Love In Trouble (Part 4a)

sdhg_hjbbghg______

Love in Trouble (Part 4a)

Title : Love In Trouble

Author : HYRPark

Starring by : D.O (EXO) as Do Kyungsoo, Jo Eun Hee (Ulzzang) as Shin Eun Hee, Kai (EXO) as Kim Kai, Jung Hye Rim (OC), Wu Yi Fan (Ex-EXO) as Kris Wu, and other you can find later…

Genre : Romance, Sad, Hurt, Little Bit Marriage Life (Not in this part), Fantasy, Drama

Rating : PG 13+

Lenght : Chaptered/Multi Chapter

Disclaimer : This story is mine! Big NO for PLAGIARISM!! Semua cast adalah milik Tuhan, orang tua mereka serta agensi. Sedangkan OC adalah hasil karangan author

WARNING : Typo bertebaran, Don’t be silent readers!! happy reading ^^

—0_0—

Love in Trouble (Part 4a)

—0_0—

Sebuah kenyataan tak terduga yang Kyungsoo ketahui dari Eun Hee. Sahabatnya itu.. masih berhubungan dengan Kai tanpa tahu status sebenarnya lelaki bajingan tersebut. Tanpa tahu bahwa kini.. lelaki bernama Kai telah mengikat janji sehidup semati dengan wanita lain. Kyungsoo sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran Kai. Bagaimana bisa dia melakukan hal sepengecut ini? Kai yang ia kenal dulu adalah seorang yang penuh tanggung jawab, pemberani, dan selalu berpikir dengan matang sebelum melakukan sesuatu. Kai yang sekarang… benarkah dia adalah Kai yang sama dengan dulu?

Kyungsoo duduk di bangku sebuah kafe, tempat biasa ia menghabiskan waktu bersama Eun Hee dan juga Kai dulu. Sebentar lagi, akan terjadi sebuah reuni yang sangat mengesankan.. beberapa saat lagi. Kyungsoo mendongak ketika mendengar suara dentingan bel yang menandakan datangnya pengunjung. Dan saat itulah ia melihat sosok Shin Eun Hee  dan… Kim Kai. Tangannya mengepal seketika melihat tubuh jakung tersebut, ia menggertakkan gigi menahan darah yang telah mencapai ujung kepalanya. Rasanya ingin sekali meninju wajah lelaki bajingan itu, menendangnya, dan mengeluarkan sumpah serapah hingga seluruh amarah yang ia pendam dapat enyah dari dirinya. Namun Kyungsoo harus menahan itu semua… setidaknya untuk saat ini.

Buku-buku tangan yang memutih itu kembali pada warna sebelumnya setelah ia melonggarkan kembali tangannya yang mengepal keras. berusaha menenangkan diri setelah dua orang itu melihat dan menghampirinya.

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Eun Hee seraya duduk di salah satu bangku, sedangkan Kai duduk tepat di depan Kyungsoo. Ia menggeleng dan tersenyum tipis. Kemudian mata bulatnya beralih pada Kai. Kini, kedua manusia itu saling beradu dalam tatapan dingin tanpa ada suara yang keluar dari mulut masing-masing. Kai dapat merasakan sorot kebencian di mata Kyungsoo. kebencian, kecewa, marah. Kai dapat merasakannya dengan sangat jelas. Tatapan tersebut seakan ingin membunuh Kai saat itu juga. Kehangatan yang selalu dipancarkan oleh lelaki itu.. sekarang pergi entah kemana.

“Aku ke toilet dulu”

Bahkan mereka tak mengindahkan suara Eun Hee yang berlalu dari tempat mereka berada saat ini. Mereka‒Kai dan Kyungsoo‒tetap pada dunia gelap yang mereka ciptakan. Setelah sekian lama saling berdiam diri, akhirnya Kyungsoo memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang Kai tahu akan menjadi pertanyaan pertama yang Kyungsoo tanyakan setelah bertemu dengannya.

“Kenapa?”

“…..”

“Kau mencintai Eun Hee dan tak ingin melepaskannya… kau tidak akan menjadikan itu sebagai alasan kan?”

“Memang itulah alasanku. Aku mencintai Eun Hee.. dan aku tak ingin melepaskannya”

Kyungsoo tersenyum sinis “Mencintainya? Itu bukan cinta.. tapi serakah. Ini hanyalah keserakahanmu, Kai”

Tak ada jawaban. ‘serakah’ kata itu.. Kai memikirkannya. Benarkah ini hanya keserakahannya? Obsesinya untuk memiliki gadis yang ia cintai? Salahkah jika ia ingin memiliki apa yang ia sukai? Layaknya anak kecil yang menyukai mobil-mobilan.. salahkah jika anak itu ingin memiliki mobil-mobilan?

