HIGH SCHOOL OF THE DEAD (Chapter 1)

~ HIGH SCHOOL OF THE DEAD ~

 HSOTD

Author          : Riska Junaini

Genre      : Horror, Psychology, Supernatural, Mystery, Romance

Rating          : Teen

Length          : Chaptered

Cast       : Kim Hana (OC), Xi Luhan, Oh Sehun

Ingatlah bahwa ini hanya cerita fiksi dimana segala sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi. Harap untuk tidak merepost fic ini di tempat lain tanpa seizin saya ^^~

DO NOT COPY MY STORY

DON’T READ IF YOU DON’T LIKE

~~~

 

RANKING SISWA KELAS 3 SMA Yosen (1-10)

  1. Xi Luhan – 3 B
  2. Kim Hana – 3 A
  3. Do Kyungsoo – 3 A
  4. Oh Sehun – 3 B
  5. Park Chanyeol – 3 E
  6. Byun Baekhyun – 3 E
  7. Jung Soojung – 3 A
  8. Kim Jongin – 3 A
  9. Lee Taeyong – 3 A
  10. Kang Seulgi – 3 A

 

 

Puluhan pasang mata menatap serius pada lembaran-lembaran yang tertempel di mading sekolah. Semuanya sibuk mencari di urutan berapa nama mereka tertulis. Lembaran pertama hanya berisi sepuluh nama siswa dengan nilai terbaik sementara lembaran berikutnya berisi sembilan puluh nama siswa yang lain. Itu adalah daftar ranking seratus siswa kelas 3 SMA Yosen berdasarkan hasil ujian semester pertama mereka dan bagi mereka yang serius ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi tentunya itu adalah hal yang sangat penting karena berkaitan dengan masa depan mereka. Begitu pula dengan gadis berambut cokelat yang kini tampak masam setelah melihat apa yang tertera di lembaran tersebut.

“Ia berhasil merebut posisimu, Hana.”

“…”

Gadis berambut cokelat itu berbalik lalu melenggangkan kakinya dari tempat tersebut. Banyaknya murid yang berdesakan membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa menipis hingga ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari kerumunan itu. Suasana hatinya juga sedang buruk hari ini jadi ia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Matanya melirik laki-laki berambut putih yang berpapasan dengannya saat ia akan menaiki tangga menuju kelas. Laki-laki itu menyadari bahwa seseorang tengah memperhatikannya hingga akhirnya ia menoleh pada gadis berambut cokelat dengan poni panjang yang menutupi mata kirinya.

“Ada yang ingin kau katakan padaku, Kim Hana ?”

“Tidak.”

Hana kembali melenggangkan kaki setelah menjawab – sangat – singkat pertanyaan laki-laki berambut putih. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis – lebih tepatnya menyeringai – setelah gadis berambut cokelat semakin jauh. Ada aura bahagia terpancar dibalik kristal birunya yang tenang bak langit biru. Lengkungan manis masih terukir menghiasi wajah tampannya hingga suara seseorang sukses memudarkan senyuman penuh arti miliknya.

“Sepertinya kau sangat senang, Luhan.”

“Tentu saja.”

“Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.”

“Itu karena tujuanku akhirnya tercapai.”

“…”

“Apa kau tidak marah karena aku merebut posisi gadis itu, Sehun ?”

“Aku tidak peduli dengan hal itu.”

“Bukankah kau menyukainya ?”

“Bukan berarti aku harus mencampuri semua urusannya.”

“Kau sama dinginnya dengan gadis itu.”

~~~

“Apa kau masih memikirkan hasil ujian tadi, Hana ?”

“…”

“Apa kau mendengarkanku, Hana ?”

“…”

“Kim Hana !”

“Jangan bicara padaku saat di sekolah, Daiyu !”

