[EXOFF Drabble] Missing Red

Title: Missing Red

Prompt: Han

Length: 408 Words

Genre: Hurt

Rating: G

Angin memberikan pesan pada hujan, menyampaikan diriku yang menyimpan rindu dalam sebuah doa. Dedaunan pun ikut mengatakan sesuatu padaku, bahwa senyumku tak lagi berguna kala rintik itu turun dengan perlahan. Aku sendiri, benar-benar sendiri.

            Kelabu awan menyerupai kelambu kamarku, menambah nuansa hampa yang terhirup oleh kalbu. Napas yang selalu berputar di sekeliling mengembun pada daun jendela yang senyap, penggambaran deras hujan yang semakin menyelimuti senja. Aku sendiri, benar-benar sendiri.

            Atmosfer berubah sendu, ataukah aku yang terlalu lama merindu? Entah, yang jelas angin semakin menerbangkan nyanyian sunyi yang menggema di telingaku. Tuhan, akankah hari berakhir seperti ini? Aku rindu mentari yang menyinari hariku, malaikat yang menerangi seluruh jiwa dan menjadi dasar atas senyumku. Aku merindu.

            Rinduku semerah apel segar yang setia pada dahannya, mewarnai dedaunan hijau yang selalu melindunginya. Sayangku seperti akar yang kuat mengikat batang hingga tetap pada tempatnya. Aku tahu bahwa dedaunan akan meninggalkanku, namun keyakinanku pasti bahwa apel merah itu akan jatuh tepat di hadapanku, tak akan pergi menembus waktu.

            Lihat? Aku terlalu melankolis hanya karena sebuah apel berwarna merah. Aku terlalu kosong hanya karena habis terkuras oleh rasa rindu. Hening, aku butuh sesuatu selain keheningan seperti ini. Aku merindukan suara merdu yang selalu menemani. Tidak, ternyata aku merindu seorang diri.

            Hampa? Jelas aku terluka. Jelas aku meradang. Namun apa? Tak ayal diriku masih sendiri dalam sepi. Tak berguna keheningan yang menemani. Hanya ingin kau di sini. Sungguh, aku hanya menginginkanmu seorang diri.

            Aku hilang ditelan malam. Lirik sunyi yang kutulis nampaknya tak bermakna. Melihat senyum manismu nampaknya menjadi satu-satunya pilihan, namun tak bisa muncul di permukaan. Diriku hanya khayalan, dan kau adalah kenyataan yang memudar. Hilang, namun tidak dengan rinduku.

            Tenggelam dalam melodi saat senja menjemput malam sepuluh menit yang lalu. Dunia ini tak seperti surga, waktu berlalu begitu cepat. Tetapi mengapa aku merasa bahwa detik jam dinding itu tak bersahaja? Aku sendiri di sini dan hanya sepi yang masih setia menemani. Bolehkah aku hilang? Aku hanya khayalan yang memudar. Bolehkah aku menghilang?

            “Yixing?”

            Ya, aku mendengarnya, namun bukan dirimu yang berucap.

            “Yixing? Ya Tuhan, Yixing!”

            Aku mendengarnya, namun lagi-lagi bukan dirimu yang berucap.

            “Ayah, cepat panggil ambulans! Yixing, bangun nak…”

           Benar, kilat hujan mengingatkanku betapa ajaibnya benda berkilau itu. Tajam dan tepat sasaran, seperti cinta yang mengoyak diriku hingga meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Aku tak melukai dirimu, hanya memperjelas luka fana dalam jantungku menjadi sesuatu yang lebih nyata.

            Ya, karena aku bahagia melihat segala warna merah, seperti apel segar yang selalu kurindukan.

END

Baca FF lainnya di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s