Seonsaengnim (Chapter 14)

A Storyline Present by @diantrf

Seonsaengnim

Main Cast:
Xiao Luhan, Park Chanyeol, Kim Junmyeon/Suho (EXO) | Park Cheonsa (OC)
Other Cast:
Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris, Byun Baekhyun (EXO) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast) | Kang Jihyun/Soyou (Sistar)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:
Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6 | Part-7 | Part-8 | Part-9 | The Princess of Darkness (Teaser) | Intro Charas | The Princess of Darkness (1) | The Princess of Darkness (2) | Part-10 | Part-11 | Part-12 | Two Souls (Teaser) | Two Souls (1) | Two Souls (2) | Part-13a | Part-13b | Part-13c

0o0

Chanyeol menepati janjinya padaku, kembali menjadi orang pertama yang akan kulihat ketika bangun tidur. Memberikan morning kiss dengan penuh cinta dan tersenyum manis padaku. Hehe, aku seperti anak gadis yang baru berkenalan dengan cinta.

Satu pita terakhir di rambut dan aku siap jalan-jalan hari ini! Ternyata bangunan besar yang kulihat di tengah hutan memanglah sebuah kandang, dan itu kandang naga. Aku jadi ketakutan sendiri, bagaimana seandainya jika naga itu kabur dan jalan-jalan di tengah kota Selandia Baru.

Pikiran absurd-ku terhenti ketika melihat pantulan tubuh tinggi Chanyeol di cermin. Ia memakai pakaian serba hitam lagi, ya sebenarnya hanya celana panjang dan kemeja yang digulung sampai siku. Saat bangun tadi memang Chanyeol ternyata telah bangun dan bersiap lebih dulu. Ia menungguku bangun sambil duduk di kursi dan membaca buku.

“Terlihat sangat manis, eh?” Chanyeol langsung memberiku backhug, dan tak lupa satu ciuman di kepala. Pipiku bersemu, benar-benar seperti anak gadis yang baru saja jatuh cinta.

Eh? Bersemu?

Sepertinya aku melamun lagi untuk sesaat. Karena ketika kembali sadar, ternyata Chanyeol telah melepaskan pita yang mengikat rambutku. “Untuk kali ini diurai saja, ya?” pintanya dengan wajah yang lucu.

Aku membalikkan tubuh dan kembali memeluknya. Aku selalu suka tubuhnya yang tegap ini memerangkapku yang lebih kecil. “Chanyeol tidak ikut?” tanyaku dalam pelukannya.

Chanyeol mengusap rambutku dengan gerakan teratur. “Aku sudah sering melihat naga-naga itu. Hari ini aku dan Sehun harus mengerjakan sesuatu, setelah Baekhyun yang membantuku kemarin. Kurasa Baekhyun perlu bersantai hari ini sambil menemanimu jalan-jalan.”

Aku tidak menanyakan apa yang akan Chanyeol kerjakan dengan Sehun atau bagaimana sejarahnya bisa ada naga di istana ini. Aku lebih fokus pada hal-hal aneh yang terjadi denganku belakangan ini, hal yang sempat aku lupakan kemarin.

Apa aku harus menanyakannya pada Chanyeol?

“Hey you two, please stop hugging each other in front of me.”

Refleks aku langsung melepaskan pelukanku saat mendengar suara Baekhyun. Kulihat Baekhyun tertawa kecil dan Chanyeol hanya tersenyum simpul. Aku yang bingung harus memasang ekspresi apa hanya bisa mengkopi senyum Chanyeol.

“Anhel, Drake menunggumu di ruangan.” Sebenarnya agak aneh mendengar nama-nama asli kami semua. Tapi, sudahlah, nama tidak terlalu penting.

Mendengar itu Chanyeol hanya mengangguk kecil lalu mengalihkan wajahnya padaku, menciumku sekilas lalu tersenyum, “Nanti sore aku akan menyusul,” ucapnya lalu berjalan menuju pintu, dan menghilang tepat di baliknya.

