Wolf’s Eternal Love (Chapter 8)

A Storyline Present By:
@diantrf & @ferrinamd

Wolf’s Eternal Love
(Love Spellbound)

Cast:
Huang Zitao, Oh Sehun (EXO) | Park Cheonsa, Zhen Yilyn (OC) | Others

Genre: Fantasy, School-life, Romance | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Awesome Poster: ferrinamd

Prev:
Teaser | Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6 | Part-7

0o0

Lyn masih terdiam di tempatnya, melihat Tao yang masih menangisi tubuh kaku Cheonsa dalam pelukannya. Semuanya terlalu cepat, terlalu semu. Bulan masih meninggi dengan cahayanya, ditemani semilir angin yang berubah menjadi lantunan kesedihan bagi semuanya. Tao, Lyn, dan jangan lupakan pula Sehun yang juga masih terdiam di tempatnya. Otaknya mencoba mencerna semuanya. Segala hal yang terputar begitu cepat dalam jarak pandangnya. Hanya harum mawar yang ia ingat baru saja melewati pernapasannya. Hanya itu, tak lebih.

Suara tangis Tao mendominasi keheningan malam yang perlahan beranjak menuju fajar. Lyn yang terduduk diam, Sehun yang menatap segalanya seakan hitam dan putih. Kini terlihat seorang lagi dengan rambut hitam yang tertiup angin laut, menatap tiga orang itu dengan segala rasa yang tak dapat ia jelaskan. Tak mengerti. Marah, sedih, senang atau apa? Darah mengalir dari tangan kanannya, membasahi rumput yang terinjak menahan tangis atas kepergian seorang gadis.

Junmyeon beranjak dari tempatnya berdiri, menghampiri ketiga orang yang masih hanyut dalam kesedihan. Wajahnya menyiratkan suatu kesedihan. Amarah, kobaran api yang siap membakar apa pun yang dikehendakinya. Teruslah langkah itu mendekati Sehun dengan ringannya. Derap langkah yang semakin menggaung, membuat Sehun dan Lyn menoleh ke arah sumber suara, namun tidak dengan Tao.

Plak!
Sehun semakin terdiam kaku sedangkan Lyn menatap kaget dengan apa yang ia lihat. Tangan kiri Junmyeon kembali ke samping tubuhnya, meninggalkan bekas kemerahan pada pipi putih Sehun. Pemuda itu mengeluarkan dirinya. Matanya berubah merah, menatap Junmyeon tajam. Apa-apaan itu?

“Apa? Kau ingin marah padaku?” Junmyeon menatap Sehun tak kalah tajam. Suaranya menantang, membuat Sehun menaikkan sebelah alisnya.

“Apa maksud dari tamparan tadi, Hyung? Jawab aku—“

“Apa? Kau masih bisa bertanya apa?!” Junmyeon mendengus sebal. Ditariknya kerah baju Sehun. Tangan kanan Junmyeon yang bersimbah darah menunjuk ke arah Cheonsa dalam pelukan Tao. “Kurasa kau bodoh karena masih bisa bertanya seperti itu. Tak lihatkah kau Cheonsa telah mati? Gadis itu mati, Sehun! Astaga apa kau gila?!” Frustasi, Junmyeon melepas cengkramannya dan menunduk. Ia kecewa, sangat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tak peduli dengan tetesan darah yang mengenai wajahnya.

Melihat Sehun yang terdiam memikirkan semuanya membuat Junmyeon semakin jengah. Pria dengan senyum menawan yang selalu terukir di bibirnya itu kini tengah dikuasai emosinya. Ia memutuskan untuk pergi sebelum amarahnya memuncak sampai tak dapat ia kendalikan.

Tao menatap punggung Junmyeon dengan kening mengerut, sedangkan mata Lyn tak mampu berpaling dari Junmyeon. Seakan ada sesuatu yang menariknya agar terus menatap mata kemerahan itu. Lalu tepat saat Junmyeon melangkah melewati Lyn, pandangan mereka bertemu.

Jika saja Junmyeon tidak sedang dikuasai emosinya, mungkin serta merta ia akan memeluk Lyn, menumpahkan segala kerinduannya menanti ratusan tahun lamanya. Namun itu tidak akan terjadi, karena Junmyeon cukup tahu diri dengan keadaan saat ini.

Begitu pula dengan Sehun. Rasa marahnya terbalut dalam kekecewaan yang sangat. Sehun pergi meninggalkan Tao yang masih memeluk tubuh kaku Cheonsa dan Lyn yang menatapnya iba, merasa bersalah karena Cheonsa rela mengorbankan cahaya hidupnya pada Lyn. Yang jelas kini Sehun butuh sendiri.

Merenungi segala hal yang terasa menyebalkan baginya.

0o0

Semua berlalu begitu cepat. Sudah tiga hari lamanya, Tao masuk sekolah seperti biasanya. Sedangkan Sehun tak jelas keberadaannya. Lelaki itu butuh sendiri, butuh ketenangan. Kejadian yang memilukan masih saja diingat Sehun. Tak mudah baginya menghilangkan ingatan itu. Sehebat apa pun Shifter, ia juga memiliki perasaan seperti manusia. Sesama makhluk hidup.

Sore ini, Lyn berjalan sendiri. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi. Lyn berniat menghampiri Tao. Sejak kejadian itu, Tao belum bicara padanya. Ia mencoba mengajak Tao bicara. Tapi laki-laki itu selalu menghindar. Tao marah, sangat marah pada dirinya. Pria pengecut yang tidak bisa menolong sahabatnya. Ia kira ditinggalkan orang yang amat dicintainya, Lyn, cukup terasa menyakitkan. Ternyata jauh lebih menyakitkan ditinggal sahabat kecilnya. Cheonsa tidak lagi kembali, mereka kini berbeda alam. Tao hanya bisa mengenangnya dalam ingatan dan sebuah potret foto yang disimpannya dalam dompet.

