ANGEL

kris

ANGEL

By : Ririn Setyo

Kris Wu || Song Jiyeon || Park Chanyeol

Genre : Romance ( PG – 15 )

Length : One Shot

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Bukan kebiasaan Kris Wu untuk mengingat hari kelahirannya sendiri, sejak dulu dia tidak pernah mau repot-repot untuk merayakan hari yang menurut sebagian orang di muka bumi ini sangat penting. Sejak dulu jika bukan karena orangtuanya, terkhusus sang ibu yang selalu menyiapkan pesta ulang tahun untuknya, Kris tidak akan pernah ingat jika hari itu dia bertambah usia. Namun seiring berjalannya waktu, kebiasaan Kris pun sedikit berubah. Tepatnya sejak ia bertemu Song Jiyeon, seorang gadis yang ia klaim sebagai malaikat hati yang telah mencuri seluruh cinta dan hidupnya, seorang gadis yang selalu ikut merayakan ulang tahun Kris selama lima tahun terakhir ini.

Tapi sialnya disaat Kris sudah terbiasa dengan perayaan ulang tahun yang kerab ia rayakan dengan sang kekasih, tahun ini justru gadis itu pula yang melupakannya. Di mulai sejak semalam, tepat saat jarum jam menunjuk angka 12, Kris yang sengaja terjaga dengan senyum mengembang berlebihan, tak mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Sang Malaikat. Jiyeon tidak berkunjung ke rumahnya seperti yang sudah-sudah, tidak mengiriminya pesan singkat ataupun meneleponnya seperti di tahun awal hubungan mereka atau saat Kris sedang bekerja di luar Korea.

Hari ini Kris ada di Korea, di dalam kamarnya, duduk bersandar di atas ranjang, menatap nanar telepon selular yang diam tak bergerak di atas nakas samping ranjang. Kris hanya mendapat ucapan dari orangtuanya, pelukan dan juga kue ulang tahun ukuran besar bikinan Sang Ibu. Sahabat dan rekan kerja Kris yang dia perkirakan akan memberi ucapan sangat terlambat, justru menjadi orang pertama yang memberinya kata selamat setelah orangtuanya.

Oh! Lalu kemanakah Sang Malaikat Hati berada?

Kenapa dia tidak hadir di hari penting Kris Wu?

Mungkinkah gadis cantik bermata bening itu telah melupakan Kris Wu?

Dari atas ranjang tidurnya Kris mengerang, bantal biru berbentuk bulat pemberian Sang Malaikat sejak tadi sudah menjadi sasaran kekesalan Kris hingga bentuknya mengenaskan. Kris benar-benar kesal bukan kepalang, dan Kris akan membuat perhitungan pada gadis-nya malam ini juga.

Malam ini juga?

Benarkah?

Kris Wu, ayolah! Ini bahkan sudah dini hari? Sang Malaikat hati-mu pasti sudah berada di alam mimpi.

Namun Kris tidak peduli, dalam satu gerakan Kris sudah menyambar jaket dan kunci mobil, berjalan tergesa menuruni anak tangga untuk selanjutnya berada di dalam garasi. Ia hanya menuliskan pesan di depan pintu kamar orangtuanya jika ia keluar rumah, karena ada urusan pekerjaan yang sangat penting dan orangtua Kris sudah terbiasa dengan itu.

****

 

Dengan cepat Kris menekan kode pintu, menarik napas sesaat sebelum masuk ke dalam apartemen milik sang kekasih. Sunyi. Itulah suasana yang menyambut Kris pertama kali saat ia menginjakkan kaki di dalam apartement, ia melirik jam tangan besar yang melingkar di pergelangan saat lampu otomatis menyorot tubuhnya, ini sudah pukul dua pagi. Sorot lampu dengan pendeteksi manusia itu, mengikuti kemanapun Kris bergerak. Kris menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Jiyeon, ia menarik knop pintu dengan sangat perlahan, tak mau jika Sang Malaikat terganggu oleh kedatangannya.

Hey, bukankah Kris sedang kesal?

Secara reflek senyum Kris mengembang kala sepasang mata dinginnya menatap Jiyeon yang tengah tidur pulas di atas ranjang, kebiasaan Kris sejak ia bertemu Sang Malaikat Hati lima tahun silam, kebiasaan yang jika ditanya alasannya, maka Kris tak punya jawabannya. Ia hanya merasa ingin tersenyum jika melihat sang gadis pujaan, walau bagaimanapun situasi yang tengah menaugi hatinya.

Kini Kris sudah duduk di tepian ranjang, memandang lekat lekukan wajah Jiyeon dengan pahatan nyaris sempurna. Kulit putih sehalus mutiara, hidung mancung, alis rapi, bibir semerah cerry dan sepasang mata bening sangat indah yang tertutup rapat. Tak tahan hanya memandang, tangan Kris pun bergerak, menelusuri tiap inci wajah yang selalu membuatnya merindu. Kris kembali tersenyum saat Jiyeon mengeliat pelan karena sentuhannya, ia pun membungkuk, mendaratkan kecupan lembut nan dalam di kening Jiyeon, lalu turun ke hidung dan berakhir di bibir.

Saat Kris baru saja akan menjauhkan wajahnya, tanpa diduga sepasang mata bening favorit Kris terbuka, mengerjab pelan, samar menatap sosok Kris yang masih berjarak sangat dekat, bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.

