HELLO BABY (Oneshoot)

HELLOBABY

Title : Hello Baby

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Rating : PG 15

Cast : Kim Jongin and Park Jimi (OC)

Hello! Ini sudah ketiga kalinya saya mengirim ff saya di exofanfiction setelah ‘After A Long Time’ dan ‘Secret’. Sekarang saya bawakan ff sederhana berjudul Hello Baby ini. Semoga kalian suka, ya. Happy Reading!

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com

Thanks and happy reading!

**

Jimi merenggangkan otot-ototnya sambil mencari posisi yang nyaman untuk kembali terlelap dalam tidur yang belum mau ia sudahkan itu meskipun matahari sedari tadi sudah tampak masuk melalui celah-celah gorden kamar, membuat kedua alisnya bertaut akibat sinar matahari yang semakin lama semakin terasa menganggunya itu. Ia terbangun sambil memicingkan matanya, berusaha menyadari lingkungan sekitarnya. Aneh. Ini bukanlah kamarnya dirumah.

“Park Jimi. Kau sudah bangun? Aish. Mau seberapa lama lagi kau tidur? Sekarang ini sudah jam delapan pagi!”

Suara berat seorang laki-laki yang kini dengan heboh menggedor pintu kamar berwarna cokelat tua itu membuatnya langsung tersadar sepenuhnya. “Astaga. Mengapa aku bisa lupa kalau saat ini aku sedang berlibur di Pulau Nami dengan keluarga Jongin? Aish, Park Jimi, kau benar-benar bodoh!” Jimi langsung buru-buru loncat dari kasur nyamannya dan dengan gerakan tergesa ia menyisir rambutnya didepan meja rias yang ada di kamar tamu dari villa besar milik keluarga Kim itu lalu dengan gerakan yakin, ia berjalan menuju pintu yang kini masih menimbulkan bunyi berisik dari orang yang belum berhenti menggedornya.

“Selamat pa—” Perkataan Jimi barusan terhenti ketika melihat laki-laki yang diketahui bernama lengkap Kim Jongin itu tampak berantakan dengan seorang anak kecil yang pada gendongannya. Anak perempuan berumur satu tahun yang ada digendongan Jongin itu tertawa girang sambil memukul wajah Jongin berkali-kali dengan tangannya yang kecil, membuat Jongin merasa risih namun tidak dapat melakukan apapun selain menerimanya saja. “Ya, Park Jimi! Cepat bantu aku.” Ucap Jongin yang tampak kesusahan. Noda bubuk susu terlihat di berbagai sudut pakaiannya. Sepertinya laki-laki itu baru saja membuatkan susu untuk anak perempuan yang kini sudah pindah ke gendongan Jimi itu. Jimi tertawa ketika ia merasa tebakannya benar. Botol susu yang sekarang dipegang Jongin sudah cukup memberikan bukti terhadap tebakannya.

“Kau pasti akan terkejut dengan apa yang terjadi.” Jongin langsung berjalan menuruni tangga sementara Jimi mengikutinya. Dalam hati, gadis itu bertanya-tanya apa yang dimaksud Jongin tadi. Ia hendak bertanya namun sepertinya Jimi paham Jongin sedang tidak ingin menjawab pertanyaan. Jongin tampak kesal, begitu ringkasan Jimi akan apa yang ia lihat pagi ini dari seorang Kim Jongin. Jimi terus membuntuti Jongin yang ternyata berjalan ke arah dapur di lantai bawah villa tersebut. “Mengapa sepi sekali? Dimana yang lain?” Jimi mengedarkan pandangan sembari mengelus punggung kecil anak perempuan yang kini tampak tenang berada di gendongannya. Jimi tersenyum ketika melihat Jongin menghela napas lega sembari turut mengelus punggung anak perempuan yang kini tampak meletakan dagunya pada bahu Jimi, bersandar nyaman dengan kedua tangan kecilnya yang melingkar pada leher Jimi.

“Lihat catatan yang ada di pintu kulkas itu.” Ujar Jongin lalu segera berjalan ke arah meja dapur yang letaknya tidak jauh dari mereka, melanjutkan misinya untuk membuat susu yang sedari tadi tidak dapat ia selesaikan itu. Jimi mulai membaca isi kertas berisi tulisan yang ternyata ditulis oleh Nyonya Kim, ibu kandung Jongin.

“Selamat pagi, Kim Jongin dan kekasihnya yang paling manis, Park Jimi! Pasti terkejut ya, hanya tinggal Rahee saja yang ada di villa bersama dengan kalian berdua? Hehe. Maafkan kami ya. Khusus untuk satu hari penuh ini, kami titip Rahee pada kalian. Kami harus kembali duluan ke Seoul karena kami baru ingat kalau hari ini ada undangan pernikahan kerabat ayah Jongin dari Jepang yang diadakan di Seoul. Liburannya terpaksa ditunda dulu kali ini. Jimi-ya, karena liburan ini kau tidak jadi menghabiskan waktu bersama kami, maka berjanjilah liburan musim dingin tepatnya Desember nanti, kau harus ikut lagi dengan kami! Sayang sekali, ya padahal kita baru saja sampai di pulau ini kemarin sore. Untuk karena itu, kami ingin memberi kalian satu hari bersama Rahee untuk menikmati pulai Nami yang indah ini. Jadi, selamat menikmati satu hari kalian ini bersama Rahee, ya!

(Ps: Ini adalah ide ibu kandung Rahee, alias kakak pertama Jongin. Katanya, hitung-hitung latihan menjadi ibu dan ayah yang baik untuk bekal kalian dimasa depan yang sudah semakin dekat itu. Hahaha. Jongin-a, jaga Jimi dan Rahee baik-baik! Kalau sampai ada yang terjadi dengan mereka berdua, kau yang akan ibu habisi!)”

Seketika keheningan mulai terasa meliputi suasana dapur tersebut. Jimi hanya tidak habis pikir dengan rentetan kalimat yang baru saja dibacanya. Ia dan Jongin beserta satu anak kecil akan menginap di pulau ini sampai esok hari? Di villa ini? Hanya bertiga saja? Lalu, apa kata kakak pertama Jongin tadi? Melatih masa depan yang sudah semakin dekat? Jimi langsung menggelengkan kepalanya cepat ketika otaknya mulai merajut cerita yang semakin panjang dan jauh. Jongin menoleh memandangnya membuat lagi-lagi Jimi menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha menghapus pemikirannya yang justru tidak mau hilang itu terutama ketika kini pandangannya bertemu dengan kedua bola mata berwarna hitam pekat milik Jongin.

“Sudah baca?” Jongin kembali fokus dengan botol susu yang kini sedang ia isi dengan air panas itu sementara Jimi menghampirinya dan berdiri disampingnya. “Setelah aku pikir lagi ternyata ide kakakku itu tidak buruk juga. Kita bisa menghabiskan waktu kita bersama si gendut ini sampai esok hari. Pasti akan sangat menyenangkan.” Kedua bola mata Jimi langsung melebar ketika mendengar ucapan Jongin barusan. Pemikiran yang sudah berhasil ia buang jauh-jauh itu sialnya malah kembali dengan begitu saja seiring dengan rangkaian kata yang keluar dari bibir Jongin, serta gerakan cepat laki-laki itu merebut Rahee dari gendongannya. Laki-laki itu tersenyum membuat Jimi salah tingkah. Jimi berdeham sembari menepuk punggung kecil Rahee yang kini sibuk tertawa, memukul-mukul wajah Jongin yang juga tertawa karenanya.

