You’re My Virus: We’ve Meet (Chapter 1)

YOUREMAVIRUS

You’re My Virus: We’ve Meet

Author:
adindaramadhani / adindasone
(just call me adindasone)

Main Cast :
Park Chanyeol – Choi Haneul (OC)
Support Cast :
Byun Baekhyun – Oh Sehun – Yeri Red Velvet
seterusnya find it by yourself.

Genre: Romance – School Life – Fluff (Maybe) // Rating: PG-15 // Length: Chaptered.

Disclaimer:
FF ini murni hasil imajinasiku! Bila ada kesamaan ide atau kesalahan kata, mohon di maafkan karena semuanya hanya sebuah ketidaksengajaan.
FF ini pernah aku post di blog pribadiku http://adindaramadhani.wordpress.com/
RCL Juseyo!! ^^

“Perlu kamu ketahui, rasa ini tak akan pernah pudar seiring berjalannya waktu.”

* * *

Hari-hari telah berlalu. Aku disini hanya diam terpaku tanpa
melakukan apapun, membiarkan hati dan otakku ber-imajinasi,
membayangkan sosok lelaki yang terus bersarang di hati dan perasaanku.

Ini menyebalkan, kau tahu? Aku harus merelakan beberapa mata pelajaran
yang menganggur tak tercantum nilai satupun. Ini semua karna lelaki itu.
Menyebalkan.

Akhir-akhir ini aku benar-benar tidak fokus dalam belajar,
aku membiarkan otakku untuk ber-istirahat untuk pelajaran, tapi tidak
dengan lelaki itu. Aku sudah mencoba berulang kali meyakinkan diri bahwa,
“Ia tidak akan pernah melihat kearahmu. Jadi, berhentilah berharap!”
Tapi perjuanganku tak membuahkan hasil.

Bahkan untuk sekedar saling kenal kami tidak pernah.
Akulah yang berusaha mati-matian karena hanya ingin
mengetahui namanya saja.
Oke kini aku sudah kehilangan akal sehatku.

Ia benar-benar virus bagi hidupku, ̶̶̶ ralat, mungkin bagi sebagian gadis
di sekolah ini yang menyukainya.

Aku benci pada diriku sendiri, kenapa hati ini begitu spontan
saat melihat lelaki tampan semacam Park Chanyeol?
Aku tidak membenci orang tampan, aku benci kenapa aku menyukai
lelaki tampan.
Menyukai lelaki tampan penuh resiko, penuh dengan saingan, dan
itu membuatku selalu menyerah.
Maka saat itu aku bersumpah bahwa aku tak ingin tertarik pada lelaki tampan manapun.

Tapi apa daya? Naluri perempuanku keluar.
Dan untuk kali ini aku harus menyerah demi kemauan hati,
dan mengakui kenyataan bahwa aku menyukai Park Chanyeol.

―――

“Ah, membosankan sekali” Haneul menghela nafas pelan, memandang
malas sekitar halaman sekolah yang penuh dengan siswa dan siswi yang bermain di sana.

Tep.

Haneul merasakan sesuatu yang menepuk pundaknya.
Penasaran, Haneul memutar tubuhnya 180 derajat dari tempatnya berpijak.

“Annyeong. Kau, siswi dari kelas XI-1 kan?”

Suara berat terdengar jelas di hadapannya saat ini. Haneul terbelalak,
menatap si pemilik suara berat tersebut.
Bahkan gadis itu tak mengijinkan matanya untuk berkedip sedetik pun.

“Ya (Hei) Nona, kau mendengarku?”

Pria itu membungkuk seraya melambaikan tangannya berulang kali
di hadapan Haneul. Tak ada respon.

Namja itu menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.
Menatap Gadis ini yang sedari tadi menatapnya lekat dan tak mau
berkedip sekalipun.

“Nona” Namja itu menepuk pipi Haneul pelan berulang kali,
membuat Haneul terbuyar dari lamunannya.

“Ah, Ne (Iya). Kau tadi bilang apa?” Haneul terkekeh kecil.

