Closer (Chapter 3)

PicStory-2015-09-19-19-08-00 - Copy

 

Closer  

Chapter 3.  (I Caught You!) – by Angel Devilovely95

 

Title     : Closer

Author : Angel Devilovely95 (Twitter: @MardianaSanusi )

Cast     : Oh Sehun & Im Neyna (OC),

Park Chanyeol & Lee Hyera (OC)

Genre  : Romance, Drama and Psychology

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Disclaimer: Don’t bash! This story based on my imagination.

 

 

When a handsome man force you to be his.

 

——- Closer——-

 

 

 

Cahaya matahari pagi yang cerah menembus masuk ke dalam salah satu kamar mewah The Trapalace Apartment. Mengusik penghuni kamar yang masih setia berbaring di tempat tidur king sizenya. Penghuni kamar itupun lama kelamaan mencoba membuka matanya dan menetralkan pandangannya. Dahi putih pria itu berkerut saat netra tajamnya pulih sepenuhnya, menghiasi penampilan penghuni kamar dengan ketampanan luar biasa tersebut.

 

 

 

Kejadian semalam yang terekam jelas diingatannya, membuat pria itu sadar akan sesuatu. Gadis itu. Ia ingat semalam mendekap seorang gadis cantik yang telah resmi menjadi kekasihnya. Ia menolehkan kepalanya kesamping tempat tidurnya. Tapi… Nihil. Gadis itu tidak ada disana.

 

 

‘Dimana gadis itu?’ gumamnya.

 

 

Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Ia tetap tidak menemukan gadis itu. Ia menggeram kesal, menyadari gadisnya tidak ada di kamarnya. Ia melangkahkan kakinya keluar kamar, mencari keberadaan gadis cantiknya di seluruh ruangan apartment mewahnya.

 

 

 

Tapi tetap saja, gadis cantik itu tidak ada dimana-mana. Pria itu, Oh Sehun mengepalkan tangannya, berteriak marah menyadari gadisnya tidak ada di apartmentnya.

 

 

Shit!” Umpat pria itu geram.

 

 

“Kabur eoh?Berani-beraninya gadis itu!” Ucap Sehun dingin dengan amarah yang tak terbendung.  Ia murka akan tindakan gadisnya itu. Sehun meraih handphone miliknya, mencari nama Kim Jongdae dalam daftar telfon, dan menelfon nomor itu setelahnya. Sesaat setelah telfon tersambung, terdengar suara sapaan bernada sopan dari si penerima telfon.

 

 

 

Aku butuh informasi gadis bernama Im Neyna, guru bahasa Inggis Woo Sam High School. Cari secepatnya! Selengkap-lengkapnya, jangan sampai ada satu informasipun yang terlewatkan!” Titah Sehun pada orang yang dihubunginya to the point.

 

 

 

“Baiklah Presdir Oh” respons si penerima telfon singkat, tanda bahwa ia mengerti semua yang diperintahkan si penelfon.  Sehunpun memutus sambungan telfon setelahnya, membanting handphonenya kasar ke sofa.

 

 

Pria tampan bermarga Oh itu melangkahkan kakinya menuju konter bar apartmentnya , mengambil satu botol Gewurztramniner wine. Pria itu menuangkan wine produksi Jerman dengan dominasi rasa peach, leci, dan allspice itu dan menyesapnya kemudian.

 

 

 

“Nice game!!” Ucap Sehun sinis setelah menyesap winenya. Tawa sumbang menggema di living room apartmentnya.  Sehun tertawa sarkastik masih dengan ekspresi dingin menahan amarah yang menghiasi wajahnya.

 

 

 

“Im Neyna you toyed me huh? Let me show you who am I then!” Desis Sehun tajam. Pandangan pria bermarga Oh itu menggelap setelahnya, netra tajamnya berkilat marah. Semburat amarah menghiasi wajah tampannya. Ia siap meledak kapan saja. Mengerikan! Ekspresi Sehun saat ini sungguh mengerikan!

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Keran shower mengucur membasahi tubuh polos gadis cantik di bawahnya. Dinginnya air tidak dihiraukannya, tubuh polos gadis itu terasa kebas.Terhitung sudah dua jam berlalu ia berada di kamar mandi, namun gadis cantik itu belum ada niat beranjak dari posisinya saat ini. Gadis itu berkali-kali menitikan air matanya saat mengingat apa yang dilaluinya semalam.

 

 

 

 

Kejadian dimana ia bertemu pria dingin dan otoriter bernama Oh Sehun. Pria yang menyeretnya paksa ke dalam pusaran kelam yang belum pernah ia pijaki sebelumnya. Masih terekam jelas saat pria itu mengklaim kepemilikan akan dirinya, menjadikannya kekasih pria itu sampai—

.

.

.

—-jejak kepemilikan pria itu tercetak nyata di tubuhnya. Gadis itu mematut dirinya di cermin, melihat pantulan dirinya. Dapat dengan jelas ia melihat kiss mark buatan pria itu. Begitu nyala di permukaan kulit pucatnya, mendominasi bagian leher dan dada atasnya. Gadis itu mengambil handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Dengan gontai, ia melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya. Ia mengambil loose dress berwarna coklat di lemari dan mengenakannya setelahnya.

 

 

 

Wajah pucat gadis itu terlihat gusar saat mengingat bagaimana ia akhirnya bisa kabur dari pria dingin itu. Pria bernama Oh Sehun, pria yang baru dikenalnya semalam, pria yang begitu ia takuti. Semalam ia memang sempat tertidur pulas di dekapan pria dingin itu. Ia terlalu lelah itulah alasannya. Lelah fisik dan mental. Perlakuan pria itu begitu menguras emosi dan tenaganya.

 

 

 

Pagi-pagi sekali ia bangun dari tidurnya, menyingkir dari dekapan pria dingin itu. Pria itu tertidur begitu lelap sampai tidak menyadari pegerakannya. Ia kabur dengan leluasa, memanfaatkan kesempatan saat pria itu tidak sadarkan diri. Tapi sayang, kebebasan yang ia rasakan sekarang malah membebani pikirannya. Bayangan akan tindakan nekat yang akan dilakukan pria dingin itu padanya nanti berkelebat di benaknya. Jujur ia takut hingga tanpa sadar tubuhnya bergetar.

 

 

 

Neyna berusaha menetralkan pikirannya yang kacau akan perisitiwa yang dialaminya semalam. Ia melangkahkan kakinya menuju meja rias, diambilnya handphone miliknya di dalam tas. Gadis itu melihat ada beberapa panggilan tak terjawab, 28 dari Hyera dan 5 dari bibinya. Helaan nafas meluncur sempurna dari bibir ranumnya.

 

 

 

Ia memang sengaja mengatur silent mode di handphonenya, itulah kenapa gadis itu tidak tahu ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari orang-orang terdekatnya. Selain itu kegiatannya bersama pria dingin itu semalam membuatnya semakin tidak memungkinkan untuk sekedar mengecek handphonenya.

 

 

 

Ia merasa tidak enak pada Hyera dan bibinya. Hyera pasti mengkhawatirkan keadaannya setelah peristiwa penculikan yang menimpannya semalam. Sedangkan bibinya yang tidak tahu menahu akan peristiwa yang dialaminya semalam, menelfon pasti karna ingin menanyakan kabar atau sekedar mengobrol dengannya. Neyna hafal betul kebiasaan bibinya itu saat sedang di luar negri.