“Tao.” Suara feminim masuk mengenai gendang telinganya. Kepalanya beralih melihat siapa gerangan. Gadis itu, Lyn, datang menghampirinya. Lagi.

“Tao, kamu di sini.” Lyn perlahan masuk ke dalam kelas. Tinggal mereka berdua di kelas Tao. Tidak ada murid lain, semua sudah pulang. Jari Lyn menyisipkan anak rambut ke belakang daun teliganya. Tao menatapnya, menatap tajam Lyn. Begitu melihat Lyn rasanya emosi Tao meluap. Melihat Lyn kejadian itu kembali terekam dalam benak Tao. Matanya berair, kesedihan kembali melingkupi dirinya.

Tubuh Tao beranjak, kakinya bergerak melangkah, melewati Lyn yang berdiri dekat dari tempatnya. Tak sampai beberapa langkah, Lyn menahan tangan Tao, mencengkram pergelangan tangan laki-laki yang akhir-akhir ini mengusik hatinya. Lyn tidak suka Tao berubah drastis setelah kejadian itu. Ia ingin Tao menjadi laki-laki yang lincah dan lugu. Tao yang apa adanya.

“Tao, mau ke mana?”

“Lepaskan,” pinta Tao tanpa mau menatap wajah Lyn. Dirinya bertambah sakit jika harus memandang gadis itu.

“Kumohon jangan seperti ini. Aku minta maaf dan aku tahu Cheonsa tiada karenaku. Kalau Cheonsa tidak menolongku, dia pasti masih disini, tanpa ada aku.” Lyn memegang pergelangan tangan Tao dengan kedua tangannya. Dia tidak mau Tao menghindarinya lagi. Tidak akan.

“Jangan bicara lagi,” bentak Tao. Lagi-lagi ia mengeluarkan emosi tidak pada tempatnya. Lyn terenyak. Kedua mata Tao berubah warna. Laki-laki itu tampak menyeramkan dengan wajah tegasnya.

“Lepaskan!” Tao mengempas keras genggaman Lyn. Ia berhasil kabur meninggalkan bekas menyakitkan. Lyn kini tahu dirinya tak begitu berharga untuk Tao. Air matanya bergulir jatuh di pipinya. Lyn sekali lagi menangisi perubahan dalam hidupnya.

0o0

Lyn duduk di atas rerumputan. Setelah mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari Tao. Dia sengaja pergi sendiri menyusuri bukit belakang sekolah, tempat pertama kali dirinya pergi berdua bersama Tao. Ingatannya sangat melekat kuat tentang hadirnya Tao untuk hidupnya. Rasanya hampa dan mengetahui Tao kini menatapnya penuh kebencian.

Apa yang harus kulakukan?

Ia beranjak dari duduknya. Bergegas untuk pulang ke rumah, hari sudah menjelang malam. Ibu pasti mengkhawatirkannya. Baru selangkah kakinya terayun, Lyn mendadak berhenti. Matanya menangkap sosok pria tampan berkulit putih pucat berdiri tepat di hadapannya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tulus, serta mata teduhnya menatap wajah cantik Lyn.

“Kamu siapa?” tanya Lyn sedikit ketakutan. Pria itu semakin melebarkan senyumnya.

“Perkenalkan, Aku Kim Junmyeon.” Pria bernama Junmyeon itu menundukkan kepalanya memberi salam perkenalan kepada Lyn. Gadis tersebut tidak mengenalnya, tapi Junmyeon sangat mengenal sosok Lyn. Sosok orang yang ia cintai. Semua ada pada diri Lyn. Junmyeon tersenyum miris mengingat kejadian menyedihkan di masa lalunya. Namun sekarang reinkarnasi wanita itu hadir kembali di dalam diri Lyn.

“Aku Zhen Yilyn.”

“Aku tahu. Kamu Lyn,” ujar Junmyeon. Ia tahu gadis itu merasa heran, mengetahui bahwa dirinya seperti sudah sangat dekat dengannya. Lyn mencoba mengingat sesuatu yang telah lama terkubur.

“Hm, apa kita pernah bertemu? Aku rasa aku pernah mengenalmu.”

“Ya, kau sudah mengenalku jauh lebih dekat. Kita juga pernah bersama.” Junmyeon mengulurkan tangannya memegangi jemari Lyn. Gadis itu hanya terdiam, walaupun sebenarnya di dalam hatinya berusaha keras mengingat sesuatu. Hal berharga yang pernah terjadi antara Lyn dan Junmyeon.

Dirinya masih memikirkan kejadian demi kejadian yang dia alami. Namun tidak ada satu pun ingatan tentang Junmyeon. Bertolak belakang dengan hatinya, Lyn merasa pernah bersama Junmyeon. Pernah mencintai pria yang bersebelahan dengannya sekarang. Tangan Lyn bersedekap menyentuh dadanya, tepat di dekat jantungnya. Rasanya sesakkan dada. Matanya menangkap sosok Junmyeon. Melihat wajah Junmyeon yang perlahan mulai dikenali.

“Kau Kim Junmyeon? Seorang Venef?” Junmyeon sudah tahu lambat laun Lyn pasti mengingatnya. Jiwa Dewi Selene itu kembali bangkit. Reinkarnasi wanita yang dicintai Junmyeon kembali menyadari bahwa kedua mata Lyn berubah warna keunguan. Serta wolf-print di leher Lyn bersinar.

“Kau mengingatku?” tanya Junmyeon. Genggaman tangannya semakin erat. Secara langsung memberi dorongan agar ingatan Lyn kembali.

“Aku tidak yakin. Tapi sepertinya kita saling mengenal.” Sekarang Lyn mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh wajah Junmyeon. Pipi, hidung, hingga bibir Junmyeon. Meraba setiap sudut wajah pria di hadapannya. Tiba-tiba air mata menggenangi bola mata Lyn. Gadis itu merasakan kesedihan luar biasa.

Kenapa aku menangis?