Ya, Pabo! Kau pasti sudah terlihat sangat bodoh di depannya.

“Kau siswi kelas XI-1, bukan?”

“Ne, Aku Choi Haneul. Waeyo, Chanyeol-ah?”

Ups.

Haneul membelakangi pria yang bernama Chanyeol itu, menepuk bibir
nya pelan berulang kali. “Pabo-ya, Pabo!”

“Aigoo, kau tahu namaku” Chanyeol tersenyum jahil, menatap gadis yang pipinya kini sudah bak kepiting rebus, merah.

“Ya (Hei)! Jangan menatapku seperti itu! Ada apa memang kau menanyakanku?” Haneul menepuk dada bidang Chanyeol, mendongak menatap pria itu tajam. Membuat pria itu sedikit terhempas kebelakang.

“Oke, sudah-sudah. Begini, aku di tugaskan oleh Kim-seongsaenim untuk
mencari partner untuk menemani― ah tidak, maksudku mencari murid cerdas
di kelas XI-1 yang akan ikut aku dalam observasi di desa pedalaman. Hanya dua murid dari sekolah ini yang akan ikut, dan hanya beberapa guru saja yang ikut. Itupun kalau guru-guru bisa meluangkan waktunya untuk ikut dalam kegiatan observasi itu.”

Senyum tipis Haneul secara spontan terlukis indah di wajahnya mendengar kata-demi-kata yang di keluarkan dari bibir manis Chanyeol.
satu hal mulai bercabang di fikirannya.
“Ini baru awal semester genap, dan semester ganjil kemarin aku mendapat ranking satu. terimakasih Tuhan!”

“Jadi, apa ada murid cerdas di kelasmu? kalau ada siapa? Aku akan mencatat namanya dan akan langsung ku-ajukan ke Kim-seongsaengnim”

Chanyeol yang sedari tadi sudah siap dengan buku kecil dan pena di genggamannya itu tersentak begitu Haneul berteriak, “Aku, Park Chanyeol, Aku!!”

Chanyeol mengernyitkan dahinya, ia tampak ragu untuk menanyakan nama Gadis di hadapannya dan menulis namanya di buku kecilnya itu.

“Ya! Kenapa kau diam saja? Kau ragu?”

“Tentu saja aku ragu. Kenyataan yang keluar dari mulutmu seperti di buat-buat”

Tanpa berfikir panjang, Chanyeol memutar tubuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan Haneul.

“Yaaa! Kau tidak bisa mengandalkan siswa atau siswi lain di kelasku kecuali aku!” Suara Haneul begitu kencang sampai-sampai banyak pasang mata yang kini menatap kearahnya dengan tatapan tidak bersahabat.

Chanyeol tak memperdulikan Haneul yang sedari tadi meneriaki namanya.
Haneul hanya bisa meneriaki namja itu dari jauh,
entah mengapa kakinya menolak untuk berjalan menuju namja itu.
Suatu perasaan yang mengarah ke logika mulai muncul,
“Berhentilah mengejarnya, ia sama sekali tak akan menghadap kearahmu”

* * *

“Kim seongsaenim” Terdengar suara berat dari arah sana, membuat pria paruh baya itu memutar tubuhnya merasa ada yang memanggil namanya.

Ia mendapati namja yang kini berjalan menuju kearahnya, seraya membawa buku kecil dan pena yang kini berada di genggamannya.

“Eo, Chanyeol-ah! Bagaimana? Kau sudah mendapatkan partner untuk observasi-mu minggu depan?”

Belum Chanyeol membuka mulutnya, guru-nya itu sudah menyerbunya dengan berbagai macam pertanyaan.
Raut wajah Chanyeol sedikit kebingungan, ia menatap sekeliling-entah apa yang ia tatap.

“Belum”

Hanya kata itu yang bisa di keluarkan oleh namja bermarga Park itu.
Selain kata “belum” apalagi yang bisa ia keluarkan dari bibir manisnya itu?
Pria itu tak pandai berbohong.