Hana berbisik pelan – lebih tepatnya sangat pelan – karena suasana kelas hanya terisi oleh suara Choi seonsaengnim yang tengah menjelaskan materi pelajaran di depan. Kristal cokelatnya menatap lurus ke depan sementara pikirannya melanglang-buana memikirkan sesuatu. Hana tidak menyangka bahwa orang itu akhirnya berhasil merampas posisi puncak yang selama ini selalu ia pertahankan sejak masuk di SMA Yosen.

Ya, SMA Yosen menggunakan sistem yang sedikit berbeda dengan sekolah pada umumnya dimana sekolah tersebut selalu mengurutkan ranking berdasarkan jumlah keseluruhan murid per jenjang kelas. Sekolah itu juga hanya menerima seratus murid baru setiap tahunnya dan tidak sembarang orang yang bisa masuk ke SMA Yosen – tentu saja mereka harus memiliki kemampuan berpikir diatas rata-rata dan tak jarang hal seperti itu pada akhirnya membuat beberapa murid menjadi stres. Namun, jika mereka mampu melewatinya maka mereka akan mudah menuju jenjang pendidikan berikutnya karena telah sangat terlatih. Layaknya dua sisi dalam koin yang sama.

Sejak masuk di SMA Yosen Hana selalu meraih peringkat pertama setiap kali hasil ujian semester dan kenaikan kelas diumumkan. Namun, pada semester kali ini ia harus merelakan posisinya direbut oleh Xi Luhan. Murid berkebangsaan China yang selama ini selalu berada di peringkat kedua. Sebenarnya Hana tidak begitu peduli dengan peringkat tapi ia merasa terprovokasi karena setiap kali bertemu dengan Luhan, kristal biru itu selalu menatap Hana seolah Hana adalah musuh yang harus dikalahkan.

‘PRANK’

Suara benda jatuh yang berasal dari arah belakang sontak membuat seisi kelas terkejut dan menoleh ke sumber suara. Sebuah lampu telah pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang tajam. Beruntung letak lampu tersebut jauh dari murid yang duduk di bagian belakang jadi jatuhnya lampu tersebut tak mengenai kepala siapapun. Bayangkan jika lampu yang besarnya sama seperti satu buah apel jatuh mengenai kepala seseorang – tentu saja itu cukup untuk membuat kepala seseorang berdarah.

“Bagi yang piket hari ini tolong bersihkan pecahan kacanya.”

Tutur Choi seonsaengnim diikuti dengan beberapa murid yang bergegas membersihkan pecahan-pecahan lampu di belakang. Alis Hana bertaut saat melihat helaian rambut menjuntai dari atas hingga ke lantai kelas. Matanya kemudian tertuju pada sosok menyeramkan yang menempel di langit-langit kelas. Sosok itu menatapnya tajam dengan mulut yang menyeringai lebar. Rambutnya sangat panjang dan beberapa bagian kulitnya tampak mengelupas hingga mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat. Sosok itu mulai merayap di langit-langit kelas menggunakan kuku-kuku panjangnya. Sedetik kemudian ia berpindah merayap di lantai dekat dengan Choi seonsaengnim, berusaha untuk menjahili pria paruh baya tersebut dan tentu saja tak ada satupun yang menyadarinya kecuali gadis berambut cokelat yang sejak tadi memelototinya.

“Aku akan memberimu pelajaran gadis nakal !”

Hana menyelipkan poni yang menutupi mata kirinya diantara daun telinga. Memperlihatkan kristal merah yang selalu ia sembunyikan. Sosok yang tengah merayap itu sontak ketakutan saat melihat kristal merah milik Hana. Berteriak kuat ketika tubuhnya perlahan terbakar karena kristal merah itu terus mengutuknya – tentu saja hanya Hana yang mendengar teriakan memilukan itu tapi gadis itu tak peduli.

“Kumohon maafkan aku ! Aku berjanji tidak akan berulah lagi !”

