Where Love Stops?

Where Love Stops

Where Love Stops?

. . .

author

anneandreas

[ @annean1991 ]

[ neurosistoexo.wordpress.com ]

. . .

maincast

Kim Joon Myeon (Suho EXO)

. . .

genre

romantic fantasy

. . .

rating

teen

. . .

length

oneshot

Disclaimer:

FF ini dibuat hanya untuk kesenangan pembaca,

tidak digunakan untuk mengambil keuntungan pribadi.

Cast idol milik agensi bukan milik author.

Selamat membaca.

DO NOT COPY PASTE

.

.

 

aku tidak mengenalmu, tetapi aku menyukaimu..

 

@@@

 

Dering telepon yang berisik membuat Joon Myeon yang masih terbaring di atas tempat tidur membuka matanya dengan berat dan mengambil handphone yang ada di samping bantal. Matanya berkedip silau saat cahaya dari benda kotak yang baru saja diambilnya itu menyeruak  di dalam kamarnya yang masih gelap.

 

Ibu. Panggilan ini dari ibunya. Dengan enggan Joon Myeon menggeser warna hijau bulat pada layar handphonenya. “Ne, eomma..”

 

@@@

 

Akhirnya Joon Myeon dapat memutuskan sambungan telepon setelah ia berhasil meyakinkan ibunya bahwa ia akan segera bangun dan mandi. Namun, bantal dan guling yang ada di atas tempat tidurnya begitu menggoda.

 

“Baiklah, eomma. Maafkan anakmu ini, aku akan tidur lagi sebentar saja, oke, hanya lima menit. Lima menit.” pikir Joon Myeon

 

Namun, baru saja ia hendak berbaring kembali di tempat tidurnya, suara bel di pintu apartemennya berbunyi.

 

Siapa itu yang datang di pagi buta seperti ini?

 

Joon Myeon melihat ke arah jam yang duduk manis di meja kamarnya. Jam sepuluh pagi. Baiklah ini memang bukan pagi buta, tapi demi Tuhan ini hari Minggu!

 

Bel pintu apartemennya berbunyi lagi. Dengan malas Joon Myeon melangkahkan kakinya ke arah pintu depan, melewati ruang TV yang penuh dengan botol soju kosong dan bungkus makanan ringan lengkap dengan sisa-sisa makanan yang masih berceceran di lantai.

 

Kepalanya pusing melihat semua sampah yang berserakan itu. Siapa yang akan membereskan semua kekacauan ini? Tidak ada pembantu di sini. Ia mengumpat pelan saat mengingat teman-temannya tiba-tiba datang dan mengadakan pesta dadakan di apartemennya semalaman, tanpa izin darinya.

Joon Myeon berdiri di balik pintu. Tangannya menyentuh kenop pintu namun tidak memutarnya. Haruskah ia membuka pintu ini?

 

Bel apartemennya berbunyi lagi.

 

“Baiklah, aku akan membuka pintu ini, dan siapapun engkau yang ada di balik pintu cepat selesaikan urusanmu di sini karena aku ingin kembali tidur!” pikir Joon Myeon sesaat sebelum ia memutar kenop pintu apartemennya.

 

@@@

 

Annyeonghaseiyo.

Nama saya Shi.

Saya robot yang dipesan khusus oleh ibu tuan Joon Myeon untuk menemani anda di sini.

Harap rawatlah saya.

Terimakasih.

 

Joon Myeon berkedip-kedip tidak percaya di ambang pintu apartemennya.

Apa yang baru saja gadis ini katakan? Robot? Ibu? Tuan Joon Myeon? Aku?

 

@@@

 

Joon Myeon masih berdiri mematung setelah sambungan telepon dengan ibunya berakhir, ia menatap tidak percaya ke arah gadis yang saat ini sudah duduk di dalam apartemennya, tidak merasa risih dengan botol-botol soju kosong dan sampah-sampah yang berserakan di sana.