“Walau begitu… aku tidak bisa berhenti. Aku harus tetap melanjutkannya, karena aku terlanjur memulainya”

“Bagaimana jika aku yang menghentikannya?”

“….?!”

“Bagaimana jika… aku memberitahunya?”

Kai kembali diam seribu bahasa. Ia merasa seperti semua yang ada disekitarnya berhenti, suara bising kafe berubah hening, semua orang berhenti dengan berbagai posisi, langkah kaki para pejalan di luar kafe pun terhenti di antara udara yang melayang. Hanya ia dan Kyungsoo yang terasa hidup di sana, bernapas, bergerak. Namun sayangnya, mereka berdua hidup di antara kegelapan.

“Kai? Kyungsoo? kalian di sini juga?” sebuah suara berhasil membuat dua pria itu berpaling dari ketegangan. Sejenak Kyungsoo mengerutkan dahi menatap gadis bersurai coklat yang tengah berdiri di dekat mereka sebelum akhirnya ia memekik “Choi Meilin?”

Gadis itu, Meilin tersenyum lalu duduk di samping Kyungsoo “Iya. Kenapa? Kau kaget karena aku semakin cantik?”

Kyungsoo memutar bola matanya malas. “Sedang apa kau di sini?”

“Tentu saja makan! Memang mau apa lagi ke kafe? Ya Kai!” seru Meilin yang kini beralih pada Kai

“Sekarang kan sudah ada di dalam ruangan. Kenapa kau masih pakai topi? Lagipula kan cuaca hari ini tidak panas. Ah ya, apa kau tahu? sekarang aku menjadi model di perusahaan Kim Corporate. Bukankah itu perusahaanmu? Hmm.. ternyata dunia ini sempit sekali”

Kai tak menjawab pertanyaan Meilin, tidak penting. Saat ini mood-nya benar-benar tidak baik. Telinganya bahkan lelah mendengar ocehan Meilin. Dia sangat cerewet, bahkan melebihi ibunya sendiri. Sangat menyebalkan. Dan juga yang bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa Meilin adalah musuh bebuyutan Eun Hee sejak sekolah dasar!

“Kalian berdua ini kenapa sih?! Menakutiku saja” tutur Meilin ketika mendapati Kyungsoo dan Kai kembali bertatapan dengan misterius. Setidaknya hanya untuk saat ini, Meilin tak tahu perkaranya. Namun sebentar lagi…

“Ya! kenapa kau di sini?” tak tahu sejak kapan, tiba-tiba Eun Hee telah kembali dari toilet. Ia terkejut dengan keberadaan Meilin di sana. Bagaimana bisa ia hanya meninggalkan tempat tersebut dalam waktu lima menit nenek sihir itu sudah muncul? Ah menyebalkan.

Eun Hee memandang Meilin tak suka seraya duduk di  samping Kai

“Kenapa duduk di situ?” Meilin menoleh pada dua pria di sampingnya yang masih diam lalu kembali menatap Eun Hee “Kalian pergi bersama?” seharusnya tanpa dijawab pun Meilin tahu.. hanya saja ia sedikit terkejut. Ini semua terasa seperti… reuni dengan musuh. Meilin tersenyum sinis. Namun senyum itu perlahan hilang ketika melihat keanehan pada Eun Hee dan Kai. Eun Hee terlihat begitu perhatian pada Kai… jangan-jangan.. “Ya! kalian masih pacaran?!!” sontak saja ketiga manusia di dekatnya itu terkejut. Bukan karena suaranya yang menggelegar, namun perkataan yang diucapkan gadis itu.

“Jika memang benar.. bagaimana bisa kau pacaran dengan pria ber‒” sebelum Meilin berkata lebih jauh lagi dan membeberkan semuanya, Kyungsoo membekap mulut gadis itu lalu mengajaknya pergi. Bahkan Kai sempat hampir berdiri demi menahan gadis itu berbicara.

“Aku akan membawa orang aneh ini pergi” begitu kata Kyungsoo sembari menyeret Meilin keluar kafe.

“Aish dasar gila” gumam Eun Hee. Sedangkan Kai hanya bernapas lega karena Meilin tak jadi membongkar sandiwara yang ia lakukan.. setidaknya untuk sekarang dan untungnya Eun Hee sama sekali tak curiga dan bertanya pada Kai.