“Ya! Aku sudah memberimu kebebasan untuk mencari partner-mu sendiri, baik itu laki-laki maupun perempuan, dan aku sudah menunggu jawabanmu selama tiga hari. Kau ini menganggapku apa? kau―

“Ne, Kim-seongsaenim (Ya, guru Kim). Aku benar-benar menyesal. Aku sudah berusaha mencarinya tapi belum ada yang pas buatku.”

Chanyeol membungkukkan tubuhnya, ia kehabisan kata-kata.
Ia benar-benar merasa bersalah. Selama ini Guru Kim selalu baik terhadapnya, bahkan untuk penelitian sepenting ini saja Guru Kim membebaskan namja itu untuk memilih partner-nya, dengan catatan siswa yang Chanyeol pilih harus siswa cerdas.
Wajar saja jika lelaki separuh baya itu merasa di permainkan.

Chanyeol belum beranjak dari tempat ia berpijak. Ia berfikir keras,
bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Sedari tadi ia hanya menundukkan kepala di hadapan Guru Kim.
Ada sesuatu yang ia fikirkan tapi ia tidak ingat apa itu.
Sampai akhirnya,

“Chanyeol-ah. Kau sudah bertanya pada salah satu murid kelas XI-1 belum?”

Nah!
Itulah yang sedari tadi ia fikirkan. Gadis itu, Choi Haneul.
Tidak, ia memikirkan Gadis itu karena semata-mata ucapan Haneul yang mengatakan dirinya lah yang paling pintar di kelasnya sendiri.

“Kim-seongsaenim”

“Hm?”

Chanyeol menatap sekeliling, berharap pembicaraannya tidak di dengar oleh siswa atau siswi manapun yang kini berada di sekitarannya. Ia mendekatkan jaraknya pada Guru Kim.

“Apakah Gadis bernama Choi… siapa tadi aku lupa. Ia bilang bahwa dirinya mendapat ranking satu di kelasnya, di kelas XI-1 saat semester ganjil kemarin. Aku sempat meragukan pernyataan Gadis itu karena pernyataannya seakan-akan di buat-buat” bisik Chanyeol.

“Ya! Pabo! Gadis itu terlalu polos untuk berbohong, Chanyeol-ah. Ia Choi Haneul. Gadis itu memang sering mendapat ranking satu di kelasnya.” jelas Guru Kim. Chanyeol mengangguk mengerti.

“Tapi tunggu. Ada apa dengan Gadis itu? Tidak biasanya ia mengumbar-umbarkan gelar ranking satunya pada orang lain. Ia sangat tertutup kecuali pada teman-teman dekatnya. Bagaimana bisa kau―

“Ani (Tidak) Kim-seongsaenim, ani! Percayalah padaku aku tidak melakukan apapun terhadapnya sampai ia berkata jujur seperti itu” Chanyeol menggeleng cepat sebelum Gurunya itu ber-argumen yang tidak-tidak terhadap dirinya.

Tidak biasanya katanya?
bagaimana bisa ia merubah sifatnya yang tertutup seperti itu saat pertama kali menatapku?
ini semua sulit di percaya.

Chanyeol bergelut dengan pemikirannya sendiri. Kini otaknya hanya terfokus pada sosok gadis bernama Choi Haneul itu.
bagaimana bisa?
Apapun pertanyaan yang setiap detik bercabang di otaknya, ia merasakan satu hal yang lain.
ia merasa ia begitu berharga di mata gadis itu.

Keheningan mulai menyelimuti. Chanyeol mulai berfikir apa yang akan ia lakukan. Siapa yang bisa ia andalkan?
Ah bukan, itu bukan pertanyaan yang tepat.
Yang benar, siapa yang bisa membuatnya nyaman selama observasi?