Jimi memang sudah lama memiliki hubungan dengan Jongin. Tepatnya adalah sejak mereka duduk di bangku kelas satu sekolah menengah atas sampai sekarang ini, ketika mereka berdua sudah akan menyelesaikan pendidikan kuliahnya. Namun untuk melangkah sampai apa yang tadi sempat dipikirkannya itu, Jimi rasa semua itu masih terlalu jauh bahkan untuk dibayangkan. Jongin mengambil botol susu yang terletak pada meja, lalu menempelkan botol susu itu pada pipinya, berusaha mengecek temperatur susu yang baru ia buatnya itu. Setelah laki-laki itu merasa suhunya sudah tidak panas lagi, ia memberikannya pada Rahee yang langsung memeluk botol susu itu dan meminumnya sembari menyandar pada bahu lebar Jongin.

“Mengapa kau diam saja? Sana siap-siap, kita akan piknik sebentar lagi. Kau tidak lihat aku dan Rahee dari tadi sudah rapi, dan hanya kau saja yang masih mengenakan piyama?” Jimi seolah kembali pada kesadarannya semula ketika mendengar ucapan Jongin barusan dan menyadari bahwa kedua orang yang berada dihadapannya kini sudah siap. Jongin mengenakan sweater cokelat, kaos putih dan celana panjang, sementara Rahee mengenakan baju terusan yang juga berwarna cokelat dengan motif bunga-bunga.

Jimi lalu melihat penampilannya sendiri yang kini masih mengenakan piyama pink kebesaran. Gadis itu hanya tersenyum canggung pada Jongin sembari menggaruk tengkuknya. “A-ah, baiklah. Tunggu sebentar, aku tidak akan lama.” Jimi langsung berlari kecil menaiki tangga, menuju ke kamarnya untuk mandi dan bersiap. “Tidak lama, ya. Bisa-bisa kimbab yang sudah aku buat dari subuh ini menjadi semakin dingin dan tidak enak!” Seru Jongin membuat Jimi hanya membalas seruannya dengan kata ‘Iya’ yang nyaring.

Jongin bahkan menyiapkan makanan untuk piknik sedari subuh tadi. Jimi benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia yang tiba-tiba merambat keseluruh sudut hatinya. Seketika, ‘pemikiran’ yang tadi dianggapnya terlalu jauh itu malah membuat Jimi merasa tidak sabar untuk segera mewujudkannya. Apalagi ketika bayangan Jongin yang sedang mengecek temperatur susu yang akan diberikannya pada Rahee tadi terlintas begitu saja di kepalanya. Dengan hanya mengingatnya saja sudah berhasil membuat Jimi hampir gila.

Sekarang Jimi benar-benar bertekad untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Waktunya bersama kedua orang yang sama-sama menggemaskan itu.

**

“Sedikit lagi! Ayo Rahee! Ayo! Pasti bisa!” Jimi berseru nyaring, memperhatikan Rahee yang kini berusaha untuk berjalan ke arahnya. Jongin yang mengawasi dengan sigap dari belakang tubuh anak kecil itu pun tidak mau kalah heboh. Ketika tinggal dua langkah lagi mencapai Jimi, Rahee terlihat kehilangan keseimbangan membuat Jongin langsung merengkuh Rahee ke dalam pelukannya. Terdengar suara tawa Jimi dan Rahee, sementara Jongin hanya menatap anak kecil itu dengan khawatir. Jantungnya hampir saja terlepas ketika melihat tubuh kecil itu hampir tersungkur. Jongin mensyukuri gerak cepatnya yang dengan segera menangkap gadis kecil itu.

“Sayang sekali padahal sudah hampir sampai.” Jimi mendekatkan posisi duduknya pada Jongin dan Rahee lalu merapikan bandana yang dikenakan gadis kecil itu sambil tersenyum. Suasana taman yang tenang dan sejuk serta pohon besar yang kini menutupi mereka dari sinar matahari langsung itu benar-benar membuat Jongin dan Jimi betah berlama-lama disitu. Termasuk Rahee yang kini sudah tertawa lagi ketika melihat Jongin membuat ekspresi-ekspresi wajah yang aneh.

“Ternyata seru juga.” Jongin memperhatikan Jimi yang kini sibuk membuka bekal yang mereka bawa. “Seru apanya? Mengajarkan anak kecil berjalan?” Jimi terkekeh sementara Jongin mengangguk. “Kita sudah benar-benar seperti orang tua baru.” Komentar Jongin membuat Jimi yang kini tengah mengunyah kimbab itu terbatuk heboh. “Kau tidak apa?” Jimi hanya melambaikan satu tangannya cepat pada Jongin dan meraih botol minum yang berada tidak jauh darinya lalu segera meneguk isinya. Kim Jongin memang selalu bisa membuatnya seperti sekarang ini bahkan hanya dengan ucapan sederhananya itu.

“Aku baru berkata seperti itu saja kau sudah terlihat sangat salah tingkah. Bagaimana nanti kalau ucapanku itu benar-benar terjadi?” Jimi langsung memukul lengan Jongin yang hanya tertawa. Rahee yang melihat perlakuan Jimi terhadap Jongin langsung ikut turut serta memukul bahu Jongin, membuat mereka berdua langsung tertawa.

“Ya, Rahee-ya, kau lebih menyukai Oppa atau Unnie yang jelek ini? Kalau kau lebih menyukaiku maka angkat tangan kananmu. Tapi kalau kau lebih menyukai Unnie yang jelek ini, maka angkat tanganmu yang kiri.” Jimi mendengus sementara Rahee hanya memperhatikan Jongin dengan seksama membuat keadaan sempat hening sejenak.

“Pilih aku saja, Rahee-ya. Jongin oppa itu sangat menyebalkan.” Tanpa aba-aba Rahee langsung mengangkat tangan kirinya, lalu langsung memeluk Jongin. “Aigu, kau bahkan tidak bisa membedakan mana tangan kanan dan tangan kiri.” Jongin mengelus punggung kecil Rahee sambil melirik Jimi dengan jahil. “Jelas-jelas Rahee mengangkat tangan kirinya.” Jimi mengoreksi, sementara Jongin hanya terkekeh. “Jelas-jelas setelah mengangkat tangan kirinya ia langsung memelukku. Berarti sudah pasti ia tidak bisa membedakan mana kiri dan kanan.” Jongin berdalih sambil tertawa ditengah-tengah ucapannya menyadari tatapan Jimi yang kini tengah memandangnya dengan tatapan garang.

“Baiklah, baiklah. Hitung saja aku kalah satu poin. Tapi, tidak apa kalau kau tidak menyukaiku, Rahee-ya. Yang penting, Oppa-mu itu sangat menyukaiku bahkan lebih dari apapun.” Jimi mendorong lengan Jongin yang kini tidak dapat mengontrol tawanya. “Romantis untuk sekali-sekali tidak ada salahnya, kan.” Jimi melirik Jongin yang masih sibuk tertawa. “Aish, Kim Jongin kau benar-benar menyebalkan.” Jimi langsung mengambil tempat makan yang berada disebelahnya itu lalu memakan dua kimbab sekaligus, berusaha menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba melandanya. Ia juga tidak mengerti mengapa kata-kata seperti itu dapat meluncur begitu saja dari bibirnya. Jongin tampak merubah posisi Rahee menjadi duduk di pangkuannya. Laki-laki itu memandangi Jimi yang kini berusaha untuk mengabaikannya dengan terus meyuap kimbab yang ada ditempat makan itu satu persatu.

