Mistake (2-2)

Author :

  • Miitchon

Cast:

  • Kim Yoona (OC)
  • Oh Sehun
  • Park Chanyeol

Lenght :

  • 2 shot

Genre:

  • Drama

Rating:

  • T

Summary:

Aku akan selalu mengukir namamu di dalam hati dan ingatanku seumur hidupku. Aku akan terus menyebut namamu disetiap hembusan napasku. Jikalau aku hilang ingatan, dan aku tidak dapat lagi mengingat namamu, lebih baik aku meminta pada Tuhan untuk menghapus eksistensiku di dunia ini. Karena satu detik tanpa adanya dirimu di dalam hatiku, sama saja dengan hilangnya tujuan hidupku.

***

“Dimana Chanyeol?”

“Aku tidak melihatnya.”

FUCK!!” Sehun uring-uringan sendiri setelah mendapat jawaban mengecewakan dari teman sekelas Chanyeol. Ia berjalan dengan cepat menuju lapangan basket, menemui beberapa orang yang tengah bergerombol di pinggiran.

“Dimana Chanyeol?”

“Apa? Kurang jelas kau berbicara apa?”

“DIMANA CHANYEOL, IDIOT??!!”

“A-aku tidak tahu.”

FUCK!! YOU’RE SUCH AN IDIOT VILLAGER!”

Dan Sehun semakin hilang kendali. Semua orang yang berada disana menatapnya heran. Tentu saja, seorang Sehun tidak pernah berlaku sekasar itu.

“Itu Chanyeol,” tunjuk seorang pria, mungkin teman si yang dikatai idiot tadi. Sehun mengikuti arah tunjuk pria itu, kemudian menggeram kesal. Dilihatnya Chanyeol tengah bercanda dengan seorang gadis manis berjepit rambut warna kuning. Mereka terlihat asyik, membuat Sehun semakin muak.

Sehun mendekati Chanyeol dengan langkah yang lebar kemudian berujar, “Bisa kau ikut aku sebentar?”

***

“KAU BODOH, PARK CHANYEOL!” Sehun meninju tepat di pipi Chanyeol setelah mereka berdua sampai di taman belakang.

“Apa maksudmu?” Chanyeol tersungkur kemudian menyusut darah yang mengalir dari sudut bibirnya

“KAU BODOH KARENA TELAH SEENAKNYA MENGHAMILI KIM YOONA!!”

“Bukankah kau yang membayarku untuk berpacaran dengannya? Dia sekarang menjadi milikku, apapun yang kulakukan padanya, itu adalah hak-ku. Kau tidak berhak mencampuri urusan kami.” Chanyeol mendengus.

“Aku menyuruhmu berpacaran dengannya itu berarti aku menyuruhmu menjaganya. DAN SEKARANG KAU MALAH MENGHANCURKAN PERTAHANAN YOONA? FUCK YOU, CHANYEOL!”

“Suruh siapa kau menjual Yoona padaku, wahai adikku yang tampan?” Chanyeol berdiri kemudian mengeluarkan ludahnya yang bercampur darah

Rahang Sehun mengeras begitu mendengar Chanyeol menyebutnya dengan sebutan ‘adikku’.

“Kau tahu aku tidak menjualnya.”

“Yah, menyuruhku untuk memacari Yoona dengan memberi imbalan yang cukup besar. Apa tidak ada definisi lain selain menjual?” tanya Chanyeol dengan kekehan di akhir.

“Tapi, gadis itu cukup manis. Aku lumayan menyukainya. Kau pintar memilih wanita, Dik.” Lanjutnya.

“Lumayan menyukainya? Kau masih dalam tahap lumayan tapi sudah berani mengotori Yoona? KAU BANGSAT, CHANYEOL!!”

BUGH!!

Akhirnya Sehun kembali meninju pipi Chanyeol, dan Chanyeol kembali tersungkur. Chanyeol menatap tajam ke arah Sehun sambil mengepalkan kedua tangannya. Ketika ia hendak membalas pukulan Sehun, sebuah rasa sakit yang luar biasa menyerang ulu hatinya. Ia memegangi dadanya sambil mengerang kesakitan.

“Chanyeol, Chanyeol!” Sehun tiba-tiba menjadi panik. Ketika ia hendak mengangkat tubuh Chanyeol yang saat itu tergeletak tidak berdaya, Yoona datang sambil berseru tepat di muka Sehun.

“JANGAN MENYENTUHNYA!!”

“Yoona, apa maksudmu?”

“Kau brutal, Sehun. Lihat apa yang telah kau perbuat!”

“Yoona, aku—” Sehun memandangi mata Yoona yang memerah menahan tangis

“Jangan tatap aku.”

“Yoona, deng—”

“Jangan sentuh aku!”

“Aku bisa menjel—”

“JANGAN TATAP AKU, JANGAN SENTUH AKU, JANGAN BICARA PADAKU!!”

Hati Sehun mencelos. Yoonasa ada ribuan paku  yang menusuk tepat ke dalam hatinya. Yoona menatapnya dengan tatapan penuh benci, membuat Sehun tidak kuasa lagi menatap ke dalam mata Yoona yang biasanya menampilkan sorot mata bahagia.