Kalau Chanyeol boleh jujur, namja itu memiliki maksud terselubung
dari pemilihan partner ini.
Yap, pertama. Namja itu menginginkan partner seorang wanita.
kedua, Chanyeol ingin mencari seseorang bisa membuatnya nyaman.
Bagaimanapun juga Chanyeol merupakan pria normal yang membutuhkan kenyamanan terutama dari seorang wanita.
Tapi sekali lagi, namja itu tidak memiliki niat untuk mesum.
“Jika mungkin nanti aku berbuat mesum, itu bukanlah kesalahanku. Salahkan naluriku”

Maksud terselubungnya itu bukan maksud yang sia-sia.
jika ia sudah nyaman, dan senang terhadap partner yang akan menemaninya nanti, itu akan mempermudah tugasnya.
karena nantinya tidak akan ada perpecahan masalah antara Chanyeol dan partnernya nanti.

“Aaahh! Kenapa aku baru memikirkannya”

Suara Guru Kim membuatnya tersentak dan di detik itu juga lamunannya telah berpencar entah kemana. Guru Kim menepuk dahinya berkali-kali.

“Kenapa, Kim seongsaenim?” Chanyeol menatap Guru Kim penuh dengan rasa penasaran.

“Ya, Chanyeol-ah! Bagaimana kalau partner untuk menemani observasimu nanti… Choi Haneul?”

“M..m..mwo?” Chanyeol terbelalak mendengar perkataan Guru Kim.

Kenapa jantung namja itu dua kali lipat berdetak lebih kencang dari biasanya?

“Yaa…, apa buruknya seorang Choi Haneul? Dia cantik, meskipun terlihat sedikit berantakan. Tapi ya, Haneul itu cerdas. Bukankah aku menyuruhmu untuk mencari murid yang cerdas?”

“Tapi seongsaenim…―

“Ah, ah, ah! aku tidak menerima sebuah penolakan. Salahmu sendiri, kau terlalu lamban. Aku harap kau bisa bekerja sama dengan Choi Haneul”

Tanpa berfikir panjang Guru Kim meninggalkan Chanyeol yang kini sekarang
masih mematung dengan pemikiran aneh-aneh yang kian menghujam otaknya.
Tapi, ada sepercik rasa senang disana.

―――

Tok Tok Tok!

“Masuk saja!” Teriak salah satu murid di kelas XI-1.

Krek…

Pintu kelas XI-1 terbuka, menampakkan sosok namja yang tengah melangkah masuk menuju kelas itu.
Para yeoja di kelas tersebut mulai berbisik-bisik, sesekali diantara mereka meneriakkan nama namja tersebut.

“Ya! Diam dulu! Berisik sekali kau ini” Haneul memukul puncak kepala Yeri, teman sebangkunya yang sedari tadi berteriak meneriakki nama namja yang baru saja masuk ke kelas mereka.

Beberapa pasang mata kini menatap namja itu dengan penuh fokus,
tak terkecuali Haneul yang seolah-olah tak memperdulikkan namja itu.
Haneul berusaha menghindarkan kontak mata dengan namja itu.

Naif memang, saat setiap yeoja meneriaki nama namja itu karena ketampanannya, Haneul justru terlihat acuh tak acuh.
Berteriak histeris saat melihat lelaki tampan bukanlah gayanya.
Tapi, namja yang berdiri di kelasnya ini ialah lelaki pujaannya.
Tahukah kau betapa berjuangnya aku untuk terlihat tak perduli di depan orang yang aku suka? Sungguh menyedihkan.

“Annyeong haseyo” Namja itu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat sebelum akhirnya para murid kelas XI-1 membalas dengan bungkukkan ringan.

“Aku Park Chanyeol dari kelas XI-4. Aku ditugaskan untuk memanggil Choi Haneul. Choi Haneul, kau di panggil oleh Kim-seongsaenim”

Haneul terus menggerakan badannya kekanan kekiri tak memperdulikan keadaan sekitar. Ya, Haneul menggunakan earphone dan tidak mendengar keadaan sekitar. Bahkan Haneul tidak sadar bila kini semua teman-temannya menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.

“Ya! Haneul-ah!” Yeri menepuk kencang bahu Haneul, membuat matanya membelalak kaget dan spontan melepas earphone yang sedari tadi menempel di telinganya.

