Are You Happy? (Chapter 3)

422969-exo-hunhan-55

Are You Happy? chapter 3

Cast :

  1. Oh Sehun
  2. Xi Luhan

Genre : Yaoi, Romance, School

Author : @leedonghyunn

Chapter 1https://exofanfiction.wordpress.com/2015/03/22/are-you-happy-chapter-1/

Chapter 2https://exofanfiction.wordpress.com/2015/03/24/are-you-happy-chapter-2/

Seoul, 2015

Luhan duduk menunggu bus, terdiam.

“Apa kau masih mencintainya, Luhan-ah?”

Pertanyaan yang tak sanggup ia jawab, meski ia jelas tahu jawabannya.

Bus datang, Luhan masuk dengan lemas. Namun orang pertama yang dilihatnya di sana membuat segala kelelahannya hilang seketika. Dan masih sama seperti 5 tahun lalu, jantungnya berdegup cepat. Ah, ia masih saja terpesona..

Luhan berdiri di tempatnya selama beberapa saat, menatap namja dengan headphone yang sedang menoleh keluar jendela lekat-lekat. Dan namja itu menoleh secara kebetulan, ekspresinya pun tak jauh berbeda dari Luhan saat tatapan mereka bertemu. Dan Luhan cukup tahu diri untuk duduk menjauh darinya, meski kakinya sudah ingin sekali berlari dan memeluknya.

Oh Sehun..

Dan perjalanan kali ini terasa jauh lebih lama dari biasanya.

+++

Seoul, 2010

Pukul 5.15

Luhan meghela nafas kesal.

Sebagai ketua kelas, ia memang bertanggung jawab untuk segala sesuatu mengenai kelasnya. Apalagi kalau wali kelasnya adalah seorang pemalas seperti Kim-seongsaenim, yang selalu saja memperlakukannya semena-mena seakan ia seorang budak menyedihkan.

Ya, jinjja! Dimana-mana menjadi seorang ketua kelas seharusnya adalah sesuatu yang membanggakan, tapi aku bahkan tak merasa sedikitpun kebahagiaan mendapat jabatan itu.” gerutu Luhan kesal. “Kenapa pula menjadi seorang ketua kelas bahkan membuatnya harus membereskan perpustakaan sendirian?!! Apa hubungannya, jinjja?!! Kalau kulaporkan ke pengadilan, pastilah aku yang menang dan Kim-seongsaenim akan dipenjara setidaknya 10 tahun! Jinjja, aku benar-benar sedang dimanfaatkan.” Lanjutnya lagi sambil mengunci perpustakaan yang akhirnya selesai ia bersihkan. Meski ia tak terima diperlakukan seenaknya seperti itu, ia tak dapat berkata apa-apa. Memang benar, guru selalu benar. Meski sang guru salah, tetap saja ia selalu benar.

Dan karena segala ketidak adilan ini pula, ia harus menunggu bus sendirian seperti ini.

Jinjja, teman-teman yang jahat.” gerutu Luhan lagi, kali ini kepada Chanyeol dan Jongdae yang malah meninggalkannya untuk menonton film horor baru yang entah apa judulnya itu.

Untung saja, bus cepat datang. Dengan cepat, ia masuk ke dalam. Dan hal baik kedua pada hari ini, bus sedang sepi sehingga ia tak perlu berdiri. Ia memilih kursi kedua dari belakang. Bus mulai berjalan, tapi entah kenapa, tiba-tiba berhenti.

Ah, jangan bilang sekarang busnya harus mogok..

Karena kalau sampai terjadi, Luhan benar-benar merasa ia sedang dikutuk saat ini.

Namun tak seperti yang ia duga, seseorang muncul dari balik pintu.

Mereka saling berpandangan, dan namja itu berjalan mendekatinya.

“Aku duduk di sini, ya?” Ah.. Oh Sehun..

Luhan mengangguk kaku.

“Kenapa kau baru pulang sekarang?” tanya Sehun lagi.

“Aku harus membereskan perpustakaan sendirian. Katanya, karena aku ketua kelas dan harus memberi contoh yang baik pada murid lain. Benar-benar menyebalkan, bukan? Saem memanfaatkanku seperti ini, jinjja.” Luhan berbicara panjang lebar. Sehun mendengarkannya.

“Ah, kau sendiri?”

“Mengejar ketertinggalanku untuk beberapa bulan kemarin.” Luhan mengangguk-angguk.

“Tapi kau tak perlu khawatir kan, karena kau jenius.”

Sehun tersenyum. “Siapa bilang?”

“Chanyeollie.”

“Ia hanya melebih-lebihkan.” Luhan menoleh.

“Setidaknya dibanding dia, kau jauh lebih pintar.” Sehun balas menoleh, kemudian ia tertawa.

“Kau turun dimana?” tanya Sehun.

“Dua halte sebelum kau. Ini, sebentar lagi.” Dan bus berhenti.

“Aku duluan, ya.” ucap Luhan sambil berdiri.

Namun Sehun ikut berdiri, membuat Luhan menoleh bingung. “Apa yang kau lakukan?” Sehun tak menjawab, ia malah keluar dari bus mendahului Luhan. Luhan turun dengan bingung.

“Kau salah, Sehun-ah. Ini bukan haltemu.” seru Luhan.

Sehun hanya tersenyum. “Ayo, perlihatkan rumahmu.”

Dan Sehun mulai berjalan, meninggalkan Luhan yang terus memandang punggung namja yang entah mengapa selalu membuat hatinya tak karuan itu.

Dan lagi-lagi, ia terpesona.

Ya, tunggu aku!” Luhan berlari kecil, berusaha menyamakan langkahnya dengan Sehun. Sehun menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang sejenak.

Dan malam itu, mereka berjalan berdampingan.