 

“Aah, iya sayang. Ibu lupa bilang. Apakah robotnya sudah sampai? Dia cantik bukan? Ibu memesannya dalam perjalanan ke Jepang kemarin. Ibu merasa kau pasti kesulitan tinggal sendirian selama ibu melakukan bisnis di Amerika. Memiliki pelayan robot tentu lebih mudah daripada manusia kan? Haha, baiklah. Rawat gadis robot itu baik-baik ya, sayang. Dia sangat mahal.”

 

Sekali lagi Joon Myeon menatap gadis yang sedang duduk itu. Ia benar-benar memiliki kulit seperti seorang gadis, suara dan senyumnya pun seperti seorang gadis. Seperti seorang gadis yang cantik. Bagaimana mungkin dia adalah robot?

 

@@@

 

Joon Myeon sedang bersantai di sofa sambil memperhatikan Shi yang sedang membersihkan apartemen dengan vacum cleaner. Sudah beberapa hari berlalu sejak kedatangan Shi, dan Joon Myeon sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya.

 

Gadis itu, gadis robot itu, rajin membersihkan apartemennya, memasakkan makanan untuknya, membukakan pintu apartemennya jam berapapun ia pulang. Yang paling penting adalah gadis itu, gadis robot itu, tidak pernah mengeluh, tidak pernah mengomel. Bukankah hidup ini terasa seperti surga?

 

“Shi.. Kemari..” panggil Joon Myeon

“Ya, tuan Joon.” sahut Shi seraya langsung mematikan vacum cleaner dan duduk di karpet persis di samping kaki Joon Myeon.

 

Bukankah gadis penurut ini manis sekali?

 

“Apa kau tidak lelah terus bekerja seperti itu?” tanya Joon Myeon

“Tidak, tuan Joon.”

“Bagaimana perasaanmu selama tinggal di sini?”

“Saya senang, tuan Joon.”

“Mengapa kau bisa merasa senang?”

“Karena saya menyukai tuan Joon.” Jawab Shi sambil tersenyum cerah

“Suka? Apakah perasaan seperti itu dimasukkan ke dalam memorimu? Kau lucu.” jawab Joon Myeon.

“Terima kasih, tuan Joon.”

 

@@@

 

Joon Myeon tersenyum sesaat setelah ia membuka pintu kamar apartemennya. Wangi masakan sudah menggelitik hidungnya, membuat perutnya bereaksi mengeluarkan suara.

 

Joon Myeon berjalan menuju meja makan lalu duduk di sana dengan tenang, persis seperti anak kecil yang menantikan masakan ibunya. Kurang lebih sudah satu bulan rutinitas ini ia lakukan setiap pagi, dan ia sangat menyukainya.

 

Joon Myeon masih memperhatikan Shi saat gadis itu membawa semangkuk penuh kongnamul guk, sup kecambah Korea, dan meletakkan sup itu di depan Joon Myeon. Setelah ia memastikan semua yang Joon Myeon perlukan untuk makan sudah siap, Shi membungkukkan badannya lalu berjalan kembali ke dapur.

 

“Shi..” panggil Joon Myeon.

“Ya, tuan Joon.”

“Bisakah kau duduk di sini dan menemani aku makan?”

“Baik, tuan Joon.” jawab Shi sambil berjalan ke arah meja makan dan berdiri di belakang kursi, wajah robot itu memancarkan keraguan.

“Mengapa kau hanya berdiri di sana? Tarik kursi itu lalu duduk.”

Tanpa menjawab, Shi menarik kursi yang ada di hadapannya dan duduk di sana.

 

@@@

 

“Hey Joon, kami akan ke bar nanti malam. Kau mau ikut?” tanya Sehun sesaat setelah dosen mereka meninggalkan ruangan kelas.

“Tidak.” jawab Joon Myeon sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel.

“Oh, wow! Ada apa denganmu? Biasanya kau yang paling bersemangat pergi ke bar.” sahut Baekhyun.