Kelopak mata kirinya tertutup seiring dengan permintaan maaf yang terus terlontar dari sosok menyeramkan itu. Hana kembali menutupi mata kirinya dengan poni lalu mengangguk kecil sebagai persetujuan atas permintaan maaf sosok yang ia sebut sebagai gadis nakal. Sosok itu kemudian menghilang setelah gadis berambut coklat itu tersenyum – sangat – tipis padanya. Hana melirik keadaan sekitar lalu menghembuskan napas lega karena sepertinya tak ada yang menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

“Wah, kau benar-benar membuatnya kapok, Hana.”

“…”

“Mata kirimu memang menakutkan bagi makhluk-makhluk seperti itu tapi itu tidak memberikan efek apapun pada manusia jadi kenapa kau terus menyembunyikan mata kirimu, Hana ?”

Tangan kanannya tampak menggores sesuatu di atas buku catatannya. Matanya fokus memperhatikan apa yang telah ditulis oleh Choi seonsaengnim di depan – seolah ia tengah mencatat pelajaran padahal sama sekali tidak.

“Aku hanya tidak ingin memperlihatkannya.”

 

“Tapi menurutku mata heterochrome milikmu itu keren, Hana.”

“Terimakasih.”

 

 

Ya, Kim Hana memiliki kelainan langka pada matanya dimana mata kanan dan mata kirinya memiliki warna yang berbeda atau dalam dunia medis disebut heterochromia. Mata kanannya berwarna cokelat selaras dengan rambut sedangkan mata kirinya memiliki warna merah. Kelainan seperti itu biasanya terjadi pada mereka yang memiliki kelainan pada pigmen kulit tapi Hana sama sekali tak memiliki masalah apapun dengan kulitnya. Ia memiliki mata heterochrome itu sejak lahir dan itu juga menjadi penyebab ia tidak memiliki teman ketika kecil karena semua anak yang seumuran dengannya merasa takut padanya. Sebab itulah Hana memanjangkan poninya untuk menyembunyikan kristal merahnya agar teman-temannya di sekolah tak menjauhinya karena merasa takut padanya.

Namun, apa yang terjadi pada Hana bukanlah sekedar kelainan biasa. Kristal merah yang selalu ia sembunyikan itu memiliki kemampuan tak biasa. Hana mampu melihat apa yang tak bisa dilihat oleh manusia normal contohnya makhluk halus. Mata itu juga mampu melihat hal-hal kecil ataupun peristiwa besar yang akan terjadi beberapa waktu ke depan. Bahkan ia mampu melihat masa lalu seseorang atau peristiwa yang pernah terjadi di suatu tempat. Orang-orang awam biasa menyebut manusia yang memiliki kemampuan seperti Hana sebagai indigo. Yang membuat Hana istimewa dibandingkan para indigo lainnya adalah ia mampu membakar jiwa makhluk astral jika ia menganggap makhluk tersebut mengganggunya. Penglihatan mengenai masa depan dan masa lalu juga tak bisa Hana lakukan seenaknya. Biasanya penglihatan-penglihatan itu muncul dengan sendirinya melalui mimpi atau terlintas tiba-tiba dalam pikirannya.

“Menurutmu kenapa ia tadi berulah di kelas ini, Hana ?”

“Sepertinya ia ingin menguji kemampuanku.”

 