Jongin membuka mulutnya membuat Jimi langsung menoleh ke arahnya. “Apa?” Jimi menaikan alisnya sementara Jongin langsung menutup mulutnya kembali. “Aku juga mau. Rahee juga mau.” Ujarnya membuat Jimi langsung mengambil biskuit bayi yang ada di tas perlengkapan piknik mereka dan memberikan satu potong pada Rahee yang dengan senang langsung memakannya. “Kau tidak usah.” Jimi melanjutkan makannya sementara Jongin hanya tertawa kecil. “Benar tidak menyesal?” Jimi menatap Jongin dengan tatapan menantangnya. “Menyesal apa?”

Gadis itu langsung memasukan potongan kimbab yang paling besar ke mulutnya. Baru saja ia akan mengunyah, tiba-tiba Jongin memakan potongan kimbab yang belum masuk sepenuhnya ke mulut Jimi itu dengan gerakan yang sangat cepat. Jimi dapat merasakan bibir Jongin menyentuh bibirnya dengan sangat cepat. Saking cepatnya, Jimi sampai tidak mau langsung meyakini bahwa kejadian yang baru saja terjadi itu benar adanya. Jimi langsung tersadar sepenuhnya ketika ia menyadari laki-laki yang sudah membuat jantungnya hampir rusak itu kini tengah menatapnya dengan sebuah senyuman manis. Laki-laki itu mengacak rambut Jimi, membuat Jimi rasanya ingin lenyap dari permukaan bumi secepatnya.

“Lipstick rasa cherry ya?” Jongin menatap Jimi dengan tatapan jahil membuat Jimi langsung memukuli Jongin berkali-kali. “Ya! Kim Jongin! Dasar menyebalkan!” Jongin hanya tertawa terbahak sementara Jimi masih berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang benar-benar berdebar cepat, sampai-sampai ia merasa organ itu sudah tidak dapat digunakan lagi sebagaimana fungsinya.

Rahee tiba-tiba bangkit dari pangkuan Jongin lalu berdiri dan mengarahkan kedua tangannya pada Jimi, bermaksud untuk meminta Jimi menggendongnya. Jimi langsung merengkuh tubuh Rahee ke pelukannya. Gadis kecil itu menatap Jimi, lama. “Ada apa, Rahee-ya?” Tiba-tiba Rahee langsung mengecup bibir Jimi membuat Jongin tertawa sampai memukul tikar yang menjadi alas mereka.

“Ya! Kalian berdua ini benar-benar kompak, ya! Sama-sama menyebalkan!” Seru Jimi kesal, namun akhirnya ikut turut tertawa ketika melihat Jongin dan Rahee yang kini tertawa bersama dengan heboh. Ketiganya benar-benar terlihat sangat bahagia sampai-sampai tawa mereka bertahan untuk sekitar satu menit lebih.

Disisi lain, seorang laki-laki bernama lengkap Kim Jongin kini merasa sangat bersyukur karena ia dapat melihat tawa bahagia keduanya, apalagi di tempat yang indah seperti taman yang kini mereka tempati itu. Rasanya Jongin sampai tidak menyadari bahwa ia sangat ingin melihat kejadian ini lagi dimasa depan dengan ‘versi’ yang tentu saja adalah ‘versinya dengan Jimi’.

“Ayo, kita mulai lagi latihan berjalannya!” Jimi bangkit berdiri dari duduknya lalu menuntun Rahee dengan kedua tangannya. Anak perempuan itu tampak senang sambil terus menggerakan kakinya, merajut langkah dengan sangat perlahan mengitari tikar alas mereka yang lumayan besar itu. Lama-lama langkahnya menjadi yakin dan tegas membuat Jimi merasa bangga, sementara Jongin hanya memperhatikan mereka berdua dengan senyuman yang tidak bisa berhenti berkembang di wajahnya. Ia bahkan sekarang sudah mengambil ponselnya lalu memotret Jimi dan Rahee yang kini tengah tampak sangat senang itu. “Ya! Kim Jongin, kalau kau mengambil foto dari bawah seperti itu aku pasti terlihat sangat gemuk!” Protes Jimi sementara Jongin tidak mempedulikannya dan hanya memandangi layar ponselnya. “Ah, fotonya tidak bagus. Layarnya jadi seolah sempit karena kalian berdua yang terlalu gemuk.” Jongin berujar membuat Jimi hanya mendengus. Padahal, Jongin sangat menyanjung foto yang baru diambilnya itu sampai-sampai ia sekarang sudah menjadikan foto itu sebagai lock screen ponselnya.

Tiba-tiba ponsel Jongin berdering nyaring membuat Jongin langsung menangkat panggilan masuk tersebut ketika melihat nama sahabat kecilnya, Oh Sehun, menghiasi layar ponselnya. “Ada apa? Tidak takut pulsamu akan terpotong banyak? Nami dan Seoul itu sangat jauh.” Jongin langsung berujar bahkan saat yang diseberang belum sempat mengucapkan kata pembuka.

“Wah, wah, wah, ternyata rencana ibu dan kakak perempuanmu itu tidak buruk seperti dugaanku, ya. Kalian benar-benar sudah seperti keluarga baru saja! Surin-a, kita harus mencoba ide ini juga!” Suara Sehun membuat Jongin langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha berjaga-jaga jika dugaan sesaatnya itu benar bahwa Sehun tengah berada disekitarnya. “Ya! Kim Jongin! Kami dibelakang kalian!” Teriakan seorang perempuan membuat Jongin, Jimi dan bahkan Rahee menoleh dengan cepat ke arah suara. Seorang laki-laki bertubuh tinggi yang diketahui bernama lengkap Oh Sehun itu kini tampak melambai dengan girang, begitupun juga dengan seorang perempuan yang berada disebelahnya. Anehnya mereka tidak hanya berdua, melainkan bertiga, ditambah dengan seorang anak laki-laki berumur tiga tahun yang berada di gendongan Sehun. “Astaga, Taeoh mengapa bisa bersama dengan kalian?!” Jimi berseru kaget sementara ketiga orang itu hanya tertawa sembari menghampiri mereka.

“Untuk apa kalian kemari? Ini kan sepupuku yang paling kecil. Bagaimana bisa kalian bersama Taeoh juga?” Jongin langsung mengintrogasi mereka ketika ketiga orang itu sudah duduk melingkar, bergabung bersama Jongin, Jimi, dan Rahee. “Ongin hyung! Mi nuna!” Anak laki-laki yang diketahui bernama lengkap Kim Taeoh itu langsung menyapa Jongin dan Jimi sementara kedua orang yang disapa masih menunggu penjelasan dari Sehun dan Surin, sepasang kekasih yang tidak pernah terlepaskan itu. “Ada tugas baru dari ibumu, makanya kami kesini.” Jelas Surin yang bagi Jongin dan Jimi masih dikategorikan sebagai penjelasan yang tidak jelas.

“Kemarin, Taeoh baru sampai dari Amerika ke Seoul, dia ingin sekali bertemu dengan kalian berdua. Setelah tahu kalau kalian berdua masih berada di Nami, Taeoh merengek meminta untuk menjemput kalian. Sampai-sampai Taeoh menangis semalaman dan tidak mau makan. Karena tidak tega, ibumu menghubungi Sehun dan aku, lalu meminta tolong pada kami untuk mengantarkan Taeoh ke sini. Ya, lumayan kita berdua jadi ikut liburan juga disini. Rencananya kita berdua baru akan kembali ke Seoul dua hari lagi dari sekarang.” Jongin dan Jimi menganga lebar, tidak percaya akan apa yang baru saja Surin jelaskan.