“Wu…,”

Sapaan samar dalam suara serak khas seseorang yang baru terjaga dari alam bawah sadar, membuat Kris mengangguk, senyumnya mengembang. Tangan pria itu masih membelai wajah Jiyeon lembut, menelusuri helaian rambut hitam panjang gadis pujaan hingga semuanya terlihat jelas di sepasang mata bening yang kini sudah membulat, meluapkan keterkejutan akan kedatangan Kris yang tidak terduga.

“Ada apa? Apa ada sesuatu hal yang buruk terjadi?” Jiyeon bangkit dari posisi tidurnya, menatap khawatir Kris yang masih bungkam.

“Kau sakit?”

Kris mengeleng saat tangan dingin Jiyeon menyentuh keningnya, pria kaku dan tidak romantis itu justru menarik tubuh kecil Jiyeon hingga menghilang di balik kedua lengannya. Kris menyandarkan kepalanya di atas kepala Jiyeon, ia benar-benar sudah lupa jika ia sedang kesal pada Jiyeon.

“Kris, kau membuatku takut.” Jiyeon mengeryit dari balik dekapan Kris yang mengerat, pria itu justru hanya tertawa, menciumi puncak kepala, pipi dan bahunya bertubi-tubi.

“Sejujurnya aku sedang kesal padamu, Jiyeon-ah.” ucap Kris tanpa melepaskan pelukannya.

“Kesal? Memangnya aku melakukan kesalahan?”

Heemm…,”

Kris menahan tubuh Jiyeon saat gadis itu berniat ingin lepas dari pelukannya, kembali membawa kepala Jiyeon bersandar di dada bidangnya yang hangat.

“Kris—-”

“Kau melupakan hari ulang tahunku.” ucap Kris kemudian.

“Tidak.”

“Kau lupa Jiyeon,”

“Aku tidak lupa Wu, aku bahkan sudah membuatkan kue untukmu.”

“Apa?” Kris menunduk, menatap Jiyeon yang sudah mendongak. “Lalu kenapa kau tidak datang ke rumahku? Kau juga tidak mengirim pesan ataupun meneleponku?”

“Maaf…,” wajah Jiyeon berubah sayu, ia kembali menunduk.

“Ada apa Jiyeon?”

Jiyeon bungkam, ia hanya memaikan kancing kemeja biru kotak-kotak yang dikenakan Kris.

“Song Jiyeon.”

Dan seketika Jiyeon tertawa hingga Kris melepaskan pelukannya, menatap tak mengerti pada Jiyeon yang semakin tertawa terbahak.

“Maafkan aku, ini ide Chanyeol.” ucap Jiyeon masih dengan tawanya yang belum reda.

“Chanyeol?” kening Kris mengeryit, matanya memicing tajam dan dingin. Chanyeol adalah sabahat Kris semenjak mereka masih berusia lima belas tahun.

“Chanyeol benar-benar penasaran, dia ingin sekali melihat kau memarahiku. Jadi dia memintaku berpura-pura melupakan ulang tahunmu, dengan harapan kau marah padaku. Maaf.” Jiyeon menghentikan tawanya, tersenyum manis menatap wajah Kris yang mengeras.

“Seharusnya aku tidak memberitahumu tentang kue, tapi karena kau tidak memarahiku, aku jadi melupakan rencana yang dirancang Chanyeol.”

“Kau… Song Jiyeon, bagaimana mungkin kau…,” ucapan Kris terputus saat bibir Jiyeon menyentuh bibir pria itu, mengecupnya lembut, singkat, ringan seperti kapas, namun mampu membuat tubuh Kris memaku.

“Selamat ulang tahun, Kris Wu. Aku sangat mencintaimu.” ucap Jiyeon dengan senyum lebarnya, tangan gadis itu terulur, menarik bahu bidang Kris dan memeluknya erat.

“Maafkan aku dan Chanyeol,” Jiyeon mengeratkan pelukannya. “Berjanjilah untuk tidak marah pada Chanyeol.” ucap Jiyeon kemudian, gadis itu memilih menyandarkan kepalanya di bahu Kris saat tangan Kris bergerak memeluk punggungnya.

“Untuk yang satu itu aku tidak bisa berjanji.” jawab Kris seraya mengeratkan pelukannya.

“Kris…,”

“Tidak ada negosiasi, Song Jiyeon.”

“Wu…,” Jiyeon melepaskan pelukannya, menatap Kris penuh harap.

“Tidak!”

“Kris Wu…,”

Kalimat Jiyeon terhenti di udara saat Kris kembali menyatukan bibir mereka dalam kecupan hangat yang lembut. Kris menarik pinggang Jiyeon hingga berada di dalam rangkulannya, mengecup berkali-kali bibir Jiyeon hingga pada akhirnya gadis itu memejamkan matanya, membalas kecupan Kris dalam lumatan ringan hingga puluhan detik berikutnya.

Dan setelah ini Jiyeon benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada Park Chanyeol, karena Jiyeon bisa memastikan jika Kris pasti akan murka pada sabahatnya itu.

Oh! Park Chanyeol yang malang.

THE END

Happy Birthday Wu Yifan aka Kris Duizhang, aku masih selalu mengingatmu hingga detik ini.

OKai… Enjoy Manusia KECE XOXO

2 thoughts on “ANGEL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s