“Yah, kau memang cukup terkenal di dimensi lain.”

~~~

 

“Hana !”

“Ada apa, Seulgi ?”

“Temani aku ke kafeteria.”

“Aku tidak lapar, Seulgi.”

Bibir Seulgi mengerucut mendengar jawaban Hana yang seperti sebuah penolakan halus baginya. Hana hanya mendengus lesu sebelum akhirnya berdiri meninggalkan kursi nyamannya menuju kafeteria – membuat wajah Seulgi yang tadinya masam berubah menjadi cerah.

Kafeteria telah ramai penuh hingga hanya menyisakan beberapa tempat kosong. Seulgi menarik lengan Hana menuju meja kosong yang tersisa, menyuruhnya duduk disana sementara ia memesan beberapa makanan dan minuman. Kristal cokelatnya membulat saat mendapati Luhan bersama teman-temannya duduk tepat di depannya. Secepat kilat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha untuk tidak mempedulikan orang-orang di depannya.

“Sehun melihatmu lagi, Hana.”

“…”

Laki-laki berahang tegas dengan raut wajah dingin bak pangeran itu hanya mendengus malas saat teman-temannya terus mengolok-olok karena ada Kim Hana di hadapannya. Obsidiannya memperhatikan gadis berambut cokelat yang tampak tak peduli dengan bualan teman-temannya yang sengaja mengeraskan volume suara mereka. Memang sudah lama ia menaruh hati pada gadis jenius itu tapi ia belum melakukan pendekatan apapun karena ia terlalu kaku dan sikap Hana yang cuek.

“Kim Hana !”

“Kenapa kau memanggilnya, Chanyeol ?”

Sehun tampak kesal akan tingkah sembrono laki-laki jangkung bernama Chanyeol yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri. Sehun menundukkan kepalanya sembari mendengus lesu karena Baekhyun juga melakukan hal yang sama gilanya dengan mendatangi Hana yang masih duduk sendirian – karena Seulgi belum juga muncul. Luhan menyikut lengan Sehun saat gadis itu akhirnya menatap tepat ke arah Sehun. Tersenyum manis tepat saat manik mereka bertemu dan bertautan dalam waktu cukup lama. Sehun membalasnya dengan senyuman tipis yang tampak kikuk.

Baekhyun kembali ke tempat duduknya dan melakukan tos dengan Chanyeol. Tak lama kemudian Seulgi datang dengan sebuah nampan yang berisi dua mangkuk ramen dan dua kaleng minuman. Mengalihkan perhatian Hana dari Sehun. Luhan memperhatikan Sehun yang masih terpaku pada sosok gadis berambut cokelat itu.

“Jika kau begitu menyukainya kenapa kau masih diam saja ?”

“Melakukannya tak semudah mengatakannya.”

“Bagaimana jika seseorang mendahuluimu ?”

Pertanyaan yang terdengar seperti tengah memastikan sesuatu. Raut wajah Sehun berubah serius lalu menatap tajam laki-laki berambut putih yang tengah mengunyah santai makanan di depannya. Luhan hanya tertawa kecil melihat mimik wajah Sehun yang seolah siap menerkamnya kapan saja.

“Aku hanya bercanda.”

“…”

Seulgi yang tengah melahap makanannya sontak tersedak saat melihat empat orang yang duduk beberapa meter di depannya. Ia meneguk cepat minumannya lalu menoleh pada Hana yang tampak tak bernafsu dengan makanannya.

“Aku tidak tahu jika ada Luhan disini.”

“Eh ?”

“Suasana hatimu pasti sedang buruk karena dia merebut posisi pertamamu, kan ?”

“Tidak juga.”

Seulgi melirik sosok berambut putih itu dan tak butuh waktu lama hingga akhirnya orang yang ia perhatikan kini menoleh padanya. Entah kenapa kristal biru itu seolah membuat kesadarannya hilang selama beberapa saat sebelum akhirnya Hana menepuk pelan bahu Seulgi. Seulgi mengerjapkan matanya beberapa kali membuat kening Hana berkerut karena Seulgi tampak linglung.

“Ada apa, Seulgi ?”

“Tidak.”

“Kenapa kau memperhatikan si rambut uban ?”

“Eh ? Aku hanya penasaran.”

“Penasaran ?”

“Aku ingin tahu bagaimana ia mendapatkan mata berwarna biru itu ?”

“Albino. Mereka yang memiliki kelainan albino biasanya memiliki kulit pucat, rambut yang berwarna putih atau pirang, dan mata yang berwarna biru seperti orang-orang di benua Eropa.”

“Bukankah Luhan itu berasal dari China ?”

“Kelainan seperti itu bisa terjadi pada siapapun.”

“Benar juga.”

Seulgi melahap kembali makanannya setelah merasa puas akan penjelasan Hana. Ya, Luhan yang berhasil mengalahkan Hana si gadis jenius memang tampak sangat berbeda dibandingkan dengan murid lainnya. Ia memiliki rambut putih seperti uban, mata berwarna biru seperti orang-orang di benua Eropa, dan kulit putih pucat. Ciri-ciri yang sama seperti yang dimiliki oleh para albino lainnya di dunia ini. Tapi, kelainan itu justru membuat Luhan tampak mempesona di mata murid-murid perempuan hingga tak sedikit yang tergila-gila pada laki-laki jenius itu.

“Argh !”

“Hana !”

Hana mengerang saat merasakan sakit pada mata kirinya. Kepalanya juga terasa berdenyut saat sebuah bayang-bayang kecil terlintas di pikirannya. Ia menundukkan kepalanya saat bayangan-bayangan itu berputar cepat dan membuat kepalanya semakin berdenyut sakit. Orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan Hana yang masih tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.

“Mungkin dia depresi.”

 

“Tolong aku, Hana!”

 

“Dia tidak memiliki mental yang kuat.”

 

“Kumohon tolong aku, Kim Hana!”

 

 

Sehun sontak menghampiri Seulgi dan Hana yang mulai menjadi pusat perhatian. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya saat melihat Hana yang tampak kesulitan bernapas.

“Ada apa dengannya, Seulgi ?”

“Aku tidak tahu kenapa ia tiba-tiba seperti itu.”

“Aku akan mengantarnya ke UKS.”

Hana tersentak saat lengan kekar itu menyentuh bahunya. Seolah tersadar dari mimpi buruk yang menghantuinya. Sebisa mungkin ia mengatur napasnya masih dengan kepala yang menunduk dalam. Ia merapikan poni panjangnya lalu mengangkat kepalanya dan menatap Sehun yang berdiri di sampingnya. Menggeser lengan Sehun dari bahunya lalu pergi meninggalkan kafeteria tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Hana…”

