Hidden Fear

Hidden Fear

Title : Hidden Fear
Author : deera
Cast : Park Chanyeol (EXO), Shi Jihan (OC)
Genre : Romance, Semi-friendzoned
Rating : General
Length : Oneshot 1,184 chars.
Disclaimer : Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!”
Selamat tenggelam dalam setiap cerita!

***
Tuk…
Tuk…
Dang!

Ia kesal. Benar-benar kesal.

Dua puluh menit lebih berlalu.

Dua puluh menit lebih yang lalu, cewek itu minta ditemani jalan-jalan. Lalu mereka berhenti di lapangan basket dan Chanyeol mulai memantul-mantulkan bola ke tanah. Dan sejak cewek itu menemukan posisi nyamannya di bawah pepohonan tempatnya sekarang, ia bahkan tak perlu peduli Chanyeol sempat terjatuh karena melompat.

Cewek itu benar-benar mengacuhkannya.

Semakin kesal, Chanyeol akhirnya memeluk bola dengan lengan kanannya lalu melangkah—mungkin cukup dengan lima langkah besarnya—menuju tempat cewek yang sibuk sendiri itu. Chanyeol mengangkat bahu cewek itu supaya ia berdiri—masih—dengan tampang kusut.

“Mwo-ya?” tanya cewek itu kaget—bahkan masih tak melepaskan pandangnya dari ponsel yang mencuri perhatiannya sejak tadi.

‘Aku yang tampan ini kalah dengan ponsel? Enak saja!!’ kata Chanyeol sengit dalam hati.

Merasa belum diperhatikan, Chanyeol menarik dagu cewek itu ke atas, supaya tatapan mereka bertemu. Bola yang diapitnya di lengan kini tergulir di tengah mereka.

“Shi Jihan, aku punya permainan seru,” katanya sambil tersenyum misterius. Chanyeol lantas meraih ponsel cewek itu dan memasukkannya ke dalam saku jeans-nya.

Ekspresi Jihan langsung melongo memerhatikan tingkah cowok jangkung di hadapannya ini. “Sedikit lagi aku bisa mengalahkan level-mu, Yeol-lie.”

“Kau bisa mengalahkanku nanti. Sekarang ini, aku punya game yang lebih asik.”

Ia membungkuk untuk memangku bolanya kembali dan menarik lengan Jihan. Kedua langkah cewek itu mengikuti kemana Chanyeol menggiringnya. Kini mereka berdua berada di bawah tiang ring basket. “Game apa ini?” tanya Jihan sambil meneliti sekelilingnya. “Kau mengajak aku duel basket? Oh, Park Chanyeol, kau kan tahu aku tidak bisa!”

Cewek yang hanya setinggi dada Chanyeol itu menunjukkan wajah sebal. Chanyeol lantas menggeleng. “Itu terlalu mudah untukku. Sama sekali tidak menyenangkan kalau aku menang dengan mudah.”

Ia kembali menjelaskan, “Game ini cukup sederhana. Kau hanya perlu mendengarkan instruksi dan percaya padaku.”

Chanyeolberlari ke arah yang berlawanan dengan tempat awal mereka berdiri. Sekitar dua meter dari posisi Jihan, sekarang Chanyeol memantul-mantulkan bola ke tanah. Ia lantas menyuruh Jihan bergeser sesuai dengan posisi yang dirasanya pas.

“Ingat, Jihan-ah!” Chanyeol berkata dengan sedikit berteriak. “Kau hanya perlu percaya padaku dan mendengarkan dengan jelas apa yang aku katakan ya!”

Dang!!

“Wah, Shi Jihan. Kau sudah memulainya dengan baik. Seperti itu terus ya,” seru Chanyeol dengan senyum sumringah.

Ia menjelaskan bagaimana ‘game yang menyenangkan’ baginya tersebut. “Kau tahu kan, aku tak akan melukaimu? Kau percaya itu saja. Dan kau perlu menyaksikannya. Kalau kau takut, kau harus melawannya dan ingat! Percaya padaku, oke?”

Jihan harus berdiri di bawah ring dan percaya bahwa Chanyeol tidak akan melukainya karena ia akan berusaha memasukkan bola dari garis terluar lapangan. Dan kedua mata Jihan tidak boleh tertutup. Ia juga tidak boleh menunduk menghindar. Mata Jihan seketika membulat dengan kilatan amarah di sana.

Bola kembali terhentak ke lantai semen lapangan. Cowok itu bersiap menembak kembali. “Perhatikan baik-baik ya. Lawan rasa takutmu.”

Dang!!

Jihan terduduk kaget. Berjongkok, memeluk lutut. Ia bahkan memejamkan kedua mata saking kerasnya bunyi dentuman itu. Samar-samar didengarkan suara tawa yang menaikkan pitamnya. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Cowok itu tahu, Jihan tidak suka kekerasan. Dan sedari dulu, Chanyeol berusaha memberikan beberapa terapi agar trauma itu hilang. Akibatnya hampir selalu sama: mereka tidak akan saling bertukar sapa minimal satu minggu.

“Ayo, lawan, Jihan-ah! Aku tahu kau bisa!” Suara-suara itu semakin memekakkan telinganya yang kini ditutupi.

Dang!!

