The Pulchra Bridge (Chapter 1)

The Pulchra Bridge

A storyline by bubblecoffee97

Awesome poster by AXyrus

Main Cast :

Lee Aeri || Oh Sehun || Luhan

Support Cast :

Nam Mi Yoon || Park Chanyeol || Nam Ji Rin

Oh Yifan || Moon Seul Hee and other.

Genre :

Fantasy || Romance

Rating : T

Length : 2211 words

Summary :

Hidup seorang Aeri layaknya berada dalam neraka. Ia tak pernah berpikir bahwa kehidupannya akan berubah begitu ia melewati sebuah jembatan sulur. Jembatan Pulchra.

TPB’s library :

Prolog

Declaimer :

Cast seutuhnya milik Tuhan YME. Kesuluruhan cerita murni merupakan hasil imajinasi absurd seorang rookie author yang masih perlu banyak belajar. Juga fanfic ini di-publish di beberapa blog lain.

For Plagiarist, just go away dan cobalah mensyukuri milik sendiri.

.

.

.

.

.

“Ibu, apa aku cantik?”

Pertanyaan polos gadis yang telah mencapai enam tahun tak elak membuat wanita berparas cantik dihadapannya tertawa ringan.

“Ya, kau cantik, sayang,” ia mengelus lembut surai hitam putrinya yang meloncat senang mendengar pujian. Lantas berputar menirukan gerakan penari ballet yang ia lihat dari kotak musik pemberian sang ayah untuk ulang tahunnya yang ke-lima.

Si gadis kecil sedikit limbung begitu putarannya selesai namun segera menghambur ke dalam dekapan ibu-nya, “Dan ibu adalah yang tercantik di seluruh dunia!”.

***

“Apa dia baik-baik saja?”

“Tenanglah, dia pasti akan segera sadar.”

Dua suara berbeda terdengar sayup-sayup di telinga Aeri yang masih berusaha menangkapnya. Ia tak mengenali kedua suara itu tapi entah mengapa ia merasa terpanggil agar beranjak dari kegelapan yang seperti menelannya. Ia berusaha meski agak sulit.

“O-Oh, Chanyeol! Lihatlah, jarinya bergerak!”

Suara itu sedikit lebih jelas dari sebelumnya.

“Aku tahu, seperti yang ku katakan.”

Suara satunya yang lebih berat semakin jelas terdengar.

“Akhirnya… Syukurlah, syukurlah.”

Dan sekarang benar-benar sudah jelas. Gelap yang tak ia ingat seberapa lama membalutnya perlahan memudar seiring cahaya yang sedikit namun pasti menelusup ke indra penglihatannya. Kelopak matanya beberapa kali tertutup lalu terbuka melatih kornea agar terbiasa. Begitu penglihatannya kembali sempurna, ia meneliti satu-persatu dua wajah yang tengah menatapnya haru.

“Akhirnya kau sadar juga. Aku benar-benar takut kau tak-kan kembali.”

Hati Aeri menghangat mendengar nada khawatir yang dilontarkan gadis bersurai merah muda. Mata gadis di sisi kanannya itu berkaca-kaca ketika mengatakannya. Aeri bahkan tak tahu nama gadis tersebut dan tak mengerti apa yang sudah terjadi tapi ia senang mengetahui seseorang sedang mengkhawatirkannya.

“Dia sangat kalut dua hari ini.”

Aeri menatap heran lelaki yang berdiri di sisi kiri tempatnya berbaring. Bukan karena rambutnya yang keperakan melainkan kalimat yang ia ucapkan, lebih spesifiknya karena kata ‘dua’ dan ‘hari’.

“Kau pingsan selama dua hari.”

Laki-laki tersebut sepertinya mengerti tatapan tak mengerti Aeri dan melihat reaksi kagetnya sekarang ia memakluminya. Siapa yang tidak akan kaget ketika mendengar dirinya tidak sadar untuk waktu yang tidak biasa. Ditambah ketika sadar dikelilingi orang-orang yang tak pernah ditemuinya.

“A-Ap- Uhuk! Uhuk!”

Gadis bersurai pink dengan sigap mengambil segelas air di nakas dan membantu gadis yang satunya untuk sedikit bangun dan meminumnya. Ia merasa ceroboh karena sampai lupa seseorang yang pingsan dengan durasi yang tidak sebentar tentu akan merasa haus karena tak sedikitpun cairan yang masuk ke tubuhnya selama tak sadarkan diri.

