini!

Mencoba bangkit perlahan dari kursi dan tersenyum semanis mungkin padanya adalah satu pengalihan perhatian yang bisa kulakukan saat ini. Hanya harus keluar dari ruangan ini dan aku mungkin masih bisa hidup as normally Park Cheonsa.

“Sunbae, maaf tapi sepertinya aku harus benar-benar pergi ke kelas sekarang, jadi—“

Unlucky me, entah kapan Luhan telah berada di sampingku dan menarik lenganku mendekat ke arahnya. Huh, sangat drama, aku terperangkap dalam dekapannya. “You said I must be professional, right?”

Yang terakhir kali kuingat ialah deru napasnya yang memabukkan dan sentuhan manis yang berkali-kali menyapaku. Selalu seperti ini, aku hanyut dalam pesona liarnya yang memikat. Sejak kapan aku bisa memuja cinta sebegini hebatnya?

Mataku tertutup hingga kurasakan punggungku menabrak sesuatu yang keras; dinding. Luhan dengan sempurna memenjarakan tubuhku. Ia melepas ciumannya, tak lantas membuatku segera membuka mata. Napasnya beralih ke sampingku, membisikkan sesuatu dengan lirih.

“Bukankah sudah kubilang jika kau telah menjadi milikku? And just remind you, apa yang telah kulabeli sebagai milikku, jangan harap bisa menghilang begitu saja dari pandanganku.”

God please save me, aku janji akan menjadi anak baik setelah ini asalkan Kau dapat mengeluarkanku dari sini. Aku hanyalah domba kecil tak berdaya yang tengah berada dalam bahaya.

“Luhan? Buka pintunya.”

THANKS GOD! Aku akan benar-benar jadi anak baik setelah ini. Siapapun orang di balik pintu itu akan kudoakan yang terbaik untuknya dan ia akan menjadi malaikat surga di kehidupan yang akan datang. Bersamaan dengan doaku untuk orang itu, Luhan akhirnya melepaskan kontak di antara kami dan menghampiri pintu. Nampak Yixing Sunbae dengan wajah lelahnya menatap Luhan intens.

“Hyunna mencari Cheonsa, Laboratorium Kimia terbakar karena ulah Kim Jongin.”

Daebak, laboratorium benar-benar terbakar karena ulah Jongin. Memanfaatkan kesempatan, aku langsung berjalan ke arah mereka dan dengan cepat melewati Luhan hingga aku resmi keluar dari ruangan laknat itu.

“Oke Sunbae, sampai bertemu nanti!” teriakku dengan mengambil langkah seribu untuk keluar dari ruangan itu.

Hah, angin surga serasa menyapaku saat aku berlari menuju kelas. Pasti kali ini Jongin telah membuat kesalahan yang sangat fatal hingga laboratorium benar-benar terbakar karenanya. Bahkan dari sini aku bisa mencium bau asap yang sangat menyengat.

Ayunan kakiku terhenti di depan kelas, yang tepatnya sedang dikerubungi oleh banyak siswa kelasku. Aku mencoba menerobos ke dalam dan mendapati Jongin yang sedang diobati oleh Sunhwa.

“Eoh, Cheonsa? Kudengar kau terlambat.”

Kimchan ialah orang pertama yang menyadari kehadiranku di kelas, membuat sembilan puluh persen penghuni kelas menatapku dengan mata penasaran. Jongin salah satunya, walaupun dengan wajah menderita khas kesakitan. Aku mendekatinya dan Sunhwa entah mengapa langsung menyingkir, memberikanku akses untuk mencapai Jongin lebih dekat.

“Kau ke mana? Ingin melihatku mati, ya?” sarkas Jongin ketika aku mengambil alih untuk mengobati luka di hampir seluruh lengan kirinya. Kulitnya yang sudah cokelat itu mungkin akan menjadi tambah gelap untuk beberapa hari kedepan.

“Berhenti mengatakan hal yang tidak penting dan maafkan aku. Aku mengalami hari-hari buruk sejak beberapa waktu lalu.”

Wajahku sudah diatur seprihatin mungkin agar Jongin luluh, dan ia hanya tersenyum kecil memaklumiku. “Memangnya hal buruk apa?”

Di sekitar kami sudah tak ada orang lagi, mereka kembali ke bangku masing-masing dengan kegiatan tersendiri. Aku menatap Jongin dalam, berharap dengan pertemanan kami yang cukup lama ini ia mengerti bagaimana sengsaranya diriku karena cinta gila yang memuakkan.

“Bolos selama beberapa hari dan juga terlambat hari ini. What’s wrong with you, Cheon?”