“Ya! Nappeun yeoja! (Bad girl!) Tak bisakah kau menghargai seseorang yang sedang berbicara di depan kelas, eoh?” cibir ketua kelas XI-1, Kim Hyunra.

“Ya!! Neo (Kau) !!… Aish” Haneul menghentikan kalimatnya begitu semua murid di kelasnya menatapnya geram.

“Maaf, Choi Haneul. Tapi kau harus ikut aku, Kim seongsaenim memanggilmu”
Chanyeol mengulangi perkataannya diikuti dengan Haneul yang kini berdiri dan berjalan menghampirinya.

“Kajja (Ayo). Aku tak suka di tatap seperti itu oleh mereka”

DEG!

Chanyeol merasakan ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh daerah tubuhnya, sesaat Haneul menarik pergelangan tangannya erat dan membawa dirinya keluar dari kelas gadis itu.

Entah apa yang ada di otak Haneul sampai-sampai gadis itu dengan beraninya menarik pergelangan Chanyeol. Apa ia lupa akan rasa sukanya?
entahlah, yang ia rasakan hanyalah ia sudah menjadi gadis tidak waras karena terlalu menggilai Chanyeol.

Tak satupun dari mereka yang berniat untuk melepas genggaman erat Haneul, baik Chanyeol maupun si pemegang lengan itu sendiri.
Mereka terlarut dalam rasa nyaman masing-masing, meskipun hanya genggaman erat yang mungkin sesekali akan merasakan sedikit sakit bagi si pemilik lengan.

Kenapa jantungku begitu berdebar hanya sebuah genggaman dari nappeun yeoja seperti Haneul?
Bahkan, oh, lihatlah, bahkan rambut gadis itu tidak tertata dengan rapi.
Tapi…, aku tak bisa menampik bahwa Haneul memiliki kecantikan yang alami.

Haneul menghentikan langkahnya, membuat Chanyeol yang berada di belakangnya juga ikut menghentikan langkahnya.
Haneul melirik ke sebelah kanan, mendapati tangannya yang sedari melekat menggenggam namja berparas imut itu.
Spontan gadis itu melepaskan genggamannya dari lengan Chanyeol.
Terlihat raut kekecewaan disana.

“Eo. Jeongmal mianhae” Haneul membungkuk ringan kearah Chanyeol, di ikuti dengan anggukan Chanyeol pertanda tidak apa-apa.

“Kajja”

Chanyeol melangkah mendahului Haneul yang sedari tadi berada di hadapannya.
Bukannya mengikuti, gadis itu malah mematung, tak mengikuti pergerakan kaki Chanyeol yang mengarah menuju ruang guru.

Chanyeol yang sudah terlampau jauh kemudian berhenti, memutar tubuhnya dan mendapati Haneul tidak ada bersamanya.
Chanyeol mengbuang nafasnya kasar sebelum namja itu kembali ketempat dimana tadi Chanyeol dan Haneul berhenti sesaat hanya untuk melepaskan genggaman.

Benar saja, nampak sosok gadis yang masih mematung di tempat sebelumnya, dan itu ialah Haneul. Ia benar-benar diam, membuat Chanyeol sedikit bergidik ngeri melihat perubahan aneh Haneul.

“Ya! Gwenchana?” Chanyeol mendaratkan kedua telapak tangannya pada bahu Haneul dan menggoyang-goyangkannya, berharap gadis itu tersadar dari lamunannya.

Haneul mengerjapkan matanya berkali-kali begitu gadis itu tersadar jarak wajah Chanyeol dengannya terlampau begitu dekat,
bahkan gadis itu bisa merasakan hembusan nafas Chanyeol.
Membuat jantung Haneul berdegup tidak karuan.
Dan, oh…, lihat tatapan itu. Benar-benar tatapan yang dalam.
seperti seorang laki-laki yang khawatir terhadap gadisnya.