Sedangkan di luar, terlihat Meilin membuka paksa tangan Kyungsoo yang membekap mulutnya. Dari sikap yang ditunjukkan pria bermata bulat itu, Meilin dapat menyimpulkan bahwa Kyungsoo tahu tentang masalah ‘itu’. Tapi kenapa dia menahannya berbicara tadi? Mungkinkah.. “Eun Hee tidak mengetahuinya?”

Kyungsoo mengangguk mengiyakan pertanyaan Meilin. Yah, Eun Hee sama sekali tak mengetahuinya. Meilin membuang napasnya kasar. Ia hanya merasa kasihan pada Eun Hee yang dengan mudah dan bodohnya dibohongi oleh Kai. “Dari dulu sampai sekarang dia bahkan masih bodoh. Cih”

Kyungsoo memandang Meilin dingin “Dan kau, dari dulu sampai sekarang bahkan masih gila”

“APA KAU BILANG?!!! YAKK‒” suara dering ponsel menginterupsi Meilin. Bukan hanya ponsel Meilin yang berdering, di saat bersamaan Kyungsoo juga mendapat panggilan dari seseorang. Kemudian Kyungsoo menjawab panggilan tersebut begitupun Meilin.

Setelah beberapa saat mendengar penjelasan dari seberang, raut mereka berdua berubah seratus delapan puluh derajat.

“Kenapa ahjumma baru mengatakannya sekarang?!” Kyungsoo memejamkan matanya seraya mengatur napas agar tetap tenang “Baiklah. Aku akan kesana sebentar lagi” semetara Kyungsoo telah memutuskan sambungannya dan masuk ke dalam kafe, tidak dengan Meilin. Sedari tadi dia hanya diam dengan tangan yang menggenggam erat ponselnya. Mendengarkan kata demi kata dari seseorang di seberang membuat telinganya makin panas. Ia menggertakkan gigi lalu memutuskan sambungan. Meilin pergi menuju mobilnya dengan wajah dingin… bahkan ini bisa dibilang terlampau dingin hingga orang lain yang melihatnya sekilas saja sudah mengetahui terdapat kebencian mendalam di sana.

—0_0—

Ketika Kyungsoo kembali, Eun Hee tak ada di tenpat duduknya. Yang ada hanyalah Kai. Kyungsoo menghela napas lalu duduk di tempatnya semula.

“Di mana Eun Hee?”

“Mencuci tangan”

Kyungsoo tampak berpikir sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Perlahan ketukan itu semakin cepat hingga membuat Kai memandang Kyungsoo dengan heran. Tiba-tiba jari tersebut berhenti bergerak. Kyungsoo memandang Kai serius “Mereka sudah meninggal”

Kai terkejut dan membelalakkan mata mendengar apa yang dikatakan oleh Kyungsoo. Tampaknya ia mengerti siapa yang dimaksud oleh pria itu. Karena Kai sendiri adalah…. saksi kejadian mengerikan tersebut.

“Eun Hee… masih belum mengetahuinya?”

Kyungsoo menggeleng lemah sebagai jawaban. Kai memejamkan matanya erat-erat. Apa yang harus ia jelaskan nanti pada Eun Hee jika gadis itu bertanya?

“Sudah dimakamkan?”

“Sudah. Baru saja”

Hening kembali menyelimuti. Dua lelaki itu terdiam larut dalam pikirannya masing-masing. Tak lama kemudian Eun Hee datang. Ia memperhatikan Kyungsoo dan Kai yang hanya diam saja, bahkan kedatangannya pun mereka tak sadar.

“Ada apa?” suara Eun Hee yang sebenarnya terdengar lembut itu pun mengejutkan mereka. Terlihat Kyungsoo dan Kai saling berpandangan was-was. “Sejak kapan kau di sini?” tanya Kai

“Baru saja” jawaban Eun Hee itu membuat mereka lega seketika. Jika Eun Hee baru datang, pasti dia tak mendengar percakapan yang dilakukan Kai dan Kyungsoo tadi.

“Bagaimana kalau kita pulang saja? Aku lelah” dan hal itupun langsung disetujui oleh dua pria di dekatnya itu. Saat Kai akan berbicara sesuatu pada Eun Hee, tiba-tiba Kyungsoo memotong membuat Kai mau tak mau terdiam kembali “Eun Hee, aku yang akan mengantarmu pulang. Kai bilang dia akan ada rapat dengan kliennya” bohong. Kai sama sekali tak punya jadwal rapat apapun hari ini. Namun Kai mengerti kenapa Kyungsoo melakukannya. Tentu saja dia tak ingin sahabat yang sangat disayangi itu dekat-dekat dengan seorang pecundang sepertinya.