“Aku muak padamu, Sehun. Kau selalu menasehatiku dengan kata-kata tidak bermutumu. Kau membelikanku baju renang yang sangat menjijikan. Kau tahu? Aku tidak pernah memakainya selama bersama Chanyeol. Kau seperti orang abnormal yang gemar memakan roti tawar. Kau sok pintar dan sok jadi pahlawan, membuat aku semakin muak. Aku—” Yoona menghentikan penjelasan panjang lebarnya kemudian menangis sesenggukan.

“Aku membencimu. Sangat-sangat membencimu, Oh Sehun.” Lanjut Yoona dengan air mata yang sudah tumpah sepenuhnya.

Kau benar-benar membenciku?” Sehun menatap Yoona walaupun ia tahu Yoona tidak akan mungkin balik menatapnya “

“Ya.”

“Kau—”

“Cepat pergi dari sini, Sehun-ssi. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

Sehun tersenyum pahit kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas—dia menyerah.

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku berjanji setelah ini aku akan pergi dari hadapanmu. Selamanya.”

KIM YOONA POV

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan pergi dari hadapanmu. Selamanya.”

DEG!

Kurasakan jantungku berhenti berdetak selama satu detik ketika Sehun mengatakan kalimat itu. Kenapa? Bukankah aku membencinya? Bukankah ini yang kuharapkan? Melihat tatapan sendu dari Sehun ketika mengatakan itu sangat mengiris hatiku. Aku tahu ia terluka karena perkataanku. Aku menyesal, tapi terlambat. Sehun sudah berjalan meninggalkanku.

Sehun, jika kau sekali lagi berbalik menghadapku, maka aku akan memaafkanmu. Aku berjanji. Maka dari itu, tolong berbalik.

TAP… TAP… TAP…

‘Sehun, tolong berbalik.’

TAP… TAP… TAP…

‘Kumohon..’

TAP… TAP… TAP…

‘Sehun..’

SIIINNNGGG….

Kini aku tidak dapat lagi mendengar suara kaki Sehun. Yang kudengar hanyalah suara tangisanku sendiri. Miris.

***

August 15th, 2000

Sudah 3 hari Sehun tidak masuk sekolah. Begitupula Chanyeol oppa. Sepertinya Chanyeol oppa masih sakit, tapi Sehun? Apa ia benar-benar berniat meninggalkanku?

Berbicara tentang Chanyeol oppa, di hari ia pingsan, ada beberapa orang berbadan tegap dan berbaju hitam yang tiba-tiba datang membawa pergi Chanyeol oppa. Aku heran. Siapa yang menyuruh mereka datang ke taman belakang? Apa Sehun yang memberitahukannya? Tapi bagaimana bisa? Apa Sehun mengenal keluarga Chanyeol oppa?

Haiiisss..aku bingung. Tapi, dibalik semua penasaranku terhadap Chanyeol oppa, aku lebih penasaran pada Sehun. Kemana dia?

Aku sangat penasaran hingga akhirnya pergi ke rumah Sehun seorang diri. Asal kau tahu, penuh perjuangan untuk mencari tahu rumah Sehun. Pihak sekolah merahasiakannya.

Dan, disinilah aku. Di depan sebuah rumah yang sangat mewah. Aku tak menyangka Sehun sekaya ini. Kukira ia hanya orang miskin yang hanya bisa membeli roti tawar untuk makanan sehari-harinya. Pulang-pergi ke sekolah juga ia jalan kaki, aku sering melihatnya. Apa jangan-jangan aku salah informasi?

“Ada perlu apa, agasshi?” seorang satpam menghampiriku. Okay, mungkin gelagatku barusan terlihat mencurigakan.

“Um, apa benar ini rumah Oh Sehun?”

“Oh Sehun? maksud anda mungkin Park Sehun?”

“Huh? Park?” Aku sedikit bingung. Lalu semenit menudian aku meralat pertanyaanku, “Y-ya Park Sehun. Apa benar ini rumahnya?”

“Iya, benar. Tetapi saat ini tuan sedang tidak berada di rumah.”

Sialan. Apa ia sedang berlibur ke luar negeri demi menghindariku?

“Apa aku boleh tahu ia pergi kemana sekarang?”

“Oh, maaf agasshi. Nyonya besar menyuruh kami merahasiakan tentang hal ini.”

Okay, semakin jelas saja ia sekarang menghindariku. Sehun bodoh.

“Tapi, ahjussi. Aku benar-benar ingin tahu” aku mencoba merengek walaupun mungkin saat ini mukaku terlihat bodoh.

“Maaf, agasshi. Saya—”

“Biarkan ia masuk.” Tiba-tiba seorang wanita yang kira-kira berumur sekitar 25 tahun keluar dari mobilnya dan menghampiri kami. Dan dia sangat…cantik.

***

“Apa kau yang bernama Kim Yoona?

Aku menyimpan kembali cangkir yang berisi teh hijau di dalamnya ke atas meja dengan pelan setelah sebelumnya ku sesap sedikit isinya.

“Benar. Bagaimana anda bisa mengetahui itu?”

Kulihat wanita itu tersenyum, “Kedua adikku sering membicarakanmu.”

Aku mengerutkan keningku dengan ketara, “Adik?”

“Iya, Park Chanyeol dan Park Sehun. Walaupun Sehun adalah adik tiriku, tetapi aku tetap menganggapnya seperti adik kandungku sendiri” Wanita itu tersenyum elegant.