Daebak, hal serius seperti ini mampu mengubah Jongin dari are you is wrong menjadi what’s wrong with you. Sepertinya yang Jongin butuhkan untuk menjadi pria idaman setiap wanita hanyalah datangnya sebuah kiamat, the worst day ever, end of the day.

Mataku tak ingin memandang Jongin, hanya ingin terfokus pada lukanya yang terlihat sangat mengerikan jika ditilik lebih dekat. Jika kemampuan berbahasa asingnya sudah meningkat seperti itu berarti Jongin sedang serius. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi padaku.

“Hah, baiklah jika kau hanya diam, aku juga tak ingin terlalu peduli dengan masalahmu. Paling parah pasti hanyalah tentang percintaanmu yang buruknya di luar batas keburukan.”

Bingo, Jongin memang sahabatku, terbukti dengan perkataan menusuknya barusan. Apakah wajah sepertiku hanya bisa memikirkan tentang percintaan, terlebih lagi the worst one? Ini masih menjadi sebuah misteri.

Aku masih sibuk mengobati lukanya saat kudengar kembali suaranya, “Datanglah ke rumah pulang sekolah nanti, aku butuh orang untuk mengobati lukaku.”

Hello? Pardon me? Ia memiliki banyak asisten rumah tangga di kediamannya, terlebih lagi dapat dengan mudah pergi ke rumah sakit. Demi Tuhan, orangtuanya adalah dua dokter paling profesional di seluruh penjuru Seoul dan ia masih bisa berkata seperti itu? Rest In Peace untuk kewarasan Kim Jongin.

Mungkin ia sudah tahu bahwa aku akan menolak jika dilihat dari wajahku, maka dari itu ia melanjutkan, “Ayolah, seumur hidup menjadi temanku kau tak pernah datang berkunjung. Sahabat macam apa itu?”

Sahabat yang sebentar lagi akan membunuhmu di kamarmu sendiri, itulah diriku. Hah, ia memang selalu menyusahkan. “Baiklah, hanya karena kau yang meminta.”

Oh ya, satu hal yang kulupakan ialah betapa manisnya Jongin saat tersenyum tulus seperti saat ini. Pantas saja senior cantik itu betah terikat hubungan dengannya. Eh, tunggu. “Ya, untuk apa kau memintaku merawatmu? Kenapa tak minta ke Ryeona Sunbae saja?” tanyaku penasaran.

Ia menaikkan sebelah alisnya, tanda bingung. “Ini semua adalah tanggungjawabmu. Jika saja kau datang tepat waktu dan mengikuti kelas bersamaku mungkin saja kebakaran yang konyol itu tak akan pernah terjadi dan aku masih sehat-sehat saja sekarang.”

Oke Kim Jongin, you got me.

Setelahnya hening di antara kami, karena aku pun malas meladeni sejuta alasan yang mungkin telah Jongin siapkan untuk merespon penolakanku. Untuk sesaat aku pun tenggelam dalam duniaku sendiri.

Melihat Jongin yang bahagia dengan kekasihnya, bahkan hubunga Hyunna dan Yixing Sunbae yang semakin jelas. Lalu bagaimana denganku? Apakah memang tak ada kisah yang sempurna untuk diriku? Tak ada kisah cinta atau apa pun yang sejenis? Sungguh?

“Cheon, cepat duduk! Ahn Seonsaeng telah duduk di kursinya.”

Bisikan super mengagetkan milik Jongin berhasil membangunkanku dari mimipi panjang percintaanku yang rumit. Ah, aku sudah tak peduli lagi dengan apa pun. Aku hanya ingin belajar dan menjadi siswi normal seperti yang lainnya. Tanpa cinta, dan hanya ada buku juga teman yang bisa menghiburku kapan saja.

0o0

Aku baru tahu jika Jongin telah memiliki motor baru, yang lebih keren dan mahal tentunya. Tapi bukan hanya itu, aku benar-benar baru tahu jika keluarga Kim ternyata lebih kaya dibanding yang aku perkirakan. Jongin benar-benar menutupi kekayaan keluarganya dengan sikap konyolnya di sekolah.

“Masuklah. Oh, apa kau lapar? Kau belum makan siang kan tadi?”

Kukira wajahku terlihat sangat jelek saat ini. Apa? Seorang Kim Jongin akan memasak? “Kau pasti bercanda.”

Ia masih terus berjalan menuju dapur dengan aku yang mengekor di belakangnya. Setelah meminum segelas air, ia mengalihkan pandangannya padaku dengan mata yang menyebalkan. “Kaupikir siapa orang yang membuatkanmu bubur saat kau sakit?”

“Was that Hyunna?”

Di luar dugaanku, Jongin tertawa denngan sangat menyebalkan setelahnya. Apanya yang lucu? “Kemampuan memasaknya bahkan jauh lebih buruk darimu, Cheon.”

