SHADES OF HIM #1 {Pain of Loving Him}

Shadesofhim

Title: SHADES OF HIM #1 {Pain of Loving Him}

Author: Earlgreyxx

Cast: Oh Sehun, Han Saejin (OC)

Genre: Romance, Sad, Hurt, Dark || Length: Chaptered || Rating: PG-15 (can be switched sometimes to PG-17)

He said he doesn’t love me,

Yet he never let me go.

Di pagi hari, aku merasakan daerah sensitifku nyeri. Well, ini memang bukan pertama kalinya bagiku untuk melakukan hal itu dengannya, tapi tetap saja tiap pagi rasa sakitnya masih terasa.

Aku meraba guratan seprai di sebelahku, menandakan jejak yang selalu Sehun tinggalkan setiap pagi hari. Dia tidak pernah ada ketika aku bangun dan hal itu membuatku kecewa. Aku jadi tidak bisa mengagumi dan memperhatikan wajah tampannya.

Aku mengambil kimono-ku yang tersampir di kursi meja rias dan memakainya sebelum keluar. Keadaan rumah ini begitu senyap. Aku tak mendapati kehadirannya di meja makan maupun di ruang tv. Desahan lelah keluar dari mulutku.

Selalu seperti ini. He comes everynight and leaves everymorning.

Tanganku meraih gagang telfon rumah dan mengetikan sederet angka yang sangat kuhafal.

“Halo…” sapaku.

Halo?

Aku mengernyit. Ini suara wanita, bukan suara Sehun.

“Sehun ada?”

Kau siapa?”

“Kekasihnya,” jawabku asal.

Sehun tidak bilang punya kekasih.”

Dang. Entah kenapa perkataan wanita itu seakan menamparku habis-habisan.

“Kau siapa?”

Aku—“

“Dia hanya asisten pribadiku,” potong Sehun—karena aku tahu ia merebut ponselnya dari entah siapa itu. “Untuk apa menghubungiku?

Aku menggigit bibirku kebingungan. Untuk apa ya? “Hanya bertanya… kenapa kau pergi pagi sekali?”

Bukan urusanmu,” jawabnya cepat dan segera memutuskan sambungan telfon ini.

Senyuman getir merayap di wajahku. Oh God. Apa sesakit ini mencintainya?

Setelah selesai dari kuliah pagi di kampus, kuputuskan untuk mengunjungi Sehun di kantornya sambil membawakan makan siang. Hal ini baru untukku, belum pernah sejarahnya aku menginjakkan kakiku di kantornya.

Aku turun dari taksi di depan sebuah gedung pencakar langit di pusat kota Seoul. Inilah kantornya. Berdesain modern dan berteknologi terkini membuatnya sangat menonjol. Sehun adalah General Manager-nya sedangkan direktur perusahaan ini adalah ayahnya.

“Permisi,” kataku ramah pada costumer service di depan. “Kantor Oh Sehun ada di lantai berapa ya?”

Wanita yang berada di balik meja ini menatapku agak lama sebelum akhirnya ia tersenyum. “Ada di lantai 7. Sebelum masuk, anda bisa tanya sekretarisnya dahulu. Biasanya Tuan Oh jarang mau menerima tamu.”

Aku mengangguk meski pikiranku agak melantur. Apa yang dilakukan Sehun saat ini? Pikiranku melayang pada kejadian tadi pagi, dimana yang mengangkat telfonku adalah seorang wanita. Aku jelas tak percaya dengan perkataan Sehun yang mengatakan kalau itu asistennya.

Sudah ribuan kali Sehun berbohong dengan menggunakan teknik yang sama.

Setelah memencet lantai yang akan kudatangi, seorang lelaki yang berada di sebelahku melirikku keheranan. “Anda ingin ke ruangan Tuan Sehun?” tanyanya sopan.

“Err… iya?”

Pria itu tersenyum ramah. “Maaf. Saya Jongin, sekretaris dari Tuan Oh.”

Aku mengangguk. “Aku bisa mengunjunginya kan?”

Jongin terlihat berpikir sebentar. “Beliau ada tamu, sebenarnya. Seorang wanita.”

Otomatis, aku memegang sebuah pegangan di lift. Kakiku mendadak lemas. Pikiran buruk berkelebat di dalam otakku. “Si-siapa?”

Jongin hanya tersenyum tipis. “Saya pun tidak tahu.”

Ting. Pintu lift terbuka dan langsung menghadap pada sebuah pintu yang tertulis ‘General Manager’.

Jongin menahan pintu lift dan mempersilahkan aku keluar duluan. Betapa gentle-nya dia. Tanpa basa-basi, aku langsung masuk ke dalam.