Aku membelalakkan mataku secara berlebihan. Chanyeol oppa? Sehun? Adik kakak? Dan wanita di hadapanku ini pasti kakak perempuan yang sering Chanyeol oppa bicarakan. Pemilik bikini yang waktu itu kupakai.

“Umm, uh..”

“Hyena.”

“Ah ya, Hyena eonni Apa sekarang eonni tahu Sehun pergi kemana?”

Hyena eonni menghembuskan napasnya dengan perlahan kemudian menerawang,

“Adikku memang bodoh.”

Apapula si eonni ini? Jawabannya sangat tidak matching dengan pertanyaanku.

“Apa kau membenci Sehun?”

Aku mengangkat bahuku sambil lalu, “Yah, sedikit.”

“Kau menyukainya?”

Aku menatap Hyena eonni kemudian tertawa kikuk.

“Hahaha..mana mungkin. Dia sahabat terbaikku.”

Lagi-lagi Hyena eonni menghembuskan napas dengan aneh, seperti tengah menanggung beban yang sangat berat. Kemudian ia pergi entah kemana, meninggalkanku sendiri di ruang tamu ini.

Aku mengangkat tubuhku dan membawanya menuju meja yang dihiasi oleh foto pajangan. Kulihat disana banyak terdapat foto Chanyeol dan Hyena unnie. Lalu dimana foto Sehun? Aku berusaha mencari hingga akhirnya menemukan fotonya walaupun hanya dua. Yang satu adalah foto ketika Sehun masih kecil. Dan yang satunya lagi adalah foto Sehun yang tengah memegang piala berukuran besar. Tapi ada yang aneh dalam foto ini. Senyumnya sangat terlihat dipaksakan.

“Yoona, kemarilah.” Aku membalikkan badan dan melihat Hyena eonni sudah duduk kembali di tempatnya semula.

“Ini, bacalah.” Hyena eonni menyodorkan sebuah buku—seperti buku diary—berwarna hitam dan bertuliskan ‘Sehun’s Diary’ ketika aku berjalan menghampirinya.

Aku menerimanya dan kemudian membuka isinya. Di halaman pertama aku dapat melihat fotoku yang sepertinya diambil secara diam-diam. Dibawahnya ada tulisan, ‘The Key of My Heart.’.

Apa maksud Sehun menyimpan fotoku dan menulis kalimat itu di dalam diarynya?

Kemudian aku membuka halaman berikutnya. Banyak terdapat tulisan tangan Sehun disana. Sepertinya ia memang sering curhat di diary. Haha imut sekali.

Halaman-halaman pertama berisi curhatannya yang menyatakan bahwa ia bosan pada kehidupannya. Aku agak melewati halaman-halaman itu karena aku ikut merasa bosan juga pada tulisannya. Kemudian, ketika aku membuka halaman lain, aku menemukan tanggal yang sangat menarik perhatianku. Tanggal 21 Februari tahun 1999. Itu adalah hari dimana aku pertama bersekolah di Seoul Senior High School. Disana tertulis:

(disini coba kalian mainin lagu mellow, yang bisa mengiris hati. Terus puter lagu itu berulang-ulang ampe cerita ini tamat. Kay?)

February, 21st 1999

Seperti biasa. Aku tidak pernah tidak menuliskan kata ‘bosan’ di setiap curhatanku. Begitupun sekarang. Tapi kali ini aku akan menambahkan kata ‘menarik’ untuk curhatanku di sesi ini.

Kenapa?

Karena, hari ini kelasku kedatangan murid baru. Seorang gadis manis pindahan dari kampung. Ia terlihat sangat bodoh ketika memperkenalkan dirinya di depan kelas. Aku yang selama 5 tahun ini hampir tidak pernah tersenyum jadi sedikit menaikkan sudut bibirku melihatnya. Namanya Kim Yoona. Dan ketika mata kami bertemu, secara refleks aku memberikan senyumku padanya. Entah kenapa. Aku rasa ia menarik.

March, 1st 1999

 

Aku baru tahu ternyata ia adalah seorang gadis bodoh yang cerewet. Aku ditakdirkan sebangku dengannya, dan ia sangat berisik di sebelahku. Tapi entah ini perasaanku saja atau memang iya, benteng yang selama ini aku bangun di dalam diriku perlahan jadi mencair setelah kehadirannya.

Aku jadi sering mengeluarkan lelucon-lelucon yang aku yakin sangat garing, tetapi ia malah tertawa ketika mendengarnya. Ini aneh. Tetapi aku sangat menyukai senyumannya.

Dan aku memberitahukannya tempat favoritku—atap sekolah. Sebenarnya bukan aku yang secara sengaja memberitahukannya. Ia membuntutiku lalu dengan seenaknya merecokiku dengan mulut cerewetnya di atas atap. Atap sekolah tak lagi sepi, aku tidak suka. Tapi akan lebih tidak suka lagi bila Yoona berhenti menemuiku di atas atap.

 

Aku tertawa membacanya. Ternyata kesan pertama Sehun terhadapku seperti itu. Dari sini kelihatan sekali bahwa ia ngefans padaku. Aku membacanya terus hingga sampai ke halaman tengah.