“Maafkan aku, tenggorokanmu pasti serat.”

Aeri menggeleng lemah, “Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Eng, jika aku boleh bertanya, bagaimana aku bisa ada disini?”.

“Sebelumnya biar aku memperkenalkan diri dulu. Namaku Nam Mi Yoon dan laki-laki ini Park Chanyeol,” gadis yang mengaku bernama Nam Mi Yoon tersebut menunjuk lelaki berambut keperakan.

“Aku tunangannya,” tambah Chanyeol dengan deretan gigi yang dipamerkannya. Mi Yoon mendelik atas ucapan pemuda yang tidak tahu waktu tepat.

“Chanyeol ini-lah yang menyelamatkanmu. Dia menemukanmu terbaring di bagian utara hutan ketika sedang berburu. Kondisimu sangat memprihatinkan, itu sebabnya Chanyeol membawamu ke sini. Ada beberapa luka yang cukup parah ditubuhmu tapi sekarang sudah membaik. Bahkan kau sadar lebih cepat dari yang ku perkirakan. Kau sangat kuat.” Mi Yoon mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.

Aeri terdiam. Mencoba mengingat tiap runtutan adegan yang dilakoninya sebelum ia berakhir tak sadarkan diri dan diselamatkan oleh pemuda bernama Chanyeol. Ya, Aeri mengingatnya, ketika gerombolan laki-laki berbadan besar dan bertampang seram membawanya pergi dari rumah. Menyekapnya di sebuah gudang bekas pabrik bersama gadis lain yang bernasib sama. Setiap hari akan ada satu gadis yang dibawa keluar dan tak pernah kembali, tak satupun diantara gadis yang tersisa yang tahu nasib para gadis itu. Satu hal yang mereka tahu, itu bukanlah hal yang bagus. Tak ada yang berani menolong gadis yang dipaksa keluar, mereka tidak cukup bodoh untuk menyeret diri sendiri ke dalam bahaya.

Yang mereka harapkan hanyalah keberuntungan yang dapat membawa mereka pergi dari neraka itu dengan selamat. Dan Aeri-lah yang mendapatkannya. Saat tiba gilirannya diseret dari gudang, ia tahu hanya itu satu-satunya kesempatan lepas dari jeratan para manusia tak berhati. Jadi satu celah sedikitpun tak ‘kan disia-siakannya. Aeri berhasil kabur ke sebuah hutan yang tak jauh ketika para penjahat itu sibuk dengan barang bawaan mereka. Tapi itu tidak semudah yang ia duga sebab beberapa menit setelah ia lari kawanan penjahat tersebut mengejarnya. Jelas Aeri kalah telak mengingat ukuran tubuh dan jumlahnya yang berbanding terbalik dengan mereka.

Aeri bukanlah Aeri jika ia menyerah begitu saja. Meski berkali-kali ia terjatuh dan menambah luka baru di kulit mulusnya, meski dadanya sesak karena terlalu lama berlari, ia tetap berusaha membebaskan diri. Ia terus berlari hingga melewati sebuah jembatan dan-.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Eh?” Aeri mengerjap bingung dengan pertanyaan Mi Yoon.

“Kau melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aeri ingin menjawab pertanyaan itu tapi lidahnya terasa kaku.

“Tidak apa-apa, jangan memaksakan diri untuk menceritakannya. Nah, aku belum tahu siapa namamu.”

“Ah, Aku Lee Aeri.”

“Nama yang cantik. Apa kau mau jalan-jalan ke luar?”

“Tentu!” Aeri berseru senang menanggapinya. Ada begitu banyak hari yang telah ia lewati di dalam ruangan gelap dan pengap. Tentu ia takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali memanjakan paru-parunya dengan pasokan oksigen segar. Dan Mi Yoon bersyukur dalam hati karena gadis yang sebelumnya terlihat tak bertenaga kini mulai bersemangat.

“Baiklah, para gadis akan pergi jalan-jalan dan aku akan kembali bekerja,” Chanyeol mendesah lelah sebelum membawa langkahnya ke luar ruangan.

Mi Yoon terkekeh melihatnya, “Dia memang kekanakan. Ayo kita bersiap, Aeri!”