Kini sebutir air mata mengalir jatuh ke pipinya. Chanyeol menghentikan gerakan melemparnya, namun tidak menyadari ketakutan itu sudah menjalari seluruh persendian tubuh Jihan. Dilihatnya bahu cewek itu bergetar. Sedikit rasa bersalah menyusupinya. Namun….

Ia memeluk bola di depan dada. “Jihan-ah. Bertahun-tahun lalu kau mengenalku. Kupikir kau percaya padaku,” sahut Chanyeol kecewa.

Jihan menampakkan wajahnya yang dipenuhi jejak tangis. Chanyeol tertegun dengan pemandangan itu. Masih dalam posisinya, Jihan berkata, “Yeol-lie. Bertahun-tahun lalu kau mengenalku. Kupikir kau mengerti bagaimana aku. Kau malah mempermainkanku dengan cara—serendah ini?”

Baru saja Chanyeol ingin buka suara menjelaskan, cewek itu bangkit dan menggosokkan telapak tangannya ke wajah, mengusir semua kelemahan yang ditunjukkannya hanya kepada cowok itu. “Baiklah. Kau takkan melukaiku dan berniat baik ingin menghilangkan rasa takutku.”

“Ya, Shi Jihan. Maksudku—“

Kalimat Chanyeol tertahan dengan raut wajah Jihan yang berubah. Yang bahkan membuat Chanyeol merinding ketika melihat kedua matanya. Chanyeol menelan ludah. Ia menghentakkan bola ke lantai sambil tertunduk. Bola kembali ditangkap dan ia mengangkat wajah melihat cewek yang kini berdiri teguh jauh di depannya.

“Kau yakin?”

“Aku sepenuhnya memercayaimu, Park Chanyeol.”

“Ya—“

Tetiba saja angin berhembus cukup kencang, mengibaskan rambut hitam cewek itu. Dedaunan bertebangan di antara mereka. Chanyeol bersumpah setelah ini ia tidak akan melakukannya lagi. Ia mulai menimang-nimang jarak dan sudut tembak yang pas.

Chanyeol merasakan hal aneh menyusup di dalam darahnya. Membuat jantungnya memompa dnegan cepat hingga berdentum keras.

Lagi-lagi ia menelan ludah dengan susah payah. Chanyeol melompat. Bola terarah ke ring dengan sudut yang dirasa pas. Ia sempat melihat ekspresi Jihan yang sangat datar. Kedua kelopak matanya membuka, membiarkannya tak berkedip.

Tatapan sendunya memilukan. Mengiris sisi kemanusiaan Chanyeol.

‘Maafkan aku, Jihan-ah. Nanti, kau akan selalu kuperlakukan dengan baik…’

Tak!!!

Mata Chanyeol membeliak. Bola menyentuh bibir ring, berputar sebentar, namun kemudian ia memantul ke arah luar tanpa pernah memasuki jaring. Sudut pantulannya mengarah tepat pada bagian belakang kepala Jihan.

.
.
.

Hal yang terakhir diingat Jihan adalah suara Chanyeol berteriak dan getaran hebat di bagian belakang tubuhnya. Serta…, wangi tak asing yang melingkupi seluruh tubuhnya dengan kedua lengan besar.

.
.
.

“Kau tidak seharusnya percaya padaku.”

Kepala Jihan terbenam semakin dalam. Kehangatan sinar matahari sampai ke dalam hatinya kala pelukan itu terasa semakin posesif.

“Kau juga salah sih. Tadi kubilang menghindar, kau malah diam saja. Kau tidak mendengarkan instruksi dengan baik, Shi Jihan.”

Kini belaian di rambutnya terasa menenangkan walaupun kalimat barusan membuat Jihan kembali ingat pada kekesalannya. Tapi ternyata, ia ingin terus bersandar dan meluruhkan semua ketakutannya di sana.

“Aku percaya. Makanya aku bertahan.” Suara Jihan bergetar dan serak. Ketika ia semakin melesak di atas dada Chanyeol, ia bisa mendengarkan suara detakan yang kencang. Cewek itu lantas mengangkat wajahnya, dan bertanya polos, “Ya! Apa kau tidak pusing setelah terbentur tadi? Jantungmu sepertinya akan pecah. Bunyinya keras sekali.”

Wajah Chanyeol merah padam. Ia melepaskan pelukannya. “Y-ya! Kau juga! Saking takutnya sampai membuatmu kurus begitu. Aku bahkan tidak bisa merasakan apa-apa tadi.”

Kini wajah Jihan yang merah. “Y-ya!! Memangnya kau mau merasakan apa?” tanyanya sengit sambil menutupi dadanya dengan silangan tangan.

Chanyeol tak memedulikan teriakan Jihan yang mengatainya mesum. Kini senyum telah mengembang kembali di bibirnya. Ia mengapit bola dengan lengan kiri dan lainnya yang bebas merangkul Jihan.

“Jihan-ah, kau sekarang pemberani sekali. Aku bangga padamu.” Chanyeol memberikan satu jempol tepat di depan wajah cewek itu, lalu mengacak poni yang tergerai halus di dahinya.

“Kau jangan senang dulu, Yeol. Aku akan memberikan ketakutan yang sebenarnya padamu.”

“Aku? Aku tidak takut pada apapun!”

‘Aku hanya takut kehilanganmu.’

Iklan

4 pemikiran pada “Hidden Fear

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s