Kini hanya tinggal aku dan Baekhyun. Ia hanya menatapku dalam diam. Oh, tunggu. “Yasya, kau juga bisa baca pikiran orang lain?” tanyaku hati-hati. Bisa gila aku jika harus menghadapi tiga orang mind reader dalam satu tempat yang sama.

Ia tertawa kecil lalu mengusap kepalaku, “Hampir seluruh keluarga kami bisa melakukannya, namun sayangnya aku tidak.” Oh, Tuhan, syukurlah.

“Tapi aku bisa bicara dengan binatang, dan juga hantu. Kautahu? Tak hanya kita saja yang hidup di dunia ini, tapi hantu juga.”

Melihat wajahnya yang sok seram itu membuatku memasang tampang datar. “Bagus, jika nanti bertemu dengan hantu maka kau harus menunjukkannya padaku,” ucapku, membuat matanya membulat untuk sesaat.

“Haha, kukira gadis manja sepertimu akan takut dengan hantu.”

Ha? Apa? “Ya, aku tidak manja!”

Mendengar pekikanku membuat Baekhyun semakin semangat mengacak rambutku. “Baiklah, aku akan lupakan kejadian ‘memeluk Anhel’ kemarin dan menganggapmu bukan gadis yang manja. Deal?”

Tambahan catatan baru. Mulai saat ini aku nobatkan Baekhyun, atau Yasya—ah, sama saja!—menjadi rivalku dalam kasus kevampiran ini.

Ia menghentikan tawanya dan menatapku. “Baiklah, ayo kita berangkat sekarang,” ajaknya lalu mengambil jemari tanganku.

Hanya perasaanku, atau ada sesuatu yang Baekhyun rasakan saat menggenggam tanganku. Karena setelahnya ia langsung melepasnya begitu saja dan memandang mengitari ruangan, mengalihkan fokusnya. “Oh, mungkin kita jalan kaki saja menuju kandang kuda,” ucapnya lalu berjalan lebih dulu, meninggalkanku yang masih diam.

Ada apa? Kenapa Baekhyun bertingkah aneh seperti itu?

0o0

“Yasya, aku mau naik yang ini…”

Kira-kira sejak sepuluh menit yang lalu kami sampai di sini, aku masih terus merengek padanya agar diperbolehkan menaiki kuda yang berwarna cokelat susu itu. Tapi sayangnya Baekhyun melarangku karena itu adalah kuda milik Chanyeol.

“Ia hanya mau dinaiki oleh Anhel—“

“Bohong!”

Aish, ia masih tetap menggelengkan kepalanya, tak memedulikan tatapan tajam yang kuarakan padanya—oke, aku sangat tahu bahwa aku tidak bakat dalam hal tatap-menatap seperti ini. Memutar otak, aku kembali membujuknya yang kini tengah mengeluarkan kuda cokelat yang lainnya.

“Jika ternyata kuda itu mau kunaiki, apa aku boleh menggunakannya?” Aku mengedipkan mata berkali-kali. Biasanya vampir-vampir tua—eh, hehe—lain langsung luluh melihatnya, minimal tersenyum simpul. Tapi, sialnya karena Baekhyun malah menatapku mengejek.

“Jadi ini Putri înger yang tidak manja dan—“

“Yasya…”

Melihat wajahku sekali lagi membuatnya tertawa kecil. “Baiklah, tapi hanya jika kuda itu mau.”

Mendengar itu membuatku refleks melompat seperti anak kecil. Masa bodoh dengan Baekhyun yang semakin mengira bahwa aku manja, karena mungkin aku memang manja, hehe.

Memangnya sebegitu sulitkah kuda milik Chanyeol ini, hingga ia hanya mau ditunggangi oleh Chanyeol? Tapi, bukankah kemarin Sehun mengajaknya jalan-jalan? Berarti ada kemungkinan Baekhyun membohongiku agar aku mau menaiki kuda putih yang memang seharusnya untukku.

Aku mendekati kandangnya, dan Baekhyun masih terus mengawasiku dari belakang. Jariku mencoba menyentuhnya perlahan, karena sepertinya ada yang aneh dengan kuda ini.

Dan memang benar ada yang aneh dengan kuda ini.