 

 

 

Bibinya saat ini ada di Cina untuk mengurus pembukaan butik barunya. Gadis itu bersyukur bibinya tidak bersamanya saat ini, ia tidak mau bibinya sampai tau perisitiwa yang ia alami semalam. Ia takut bibinya akan sedih nantinya. Ia lebih baik menyimpan rapat-rapat peristiwa itu.

 

 

 

Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya, melepas kepenatan raga dan pikirannya. Baru beberapa menit, suara pintu apartment menginterupsi menandakan orang masuk. Hanya Lee Hyera dan bibinyalah orang yang mengetahui password apartmentnya. Dan benar saja Lee Hyeralah yang datang.

 

 

 

“Neyna-ya… Kau baik-baik saja kan? Apa Sehun macam-macam denganmu?Apa dia menyakitimu? Dia membawamu kemana eoh?Aku khawatir sekali denganmu.” Serentetan pertanyaan bernada khawatirpun melantun dari bibir tipis Hyera.

 

 

“Kau mengenal Sehun?”  Bukannya menjawab seluruh pertanyaan Hyera, Neyna malah balik bertanya. Rasa penasaran bagaimana sahabatnya itu mengenal Sehun menyeruak di benaknya begitu saja.

 

 

“Ya..Sehun sahabat sekaligus bossnya Yeol Oppa Neyna-ya.” jelas Hyera. Neyna mengangguk mendengar penjelasan singkat Hyera tentang identitas Sehun.

 

 

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau baik-baik saja kan?” Tanya Hyera sebal mengingat sahabatnya itu mengabaikan pertanyaan darinya tadi.

 

 

“Aku baik-baik saja Hyera-ya…” Senyuman lembut menghiasi wajah cantik Neyna saat menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

 

 

Hyera menatap sahabatnya penuh selidik, ia tidak percaya sahabatnya itu baik-baik saja. Dilihat dari wajah pucat Neyna dengan mata sembab yang begitu kentarapun menguatkan dugaanya. Hyera reflex memekik saat tatapannya menangkap bercak merah pekat keunguan di leher Neyna. Ia baru menyadari keberadaan kiss mark di leher sahabatnya itu. Bercak kiss mark itu begitu banyak, begitu pekat, begitu kontras dengan kulit pucat Neyna.

 

 

 

Netra indah Hyera menelisik tajam tubuh Neyna. Tatapannya berhenti di satu titik saat Neyna berusaha menghalau tindakannya. Penglihatan Hyera tertuju pada bekas memar di pergelangan tangan sabatnya itu. Ia menggelengkan kepalanya, mendengus sebal akan kenyataan yang dilihatnya.

 

 

“Neyna-ya kau bohong! Kau tidak baik-baik saja. Apa yang Sehun lakukan semalam eoh? Ceritakan semuanya padaku!” Cecar Hyera. Ia tidak sudi dibohongi, ia tidak suka ada yang ditutup-tutupi sahabatnya itu. Ia ingin Neyna jujur tentang keadaanya.

 

 

Neyna akhirnya mengalah, ia menceritakan semua yang dialaminya semalam. Lebih baik ia jujur, Hyera sudah mencurigainya. Isakan tangispun terdengar dari bibir ranum Neyna seraya menceritakan kejadian semalam. Antara malu dan kalut bercampur menjadi satu saat mengingat kejadian semalam. Hyera berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan memeluk erat tubuh Neyna.

 

 

Hyera menyadari bahwa gadis di pelukannya saat ini begitu takut akan sosok Sehun. Terlihat dari tubuh Neyna yang bergetar saat menceritakan apa yang dialaminya semalam. Gadis di dekapannya itu hampir diperkosa! Pantas saja kalau sahabatnya itu begitu ketakutan.

 

 

Ia harus menjalankan perannya sebagai sahabat. Bagaimanapun kejadian yang dialami sahabatnya itu ada sangkut pautnya dengannya dan tunangannya. Kalau Neyna tidak datang ke ulang tahun Yeol Oppa kejadian semalam tidak akan terjadi. Neynanya tidak akan diculik. Neynanya tidak akan bertemu Sehun.

 

 

 

“Neyna-ya maafkan aku… Ini semua kesalahanku. Kau mengalami itu semua karna aku, kalau saja aku tidak memaksamu datang ke ulang tahun Yeol Oppa ini semua tidak akan terjadi. Aku benar-benar minta maaf..” Ucap Hyera tulus, ia merasa begitu bersalah pada Neyna.

 

 

“Kau tidak perlu meminta maaf Hyera-ya…”  Neyna tersenyum lembut menanggapi permintaan maaf Hyera. Ia tidak mau Hyera merasa bersalah karnanya.

 

 

Hyera mengangguk mendengar perkataan sahabatnya itu. “ Aigoo.. ini sudah jam setengah tujuh. Apa kau tidak mengajar?”

 

 

“Tidak, aku ingin istirahat hari ini. Aku akan menghubungi Yeri eonni nanti.”

 

 

“Baiklah kalau begitu… Aku dan bayiku akan menemanimu Ms. Im” Hyera tertawa kecil saat menyebutkan dia dan bayinya akan menemani sahabatnya itu.

 

 

“Terimakasih Ms. Lee dan calon keponakanku.. ” Ucap Neyna gemas sambil mengelus perut buncit Hyera. Ia bersyukur sekali lagi ia masih memiliki sahabat yang menyayanginya. Dalam keadaan mengandung Hyera masih setia menemaninya.

 

 

Usia kandungan sahabatnya itu sudah menginjak bulan ketiga. Perut buncitnya tidak terlalu kentara lantaran tubuhnya yang kurus. Pernikahan Yeol Oppa dengan sahabatnya itu akan berlangsung dua hari lagi. Ia ikut bahagia dengan kebahagian yang Hyera rasakan.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Suasana Oh Corporation terlihat tenang seperti biasa. Para kayawan tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sama halnya dengan seorang pria yang tengah berkutat dengan beberapa dokumen di meja kerjanya.  Pria itu nampak sibuk menandatangani dokumen-dokumen tersebut. Ia mendecak sebal saat melihat jam di tangannya.

 

 

 

 

Ia melihat jam yang melingkar mesra di tangan kirinya. Sudah jam 10 tapi pria yang ia tunggu-tunggu belum juga datang ke kantor. ‘Kemana perginya pria itu?’ gumamnya sebal. Ia mengambil handphone miliknya, lalu menelfon orang yang ia tunggu-tunggu itu. Belum sempat telfonnya tersambung, telfon di meja kerjanya berdering. Pria itu mau tak mau menghentikan tujuannya sejenak dan mengangkat telfon yang berdering tersebut.

 

 

 

“Ada apa?” Tanya pria itu to the point.

 

 

“Presdir Oh Sehun sudah datang. Ia sudah di ruangannya sekarang.”  Respons si penelfon.