“Kamu Junmyeon. Kim Junmyeon?” Lyn mengangkat genggaman tangannya dengan Junmyeon. Menyentuhkan punggung tangan Junmyeon ke wajahnya. Lyn merindukan Kim Junmyeon. Merindukan kebersamaan mereka. Air matanya terus mengalir deras membasahi kedua pipinya. Junmyeon memeluk tubuh ringkih Lyn. Mendekapkan tubuh gadis ini. Mengingatkan Junmyeon pada peristiwa pahit dirinya.

Dulu di saat yang sama, Junmyeon memeluk tubuh Lyn ke dalam dekapannya. Menyangsikan jika wanita yang dicintainya telah tiada. Junmyeon ikut menangis mengingatnya, sekeras apa pun ia melupakan hal itu. Tetap saja itu tidak menghilangkan rasa cintanya yang begitu besar pada Selene.

“Terima kasih kau mengenal dan mengingatku, Selene. Maaf aku tidak bisa menolongmu. Aku bodoh, aku pria paling bodoh tidak mampu menyelamatkanmu,” lirih Junmyeon menyalahkan dirinya sendiri. Lyn membalas pelukan Junmyeon.

“Tidak kamu tidak salah, Junmyeon. Itu semua sudah terjadi. Aku tidak mau kau merasakan kesedihan yang berlarut.” Junmyeon memegang bahu Lyn. Kedua tangannya menyentuh wajah Lyn. Menghapus air mata yang masih mengalir di pipi gadis itu.

“Kumohon kau jangan meninggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” pinta Junmyeon. Dahi mereka menempel erat. Wajah mereka sangat dekat. Deru napas keduanya terasa nyata.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Kim Junmyeon. Aku akan tetap di sisimu.” Kata-kata itu mengalir begitu saja. Kesedihan teramat dalam sangat dirasakannya. Tiba-tiba Junmyeon mencium Lyn dalam. Tampak kerinduan dan cinta mendalam dirasakan Junmyeon. Venef itu tidak bisa menahan perasaannya lagi. Rindu, cinta, kecewa, dan kesedihan menjadi satu. Lyn mendorong pelan dada Junmyeon. “Junmyeon.”

Akhirnya Junmyeon melepas pelukannya. Mata Lyn kembali berubah seperti biasa. Junmyeon mengusap-usap kepala Lyn lembut, “Terima kasih kau sudah mengingatnya. Tetaplah hidup dan cintai serigala besar itu. Aku tahu dia sangat mencintaimu, Lyn.”

Lyn memandang wajah tampan Junmyeon lekat-lekat. Terpikir sosok Tao yang masih menjauhinya. Tampak raut kesedihan di wajah Lyn. Junmyeon tahu gadis itu tengah bertengkar dengan serigala besar tersebut.

“Sekarang aku antarkan kau pulang ke rumah.” Junmyeon memegang pergelangan tangan Lyn. Keduanya melangkah menuruni bukit rerumputan meninggalkan dua orang yang sejak tadi melihat mereka berdua.

0o0

“Siapa dia? Berani sekali menyentuh Lyn.” Tao memukul dahan pohon keras. Mengesampingkan rasa sakit kian lama menjalari lengan tangannya. Tidak lebih sakit melihat orang yang dicintainya bermesraan dengan pria lain.

“Kau cemburu?” tanya seseorang berjalan mendekati Tao yang berbalik menyadari bahwa Sehun juga datang dan menyaksikan adegan romantis seorang Selene dengan Venef. Tao langsung membuang muka saat tahu Sehun tengah menyindirnya.

“Kau tidak usah mengelak. Aku tahu kau cemburu berat dengan keberadaan Junmyeon Hyung di samping Lyn. Ternyata gadismu tengah menggoda pria lain,” ujar Sehun dengan mudahnya mengucapkan kata-kata yang membakar hati Tao. Lantas Tao menyerang Sehun, memukul teman sebangsanya. Kalau perlu Tao bisa mematahkan tulang rusuk Sehun saat ini juga.

“Jangan mengucapkan kata-kata kotormu di hadapanku. Kau tidak sepantasnya menjelekkan Lyn.” Tao mendorong tubuh Sehun ke tanah. Membiarkan Sehun merasakan kesakitan luar biasa. Sedangkan orang itu berusaha berdiri.

“Aku tidak sedang menjelekkan Lyn. Aku berusaha menyadarkanmu, jika Lyn adalah… reinkarnasi dari wanita yang dicintai Junmyeon Hyung dahulu. Wanita itu mati di tangan Warlock, dan Warlock itu adalah Kris, orang yang sama yang telah membunuh Cheonsa. Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Junmyeon berusaha membuat gadis itu mengingat sosoknya, dan aku yakin Lyn sudah mengingatnya,” jelas Sehun. Tao memikirkan perkataan Sehun. Jika benar, Lyn akan mencintai Junmyeon.

“Kau bercanda. Tidak mungkin Lyn mengingatnya. Dia gadis di masa sekarang. Gadis yang hanya diperuntukkan padaku, bukan pada pria kuno itu.” Sehun tertawa keras. Pria di hadapannya melupakan satu hal penting.

“Aku tidak bercanda. Kau tidak lupa bukan? Lyn adalah jelmaan Dewi Selene, dan sosok wanita yang dicintai Junmyeon Hyung juga jelmaan Dewi Selene. Kau tidak akan menyangka jika akhirnya keduanya akan bertemu kembali. Mereka saling mencinta—”

Bugh!

Tao memukul keras Sehun lagi ke pohon. Teman macam apa berbicara seolah ia ingin menjatuhkan dirinya ke dalam keterpurukan?

Apa Sehun berusaha mengajaknya untuk merasakan kehilangan lagi?