“Ia diliputi sihir. Maksudku, untuk apa?” gumamku pada diri sendiri, tapi mungkin Baekhyun bisa mendengarnya dengan jelas.

Baekhyun mendekat padaku, hingga akhirnya berdiri di sampingku. “Hutan di sini sangat luas, ada kemungkinan kita bisa tersesat. Chanyeol membuat semua hewan di sini diliputi sihir agar mereka tidak tersesat,” jawab Baekhyun, dan kurasa ia tidak sepenuhnya benar. Ada sebuah kebohongan di balik ucapannya.

Sepertinya kepekaanku semakin kuat, bahkan terhadap omongan orang lain. Hm, kabar yang bagus, membuatku setidaknya sedikit terhibur pasca kehilangan kekuatan—dan aku masih dendam dengan Dokter Zhang. Hehe, hanya bercanda.

“Oh, baiklah.” Berpura-pura percaya, aku kembali memaku fokusku pada kuda ini. Ia jantan, aku tahu karena tubuhnya memang seukuran kuda jantan lainnya, hihi.

Begitu aku sentuh wajahnya, kulihat matanya berpendar biru untuk sekejap. Ya ampun, bahkan hewan seperti ini pun memiliki mata biru seperti Chanyeol. Tunggu, “Jangan bilang jika ternyata kuda ini adalah vampir.” Aku menatap Baekhyun penuh curiga.

Sialnya, ia tertawa binal dan semakin menatapku dengan remeh. “Ya Tuhan, înger, sepertinya kau belum sepenuhnya mengetahui hakikat sebenarnya dari vampir. Mengubah manusia menjadi vampir adalah hal yang bisa dibilang hampir mustahil, dan kau malah mengira seekor hewan adalah vampir. Pemikiran yang lucu.”

Bukan, aku terdiam mematung seperti ini bukan karena marah setelah ditertawakan. Aku mencerna tiap kata yang Baekhyun keluarkan dengan lamat. Bahwa mengubah manusia menjadi vampir adalah hal yang hampir mustahil.

Aku manusia, yang diubah jadi vampir. Aku pernah mengalami peluruhan, dan bereinkarnasi. Aku dibangkitkan dari peluruhan oleh Chanyeol, dan dibangkitkan menjadi vampir seutuhnya oleh Luhan yang memang Master-ku.

Aku… pada dasarnya aku hanyalah manusia. Jika eksistensiku sebagai vampir ini bisa dibilang hampir mustahil, berarti…

“Putri masih bisa menjadi manusia suatu hari nanti.”

A-apa itu? Suara hati kah? Atau kepingan masa lalu? Atau…

“Yasya?” Aku bergumam memanggil namanya, masih setengah sadar dari alam pikiranku sendiri.

Mungkin sekarang aku terlihat lebih pucat karena panik dan ketakutan, maka Baekhyun langsung mengambil pundakku, takut aku jatuh kapanpun aku bisa. “înger, kau baik-baik saja?”

“Apa tadi kau bicara padaku? Saat aku melamun?” tanyaku pelan, menatap tepat di matanya, takut ia akan berbohong lagi.

Matanya tegas, diliputi kebingungan dan langsung menjawab dengan gelengan. Aneh, suara tadi bukan berasal dari pikiranku, bukan juga dari hatiku.

Kuyakin ada sesuatu yang aneh dengan kuda ini. Karena mungkin dia yang berbicara padaku. Dia membaca pikiranku, dan setelahnya menjawab keraguan dalam kepalaku.

Oke, Baekhyun pasti juga mendengar ucapan kuda ini. Jika ia benar-benar tidak bisa membaca pikiran seperti Chanyeol dan Sehun, berarti Baekhyun akan bingung karena tiba-tiba mendengar kalimat itu dari sang kuda—tanpa mendengar ucapan dalam pikiranku.

Aku masih punya beberapa hari lagi di sini untuk mengetahui setidaknya jati diriku sebagai seorang vampir. Maka, mari ubah haluan pemikiran dengan cepat dan benar sekarang juga. Langkah pertama, pura-pura kembali ceria.