June 23th, 2000

 

Pagi ini aku kembali merasakan sakit yang sangat hebat di kepalaku. Tetapi rasa rinduku pada Yoona mengalahkan segalanya. Aku tetap masuk ke sekolah dan mendapati Yoona yang terlambat masuk kelas lagi.

Entah kenapa hari itu aku semakin berani. Aku memandanginya terus selama yang aku mau. Dari dulu aku sangat ingin memandanginya seperti itu. Tetapi aku tidak berani. Dan begitu mengingat waktuku yang semakin memendek, aku berusaha untuk membuang rasa maluku. Agar nanti tidak menyesal.

June 27th, 2000

 

Hari ini sakit di kepalaku semakin menjadi. Aku benar-benar tidak tahan. Kadang aku berdoa pada Tuhan agar segera mencabut nyawaku, tetapi kemudian aku membantah sendiri doaku itu. Aku tidak ingin mati sekarang. Aku masih ingin menjaga Yoona. Aku masih ingin melihat senyuman Yoona. Aku masih ingin mendengar suara tawa Yoona. Aku belum menyatakan perasaanku pada Yoona..

July 1st, 2000

 

Hari ini aku merasa seperti disambar petir. Yoona mengatakan bahwa ia menyukai Chanyeol—kakakku—di saat aku berniat untuk menyatakan cintaku padanya. Rasanya benar-benar sakit. Orang yang sudah sedari lama kucintai ternyata menyukai kakakku sendiri.

July 7th, 2000

 

Hari ini Yoona terlihat sangat bahagia. Ia mengatakan bahwa ia telah resmi berpacaran dengan Chanyeol. Tentu saja, aku yang menyuruh Chanyeol berpacaran dengan Yoona. Bahkan aku rela mengeluarkan uang banyak agar Chanyeol menerima tawaranku itu. Tapi jangan salah paham. Aku tidak berniat untuk menjual Yoona. Aku hanya ingin Yoona bahagia. Meskipun itu bukan bersamaku.

July 18th, 2000

 

Demi Tuhan aku sangat menderita mendengar ocehan Yoona tentang Chanyeol. Ia dengan semangatnya menceritakan apa saja yang mereka lakukan selama berpacaran tanpa sedikitpun menyadari perasaanku. Rasanya sakit. Kenapa selalu Chanyeol yang menang dariku?

 

Setelah eomma dan appa—well, mereka lebih menyayangi Chanyeol daripada aku—dan sekarang Yoona. Ya Tuhan, apa aku terlahir untuk menderita?

July 22nd, 2000

 

Demi apapun ini adalah hari terbaik bagiku. Aku kencan bersama Yoona. Well, bukan kencan sebenarnya. Aku hanya mengantarnya membeli bikini untuk dipakai minggu depan. Yah, Chanyeol mengajaknya berenang entah kemana. Dan Yoona menyebalkan sekali. Entah otaknya tertinggal di rumah atau bagaimana, karena saat itu ia sangat-sangat bodoh. Bagaimana tidak? Ia bersikeras ingin membeli bikini yang kekurangan bahan. Sangat seksi, dan aku tidak suka. Aku suka jika ia memakainya di hadapanku, tetapi tidak bila di hadapan Chanyeol.

July 30th, 2000

 

Menyebalkan. Saat ini Yoona tengah berlibur bersama Chanyeol. Demi Tuhan aku sangat penasaran. Chanyeol membawa gadisku kemana? Aku harap ia tidak macam-macam. Aku tahu otak mesum Chanyeol, dan aku benar-benar mengkhawatirkan Yoona.

 

Ini membuatku tersiksa. Seharian aku terus memikirkan Yoona, dan hatiku benar-benar tidak bisa bersantai. Hhh…Yoona, kau membuatku gila.

 

August 1st, 2000

 

Yoona baru saja pulang, ia mengabariku tadi. Dan aku dapat memprediksikan hari sialku nanti ketika kembali memasuki sekolah. Tentu saja, Yoona akan menceritakan berbagai pengalamannya selama berada di sana—bersama Chanyeol—kepadaku. Hhh..sepertinya nanti aku harus mempersiapkan telinga dan mentalku.

August 12th, 2000

 

Besok kami akan kembali masuk sekolah. Sebenarnya aku malas. Aku belum siap mendengar cerita Yoona nanti. Ia pasti akan mengumbar-ngumbar tentang kemesraannya bersama Chanyeol di masa-masa liburannya. Ya Tuhan..kenapa aku mesti mencintai seseorang yang jelas-jelas mencintai kakakku? Aku tersiksa.

Oh damn! Kepalaku tiba-tiba sakit kembali. Aku—

Aku mengerutkan keningku, tulisan Sehun terputus dan halaman itu malah dipenuhi oleh bercak-bercak darah yang sudah mengering. Tulisan ini dibuat sehari sebelum pengakuan kehamilanku pada Sehun. Sehari sebelum aku mengusirnya dari kehidupanku. Sehari sebelum Sehun benar-benar pergi meninggalkanku.

Ya Tuhan, ada apa dengan Sehun? Ah iya, dari tadi ia selalu mengeluhkan kepalanya yang sakit. Apa jangan-jangan..