“Aku tak perlu omong kosongmu. Aku tidak ingin mendengar dongeng tidurmu itu. Bilang saja kau masih mencintai Cheonsa dan tidak bisa merelakan gadis itu pergi, bukan? Aku tahu kau masih belum merelakannya. Aku juga belum bisa melepaskannya…” Tao menarik tubuh Sehun dan mencengkram kerah pria itu. Menatap nanar sosok serigala putih tersebut.

“…aku terpuruk, aku juga kecewa pada diriku. Aku tidak bisa melindungi Cheonsa. Kumohon jangan menjatuhkanku ke lubang yang sama. Kehilangan Cheonsa sudah cukup membuatku sedih. Tapi tidak untuk kedua kalinya aku kehilangan seseorang. Karena aku tidak akan pernah melepaskan Lyn.” Tao mengempaskan Sehun keras. Sedangkan Sehun diam, ia sendiri tahu Tao belum bisa melupakan peristiwa besar itu. Bagaimanapun rasa kehilangan Tao lebih besar dibandingkan dengan Sehun.

“Aku pergi. Kau bisa pegang kata-kataku.” Cahaya mengelilingi tubuh Tao tergantikan oleh serigala besar berlari menjauhi Sehun sendirian.

0o0

Pulang sekolah kali ini, Lyn berjalan tergesa. Dia melewati kelas Tao, dan akhirnya ia berhenti melangkah. Kepalanya sengaja melongok melihat kondisi kelas Tao. Tidak ada siapa pun.

“Mungkin sudah pulang.” Lyn menghela napas pelan. Niat awal ingin melihat keadaan Tao. Ternyata pria itu tidak ada sama sekali. Sudah lima hari ini, Lyn tidak bertatap muka secara langsung dengan Tao. Lyn belum ingin menemui Tao, bukan hanya itu. Sejak bertemu Junmyeon, dunianya beralih kepada pria putih pucat tersebut. Setidaknya perkenalannya dengan Venef itu membuat Lyn sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya atas kematian Cheonsa.

“Lyn.” Suara berat memanggilnya dari belakang. Lyn sontak kaget, ia langsung berjalan menjauhi Tao. Percuma saja, Lyn kalah cepat dengan Tao. Pria itu sudah menghadangnya. Kedua mata tajam Shifter itu menatap wajah Lyn yang seketika tertunduk. Lyn enggan membalas tatapan Tao. Ia masih takut untuk menerima perlakuan Tao padanya.

“Aku mau pulang, Tao. Jangan halangi aku.” Lyn bergeser mencari celah untuknya berjalan. Tao menahan tangan Lyn untuk tetap di sampingnya.

“Aku antar kau pulang,” ajak Tao menarik tangan Lyn untuk mengikutinya. Sekarang Lyn yang menahan langkah Tao. Tidak hanya itu, dia juga melepaskan genggaman tangan Tao.

“Maaf, Tao. Aku tak bisa,” tolak Lyn, kemudian melangkah pergi menjauhi Tao. Sedangkan Shifter itu terdiam kecewa. Kedua mata dan tangannya terggenggam erat menyaksikan sosok Lyn menghilang dari pandangannya.
0o0

Diam-diam Tao mengikuti mobil yang membawa Lyn bersama Junmyeon. Dugaannya benar, gadisnya pulang berdua dengan seorang Venef. Setelah Lyn pulang ke rumahnya dan meninggalkan Junmyeon, pria itu kembali mengendarai kendaraannya. Tao mengejar mobil Junmyeon, langsung memotong jalan mobil tersebut saat jalan lengang. Tao melepas helm dan turun dari motornya. Junmyeon keluar dari mobilnya.

“Aku sudah menyangka kau pasti akan menghalangiku.” Tao mendorong tubuh Junmyeon, hingga membentur mobil pemiliknya. Junmyeon hanya meringis. Tentu saja, tenaga Shifter lebih besar ketika mereka sedang marah.

“Apa maksudmu mendekati Lyn?!” bentak Tao. Junmyeon terkekeh mendengarnya. Setelah apa yang dia lakukan pada Lyn, dan membuat Lyn merasa menjadi orang yang paling bersalah. Tao masih peduli padanya.

“Jawab!” teriakan Tao tak membuat Junmyeon tidak takut sama sekali.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa pedulimu? Setelah kau membentaknya, menjauhinya, dan sekarang kau mendekatinya lagi,” jelas Junmyeon tenang. Ia tidak takut sama sekali. Tao melangkah mundur, badannya mendadak lesu.

“Kau tidak tahu betapa terpuruknya Lyn. Gadis itu merasa bersalah dengan peristiwa yang tidak pernah ia alami, Tao. Dia tetap manusia biasa, tidak mengerti apa pun sebelum mengenalmu. Tapi sejak bertemu, Lyn semakin mengerti siapa dia sebenarnya. Bersamaan dengan rentetan kejadian yang pasti membuat ia tidak akan bisamelupakannya.” Tao tertunduk. Badannya masih berhadapan dengan Junmyeon. Venef itu tersenyum datar. Ia sudah tahu akan seperti ini jadinya.

“Lalu kenapa kau datang menemui Lyn? Apa yang kau inginkan dari Lyn?”

“Aku tidak menginginkan apa pun dari Lyn. Dia selalu mengingatkanku pada wanita yang aku cintai. Kau beruntung tidak kehilangan dirinya, meskipun kau harus kehilangan sahabatmu, Cheonsa.” Junmyeon menghela napas kasar. Ia tak mampu bicara apa pun. Begitu juga dengan Tao. Awalnya ia ingin menghalangi Junmyeon dan memberinya sedikit pelajaran. Tapi kini dirinya yang mendapatkan tamparan keras dari setiap ucapan yang Junmyeon lontarkan.

“Mulai sekarang jaga Lyn tetap di sisimu. Jika dia seperti ini lagi, aku tidak akan segan-segan kembali berada di dekatnya. Cheonsa juga tidak akan suka melihat sahabatnya mencampakkan seseorang yang juga dia sayangi. Aku percaya padamu.” Junmyeon menepuk-nepuk bahu Tao. Ia masuk ke dalam bangku kemudi dan mengendarai mobil sport-nya.