“Aku sedang ingin berlama-lama di apartemen.”

“Hey, man! Jangan-jangan kau sedang tinggal bersama seorang gadis sehingga kau ingin berlama-lama di apartemen.” kata Kai yang disambut tawa dari teman-temannya.

“Ah, sudahlah.. Aku pulang dulu!” jawab Joon Myeon tidak menggubris pernyataan Kai.

 

Joon Myeon berjalan ke arah parkiran mobil di universitasnya. Entah mengapa ia ingin sering berlama-lama di apartemen sekarang.

 

Mungkinkah karena ada Shi di apartemen sehingga ia tidak senang berada di luar apartemen terlalu lama?

 

Mungkinkah dugaan Kai benar?

 

Oh, ayolah. Shi hanya robot yang kebetulan mempunyai paras yang indah.

Mana mungkin manusia bisa jatuh cinta kepada robot?

 

Berulang kali Joon Myeon meyakinkan dirinya sendiri dengan kalimat terakhir yang ada di benaknya.

Manusia tidak mungkin jatuh cinta dengan robot.

Manusia tidak mungkin jatuh cinta dengan robot.

Manusia tidak mungkin jatuh cinta dengan robot.

 

Joon Myeon berhenti melangkah saat ia mendengar dirinya berbicara sendiri. Kalimat itu tidak hanya ada di benaknya, dia juga melafalkannya. Oh, ada apa dengan dirinya?

 

Joon Myeon kembali berjalan dengan langkah yang lebih lebar. Angin yang berhembus kencang ini membuatnya lebih tidak ingin berlama-lama ada di luar apartemen. Ya! Angin kencang inilah yang membuat Joon Myeon tidak ingin berlama-lama berada di luar rumah, bukan hal lain.

 

@@@

 

“Musim gugur sudah mencapai puncaknya.  Dapat terlihat dari warna kuning dan coklat yang mendominasi pemandangan di belakang saya. Udara pun menjadi lebih dingin karena banyak angin kencang yang berhembus saat ini. Kepada penduduk diingatkan untuk mulai mempersiapkan musim dingin yang sebentar lagi akan datang. Choi In Ha, Pulau Jeju, melaporkan.”

 

Shi menyimak berita itu dari belakang Joon Myeon yang sedang berbaring di atas sofa panjang dengan vacum cleaner ada di tangannya. Ia hanya memegangi benda itu meskipun ia sudah selesai membersihkan rumah, benda-benda kecil berwarna kuning yang berjatuhan dari benda besar lainnya yang berwarna coklat itu begitu menarik perhatiannya, itu terlihat sangat indah. Bisakah ia menyentuhnya? Seperti apa rasanya?

 

“Shi, mengapa kau hanya berdiri di sana sambil memegangi vacum cleaner?” tanya Joon Myeon.

“Ah, tidak tuan Joon. Saya…” jawab Shi yang baru saja tersadar dari lamunannya.

“Duduk di sini dan menonton denganku. Jangan terlalu banyak bekerja seharian. Aku bukan anak kecil yang selalu membuat rumah berantakan.” kata Joon Myeon sambil menepuk sofa yang ada di sampingnya.

 

Shi menurut dan duduk di atas karpet, di samping kaki Joon Myeon.

“Mengapa kau duduk di lantai? Duduk di sini. Di sini.” kata Joon Myeon sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

 

Shi terdiam sambil memandang Joon Myeon, sesaat ia ragu namun kemudian ia bangkit dan duduk di sofa, di samping Joon Myeon.

 

“Kau menyukai musim gugur?” tanya Joon Myeon.

“Apa tuan Joon menyukai musim gugur?”

“Ya, aku menyukainya. Mengapa kau malah kembali bertanya padaku?” tanya Joon Myeon bingung.

“Kalau begitu saya juga menyukai musim gugur.” jawab Shi dengan senyumnya yang paling cerah.

“Mengapa begitu?”