Sehun dan seorang wanita terlihat sedang berbincang serius. Wajah Sehun menunjukan kerutan di dahinya, sementara wanita itu menghela nafasnya berat. Aku memperhatikan mereka cukup lama namun tak ada satupun dari mereka yang menyadari kehadiranku.

Sungguh menyakitkan. Siapa wanita itu?

“Maaf aku mengganggu dan tak sopan,” cicitku pelan yang membuat Sehun segera menoleh dengan cepat. Matanya terbakar amarah.

Sementara wanita yang berada di samping Sehun hanya tersenyum kearahku. Ia tampak memaklumi kelakuanku.

“Mau apa?” tanya Sehun dingin.

“Aku membawakan makan siang,” jawabku kaku sambil melirik kedua insan itu.

“Sudah makan tadi bersama Taeyeon.”

Aku membulatkan mataku. Taeyeon? Siapa lagi wanita itu? Apakah wanita ini? “Taeyeon?” bisikku pelan.

“Itu aku,” sahut wanita tersebut masih dengan senyuman manisnya. “Maafkan aku nona. Aku tak tahu kalau Sehun ada yang akan mengantarkan makanan.”

“Pergilah,” titah Sehun. “Tak ada gunanya kau di sini.”

“Jangan,” seru Taeyeon. “Kasihan dia, Sehun. Baru saja dia sampai. Biarkan ia duduk dulu.”

Jujur aku kelimpungan. Di satu sisi, aku ingin mendaratkan bokongku di sofa dekat mereka. Di sisi lain, Sehun melototiku seakan melarangku untuk duduk.

Dan entah mengapa membuatku makin ingin melawannya.

“Baiklah,” kataku setelah duduk di samping Taeyeon.

Taeyeon tersenyum kearahku, lagi. Somehow, aku merasa aku tokoh jahat di sini.

“Siapa namamu?”

“Han Saejin.”

“Ahh. Kau siapanya Sehun? Pacarnya kah?” goda Taeyeon yang membuatku—entah mengapa—tersenyum miris.

Karena tak mendengar jawabanku, ia segera terkekeh. “Lihatlah wajahmu yang merah ini…” ujarnya di sela-sela kekehannya. “Kalau begitu, jangan kau nikahi aku Sehun.”

Aku segera mendongakkan kepalaku cepat, menatap mereka berdua silih berganti.

Apa? Apa maksudnya?

“Aku tetap akan menikahimu,” jawab Sehun tegas.

Aku merasakan dadaku bergemuruh hebat, hatiku terasa amat sakit dan kepalaku mendadak pening. Tidak. Lelakiku. Priaku. Dia akan menikahi yang lain?

Setelah semua yang kita lewati bersama?

“A-ap..” aku tak mampu meneruskan kalimatku karena mata Sehun lagi-lagi melototiku. Seakan menyuruhku untuk diam.

“Tapi dia pacarmu kan Sehun?” tanya Taeyeon curiga.

“Bukan,” jawab Sehun yakin, kembali membuatku tak percaya.

Lalu aku ini siapamu?

“Tapi dia—“

“Membawakan makan siang bukan berarti dia itu siapa-siapaku, Taeng,” potong Sehun melembut.

Batinku terenyuh. Sehun menjadi lembut dihadapan wanita ini. Dihadapanku? Ia bagaikan beruang kutub. Ia memperlakukanku layaknya aku ini bukan manusia melainkan binatang.

“Jangan, Sehun-ah. Ini hanya rencana orangtua kita. Tak perlu kau turuti…”

“Tapi aku mencintaimu.”

Dan itu menjelaskan padaku segalanya.

Aku menangis. Selalu menangis.

Sejak mengenal Sehun, aku lemah tak berdaya.

Sejak mengenal Sehun, aku tak bisa mengatasi pergejolakan batinku yang makin tak tertahankan.

Dia yang selalu mempermainkanku. Dia yang selalu menganggapku boneka. Dia yang selalu menjadikanku pelampiasan.

Dan dia yang tak pernah mengakuiku.

Aku baru tahu wanita itulah yang ia cintai, yang ia sayangi segenap hatinya. Taeyeon, sampai kapanpun aku takkan menandinginya.

“Kau ini apa-apaan sih?! Seenaknya saja masuk ke kantorku!” bentak Sehun yang sepertinya baru pulang. “Taeyeon jadi berspekulasi yang tidak-tidak mengenai kita!”

Aku terdiam dan menunduk, memeluk lututku. Tiba-tiba sebuah tangan menarik rambutku ke atas, memaksaku untuk berdiri.

“Jangan bertindak bodoh! Kau hampir menghancurkan masa depanku!”

“Ma-maaf,” cicitku. Lihat? Di depannya aku tak berani melawan.

“Maaf saja sampai kau mati!” Dengan kasar, ia menghempaskan rambutku hingga aku terjebam ke lantai dan tangan kananku mendadak sakit. “Kau ini makin merasa hebat ya!”