“Jadi, kalian tidak akan membantu kami menjaga kedua anak ini? Setidaknya menginaplah di villa sehingga aku dan Jongin tidak terlalu kebingungan mengurusi dua anak sekaligus.” Jimi tampak memelas sementara Sehun dan Surin hanya saling melirik dengan senyuman yang masih bertengger apik pada wajah masing-masing dari mereka. “Tentu saja tidak. Kami berdua kan punya rencana kencan sendiri. Tugas kami hanya mengantar Taeoh pada kalian.” Jawab Sehun lalu mereka berdua tertawa terbahak sementara Jongin dan Jimi hanya saling pandang dan menghela napas berat secara bersamaan. Ya, mereka berdua tidak bisa apa-apa kecuali menerima kejadian yang sangat tiba-tiba ini.

“Tapi, tunggu. Bagaimana kau tahu kalau aku dan Jimi serta Rahee sedang ada ditaman ini?” Jongin berusaha mengkonfirmasi kejanggalan yang membuat kejadian ini malah terasa seperti kejadian kebetulan seperti yang ada pada drama-drama murahan. Kali saja alasannya bukan karena Taeoh yang merengek meminta untuk bertemu dengannya dan Jimi, melainkan merupakan bagian dari rencana ibunya beserta kakak perempuannya itu yang sengaja mengirim Taeoh pada mereka berdua. Kalau sampai seperti itu kenyatannya, Jongin tidak takut untuk melayangkan protesnya pada ibunya. Masalahnya bukan karena Jongin merasa dirinya terbebani dengan kedua orang anak yang tiba-tiba dititipkan padanya, tapi ia merasa tidak tega dengan Jimi. Tujuan mereka ke pulau ini kan untuk berlibur, bukannya malah menjadi pengasuh anak seperti ini. Jongin melirik ke arah Jimi yang kini hanya menggigit bibirnya. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu.

“Tukang kebun yang ada di villa-mu yang memberikan informasi pada kami mengenai keberadaan kalian. Jadi setelah mengetahuinya, buru-buru kami kesini untuk sesegera mungkin mempertemukan Taeoh yang sudah sangat rindu dengan kalian berdua.” Tanggap Sehun cepat membuat Jongin mengangguk-angguk, merasa jalan kejadiannya sudah masuk akal mengingat tadi ia sempat bertanya mengenai informasi taman-taman terkenal yang ada di Pulau ini kepada sang tukang kebun villa keluarganya itu.

“Hyung, Nuna! Peluk Taeoh!” Taeoh beranjak dari pangkuan Sehun ke arah Jongin dan Jimi yang langsung memeluknya bersama itu. “Aku senang kau merindukan kami. Nanti kita main bersama, ya.” Jimi menepuk punggung kecil milik Taeoh dan seketika anak kecil itu berseru girang menanggapi ucapan Jimi barusan. Taeoh melepas pelukannya, lalu beralih memeluk Rahee yang kini berada di pangkuan Jongin. Kedua anak kecil itu langsung terlihat sangat akrab satu sama lain membuat yang lain hanya memandang mereka dengan senyum lega.

“Nah, berarti tugas kita selesai!” Surin dan Sehun langsung melakukan high-five dengan girang. “Terima kasih sudah repot-repot mengantarkan Taeoh pada kami.” Jimi mengacungkan kedua jempolnya yang langsung dibalas oleh Sehun dan Surin. “Kami tidak bisa berlama-lama disini. Ada banyak tempat rekreasi di pulau ini yang harus segera kita kunjungi.” Sehun bangkit berdiri lalu membantu Surin untuk turut bangkit dari duduknya. “Baiklah, nikmati waktu kalian berdua. Terima kasih karena sudah bersedia memenuhi permintaan ibuku yang banyak mau itu ya.” Jongin menepuk bahu Sehun dan Surin bergantian membuat mereka hanya mengangguk sambil tersenyum senang. “Surin-a, kajja!” Sehun merangkul Surin dan mereka pergi meninggalkan taman itu setelah mengucapkan selamat tinggal pada Taeoh dan Rahee yang sekarang masih asik bermain berdua.

Jongin memandangi Jimi yang kini juga melakukan hal yang sama. “Sudahlah, nikmati saja. Lagipula Taeoh sudah besar, tidak repot seperti mengurusi Rahee yang masih sangat kecil.” Jimi berujar seolah ia dapat membaca apa isi kepala Jongin. Jongin meraih satu tangan Jimi lalu menggenggamnya. “Maafkan ibu dan kakak perempuanku ya. Kita malah tidak jadi berlibur seperti ini.” Ujar Jongin yang hanya Jimi tanggapi dengan anggukan kepala sambil tersenyum. “Tidak apa, kan sekalian latihan untuk masa depan kita nanti.” Jongin terbahak ketika mendengar ucapan spontan Jimi barusan sementara gadis itu sudah memukul kepalanya sendiri, menyesali kata-katanya yang tiba-tiba begitu saja keluar tanpa ia pikirkan terlebih dahulu.

“Aku rasa dua ide yang bagus juga.” Jongin tersenyum jahil sembari melirik Taeoh dan Rahee yang kini sudah saling mencubit pipi masing-masing sementara Jimi langsung memukuli lengan Jongin ketika ia baru menyadari apa maksud ucapan Jongin barusan.

“Ayo kita foto dulu!” Jongin segera duduk kembali dan mengambil monopod yang di ada pada tas perlengkapan piknik, lalu merekatkan ponselnya pada monopod tersebut. Jongin mengarahkan kamera dengan satu tangannya sementara tangan kirinya memeluk Rahee yang berada disebelahnya. Jimi yang duduk dibelakang Taeoh langsung memeluk anak laki-laki itu dari belakang dan menyandarkan dagunya pada kepala Taeoh yang kini sudah berpose dengan menunjukan gaya andalannya yaitu dengan membentuk kedua jari telunjuk dan tengahnya yang kecil itu menjadi bentuk ‘v’, begitupun dengan Rahee yang langsung meniru Taeoh sambil tertawa senang.

1 2 3 Click!

“Woah bagus sekali! Ayo, sekali lagi!” Ujar Jongin dan yang lain mulai bergaya dengan gaya yang berbeda lagi. Jongin senang ia dapat melihat wajah bahagia Jimi dari kamera tersebut. Dan Jongin harap Jimi tahu kalau ia juga sangat bahagia bisa berada bersamanya, Rahee, dan juga Taeoh sekarang ini, layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia.

**

Jongin menguap lebar sembari mengacak-acak rambutnya. Ia memeluk tubuh seorang anak kecil yang berada di sebelahnya dengan erat lalu berusaha kembali masuk dalam tidurnya yang ia rasa belum cukup itu. “Kim Jongin! Kim Taeoh! Cepat bangun! Kalian sudah tidur siang selama empat jam!” Suara Jimi terdengar nyaring membuat Jongin langsung bangun sambil terkekeh. Gadis itu pasti sedari tadi kerepotan sendiri mengurusi Rahee yang pasti sudah bangun dari tidur siangnya sedari tadi. Laki-laki yang kini tengah memperhatikan wajah polos Taeoh ketika tertidur itu tersenyum. Bukan hanya karena wajah Taeoh yang menggemaskan, melainkan karena ia teringat acara tidur siang bersama tadi. Untuk pertama kalinya ia tidur siang dengan Taeoh, Rahee, dan juga Jimi. Jongin rasa tidur siang ini adalah tidur siangnya yang paling menyenangkan.

“Ongin hyung!” Taeoh langsung duduk sembari menguap lebar. Jongin mengacak rambutnya, gemas melihat anak kecil itu. “Bagaimana tidur siangmu? Nyenyak?” Tanya Jongin sembari menempatkan Taeoh pada pangkuannya lalu memeluk anak laki-laki yang hanya menganggukan kepalanya, masih tampak mengantuk. “Ayo kita turun kebawah. Jimi nuna dan Rahee pasti sudah menunggu kita bangun sedari tadi.” Jongin langsung menggendong Taeoh yang kini menyandarkan kepalanya pada bahu lebar milik Jongin.