Berdua. Hanya berdua.

Dan di tengah perjalanan, Sehun berbicara.

“Lain kali kalau kau sedang dimanfaatkan seperti itu, panggil aku ya?”

“…Untuk apa?”

“Yah, supaya kau tak perlu dimanfaatkan sendirian..?”

Ya, kau itu mau jadi namja sempurna atau apa, sih? Bukan hanya pintar, tapi juga baik hati?”

Sehun terkekeh. “Aku ini memang orang baik hati, Luhan-ssi.”

Ne, ne. Kau memang orang yang sangaattt baik hati. Dan karena kau orang yang terlalu baik hati, kudengar kau mau mengantarku pulang setiap hari seperti ini, ya?” Luhan terkekeh.

Dan yang tak Luhan antisipasi, kini Sehun menatapnya, serius. “Aku mau.”

Dan seperti senjata makan tuan, kini Luhan-lah yang dibuat diam seribu kata.

Dan lagi-lagi, ia jatuh semakin dalam..

+++

Seoul, 2015

Luhan menatap namja di hadapannya, terdiam.

Bus sudah kembali berjalan, namun mereka tetap terdiam.

Luhan memandang punggung Sehun lekat, tak tahu harus melakukan apa. Terlalu banyak yang ingin ia katakan, sampai ia tak tahu harus mulai dari mana. Jadi ia hanya menunggu, sampai Sehun mau membalikkan badannya ke arahnya, menatapnya.

Namun itu tak terjadi.

“Ayo.” Hanya itu yang diucapkannya, tanpa menoleh.

“Kemana?” ucap Luhan pelan, yang hanya dibalas oleh tiupan angin yang menggelitik telinganya. Akhirnya ia hanya berjalan dalam diam di belakang Sehun, menatap punggungnya yang kini tak lagi hangat.

Malam itu, hal ini terjadi dengan sangat berbeda. Dan ini membuat Luhan tersadar bahwa segalanya tak lagi sama. Waktu berlalu, mengubahnya dan juga Sehun. Sebesar apapun ia berharap, keadaan tak dapat berubah begitu saja menjadi seperti yang diharapkannya. Waktu memang boleh berlalu, tapi sebuah luka tak akan pernah hilang. Ia hanya bisa sembuh, namun bekas yang disebabkan oleh luka tersebut akan selamanya membekas di hatinya.

Sepanjang perjalanan, segala lampu jalan dan tanaman dan rumah tak berpenghuni yang mereka lewati terus memberikan sejuta memori yang selama ini sudah ditutup rapat-rapat oleh Luhan. Dan setiap langkah yang ia ambil seakan menyakiti hatinya lagi dan lagi.

‘Apa yang sedang kau pikirkan, Hun?’ tanya Luhan dalam hatinya, masih dengan memandang punggung Sehun yang kini tampak lebih berisi dibanding terakhir kali ia emlihatnya.

Dan tiba-tiba saja mereka sampai di depan rumah Luhan. Sehun membalikkan tubuhnya, membuat mereka berdiri berhadapan untuk pertama kalinya. Dan mata Sehun tak lagi hangat; kini ia begitu dingin. Begitu jauh. Namun Luhan tak dapat berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Ia tak punya hak untuk menyuruh Sehun kembali tersenyum hangat kepadanya.

Ia tak punya hak untuk melarang Sehun pergi tanpa berkata-kata seperti ini.

Sehun-ah..

Yang bisa ia lakukan, hanya menatap punggung itu berjalan menjauh.

Oh Sehun..

Yang bisa ia lakukan, hanya meneriakkan nama itu di hatinya dan berharap ia mendengarnya.

OH SEHUN!

Dan berharap matanya tak lagi berhalusinasi melihat namja itu berhenti. Dan berbalik.

Dan berjalan perlahan, kemudian berlari, menghampirinya. Dan memegang kedua pundaknya.

Dan bersamaan dengan itu, Luhan merasa tubuhnya lunglai. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhnya menggigil penuh kerinduan.

Wae? Kenapa kau kembali? Kenapa kau harus kembali, setelah kau meninggalkanku begitu saja? WAE?!” seru Sehun histeris, membuat Luhan berkaca-kaca.

Ya, ini lebih baik. Lebih baik seperti ini daripada kau terdiam begitu saja, Sehun-ah..

“Sehun-ah, aku..”

Belum selesai Luhan berbicara apapun, Sehun mendekatkan wajahnya hingga bibirnya bertemu dengan bibir Luhan. Dan begitu saja, sebuah ciuman yang membawa mereka pada seribu cerita, terjadi begitu saja. Air mata yang sudah di pelupuk mata pun jatuh begitu saja.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, Sehun menjauhkan wajahnya. Ia menatap mata namja di depannya, lama. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia berjalan pergi dengan kekuatan yang tersisa. Ia butuh waktu untuk mempersiapkan hatinya. Bahkan hanya pertemuan singkat seperti ini saja membuat seluruh tubuhnya lemas seperti ini.

Dan jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa lega. Bertemu dengan Luhan sekali lagi, membawanya pada waktu yang telah ia hentikan di suatu masa. Ia merasa waktunya kembali berjalan. Kini setidaknya ia hidup dengan sebuah keinginan. Sebuah kegilaan.

Dan tak peduli apa yang akal sehatnya katakan, apa yang bibirnya katakan, ia tahu.

Bahwa selama bertahun-tahun ini, tak ada satupun hari tanpa memikirkannya.

Tak ada satu haripun dimana ia tak berdoa pada Tuhan.

Dan hanya satu yang ia minta, yaitu untuk melihat namja itu kembali di hadapannya.

Dan segalanya akan baik-baik saja..

+++

Iklan

One thought on “Are You Happy? (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s