“Benarkah? Baiklah kalau begitu” setelah itu mereka bertiga pun pergi beranjak dari tempat tersebut. Saat Eun Hee akan memasuki mobil Kyungsoo, ia melambaikan tangannya dengan sangat ceria pada Kai. Sedangkan Kai hanya mengulas senyum tipis sebagai balasannya. Setelah sosok itu benar-benar pergi, senyum yang terpatri di wajah tampan Kai pun memudar. Mungkin pertemuannya dengan Eun Hee selanjutnya akan terasa sangat berbeda. Mungkin gadis itu tidak akan tersenyum seceria ini lagi… mungkin.

—0_0—

Tempat inilah yang dituju oleh Meilin. Tempat bagi para tahanan menebus segala kesalahan yang telah mereka perbuat. Saat ini, Meilin tengah memandang tajam pada seorang pria paruh baya yang juga duduk di depannya dengan kaca dan tembok sebagai penghalang. Lelaki itu, Meilin benar-benar membencinya.

Sebuah hembusan napas panjang baru saja dilakukan Meilin. Ia sedikit melunakkan pandangannya lalu berkata “Kudengar kau hidup dengan bahagia di sini bersama teman-temanmu”

“Meilin..” seru lelaki tersebut dengan nada memelas namun tak dihiraukan oleh Meilin. Gadis itu tetap melanjutkan apa yang ingin ia katakan

“Berolahraga bersama.. membersihkan tahanan bersama.. berbagi makanan.. berbagi tawa.. seolah kau melupakan dosa-dosamu. Bagaimana bisa kau tetap tertawa setelah melakukan perbuatan bodoh itu?” tenang, namun menusuk. Begitulah Choi Meilin. Mungkin sikapnya memang tenang… namun makna di balik kata-katanya, benar-benar tajam hingga menyentuhnya sedikit saja dapat membuat luka dalam. Lelaki itu hanya diam membisu. Ia dengarkan semua kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut mungil gadis di depannya ini. ia sadar betul, semakin ia banyak bicara… Meilin akan semakin membencinya.

“Aku kesini hanya ingin mengingatkanmu tentang perbuatan yang kau lakukan waktu itu. Perbuatan yang dilakukan atas dasar kecemburuan tak beralasanmu. Perbuatan yang membuat orang-orang yang sangat kusayangi mati…” air mulai mengintip di ujung matanya ketika harus mengingat bagaimana pria itu menghancurkan hidupnya, merenggut segala kasih sayang yang seharusnya ia miliki dari orang-orang itu, bagaimana pria itu tetap merasa bahagia walaupun berada di balik jeruji besi… benar-benar menyakitkan.

Meilin melanjutkan “Bagaimana bisa ibu berpisah dengan ayahku demi menikah dengan lelaki bajingan sepertimu?”

Lelaki itu tersenyum sendu. Yeah, ia memang bajingan. Pria gila yang melakukan kesalahan besar karena sebuah kecemburuan yang sama sekali tak beralasan. Meilin benar sepenuhnya.

Terlihat Meilin melihat keadaan sekitar. Penjaga yang menjaga tempat itu pun saat ini tengah sibuk dengan panggilan di ponselnya. Meilin mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa senti saja dengan kaca pembatas “Aku punya mata-mata di sini. Aku bisa saja memerintahkan mereka melakukan sesuatu padamu. Jika kau ingin selamat… jangan pernah bahagia. Sekalipun kau ingin tersenyum, jangan pernah kau melakukannya. Karena ‘mereka’.. tak ingin melihat senyum menjijikkanmu dari atas sana”

Well, Meilin tak akan pernah membiarkan lelaki ini bahagia barang sedetik saja. Ia ingin lelaki itu terus mengingat perbuatannya dan menderita karenanya. Meilin tak ingin… seorang pembunuh hina seperti dia merasakan kesenangan. Bahkan ia berharap bahwa saat mati pun, lelaki itu tetap tak bahagia… dan pergi ke neraka.

—0_0—

Di saat jam makan siang seperti ini, Hye Rim masih saja berkutat dengan kertas-kertas berisi dokumen penting perusahaan. Jabatan sebagai sekretaris sekaligus designer di perusahaan yang dikepalai oleh Kai tersebut agaknya memang tak membiarkannya memiliki waktu istirahat sebentar saja.