Apa? Gadisnya?…

“N..ne. Aku baik-baik saja” Ucap Haneul seraya melepas pelan telapak tangan Chanyeol yang sedari tadi berada di bahunya, dan mengembalikannya pada tempat asalnya.

“Kau ini kenapa? Tiba-tiba mematung saat aku berjalan mendahuluimu”

Tatapan Chanyeol berubah menjadi tatapan menerawang.
Lagi-lagi Haneul dibuat salah tingkah oleh namja ini. Kedua tangan namja itu mendarat di pipi mulus Haneul, bahkan sesekali namja itu mencubitnya pelan.
Ya, kau fikir pipiku ini mainan?!

“Pipi kau ini membuat orang ingin mencubitnya” Chanyeol tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.

“Ya! Jangan berani-beraninya kau!” Haneul menghentakkan tangan Chanyeol kasar setelah namja itu berlama-lama mencubit pipi Haneul.

“Yaa…, nappeun yeoja”

Perkataan Chanyeol membuat Haneul mendengus kesal.
Gadis itu memukul dada bidang Chanyeol.

DEG.

Haneul merasakan kedua pergelangan tangannya di genggam oleh Chanyeol.
Kini namja itu menatap Haneul dengan tatapan yang sulit di jabarkan.
Haneul mendongak, mendalami tatapan Chanyeol.
Namun disaat yang bersamaan, Chanyeol tertawa pelan yang sedari tadi sempat ia tahan.

“Ya! Apa yang kau tertawakan, eoh?” Haneul menatap Chanyeol geram. Pria itu tak bergidik ngeri, justru malah memperkeras tawaannya.

“Ya… pipimu merah sekali, bak kepiting rebus” Chanyeol sudah tidak tahan lagi, pria itu terbahak-bahak sampai mengeluarkan airmata.
Disaat yang bersamaan Haneul dengan cepat menepuk kedua pipinya kasar.
Ya, Haneul-ah! itu sungguh memalukan! Pabo-ya!-batin Haneul.

“Jangan meledekku seperti itu! Hiks” Tanpa Haneul sadari, gadis itu meneteskan airmatanya untuk yang pertama kali di hadapan seorang namja.
Haneul menutup matanya dengan kepalan kedua tangannya.

“Haneul-ah…” Suara berat Chanyeol terdengar. Chanyeol mengangkat tengkuk Haneul dan,

Chup.

Bibir Chanyeol mendarat manis di bibir Haneul. Hanya kecupan selama lima detik saja, tidak lebih.

Walaupun hanya lima detik, itu benar-benar sangat berarti bagi Haneul.
Jantungnya berdegup tidak karuan, darahnya kian berdesir, keringat dingin mulai bercucuran melalui pelipisnya.
Gugup? Ya, gugup.

“Sudah merasa lebih baik?” Chanyeol menatap Haneul dalam, menyiratkan beberapa makna disana namun sulit untuk di jabarkan.

Haneul hanya mengangguk, dan mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan.
ia kelewat gugup, pipinya kian memerah, ia tak tahu harus berbuat apa.
Belum lagi jarak Chanyeol dengan gadis itu masih terlampau dekat.
Haneul tak tahu harus berbuat apa setelah ini.
Bahkan ia pun tak sanggup untuk menjauhkan jaraknya dengan Chanyeol.
Terlalu gugup, juga terlalu nyaman.

Chanyeol sedari tadi terdiam pun akhirnya angkat bicara,
“Kajja, kita sudah terlalu lama menghabiskan waktu disini”

Chanyeol menarik lembut tangan Haneul, menuntun gadis itu sampai ruang guru.

“Kau masuk duluan” Haneul melepaskan genggaman Chanyeol dari tangannya.
Ia masih terlihat kikuk setelah kejadian tadi.

“Oke” Tak perlu berfikir panjang, Chanyeol berjalan duluan memasuki ruang guru dan meninggalkan Haneul yang masih tertinggal di belakangnya. Pria itu tak khawatir, karena ia yakin pasti Haneul akan mengikutinya untuk memasuki ruang guru.