“Karena saya menyukai tuan Joon.” jawab Shi masih dengan senyum cerahnya.

 

@@@

 

Joon Myeon melihat ke arah dapur, gadis itu tidak ada di sana. Padahal beberapa saat yang lalu ia sedang membersihkan rumah dengan vacum cleaner. Joon Myeon melihat ke arah kamar, gadis itu juga tidak ada di sana. Dimana gadis itu?

 

Joon Myeon baru hendak berdiri saat secara tidak sengaja ia menoleh ke belakang dan melihat gadis itu sedang berdiri mematung sambil memegang vacum cleanernya. Gadis itu terlihat sangat serius memperhatikan acara berita yang ada di TV, sampai-sampai ia tidak sadar Joon Myeon sedang memperhatikannya.

 

“Musim gugur sudah mencapai puncaknya.  Dapat terlihat warna kuning dan coklat yang mendominasi pemandangan di belakang saya. Udara pun menjadi lebih dingin karena banyak angin kencang yang berhembus saat ini. Kepada penduduk diingatkan untuk mulai mempersiapkan musim dingin yang sebentar lagi akan datang. Choi In Ha, Pulau Jeju, melaporkan.”

 

Baru kali ini Joon Myeon melihat Shi tertarik pada acara TV.

 

Apakah ia menyukai musim gugur?

Apakah ia akan senang bila Joon Myeon mengajaknya melihat musim gugur secara nyata?

Bibir Joon Myeon membuat lengkungan indah.

 

Oh, gagasan apa itu yang baru saja lewat di otaknya?

Mengapa memikirkan gadis itu akan senang bila melihat musim gugur membuat Joon Myeon tersenyum?

 

“Shi, mengapa kau hanya berdiri di sana sambil memegangi vacum cleaner?” tanya Joon Myeon setelah berhasil mengatur kembali perasaannya.

“Ah, tidak tuan Joon. Saya…” jawab Shi jelas-jelas tampak kaget.

“Duduk di sini dan menonton denganku. Jangan terlalu banyak bekerja seharian. Aku bukan anak kecil yang selalu membuat rumah berantakan.” kata Joon Myeon sambil menepuk sofa yang ada di sampingnya.

 

Shi menurut dan duduk di atas karpet, di samping kaki Joon Myeon.

“Mengapa kau duduk di lantai? Duduk di sini. Di sini.” kata Joon Myeon sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

 

Shi terdiam sambil memandang Joon Myeon, sesaat gadis itu tampak ragu, namun akhirnya gadis itu mau duduk di sampingnya, di atas sofa.

 

“Kau menyukai musim gugur?” tanya Joon Myeon.

“Apa tuan Joon menyukai musim gugur?”

 

Mengapa gadis ini menanyakan pertanyaan yang sama?

Apakah programnya mengaturnya untuk mengulang pertanyaan yang sama bila ia tidak mengetahui jawabannya? Tapi ibu berkata Shi adalah robot pesanan khusus yang sangat pintar.

 

“Ya, aku menyukainya. Mengapa kau malah kembali bertanya padaku?” tanya Joon Myeon bingung.

“Kalau begitu saya juga menyukai musim gugur.” jawab Shi dengan senyumnya yang paling cerah.

“Mengapa begitu?”

“Karena saya menyukai tuan Joon.” jawab Shi masih dengan senyum cerahnya.

 

Oh, senyumnya.

Joon Myeon tidak dapat menahan rona merah yang mulai tampak di pipinya.

Mengapa senyum gadis ini membuatnya merona?

 

Ingat Joon Myeon, gadis ini hanya robot!

Ah, persetan dengan robot atau bukan, Joon Myeon jelas sudah menyukai gadis ini.

 

“Maukah kau berjalan-jalan denganku ke Pulau Jeju? Melihat musim gugur?” tanya Joon Myeon.

 

Shi tidak menjawab, ekspresinya tidak dapat ditebak oleh Joon Myeon.

