Catastrophe

jongin4
Catastrophe
By : Ririn Setyo
FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com



Ada dua hal yang menjadi favorit Jongin di dunia ini. Pertama berjalan sambil tidur. Kedua tidur sambil berjalan. dua hal favorit yang sudah melekat pada diri Jongin sejak dulu, tidak tahu persisnya kapan tapi yang jelas di sepanjang Jongin bisa mengingat dia sudah memiliki dua hal favoritnya itu. Dan hebatnya lagi, Jongin tidak pernah terjatuh ataupun menabrak seseorang karena kebiasaannya itu. Park Chanyeol —sahabat Jongin sejak usia lima tahun— bahkan pernah mengatakan, jika kemungkinan besar Jongin memiliki mata kaki yang benar-benar bisa melihat.
Sudah banyak orang yang mengingatkan jika kebiasaan Jongin itu buruk dan suatu hari nanti akan mengantarkan pria itu pada petaka memalukan, namun Jongin selalu berdalih bahwa dia tidak akan pernah merasa malu pada manusia manapun di dunia ini kecuali di hadapan Tuhan.

Oh! Perlu diketahui, jika Kim Jongin benar-benar tidak terkalahkan jika sudah berada di dunia perdebatan.

Pria itu sangat lihai membuat orang lain terjatuh hanya dengan satu kalimat yang terucap dari lidah tajamnya.

“Tidak mudah jika ingin membuatku malu di muka umum, Ibu.” celoteh Jongin saat sang ibu kembali mengingatkannya. Semalam Jongin hanya tidur dua jam setelah menonton tayangan sepak bola bersama Chanyeol.
Jongin meraih jaket birunya di gantungan yang ada di dekat pintu, menatap sang ibu yang terdengar mengomel pelan di ujung selasar. Jongin hanya tersenyum lalu bergegas keluar rumah, hari ini Jongin ada janji bertemu dengan seorang gadis yang ada di kampusnya, gadis yang telah memberi sinyal baik untuk semua perhatian Jongin selama ini.
Jongin menelusuri trotoar bersama dua hal favoritnya, guyuran hujan deras selama satu jam penuh yang baru saja usai membuat trotoar terasa lebih licin, Jongin melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya lalu kembali menutup kelopak mata, mempercepat langkah kaki agar segera sampai di halte yang ada di depan sana.
Tanpa Jongin sadari karena sejak tadi matanya tertutup, dari arah depan ada dua orang pelajar berusia belasan belari kencang ke arahnya. Kedua pelajar itu memberi kode pada Jongin untuk menyingkir, namun sia-sia karena Jongin tidak melihatnya. Dua pelajar pun menabrak pundak Jongin, seketika pijakan kaki pria itu tak seimbang, tubuhnya terhuyung ke depan. Namun ternyata ada seorang wanita yang entah sejak kapan, sudah berdiri di depan Jongin. Wanita itu terkejut, begitu pula dengan Jongin.

BRUKK!!!

Tabrakan pun tak terelakkan, tubuh Jongin ambruk tanpa sempat pria itu menyadarinya. Dan di atas trotoar yang dingin itu, semua petaka memalukan Jongin bermula dan berakhir di saat yang bersamaan.
Jongin mengangkat kepalanya perlahan, ia merasa tubuhnya tidak menyentuh dinginnya lantai trotoar. Ia terperanjat, memandang wajah manusia lain dengan gender yang berbeda, kini berada tepat di depan hidungnya. Wajah manusia cantik itu terlihat kaku dan menyeramkan, aura pembunuh berdarah dingin menguar dari ubun-ubun wanita itu. Perlahan wanita itu menurunkan pandangan mata hitam pekatnya yang sedari tadi menghujam Jongin, membuat Jongin ikut menunduk dan sadar dengan apa yang sedari tadi berada di dalam genggaman kedua tangannya.
Dunia terasa berjalan sangat lamban, sunyi menyertai proses keterkejutan Jongin selanjutnya. Tangan besar Kim Jongin berada tepat di dada wanita itu, menangkup dalam ukuran yang sangat pas dengan ukuran tangannya.
“Eoh!”
Sangking terkejutnya Jongin malah memberi tekanan dan remasan pada apa yang berada di balik ruas jari-jarinya, membuat wanita itu naik pitam dan mendorong tubuh Jongin kuat-kuat hingga terjungkal ke samping. Wanita itu berteriak kencang selayak gong besar di dalam kuil, melayangkan predikat paling nista nan kejam yang pernah disandang Jongin selama dua puluh tahun pria itu hidup di dunia.
“Dasar Pria Mesum tidak tahu diri!!!”
Dan setelah itu yang Jongin bisa ingat adalah orang-orang mulai mendatangi tubuhnya yang bahkan masih setengah tertelungkup di trotoar. Memberikan cacian dan hukuman bertubi-tubi, hingga Jongin sangat yakin jika dia membutuhkan puluhan obat penghilang rasa sakit dan cream anti memar setelah ini.

Lalu bagaimana dengan janji kencan bersama gadis pujaan?

Jongin tidak bisa memikirkannya sekarang, karena saat ini Jongin lebih memilih melindungi wajahnya dari ujung sepatu orang-orang di sekeliling tubuhnya, dan berharap jika petaka memalukan ini akan segera berakhir.
Oh! Jongin yang malang. Kasian.

THE END

3 thoughts on “Catastrophe

  1. Jong jong kepedean di awal sihh lo bakalan gak kena masalah sama kebiasaan lo nahh kena batu nya kan jadinya lo sekarang, sabar aja dahh jong , bayangin kan jadi mangsa emak emak jalanan ihhh serem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s