Pintu ruang guru tertutup, tetapi Haneul belum juga masuk ke ruang guru.
Ia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal,
bukan karena kelelahan, tapi karena gugup.
Setelah di fikir cukup, akhirnya gadis itu memantapkan niatnya untuk memasuki ruang guru.

“Annyeong” Haneul membuka pintu ruang guru, dan membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan para seongsaenim-nya.

“Haneul-ah! cepat kesini!” seru Kim-seongsaenim yang sudah melambai-lambaikan tangannya kearah gadis itu.

Haneul melangkahkan kakinya menuju Kim-seongsaenim, mendapati raut wajah gurunya yang terlihat sumringah itu.

“Langsung to the point saja. Tidak keberatan kan jika aku menunjukmu sebagai partner Chanyeol untuk observasi?”

Haneul membelalakkan matanya tak percaya. Haneul menelan salivanya.
Demi apa ia bisa menjadi partner Chanyeol? Untuk observasi? Selama seminggu?
Gadis itu ingin sekali teriak sekarang, namun mengingat dimana ia sekarang maka gadis itu menahan teriakannya yang sebenarnya sudah tidak bisa di tahan lagi.

“Ne, Kim-seongsaenim. Aku akan memberikan yang terbaik, aku tidak akan mengecewakanmu!” Ucap Haneul begitu antusias tanpa menoleh kearah Chanyeol sedetikpun.

* * *

Haneul PoV

“Langsung to the point saja. Tidak keberatan kan jika aku menunjukmu sebagai partner Chanyeol untuk observasi?”

DEG.

Aku menatap Kim-seongsaenim tak percaya.
Ya, bagaimana bisa? Tapi, itu tidak penting. Yang penting semua ini memberikanku rasa yang benar-benar… ah, aku sulit menjabarkannya.
Ini terlalu membuatku senang.

Ditambah dengan kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan.
Ciuman pertamaku dengan tuan Park Chanyeol.
Hanya kecupan biasa, tidak lebih.

Aku tidak bisa mencegah apapun saat itu, bahkan saat wajah Chanyeol mendekati wajahku aku hanya bisa terdiam,
entah bodoh, atau pasrah.
Tapi mungkin untuk kedua kalinya aku akan mencegah semua hal itu terjadi.
Bagaimanapun juga, aku mempunyai harga diri, dan
Chanyeol juga lelaki normal.
Ia bisa menyerangku kapan saja jika ia tidak bisa menahan dirinya.

-back to the story-

“Ne, Kim-seongsaenim, aku akan memberikan yang terbaik. Aku tidak akan mengecewakanmu!” Ucapku pada Kim-seongsaenim.

Guru Kim tersenyum, ia nampak sumringah.
Sebegitukah inginnya dia untuk menjadikanku sebagai partner Chanyeol?
Ku harap begitu.

“Aku rasa urusan kami sudah selesai, Kim-seongsaenim. Aku pamit ke kelas dulu” Chanyeol membungkukkan badan, lalu memutar tubuhnya dan melangkah pergi keluar dari ruang guru. Bahkan namja itu tak menolehku sama sekali. Apa ia lupa dia kesini dengan siapa?!

“Ya! Chanyeol-ah! tunggu aku” Aku berlari kecil kearah Chanyeol. Namja itu menoleh kebelakang, raut wajahnya terlihat datar.

Chanyeol berjalan membelakangiku, akupun hanya menatapnya dari belakang.
Memuji setiap lekukan tubuhnya yang terlihat bagus dan proporsional.
Bajunya sedikit kebesaran memang, tapi itu tidak menutupi setiap
bentuk tubuhnya yang patut untuk di puji.
Chanyeol-ah, kau benar-benar…. Virus.

“Ya, bisakah kau berjalan beriringan? Lama-lama aku merasa tidak nyaman” Tanpa berfikir panjang Chanyeol menarik tanganku dan membuatku berjalan beriringan dengannya.