© The Pulchra Bridge ©

 

Musim semi melambangkan keindahan dengan bunga-bunga bermekaran sebagai simbol-nya. Membawa hati siapapun yang melihatnya pada kebahagiaan sederhana namun mampu menerbitkan senyum. Aroma wewangian bunga yang terbawa angin menambah alasan mengapa banyak orang menantikannya. Tak ada yang membencinya sebab secara alami setiap manusia akan jatuh hati pada segala bentuk hal indah.

Begitupun Aeri, ia bukan sekedar menyukainya, namun menggilainya. Tiap musim semi tiba ia selalu menghabiskan waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat destinasi wisata. Aeri tidak pernah bosan meski hanya melihat-lihat bunga yang sudah tak asing lagi baginya. Ia ingat, ibu-nyalah yang mengajarkannya tentang cinta pada jenis flora berwarna-warni tersebut. Sewaktu kecil, sang ibu akan mengajaknya berlibur ke desa untuk melihat pemandangan kebun menakjubkan disana. Lalu membantu nenek-nya memetik bunga di kebun keluarga. Walau terkadang pada akhirnya Aeri hanya akan berlari-lari di sekitar kebun.

Dan sekarang di usianya yang ke dua puluh, Aeri kembali merasakan suasana musim semi di pedesaan. Tenang dan bersahaja. Hanya saja saat ini bukan ibu yang menemaninya dan bukan sepasang kaki yang berlarian bebas.

“Kau senang?” tanya Mi Yoon.

Aeri mengangguk, “Ya, bahkan sangat senang,” ia tersenyum mengatakannya meski Mi Yoon tak bisa melihatnya karena berada dibelakang Aeri, mendorong kursi roda yang didudukinya.

Cherry blossom disini belum ada apa-apanya dibanding Krasivyy Garden.”

Krasivyy Garden?”

Mi Yoon terkekeh mendengar nada bingung Aeri, “Itu nama sebuah kebun yang tak pernah tak berbunga sepanjang tahun.”

“Wah.. Benarkah ada kebun yang seperti itu?” Gadis bermarga Lee tersebut cukup takjub mendengarnya. Selama ini ia tak begitu senang ketika musim dingin tiba karena salju yang menyelimuti tumbuhan. Namun jika Krasivyy Garden yang seperti Mi Yoon katakan memang ada, Aeri tak perlu khawatir lagi saat winter kembali.

“Aku akan membawamu kesana jika kau sudah sembuh,” ujar Mi Yoon.

“Aku akan segera sembuh!” seru Aeri yakin. Ia tahu saat ini kakinya belum bisa digunakan untuk beraktifitas seperti biasanya sebab luka yang cukup memprihatinkan. Sehingga mungkin untuk beberapa hari ke depan ia membutuhkan kursi roda untuk menopang tubuhnya. Aeri beruntung sebab Mi Yoon memiliki kursi roda tersebut yang katanya pernah ia pakai karena cidera. Kursi roda yang dipakainya sangat unik karena terbuat dari kayu, bahkan rodanya juga ditambah dengan ukiran di beberapa bagian. Hanya tempat duduknya yang tidak terbuat dari kayu.

Nam Mi Yoon sudah banyak mengenal orang tapi ini pertama kalinya ia mempercayai seseorang bahkan sebelum orang tersebut mengenalnya. Ia ingat, bagaimana keadaan Aeri saat pertama kali dibawa Chanyeol. Bagaimana saat wajah polos tersebut begitu terlihat menyedihkan meski matanya tertutup. Saat itulah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi gadis manis tersebut. Sekarang, setelah mendengar semangat Aeri untuk sembuh, ia yakin Aeri tak selemah yang ia kira. Dan ia bahagia karenanya.

“Kau pasti akan cepat sembuh. Dan aku akan membantumu.”

“Terima kasih, Mi Yoon.” Diam-diam Aeri menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Bukan karena sedih. Ia hanya terlalu bahagia. Sebelumnya ia tak pernah bertemu sosok yang begitu mempedulikannya meski baru beberapa jam saling mengenal. Merawatnya sejak belum sadar dari pingsan dan memperbolehkannya tinggal di rumah sederhana yang lagi-lagi menurutnya unik. Aeri tak ingat ia pernah melihat rumah yang diameternya lingkaran bukan persegi ataupun persegi panjang pada umumnya. Dinding, pondasi hingga lantainya juga kayu –kecuali kaca jendela, tentu saja- serta atapnya dari sesuatu yang mirip jerami. Di daerah pedesaan neneknya pun tidak ada rumah yang seperti itu.