Brain cancer. Sudah 5  tahun Sehun mengidap penyakit itu. Dulu Sehun bukan tipe orang yang suka menutup diri di depan teman-temannya. Karena penyakit itu, ia mulai menjauh dan selalu murung. Bahkan di rumah pun ia tak kalah suram. Tapi setelah bertemu denganmu, kepribadiannya yang lama mulai muncul kembali. Ia sangat bersemangat ketika menceritakanmu. Sehun yang dulu menyerah akan hidupnya dengan cara mogok minum obat, sekarang jadi lebih antusias. Ia selalu mengatakan, ‘Aku harus tetap hidup, demi Yoona’. Aku masih ingat setiap malam ia selalu mendatangi kamarku, bertanya ‘Noona, apa aku bisa hidup lebih lama lagi? Aku ingin menikah dengan Yoona’. Dan aku selalu tak bisa menjawab pertanyaannya, bahkan sampai sekarang.”

Tidak… lututku benar-benar bergetar. Aku tidak dapat lagi mendengar apapun.

Kosong.

Yang ada di pikiranku hanyalah Sehun. Aku baru tahu ternyata selama ini ia menyukaiku. Aku baru tahu ternyata selama ini ia menderita karenaku. Aku baru tahu ternyata ia mengidap penyakit itu.

“Apa yang kau lihat?!”

“Kim Yoona.”

“Kenapa kau melihatku?”

“Karena aku suka.”

“Kau benar-benar kurang kerjaan.”

“Aku hanya ingin menatap semua yang aku suka sepuas yang aku mau sebelum aku benar-benar tidak bisa menatapnya.”

Ingatan-ingatan masa lalu berkelibatan di dalam otakku. Membuat hatiku berdenyut sakit. Bodoh, kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?

“Roti tawar lagi? Apa kau tidak bosan dengan bekal makanan yang seperti ini terus? Lain kali tambahkan selai coklat kacang, kek.”

“Karena ini lebih bagus untuk kesehatan kita.”

“Apanya yang bagus untuk kesehatan? Buktinya, sebanyak apapun kau makan roti tawar itu, kau masih tetap sering sakit-sakitan. Sebulan saja kau bisa bolos beberapa kali. Lihat aku, makan sembarangan tapi tetap segar bugar.”

“Ya maka dari itu aku makan ini, agar aku bisa sehat.”

Ya, kini aku tahu mengapa Sehun selalu memakan roti tawar. Dan aku dengan seenaknya meledeki makanannya itu. Sangat hina. AKU HINA!!

“Ngomong-ngomong Sehun, kenapa kau bisa menyukai tempat ini? Tempat ini kan sangat sepi, tidak cocok untuk ketampananmu. Maksudku, kau bisa saja menebar pesonamu di bawah sana, seperti Chanyeol sunbae.”

“Disini aku sedang belajar.”

“Belajar? Belajar apaan? Aku tidak melihat satupun buku pelajaran disini.”

“Yah, tapi aku memang benar-benar sedang belajar.”

“Belajar apa?”

“Belajar agar nanti kalau kita mati, kita sudah terbiasa dengan keheningan.”

Semua ingatan itu malah semakin mempersakit hatiku. Sakit. Sangat sakit.

“JANGAN MENYENTUHNYA!!”

“Yoona, apa maksudmu?”

“Kau brutal, Sehun. Lihat apa yang telah kau perbuat!”

“Yoona, aku—”

“Jangan tatap aku.”

“Yoona, deng—”

“Jangan sentuh aku!”

“Aku bisa menjel—”

“JANGAN TATAP AKU, JANGAN SENTUH AKU, JANGAN BICARA PADAKU!!”

Aku muak padamu, Sehun. Kau selalu menasehatiku dengan kata-kata tidak bermutumu. Kau membelikanku baju renang yang sangat menjijikan. Kau tahu? Aku tidak pernah memakainya selama bersama Chanyeol. Kau seperti orang abnormal yang gemar memakan roti tawar. Kau sok pintar dan sok jadi pahlawan, membuat aku semakin muak. Aku—”

“Aku membencimu. Sangat-sangat membencimu, Oh Sehun.”

“Kau benar-benar membenciku?”

Ya.”

“Kau—”

“Cepat pergi dari sini, Sehun-ssi. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku berjanji setelah ini aku akan pergi dari hadapanmu. Selamanya.”

Tanpa sadar aku menitikan air mata. Aku sudah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai makhluk terbodoh di dunia. Kata-kata terakhir Sehun terus terngiang di telinga dan otakku. Wajah dan tatapan sendu Sehun masih teringat jelas di dalam ingatanku. Aku sangat bodoh. Yang pantas mati itu bukan Sehun, melainkan aku.

“Sehun..hiks..maafkan aku..maaf..” gumamku sambil menyusut air mata yang tak berhenti mengalir dari mataku. Tuhan, hatiku sangat sakit. Demi apapun aku merindukan Sehun. Aku ingin bertemu dengannya. Memukulinya seperti biasa. Menyebutnya bodoh. Mengatakan bahwa aku juga mencintainya.

Eonni, sekarang dimana Sehun?”

“……”

Eonni!! Kumohon!!”

“Sehun,..”

Eonni.. tolong pertemukan aku dengannya. Hiks..hiks..kumo..hon.. eonni..” tanpa diperintah aku langsung bersujud di hadapan Hyena eonni. Aku membuang harga diriku jauh-jauh. Aku hanya ingin bertemu Sehun. Ingin..bertemu..