Aku percayakan Lyn padamu, Tao.

0o0

Seorang gadis tengah menunggu seseorang. Gaun ungu mudanya membalut tubuh rampingnya. Sangat cocok dengan kulit putih Lyn. Serta mantel yang melindunginya dari udara malam, cukup mengusir hawa dingin yang melanda. Bulan pun bersinar sangat terang. Beruntung ayah dan ibunya memberi waktu bebasnya lebih lama kali ini. Mereka sudah tahu Lyn akan pergi dengan Junmyeon. Ia sudah menceritakan semuanya tentang Junmyeon, termasuk tentang Junmyeon yang seorang Venef.

Suara deru mobil semakin dekat. Kendaraan berwarna hitam elegan itu mendekat ke arah halte tak jauh dari rumah Lyn. Gadis itu sengaja menunggu di luar rumah.

“Kamu datang,” ucap Lyn bangkit dari duduknya, menghampiri Junmyeon yang juga melangkah ke tempatnya berdiri sekarang. Junmyeon begitu takjub dengan sosok gadis di hadapannya. Debar jantungnya kian kencang. Hal yang sama dirasakannya ketika bersama wanita yang dicintainya, Selene.

“Kau cantik.” Lyn menunduk sesaat Junmyeon mengatakan hal tersebut. Sedangkan pria itu tersenyum lebar.

“Ayo, kita pergi.” Junmyeon memegang pergelangan tangan Lyn, mengajak Lyn masuk ke dalam mobil. Lantas mereka berangkat ke restoran, tempat mereka akan makan malam bersama.

0o0

Setelah makan malam, Junmyeon mengajak Lyn untuk pergi ke bukit belakang sekolah, tempat awal mereka bertemu. Sesampai di sana, Lyn masih berusaha menahan debar jantungnya. Ia tidak tahu, rasanya ini sangat menyenangkan bisa berjalan berdua bersama Junmyeon. Pria itu terlihat sangat tampan, busana yang dikenakannya menjadikan Junmyeon bak pangeran kerajaan.

“Apakah aku tampan?” tanya Junmyeon sembari mencuri pandang pada Lyn. Sedetik kemudian gadis itu mengangguk malu-malu. Tak ayal Junmyeon mengulurkan tangan mengusap lembut rambut gadis itu.

“Kau juga sangat cantik, Lyn,” puji Junmyeon. Ibu jarinya menyentuh pipi merona Lyn. Sangat cantik. Sosok gadis itu begitu mirip dengan wanitanya dulu. Andai saja Junmyeon mampu menyelamatkan wanita itu. Junmyeon pasti mengajaknya makan malam seperti sekarang.

“Terima kasih, Junmyeon.” Lyn menengok ke arah lain. Berusaha mengusir rasa malunya di dekat Junmyeon.

“Lyn, aku merasa tenang. Ada seseorang yang mencintaimu. Mungkin sekarang dia menyesal telah memperlakukanmu tidak adil. Tapi aku yakin dia akan menemuimu dan meminta maaf karena perbuatan bodohnya. Kuharap kau bisa menerimanya lagi. Untuk kali ini, dia sudah sangat gila tidak mengacuhkanmu secara layak,” jelas Junmyeon. Lyn mendengarnya sangat jelas. Siapa yang dibicarakannya? Tao? Bagaimana bisa Junmyeon mengenal Tao?

“Maksudmu Tao?”

“Ya, dia. Serigala besar itu yang sangat mencintaimu.” Lyn meragukan perkataan Junmyeon. Mana mungkin pria itu masih menerimanya kembali. Bahkan peristiwa menyeramkan itu masih melekat di benak Lyn. Junmyeon meraih tangan Lyn, mencium punggung tangannya.

“Jangan khawatir, sayang. Dia tidak akan menyakitimu.”

“Tapi, aku…” Tiba-tiba sosok besar menghampiri mereka berdua. Lebih tepatnya berjalan dengan keempat kakinya ke arah Lyn. Gadis itu mundur seketika, tapi Junmyeon tetap memegang tangan Lyn erat.

“Tenanglah, dia serigalamu,” ucap Junmyeon pelan. Ia berusaha menenangkan Lyn, gadis di sampingnya belum terbiasa dengan keberadaan serigala coklat besar itu, yang sebenarnya adalah sosok Tao.

“Mendekatlah,” titah Junmyeon meminta Lyn melangkah maju. Perlahan tangan Lyn terulur. Sosok serigala besar itu masih menatapnya tajam. Mata emasnya tetap melihat wajah Lyn lekat-lekat. Lyn menyentuh moncong serigala itu, terus menyusuri wajah serigala itu hingga mengusap bulu lembutnya berulang kali. Senyum diwajah Lyn timbul seiring perubahan kecil yang terjadi antara Lyn dan Tao. Junmyeon pun turut tersenyum lega. Kedua insan ini kembali membaik.

Tak berapa lama, sinar terang mengelilingi tubuh serigala besar itu. Merubahnya menjadi sosok manusia yang sangat dikenali.

“Tao,” lirih Lyn hampir berbisik. Tao langsung mendekap Lyn. Menyusupkan jari-jari di rambut Lyn. Kemudian mencium wolf-print ungu pemberiannya. Gadis itu pasti sangat syok karena kehadiran Tao yang mendadak. Lyn menangis dalam diam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Kecuali membalas pelukan Tao. Dia merindukan Tao, sangat merindukannya. Pria ini tidak membencinya. Tao tidak mungkin membencinya, menjauhinya saja sudah cukup membuat Tao frustrasi.

“Kumohon jangan pergi dariku.” Tao memegang wajah Lyn, mengelilinginya dengan tangan besar Tao. Ibu jari Tao menghapus air mata yang membasahi pipi Lyn. Junmyeon menghampiri mereka berdua.