Robot ini benar-benar hebat, bahkan dalam menunjukkan ekspresinya.

 

“Kau tidak akan menolak permintaanku kan?” tanya Joon Myeon lagi.

“Ah, tidak tuan Joon. Baiklah, saya akan ikut tuan Joon melihat musim gugur.” jawab Shi.

 

Joon Myeon tersenyum, benar-benar tidak bisa menyembunyikan kesenangan yang ada di hatinya.

“Dan satu lagi, jangan panggil aku tuan Joon Myeon. Cukup panggil aku Joon.”

 

@@@

 

Mobil yang dikendarai Joon Myeon dan Shi keluar dari kapal ferry yang baru saja berlabuh di Pulau Jeju. Sesekali Joon Myeon melihat ke arah Shi yang duduk di kursi samping kemudi, mata gadis itu tidak lepas dari pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Joon Myeon menyentuh tombol di pintu bagian dalam kemudi untuk menurunkan kaca mobil, gadis itu tampak kaget karena jendela yang tiba-tiba terbuka, namun ekspresi kagetnya langsung berganti dengan senyum cerah sesaat setelah angin musim gugur menyapu wajahnya.

 

Joon Myeon memarkirkan mobilnya, keluar dan berjalan memutar lalu membukakan pintu untuk Shi. Gadis itu tersenyum namun tidak bisa menutupi ekspresi kagum yang menghiasi wajahnya. Mereka berjalan di atas dedaunan yang mulai menutupi jalanan, membuat warna kuning dan coklat semakin mendominasi tempat ini dibandingkan terakhir kali tempat ini muncul di dalam berita yang mereka lihat.

 

Joon Myeon merasa sangat senang hanya dengan melihat Shi menikmati pemandangan itu. Perlahan ia menarik tangan Shi ke dalam genggamannya. Gadis itu terkejut sesaat, melihat tangannya yang kini sudah ada di dalam genggaman Joon Myeon, ia menatap Joon Myeon.

 

“Aku mencintaimu..” kata Joon Myeon.

Shi tidak merespon, senyum yang biasanya selalu menghiasi bibirnya tak terlihat.

 

Joon Myeon menarik Shi ke dalam pelukannya, Shi tidak menolak tetapi juga tidak merespon pelukan itu.

“Aku tahu ini tidak benar, tapi sungguh aku mencintaimu.”

 

@@@

 

Joon Myeon menatap koper yang ada di dalam kamarnya. Lalu matanya menatap sebuah frame yang ada di meja kecil di samping tempat tidurnya. Wajah Joon Myeon dan Shi yang sedang tersenyum bahagia dengan latar belakang musim gugur di Pulau Jeju terpampang jelas di dalam frame tersebut.

 

Joon Myeon menghela napas. Ia sungguh tidak ingin pergi dharma wisata hari ini, ia tidak mau meninggalkan Shi, ia tidak mau berlama-lama jauh dari gadis itu lalu berakhir dengan merindukannya. Jika saja mata kuliah sial itu tidak mewajibkan dharma wisata ini, demi Tuhan ia tidak akan pergi!

 

Joon Myeon menghela napas sesaat sebulum ia menarik kopernya keluar dari kamar. Ia melihat gadis itu sedang membereskan sofa, dan gadis itu tampak bingung melihat Joon Myeon yang sedang menyeret sebuah koper.

 

“Aku akan pergi dharma wisata bersama teman-teman kampusku.” kata Joon Myeon.

“Berapa lama Joon akan pergi?” tanya Shi.

“Seminggu.”

 

Shi terdiam namun pandangannya tidak lepas dari mata Joon Myeon.

“Apakah kau tidak mau aku pergi?” tanya Joon Myeon lagi.

Shi menggeleng, “Tidak, Joon harus pergi.”

“Aku akan merindukanmu..” kata Joon Myeon sambil menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Aku akan merindukan Joon.”

Joon Myeon kaget mendengar respon Shi. Apakah gadis ini memiliki perasaan yang sama?