“Baiklah..”

***

Dan, Hyena eonni membawaku ke dalam sebuah rumah sakit. Lututku benar-benar bergetar dengan hebat ketika kami sampai di depan sebuah pintu berwarna putih. Apa Sehun ada di dalam? Apa Sehun baik-baik saja? Atau bahkan keadaan Sehun sangat mengenaskan? Ditempeli infusan-infusan mengerikan di seluruh badannya?

Lalu, apa Sehun akan tersenyum kembali padaku? Apa Sehun akan memaafkan perkataanku waktu itu? Demi Tuhan aku sangat penasaran sekaligus takut. Aku terlalu takut mengahadapi kenyataan terburuk.

“Yoona, ayo.” Ajak Hyena eonni. Ia membuka pintu itu dengan perlahan. Semakin lebar pintu itu terbuka, semakin cepat pula debaran jantungku.

Dan, pintu itu kini telah terbuka lebar. Menampilkan sesosok pria yang tengah terbaring tenang di atas kasur berwarna putih. Napasnya bergerak teratur, matanya tertutup rapat. Ia terlihat damai menjelajahi alam mimpinya.

“Hyena eonni, kenapa kau membawaku ke kamar Chanyeol oppa? Mana Sehun? Aku ingin bertemu dengannya..”

“Sehun ada disini, Yoona.” Kudengar Hyena eonni mulai menangis.

Lalu apa maksud perkataannya?

“Eonni, jangan bercanda. Dimana Sehun?” desakku.

Hyena eonni berjalan mendekati Chanyeol oppa kemudian meletakkan telapak tangannya di atas dada ‘pacarku’

DEGG!!

itu, “Sehun ada disini, Yoona. Sehun hidup disini.”

Apa maksudnya? Ti-tidak mungkin sungguh katakan padaku ini bohong. Sehun—

Eonni, tolong jangan bercanda! DEMI TUHAN AKU TIDAK MAU BERCANDA!! Aku—Sehun, kenapa secepat ini?”

Hyena eonni, tersenyum kecut kemudian memberiku sebuah CD.

“Ini, Sehun menyuruhku untuk memberikannya padamu. Lihatlah.”

“Apa itu?”

“Lihat saja.”

Aku mengambil CD itu kemudian Hyena eonni, meninggalkan kamar ini dengan terburu sambil menutup wajahnya. Mungkin ia menangis. Sama sepertiku.

Di ruangan ini terdapat televisi beserta DVD player, sehingga aku dapat menggunakan fasilitasnya. Aku menekan tombol power kemudian open.

Demi Tuhan, tanganku gemetar ketika memasukkan CD itu ke dalam DVD-nya. Tidak lama setelah aku menekan tombol close, layar televisi langsung menampilkan sebuah ruangan. Aku tidak tahu itu ruangan apa. Ruangan itu bernuansa klasik dengan dinding kayu yang terlihat kokoh dan elegant. Lalu sebuah kursi kecil langsung menarik perhatianku. Kursi kecil yang kosong, tanpa ada seorangpun yang mendudukinya.

Aku juga dapat melihat meja belajar yang dihiasi oleh beberapa buku tebal dan figura-figura kecil yang menampilkan wajah Sehun di belakang kursi kecil itu. Yah, sepertinya itu memang kamar Sehun. Tapi, buat apa Sehun menyuruhku untuk melihat pemandangan ini?

“Hi, Yoona.”

DEGG!!

Jantungku berdetak keras saat Sehun tiba-tiba muncul dan duduk di kursi kecil itu. Ia memamerkan senyuman lembut yang selama ini aku rindukan.

“Yoona, apa kau dapat mendengar suaraku? Coba kau keraskan volumenya, maka kau akan mendengar suara merduku dengan sangat jelas. Kekeke”

 

Sehun mulai mengeluarkan jurus sangtae-nya (ngegaring), membuatku tertawa kecil. Tetapi sumpah, mendengar suara tawa Sehun sangat menyakitkan. Aku ingin mendengar suaranya secara langsung, bukan lewat video.

“……..Yoona, apa sekarang kau baik-baik saja? Kau masih makan dengan rakus, bukan? Haha. Jangan sampai kau jatuh sakit. Kalau kau sakit, aku akan menghukummu.”

 

Hey, kenapa kau menceramahiku, Sehun?

“Yoona, aku—maaf aku tidak berani untuk berbicara denganmu langsung, jadi aku membuat video yang tidak jelas ini. Sepertinya video ini akan berdurasi cukup lama karena aku akan menyampaikan beberapa hal yang selama ini belum bisa aku sampaikan padamu, jadi kau jangan tidur ya?”

Lagi-lagi Sehun membuat lelucon murahan, tetapi bibirku tetap tersenyum menanggapinya.

“Yang pertama..”

Kulihat Sehun menundukkan kepalanya beberapa detik, kemudian setelahnya mengangkat kepalanya kembali sambil tersenyum.

“Yang pertama, aku ingin meminta maaf padamu. Aku tahu aku ini bodoh. Aku tahu aku ini hanya teman yang bodoh. Teman yang selalu menghalangi kebahagiaanmu. Maaf, maafkan aku.”

