When Our Love Came Suddenly (Chapter 9)

When Our Love Came Suddenly

(chapter 9)

Author : Hwang Sung Ji and Xiu Yu Ri

Main Cast    :

  • Lin Da (OC)
  • Ayu (OC)
  • Kim Joon Myun a.k.a Suho EXO
  • Park Chanyeol a.k.a ChanYeol EXO

Other Cast :

  • All EXO Member
  • Shin Yunra a.k.a Chanyeol ex-yeojachingu

Genre : Happy, Romantic, Friendship, School life, Little Comedy

Length : Chapter

Rating : PG 16

“Eodiga? Kenapa kita kesini?” Ayu menatap Chanyeol. Namun Chanyeol lebih memilih diam seribu bahasa.

Sekarang mobil itu sedang di parkirkan bersama 5 mobil lainnya yang berjajar rapi di garasi rumah itu. Ayu masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Chanyeol turun dari mobil disusul dengan Ayu.

“Welcome to My House, Agasshi!”

“Untuk apa kita datang ke sini? Bawa aku pulang!!” Ayu menghentakkan kakinya kesal. Chanyeol tidak perduli dengan apa yang yeoja itu ucapkan, dia hanya mendekat padanya dan segera menarik tangannya.

.

.

.

Hening. Hanya itu lah kata yang pas dengan suasana saat ini. Seorang yeoja berbalut dress casual berwarna soft pink tengah berjalan pelan tepat di belakang namja susu itu. Keduanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Suho sang namja tengah berkalut ria dengan pikirannya. Entah apa yang tengah ada di benaknya saat ini, Lin Da yang merasa diabaikan pun merasa kesal. Lihatlah wajahnya yang semula ceria berubah menjadi kelam benderam. Sesekali tangannya meremas dressnya untuk menghilangkan kekesalannya.

DUG

Lin Da meringis kesakitan ketika dahinya mendarat tepat di punggung keras Suho.

“ Yak! Kenapa kau berhenti secara tiba-tiba? Aishh, appoya…” Lin Da meluapkan kekesalannya.

“ Apa sakit? Mian” Suho seketika mengusap dahi Lin Da yang memerah. Sedangkan Lin Da segera menepis tangan Suho karena dia yakin jantungnya pasti berdetak hebat jika tangan Suho terlalu lama menyentuh dahinya.

“Tuan muda. Anda sudah sampai?” seorang ahjussi menghampiri Suho dan Lin Da sambil membawa kuda berwarna Coklat Putih.

“Ah, ne Ahjussi. Annyeonghaseyeo. Annyeong Jasper-ah.” Suho membelai lembut kuda yang dibawa ahjussi itu.

“Buaaaaakakakakakakakakkaakak!!!” tawa Lin Da menggelegar mengejutkan dua orang di depannya.

“Waeyeo? Apa ada yang lucu.” Mata Suho menyelidik ke arah Lin Da yang masih setia dengan tawa kerasnya.

“Jes..Per-ah..?? jika kau tau artinya dalam bahasa Indonesia, kau pasti akan tertawa sepertiku, Buaakakakakakakaak!!!” Lin Da mengusap air matanya yang keluar karena tawanya. Suho memandangi bingung.

“Memang apa?” matanya fokus pada Lin Da. Lin Da segera menormalkan pernafasannya.

“Hahaha…Amugeotdeo aniya. Dweitta.” Mendengar jawaban Lin Da, Suho segera mempoutkan bibir kissablenya dan berbalik pada Jesper.

“Keundae, kau mengajakku kesini hanya untuk bertemu dengan Jesper?” Lin Da mendekati Suho yang tersenyum padanya. Suho meminta agar ahjussi meninggalkan mereka bertiga(?)

” Sebelumnya kau bilang bahwa kau belum pernah menunggang kuda. Keutchi?” Tanya Suho dengan melesatkan tatapan hangatnya yang sungguh mematikan untuk Lin Da. Lin Da menjawabnya dengan anggukan.

“ Hah, maka dari itu aku akan mengajakmu menunggang kudaku ini.” Suho menaikkan alisnya ke atas dan bawah berulang kali.

“ Mwoo?? Shireo! Aku tak berani” Lin Da menggelengkan kepalanya dengan kuat hingga berhasil membuat poninya bergerak ke kanan dan ke kiri.

