I Love My Father (Chapter 2)

PhotoGrid_1446989518098

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

“Hei apa kau senang?” Tao melihat keadaan YoungAh yang sangat gembira. YoungAh sama sekali tidak menghilangkan senyum indahnya itu.

“Pastinya! Aku sangat senang karena hari ini aku bertemu dengan Ayah ku!” Tao menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil melihat kelakuan YoungAh. Sedari tadi ia terus memeluk boneka pemberian dari Tao dan tak melepaskannya. Sedangkan Tao sendiri yang melihatnya hanya bisa bangga karena hadiah pemberiannya bisa diterima baik oleh keponakannya.

“Paman?” YoungAh menengok kebelakang dan mendapati Tao sedang sibuk merapikan perlengkapannya. “Kau sedang membereskan pakaian ku ya? Aish kau ini! Kenapa kau tak bilang padaku? Kalau kau bilang, aku akan membantu mu!”

“Terlambat! Aku sudah selesai.” Tao menutup resleting tasnya yang berisi pakaian YoungAh. “Lagi pula barang-barangmu hanya sedikit. Aku hanya membelikanmu selimut, jaket, pakaian panjang, sweater, dan pakaian dalam.”

“Hei paman! Kau tak usah menyebut pakaian dalam ku juga!” YoungAh mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada nya.

“Memang kenapa? Hei! Kau harus menghargai pemberian dari ku! Jangan lihat dari harga nya! Tapi lihat dari perjuangannya!” Tao pun tak kalah kesal dengan YoungAh. Dan YoungAh pun siap membalas argumentasi dari pamannya. Bukan YoungAh namanya kalau ia kalah berargumentasi.

“Berjuang? Apa membeli pakaian dalam butuh perjuangan? Hei! Ini bukan zaman penjajahan!”

“Kau tak ingat kalau aku ini laki-laki sedangkan kau perempuan? Saat aku membelikan pakaian dalam untuk mu, aku diperhatikan oleh ibu-ibu dan 1 anak kecil. kau tahu apa yang anak kecil itu katakan? Dia mengatakan ‘Paman! Kenapa kau membeli bra? Untuk apa? Apa itu untuk kau? Kau kan laki-laki!’ aishh aku malu tahu!” YoungAh memasang muka datar saat pamannya bercerita.

“Kenapa kau tak bilang kalau barang itu buat ku?”

“Aku sudah terlanjur malu karena ucapan anak itu!”

“Salah mu sendiri tidak memberitahu kebenaran yang sesungguhnya!” Tao menghirup nafasnya panjang. Ia benar-benar kalah dalam argumentasi kali ini.

“Ya ya baiklah! Aku salah!” mengalah. Itu lah yang Tao lakukan. Ia juga bingung mau menjawab apa untuk membalas argumentasi YoungAh. “Ayok kita berangkat! Kau tak mau bertemu Ayahmu?”

“Aku mau!!” seru YoungAh memancarkan senyum yang tadi hilang akibat beradu argumentasi dengan Tao. “Ayokk..!!” YoungAh mengamit tangan Tao dan segera keluar dari ruang inap nya dan menuju ke mobil Tao.

***

Seorang lelaki tampan memasuki ruang kamar yang tak berpenghuni. Kamar yang berdominasi berwarna biru dan putih dengan gambar beruang terlihat rapih sekali. Karena si empunya rumah selalu membersihkan kamar ini walaupun yang punya kamar sendiri sudah tak ada. Bukan berarti orang tersebut sudah tiada, mungkin ia masih ada, tapi entah dimana ia berada. Suara hembusan angin yang berasal dari jendela yang terbuka, dengan dilapisi gorden berwarna kuning, dan dipadu dengan warna putih bergambar bintang, yang menyambut datangnya lelaki jangkung dengan wajah baby face nya. Ia sudah punya anak 1, tapi wajahnya terlihat seperti anak umur 17 tahun.

Ia menghampiri sebuah frame dengan foto dirinya bersama anak kecil yang sedang di ayunan. Ia melihat anak itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingat, betapa indahnya kenangan yang ada di foto tersebut. Ingin sekali ia mengulang kenangan tersebut dan tak akan ia biarkan kesalahan fatal itu terulang kembali.