Demi Tuhan jangan meminta maaf padaku, Sehun. Aku yang berhak meminta maaf padamu.

“Sebagai ungkapan maafku, aku akan memberimu sebuah hadiah. Berhubung Chanyeol mengidap Liver Cancer, akan kudonorkan hatiku pada Chanyeol. Agar Chanyeol bisa menjagamu selamanya. Bukankah ini yang kau mau? Hidup bahagia selamanya bersama Chanyeol? Sebenarnya aku masih bisa hidup lebih lama lagi, dan Chanyeol masih bisa mendapat transplantasi hati dari orang lain yang cocok dengan tubuhnya, hanya saja..aku berpikir..untuk apa aku hidup jika kau membenciku? Rasanya sangat sakit. Dan perasaanku akan semakin tumbuh dengan besar jika aku terus mempertahankan hidupku. Aku tidak mau menjadi orang licik yang nantinya akan menganggu kehidupanmu bersama Chanyeol. Aku tidak mau.”

Demi Tuhan jangan teruskan, Sehun. Aku tidak sanggup mendengarnya..

“Yang kedua..”

Ia menunduk lagi sambil kemudian menghela napas.

“Aku tidak ingin kau menangis. Apa sekarang kau tengah menangis? Kumohon jangan. Aku tidak ingin kau mengeluarkan air matamu demi aku. Tapi, haahh..aku ini percaya diri sekali. Mana mungkin kau menangisiku? Hahaha”

Demi Tuhan, Sehun. Jangan bercanda sambil mengeluarkan air matamu.

“Yang ketiga, aku ingin kau menjaga namaku di dalam hati dan ingatanmu. Aku ingin kau selalu ingat bahwa dulu pernah ada Oh Sehun, ah bukan Park Sehun yang selalu hadir di setiap harimu. Menemanimu di atas atap dan merecokimu. Hahaha.. aku masih ingat saat-saat itu.”

Tentu saja, Sehun. Aku akan selalu mengukir namamu di dalam hati dan ingatanku tanpa perlu kamu suruh. Aku akan terus menyebut namamu disetiap hembusan napasku. Jikalau aku hilang ingatan, dan aku tidak dapat lagi mengingat namamu, lebih baik aku meminta pada Tuhan untuk menghapus eksistensiku di dunia ini. Karena satu detik tanpa adanya dirimu di dalam hatiku, sama saja dengan hilangnya tujuan hidupku.

“Yang keempat..”

Kali ini aku melihat Sehun menundukkan kepalanya cukup lama. Setelah beberapa detik kemudian ia baru mengangkat kepalanya. Air matanya semakin turun membasahi pipinya, tetapi ia masih tetap tersenyum.

“Kumohon jangan benci aku..”

Tidak, Sehun. Aku sama sekali tidak membencimu..

Sial! Air mataku ikut turun dengan deras.

‘Jangan menangis, Yoona bodoh! Sehun memintamu untuk tidak mengeluarkan air matamu. Jangan..menangis..jangan—’

Tetapi aku tidak bisa menahan air mataku agar tidak turun membasahi pipi. Pada akhirnya aku membiarkan air mataku bebas turun—semakin lama semakin deras saja.

 

“Kelima..maafkan keegoisanku..”

Sehun, aku telah memaafkanmu. Kumohon jangan mengemis maaf dariku lagi..

Keenam..maaf aku tidak pernah mengatakan ini padamu secara langsung. Tapi walaupun aku tidak pernah mengatakannya padamu, aku selalu meneriakkan kata-kata ini di dalam hatiku..”

Ia menunduk dalam ketika mengatakannya. Bahu dan tangannya bergetar hebat. Tetapi kemudian dengan cepat ia menghapus air matanya. Ia kembali menghadap kamera sambil tersenyum, bibirnya yang tengah menyunggingkan senyum terlihat bergetar. Ia mati-matian menahan tangisnya.

“Yoona..”

Sehun mengangkat tangannya, membentuk love besar di kepalanya dengan wajah memerah, air mata mengalir, bahu terguncang dan senyum bak malaikatnya.

“Saranghaeyo..”

Aku sudah tidak tahan. Aku menangis sesenggukan—nafasku tidak karuan.

‘Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu, Sehun? Kenapa? Aku mencintaimu juga, Sehun. Sangat. Sangat. Sangat. Sangat mencintaimu..’

Kemudian aku melihat Sehun mengamati jam tangannya, ia mengusap air matanya lalu tersenyum.

“Yoona, sudah waktunya. Dokter kini pasti telah menungguku.”

Aku tidak mengerti, tangisanku berhenti sesaat.

‘Maksudmu apa, Sehun? Maksudmu apa? Sudah waktunya apa?’

Tiba-tiba aku menjadi panik. Apalagi ketika Sehun mulai turun dari kursinya kemudian mendekati kamera. Kini wajahnya sangat jelas di layar televisi ini. Seakan-akan aku telah men-zoom in-nya.

“Yoona, aku akan mematikan kameranya. Mungkin ini terakhir kalinya kau melihatku berbicara. Selamat tinggal.”

Jangan… jangan ucapkan kalimat itu. Aku benci kalimat selamat tinggal. Aku benci!!

Aku menutup mata dan telingaku sendiri. Entah berapa lama. Mungkin ketika membuka mata, layar televisi telah berubah menjadi warna hitam, karena Sehun telah mengakhirinya.