“Mi Yoon, aku penasaran, ini ada di daerah mana? Busan? Incheon? Atau desa apa?”

“’Busan’? Dan apa tadi ‘Incheon’? Itu nama apa?” Mi Yoon balik bertanya.

“Tentu saja nama kota. Ini masih di Korea kan?” Aeri merasa bodoh dengan pertanyaannya. Mungkin ia sudah disekap untuk waktu yang cukup lama di dalam pabrik tapi ia cukup pintar agar tahu bahwa para penjahat tersebut tak membawanya sampai keluar Korea, walau mungkin keluar Seoul.

“Korea? Apa itu nama kerajaanmu? Oh, jadi kau berasal dari kerajaan lain ya,” ujar Mi Yoon sambil mengangguk-angguk mengerti.

Gadis bermarga Lee mengernyit heran karena seingatnya negara kelahirannya berbentuk republik bukan lagi kerajaan. Dan yang Aeri tahu, saat ini hanya Inggris yang masih berbentuk kerajaan.

“Eng, apa ini di Inggris?” tanya Aeri tak yakin.

“Itu nama kerajaan juga? Aku baru mendengarnya, tapi ini bukan Inggris. Kau sekarang ada di Omorfi, Aeri,” jawab Mi Yoon seraya tetap mendorong kursi roda Aeri berkeliling bagian hutan belakang rumah.

Aeri terdiam, mencoba mencerna apa yang sudah dilihat dan didengarnya. Seumur hidup ia belum pernah mendengar sebuah negara bernama ‘Omorfi’. Rumah mungil dan kursi roda dengan desain unik tersebut juga belum pernah dilihatnya. Lalu tentang sebuah tempat yang katanya berbunga sepanjang tahunpun baru kali ini diketahuinya. Anehnya lagi, Mi Yoon seakan tidak tahu Korea bahkan Inggris atau mungkin ia benar-benar tidak tahu. Wajar jika masih ada beberapa orang di dunia yang tak tahu Korea, tapi bukankah Mi Yoon berbahasa Korea? Dan Inggris? Rasanya, hampir seluruh negara pernah mengecap pahitnya dijajah oleh Inggris.

Semua fakta yang menurutnya tidak masuk akal membuat kepala Aeri terasa pening.

Jadi, sebenarnya ada dimana Aeri?

 

© The Pulchra Bridge ©

“Bagaimana menurutmu?”

“Apa?” Pemuda bersurai blonde melipat lengan kemeja hitamnya hingga siku tak lupa celana dengan warna senada yang juga dilipat sampai dengkul sebelum menginjakkan kakinya ke dalam aliran sungai yang tak terlalu deras.

“Tentang gadis itu.”

Chanyeol duduk dengan kaki terlipat silang di atas batu besar yang ada di sekitar sungai. Memperhatikan gerak gerik pemuda satunya yang tengah menggosok badan seekor kuda dengan beberapa helai daun yang diketahuinya mempunyai guna seperti sabun.

“Siapa?”

Pemuda bermarga Park menggerutu pelan atas sikap yang lebih muda yang seolah-olah tak tahu apa-apa, “Gadis berambut hitam yang kita temukan di hutan. Apa kau lupa?”.

“Oh, lalu?”

“Apa maksudmu dengan ‘Oh, lalu’?!” Chanyeol meniru ucapan lawan bicaranya dengan nada kesal. Sedang yang ditirunya hanya menengok sekilas lalu kembali sibuk memanjakan kuda peliharaannya, mengabaikan gaya bicara menyebalkan si pemuda Park. Yang justru membuat Chanyeol semakin ‘gemas’ dengan tingkahnya.

“Yak! Oh Sehun! Bagaimana mungkin kau bisa bertingkah seakan tak terjadi apapun dan malah sibuk dengan kuda jelekmu?! Jelas-jelas ada masalah besar di depan kita!”

Sehun berkomentar, “Kau berlebihan.”