 

@@@

 

Shi kaget ketika pelukan Joon Myeon merenggang sesaat setelah ia berkata ia akan merindukan lelaki itu.

 

Apakah responnya salah?

 

Shi merasakan Joon Myeon melepaskan pelukannya namun tidak melepaskan tangannya dari bahu Shi. Joon Myeon menatapnya, lalu perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Shi dan menempelkan bibirnya lembutnya di bibir Shi.

 

Perasaan apa ini?

Perasaan ini tidak pernah ia rasakan selama ia diciptakan.

Namun ia menyukai perasaan semacam ini.

 

“Aku akan cepat pulang supaya kita tidak saling merindukan terlalu lama. Tunggu aku pulang..” kata Joon Myeon sambil membelai pipi Shi.

“Ya..” jawab Shi sambil tersenyum.

 

@@@

 

Shi sedang duduk termenung ketika ia mendengar bel apartemennya berbunyi.

 

Apakah Joon sudah pulang?

Ini baru enam hari, bukankah seharusnya besok Joon baru pulang?

 

Senyum Shi mengembang saat ia berjalan ke arah pintu depan, ia membayangkan Joon Myeon yang dirindukannya akan ada di hadapannya sebentar lagi.

 

“Aaah, kau robot yang ku pesan. Apa kabarmu?” sapa ibu Joon Myeon sambil berjalan masuk ke dalam apartemen.

Annyeong haseiyo” kata Shi sambil membungkukkan badannya

“Dimana Joon Myeon?”

“Joon sedang pergi dharma wisata.” jawab Shi lalu menutup mulutnya, menyadari kesalahannya

“Joon? Kau memanggil anakku Joon?”

 

Shi terdiam, ia tidak bisa menjawabnya.

Shi membungkukkan badannya sekali lagi ketika ibu Joon Myeon memasuki kamar anak lelakinya.

 

@@@

 

Shi masih duduk dengan tidak nyaman ketika bel apartemennya berbunyi lagi.

Apakah kali ini Joon Myeon yang datang?

Dengan ragu ia melangkah ke pintu depan dan membukanya.

 

Shi tampak kikuk melihat dua orang pria tegap yang berdiri di depan pintu apartemennya.

“Aaah, kalian sudah datang..” terdengar suara ibu Joon Myeon setelah suara pintu kamar terbuka.

“Aku butuh bantuan kalian untuk mengurus robot ini. Sepertinya ia mulai merepotkan.”  kata ibu Joon Myeon lagi.

 

@@@

 

Joon Myeon memarkirkan mobilnya di basement apartemen dengan hati yang senang.

Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Shi.

 

Joon Myeon memencet bel apartemennya walaupun ia sendiri sebenarnya memiliki kunci apartemen di dalam tasnya. Ia hanya ingin melihat senyum Shi yang merekah sesaat setelah pintu apartemennya terbuka.

 

Dan pintu apartemennya terbuka.

 

“Sayang, kau sudah pulang? Ibu dengar kau pergi berdharma wisata?”

“Dimana Shi?” tanya Joon Myeon tanpa menghiraukan ibunya.

“Mengapa robot itu yang kau tanyakan pertama kali setelah kau pulang dari perjalanan yang jauh? Tidakkah kau merindukan ibumu yang pergi berbisnis ke Amerika ini?”

 

“Dimana Shi?”

“Dia sudah tidak ada di sini.” jawab ibu Joon Myeon singkat, menahan amarah.

 

“Dimana dia?”

“Berhenti menanyakannya! Kau mulai membuat ibumu kesal.”

 

“Aku akan behenti bertanya bila aku sudah mendengar jawabannya! Dimana dia?” jawab Joon Myeon dengan nada yang meninggi.

 

“Aku membuangnya!” bentak ibu Joon Myeon.

Joon Myeon menatap ibunya, dari matanya jelas menunjukkan ia sedang marah.