“ Ahhh, Gwaenchana…..  Aku akan ada di sampingmu” Ucapan Suho berhasil membuat pipi Lin Da merah merona.

“Apa kau lupa aku memakai apa?” Lin Da menyadarkan Suho jika dirinya berbalut dress selutut, dan akan menjadi hal aneh jika dia menggunakan baju itu untuk menunggang kuda.

“Ah, hahaha. Geure. Kajja kita ganti baju!!” Suho menarik tangan Lin Da namun Lin Da tidak bergeming dari tempatnya berdiri.

“Kita??? Maksudmu??” Lin Da dengan tatapan polos namun penuh intimidasi itu memandangi Suho.

“Ternyata otakmu bisa memikirkan hal-hal dewasa seperti itu. Jika kau mau aku bantu ganti baju, aku bersedia. Hahahaha” tatapan Suho berubah menjadi tatapan nakal.

“Yaa!!! Sejak kapan kau terkontaminasi dengan dongsaeng hitammu itu?” Lin Da menyipitkan sebelah matanya.

Mereka berjalan menuju tempat dimana semua perlatan berkuda disimpan. Mulai dari pakaian, helm, sepatu, pelana, dan lainnya. Suho mengambil 1 pasang baju dan celana untuk yeoja yang tengah berbincang-bincang dengan beberapa orang. Dia memberikannya pada yeoja itu dan menyuruhnya untuk segera mengganti dressnya. Setelah beberapa lama, Lin Da kembali dengan penampilan barunya namun tidak meninggalkan kesan cantiknya. Mereka menghampiri Jesper yang tengah menunggu kedatangan tuannya.

“Kajja” Suho mengulurkan tanganya dan diterima dengan ragu oleh Lin Da. Perlahan Suho membantu Lin Da untuk menaiki kuda kesayangannya itu. Dia tersenyum saat tangannya di remas kuat oleh Lin Da yang tengah ketakutan. Baginya ini bukanlah menyakitkan, tapi ini sebuah kesempatan buatnya.

“ Suho aku ingin turun saja, aku takuttt…. “ rengek Lin Da saat sudah berada di punggung Jesper.

“ Gwaenchanayo, tenangkan dirimu….” Suho megelus punggung Lin Da berharap dapat menghilangkan kegundahan yeoja manis itu. Suho sedikit demi sedikit menuntun kudanya untuk berjalan. Suho sempat terkekeh saat mendengar teriakkan histeris Lin Da yang ketakutan saat Jesper mulai berjalan.

.

.

.

“ Kau mau minum apa?” Pertanyaan Chanyeol berhasil membuat Ayu membuyarkan lamunannya.

“ Ne? Apa saja” Ayu menatap rumah Chanyeol yang bernuansa klasik. Matanya berbinar kagum saat melihat kemewahan rumah ini.

“ Chanyeol-ah, dimana orang tuamu? kenapa sepi sekali?”Ayu mencoba bertanya pada Chanyeol yang tengah menaruh minuman di meja. Chanyeol terdiam sejenak lalu mengendikkan bahunya seolah-olah tak tahu menahu tentang orang tuanya. Ayu mengernyitkan alisnya bingung.

“ Kau tak tahu dimana orang tuamu?” Sikap Chanyeol berubah menjadi dingin. Senyumnya luntur seketika.

“ Jangan pernah bertanya tentang mereka lagi.” Ucapan Chanyeol berhasil membuat Ayu membeku. Ini bukan Chanyeol yang biasanya. Ada apa dengan namja ini? Apakah ada yang salah dengan perkataan Ayu?

“ Mianhae..” Ucap Ayu menunduk kaku. Di dalam benak yeoja itu, dia berpendapat bahwa Chanyeol adalah seseorang yang misterius dan penuh dengan konflik. Ayu terus memandangi Chanyeol yang sibuk dengan minumannya.

“Apa kau sendirian di rumah ini?” Ayu kembali bertanya pada Chanyeol. Chanyeol hanya menggeleng tanpa memperhatikan yeoja di sampingnya.

“Lalu kau di sini bersama siapa? Kenapa dari tadi sepi sekali?” lagi-lagi yeoja itu bertanya.

“Ada noona-ku dan pelayan-pelayan. Tapi mungkin noona sedang pergi.” Jawab Chanyeol masih tak memandang Ayu.