~~~

Hana membasuh wajahnya berkali-kali lalu mengeringkannya dengan sapu tangan yang selalu ia simpan dalam saku seragamnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lelah setelah peristiwa barusan. Berkali-kali Hana menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk mengembalikan pikirannya ke keadaan semula. Sebenarnya hal seperti ini bukan yang pertama kalinya bagi Hana. Kepalanya selalu terasa sakit setiap kali ia melihat sesuatu yang akan terjadi beberapa waktu ke depan. Ia juga tidak tahu kenapa yang jelas rasa sakit itu sangat menyiksanya.

“Bagaimana keadaanmu, Hana ?”

“Aku baik-baik saja, Daiyu.”

“Syukurlah.”

Seulgi telah menunggu saat Hana akhirnya keluar dari dalam toilet. Gadis itu memperhatikan Hana dari atas hingga ke bawah. Memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi pada Hana. Hana tersenyum seolah ingin memberitahukan bahwa ia baik-baik saja. Seulgi tampak lega sebelum akhirnya memeluk erat sahabatnya itu.

“Aku sangat khawatir, Hana.”

“Tadi kepalaku hanya sedikit pusing.”

“Benar hanya itu ?”

Hana mengangguk. Kristal cokelatnya lalu tertuju pada Sehun yang berdiri dibalik dinding. Ia tahu bahwa Sehun ada disana meski laki-laki itu berusaha untuk bersembunyi. Ia juga tahu bahwa laki-laki berwajah poker itu sedang mengkhawatirkannya.

“Apa yang kau lakukan disana ?”

“…”

“Aku bicara denganmu, Sehun.”

“Syukurlah kalau kau baik-baik saja aku akan langsung kembali ke kelasku.”