“Ah, baguslah kalian sudah bangun.” Jimi berseru dari arah ruang tamu membuat Jongin dan Taeoh tengah berjalan menuruni tangga itu langsung menoleh ke arah suara. Rupanya Jimi sudah menyiapkan makan malam dan menatanya di meja ruang tamu yang lumayan besar itu membuat Jongin hanya tersenyum kecil. Jadi ini perasaan ayahnya ketika baru bangun tidur siang di hari minggu dan ibunya menyiapkan makan malam spesial? Pantas saja ayahnya selalu tersenyum senang setiap makan malam keluarga dihari minggu. “Nah, ayo kita makan!” Seru Jimi setelah mereka semua sudah siap. “Jalmokhaesseubnida!” Jongin langsung melahap makan malamnya dengan senang begitu juga dengan yang lainnya. Sesekali Jongin melirik ke arah Jimi yang tampak repot menyuapi Rahee sembari juga memakan makanannya. “Maaf karena aku tidak membantumu membuat makan malam.” Ujar Jongin membuat Jimi hanya tersenyum. Sungguh, Jongin memaknai kata-katanya barusan. Pasti tadi Jimi sangat kerepotan memasak dengan Rahee yang juga harus diperhatikan. Harusnya tadi ia bangun lebih awal untuk membantu gadis itu mempersiapkan makan malam ini.

“Tidak apa, kau juga tadi bangun subuh untuk menyiapkan bekal piknik. Jadi sekarang kita impas.” Ucap Jimi tanpa menoleh ke arah Jongin yang kini memperhatikannya. Jongin mengambil piring Jimi yang isinya tampak masih sangat banyak itu sementara Jimi hanya memperhatikannya dengan tatapan bingung. Jongin memotong steak yang ada di piring Jimi itu menjadi potongan-potongan kecil lalu mengopernya kembali pada Jimi. “Kalau tidak aku bantu, sampai tengah malam pun kau tidak akan selesai makan.” Jongin berujar santai sementara kini Jimi sudah menatap piringnya dengan penuh haru. “Ongin hyung, punya Taeoh juga!” Taeoh menyerahkan piring kecilnya pada Jongin yang dengan senang hati langsung mengambilnya dan membantu Taeoh memotong steak yang sebenarnya sudah dipotong itu menjadi potongan-potongan yang lebih kecil agar Taeoh dapat mudah memakannya.

Rahee bangkit berdiri dari duduknya sembari memegang bahu Jimi. Ia menunjuk makanan Taeoh sambil berbicara dengan bahasa bayinya membuat Jongin dan Jimi tertawa kecil menanggapi. “Nanti kalau gigi-gigimu sudah kuat, baru kau bisa makan makanan Taeoh oppa.” Jimi memeluk anak kecil yang masih memegang bahunya itu dengan satu tangannya. “Betul, kuat seperti singa. Rawr!” Taeoh menambahi membuat yang lain langsung tertawa bersama karena melihat tingkahnya yang lucu itu.

“Oho, sekarang sudah jam delapan malam!” Taeoh berseru lalu segera bangkit dari duduknya dan menyalakan televisi yang berada tidak jauh dari mereka. Taeoh menekan salah satu nomor pada remot yang lebih besar dari ukuran tangannya itu lalu kembali duduk ditempatnya semula. “Robocar poli-ya!” Taeoh memeluk remot tersebut lalu turut bernyanyi bersama tokoh kartun bernama Robocar poli itu dengan sangat gembira. Rahee juga langsung tertawa dan mulai menggerakan badannya sementara Jongin dan Jimi hanya bertatapan kemudian terbahak bersama. “Hyung! Hyung! Robocar polinya sudah mau berubah! Ayo siap-siap!” Taeoh menarik tangan Jongin untuk bangkit berdiri dari duduknya. Kalau saja Jimi tidak menendang kakinya dari bawah meja tamu tersebut mungkin Jongin tidak akan mau berdiri.

“Robocar poli berubah!” Seru Taeoh kemudian mereka berdua mulai meniru gerakan tokoh kartun yang ada di televisi besar itu membuat Jimi yang melihat mereka dari belakang itu tertawa terbahak bersama Rahee. Jongin berusaha menari ala robot agar terlihat lebih keren namun tawa Jimi malah semakin kencang membuat Jongin dan Taeoh akhirnya juga tertawa bersama.

“Kim poli in the house!” Jongin langsung menggendong Taeoh pada punggungnya dan mulai menari ala robot Robocar poli membuat Jimi tidak bisa lagi untuk menahan tawanya yang langsung pecah saat itu juga ditemani dengan tawa cempreng milik Taeoh dan Rahee yang berhasil memenuhi villa tersebut.

**

Setelah makan malam ala Robocar poli yang penuh dengan tawa itu akhirnya mereka memutuskan untuk segera tidur agar besok pagi dapat bangun dengan tepat waktu mengingat penerbangan mereka ke Seoul di jadwalkan pada pukul tujuh pagi. “Taeoh tidak mau sikat gigi!” Taeoh menutup mulutnya namun Jongin langsung menggendongnya ke kamar mandi diikuti oleh Jimi yang kini menggendong Rahee. Mereka berempat berdiri di depan kaca besar yang ada di toilet utama villa itu. Taeoh kini berdiri di atas pijakan yang memang disediakan untuk anak kecil itu sambil memperhatikan pantulan dirinya dikaca sementara Jimi sudah mendudukan Rahee pada meja westafel yang berukuran besar itu lalu mengambilkan sikat gigi untuk masing-masing dari mereka dengan ukuran yang tentu saja berbeda-beda.

“Seperti ini.” Jongin mulai menggosok giginya ke atas dan ke bawah sementara Taeoh hanya memperhatikan. “Taeoh-ya, cepat sikat gigimu. Seperti ini caranya.” Jimi berujar sambil menyikat giginya membuat Taeoh hanya melipat kedua tangannya di depan dada lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jongin mengambil sikat gigi Taeoh dan langsung mengoleskan pasta gigi pada sikat gigi kecil itu dan memberikannya pada Taeoh yang langsung menolaknya.

“Yasudah, sini hyung bantu kau menyikat gigimu. Senyumlah yang lebar dan perlihatkan gigi-gigimu itu padaku, Taeoh-ya.” Pinta Jongin dan Taeoh langsung menurut. Jongin buru-buru menyikat deretan gigi-gigi kecil berwarna putih milik Taeoh itu dengan perlahan. “Kalau gigimu kuning nanti tidak ada perempuan yang tertarik padamu.” Jongin berceramah membuat Taeoh hanya tertawa kecil. Ia membuka mulutnya ketika Jongin menyuruhnya. Jongin langsung menyikat gigi belakang Taeoh dengan perlahan. Jimi yang melihat itu tidak tahan untuk tidak mengambil sebuah foto untuk kenang-kenangan. Kapan lagi Jongin terlihat penuh aura kebapakan seperti ini iya, kan?

Jimi langsung merogoh saku celana panjang piyama berwarna putih yang senada dengan Jongin, Taeoh, dan Rahee itu lalu memotret kedua laki-laki yang kini masih asik dengan urusannya itu. “Aigu, kalian lucu sekali!” Jimi menjerit sementara Jongin langsung menoleh dan ceklek! Dapatlah sebuah foto dimana Jongin menoleh dengan wajah bodohnya sementara Taeoh yang tampak tengah menganga itu terlihat sangat menggemaskan. Jimi yang masih memegang sikat giginya dengan satu tangannya itu tertawa keras ketika melihat hasil jepretannya. “Ya, Park Jimi, hapus!” Seru Jongin sambil berusaha merebut ponsel Jimi namun Jimi lebih cepat dari gerakannya. Jongin hanya mendengus lalu kembali menyikat giginya sendiri yang tadi sempat tertunda karena ia harus menyikat gigi Taeoh terlebih dulu.