“Ah, Yasya kenapa memegangku seperti ini?” Lantas aku menjauhkan tubuhku darinya, membuatnya mengerutkan kening, Ia pasti bingung dengan perubahanku yang drastis.

“înger? Kau tidak kerasukan hantu penunggu hutan, kan? Mereka memang terkadang jahil dan mengganggu.” Baekhyun memegang keningku, membuatku tertawa kecil.

“Tidak. Ayo kita lihat naganya sekarang, kuda ini mau jalan-jalan denganku.” Aku tersenyum sebisaku padanya. Baiklah, memang tidak terlalu meyakinkan, tapi nyatanya berhasil.

Aku mengelus kuda ini untuk beberapa saat, sampai feeling-ku mengatakan bahwa ia kini bersedia kunaiki. Untungnya aku tidak memakai gaun seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini aku memakai celana pendek dan baju putih lengan panjang.

“înger, bisa naik sendiri?” terselip nada khawatir dalam suaranya. Aku hanya mengangguk lalu mulai perlahan naik dengan satu kaki pertamaku.

“Yap, sudah kubilang bahwa kuda ini mau kutunggangi,” ucapku setelah dengan selamat bisa duduk nyaman di atas kuda ini. Baekhyun tertawa kecil padaku lalu setelahnya mengeluarkan kuda putih yang tadinya untuk kunaiki. Ternyata ia tidak jadi menaiki kuda cokelat yang satunya.

Ia langsung lompat—bukan secara harfiah—naik ke kuda itu. Ia mempersilahkanku untuk jalan lebih dulu. Entah dari mana, sepertinya aku memang ahli naik kuda ketika masih tinggal di sini, dan itu masih membekas sampai sekarang. Hanya perasaan saja.

“Apakah kita hanya berjalan pelan seperti ini untuk menuju kandang? Kenapa tidak jalan kaki saja?” tanyaku saat kami mulai memasuki kawasan yang lebih lebat pepohonan.

Ia menaikkan sebelah alisnya, “Hutan ini sensitif, kita harus masuk pelan-pelan sebelum berlari nanti. Sudah kubilang, banyak hantu di sini, dan juga binatang buas. Anhel sengaja mengatur tempat ini agar tidak ada musuh yang bisa masuk ke wilayahnya ini.”

Sisi lain Chanyeol, benar-benar sangat gelap dan menyeramkan. “Tapi kemarin Sehun—ah, Drake maksudku—jalan-jalan sendirian di sini?”

“Drake sudah terbiasa, begitu pun denganku dan Anhel.” Ada jeda sejenak dari ucapannya, sebelum ia menghentikan langkah kudanya, membuatku ikut berhenti. “înger, hutan ini sangat berbahaya, sebenarnya. Jadi, bisakah kau jujur padaku?”

Hutan ini berbahaya? Jujur? Ada apa ini?

“Entah kenapa Anhel ataupun Drake tidak menyadarinya. Tubuhmu kehilangan sihirnya, înger. Aku bisa mencium darah manusiamu yang berdesir pelan. Ada apa denganmu sebenarnya?”

Oh, God. Itu juga yang menjadi pertanyaanku sejak kemarin. Detak jantung yang kurasakan kemarin bukan hanya khayalan. Itu nyata, tubuhku kehilangan fungsinya sebagai vampir. Tapi, bagaimana bisa?

“La-lalu, apa hubungannya tubuhku yang kehilangan kevampirannya dengan hutan ini?” Tidak, sebenarnya bukan hal itu yang benar-benar ingin aku tanyakan. Tapi, hal lain mungkin bisa aku tanyakan langsung nanti pada Chanyeol, atau mungkin saat aku pulang ke mansion bisa kutanyakan pada vampir lainnya.

Aku sudah terlanjur dekat dengan hutan ini, hanya tinggal melihat naga-naga itu dan aku bisa setidaknya menambah satu keping memori lagi—itu yang Chanyeol katakan padaku. Tentang tubuhku ini, aku masih bisa menunda rasa penasaranku. Yang penting sekarang, bagaimana caranya aku bisa masuk hutan ini dan bertemu para naga itu.