“Lalu dimana pelayanmu?” yeoja itu memandang Chanyeol lekat-lekat. Chanyeol menatap tajam ke arahnya.

“YAA!!! Kau ini cerewet sekali!!!” bentaknya. Ayu terlonjak kaget dan memejamkan matanya ketika Chanyeol berteriak tepat di depan wajahnya. Ayu mendengus kesal dan mempoutkan bibirnya.

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya, Ayu mengekori di belakangnya. Mereka berjalan di koridor rumah Chanyeol yang benar-benar panjang memperlihatkan betapa luasnya rumah ini. Ayu memandang kagum setiap tempat yang mereka lewati.

Mereka memasuki sebuah ruangan yang memiliki pintu berwarna biru muda. Ayu tidak bisa melihat isi ruangan itu karena terhadang oleh tubuh tinggi Chanyeol. Namun dalam hitungan detik, matanya tidak berkedip dan hatinya tidak henti-hentinya memuji isi ruangan ini.

Bagaimana tidak? Bahkan ruangan ini bisa saja lebih luas dari apartementnya dan di ruangan ini terletak berbagai macam alat-alat musik seperti gitar, drum, bass, sound system dan lainnya. Bahkan ruangan itu juga merangkap sebagai tempat latihan dance. Kalian bisa membayangkannya sendiri.

“Tutup mulutmu.” Chanyeol mengangkat dagu Ayu karena mulutnya yang terbuka lebar. Ayu berusaha menormalkan pikirannya.

.

.

.

(Lin Da POV)

Disini aku sekarang. Duduk di atas punggung kuda milik Suho yang bernama Jesper. Kalian tau apa yang kurasakan sekarang. Jika diminta menulis hangul satu buku penuh atau mengejarkan ulangan dadakan oleh Saem SINGA di sekolahku, aku lebih memilih hal itu daripada menaiki kuda ini. Keringat dinginku mulai bercucuran karena kegugupanku yang sangat sangat luar biasa. Aku memegang tali pengendali dengan sangat kencang.

“Hyaak.” Suho menepuk pantat Jesper. Jesper meringik dan benar-benar membuatku takut.

“Yaaaaa!!! Andwaeyeeooooo!!! Shirreooo!! Yaaa!!! Shireo! Shireo! Shireooo!!!!!” teriakku tak karuan. Aku menutup mataku rapat-rapat. Seketika aku mendengar suara Suho yang menertawaiku.

“Suho-ya, aku benar-benar takut. Aku ingin turun jebal..” aku merengek kepada namja yang sedang menuntun kuda yang ku naiki ini. Aku benar-benar takut menaiki Jesper, apalagi saat dia berjalan dan punggungnya yang bergoyang, rasanya benar-benar ingin jatuh.

“Bagaimana kalau aku naik bersamamu?” aku terkejut dengan ucapannya. Apa maksudnya dia akan menunggang kuda dan duduk di belakangku? Bukan kah itu sama saja..

“Aku anggap itu sebagai jawaban iya.” Katanya. Tanpa persutujuan dariku yang masih tertegun dengan idenya, tiba-tiba dia sudah menaiki Jesper dan duduk di belakangku.

DEG!

Posisinya, posisinya benar-benar membuat jantungku berantakan. Omo, ini terlalu dekat Tuhan, tolong jangan biarkan jantungku seperti ini. Aku bisa merasakan punggungku yang hangat karena berhimpitan dengan dada bidangnya. Tangannya melingkari perutku dan memegang tali pengendali Jesper yang persis di depanku.

“Otte? Kau merasa lebih aman sekarang?” Suho berbisik di telingaku dengan suaranya yang errrrrrr susah di jelaskan. Bulu kudukku berdiri karena desahan(?)nya di telingaku. Aku hanya mengangguk lemah. Dia menghentakkan kakinya dan Jesper-pun kembali menggoyangkan punggungnya.

Kami melewati jalanan di hutan dekat peternakan. Suho mengendarakan Jesper pelan sehingga kami bisa menikmati suasana tenang di hutan ini. Sesekali nafasnya yang lembut berhembus di leherku dan membuat darahku berdesir. Untuk beberapa waktu kami terdiam sibuk dengan fantasi kami masing-masing.

“Ehmm..Lin Da-ya. Kau mengenalku dan EXO sudah beberapa bulan ini. Matchi? Menurutmu bagaimana rasanya berteman dengan kami?” Suho melarutkan suasana hening. Aku berpikir sejenak.