“Ini adalah foto terlucu yang pernah aku lihat.” Jongin berusaha mengintip namun lagi-lagi Jimi lebih cepat. “Aish, sudahlah.” Ujar Jongin lalu beralih pada Rahee yang kini hanya memainkan sikat giginya. Jongin kemudian menyejajarkan posisinya pada posisi Rahee, lalu dengan pelan-pelan ia menyuruh Rahee untuk membuka mulutnya. Jongin langsung menyikat gigi Rahee yang baru tumbuh sedikit itu dengan sangat hati-hati ketika akhirnya anak perempuan itu mau menurutinya membuat Jimi lagi-lagi tidak tahan untuk tidak mengabadikan moment tersebut.

“Gemasnya!” Seru Jimi membuat Jongin menoleh lalu menutup kamera ponsel Jimi dengan telapak tangannya. “Sudah terlambat. Aku sudah lebih dulu merekamnya.” Jimi berseru girang sementara Jongin hanya mendengus menanggapi. “Lihat pembalasanku nanti.” Ujar Jongin membuat Jimi hanya menjulurkan lidahnya dengan jahil. “Sekarang, ayo kita foto bersama!” Seru Jimi kemudian mengarahkan kamera depannya pada mereka berempat. Taeoh langsung menoleh sambil memperlihatkan sikat gigi yang ada di satu tangannya. Jongin dan Rahee juga langsung melihat ke kamera dengan sikat gigi yang masih ada pada mulut mereka, sedangkan Jimi tampak memegang sikat gigi pink miliknya sambil memperlihatkan deretan giginya itu. Dalam hitungan ketiga, foto mereka tengah menyikat gigi bersama sudah muncul dengan apik di layar ponsel Jimi membuat gadis itu menjerit girang karena gemas.

“Nah, sekarang ayo kita tidur!” Jimi langsung menggendong Rahee dan berjalan keluar dari toilet tersebut sementara Taeoh berlari kecil mendahuluinya. “Mi nuna dan Rahee juga tidur disini, kan?” Taeoh menunjuk kamar utama villa tersebut yang adalah kamar Jongin. Jimi melirik ke arah Jongin yang baru saja keluar dari toilet itu dengan ragu. “Aku dan Rahee akan tidur dikamar atas. Kau dengan Jongin hyung saja, ya.” Tanggap Jimi membuat Taeoh langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu melipat tangannya di depan dada. “Kalau tidak sama Mi nuna dan Rahee, Taeoh tidak mau tidur.” Ancam Taeoh sementara Jongin berjalan menghampirinya. “Sudahlah, sampai mereka tidur saja.” Jongin bersuara membuat Jimi mau tidak mau akhirnya berjalan membuntuti Jongin dan Taeoh yang sudah lebih dulu masuk ke kamar tersebut.

Kini mereka sudah terbaring bersama dibawah sebuah selimut besar berwarna putih, tidur berjajar memenuhi kasur berukuran besar tersebut. Jimi berada disebelah Taeoh sementara Jongin tepat berada disebelah Rahee yang kini sudah terlihat sangat mengantuk sehingga ia terlelap terlebih dahulu sambil memeluk tangan Jongin yang melingkari tubuh kecilnya. “Hyung, bacakan Taeoh dan Mi nuna sebuah dongeng.” Taeoh berseru seraya menyerahkan buku cerita favoritnya yang sedari sikat gigi tadi sudah ia bawa-bawa. “Jimi nuna saja yang bacakan, aku tidak pandai bercerita.” Ujar Jongin setengah berbisik, takut-takut membangunkan Rahee yang terlihat sudah semakin terlelap dalam pelukan Jongin itu.

“Mi nuna kan sudah memasak untuk kita. Pasti Mi nuna lelah. Hyung saja yang bacakan dongeng ini, ya.” Taeoh langsung menyerahkan buku ceritanya pada Jongin yang mau tidak mau akhirnya menerima juga. Jimi hanya memandangi Jongin yang kini mulai membuka selembar halaman buku cerita tersebut sambil memeluk Taeoh dengan satu tangannya, menunggu laki-laki yang kini tengah berdeham itu memulai ceritanya. Kapan lagi tidur ditemani dengan suara Jongin yang mengantarmu tidur, iya kan? Jimi tersenyum ketika Jongin mulai membuka suara walaupun volume suaranya tidak begitu keras.

“Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang penggembala domba yang sedang bersantai disebuah pohon besar.” Taeoh mendengarkan dengan jeli sementara jari telunjuk Jongin menunjuk pada gambar yang ada dibuku cerita tersebut. Jimi ingin sekali menertawakan Jongin karena jari telunjuknya yang kaku dan tidak biasa itu terlihat sangat lucu dimata Jimi. “Penggembala domba itu sangat bosan sehingga ia merencanakan sesuatu agar dapat menghilangkan kebosanannya. Kira-kira apa yang akan dilakukan sang penggembala, Taeoh-ya?” Tanya Jongin membuat Taeoh menautkan kedua alisnya, berusaha berpikir keras. “Tugasmu itu hanya membacakan. Kalau kau bertanya, bagaimana caranya Taeoh akan tertidur?” Sindir Jimi pada Jongin yang kini hanya tertawa membenarkan itu.

“Taeoh tidak tahu, hyung. Memangnya, apa yang ia lakukan?” Jongin tersenyum lalu mengacak rambut anak laki-laki itu dengan gemas sementara Jimi yang melihat hal tersebut berusaha menahan debaran jantungnya yang tiba-tiba meningkat drastis itu. Padahal Jongin hanya mengacak rambut Taeoh, tapi efeknya sebegitu besar pada Jimi membuat gadis itu juga bertanya-tanya mengapa dalam hatinya. “Penggembala itu memutuskan untuk menipu para warga yang tinggal tidak jauh dari tempatnya dan domba-dombanya itu berada dengan berteriak bahwa domba-dombanya diserang oleh serigala.” Taeoh mengangguk-angguk, menunggu cerita kelanjutan sang penggembala domba itu. “Para warga panik dan segera berlari untuk membantu sang penggembala, namun, ketika para warga sampai ke tempat penggembala itu tadi, tidak ada satupun seriggala yang terlihat. Si penggembala hanya tertawa terbahak, menertawai kebodohan para warga yang sangat mudah untuk dibohongi.” Jimi mulai merasa matanya semakin berat, beriringan dengan suara Jongin yang semakin melembut namun tetap dapat samar-samar ia dengar.

“Para warga pun kesal dan sangat marah pada si penggembala domba. Keesokan harinya, ketika sang penggembala itu tengah bersantai dibawah pohon besar, seekor serigala datang dan menerkam beberapa dari domba-dombanya. Serigala itu buas dan menyeramkan. Rawr!” Jongin bersuara seperti serigala membuat Jimi langsung terbangun dari tidurnya karena terkejut. Jongin yang melihat itu hanya tertawa kecil terutama ketika Taeoh juga sangat terkejut dibuatnya. “Sang penggembala berlari ketakutan dan berteriak meminta tolong pada para warga, namun tidak ada satupun yang mempercayainya dan bersedia membantunya sehingga domba-dombanya pun akhirnya habis dimakan oleh serigala yang buas dan menyeramkan itu.” Taeoh masih memandang Jongin dengan serius sementara Jimi sudah kembali lagi pada tidurnya yang tadi sempat terganggu itu. Kali ini gadis itu terlihat lebih pulas bahkan sangat pulas membuat Jongin tersenyum kecil sembari menaikan selimut yang menutupi tubuhnya itu dengan perlahan.