“Sihir di dalamnya terlalu kuat, dan hutan ini juga memiliki semacam pendeteksi kehadiran.” Kini Baekhyun menatapku dengan cara yang berbeda, sesuatu yang membuatku berada dalam sensasi merinding yang cukup kentara.

“Ada empat pintu untuk mengakses hutan ini. Siapapun yang ingin masuk, ia harus mengalirkan darahnya terlebih dahulu di gerbang masuk agar dihisap dan dideteksi oleh tanah hutan ini. Aku ragu jika darahmu tak akan diterima di sini. Secara teori, aku bisa menyebutmu setengah vampir saat ini.”

Hell, yang benar saja. Hanya karena darah saja aku terancam gagal masuk ke tempat ini.

“Hah, harusnya aku lebih cepat sadar saat pertama menggenggam tanganmu di istana tadi, tapi aku masih ragu,” ujar Baekhyun, membuatku hanya mampu memutar bola mata, tentu saja sedikit kecewa karena tidak jadi masuk.

“Tapi aku sangat ingin melihat naga-naga yang lucu itu…” Lagi-lagi aku merayu Baekhyun dengan wajah ini, childish but I don’t really care.

Baekhyun terlihat berpikir sesaat. “Mungkin sebaiknya kau menunggu Anhel saja. Bukankah ia berjanji akan menyusul nanti? Sebaiknya kita melihat hewan lain dulu di luar hutan sebelum memasuki gerbang.”

Tidak! Menunggu Chanyeol terlalu lama. Belum lagi jika ia mendengar keadaanku sekarang, pasti ia akan lebih memilih mencari tahu kenapa aku seperti ini ketimbang membantuku untuk bisa masuk ke dalam hutan. Aku tidak mau!

“Anhel tak akan mengizinkanku masuk,” kataku sambil menunduk, suaraku turun.

“Memang itulah poinnya.”

“Yasya!” Sial, ternyata memang Baekhyun ingin agar Chanyeol yang langsung menghentikan niatanku ini. “Tolong mengertilah, aku ingin sekali setidaknya mengingat hal lain di masa lalu…”

Yap, aku hampir menangis. Ini benar-benar membuatku kesal. Ada apa lagi dengan tubuh ini? Ya ampun, aku sakit kepala jadinya.

“Eh?” Tanpa berkata apa pun, Baekhyun langsung menyerahkan tangannya padaku. Tangan dengan darah yang mengalir di sana.

“Ini tidak akan bertahan lama, setidaknya sampai kita berada di kandang naga.”

Mataku yang semua berkaca-kaca kini berbinar dengan sendirinya. Aku langsung memegang tangannya dan mengisap darah yang keluar dengan pelan. Rasanya mirip dengan darah Chanyeol. Setidaknya aku masih menganggap rasa darah itu enak, berarti aku masih seorang vampir.

Oh, untuk yang belum mengerti. Karena hutan ini akan mendeteksi darah yang diserapnya, dan sayangnya aku tidak bisa meneteskan darahku di tempat ini, jadi Baekhyun menyuruhku meminum darahnya agar tubuhku ini, apa ya istilahnya? Ah, berkamuflase! Darah Baekhyun dalam tubuhku akan menyembunyikan aroma darah asliku sehingga sama dengan Baekhyun.

Aku selesai untuk darahnya. Kami terdiam beberapa saat, menunggu reaksi tubuhku. “Yap, setidaknya aroma darahmu mulai tertutup,” ucapnya, lalu turun dari kudanya.

“Mau apa?” tanyaku yang bingung.

“Kau turun dan naik kuda denganku. Kita akan melaju sampai kandang karena jika terlalu lama aku takut aroma darahku akan hilang dari tubuhmu. Tenang saja, kuda milik Anhel akan mengikuti kita dari belakang.”

Kedua tangannya menjulur ke arahku, menggendongku untuk turun. Ia seperti berbicara dengan kudanya Chanyeol, sebelum akhirnya membantuku untuk naik ke kudanya disusul dengannya yang duduk di belakangku. Oh, aku duduk menyamping seperti putri dongeng dalam film kuno, sangat manis.