Sahut laki-laki berwajah poker itu sembari melenggang pergi. Kristal cokelatnya terus menatap punggung Sehun hingga sosok laki-laki itu menghilang dari jangkauannya. Seulgi memperhatikan mimik wajah Hana seolah ingin memastikan sesuatu.

“Dia benar-benar mengkhawatirkanmu.”

“Aku tahu.”

“Apa kau tidak ingin memberinya kesempatan, Hana ?”

“Lebih baik kita kembali ke kelas, Seulgi.”

~~~

“Bagaimana hasil ujianmu ?”

“Peringkat dua.”

“Eh ?”

“Maaf aku tidak bisa mempertahankan nilaiku, Eomma.”

“Tidak apa-apa, tapi siapa yang berhasil mengalahkanmu ?”

“Luhan.”

Wanita paruh baya itu hanya mengangguk-angguk saat mendengar nama yang tak asing di telinganya. Tentu saja karena Hana sering menceritakan segala sesuatu yang ada di sekolah pada ibunya. Semenjak sang ayah meninggal hanya sang ibulah yang selalu mendengar semua curahan hati Hana karena ia adalah anak tunggal dan sejak kecil ia memang sangat dekat dengan ibunya.

“Apa Daiyu ada disini ?”

Hana mengangguk. Wanita paruh baya itu menyalakan sebuah lilin aroma terapi yang beraroma ginseng. Wangi ginseng seketika menyeruak ke seluruh ruangan. Hana menotop gadis yang kini tengah duduk di sampingnya. Gadis yang lebih muda beberapa tahun darinya itu tampak senang saat aroma ginseng memenuhi indera penciumannya. Hana tertawa kecil melihat reaksi Daiyu.

“Daiyu benar-benar menyukai aroma terapinya, Eomma.”

“Eomma akan menyalakannya setiap malam agar Daiyu merasa nyaman.”

“Terimakasih.”

Hana menatap Daiyu yang masih menikmati aroma ginseng di sekitarnya. Ia memperhatikan sosok itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Daiyu menoleh pada Hana saat menyadari gadis berambut cokelat itu tengah memperhatikannya.

Daiyu terlihat cantik dengan dress putih yang membalut tubuhnya hingga menyapu lantai. Rambut panjang dan ikal membuatnya terlihat seperti seorang putri – mungkin sedikit berlebihan. Mata sipitnya membuatnya tampak manis setiap kali tersenyum pada Hana.

“Kau pasti sangat kesepian, Daiyu.”

“Karena itulah aku sangat senang ketika bertemu denganmu.”

“Sebenarnya aku cukup kesal saat kau terus mengikutiku kemanapun tapi sekarang aku sudah terbiasa.”

“Anggap saja aku pengawal pribadimu, Hana.”

Hana menatap wajah pucat Daiyu. Gadis itu tak tampak menyeramkan seperti makhluk-makhluk lainnya – kecuali bekas tusukan tepat di jantungnya. Daiyu juga tak berulah saat bertemu dengan Hana untuk pertama kalinya. Ia justru kaget saat Hana menghampirinya dan mengajaknya bicara.

Ya, Daiyu adalah roh yang mendiami rumah Hana. Rumah itu adalah rumah yang dibeli oleh ayah Hana beberapa tahun yang lalu. Daiyu meninggal ketika berusia 12 tahun karena peristiwa pembunuhan dan jasadnya dikuburkan di sekitar rumah tersebut. Hana berusaha untuk menggali kembali kuburannya dan memindahkan tulang belulangnya ke tempat yang layak tapi Daiyu menolak. Ia berjanji tidak akan menyakiti siapapun meski rumah itu akan dihuni oleh orang lain selain Hana. Ia hanya ingin terus berada di sekitar rumah itu. Hana juga berkali-kali berusaha untuk menguak siapa orang yang tega membunuh gadis kecil nan malang itu tapi selalu gagal. Kemampuannya berfungsi tak sesuai keinginannya.

Lalu, bagaimana ibu Hana bisa mengetahui tentang Daiyu ?

Tentu saja sebagai orangtua ialah yang menyadari segala sesuatu tentang Hana termasuk kemampuan uniknya. Ia tanpa sengaja memergoki sang anak yang tengah berbicara sendiri ketika gadis itu masih berusia 5 tahun. Saat itu Hana selalu membicarakan mengenai teman – tak kasat mata – pada ibunya. Merasa khawatir ia dan sang suami akhirnya membawa Hana pada seorang psikolog tapi dokter itu mengatakan bahwa Hana baik-baik saja. Kemudian mempertemukan putri mereka dengan seorang cenayang dan cenayang itu justru terkejut saat menyadari kemampuan yang dimiliki oleh Hana.

“Hana, sebenarnya apa yang kau lihat saat di kafeteria sekolah ?”

“Hanya sebuah bayangan-bayangan kecil. Aku tidak yakin apa yang terjadi tapi ada banyak orang berkerumun di sekolah dan seseorang meminta bantuanku.”

“Di sekolah ?”

“Ya, karena itulah aku terus memikirkannya hingga sekarang.”