 

 

“Baiklah. Terimakasih.”  Tandas pria bermarga Park itu menyudahi pembicaraan. Pria bermarga Park yang merupakan direktur divisi I di perusahaan itu memang sudah meminta sekertarisnya untuk mengabarkan kalau pria yang ia tunggu itu sudah datang.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

Seorang pria dengan pakaian formal kini tengah duduk di kursi kebesarannya dengan ekspresi angkuh yang entah kenapa terlihat begitu mempesona. Pria itu mengenakan kemeja putih yang pas di dada bidangnya di balut dengan dasi berwarna hitam polos dan jas hitam polos yang senada dengan celana bahan yang dikenakannya.

 

 

 

Ia mengetuk-ngetukan jemarinya di meja kerjanya, fokusnya berpendar begitu kentara bahwa pikiran pria itu sedang melalang buana. Pria bermarga Oh itu kini tengah menunggu kabar dari Kim Jongdae, sekertarisnya. Ia menugaskan sekertarisnya itu untuk mencari data seorang gadis tadi pagi. Tapi sekertarisnya itu belum juga memberinya kabar apapun hingga detik ini.

 

 

 

Tiba-tiba saja pintu ruangan pria itu terbuka menampakan sosok pria jangkung yang berhasil memecah lamunannya. Pria jangkung itu kini berdiri di hadapanya, menatapnya dengan wajah serius.

 

 

“Sehun-ah apa yang kau lakukan semalam huh? Neyna bagaimana? Apa yang kau lakukan padanya eoh?” Sembur pria bermarga Park itu kepada pria angkuh di hadapannya.

 

 

“Aku hanya membawanya ke apartmetku tapi dia kabur sekarang.” Jawab Sehun singkat dengan ekspresi dingin dan datarnya.

 

 

“Jangan bilang kau memperkosanya eoh?” Tanya Chanyeol penuh selidik.

 

 

“Tidak. Dia menolakku” Respons Sehun tajam. Geraman lolos dari bibirnya mengingat bagaimana gadis itu mempermainkannya.

 

 

Sementara tawa mengejek dari pria di hadapannyalah yang ia dapati sebagai repons. Park Chanyeol, pria yang mengejekya tertawa puas dengan perkataan sahabatnya itu. Pria itu tidak menyangka seorang Oh Sehun, a rich monster yang sangat tampan di tolak seorang gadis. Berita besar!

 

 

Sehun kesal dengan pria di hadapanya yang tengah menertawakannya saat ini. Moodnya sudah jelek dan Chanyeol kian memperburuknya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangannya, menghentikan perbincangan diantara kedua pria di ruangan itu.

 

 

 

“Come in” ucap Sehun setelahnya, mengizinkan orang tersebut masuk ke ruangannya. Seorang pria memasuki ruangan dengan amplop coklat di genggamannya. Pria itu yang merupakan sekertaris Sehun, Kim Jongdae membungkukan badannya, menyapa kedua pria di hadapannya kemudian.

 

 

 

Sehun tahu maksud kedatangan sekertarisnya itu, menyampaikan informasi tentang gadisnya. Ia melemparkan kunci mobil lamborgini ke Chanyeol sebagai hadiah ulang tahunnya itu setelahnya, berusaha mengusir pria bermarga Park itu. Informasi yang ia dapatkan dari sekertarsisnya mengenai Neyna harus ia sembunyikan dari pria itu. Ia khawatir nantinya Chanyeol akan membeo ke tunangannya yang tidak lain sahabat gadis yang diincarnya.

 

 

Chanyeol menangkap pemberian bossnya itu, menampilkan cengiran khasnya kemudian. Ia berterimakasih pada Sehun, lalu megundurkan diri dari kedua pria di ruangan itu setelahnya. Sehun menepati janjinya, pria itu benar-benar memberikan hadiah yang ia inginkan. Dan lebih dari itu semua yang terpenting baginya saat ini, ia sudah mengetahui kabar Neyna yang yaa… sepertinya baik-baik saja itu sudah cukup membuat kekhawatirannya mereda.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

“Im Neyna, gadis yang Anda cari sekarang sedang ada di apartmentnya bersama Lee Hyera, sahabatnya. Sepertinya Nona Im tidak mengajar hari ini. Ia yatim piatu dan hanya tinggal bersama bibinya. Saat ini bibinya sedang ada di Cina, mengurus pembukaan butik barunya. Ini informasi tambahan yang saya dapatkan Presdir.” Ucap Jongdae memulai pembicaraan.  Ia menyerahkan amplop coklat berisikan informasi tambahan gadis yang diincar bossnya itu setelanya.

 

 

 

 

“Terimakasih. Segera urus kerjasama Oh Corp dengan Woo Sam High School…” Titahnya kemudian pada sekertarisnya itu yang masih berada di ruangannya saat ini. Jongdae mengernyit heran dengan perintah Sehun, entah apa yang direncanakan bossnya itu sampai-sampai perusahaan real estate yang sangat bonafit ingin bekerjasama dengan Sekolah Menengah Atas. Tapi ia tidak bisa ikut campur lebih akan hal itu.

 

 

“.. dan aku butuh tempat tinggal baru, carikan mansion untukku.” Lanjut Sehun kemudian.

 

 

“Baiklah, saya mengerti Presdir.” Ucap Jongdae menyanggupi perintah bossnya itu. Ia membungkukan badannya dan beranjak pergi dari ruangan itu. Tepat saat Jongdae meninggalkan ruangannya, seringaian licik menghiasi wajah tampan pria bermarga Oh itu. Sehun begitu puas dengan informasi yang ia dapatkan mengenai gadis incarannya itu. Rencana licikpun sudah tersusun rapi di otaknya.

 

 

 

“I’ll catch you Im Neyna. Wait for me sweetheart…” Tandas pria bermarga Oh itu. Ia akan menangkap gadisnya itu. Neyna tidak akan bisa kabur lagi darinya. Ia akan pastikan itu!

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

Hari berganti terhitung dua hari setelah peristiwa penculikan yang dilakukan pria bernama Sehun terhadapnya. Ia beruntung sampai hari ini pria dingin itu tidak mencarinya. Ia berpikiran bahwa mungkin pria itu sudah melupakannya. Ia bisa bernafas lega sekarang. Dan hari ini hari dimana ia mulai kembali mengajar lagi setelah kemarin ia habiskan untuk menenangkan diri. Ia mematut dirinya di depan cermin. Melihat pantulan dirinya yang baru mengenakan bra hitam dan rok sepan hitam selutut.

 

 

 

Ia bisa melihat bekas kiss mark yang masih setia melekat di kulit leher dan dada atasnya. Neyna menghela nafas saat melihat tanda kepemilikan pria itu masih saja betah melekat di kulitnya. Iapun menutupnya dengan kemeja abu-abu lengan panjang yang begitu pas dengan tubuh indahnya. Neyna kemudian menyimpulkan pita di bagian kerah kemejanya, menutupi bagian lehernya sepenuhnya. Setelah selesai berpakaian, Neyna melangkahkan kakinya keluar apartment.

 

 

 

Ia berangkat satu jam lebih awal menuju sekolah tempat ia mengajar menggunakan taksi. Perjalanan dari apartmentnya ke Woo Sam High School hanya memakan waktu 20 menit. Setibanya di Woo Sam High School, sapaan hangat Yeri menyambutnya di koridor sekolah.