“Nah, pelajaran dari cerita itu adalah kau tidak boleh berbohong pada siapapun, karena kelak ketika kau sedang berada dalam posisi yang ingin dipercayai, tidak ada satupun yang akan mempercayaimu lagi.” Jongin menasehati Taeoh yang mengangguk-angguk sambil tersenyum senang. “Sekarang, ayo kita tidur.” Jongin mengelus kepala Taeoh dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain masih memeluk Rahee.

Jongin baru saja akan tertidur namun tiba-tiba suara tangisan Rahee mengusiknya. Ia buru-buru bangun dan mengecek keadaan anak kecil itu dengan kebingungan. Jongin segera bangkit dari tidurnya dan menggendong Rahee yang sudah mulai tenang itu. Jongin mengelus punggung Rahee dengan perlahan lalu ia baru menyadari bahwa suhu tubuh Rahee sangat tinggi. Lebih tinggi dari pada saat ia memeluknya tadi. Jongin buru-buru meletakan Rahee yang kini sudah kembali tidur itu pada kasur yang ada di hadapannya. Jongin sangat ingin membangunkan Jimi namun rasanya ia tidak tega. Gadis itu tampak sangat lelap, bahkan ia tidak terbangun karena suara tangisan Rahee yang lumayan keras itu.

“Hyung?” Taeoh tiba-tiba terbangun dari tidurnya sembari menguap. Ia terduduk kemudian memperhatikan Rahee yang tertidur disebelahnya. “Hyung kenapa tidak tidur?” Tanyanya membuat Jongin langsung duduk di pinggiran kasur tersebut. Jongin tampak mulai panik. Urusannya kini bertambah seiring dengan bangunnya Taeoh dari tidurnya. Dengan hembusan napas pelan, Jongin berusaha untuk menenangkan dirinya. Setelah ia berhasil, ia segera mengambil ponselnya di atas meja kecil yang berada tidak jauh kasur tersebut. Jongin buru-buru menekan tombol ‘panggil’ ketika ia sudah mendapatkan sebuah nama yang dicarinya pada kontak ponselnya tersebut. “Taeoh-ya, Rahee tiba-tiba demam. Hyung harus mengurusinya dulu, kau tidur saja.” Pinta Jongin membuat Taeoh hanya memandangnya dengan tatapan khawatir.

“Yeoboseyo? Nuna? Ah syukurlah kau belum tidur.” Jongin menghela napas lega ketika panggilan teleponnya mendapat jawaban dari seberang sana. “Baru saja aku akan mematikan ponselku. Ada apa kau menelpon malam-malam? Kalian baik-baik saja, kan?” Kakak pertama Jongin itu berusaha memastikan. “Tentu saja kami baik-baik saja. Hanya saja, Rahee tiba-tiba terserang demam. Aku benar-benar bingung sekarang. Jimi sudah tidur dan aku tidak tega membangunkannya. Apa yang harus aku lakukan?” Jongin merengut ketika kakak perempuannya itu malah menertawainya dari seberang sana.

“Astaga, kau lucu sekali ya. Selain lucu, kau juga ternyata romantis. Aku rasa rencana ini benar-benar berhasil.” Jongin mendengus sementara kakaknya itu sedang berusaha untuk menghentikan tawanya.

“Tenang saja, tidak perlu panik. Kau hanya perlu mengompres dahinya dengan sebuah handuk kecil yang sudah kau basahi dengan air. Demam Rahee pasti akan segera turun dan kembali seperti semula. Anak kecil memang biasa seperti itu, apalagi jika dalam tahap penumbuhan gigi susu.” Jelas kakaknya membuat Jongin hanya menatap Rahee dengan resah. Ia menyelimuti Rahee dengan satu tangannya kemudian segera menggenggam jari-jari kecil milik Rahee dengan erat. Taeoh pun tidak mau kalah, kini ia sudah berbaring disebelah Rahee dan memeluknya dengan satu tangannya yang kecil.

“Kau yakin tidak perlu diberi obat apapun?” Jongin bertanya dengan nada ragu. “Iya, sudah yang penting sekarang kau cepat kompres Rahee. Jangan sampai demamnya malah meninggi. Ah, jangan lupa untuk selalu ukur suhu tubuhnya dengan termometer, ya.” Pesan kakak pertama Jongin membuat laki-laki itu hanya menjawabnya dengan gumaman ‘iya’.

“Ya, Kim Jongin, kalau kau tidak menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, jatuhnya kau benar-benar hanya merepotkan dirimu sendiri.” Kakak perempuannya mewanti-wanti Jongin membuat laki-laki itu hanya tersenyum tipis. “Tenang saja, rencana ini kan bagian dari rencanaku juga.” Ujar Jongin dengan tenang. “Ah, semoga rencananya berjalan baik!” Kakak perempuannya terdengar sangat antusias membuat sebuah senyuman tipis kembali menghiasi wajah Jongin.

“Baiklah, aku tutup dulu.” Jongin segera memutuskan sambungan teleponnya bahkan ketika kakak perempuannya itu belum selesai mengucapkan kata-kata penutupnya. Jongin tampak tenang namun sebenarnya ia tengah panik dengan keadaan Rahee. Untuk pertama kalinya ia harus mengurusi anak kecil yang sedang sakit dan tentu saja bagi orang yang tidak berpengalaman seperti Jongin ini adalah hal yang sangat sulit. Meskipun adegan Rahee yang tiba-tiba terserang demam ini berada diluar rencananya, tapi ia tetap senang. Ya, Jongin memang sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang besar, yang sudah ia pikirkan dengan sangat matang-matang. “Rahee-ya, kau harus sembuh malam ini karena besok adalah hari yang sangat spesial.” Dengan gerakan tergesa Jongin langsung mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengompres Rahee.

Jongin mulai mengompres Rahee dengan hati-hati. Ia mencelupkan sebuah handuk kecil pada air yang berada di dalam baskom berukuran kecil itu lalu memerasnya, dan segera meletakannya pada dahi Rahee. Jongin melakukan hal tersebut berulang-ulang sembari terus mengecek suhu tubuh Rahee dengan termometer. Jongin tersenyum ketika ia melihat Taeoh kini sudah tertidur pulas sembari memeluk Rahee. Jongin memang bukan tipe yang terlalu suka dengan anak kecil, tetapi entah mengapa jika sudah berada disekitar anak kecil, Jongin dapat berubah seratus delapan puluh derajat. Mungkin bukan dirinya yang berubah, tapi hatinya. Ia bahkan dapat merasakan rasa khawatir, cemas, dan takut ketika mengetahui bahwa Rahee terserang demam secara tiba-tiba seperti tadi.

“Ya, Jimi-ya, untung saja aku tidak membangunkanmu. Kau pasti akan lebih panik dariku.” Jongin berujar sambil melirik ke arah Jimi yang sudah sangat lelap itu lalu tertawa kecil. Ia tidak dapat membayangkan kehidupannya kedepan dengan Jimi akan seperti apa. Tapi bagi Jongin, ia sudah merasa siap untuk melangkah maju asalkan itu bersama Jimi. Ya, bersama gadis itu. Gadis yang merupakan satu-satunya alasan Jongin mau melakukan semua ini. Gadis yang merupakan satu-satunya alasan Jongin mau mengatur rencana bersama ibu dan kakak perempuannya untuk menginap bersama di villa ini. Hanya dirinya, Jimi dan Rahee—ditambah Taeoh yang benar-benar diluar dari perencanaan.—ya, Jongin sengaja mengatur semua ini. Ia lah yang sebenarnya menyusun rencana menginap bersama ini hanya untuk mewujudkan tujuan utamanya. Tujuan utama yang masih Jongin sendiri rahasiakan.