Emosi terpendam dalam diri seorang Park Chanyeol semakin memaksa keluar. Jika ia tidak ingat siapa Oh Sehun dan bagaimana posisinya, tentu Chanyeol sudah memakannya hidup-hidup –kalau dia memang kanibal. Bukankah sikapnya wajar saja mengingat situasi yang tengah –atau akan- mereka alami. Sehun saja yang terlalu menyepelekannya, menurut Chanyeol.

“Harus ada yang kita lakukan, Sehun. Memulangkannya atau setidaknya membawa dia ke tempat yang aman. Kita tidak bisa diam saja dan membiarkannya berkeliaran sesuka hati.”

“Kakinya sakt, dia belum bisa berjalan untuk sementara waktu,” ucap Sehun memberi tahu. Chanyeol membenarkan serta memahami maksud pemuda yang dua tahun lebih muda darinya. Namun ia bingung bagaimana Sehun bisa tahu sedangkan tak pernah sekalipun Sehun menanyakan apalagi menengok keadaan gadis yang tengah mereka bahas.

“Tapi kita tetap harus membawanya pergi. Cepat atau lambat mereka akan mengetahui keberadaan gadis itu dan- oh! Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Kita benar-benar harus mencari tempat aman untuknya,” tegas Chanyeol tak lupa menekankan kata ‘harus’ di dalamnya.

Sehun menatap Chanyeol sejenak. Ia tahu bila ‘hyung’-nya yang punya kebiasaan santai dan cenderung sering bergurau sudah berbicara dengan mode serius, setiap kata yang ia katakan bukanlah main-main. Sehun menyudahkan kegiatannya memandikan kuda, membiarkan hewan kesayangannya mengeringkan diri, dan beranjak ke darat. Ia membenarkan pakaian yang dikenakannya sebelum duduk tak jauh dari Chanyeol.

“Apa kau sudah punya rencana?”

Pertanyaan tersebut membuat Chanyeol mendelik. Ia heran mengapa Sehun yang ia tahu sangat cerdas mendadak menjadi bodoh seperti itu. Kalau Chanyeol tahu apa yang harus ia lakukan, ia takkan susah-susah menanyakan pendapat dari Sehun. Otaknya terasa kusut dua hari belakangan ini memikirkan hal yang sama dan sekarang Sehun membuatnya pikirannya semakin berantakan.

“Kau bilang mau membawanya ke tempat aman ‘kan?”

Chanyeol menggerutu, “Aku sudah berkali-kali mengatakannya.”

Sehun mengabaikan gerutuan dan ekspresi sebal Chanyeol, “Kalau begitu bawa dia ke Das Schloss.”

“Das Schloss? Jadi kita harus membawa dia ke- tunggu! Apa tadi kau bilang?! DAS SCHLOSS?!” secara reflek Chanyeol berdiri dari duduknya. Sekarang ia benar-benar berpikir bahwa Sehun bodoh. Membawa gadis tersebut ke Das Schloss bukan mengatasi masalah melainkan menambah masalah.

“Kita memang harus membawanya ke Das Schloss.”

“Tapi-”

.

.

.

.

.

TBC

 

Author’s note :

Halo, saya kembali lagi bersama TPB. Sebelumnya mau minta maaf kalau chapter ini pendek atau masih membingungkan. Ini pertama kalinya saya buat fanfic yang ber-chapter jadi masih ‘agak-agak’ gitu deh :3 Tapi seiring berjalannya cerita satu persatu ‘rahasia’ juga akan terungkap kok. Sedikit informasi, tulisan yang dicetak miring dan rata tengah itu potongan masa lalu salah satu cast, ada yang bisa tebak siapa?

Karena saya masih terbilang baru di dunia per-ff-an, jadi mohon kritik dan sarannya ya😉

Jangan lupa, RCL please~😉

Thankseu! ^^

14 thoughts on “The Pulchra Bridge (Chapter 1)

  1. Sepertinya menarik apalagi aeri sedang diburu oleh orang yang berbahaya sehingga membuat sehun chanyeol dan mi yoon menyembunyikannya dan mereka belum mengatakan yang sebenarnya terjadi pada aeri

  2. Jd aeri trjebak d dunia lain,,, apkh mrk sadar klo aeri brbda dunia dgn mrka.. Nam miyoon baik bgt ya dgn aeri..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s