Kami berjalan pelan—maksudku kudanya yang berjalan—hingga akhirnya sampai di depan gerbang yang Baekhyun maksud. Gerbang batu yang sangat tinggi, terdapat ukiran naga di pintunya. Di dinding yang membentang luas di sampingnya—mungkin mengelilingi hutan ini—terdapat ukiran gambar-gambar aneh yang tidak kuketahui maksudnya. Mungkin sejenis komik raksasa tentang peperangan atau asal mula vampir.

Baekhyun menghentikan kudanya, memunculkan pisau lipat kecil dari udara dan menyayat pergelangan tangannya yang tadi. Ternyata vampir juga bisa sihir untuk memunculkan benda dari ruang hampa.

Tangannya ia jatuhkan di depan gerbang, membiarkan darahnya menetes di tanah cukup banyak. Sampai gerbang itu terbuka perlahan, membuatku dapat melihat isi hutan ini.

Luar biasa, kukira hutan ini akan terlihat menyeramkan, namun ini lebih terlihat seperti taman luas dengan pohon-pohon besar yang mengelilinginya ketimbang hutan. “Jangan tertipu. Hutan ini tidak semanis kelihatannya. Malam hari akan terasa mencekam di sini.”

Apakah wajahku terlihat sangat mengagumi hutan ini? Aku tertawa kecil menanggapi omongannya, dan ia juga ikut tertawa.

Gerbang di belakang kami langsung tertutup begitu kami baru menjejaki tanah ini beberapa meter. Baekhyun menolehkan kepalanya padaku. “Kita akan berlari dari sini. Tolong pegangan yang erat.”

Setelah mengatakan hal itu, Baekhyun menoleh pada kuda milik Chanyeol di samping kami. Tak lama, mata kuda itu kembali bercahaya biru. Ternyata itu sebuah sihir. Kuda itu dapat menghasilkan sihirnya sendiri. “Ini sihir perlindungan. Sepertinya kuda ini lebih peka terhadap kondisi tubuhmu dan menyugestikan agar kau memilihnya sehingga ia bisa melindungi kita sekarang.”

Benarkah? Oh, tuan kuda, terima kasih!

“Sudah kewajiban kami melayani Putri.”

Eh? Tambahkan satu catatan lagi. Bahwa kuda ini akan masuk list makhluk yang harus aku hindari ketika tidak ingin terbongkar rahasia yang kupunya. Ia kini terbukti juga bisa membaca pikiranku!

“înger? Ada apa?” Lamunanku buyar oleh Baekhyun. Memangnya Baekhyun tidak bisa mendengar apa yang kuda ini katakan padaku barusan?

“What? Nothing.”

Aku hanya bisa mengedip polos beberapa kali karena aku juga baru sadar dari lamunanku. Baekhyun menyentak tali kekang kuda dan kami berlari cepat membelah hutan ini. Sekarang masih siang jadi hutan ini masih terlihat indah. Aku sama sekali tak berminat di sini saat malam tiba nanti.

Melihat sekeliling, pemandangannya benar-benar indah. Pohon-pohon yang tak kuketahui jenisnya ini menjulang tinggi, pada beberapa perspektif menyebabkan cahaya matahari tak nampak dan di sisi lainnya bersinar dengan cantik.

Hingga aku melihat sesuatu yang bergerak di kanan kami. “Ya-Yasya… itu apa?” tanyaku yang mulai curiga.

Benda, atau makhluk itu mungkin mirip dengan batang pohon raksasa, tapi ia bergerak spiral di tanah. Jangan bilang jika…

“Itu ular raksasa.”

Bunuh Cheonsa sekarang juga. Itu-sangat-mengagumkan! Ini pasti mimpi.

Ular itu berwarna serupa batang pohon, tapi ada corak unik yang menjalar di punggungnya, dan akan menjadi kilauan ungu cantik jika diterpa sinar matahari. “Cantik sekali. Kepalanya di mana, ya?”

“Kau tidak akan mau melihatnya, înger.”

Perlu diketahui bahwa kami saat ini melaju dengan sangat cepat, tapi ular itu terlewat raksasa sehingga kami masih dapat melihatnya. Aku hanya diam sambil mengagumi tubuh ular besar itu, sampai aku melihat sesuatu di balik pohon paling besar.