Hye Rim menaruh kertas-kertas yang ada di genggamannya lalu mulai meregangkan tubuh dengan meliuk-liukkannya ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia berjalan menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul yang padat. Sesaat ia teringat akan sesuatu yang sempat ia lupakan beberapa hari ini karena kesibukan yang sangat menyita waktunya, Kyungsoo. oh, ia benar-benar mengabaikan kekasihnya itu.

Hye Rim mengambil ponsel miliknya di meja dan mengetik beberapa angka di sana, kemudian menempelkan benda persegi panjang itu di telinga. Namun suara operator di sana membuatnya sedikit kecewa. Ponsel Kyungsoo tak aktif. Saat ini Kyungsoo pasti tengah marah dan kecewa padanya. Ah, ia benar-benar menyesal karena mengabaikan pria itu.

—0_0—

“Sampai kapan aku di sini?”

Sebuah suara berat baru saja terdengar. Entah di mana, Kris duduk di atas kursi memakai jubah putih dengan mata terpejam. Ia tak membuka mulutnya untuk berbicara, namun suaranya dapat menggema dalam ruangan gelap.. tak ada apapun, dan tak ada siapapun kecuali Kris.

Entah datang dari mana dan milik siapa, suara misterius yang tak diketahui di mana dan apa wujudnya menjawab “Hingga gadis itu merelakanmu”

—0_0—

Eun Hee tak kembali ke apartemennya, melainkan rumah yang menjadi tempat ia tumbuh dan besar. Baru saja Eun Hee dan Kyungsoo menginjak halaman, bibi Han telah datang menyambut dari dalam rumah dengan senyuman. Namun senyuman yang diberikannya berbeda, tak seperti biasa.

“Ahjumma, kau sakit?” tanya Eun Hee khawatir karena melihat bibi Han yang terlihat letih dan lingkaran mata yang menghitam.

Bibi Han menggeleng lemah tetap menampilkan senyumnya dan berkata “Ada apa kau kemari?”

“Aku ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di kamar”

“Baiklah”

Eun Hee masuk ke dalam kamarnya meninggalkan bibi Han dan Kyungsoo di ruang tamu. Sedari tadi, Kyungsoo sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari bibi Han dengan raut wajah sedihnya. Ketika bibi Han membalas tatapan tersebut, Kyungsoo langsung menunduk seraya menghela napas berat. Bibi Han, wanita yang rambutnya mulai memutih itu memejamkan matanya. Larut dalam kesedihan yang sangat melukainya. Mereka berdua diam dalam duka. Tak tahu harus mengatakan apa tentang kejadian ini.

“Bagaimana bisa mereka meninggal?” akhirnya setelah sekian lama, Kyungsoo lah yang pertama melerai keheningan. Ia melanjutkan “Bukankah dokter sudah mengatakan bahwa keadaan mereka masih stabil?”

Cukup lama hingga akhirnya bibi Han menjawab “Pembuluh darah yang ada di otak Eun Rim tiba-tiba pecah. Dan Jae Seok mengalami serangan jantung secara mendadak. Mereka… tak dapat tertolong lagi”

“Mereka… meninggal?”

Tiba-tiba terdengar suara parau milik seseorang yang sangat mereka kenal. Kyungsoo dan bibi Han terbelalak kaget begitu mengetahui Eun Hee telah berada di sekitar mereka. Mungkinkah dia mendengar semuanya?

Buliran air bening meluncur tanpa izin dan membasahi pipinya. Bibirnya bergetar dan dunia yang ada di sekelilingnya terasa gelap tanpa cahaya seketika itu pula. Yang dikatakan barusan itu… tidak benar kan? Mereka… Shin Eun Rim dan Shin Jae Seok… mereka masih hidup kan? Mereka.. orang tuanya tak mungkin pergi begitu saja seperti ini. Ia pasti sedang bermimpi, pasti.

To Be Continued…

Apa ini?!! oke bisa dibilang saya lagi kurang dapat pencerahan(?) buat bikin part ini, kan nyebelin -_- Daan setelah saya baca lagi, saya baru sadar kalo gak ada romance sama sekali! Jadi yah kesimpulannya part ini lebih fokus pada konflik para tokoh. Setelah dibaca dan dibaca lagiii… saya rasa khusus part ini ceritanya ngawur ngelancong kemana-mana -_- Tapi, sekali lagi thanks banget buat para readers ku yang dengan kebaikan hatinya ninggalin jejak alias kritik dan saran yang sangat membangun semangat serta tulisan saya di ff ngawur ini 🙂 nggak kayak itu tuu.. *lirik siders*

Don’t forget to RCL guys 😉

Iklan

2 thoughts on “Love In Trouble (Part 4a)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s