“EXO? Mm..kalian baik. Menurutku berteman dengan kalian adalah sesuatu keberuntungan tersendiri untukku maupun Ayu. Kalian adalah orang yang hangat. Johaneunde.” Aku mengutarakan perasaanku yang selama ini aku rasakan.

“Jinjjayo? Geunde, apa kau..menyukai salah satu dari kami?” aku tersentak dengan pertanyaan Suho yang diberikan padaku.

Pertanyaannya berhasil membuat jantungku berhenti. Aku menoleh padanya, wajahnya benar-benar sangat dekat. Bahkan aku bisa merasakan nafasnya yang menerpa wajahku. Omona, kenapa wajahnya bisa setampan ini? Er Lin Da tenangkan hatimu.

“A..ah..Aku me..menyukai kalian semua.” Kataku sambil berbalik menghadap ke depan. Aku bisa merasakan jika dia hanya menganggukkan kepalanya.

“Apa kau menyukaiku?” Suho kembali membuat jantungku berhenti. Apa yang harus aku katakan padanya. Aku tidak mungkin berkata yang sesungguhnya. Bisakah kita keluar dari situasi ini sekarang? Jebal?

“Kenapa kau melamun? Jawab aku!” Dia benar-benar tidak sabar menunggu jawabanku. Aku masih memikirkan hal itu dan lebih memilih untuk bungkam.

“Baiklah kau yang minta. Hyaaa!!!” dia menghentakkan kakiknya, Jesper pun meringik dan berlari dengan kencang.

“Ahhhhhhh!!!!!!!!!!!!! Shirreooooooooo!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

.

.

.

(Chanyeol POV)

Aigoo, lihatlah dia. Aku tidak menyangka bibir kecilnya bisa terbuka selebar itu. Gwiyeomne, kau benar-benar lucu. Aku benar-benar penasaran bagaimana kehidupanmu setiap hari. Ayu-ya, izinkan aku lebih dekat denganmu.

“Tutup mulutmu.” Aku mendorong dagunya ke atas. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali.

Kakinya mulai melangkah masuk menyusuri setiap sudut studioku ini. Aku tidak menyangka jika reaksinya akan berlebihan seperti itu. Ku kira hanya biasa saja. Kau adalah yeoja yang sulit untuk ditebak.

“Ya!! Kau bahkan punya ruang latihan dance sendiri. Geundae, kenapa kau tidak bisa menari dengan benar? Pabo ya!” ledeknya. Baru saja aku memujinya, kini dia mulai berulah.

“Hah! Terserah ucapanmu. Kajja kita berlatih, ambil gitarnya. Lirik dan chordnya ada di kertas ini.” Aku berjalan ke arah Matilda yang sudah siap ku mainkan helai-helai senarnya. Namun aku masih melihat Ayu yang berdiri mematung di depan drumku.

“Ya!! Neo michyeoso? Kau tidak lihat jariku di perban begini tebalnya? Uh?” protesnya sambil mengangkat jarinya yang terluka karena pisau itu.

“Kau yang gila! Jarimu sendiri kau iris! Sudahlah duduk saja dan hafalkan chord dan liriknya. Aku akan mencoba memainkannya. Arra?” aku berhenti menatap wajahnya yang cemburut dan berkonsentrasi pada Matildaku. Dia duduk di kursi yang berada tepat di depanku.

Aku memutarkan lagunya lagi. Kali ini aku dan Ayu akan membawakan lagu milik Kim Bum yang berjudul I’m Going to Meet You Know, dan lagu ini adalah salah satu ost. Drama korea yang pemeran utamanya memiliki kehidupan persis sepertiku kecuali sifatnya yang angkuh.

Aku memandanginya yang sedang berkonsentrasi pada lagu yang aku putarkan. Sesekali bibirnya mengeluarkan suara mengikuti nada-nada lagunya. Rambut panjangnya menutupi pandanganku dari wajahnya. Tanganku seketika bergerak menepis rambutnya dan menyelipkannya di telinga. Dia memandangiku dan membulatkan matanya.

“Mwoga?” ucapnya tanpa suara. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan memalingkan wajahku.

“Arasseo. Aku mulai mengerti jalurnya. Tapi bisakah kau naikkan nadanya sedikit? Itu terlalu rendah untukku.” Permintaanya tidak terlalu bermasalah untukku. Aku menaikkan nada Matilda sedikit demi sedikit, sedangkan dia mengepaskan nada-nadanya.