“Dimana kau sekarang nak? Ayah merindukanmu!” setets air mata jatuh membasahi frame tersebut. Ia langsung membersihkan air mata nya lalu memeluk frame itu erat. Semakin erat pelukannya, semakin deras air mata yang keluar dari mata indahnya.

‘Aku seperti hidup di tempat yang tak berpenuhi. Tempat yang belum di sentuh oleh manusia. Seperti hidup ditempat asing. Aku seperti di asingkan dari tempat ini. Pernyataan itu yang selalu berputar-putar di otakku. Kehilangan seorang istri dan anak. Aku benar-benar terpukul karena hal itu. Aku mencintai istri ku dan anakku, begitu juga sebaliknya. Tapi kenapa mereka menghilang dari kehidupanku? Mengapa ia tega meninggalkan aku sendirian di tempat ini! Di bumi ini! Kalian tahu? Aku kesepian disini! Tak ada pendamping hidup! Tak ada yang membuat ku ceria! Semua pergi! Anakku! Putri ku! Kau lah harapan ku satu-satu nya! Sampai saat ini aku masih menunggu dan tetap optimis kau masih ada di dunia ini dan tak menyusul Ibu mu. Temani Ayah disini anakku!’

            Ia memutari tempat tidur yang ada di kamar tersebut. Memutarinya sampai ia menemukan frame subuah foto seorang perempuan. Perempuan yang selalu menemani hidupnya dan memberikan nya seorang bidadari kecil yang teramat mirip dengannya. Seperti reinkarnasi. Ia memandangi frame foto tersebut tanpa berkedip. Ia tak mengeluarkan air mata karena air mata yang telah ia berikan kepada perempuan tersebut sudah habis terkuras. Setiap ia pergi ke kamar nya sendiri, foto pernikahannya terpampang jelas didalam nya. Dan pada saat itu yang ia lihat hanyalah foto istrinya, dan tak lama kemudian bulir-bulir permata jatuh membasahi pipinya. Saat ia bangun tidur, ia juga sering menganggap bahwa istrinya masih ada dan selalu berucap ‘Selamat pagi Honey!’ lalu mengusap bantal yang tidak di tiduri siapa pun. Dan saat itulah ia pun menangis sekencang kencangnya bahwa kenyataan pahit telah dialaminya.

“Kau tahu? Sahabat ku dan sahabatmu sewaktu SMA menemukan anak kita! Aku benar-benar tak menyangka bahwa ia dapat menemukan anak kita kembali!” lelaki itu mengusap frame foto tersebut dan tersenyum pedih. “Aku tak sabar melihat anak kita. Aku ingin melihat wajahnya yang merupakan reinkarnasi dirimu! Pasti dia tumbuh menjadi anak yang cantik dan manis. Sama seperti dirimu!” dan terakhir, ia memeluk frame foto tersebut seakan-akan ia memeluk istrinya. “Tapi, aku tak tahu pasti kapan ia menyerahkan anak kita! Dia berubah! Aku tak tahu apa yang merasuki jiwanya sampai ia menjadi dingin seperti itu.”

***

YoungAh dan Tao duduk berdiam tanpa mengeluarkan suara. Mereka berdua fokus pada pikirannya masing-masing. Tapi, YoungAh benci suasana ini. Tak ada satu kata pun keluar dari bibir mereka, dan itu yang membuat YoungAh tak nyaman. YoungAh terus menerus mengubah posisi duduknya. Walaupun ia sudah nyaman, tapi tetap saja hatinya tak nyaman.

“Aku benci suasana seperti ini.” Akhirnya YoungAh lah yang memulai percakapan. Ia sudah terlanjur kesal pada paman nya karena tak memulai percakapan terlebih dahulu. Ya begitulah wanita. Wanita selalu ingin lelaki dulu yang memulai.

“Kenapa kau harus benci? Sebentar lagi kan kau ingin bertemu dengan Ayah mu!” jawab Tao dengan senyum nya. Walaupun sekarang YoungAh telah dirundung rasa kesal dan terus memalingkan wajah dari Tao. Ia lebih suka melihat pemandangan di luar jendela daripada harus melihat wajah paman nya yang tampan tetapi membuatnya jengkel.