 

 

“Neyna-ya … kenapa kau sudah masuk eoh? Kau sudah sembuh?”Tanya Yeri khawatir. Neyna memang mengabarkan bahwa ia tidak bisa mengajar kemarin dengan alasan sedang tidak enak badan pada guru biologi itu.

 

 

“Hmm… aku sudah baikan eonni.”  Neyna tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Yeri.

 

 

“Aigoo syukurlah kalau begitu.. Neyna-ya aku punya berita besar. Kau tau sekolah kita akan didanai oleh perusahaan real estate terbesar di Korea. Bukankah itu hal yang bagus eoh?”

 

 

 

“Untuk apa perusahaan real estate sehebat itu mendanai sekolah kita?” Tanya Neyna penasaran. Baru pertama kali ia mendengar ada perusahaan real estate hebat bekerjasama dengan sebuah sekolah.

 

 

 

“Aku juga tidak tau lebih jelasnya kenapa, tapi yang ku dengar dari dewan sekolah bahwa pemilik perusahaan itu sangat peduli dengan pendidikan. Oleh karna itu ia akan memfasilitasi 75% kegiatan sekolah termasuk festival musim semi sekolah di Jepang nanti Neyna-ya…” Yeri begitu sumringah saat menjelaskan apa yang ia dengar dari dewan sekolah kemarin pada lawan bicaranya itu.

 

 

 

“Bukankan pemilik perusahaan itu biasanya sibuk ya? Paling tidak ia akan mewakilkan urusan ini ke bawahannya.”

 

 

“Aku tidak tau mengenai hal itu yang jelas satu jam sebelum jam makan siang nanti dewan sekolah dan guru-guru harus menghadiri meeting dengan pemilik perusahaan itu.”

 

 

“Baiklah eonni.” Ucap Neyna setelahnya.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

 

Mobil Mercedes Benz C Class hitam kini tampak memasuki parkiran Woo Sam High School. Setelah pengemudi mobil selesai memarkirkan mobilnya, ia lalu keluar dari pintu depan. Kim Jongdae, pengemudi yang mengenakan setelan rapi itupun melangkahkan kakinya menuju pintu belakang mobil, membukakan pintu mobil tersebut setelahnya.

 

 

 

Tampak seorang pria tampan dengan wajah yang terkesan dingin dan angkuh keluar dari mobil. Pria tampan itu juga mengenakan setelan rapi sama halnya dengan Kim Jongdae, tapi penampilan pria tampan itu jauh lebih berkelas.

 

 

“Kita akan langsung menuju ke meeting room Woo Sam High School Presdir Oh.” Ucap Kim Jongdae, sekertaris pria yang dipanggilnya Presdir Oh itu.

 

 

“Ok.” Respons pria bermarga Oh itu singkat.

 

 

Kedua pria itupun berjalan memasuki gedung Woo Sam High School menuju meeting room. Ruangan yang biasanya dipakai guru-guru ataupun dewan sekolah untuk rapat tersebut terletak di lantai dua. Sesampainya di meeting room Woo Sam High School, kedua pria itupun disambut oleh dewan sekolah dan beberapa guru yang sudah memenuhi ruangan tersebut.

 

 

Pria bermarga Oh itu mengedarkan netra tajamnya, meneliti satu persatu orang yang ada di ruangan rapat. Tapi orang yang ia cari tidak muncul-muncul juga.

“Dimana gadis itu? Bukankah aku sudah memerintahkan semua guru untuk hadir huh?” Ucap pria bermarga Oh itu geram.

 

 

“Saya minta maaf.. Saya sudah menyampaikan perintah Anda sesuai instruksi pada dewan sekolah. Saya akan menanyakannya kalau begitu Presdir..”

 

 

“Tidak perlu. Gadis itu akan menemuiku seusai rapat nanti. Mulai saja rapatnya sekarang!” Sanggah pria bermarga Oh itu tajam. Ia marah. Terlihat dari nada bicaranya yang meninggi.

 

 

 

Selama rapat berlangsung Sehun akan ditemani oleh Jongdae.  Rapat dijadwalkan akan berlangsung selama satu jam untuk membahas mengenai masalah pendanaan Woo Sam High School oleh perusahaanya, Oh Corporation.

 

 

 

Rapat dimulai dengan membahas daftar fasilitas-fasilitas yang ada dan belum ada di Woo Sam High School. Sehun tampak begitu focus dengan pembahasan yang di berikan dewan sekolah. Ia juga sesekali memberi masukan terkait rencana perbaikan dan pengadaan fasillitas sekolah.

 

 

 

Fokusnya terpecah saat Jongdae menghampirinya. Sekertarisnya itu sedikit membungkukan badannya, membisikan bahwa ada telfon untuknya. Pria bermarga Oh itupun menerima handphone yang diberikan Jongdae. Ia menundukan kepalanya pada dewan sekolah, meminta izin untuk mengangkat panggilan telfon yang diterimanya. Pria dingin itupun keluar ruang rapat bersamaan dengan sekertarisnya yang mengekor dari belakang.

 

 

 

Sehun tampak terperanjat saat mendengar ucapan si penelfon. Refleks tangannya terkepal dengan wajah merah padam yang jelas sekali mengisyaratkan kemarahan. Ia bisa mendengar si penerima telfon, selain dirinya itu tidak merespons apa-apa akan pernyataan romantis si penelfon. Si penerima telfon yang tidak lain adalah Im Neyna sepertinya sama syoknya dengan dirinya.

 

 

Satu menit, dua menit berlalu gadisnya itu tidak bereaksi apa-apa seakan membisu. Sementara si penelfon yang sudah pasti pria itu berkali-kali memanggil nama gadis yang Sehun klaim sebagai miliknya. Si penelfon itu terus berusaha menyadarkan kebisuan gadis cantik yang di hubunginya itu. Sampai suara BIP… menginterupsi, menandakan si penerima telfon memutus sambungan.

 

 

 

Pria dingin itu masih terdiam di posisinya, masih dengan tangannya yang terkepal. Rahang tegasnya mulai mengeras, nafasnya begitu memburu. Sehun terlihat semakin marah dengan kenyataan yang ia terima barusan. Kenyataan bahwa ada pria lain selain dirinya yang menginginkan gadisnya.

 

 

Dapat ia pastikan bahwa pria si penelfon itu sudah mengenal lama gadisnya.Beruntung sekertarisnya berhasil menyadap ponsel gadisnya itu. Ia bisa mengetahui kenyataan ini lebih awal. Ia akan mencegah pria itu berhubungan dengan gadisnya. Bagaimanapun caranya!

 

 

 

‘Kau miliku Im Neyna. Tidak akan kubiarkan pria lain mendekatimu!’ Ucap Sehun membatin. Ia tertawa miris setelahnya, menghembuskan nafasnya kasar dan berusaha menetralkan amarahnya. Ia membisikan sesuatu pada sekertarisnya yang ditanggapi dengan anggukan oleh sekertarisnya itu. Pria bermarga Oh itu lalu melangkahkan kakinya kembali menuju ke ruang rapat. Melanjutkan pembahasan kerjasama antara perusahaannya dengan Woo Sam High School.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

“Neyna-ya.. Ini Oppa.. Apa kabarmu?”

 

“Oppa merindukanmu… Sangat.”