“Aku hanya butuh kepastian!” jeritku. “Apa hubungan kita—“

Lumatan kasar di bibirku segera membuatku diam tak berkutik. Bibir itu kembali melukai bibirku yang berdarah akibat permainan kasarnya. Aku tahu, dia selalu seperti ini ketika ia marah. Meski ia marah pada orangtuanya, orang-orang di kantor, yang selalu dijadikan pelampiasan adalah aku.

Hanya aku.

Aku mendorong tubuhnya kuat dengan segenap kekuatanku. Ini harus dihentikan. Selain dadaku yang sesak karena kehabisan nafas, aku juga tidak mau dipermainkan secara kasar oleh Sehun.

“KENAPA!” jeritku kencang yang membuat ia menamparku keras. Hingga ujung bibirku berdarah.

“JANGAN MENAIKKAN SUARAMU DI DEPAN WAJAHKU!”

Aku menutup mulutku, menahan isakan yang perlahan keluar. Isakan yang keluarpun terkesan tertahankan.

Sehun duduk di depanku dan mengusap wajahnya kasar. Aku melihat wajahnya yang terkesan tak tahan dengan isakanku ini kemudian ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

“Aku ini siapamu Sehun?”

Sehun berhenti di tempatnya tanpa membalikkan tubuhnya. Entah sudah berapa kali aku menanyakan hal itu padanya.

“Pelampiasanmu?” tanyaku sambil tertawa sinis.

“Ah. Pelampiasan atas cintamu terhadap… Taeyeon?”

Sehun membalikan tubuhnya, berjalan cepat ke arahku dan menggendongku secara paksa.

“LEPAS!” Teriakkanku tidak digubrisnya.

Tiba-tiba, tubuhku di lempar ke atas kasur. Dengan cekatan, Sehun merobek bajuku dan melemparnya ke sembarang arah, menyisakan bra dan celana dalam yang melekat di tubuhku.

Tanpa ragu, ia mendaratkan bibirnya di leherku, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan jejak. Sehun seperti kerasukan.

Bukannya desahan melainkan isakan lolos dari mulutku. Aku mencintai pria ini, tapi tidak menyukai kelakuannya yang seenaknya. Dengan gampang ia membuangku dan memungutku. Dia pikir dia siapa?!

Sehun menghentikan pergerakannya dan menatapku tajam. Sungguh, aku takut menatapnya. Aku takut ia akan menamparku atau melakukan yang lebih ekstrim lagi.

“Tidurlah,” ujarnya dingin sambil beranjak dari atasku ke sebelahku. Ia menarik selimut hingga ke batas leherku.

Aku masih terisak dan segera memunggunginya, enggan menatap wajahnya. Padahal, selama ini aku tidak pernah tidak menatap wajah tampannya sebelum tidur. Anggap ini pengecualian karena aku kecewa terhadapnya.

“Hentikan isakanmu yang mengganggu itu.”

Aku menutup wajahku dengan separuh bantal, meredam isakanku agar tidak mengganggunya. Perlahan, aku merasakan dua tangan dingin memeluk pinggangku dari belakang, memberikan usapan-usapan di perutku yang membuatku berhenti menangis.

Sehun-ah… kenapa kau buat ini makin sulit?

-fin-

Author’s note:

It’s short and It’s realllllyyyyyyyyyyyyy WOW!

Hahahaha gapernah nyangka bakalan nulis ff bergenre ini dan memiliki scene-scene yang inappropriate untuk teenagers unyu-unyu macam aku ini, wkwkwk.

CHAPTER INI MASIH KUMAAFKAN BAGI SILENT READERS. HANYA, JIKA SILENT READERS TIDAK PADA MUNCUL HINGGA SEMINGGU ATAU DUA MINGGU KE DEPAN, TERPAKSA CHAPTER INI AKAN SAYA PROTECT, BEGITU JUGA SETERUSNYA.

UNTUK MEMINTA PASSWORD NANTI AKAN SAYA SEDIAKAN FORM-NYA SERTA SYARAT&KETENTUAN.

UNTUK READERS DI SKF ATAU EXOFF, MAAF SEKALI KARENA SAYA TIDAK AKAN MEMPOSTINGNYA LAGI DI KEDUA BLOG TERSEBUT APABILA MASALAH SILENT READERS TAK TERATASI:(. KECUALI KALIAN INGIN MEMBACANYA DI BLOG SAYA: hansaejin.wordpress.com!;)

[p.s: i’m sorry if i don’t reply your comments;( i’m sooo busy and i don’t think i have time to reply your comments. But i really want to reply your comments so badly:( forgive me pls??]

Thanks for your comments and attention!

Yours Truly,

Earlgreyxx!

81 thoughts on “SHADES OF HIM #1 {Pain of Loving Him}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s