Nae Donghwa (Prolog)

Nae Donghwa

Title : Nae Donghwa

Author: Kimchisauce @saucekimchi

Length: Chapter

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rating: PG 15

Main cast: Kim Jong In, OC

Disclaimer: Ini fanfic murni buatan saya, dan sudah pernah di-publish di blog pribadi saya.

***

PELUKLAH JIWAKU
SEBELUM KEDUA KAKIKU MEMBENCI ISI KEPALA-ku
Susah atau mudah
Itulah mengapa kita memilih

*****

Hidup penuh luka. Entah itu menganga, tergores, atau putus sekalipun. Entah itu berdarah, bernana, atau hanya biru lebam. Entah itu sakit, pedih, atau keduanya.

Hidup penuh luka. Entah itu besar, kecil atau tak terlihat. Entah itu dalam atau di permukaan. Entah itu diseluruh tubuh, atau dibeberapa bagian saja.

Hidup penuh luka. Semua makhluk berlabel manusia di bumi ini tahu itu, tak terkecuali aku. Si penganut luka.

Hidupku tidak seperti kebanyakan gadis biasa. Normal, hangat, lengkap, ketiga perbendaharaan kata itu tidak cocok untuk mewakili perjalananku. Mungkin antonim ketiganya dapat menggambarkan. Abnormal, dingin, dan…. entahlah. Panggung pertunjukanku terlalu dramatis dengan skenario yang berbelit-belit. Sulit untuk dijelaskan. Tidak banyak pula yang bisa di tangkap. Hikmahnya juga tidak melulu berguna bagi orang banyak.

Akupun bagai bunga di tumpukan ilalang. Terbuang dan dilupakan. Presensiku teramat kecil di banding orang-orang sekitar. Aku harus sendiri seperti Peterpan di Neverland. Destinasi favoritku pun tidak akan pernah jauh-jauh dari keharusan itu. Tempat diam merupakan surga dari segala tempat.

Karena disana, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada orang yang akan melihat mataku sembab. Tidak ada orang yang akan mendengar tangisku pecah. Tidak ada orang yang akan mengasihaniku dengan wajah merana. Dan yang terpenting tidak ada orang yang akan menambah lukaku. Tidak ada.

Namun, meski banyak lubang yang menganga mengeluarkan darah dan ketenangan mampu menyembuhkannya, aku tetap butuh kamu.

Kamu.

Siapapun kamu. Entah itu tinggi, gendut atau cacat. Entah itu kemayu, melankolis, atau kasar. Entah itu kaya, level menengah atau tunawisma.

Siapapun kamu.

Kamu yang mungkin bisa menarik sedikit lengan ringkihku dari lembah kesakitan ini. Kamu yang mungkin bisa membuat kedua ujung bibirku membentuk senyuman meski tipis. Kamu yang mungkin bisa menemani kediaman berlarut ini. Kamu yang ku ekspektasikan menjadi tawa terbahak, kaca pecah, guntur menggelegar, dentuman drum, bisingnya jalan, untuk menemani sepi keharusanku yang sebenarnya ku jenuhkan.

Aku harus sendiri, namun bukan berarti aku ingin. Maka dari itu, datanglah wahai kamu Si berisik. Usiklah mimpiku, ganggu tidurku, hancurkan diamku, bawa aku ke ramaimu.

– H –

—–

Hidup itu berwarna. Tak selamanya abu-abu kelam atau hitam. Hidup itu punya beragam cat. Kuning neon, pink pastel, hijau lumut, merah darah, biru langit atau mungkin putih pucat. Hidup selalu bercorak berbeda. Berevolusi. Bertransformasi.

Hidup bagai arum jeram di air terjun Niagara. Hidup bagai mendaki gunung setinggi Everest. Hidup bagai ekspedisi di hutan Amazon. Menakutkan bahkan mematikan. Namun menyenangkan di akhir petualangan. Itupun jika kau memilih akhir yang demikian.

Ya, semua tentang pilihan. Hidup sejatinya memilih. Adanya kita pun pada dasarnya memilih. Memilih lahir dan berperan, atau mati dalam kenangan. Hidup mengharuskan memilih. Memilih pentas dan peran seperti apa yang kita ingin hadapi. Entah itu pentas kecil di jalanan sepi, atau show spektakuler di audiotorium berkelas dunia. Entah itu peran utama atau hanya pendamping.

Hidup adalah pilihan. Maka dari itu aku memilih.

Aku berlatih siang malam, sekian jam, sekian hari, sekian bulan, sekian tahun, berusaha mendapati beragam warna serta akhir yang menyenangkan di ujungnya, hanya untuk pilihan hidupku. Kepemilikan peranku. Aku manusia tamak yang tak akan puas dengan peran numpang lewat. Aku harus menjadi yang dilihat dari yang terlihat. Aku harus menjadi yang utama dari yang pertama. Aku Si terbaik dengan panggung megah dan drama yang memukau.

Dan di sini aku sekarang. Menikmati hasil dari berjuta peluh. Menikmati riuh sorak sorai penonton atas peran yang ku lakoni dengan baik. Menikmati pujian bagai sampah yang tidak pernah habis. Menikmati tatapan kagum bagai hidung belang mendapati tubuh molek di emperan jalan. Aku menikmati semua itu.

Semuanya. Tanpa peduli aku menendang keras Si aku yang sesungguhnya. Si aku yang kutu buku, yang selalu menundukkan kepala saat berjalan. Si aku yang pemalu yang selalu terbata jika berbicara di depan banyak pasang mata. Si aku penghuni abadi perpustakaan sekolah karena sulit atau mungkin takut berbaur dengan teman-teman sebaya. Aku yang tak terlihat dari yang terlihat.

Aku berusaha melenyapkannya tanpa gentar agar pilihan hidupku tidak berantakkan. Dan satu-satunya hal yang dapat membuatnya menghilang adalah……….

Menari.

Yah menari. Pilihan hidupku yang ku jalani.

Dengan itu aku percaya apapun bisa ku raih. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan kegunaanya ataupun kedudukannya. Dia. Tetap. Nomor. Satu.

Aku ingin menari menuju percaya, hingga rasanya tak ingin berhenti.

– J –

******

One thought on “Nae Donghwa (Prolog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s