 

“Oppa masih mencintaimu Na-ya…”

 

 

 

Neyna terduduk lemas di ruang UKS saat ini, kakinya begitu lemas untuk menopang berat badannya. Neyna memang sudah berniat untuk menghadiri rapat tadi, tapi niatnya terhenti saat menerima panggilan dari orang yang menelfonnya beberapa menit lalu.

 

 

 

Ia seakan membisu, lidahnya begitu kelu untuk sekedar menanggapi ucapan si penelfon itu. Suara itu, suara yang begitu ia kenal. Suara pria yang begitu ia rindukan. Pria yang pernah mengisi relung hatinya dengan manisnya cinta sekaligus pria yang mengubur rasa manis itu.

 

 

 

Pikirannya saat ini begitu kacau. Memori mengenai pria itu berkelebat di otaknya. Memori bahagia denga pria itu sampai memori buruk yang begitu memilukan untuk dikenang. Tanpa sadar tetesan air mata lolos begitu saja dari mata indahnya, membasahi pipi putihya.

 

 

 

Ia heran bagaimana pria itu bisa menghubunginya lagi setelah sekian lama menghilang. Dari mana pria itu mengetahui nomor handphonenya? Untuk apa dia menghubunginya lagi? Pertanyaan yang tampak seperti pernyataan itu memenuhi pikirannya kini. Neyna begitu larut dengan pikirannya sampai suara Song Yeri menginterupsi kegiatannya.

 

 

 

“Aigoo… ternyata kau disini.. Aku mencarimu dari tadi Neyna-ya..Kenapa kau tidak ikut rapat tadi eoh?” Tanya Yeri memulai pembicaraan.

 

 

“Aku agak pusing eonni jadi aku istirahat di sini.”

 

 

“Lalu sekarang apa kau masih pusing?”

 

 

Neyna menggeleng “Aku sudah baikan eonni. Aku hanya pusing karna belum sarapan..” Ucap Neyna menjelaskan keadaanya saat ini. Ia berbohong pada rekan kerjanya itu. Ia memang agak pusing, tapi bukan karna telat sarapan penyebabnya. Pria yang menelfonnya itulah penyebabnya.

 

 

 

 

 

“Oh ya… rapat berjalan lancar tadi. Ini dokumen perjanjian kerjasama Woo Sam High School dengan Oh Corp. Presdir Oh belum menandatangani dua dokumen ini. Kau ditugaskan untuk meminta tanda tangannya siang ini. Ini alamatnya, kau bisa menemuinya disana. Huh kau beruntung sekali bisa menemuinya secara pribadi Neyna-ya.. kau tau.. Presdir Oh Corp itu sangat tampan.”  Senyuman sumringah terpampang jelas di wajah manis Yeri saat mengungkapkan ketampanan pemilik perusahaan itu.

 

 

 

‘Apa setampan itu eoh? Melebihi Sehun?’ Tanya Neyna membatin. Ia menggelengkan kepalanya kuat setelah menyadari pikirannya malah menjurus ke pria dingin itu.

 

 

 

“Lebih baik aku berangkat sekarang.” Tandasnya, lalu melangkahkan kakinya keluar ruang UKS bergegas menuju alamat yang tertera di kertas di genggamannnya.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

Suara letupan senjata api menggema di ruangan VVIP Myeongdong Shooting Gun Range, Seoul. Seorang pria dengan postur tinggi tegap kini tengah membidik sasaran yang berjarak 25 meter di depannya dengan revolver kaliber 38 di genggamannya.

 

 

 

Pria itu siap menarik picu revolver kaliber 38 itu saat bidikannya di rasa sudah tepat. Suara letupan senjata api di genggamannya itu lagi-lagi menggema saat pria itu kini berhasil menembakan sasarannya. Guide Gear Stereo Hearing Protection Earmuff dan Protection Glasses yang dikenakan pria itu menghalau suara letupan senjata api miliknya.

 

 

 

“Maaf Presdir Oh…. Nona Im sudah datang. Ia ada di ruang tunggu sekarang.” Seruan Jongdae menghentikan kegiatan pria bermarga Oh itu. Ia menurunkan senjatanya, melepas earmuff dan kacamata yang dikenakannya dengan tangan kirinya.

 

 

Sedangkan di tangan kanan pria itu revolver berkaliber 38 masih melekat erat di genggamannya saat sebelumnya sempat menurunkanya tadi. Senyuman miring menghiasi wajah pria bermarga Oh itu. Ia melangkahkan kakinya berniat menemui gadis bermarga Im tersebut.

 

 

 

Di ruangan tunggu VVIP Myeongdong Shooting Gun Range, Sehun bisa melihat dengan jelas gadis yang ia tunggu-tunggu.Gadis cantiknya itu kini tengah duduk sambil menundukan kepalanya. Menyembunyikan wajah cantiknya. Derapan langkah kaki Sehunpun membuat gadis di hadapannya reflex berdiri dan mendongakan kepalanya.

 

 

 

Tatapan mereka bertemu saat ini. Tatapan tajam dihadiahkan pria bermarga Oh itu pada gadis cantik di hadapannya. Gadis cantik itu membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dapat dirasakan tubuh gadis cantik itu menegang saat pandangannya menangkap sosok pria yang begitu familiar tersebut. Pria itu. Pria yang begitu ia takuti. Pria yang menculiknya dua hari yang lalu. Oh Sehun.

 

 

 

Sehun menghampiri gadis yang sudah dua hari tidak ia temui itu. Gadis yang resmi menjadi kekasihnya. Gadis nakal yang kabur darinya, Im Neyna. Ia menyadari keterkejutan gadis di hadapannya itu. Tatapan takut gadisnya yang begitu kentara tidak dihiraukannya.

 

 

Ia semakin melangkahkan kakinya mendekati gadis cantiknya itu, meraih tubuh mungil di hadapannya dengan tangan kirinya. Dengan sigap ia menelusupkan tangan kekarnya di pinggang ramping gadisnya. Mengunci pergerakan gadis cantik itu.

 

 

“A-ku ingin be-bertemu Presdir Oh..A-apa yang kau lakukan di-disini Se-sehun-sshi?” Neyna mengajukan pertanyaannya pada pria dingin di hadapannya itu terbata-bata. Ia heran kenapa malah pria dingin itu yang muncul.

 

 

“Aku Presdir Oh Corp sayang… Oh Sehun.” Pria bermarga Oh itu mengucapkan perkataanya penuh penekanan tepat di depan wajah gadis cantiknya itu. Ia kemudian mengecup pipi mulus gadisnya itu, melumatnya gemas.

 

 

Pria yang ternyata Presdir Oh Corp itu mengayunkan revolver berkaliber 38nya ke arah pipi mulus gadisnya setelahnya. Mengelus pipi mulus gadis cantiknya itu secara tidak langsung. Tatapan kalut, tubuh yang semakin bergetar ketakutan menjadi pemandangan indahnya saat ini.

 

 

Sehun semakin menurunkan revolver berkaliber 38 itu kearah tengkuk gadisnya. Semakin turun ke bagian dada gadis cantiknya itu. Netra tajamnya menatap gadis cantik itu begitu lekat sebelum memulai pembicaraan.

 

 

“Kau tau… Aku tidak suka dibantah.Tapi—

.