Jongin kembali mengompres Rahee dengan hati-hati. Ia menaikan selimut yang menutupi tubuh Rahee, Taeoh dan Jimi itu dengan perlahan takut-takut akan membangunkan mereka. Jongin kemudian terduduk dipinggir kasur sambil memperhatikan Jimi. “Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan aku lakukan besok. Semoga saja berhasil.” Ucapnya lalu mengecup dahi Jimi cepat. Jongin tersenyum lebar lalu kembali fokus pada kompresan Rahee.

Sungguh, Jongin berharap rencana ini akan membuahkan hasil yang sangat baik baginya dan Jimi.

**

Jimi menggeliat, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman namun cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden putih itu benar-benar berhasil mengusik tidurnya yang nyaman. Ia berguling dari posisinya menjadi ke bagian kasur yang kosong itu lalu memeluk bantal yang ia temui. Seketika Jimi merasakan ada yang aneh. Mengapa kasurnya jadi sangat lega sekali padahal disebelahnya sekarang ini harusnya ada Taeoh, Rahee, dan Jongin? Jimi langsung membuka kedua matanya dan ia mendapatkan kamar utama villa milik keluarga Kim itu tampak sepi, hanya dirinya lah yang masih berada diruangan itu. Jimi buru-buru melompat dari kasur tersebut, lalu baru saja ia akan melangkah keluar, sebuah kertas yang berada di atas meja rias kamar tersebut mengundang rasa penasarannya. Ia mulai membaca rentetan kalimat yang ternyata merupakan tulisan Jongin itu dengan seksama. Jimi menganga tidak percaya bahkan hampir menangis saat membaca tulisan tersebut.

‘Selamat pagi. Mungkin saat kau membaca surat ini aku, Rahee, dan Taeoh sedang dalam perjalanan ke Seoul. Aku tidak tega membangunkanmu yang sangat lelap jadi aku memutuskan untuk membiarkanmu tidur sampai kau bangun dengan sendirinya. Kau bisa mengambil penerbangan sore, pesan saja tiketnya via online. Semoga saat kau bangun nanti kau tidak marah, ya. –KJI’

Apa-apaan ini? Jongin meninggalkannya sendiri dengan alasan yang tidak masuk akal seperti itu? Laki-laki itu benar-benar sudah kelewatan. Jika ia ingin bercanda maka bukan ini cara yang tepat untuk bercanda. Jimi terduduk di kasur lalu menangis. Ya, ia memang gadis yang cengeng. Tapi siapa yang tidak akan menangis jika kekasihmu sendiri meninggalkanmu begitu saja disebuah pulau yang tidak kau tahu betul seluk-beluknya? Jimi merasa Jongin benar-benar tega padanya. Jimi tahu ia memang orang yang tidak bisa diganggu jika sudah berhubungan dengan masalah tidur, tapi seharusnya Jongin tidak berbuat sampai seketerlaluan ini.

“Kim Jongin, kau benar-benar keterlaluan!”

Jimi segera berjalan keluar dari kamar tersebut dengan air mata yang sudah membasahi wajah baru bangunnya itu. Saat ia sedang mengumpat berkali-kali sambil menuruni tangga, ia menyadari sesuatu yang aneh dengan ruang tamu villa tersebut. Jimi segera berjalan ke arah ruang tamu tersebut. Tidak ada satu orang pun kecuali sebuah kotak hadiah yang berada di meja tamu itu. Jimi segera mengambilnya dan membuka kotak hadiah tersebut. Ia mengambil isi dari kotak hadiah tersebut dengan alis yang bertaut heran. Sebuah walkie talkie.

Jimi hampir saja melempar walkie talkie itu ketika walkie talkie itu memunculkan sebuah suara. “Test, test. Ya, Park Jimi! Cepat menoleh ke belakangmu.” Jimi segera menurut dan tiba-tiba sebuah spanduk besar bergantung membuat Jimi menganga tidak percaya ketika ia berhasil membaca tulisan spanduk tersebut. Jimi buru-buru lari ke pintu kaca besar yang di depannya adalah halaman belakang itu lalu membaca tulisan yang ada di spanduk besar itu sekali lagi.

“Would you marry me, Park Jimi?”

Jongin yang kini mengenakan setelan jas muncul dari balik pohon besar yang ada dihalaman belakang itu sambil berujar pada walkie talkie yang dipegangnya. Jimi kini hanya menangis sementara Jongin dengan senyuman manisnya sudah berjalan mendekat, membuka pintu kaca tersebut lalu menarik Jimi untuk mengikutinya ke taman belakang villa itu.

“Surprise!” Tiba-tiba Sehun, Surin, kedua orangtuanya, kedua kakak laki-lakinya, beserta seluruh keluarga Jongin kini sudah meniupkan terompet dan menaburkan confetti yang membuat tangis Jimi semakin menjadi-jadi. “Aku yang sudah merencakan semua ini. Dari acara menginap bersama Rahee, ya, walaupun kehadiran Taeoh itu benar-benar diluar rencana tapi aku senang acara ‘latihan’ itu berjalan dengan baik. Bagaimana menurutmu? Apakah kita harus segera mengubah ‘latihan’ itu menjadi yang sungguhan?” Jongin menggenggam kedua tangan Jimi lalu menatap kedua bola matanya dengan tatapan hangat membuat yang lain langsung heboh.

“Would you be my one and only Mrs. Kim?”

Jimi mengambil napas lalu segera mengecup pipi kanan Jongin cepat. “Of course I would.” Jongin segera memeluk Jimi erat membuat yang lain jauh lebih heboh. Suara terompet dimana-mana, confetti bertebaran, dan balon-balon berwarna pink diterbangkan ke langit biru yang luas itu. Jimi tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini karena dapat berada di pelukan seorang Kim Jongin, resmi menjadi calon pendamping hidup laki-laki itu sampai akhir nanti.

“Let’s be Mr. and Mrs. Kim until the very end.” Jongin mengecup puncak kepala Jimi lalu memeluknya lagi dengan jauh lebih erat. Ia sangat menyayangi gadis itu dan tidak ada yang dapat membuatnya merasakan rasa itu jika orang tersebut bukanlah seorang Park Jimi.

-FIN

Terima kasih sudah membaca! Semoga kalian suka. Please send your thoughts about this ff on the comment box! Thanks and see ya! Kunjungin wordpress pribadi saya untuk ff yang lainnya ya. Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com

11 thoughts on “HELLO BABY (Oneshoot)

  1. fanficnya keren banget sumpah, scene jongin ngelamar jimi itu bikin terharu banget. jonginnya jugak sifatnya hangat banget, I love you kim jongin :* tetap semangat nulis fanficnya eonni

  2. kemarin ak ninggalin komen di EXOFF tapi gak tau knapa komenku gak nonggol2, entah nunggu moderasi atau sistem lagi eror #curcol hari ini aku coba lagi, soalnya komen di blog author juga gak nongol… mungkin nunggu moderasi.

    ya udh lngsung aja, sejujurnya ide cerita OK, tapi EYD nya agak berantakan. Karena narasinya berbelit2 dan banyak dialog yg seharusnya gak perlu, jadi ceitanya pun kurang berasa dan flat buat aku. Tapi secara keseluruhan FF ini OK buat dibaca.

    Sering2 nulis ya dan lebih sering lagi baca Novel yg bagus dan berkualitas, dijamin besok2 tulisan kamu pasti keren, Tetep nulis ya, ini hanya pendapat aku, gak masalahkan kritik dan saran?

    Salam kenal^^ —- Cuckoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s