“Aku senang kalian bisa kembali akur. Aku bisa bernapas lega.” Lyn beralih menatap sosok Junmyeon. Sejujurnya dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Junmyeon sejak tadi. Dia seolah-olah ingin meninggalkannya.

Padahal ia baru saja mengenal Junmyeon. Lyn tahu bahwa pria berwibawa di hadapannya adalah sosok yang hangat dan kalau boleh Lyn berkata, ia mulai menyukai Junmyeon. Sayangnya, kata-kata itu tak berani ia utarakan. Biarkan ini menjadi rahasia hatinya. Tao memegangi pergelangan tangan Lyn erat, turut berhadapan dengan Junmyeon.

“Tao, kuharap kau bisa menjaga Lyn. Aku pasti datang jika kau kembali menyakitinya.”

“Lyn, aku senang melihatmu tetap hidup. Aku merasa bersalah tak bisa menyelamatkanmu. Terima kasih pada Cheonsa yang telah memberimu kehidupan lagi. Aku mencintamu.” Junmyeon berjalan mendekati Lyn. Tangannya menyentuh wajah Lyn, kemudian mencium dahi Lyn lembut. Tak peduli Tao merasa cemburu dengan adegan mesra mereka sejak tadi. Shifter itu memang mengikuti dua pasang tersebut sejak tadi.

“Ekhm.” Tao sengaja terbatuk di depan Lyn dan Junmyeon. Secara tak langsung menyadarkan Venef itu untuk sedikit menjauhi gadisnya.

“Aku tahu kau cemburu, Tao.” Junmyeon kembali berjalan agak menjauh dari Tao dan Lyn. Ia berdiri dengan wibawa yang melekat di tubuhnya.

“Sekarang aku akan pergi. Rencanaku sudah selesai untuk menyatukan kalian. Sampai bertemu lagi, Selene.” Ini bukan salam perpisahan dari seorang Kim Junmyeon. Ia mencoba menjaga jarak untuk bisa memerhatikan Lyn dari jauh. Junmyeon tidak mempersalahkan perasaannya yang tertaut pada Lyn. Hanya sekadar rasa sayang antara dirinya dengan wanita yang dulu hilang.

“Junmyeon,” bisik Lyn memandang kepergian Junmyeon kian lama kian hilang. Tertinggal Tao dan Lyn saja.

“Kau tidak perlu khawatir, Lyn. Junmyeon Hyung pasti akan kembali.”

0o0

“Mereka bersama? Aku tidak menyangka. Rencana Junmyeon Hyung berhasil.” Sehun menyilangkan tangan di depan dadanya, menyaksikan Lyn dan Tao menjauh.

“Terima kasih kau sudah membantuku, Sehun-ssi.” Sehun berbalik sadar bahwa dia tidak sendirian. Junmyeon menghampirinya dan telah berdiri di dekatnya.

“Setidaknya aku tetap menjadi orang yang baik bagi teman sebangsaku sendiri,” ucap Sehun berjalan, lalu berhadapan langsung dengan Junmyeon.

“Bukan hanya itu. Aku merasa senang Lyn tidak lagi sendirian. Masih ada seseorang yang mau menjaganya,” ujar Junmyeon jujur, dari hatinya yang terdalam.

“Dan kau tidak mencintainya, kan? Aku takut kau menyukai Lyn karena sosok reinkarnasi wanitamu ada pada dirinya.” Junmyeon terkekeh mendengar ocehan Sehun. Ternyata serigala penuh kharisma ini masih terlalu polos soal cinta.

“Aku hanya bisa melihat sosok Selene ada di dalam diri Lyn. Tak lebih dari itu.” Junmyeon tersenyum menyaksikan Tao dan Lyn pergi dari tempatnya.

“Baguslah, berarti tugasku sudah selesai.” Sehun bergerak meninggalkan Junmyeon.

“Sebagai imbalannya aku akan membantumu.” Langkah Sehun terhenti. Laki-laki itu tidak terlalu percaya dengan ucapan orang asing yang baru ia kenal. Tapi setelah Sehun mengingat peristiwa barusan, Sehun mulai tahu Junmyeon adalah pria yang menepati janjinya. Janji pada dirinya sendiri dan janji kepada orang lain. Entahlah, Sehun mulai tertarik dengan ucapan Junmyeon.

“Apa imbalannya?” Junmyeon terdiam, ia malah memandang lekat mata merah Sehun dalam. Mencoba mencari sesuatu yang sebenarnya akan ia ucapkan sekarang.

“Kau tidak akan memberiku mangsa, bukan?” tanya Sehun polos. Bukan, dia cuma bercanda. Setidaknya mencairkan suasana yang agak kaku antara mereka berdua. Junmyeon terkekeh, selera humor serigala besar ini boleh juga.

“Tidak, aku hanya ingin memintamu datang ke pantai tempat terakhir kita bertemu.” Sehun berpikir keras. Untuk apa Junmyeon menyuruhnya ke tempat itu lagi. Padahal Sehun ingin sekali menjauhi tempat dirinya terpisah dengan orang yang dicintainya.

“Untuk apa? Bukankah kita semua tidak ada urusan lagi dengan pantai itu? Mengingatnya saja aku sudah tidak mau.”

“Tapi kau harus datang. Kita bertemu setelah matahari terbenam,” kata Junmyeon membenarkan langkahnya dan berdiri mantap. Seketika tubuhnya kian lama menghilang tanpa berbekas. Sehun memutar bola matanya, setelah apa yang ia dapatkan sekarang. Seharusnya ia menolak imbalan manis seorang Venef itu. Hanya serigala bodoh yang akan mengikuti ucapan Junmyeon.

“Bodoh,” imbuh Sehun seraya melangkah pelan menuruni bukit di malam yang sepi.