Setelah beberapa detik berlalu, aku mulai membuka mataku. Dan aku terkejut ketika mendapati sosok Sehun masih terpampang jelas di layar televisi. Keadaannya sangat kacau. Ia menangis hebat sambil menutupi mukanya sendiri. Badannya berguncang keras, sekeras suara tangisannya.

Demi Tuhan, rasanya aku ingin menerobos layar televisi kemudian memeluk tubuhnya yang terlihat lemah itu.

Air mataku kembali keluar. Aku tidak tahan. Aku tahu kau masih ingin hidup, Sehun. Tetapi kenapa kau berbuat sebodoh ini? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri? Kenapa kau menyakitiku?

Cukup lama aku menangis bersama Sehun, meskipun kami tengah berada di waktu yang berbeda. Kemudian, Sehun memperlihatkan wajahnya kembali. Matanya sangat bengkak dan merah, sama sepertiku. Ia menatap lurus ke arahku—ke arah kamera—sambil tersenyum, tetapi air matanya terus mengalir tanpa berhenti sedetikpun.

“Yoona, aku mencintaimu..”

Aku juga, Sehun.

“Yoona—

Selamat tinggal. Berbahagialah..”

Dan, setelah kalimat itu diucapkan, layar televisi tidak lagi menampilkan wajah seseorang yang kucintai. Wajah Sehun telah menghilang. Baik di televisi, baik juga di dunia nyata. Aku tidak dapat bertemu dengannya lagi.

Jika saja aku tidak mengusirnya waktu itu..

Jika saja aku tidak berkata bahwa aku membencinya waktu itu..

Jika saja aku lebih peka terhadapnya waktu itu..

Jika saja aku berkata bahwa aku..sangat-sangat mencintainya..dari dulu..

Jika saja aku..

Jika..saja..aku..

Jika saja aku juga mati..

Yah, mungkin itu lebih baik.

***

5 years later..

AUTHOR POV

“Hai, Sehun. Sudah lama aku tidak mengunjungi makammu. Apa kabar? Apa kau baik-baik saja disana? Kuharap kau baik-baik saja. Hah, aku malu mengatakan ini. Tetapi, aku merindukanmu, bodoh. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Kenapa kau mati secepat ini? Kau menyebalkan—

—Sehun, kau tahu dulu aku pernah berniat bunuh diri? Yah, aku ingin menyusulmu. Aku ingin bersamamu di dunia sana. Tetapi, setelah aku pikir baik-baik, mungkin itu hanyalah keputusan yang bodoh. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan usahamu. Kau sengaja memberikan hatimu untuk Chanyeol, dan kenapa aku tidak menjaganya dengan baik? Ya, sebisa mungkin aku akan menjaganya dengan baik, Sehun. Jadi, kau harus tenang disana.”

Eommaa!!”

“Iya, Yoona. Eomma sebentar lagi kesana. Chanyeol, ajak dia menjauh. Ia belum pantas mengunjungi makam seperti ini.”

“Okay, honey.”

“Hh, Sehun, kau lihat tadi? Itu anakku dan Chanyeol. Ya, akhirnya Chanyeol mau bertanggung jawab dan menikahiku. Sebenarnya aku sedikit membencinya. Gara-gara dia, kau jadi mati secepat ini. Tetapi, seperti janjiku tadi, aku akan menjaga hati yang telah kau berikan padanya sebaik mungkin. Aku tidak akan mengecewakanmu. Tidak akan lagi—

—ah, maaf. Lagi-lagi aku menangis. Padahal aku sudah janji padamu untuk tidak menangis lagi. Lihat, aku akan menghapus air mataku. “

Aku secepat mungkin menghapus air mataku dengan punggung tanganku yang sedikit bergetar. Aku berusaha tersenyum—

Tersenyum di hadapan batu nisan yang bertuliskan nama Sehun. Sedetik kemudian aku tersenyum, sedetik kemudian pula aku menangis kembali. Hal itu terus berulang.

“Maaf, Sehun..a-aku.. aku tidak bisa..” ucapku sembari menangis tertahan.

Eommaaa!! Ayo kita pergii!!”

“Maaf, yeobo. Rena terus merengek.”

“Iya, aku kesana!! Hh.. aku harus pergi. Semoga kau bahagia di atas sana, Sehun. Aku mencintaimu.”

Setelah mencium cukup lama makam Sehun, Yoona berdiri dan berbalik meninggalkan makam Sehun sambil tidak berhenti menyusut air matanya. Sudah 5 tahun berlalu namun perasaannya masih tetap sama. Ia masih tetap mencintai Sehun, dan selamanya akan tetap seperti itu.

“Aku mencintaimu, Yoona..”

DEGG!!

Jantung Yoona seakan-akan berhenti berdetak ketika mendengar suara bisikkan yang datang entah darimana. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dan membalikan badannya ke belakang. Tapi tidak ada siapapun. Yoona merenung, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.

“Aku mencintaimu juga, Sehun.”

END

3 thoughts on “Mistake (2-2)

  1. parah thor bisa bikin nangis beneran sial.
    yoona sih gitu nyesel sendiri kan untung chanyeol mau tanggu jawab dah pokoknya keren thor feelnya dapet banget

    keep writing
    – hrts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s