.

.

—kau malah membantahku. Kabur dariku. Jadi kau harus dihukum sayang…”

Senjata api yang di pegangnya itu berhenti tepat di pertengahan dada gadisnya setelah Sehun merampungkan kalimatnya yang sempat menggantung.

 

 

 

Kekalutan gadis cantik itu semakin memuncak saat pria yang merengkuhnya kini mengarahkan senjata api di dadanya. ‘Apa ia akan menembakku? Apa ia akan membunuhku?’ Segelintir prasangka buruk berkelebat di benaknya.

 

 

 

“A-aku minta maaf… Ki-kita tidak saling kenal…A-aku tidak bisa tinggal denganmu Se-sehun-sshi…”  Gadis cantik itu berhasil mengutarakan alasannya, berusaha meredam amarah pria dingin di hadapannya saat ini.

 

 

 

“Kau kekasihku! Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku! Itu artinya kau harus tinggal denganku!” Bentak Sehun pada gadis cantiknya itu.

.

.

.

Bang

 

 

 

Suara letupan revolver berkaliber 38 di genggaman pria bermarga Oh itu menggema. Kaca jendela di ruangan itu menjadi sasarannya. Sehun melempar asal senjata api yang di genggamnya setelahnya. Gadis cantik bermaraga Im itu begitu terperangah, terkejut akan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Sehun. Lagi-lagi pria yang merengkuhnya itu murka. Murka karnanya.

 

 

“Se-sehun-sshi please me-mengertilah.. A-aku—“

 

 

“Sstt..Aku tidak menerima apapun alasanmu sayang… Cepat atau lambat aku akan membuatmu tinggal denganku!” Ucap Sehun dingin di telinga gadisnya, menandakan bahwa ia tidak mau dibantah ataupun sekedar mendengarkan penjelasan apapun saat ini.

 

 

 

Neyna merasa darahnya berdesir saat Sehun mengucapkan kalimatnya. Tatapa tajam pria bermarga Oh itu semakin mengintimidasinya saat ini. Pria dingin itu semakin merengkuhnya erat sampai bagian dadanya menyentuh dada bidang pria itu.

 

 

 

Geraman penuh hasrat lolos begitu saja dari bibir pria bermarga Oh itu. Gadis itu berhasil merangsangnya. Tentu gadis itu tidak sadar. Sehunlah yang kelewat peka. Ia menarik tengkuk gadis cantik di rengkuhannya itu. Mencium bibir ranum gadisnya yang begitu ia idamkan. Lumatan kasar menyertai ciuman sepihak itu.

 

 

 

“Hmmph…” Neyna berusaha menghalau ciuman kasar Sehun. Ia meronta di rengkuhan pria dingin itu. Tapi Sehun malah semakin menciuminya rakus. Pria dingin itu tidak memberi celah sedikitpun untuk gadisnya melawan.

 

 

Sehun menghisap, melumat kasar bibir ranum gadisnya itu. Begitu kasar sampai menimbulkan luka di permukaan bibir gadis cantiknya. Pasokan oksigen yang semakin menipis dan bau anyir yang menyentuh permukaan bibirnya membuat Sehun terpaksa melepas ciuman panas itu.

 

 

Dilihatnya gadis cantik di rengkuhannya itu terengah-engah, berusaha menstabilkan nafasnya. Entah kenapa Sehun merasa begitu bahagia melihat gadisnya tidak berdaya karnanya. Hanya karna ciuman sepihaknya. Ia berhasil melancarkan hukuman kecil pada gadisnya itu.

 

 

“Itu hukumanmu karna kabur dariku… Bagaimana rasanya hmm?”  Ucap Sehun sarkastik sambil mengelus puncak kepala gadis cantiknya.

 

 

“It hurts.. hiks…hiks..” Neyna menghapus air mata yang entah sejak kapan telah membanjiri pipi mulusnya itu. Bibirnya sakit. Perih. Tapi hatinya lebih sakit. Ia merasa dilecehkan oleh pria dingin itu.

 

 

Seakan tuli, Sehun kini malah menenggelamkan wajahnya di bahu gadisnya, menghirup aroma vanilla lembut yang dirindukannya. Tapi, ia merasa ada yang kurang. Aroma vanilla gadisnya tidak begitu terasa… Ia menelisik ke tubuh gadisnya itu sebentar, memalingkan kepalanya sedikit.

 

 

Bingo! Netra tajamnya menemukan apa yang dicarinya, penyebab ketidapuasannya. Gadisnya itu ternyata mengenakan kemeja dengan kerah yang di kancingkan sepenuhnya. Pita di bagian kerah begitu tersimpul rapi menutup bagian lehernya.

 

 

 

Dengan cekatan, Sehun menggerakan jemari besarnya di kemeja gadisnya. Melepaskan ikatan pita yang melingkar manis di kerah kemeja gadisnya. Pita itu jatuh dengan sempurna di lantai. Satu persatu kancing kemeja gadis cantiknya itu hampir berhasil ia tanggalkan.

 

 

Neyna meronta akan perlakuan pria dingin yang dengan kurang ajar menjamah tubuhnya, melepas kancing kemejanya. Ia begitu kalut saat pergerakan jemari pria itu mengalun di permukaan perutnya, mengelusnya lembut.

 

“Stop it Se-sehun-sshi” Neyna reflex menggenggam jemari pria itu, berusaha mengehentikan pergerakan Sehun yang semakin menjadi. Sehun mendongakan kepalanya, menatap gadisnya lekat. Neynapun menundukan kepalanya, memejamkan netra indahnya, takut-takut Sehun murka lagi. Tapi tidak ada reaksi apa-apa dari pria itu. Hening.

 

 

 

Sehun hanya menatap Neyna saat ini, ia menurunkan pandangannya ke arah kemeja gadisnya yang kini sudah terbuka sebagian. Menampilkan belahan dada gadisnya yang begitu sexy, begitu menggiurkan. Ia meneguk salivanya susah payah menahan hasratnya yang sudah begitu memuncak. Tapi tidak bisa. Sehun terlanjur terbuai oleh nafsunya.

 

 

Senyuman miring menghiasi wajah tampanya kini. Ia menelusupkan kembali kepalanya di ceruk leher gadisnya kemudian. Aroma vanilla yang ia idamkan menguar sepenuhnya. Rasa dahaga akan aroma lembut gadisnya itupun terpenuhi. Ia memejamkan netra tajamnya, hidung mancungnya membelai lembut ceruk leher gadisnya itu.

 

 

 

“Engghh…Stop it…P-please..” Neyna tercekat akan perlakuan Sehun, ia melenguh pelan. Tidak tahan akan perlakuan seduktif pria bermarga Oh itu. Perlakuan pria dingin itu selalu mengejutkannya. Ia kurang nyaman dengan posisinya saat ini.

 

 

Tapi ia tau Sehun tidak pernah perduli itu. Mendengar lenguhan gadisnya membuat Sehun terangsang. Sangat. Tapi ia memilih untuk menghentikan kegiatannya setelah sepuluh menit berlalu. Ia melepaskan rengkuhannya di tubuh mungil gadisnya.

 

 

“Berikan dokumen itu..” Titah pria bermarga Oh itu dengan wajah datarnya.