Itu. Kepalanya. Keren sekali!

“Ularnya ada tiga?”

“Kepalanya ada tiga.”

Hening. Aku masih menatap ketiga ular itu dengan kagum. Sampai aku tersadar akan sesuatu.

“Yasya, ularnya ada tiga, kan?” tanyaku, kali ini dengan kesadaran penuh dan mata yang langsung menatapnya dari samping.

Baekhyun ikut menatapku, “Tidak, înger, kepalanya yang ada tiga. Ular itu salah satu penghuni di sini. Jika terkena matahari ia berkilau ungu, kala malam akan berkilau kebiruan.”

God, that can’t be! Itu lebih dari mengagumkan. Itu luar biasa! Tapi, ketiga kepala itu menatapku! Matanya berkilau keemasan.

“Mereka menatapku.”

“Apa?” tanya Baekhyun tidak yakin. Jangankan Baekhyun, aku pun tak yakin dengan apa yang kulihat ini.

“Ular itu. Ketiga kepalanya melihat ke sini. Ke arahku,” ulangku sekali lagi, balas menatap Baekhyun.

Kini ia membulatkan matanya dan langsung ikut melihat ular itu. Oh, ular itu menghilang!

“Ular itu merasakan kehadiranmu. Ia sedikit sensitif. Ia betina, dan hanya tunduk pada Anhel. Oh, padamu juga. Drake bahkan takut dengan ular itu. Ah ya, namanya Rin.”

Rin? Rasa-rasanya aku kenal dengan nama itu. Di mana? Kapan?

“Sheol, a-apa itu?”

“Itu Tryxci, ular kepala tiga. Namanya Rin.”

“Besar sekali, ya?”

“Ini baru bayinya, înger. Ia bisa jadi sangat besar.”

“înger?”

“Oh? Apa?”

Baekhyun menolehkan wajahnya ke depan, yang langsung kuikuti arah pandangnya. Ular ini melingkar di hadapan kami, menutupi jalan setapak yang kecil ini—dan sangat menjadi tidak banding karena tubuhnya yang raksasa menutupi jalan setapak yang kecil. Tuhan, Cheonsa ingin pulang ke surga sekarang.

“Bagaimana bisa?” bisikku, namun kentara sekali jika aku takut dan panik.

Baekhyun mengendikkan bahu. “Entah, ia tadi menghilang dari kanan kita dan tahu-tahu telah berada di sini.” Daebak, rasanya aku ingin langsung menangis jika melihatnya dari dekat—sangat dekat—seperti ini. “Kau melamunkan apa tadi?”

Ah! Ada sesuatu yang lewat di kepalaku tadi. Mungkin sebuah memori. “Makhluk ini namanya Tryxci, ular kepala tiga. Sheol yang memberinya nama Rin.” Aku tak tahu, tapi sepertinya aku refleks mengucapkannya.

Kini giliran Baekhyun yang heran menatapku. “Bagaimana kau tahu bahwa Sheol yang memberikan ular ini?”

“Yasya, kau tahu sejarah ular ini?” Mengabaikan pertanyaannya, aku justru mengajukan pertanyaan lain padanya.

Ia diam sejenak. “Tentu saja aku tahu. But, listen. Yang terpenting saat ini ialah bagaimana caranya kita bisa lewat tanpa membuatnya menjadi bringas. Soal cerita itu bisa menyusul belakangan.”

Yap, dia benar. Ini mungkin salah satu kenangan yang kupunya. Tentang ular ini dan juga Luhan. Tapi seingatku, tadi bukanlah wujud Luhan yang kulihat.

Hanya seorang anak kecil dengan ular yang sama besar dengannya berdiri di hadapanku. Mungkinkah itu memori ketika kami masih kanak-kanak?

Eh, tunggu. Kami? Bukankah Luhan telah hidup jauh sebelum kelahiranku sebagai înger? Lalu kenapa?

Kenapa selalu ada memori tentang Luhan dalam tempat ini?

TBC

4 thoughts on “Seonsaengnim (Chapter 14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s