Ah ya, aku baru ingat jika Hyunna tidak bisa memasak. Oke, hal itu menjadi masuk akal bagiku. Kulirik jam tanganku saat Jongin masih sibuk dengan beberapa salmon dan rumput laut. Katanya ia akan membuatkanku sushi. Baiklah, jika ia berhasil membuat sushi yang enak dan tidak amis aku bersumpah akan menjadikannya guru masak favoritku.

Sekarang sudah pukul enam sore dan aku masih berada di rumah Jongin. Bagus, alamat aku akan menginap malam ini. Tak lama kudengar suara deru mobil dari luar. Sepertinya ada yang datang.

“Jongin, sepertinya kau kedatangan tamu,” ucapku padanya yang masih sibuk menggulung sushi.

Ia mengalihkan pandangannya padaku lalu tak lama kembali fokus pada kegiatannya. “Bukan tamu. Sepertinya itu sepupuku. Kau tidak tahu ya jika aku memang tinggal dengan seorang Hyung di sini?”

Tidak, aku sama sekali tidak tahu. Baiklah Kim Jongin, ternyata kau adalah sahabat yang kejam karena banyak sekali rahasia yang kau sembunyikan dariku selama ini.

“Menginaplah di sini, Cheon. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang untuk berganti seragam lalu berangkat bersama, bagaimana?”

Aku hanya mengangguk dengan senyum kecil, lalu Jongin kembali sibuk dengan kegiatannya. Begitu pula denganku, aku sibuk dengan lamunanku sendiri.

Aku memikirkan segalanya. Bahkan Jongin yang merupakan sahabat terdekatku melebihi Hyunna pun memiliki rahasia yang sama sekali tak kuketahui untuk waktu yang cukup lama. Bagaimana dengan Luhan? Aku baru mengenalnya dan bahkan ia telah melakukan segalanya padaku. Oh tidak, belum segalanya.

Shit! Pipiku sepertinya terbakar karena dengan tiba-tiba adegan itu terputar di benakku. Tidak, aku yakin bahwa Luhan tidak berbuat sesuatu padaku malam itu. Ia hanya tidur di sampingku dan dengan ajaibnya aku terbangun di kamar keesokan harinya. Itu semua bukan mimpi, pasti ada sebuah penjelasan logis mengapa aku bisa tiba-tiba kembali ke rumah.

“Hei, Cheon? Ayo makan.”

Lamunanku buyar saat wajah absurd Jongin tiba-tiba muncul di hadapanku. Baiklah, untuk kali ini mari kesampingkan memori tentang Luhan dan terfokus pada hidupku saat ini; seorang remaja normal yang sedang menginap di rumah temannya.

Aku duduk di samping Jongin, memerhatikan dirinya yang makan dengan lahap. Kulirik sendiri piring di hadapanku. Memang sepertinya enak, tapi entah mengapa nafsu makanku hilang. Aku kembali tenggelam dalam duniaku sendiri.

“And just remind you, apa yang telah kulabeli sebagai milikku, jangan harap bisa menghilang begitu saja dari pandanganku.”

Sial, kata-katanya masih terngiang di kepalaku bagaikan hantu. Tuhan, aku masih terlalu muda dan cantik untuk mati karena dihantui seonggok daging bernama Luhan.

“Cheon?”

“Eh—iya, apa?”

Jongin menatapku, bertanya dalam matanya. “Kau kenapa? Jika ada masalah cerita saja.”

Jujur, sebenarnya aku ingin menangis. Tapi dirasanya menangis di hadapan Jongin adalah hal terburuk kedua setelah kiamat, jadi lebih baik aku tersenyum dan menggeleng saja lalu mulai memakan sushi di piringku.

Sudah kuduga, rasanya memang enak untuk ukuran Jongin’s handmade. Aku menghabiskan makananku dalam diam, tak ingin membicarakan apa pun untuk saat ini. Aku benar-benar terjebak dalam duniaku sendiri.

Setelah piringku kosong, aku beranjak dan baru saja akan berjalan menuju wastafel jika saja Jongin tak menggenggam tanganku. “Tolong antarkan piring ini untuk Hyung-ku. Piringmu biar aku saja yang bersihkan.”

Hello, mengapa tidak ia saja yang mengantarnya?

“Aku sedang ada masalah dengannya.”

Oke Jongin, sepertinya wajahku benar-benar menyiratkan segala apa yang ada di pikiranku. Menyerah untuk berdebat lebih jauh, aku menaruh kembali piringku di meja dan mengambil piring penuh yang Jongin pegang. “Kamarnya di mana?”

“Ujung lorong lantai dua.”