“Cukup. Otte? Kau bisa di nada ini?” katanya meminta persetujuan. Aku mengangguk padanya dan dia mulai tersenyum.

Aku mulai memainkan senar-senar gitar Matilda dan memulai bagianku. Sesekali aku memandanginya yang terlihat menikmati alunan nada-nada yang dihasilkan oleh Matilda. Aku tidak menyangka jika dia cepat menghafalkan lagu. Walaupun terkadang masih salah dalam pengucapannya, geundae untuk orang yang bukan dari Korea itu bahkan lebih dari cukup.

.

.

.

(Author POV)

“Kau lelah?” Suho melirik yeoja yang duduk di sebalah kanan kemudi mobilnya.

“Hahaha..kau bercanda? Tentu saja tidak.” Lin Da tersenyum lebar.

Suho yang mendengar jawabannya ikut tersenyum bersamanya. Ada kehangatan yang dirasakan oleh dua orang itu. Walaupun terkadang diam juga menyapa suasana di dalam mobil, namun tidak menyurutkan semangat dan antusias Lin Da ataupun Suho dalam kencan(?) mereka.

Tiba saatnya Suho memberikan Lin Da puncak dari hari yang dihabiskan dengannya selama 5 jam lebih itu. Mereka berhenti si sebuah tempat yang sepertinya adalah taman, namun gelap gulita karena tidak ada satu pun lampu yang hidup. Lin Da sempat berprasangka buruk dan bertanya-tanya mengapa dia -Suho- membawanya ke tempat seperti ini.

“Kenapa kau membawaku kemari? Jangan melakukan sesuatu yang aneh!” Lin Da memberi peringatan pada namja di sebelahnya, semantara namja itu hanya tersenyum karena perilaku Lin Da yang celingak-celinguk.

“Apa yang kau pikirkan? Apa aku terlihat seperti namja yang akan memakanmu? Hah?” ledek Suho. Lin Da menundukkan kepalanya.

Suho segera menggandeng tangan Lin Da dan membawanya memasuki taman yang gelap gulita itu. Lin Da memegang tangan Suho erat-erat karena dia tidak bisa melihat apa yang ada di depannya. Sementara Suho berusaha menenangkannya. Tiba-tiba Suho menghentikan langkahnya.

“Chakkamannyeo. Lin Da, sepertinya aku meninggalkan ponselku di mobil. Aku ambil sebentar, ne. Kau tunggu disini, aku tidak akan lama.” Suho melepaskan tangan Lin Da. Dia bisa melihat ekpresi terkejut sekaligus ketakutan di wajah yeoja itu.

“Andwae!! Jangan tinggalkan aku disini. Aku ikut!! Aku takut sendirian!!!” Lin Da menarik kembali tangan Suho yang hendak berlari.

“Gwaenchanayeo. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan segera kembali, oke. Tunggu disini.” Suho melepaskan tangan Lin Da lagi dan segera berlari ke arah dimana mobilnya diparkirkan. Dia tidak menghiraukan Lin Da yang terus menerus memanggil namanya.

Bisa dibilang jika hanya ada bulan dan ribuan bintang di langit yang menjadi satu-satunya penerangan Lin Da di taman itu. Dia benar-benar ketakutan karena hanya dia sendiri di sana sementara Suho pergi mengambil ponselnya.

Sudah cukup lama Suho tidak kembali, dan itu membuat ketakutan Lin Da semakin membesar. Yeoja itu terus memanggil-manggil nama Suho yang tak kunjung menampakkan wajah bercahayanya. Sesekali dia merasakan jika ada seseorang di belakangnya, namun ketika dia berbalik dia tidak menemukan siapapun.

Hampir setengah jam Suho menghilang entah kemana. Padahal jika diingat-ingat, hanya sekitar 3 menit untuk kembali ke parkiran mobil. Setetes cairan bening membasahi pipi kanan Lin Da. Ya, dia menangis bahkan sudah mulai sesenggukan. Dia duduk di bawah pohon dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya yang ditekuk.

“Hikks..Suho-ya..eodiga? Jebal!! Aku takut..hiks!!”

TO BE CONTINUED…

3 thoughts on “When Our Love Came Suddenly (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s