~~~

Lagi, murid-murid terus berlarian menuju suatu tempat yang telah dipenuhi kerumunan manusia. Bahkan mereka yang baru tiba pun langsung menuju ke tempat tersebut – seperti kerumunan semut yang mengerubungi gula. Hana menatap bingung pada teman-temannya yang tampak terburu-buru memasuki pagar. Matanya membulat saat ia mengingat apa yang kemarin terlintas di kepalanya.

“Jadi itu adalah kejadian hari ini !”

Hana berlari sekuat tenaga menuju kerumunan yang telah penuh sesak. Napasnya terengah-engah saat ia tiba di lokasi tersebut. Sebuah gudang tak terpakai yang berada jauh dari kelas-kelas. Tubuhnya menelusup diantara kerumunan murid-murid di depannya. Beberapa kali ia terdorong dan hampir jatuh tapi ia berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya hingga akhirnya ia tiba di barisan depan kerumunan.

Tubuh seseorang menggantung tepat beberapa meter darinya. Mata yang melotot memperlihatkan bagian putih bola matanya. Wajahnya tertunduk tapi semua dapat mengenali siapa orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis itu.

“Choi Sulli ?”

“Ia mendapatkan peringkat terakhir tahun ini.”

Obsidian Hana tertuju pada sosok pucat yang berdiri di antara kerumunan. Wajah yang tak asing sontak membuat matanya membulat. Hana menelan ludah dengan susah payah saat sosok itu terus memperhatikannya dan dalam waktu beberapa detik sosok itu telah berdiri tepat di depannya.

“Kim Hana…”

Napas Hana mulai tercekat saat mata bulat itu terus menatapnya. Sementara orang-orang di sekitar Hana masih sibuk bergumam satu sama lain. Mengeluarkan spekulasi masing-masing akan peristiwa yang terjadi di depan mata mereka. Sosok pucat itu menatap ke arah beberapa orang yang kini tengah menangis histeris. Kesedihan jelas tergambar di wajahnya sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka adalah teman-temannya.

“Mungkin dia depresi.”

“Tolong aku, Hana!”

“Dia tidak memiliki mental yang kuat.”

“Kumohon tolong aku, Kim Hana!”

~ TBC ~

12 thoughts on “HIGH SCHOOL OF THE DEAD (Chapter 1)

  1. Hahh qu gk nygka Hana mmpnyai kmmpuan mlihat msa dpn,, n Hana suka brkomunikasi dgn para arwah,,, dan skrg ada arwah yg mmnta bntuannya,, arwah itu adlh Choi Sulli tmnnya sndri.

  2. Sprtinya akan ada cinta sgitiga,, Sehun terang2an nnjukin rasa tertariknya k Hana,, tp Hana cuek aja…
    Daebakkkk Hana bsa mlihat hal2 yg akan trjadi d msa dpan..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s