 

Neyna mengerjapkan netra indahnya merespons ucapan Sehun. Ia masih belum pulih sepenuhnya.

 

 

“Kau datang kesini untuk meminta tanda tanganku kan sayang..?”

 

 

“I-iya..” Neyna menetralkan kesadarannya, lalu mengambil dokumen yang dibawanya yang sempat terjatuh di lantai.

 

 

Sehun tersenyum tipis melihat kelakuan gadisnya. Lucu. Itulah yang dipikirkannya.

 

“Sit there!… Tetap seperti itu.. Jangan mencoba mengancingkan kemejamu saat ini!” Perintah Sehun tajam pada gadis cantiknya.

 

 

Neyna mendudukan tubuhnya di sofa di ruangan itu. Ia menuruti permintan. Perintah pria bermarga Oh itu pasrah. Ia selalu tidak berdaya di hadapan pria dingin dan otoriter itu. Sementara itu, Sehun mendudukan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan gadisnya itu, menyilangkan kakinya kemudian.

 

 

 

Ia menggerakan penanya lihai di atas kertas putih di pangkuannya. Sesekali melirik gadisnya yang tengah duduk di sebrangnya. Memeriksa apa gadis cantiknya menuruti perintahnya. Belahan dada gadisnya menjadi pemandangan yang begitu indah baginya. Kiss mark buatannya dua hari lalu masih melekat setia di kulit putih gadisnya. Ia senang sekaligus bangga.

 

 

 

Neyna duduk sambil menundukan kepalanya. Ia tau Sehun sedang mengawasinya. Ia memang begitu bodoh karna mau saja menuruti perintah pria sinting itu. Rasa takut pada pria itulah yang mendukung kebodohannya. Dapat ia rasakan pria dingin itu mendekat kearahnya, berlutut di hadapannya. Neyna mendongakan kepalanya melihat apa yang dilakukan Sehun saat ini.

 

 

“Ini… Aku sudah selesai menandatanganinya..” Ucap Sehun datar.

 

 

 

“Terimakasih Se-sehun-sshi.. Presdir Oh ma-maksudku..” Gadis itu menanggapi dengan mengulurkan tangan mungilnya, mengambil dokumen yang diberikan Sehun.

 

 

 

“Kancingkan kemejamu sekarang atau aku akan menerkammu sayang..” Ancam Sehun, membelai surai panjang gadisnya kemudian. Neyna langsung menuruti ancaman Sehun. Ia mengancingkan kemejanya tergesa-gesa. Takut-takut Sehun benar-benar menerkamnya.

 

 

 

 

 

 

“Perintahkan pegawai wanita di sini untuk mengantarkan kekasihku kembali ke Woo Sam High School..Sekarang!” Titah Sehun pada sekertarisnya. Belum ada lima menit Sehun memutus sambungan telfonnya, Jongdae sudah menghampirinya dengan pegawai wanita di tempat pelatihan tembak tersebut. Pegawai wanita itu menghampiri Neyna sebentar dan mengarahkan gadis itu keluar ruangan. Sehun benar-benar posesif! Ia tidak tidak ingin pria manapun dekat dengan gadisnya itu, Jongdae sekalipun.

 

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

Pukul 7 malam seorang gadis cantik kini tengah memasak sup ayam untuk makan malam. Malam ini ia masak agak banyak karna bibinya akan pulang dari Cina. Gadis yang mengenakan tank top dress berwarna pink pastel itu sebenarnya sudah memasak telur gulung, sup tahu, dan ikan goreng sebelumnya. Tapi ia merasa masih ada yang kurang untuk makan malam penyambutan bibinya itu.

 

 

Setelah menyicipi sup ayam yang sudah matang. Neyna membuat jus strawberry kesukaannya dan jus alpukat kesukaan bibinya. Pintu apartement terbuka menandakan bibinya sudah datang. Neyna menyudahi kegiatannya dan menyambut bibinya dengan pelukan hangat. Wanita paruh baya yang di peluk Neyna itupun membalas pelukan hangat dan mengecup pipi mulus kepokannya itu.

 

 

“I missyou dear.” Senyuman tulus menghiasi wajah Song Ara, bibi Neyna.

 

 

“I miss you too auntie..” respons Neyna setelahnya, meluapkan perasaan rindunya.

 

 

“Tunggu..Ada apa dengan bibirmu Neyna-ya?” Bibi Song mengelus lembut permukaan bibir Neyna. Luka yang sudah mengering di bibir ranum gadis cantik itu mengusik penglihatan bibi Song.

 

 

“Aahh.. Aku tidak sengaja menggigit bibirku saat sedang makan siang tadi.” Jelas Neyna berbohong. Ia sudah mengobati luka ciptaan Sehun tadi, tapi ternyata bibinya menyadarinya. Neyna bergerak merapikan surai panjangnya yang sengaja ia gerai dari tadi.

 

 

Tujuannya ya..untuk menutupi bercak kiss mark buatan Sehun. Ia tidak mau tanda kepemilikan pria itu diketahui bibinya.  Dan untungnya bibinya tidak menyadari sedikitpun keberadaan bercak kiss mark yang melekat di tubuhnya itu.

 

 

 

“Aissh.. kau harus lebih berhat-hati Neyna-ya..” Tukas Bibi Song menasihati. Fokusnya kini mengarah ke meja makan. Ia begitu terkejut melihat begitu banyak makanan yang disiapkan keponakannya itu. Ia senang terlihat dari senyuman di wajahnya kini.

 

 

 

“Neyna-ya.. Terimakasih sudah menyiapkan ini semua..  Ayo makan bibi sudah lapar …” lambaian tangan Bibi Song mengiringi ucapannya, mengajak Neyna untuk makan bersama dengannya di meja makan.

 

 

 

Neyna tersenyum menanggapi perkataan bibinya. Ia mendudukan dirinya berhadapan dengan bibinya, memakan masakan yang ia buat tadi.  Bibi Song bercerita banyak apa yang ia alami selama pembukaan butiknya itu di Cina dengan begitu antusias. Pembicaraan antara bibi dan keponakan itu harus terhenti dengan suara bel apartment, menandakan bahwa ada tamu yang datang.

 

 

 

“Biar aku saja yang melihat siapa yang datang” Bibi Song beranjak dari tempat duduknya, memeriksa siapa yang datang melauli layar intercom. Ia mengernyit heran saat melihat seorang pria tampan yang menjadi tamunya.

 

 

 

“Aku yang menghubungimu tadi..Aku ingin bertemu Neyna.” Ucap pria tampan itu mengingatkan berusaha menghentikan keheranan wanita paruh baya itu. Bibi Song tampak berpikir sejenak, lalu terenyum lembut dan membukakan pintu setelahnya. Menampilkan sosok tampan yang dijumpainya di layar intercom tadi.

 

 

“Selamat malam Bibi Song…Apa Neyna ada?”  Pria itu berbicara sesopan mungkin saat menanyakan orang yang dicarinya pada wanita paruh baya itu. Ia membungkukan tubuhnya setelahnya.

 

 

Bibi Song tersenyum ramah menanggapi ucapan pria tampan itu. “Aigoo… kau tidak perlu sesopan itu…Mari masuk Neyna ada di dalam.”