Setelahnya aku mengangguk lalu berjalan pelan menuju kamar sepupunya itu. Huh, pasti ia sama menyebalkannya dengan Jongin sehingga mereka bisa bertengkar seperti itu. Tinggal serumah tapi tak saling sapa, apanya yang menyenangkan dari hal itu?

Yap, tak terasa kakiku dengan sempurna membawaku ke depan pintu cokelat ini. Tak ada yang aneh, maka dari itu aku langsung mengetuk pintu.

“Halo? Ada orang di dalam?”

Kuhitung sampai dua puluh dan tak ada seorangpun yang membukakan pintu. Kucoba menarik knop pintu, dan ternyata tidak dikunci. Okay, just forgive me than for do that without permission.

Ah, aroma khas tembakau langsung menyergap hidungku. Aish, mengapa Jongin tidak bilang jika sepupunya ini perokok? Rasanya sangat tidak enak sekali. Buru-buru aku mencari meja terdekat dan menaruh makanan itu di sana. Kakiku hendak melangkah untuk keluar saat kudengar suara pintu terbuka dari arah samping.

God, just tell me a lie now. Tidak mungkin itu Luhan…

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Tidak, he’s real! He is Luhan!

“Apa yang Sunbae lakukan di sini?!”

“Hey, calm down girl. This is my room.”

Oh, biar kuluruskan. Luhan ialah sepupu dari Jongin, dan selama ini Jongin tak pernah mengatakan apa pun padaku bahwa Ketua Dewan Siswa yang sangat dihormati di sekolah itu ialah sepupunya?!

Ini seperti deja vu. Saat Luhan hanya mengenakan kaus putih polos dan celana pendek hitam dengan rambut basah yang acak-acakan. Matanya menatapku intens dan kakiku tak bisa diajak berkompromi untuk saat ini. Aku ingin lari, namun seperti ditimpa beban yang terlewat berat pada kakiku. Aku tak bisa lari darinya.

“Hebat, membakar lab di sekolah dan setelahnya membawa seorang gadis ke rumah. Jongin mungkin ingin bermain-main denganku.”

Aku tak pernah merasa setakut ini, bahkan tidak dengan kasus diriku yang terkunci berdua dengannya di kamar vila. Ini lebih menyeramkan, ia bisa melakukan apa pun padaku sesuai kehendaknya. Aku harus lari atau tak akan bisa selamat sama sekali.

Dengan mengumpulkan seluruh keberanian yang kupunya, aku menatap matanya dan berkata, “Tidak seperti itu. Aku hanya ingin merawat Jongin di sini. Ia terluka dan seharusnya Sunbae sabagai Hyung yang baik tahu hal itu. Kuletakkan makananmu di meja. Permisi.”

Kukira hal barusan adalah hal terkeren yang pernah kulakukan. But I got zero, Luhan dengan cepat kembali menguasai permainan. Ia menarik tanganku, membuatku terpaku di tempat dan hanya memandang ke satu arah; matanya.

“Seperti itukah? Baiklah.”

Dan dengan kalimat singkat itu pula Luhan meninggalkanku sendiri, menghilang di balik kamar ganti di sudut kanan ruangan.

Jadi, yang tadi itu apa? Luhan itu sebenarnya bagaimana, maksudku, semua ini membingungkan. Ia bersikap seolah aku miliknya. Namun terkadang pula, aku merasa bahwa aku hanya sebuah boneka mainan, sampah yang akan dibuang saat waktunya telah tiba.

Ah, kepalaku sakit dibuatnya.

TBC

It’s been a very long time I guess kkk. Maaf ya, karena ga enak setelah sekian lama ga dilanjut tau-tau harus diprotect, makanya Angel sengaja tambahin cerita persahabatannya Jongin-Cheonsa di sini, soalnya kasian si Jongin cuma dinistain doang sama Cheonsa tapi orangnya ga pernah muncul hehe. Kayaknya sih chapter 6 yang bakalan diprotect, eh tapi ga tau juga deh wkwk. Happy Reading^^

7 thoughts on “Darling Smoker (Chapter 5)

  1. wahhh akhirnya chapter 5 udah ada/?
    udah lama banget nunggu chapter ini,dan itu gk sia2
    keren banget,gk bisa ngomong apa2 lgi,next ya^^
    klo diproject,cara supaya dapat pwnya gmna?

  2. Waaahhh setelah sekian lama update juga akhirnyaaa
    MAkin keren thorr…seru banget
    Jadi luhan itu sepupu jongin??
    Selalu aja dimana ada cheonsa pasti ada luhan ckck
    Thor jangan diprotect dong please
    Kalaupun mau diprotect cara dapet pwnya gimana???
    next.ditunggu ya thorr…fightinggg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s