0o0

“Kau harus ikut! Lyn mengajak kita berdua ke sana,” pekik Tao menggiring Sehun untuk mengikuti langkahnya. Tepat di luar sekolah, setelah jam belajar usai, Tao menarik Sehun tiba-tiba. Setelah kejadian semalam, Tao tampak bahagia disambut tingkah romantisnya terhadap Lyn. Sempat membuat Sehun muak sekaligus iri. Ia merindukan Cheonsa.

“Aku tidak mau. Kenapa orang-orang memaksaku? Aku tidak mau.”

“Benarkah? Kau akan menyesal tidak menuruti permintaanku. Hanya sekali ini saja. Kumohon.” Tao memasang tampang memelas. Menimbulkan dekik kecil pada pipi Sehun. Lelaki itu spontan tertawa. Tidak, dia menahan tawanya terdengar meledek teman sebangsanya. Beberapa orang menatap aneh keduanya. Tao mau tak mau harus melakukan ini kalau bukan permintaan orang yang sangat penting untuk dirinya.

“Oh, Tao. Aku tidak tega melihatmu memasang wajah menyedihkan seperti itu. Sebaiknya aku memang harus menuruti keinginan serigala satu ini.” Sehun merangkul bahu Tao tanpa ragu. Keduanya tertawa lepas seiring langkah mereka berlalu.

0o0

Derap suara kaki-kaki yang saling mengejar. Sore telah berganti malam. Bulan purnama bersinar terang. Sehun tahu ini malam yang bagus untuk dirinya dan juga Tao yang berlari kencang di depannya. Sehun berusaha menyamai langkah temannya.

Kenapa anak itu berlari kencang sekali?

Kedua serigala itu telah sampai di tepi pantai. Serigala putih tersebut berhenti berlari begitu juga dengan serigala cokelat melihat reaksi temannya. Ketika tahu di depan matanya, Sehun menangkap sosok pria berjubah bernuansa serba putih tengah merentangkan tangannya, memejamkan matanya. Seolah merasakan angin malam yang berhembus lembut. Serta seorang gadis mengenakan gaun malam panjang berwarna ungu, serta kalung kristal kecil berwarna ungu melingkar manis di leher terbukanya.

“Jangan menatapnya terlalu lama, sobat.” Suara itu berasal dari Tao. Serigala cokelat itu sudah berubah bentuk. Sehun juga mengikutinya. Kaki-kakinya menapak tegap di atas butiran pasir. Ada yang lebih menarik perhatian Sehun kali ini, seorang wanita berusia lebih tua dari Lyn. Sehun sangat mengenalinya. Seorang wanita yang sangat Sehun rindukan. Sehun tak mampu berdiri lagi.

“Sehun.” Bisikan lembut menusuk telingat Sehun.

“Eomma,” sahut Sehun sedikit demi sedikit melangkah mendekati wanita itu. Sang ibu, juga seorang dewi, Dewi Asteria sang dewi bintang dan semesta. Tampil cantik dan mengagumkan. Lyn sendiri baru tahu, Sehun memiliki ibu seorang dewi. Tak jauh-jauh dengannya dewi bulan dan dewi bintang. Perpaduan yang cocok, bukan? Maka dari itu kenapa Junmyeon memanggilnya begitu juga meminta bantuan Dewi Asteria terhormat untuk turut serta mengembalikan arwah Cheonsa, Eurinome.

“Apa yang Eomma lakukan di sini?” tanya Sehun dengan suara serak. Ia masih menangis bahagia karena bisa bertemu dengan ibunya. Sejak Sehun keluar dari rumah dan akhirnya bersekolah di tempat yang sama dengan Tao, Lyn dan Cheonsa. Serta pertemuan cinta Sehun dengan Cheonsa. Tapi semua berakhir dengan tragis. Sehun tidak tahu harus berbuat apa. Ia lupa bahwa sang ibu tetap memerhatikannya, mengawasinya dari jauh. Beliau tahu bagaimana anaknya terpuruk dalam jurang kesedihan. Tidak ada yang menyangka bahwa akan sesakit ini.

“Aku akan membantumu, sayang. Kita panggil Cheonsa untuk kembali padamu.” Sehun sontak menegakkan tubuhnya, menatap dalam kedua mata indah ibunya. Ini bukan lelucon, Sehun menyangsikan soal ini. Cheonsa sang dewi pun tidak mudah untuk kembali hidup. Terlebih melihat peristiwa Junmyeon dengan orang yang dia cintai, seorang dewi juga. Dewi yang telah terbunuh oleh Warlock tidak bisa hidup lagi.

“Eomma, jangan bercanda. Itu tidak mungkin terjadi—”

“Bisa, ibu yakin itu. Kamu juga harus membantu kita semua.” Wanita itu berdiri, Sehun pun turut berdiri melihat ibunya berjalan mendekati Lyn. Setelah diamati, mereka berdua menjadi wanita paling bersinar. Dewi Bulan dan Dewi Bintang. Pipi Sehun bersemu merah menyaksikan kecantikan kedua wanita di depannya.

“Bukankah mereka cantik? Aku kagum dengan ibumu.” Sehun tersenyum miring menoleh ke arah Tao.

“Tapi kau lebih kagum dengan gadis di sebelah ibuku,” imbuh Sehun diiringi kekehan dari Tao.

Kini Junmyeon berdiri tegak di atas tebing tak jauh dari bibir pantai. Ternyata pria itu berpindah ketika Sehun dan sang ibu saling bertukar rindu dan cinta. Sesaat Venef itu merentangkan tangan dan mengucapkan ucapan yang tak dimengerti dua Shifter tersebut. Tak lama debur ombak berderu kencang, semakin kencang dan menyisir ke arah pantai. Dewi Asteria mulai melangkah mendekati tebing karang bersama Lyn menyusul di belakangnya.

Ular raksasa—Eurinome—muncul dari permukaan laut. Muncul sinar terang mengelilinginya. Horn-nya memancarkan sinar kemerahan. Berhadapan dengan Junmyeon yang terus mengucapkan mantra-mantra yang dimengerti oleh Tao dan Sehun.