Perbedaan tinggiku dengannya benar-benar jauh, membuatku sedikit tidak percaya diri saat berjalan beriringan dengannya.
Tapi, apa peduliku? Rasa nyaman ini membuatku buta oleh semuanya.

* * *

7 days later

Ponsel Haneul bergetar di atas meja, membuat suara getaran itu terdengar nyaring dan membangunkan Haneul dari tidur lelapnya.

“Aigoo, siapa yang menelepon sepagi ini”

Haneul meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dengan mata yang masih menyipit ia berusaha membuka matanya dan menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya.

Dari Chanyeol.

“Yoboseyo (Hallo)?”

“Ya! Kau baru bangun tidur ya? Kau tidak ingat ini hari apa, eoh? Cepatlah mandi dan bergegas!” terdengar suara nyaring dari seberang sana, membuat Haneul menjauhkan jarak ponselnya dengan telinganya.

Ia masih berfikir, dan mengingat-ingat hari apa ini,
dan ada kegiatan apa ini.

Ia menoleh kearah jarum jam yang melingkar di tangannya.
Pukul 6.30 pagi.

Haneul membelalakkan matanya dan langsung loncat dari dari tempat tidurnya.
Tak lupa untuk memutuskan sambungan teleponnya dengan Chanyeol.
Ia menyambar handuk yang tergeletak di kursi belajarnya dan bergegas menuju kamar mandi.

Haneul keluar dari kamarnya, menyambar beberapa pakaian yang akan ia kenakan. Setelah dirasa selesai, Haneul menyambar ponsel yang tergeletak di kasurnya dan menekan nomor telepon seseorang,
Park Chanyeol.

“Chanyeol-ah! aku sudah selesai! Kerumahku sekarang!” Ucap Haneul tergesa-gesa.

Ia memakai setelan t-shirt hitam dengan celana jeans, sneakers putih, di balut dengan jaket parka berwarna navy dan lilitan scarf di lehernya.
Karena saat itu cuaca sedang dingin.

Haneul menyambar tas gemblok yang tergeletak di lantai kamarnya,
tidak lupa menarik dorongan koper dan membawa koper dan dirinya keluar dari kamar.

Langkah Haneul terhenti begitu merasakan ponselnya bergetar di sakunya.
Ia merogoh kasar sakunya dan menggeser tombol hijau di ponselnya.

Dari Chanyeol

“Haneul-ah, aku sudah berada di depan rumahmu”

“Arasseo. Aku akan kesana” Haneul memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas keluar dari rumah.

Haneul mendapati Chanyeol yang kini tengah memarkirkan mobilnya di depan rumah gadis itu. Membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada gadis itu, tidak lupa melemparkan senyuman tipis untuk Haneul.

Untuk yang kesekian kalinya, demi apa ia saat ini serasa ingin melayang mendapatkan senyuman manis dari manusia tampan itu secara cuma-cuma?

Tidak, tidak.
Haneul menggelengkan kepalanya, menepis jauh-jauh pemikiran aneh-aneh yang mulai bercabang di pikirannya.
Chanyeol itu kan murah senyum, bahkan pria itu di juluki sebagai “Happy Virus”, jadi wajar saja jika Chanyeol melempar sebuah senyum untuk Haneul,
karena semata-mata itu bentuk sebuah keramahan dirinya terhadap setiap orang.

“Masuklah”

Haneul melangkahkan kakinya menuju pintu mobil Chanyeol.
Baru saja gadis itu mendaratkan pantatnya ke jok empuk mobil milik Chanyeol, sesuatu dari belakang mengangetkan dirinya.

“Ige mwoya?!!!”

Ia mendapati dua namja dan 1 yeoja yang duduk di jok belakang Chanyeol.
Ketiga orang itu hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi mereka.

Fin

Or

TBC?

Annyeong! Maafin aku dengan cerita yang absurd ini ya hehe. Butuh banget komen dan saran kalian. Thanks banget yang udah mau baca hehe, RCL juseyo! ^^

Iklan

3 thoughts on “You’re My Virus: We’ve Meet (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s