 

 

Pria tampan itupun menyeringai mengetahui ia akan bertemu gadis yang ia cari. Ia sengaja mencari tau waktu kepulangan bibi Song dan menghubunginya tadi. Ia senang rencananya berjalan sesuai kehendak. Pria itu melangkahkan kakinya kedalam apartment yang ditinggali gadis yang begitu ia ingin temui itu.

 

 

Ia berjalan mengikuti arahan bibi Song, wanita paruh baya itupun mengantarkanya ke ruang makan. Terlihat gadis incarannya tengah membereskan meja makan, sama sekali tidak meyadari keberadaannya.

 

 

“Neyna-ya lihat siapa yang datang eoh..” Bibi Song menepuk halus punggung Neyna dari belakang. Gadis itupun menolehkan kepalanya menanggapi ucapan bibinya. Pandangannya bertemu dengan tamu itu.

 

 

 

DEG

.

.

.

.

.

.

 

Oksigen di ruangan itu serasa lenyap, dapat ia rasakan nafasnya tercekat. Tubuhnya kaku, sarafnya menegang seketika. Neyna mengira pria bermarga Oh itu tidak akan menemuinya lagi. Tidak akan mencarinya, melupakannya. Cukup tadi siang ia bertemu pria dingin itu. Tapi apa yang dilihat sekarang eoh? Pria itu menemuinya lagi saat ini. Di apartmentnya. Kakinya seakan lemas mengetahui fakta mengerikan ini.

 

 

 

Begitu menyenangkan melihat gadisnya terpaku karna kehadirannya. Senyuman manis terpampang di wajah tampan Sehun saat gadis cantiknya itu menatapnya kalut. Senyuman di wajah tampannya itu mengapus image dinginnya dalam sekejap. Ia harus menunjukan image yang baik kan di depan bibi Song?. Pria bermarga Oh itu melangahkan kakinya menghampiri gadisnya yang tengah berdiri mematung saat ini.

 

 

 

“Aku disini sayang… Kau pasti merindukanku kan?” Ia memeluk tubuh mungil itu, membisikan pertanyaan yang terdengar begitu mengerikan di telinga gadis di pelukannya. Neyna tersentak, membelalakan netra indahnya begitu menyadari pria dingin itu memeluknya saat ini. Ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh pria itu. Tapi pria itu malah semakin mendekapnya erat, menghentikan pergerakannya.

 

 

 

“Ssst.. Aku tau aku terlalu sibuk bekerja.. Maafkan aku hmm..”  Pria bermarga Oh itu berucap lagi. Kali ini ia mengelus pipi mulus gadisnya dan mengecupnya setelahnya. Good job! Ia bertindak seakan-akan gadis di pelukannya itu begitu merindukannya. Seakan-akan kehadirannya saat ini adalah penawar rindu gadisnya itu. Sehun melancarkan aksinya karna sadar akan keberadaan bibi Song yang masih di ruang makan.

 

 

 

“Omo.. kalian begitu mesra.. Maaf aku mengganggu kalian…Aku akan pergi dulu kalau begitu.” Wanita paruh baya itu menyadari kehadirannya mengganggu dua insan yang sedang kasmaran itu. Sehun tersenyum miring mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Sementara, gadis yang masih setia di pelukannya panik bukan main. Gadis itu merasa ini sudah tidak benar. Ia harus menghentikan kepergian bibinya.

 

 

 

“Auntie.. Don’t go..” Sebisa mungkin Neyna mengucapkan keluhannya agar bibinya tidak meninggalkannya dengan pria dingin itu.

 

 

“Aku akan kerumah temanku Neyna-ya… Bersenang-senanglah dengan kekasihmu. Bukankah kau begitu merindukannya eoh?”

 

 

‘No! Bukan itu maksudku Auntie.. please help me.’ Protes gadis itu membatin. Ia tidak berani mengucapkanya langsung sementara Sehun menatapnya begitu tajam saat ini.

 

 

“Bibi Song.. Aku ingin berbicara denganmu.. Berdua saja.” Ucap Sehun menengahi, ia melepaskan pelukannya di tubuh gadisnya itu setelahnya.

 

 

“Baiklah.. kita berbicara di ruangan kerjaku saja.. Bagaimana menurutmu?”

 

 

“Baiklah.” Sehun meninggalkan Neyna dan mengikuti langkah Bibi Song menuju ruang kerjanya.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

Entah apa yang dibicarakan bibinya dengan pria dingin itu. Tiga puluh menit berlalu tapi kedua orang itu sampai saat ini belum juga keluar dari ruang kerja. Gadis cantik itu begitu resah, ia sedari tadi mondar mandir di ruang tamu. Menunggu bibinya selesai berbicara dengan pria dingin itu.

 

 

 

Pintu ruangan kerja bibinya akhirnya terbuka meampilkan dua orang yang ia tunggu-tunggu. Bibinya keluar bersamaan dengan pria dingin itu. Keduanya nampak akrab walaupun baru pertama kali bertemu.

 

 

“Kau menunggu kami eoh? Atau menuggu kekasihmu saja?” Bibi Song tertawa melihat wajah penasaran keponakannya itu.

 

 

“A-aku menunggumu Auntie..” respons Neyna terbata. Ia bisa pastikan Sehun menatapnya tajam saat ini.

 

 

“Aku tidak jadi ke rumah temanku Neyna-ya…Sehun-sshi menyuruhku tetap disini..” Bibi Song mendudukan dirinya di sofa ruang tamu setelah merampungka ucapannya.

 

 

 

Neyna menghela nafas lega mengetahui bibinya akan tetap di sini bersamanya. Ia lega akhirnya ia tidak akan berduaan saja dengan pria dingin itu. Sehun bisa melihat apa yang dilakukan gadisnya itu. Ia seakan tidak rela gadisnya bernafas lega karna tidak jadi berduaan dengannya.

 

 

“Hmm..sepertinya aku akan mengganggu kalian kalau aku masih disini. Aku akan pergi saja kalau begitu.” Bibi Song beranjak dari duduknya, mengambil tas dan meninggalkan sepasang kekasih tersebut sambil terkekeh.

 

 

Neyna terkejut bibinya malah benar-benar meninggalkannya berdua saja denga pria dingin itu. Ia melangkahkan kakinya hendak mengejar bibinya, tapi tangan kekar Sehun sudah lebih dulu mencengkramnya. Sehun menggelengkan kepalanya, menatap gadis cantiknya tajam. Ia kemudian merengkuh tubuh gadis cantiknya posesif.

 

 

“It’s time for us to have fun…Sweetheart!” Ucap Sehun seduktif di telinga Neyna, mendekap penciuman gadisnya itu dengan sapu tangan setelahnya. Dan.. beberapa detik kemudian obat bius di sapu tangan itu bereaksi, gadisnya tidak sadarkan diri, terkulai lemas di pelukannya.

 

 

 

 

 

 

TBC

 

Hallo… Aku balik lagi hehe ^^

Aku gak bosen-bosen ngucapin terimakasih buat readers yg udah mau baca ffku hehe. Makasih jg udah mau komen dear… Maaf kalo semakin kesini makin absurd hehe..

 

Regards

 

Angel devilovely95 (@MardianaSanusi)

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

128 thoughts on “Closer (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s