“Junmyeon Hyung berusaha memanggil arwah Cheonsa. Kuharap dia bisa mengembalikan Cheonsa kembali.” Perkataan Sehun membuat Tao berpikir, apakah bisa Cheonsa kembali. Karena dalam jangka waktu yang lama Cheonsa tiada. Kecil kemungkinan sahabatnya bisa hidup lagi. Tao meragukan ritual ini. Tapi setidaknya Tao berharap besar gadis manis itu bisa datang.

Cahaya kebiruan keluar dari Eurinome. Memunculkan bayangan tubuh Cheonsa mengenakan gaun biru terang. Tampak sangat cantik dikenakannya. Junmyeon terus di posisi itu. Lantas Lyn serta ibu Sehun mengulurkan kedua tangan ke arah ular tersebut. Berusaha menggapai bayangan Cheonsa yang kian mendekat. Terus mendekat dan mendekat. Sinar kebiruan itu menghampiri mereka berdua. Bayangan Cheonsa terulur menggapai uluran tangan Lyn.

Cheonsa, kembalilah…

Sayang, lama kelamaan bayangan itu memudar. Arwah Cheonsa tak lagi terlihat jelas. Justru asap terlihat jelas menggantikan bayangan Cheonsa. Tiba-tiba Sehun berjalan cepat, tapi Tao berusaha menghadang.

“Tenanglah, ini belum selesai. Kau jangan mengacaukan ritual ini,” larang Tao memegang bahu Sehun dan mendorong kuat. Kedua tubuh mereka saling beradu.

“Kau tidak lihat? Cheonsa lenyap. Itu berarti dia kembali tiada. Aku harus menolongnya!” bentak Sehun terus mendesak.

“Apa yang akan kau lakukan? Jangan bodoh!”

“Kau yang bodoh! Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

“Sehun, kau masih ingat dengan mantra yang kuucapkan pertama kali saat bertemu dengan Eurinome?” kala itu Cheonsa dan Sehun tengah duduk di tepi bukit, menikmasti semilir angin yang menerpa mereka dengan lembut. Sehun hanya mengangguk sebagai jawabannya. Daya ingat pemuda itu memang tak bisa diambil remeh. Bahkan mantra dengan kata-kata aneh seperti itu pun tak luput dari ingatannya.

“Ucapkan itu saat kau merasa bahwa aku semakin menjauh, maka aku pasti akan datang dan kembali padamu.”

“Apa maksudmu? Princess Cheonsa tak akan pernah bisa jauh dari pangeran tampan sepertiku.” dan mereka berbagi tawa di hari yang indah itu.

Szaci huscta lizcovricsa

Cahaya terang melingkupi seluruh wilayah pantai kala Sehun berbisik pelan mengucapkan mantra itu, mantra yang Cheonsa minta untuk ia ucapkan kala Cheonsa pergi jauh dari Sehun. Dengan segenap ketulusan hatinya, Sehun memohon pada alam agar segera mengembalikan Cheonsa ke sisinya.

Tuhan, tolong kembalikan Cheonsa padaku.

Suara deburan ombak yang sangat kencang terdengar, bersama dengan hilangnya Eurinome dari pandangan setiap pasang mata. Sehun mengalihkan pandangannya pada sesosok tubuh yang berbaring di pinggir pantai, dikelilingi karang yang membentuk gugusan bintang.

Tubuh Cheonsa bergerak perlahan, disertai suara batuk yang membuat Sehun membulatkan matanya tak percaya. Segeralah ia berlari menghampiri Cheonsa, berlutut di hadapan gadisnya dan mengangkat tubuh mungil itu dari dinginnya air laut.

“Cheonsa, kau telah kembali, kan? Iya, kan?” tanya Sehun kala melihat kelopak mata itu terbuka, memerlihatkan bulatan hijau yang sangat dirindukannya. Cheonsa telah kembali, dan tak ada kebahagiaan lain yang dapat menggantikan hal ini.

“You stupid wolf! Kenapa sampai menyusahkan semua orang saat kau sendiri dapat dengan mudah membuatku kembali? Apakah Sehun tak ingat dengan apa yang pernah kukatakan tentang mantra itu? Sehun, kau benar-benar tidak mencintaiku lagi dan—“

Disentuhnya bibir dingin itu oleh jemari Sehun, menghentikan tiap kata yang keluar dari mulut Cheonsa. “Ah, my princess yang cerewet ini telah kembali rupanya,” ucap Sehun dengan kekehan kecil, lalu menutup segalanya dengan ciuman lembut. Keempat orang lainnya menatap dua remaja itu dengan gelengan kepala.

“Sudah kuduga Sehun memang bodoh. Mengapa ia melupakan fakta penting tentang mantra itu? Menyusahkan saja dan—ya, Lyn, aku memang benar, kan?”

Tao yang terus mengoceh pun tak luput dari cubitan Lyn di lengannya, sementara Junmyeon dan ibu Sehun hanya tersenyum melihat semuanya.

“Anakku memang mirip dengan ayahnya yang ceroboh. Junmyeon, aku titipkan Sehun padamu. Aku pulang dulu,” ujar ibu Sehun, lalu langsung menghilang dalam gelap malam.

Ya, tentunya aku akan menjaga anak-anak ini dengan baik.

TBC

Notes:
ferrinamd’s note: Ini bagian terpenting, Cheonsa kembali lagi. Maaf bagi yang menunggu lama, semoga part ini terbayarkan rasa penasaran kalian >,<
diantrf’s note: sorry if it’s too late, but happy reading^^

3 thoughts on “Wolf’s Eternal Love (Chapter 8)

  1. Huaaaa~ kereeen>.< maaf yah baru tinggalin jejak di chapt ini . Soalnya aku baru nemu ffnya dan langsung run . Tapi sumpah keren di chapt sebelumnya mellow sedih banget si cheonsa mati eh ternyata she's back😀
    Oke di tunggu yah nextchaptnya . Keep writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s