“Ibumu hendak menyadarkanmu, manusia dan robot tidak bisa bersatu!” kata ibu Joon Myeon lagi, masih dengan nada marah.

 

Joon Myeon terdiam mendengar pernyataan ibunya.

Perlahan ia meringsut ke lantai, seolah lututnya tidak sanggup menahan berat badannya lagi.

Seluruh dadanya merasa sesak.

 

Sebagian dirinya membenarkan pernyataan ibunya, namun bagian dirinya yang lain tidak bisa menolak hatinya yang memang mencintai Shi, gadis robot itu.

 

Dimana gadis itu sekarang?

Apakah ia sedang bingung? Apakah ia ketakutan?

 

@@@

 

Joon Myeon berdiri menatap gudang perusahaan milik ibunya dengan nanar.

Gudang ini tampak gelap dan sepi.

 

Joon Myeon mulai membuka pintu gudang dan berjalan ke dalam.

Pandangan matanya menyipit saat cahaya lampu memekakkan ruangan yang gelap gulita itu sesaat setelah ia menekan saklar lampu.

 

“Robot itu ada di gudang perusahaan kita.”

 

Joon Myeon terus berjalan masuk ke dalam gudang, matanya menyapu sekeliling ruangan yang dipenuhi kardus-kardus besar. Namun langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kecil. Pintu yang membatasinya dengan ruangan sempit di dalamnya, tempat Joon Myeon bermain saat ia mash kecil.

 

“Robot itu ada di gudang perusahaan kita.”

Benarkah perkataan ibunya? Benarkah Shi ada di dalam?

Dengan ragu Joon Myeon memutar kenop pintu kecil itu.

Pintunya berdecit terbuka perlahan.

 

Joon Myeon melihat seorang gadis sedang duduk dan memeluk lututnya sendiri di sudut ruangan itu.

 

Gadis itu tidak menggubris suara berdecit pintu yang terbuka.

Gadis itu tidak menggubris cahaya terang yang tiba-tiba menyeruak di dalam kamar yang remang.

Gadis itu tidak menggubris kehadiran Joon Myeon di sana.

 

Joon Myeon harus menahan dirinya agar tidak langsung lari dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mencoba berjalan dengan tenang dan perlahan kemudian berlutut di depan gadis itu.

 

“Shi?” panggil Joon Myeon lembut.

Gadis itu tampak kaget.

Ia menatap Joon Myeon dengan matanya yang besar tapi tidak menyambutnya dengan senyum cerah.

 

“Shi?’ panggil Joon Myeon sekali lagi.

“Shi? Itukah namaku?”

 

@@@

 

Shi kaget mendengar ada sebuah suara di hadapannya.

Ia mendongak dan menatap seorang laki-laki yang sedang berlutut di hadapannya.

Siapa laki-laki yang ada di hadapannya ini?

Apakah sebelumnya ia pernah mengenal laki-laki ini?

Mengapa wajahnya terlihat sedih?

 

“Shi?” panggil laki-laki itu lagi dengan suara selembut panggilannya yang pertama kali.

 

Shi?

 

Shi menatap laki-laki itu lagi.

Apakah laki-laki ini mengenalnya?

Mengapa laki-laki ini menyebut kata “Shi” dua kali di depannya?

“Shi? Itukah namaku?” tanya Shi.

 

Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Shi, namun ia membuka tangannya dan menarik Shi ke dalam pelukannya.

 

Sebuah perasaan nyaman menyergapnya sesaat setelah ia berada di dalam pelukan laki-laki itu.

 

“Maafkan aku, tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Maafkan aku.. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi..” kata laki-laki itu.

 

Entah mengapa perkataan laki-laki yang sedang memeluknya ini terasa begitu menenangkan di hatinya. Ia tidak mengenalnya, tetapi ia tahu sesuatu di dalam hatinya berkata bahwa ia mencintainya.

 

 

\(^^,)/ ~ ~ THE END ~ ~ \(^^,)/

 

 

 

Where Love Stops

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s