“Bukan itu maksudku!” YoungAh berhenti sejenak. Lalu ia menghembuskan nafas panjang sambil menoleh kearah paman nya. “Aku benci suasana mencekam seperti ini! Aku dan kau berada di mobil yang sama. Tapi kau tak mengeluarkan 1 kata pun. Kau tak ingin menanyakan sesuatu hal padaku?”

“Kau juga tidak mengeluarkan 1 kata pun.” Tao tertawa kecil karena ia mengalahkan argumentasi kali ini.

“Tapikan wanita ingin lelaki dulu yang memulainya.”

“Nanti kalau aku yang memulai duluan. Dan terus menanyakan suatu hal padamu, lalu terus berbincang-bincang tanpa henti, nanti kau malah tidak bisa melepaskanku karena terlalu nyaman bersamaku! Nanti kau malah menyuruh Ayahmu untuk membiarkanku tinggal bersama kau dan Ayahmu.”

“Memang kenapa? Bukankah itu bagus?”

“Itu menjijikan!” Tao terlihat meremehkan perkataan YoungAh. YoungAh terlihat bingung untuk mendeskripsikan kata ‘Menjijikan’ yang keluar dari bibir paman nya. “Aku tak ingin tinggal bersama Ayah mu yang merupakan tuan rumah. Aku bukan guy ya! Aku laki-laki normal yang mencintai perempuan. Kalau aku tinggal dengan Ayahmu, pasti Ayahmu menyuruhku untuk tidur satu kamar dengannya. Aishh tidak tidak!! Itu merupakan mimpi buruk!” YoungAh memandang aneh paman nya yang ubnormal. Kenapa hal kecil tersebut dibuat besar olehnya?

“Kau ini berlebihan. Dan tingkat pedemu sangatlah tinggi. Bahkan tingkat pede mu ini sampai menjulang tinggi dan menembus atmosfir bumi.” Dia menggerakkan tangannya keatas saat mengucapkan ‘menjulang tinggi dan menembus atmosfir bumi’

“Sekarang siapa yang berlebihan? Kau? Atau aku?” YoungAh mulai berfikir sambil memainkan telunjuknya di dagu nya. “Kau menggunakan majas parabola. Kau tahu majas parabola? Majas yang dilebih-lebihkan! Seperti perkataan mu barusan! Kau bilang tingkat pede ku tinggi sampai menembus atmosfir bumi. Apa kau bisa melihat tingkat pede ku dengan mata mu sendiri? Bukan feeling! Tidak bisakan? Aku saja tidak bisa apalagi dirimu.” Tao menyembunyikan tawa nya karena ia memenangkan argumentasi dengan YoungAh. YoungAh telah K.O karena serangan bertubi-tubi dari Tao. Ternyata, seorang pemenang argumentasi berturut-turut dapat dilumpuhkan juga.

“Apa kau punya foto Ayah ku? Aku ingin melihatnya di foto terlebih dahulu biar aku tidak kaget.” Mengalihkan pembicaraan. Itulah yang dibuat YoungAh. Sedangkan Tao hanya berkacak pinggang menanggapi hal tersebut.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku bukan guy yang menyimpan foto laki-laki. Aku lebih suka menyimpan foto wanita dibanding laki-laki.”

“Berarti kau playboy!” Tao membulatkan matanya kearah YoungAh. YoungAh hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi hal tersebut.

“Heii kau iniii…..!!” satu gerakan pasti. Tangan kiri Tao ia layangkan untuk menggelitik pinggang ponakan nya yang telah mengatainya ‘playboy’. Tapi sesungguhnya, ia sangat menyayangi ponakannya ini.

Tok.. tok.. tok..

Suara ketukan pintu telah dibuat oleh Tao saat mereka telah sampai di sebuah rumah minimalis bercat abu-abu yang sangat mewah. Detak jantung YoungAh berpacu sangat cepat, ia gugup untuk melihat wajah Ayahnya.

“Ya, siapa?” sang tuan rumah pun membuka pintunya. Ia terlonjak kaget saat mendapati Tao yang sedang tersenyum dihadapannya.

“Tao..” ia membulatkan matanya saat menyebut nama Tao. Ia teringat akan pesan Tao yang ia kirim kemarin. Ia beralih pandang ke seorang Wanita yang berdiri tak jauh dari Tao.

‘Apa itu YoungAh anakku? Dia benar-benar tumbuh menjadi Wanita yang cantik, sama seperti Ibu nya. Ya tuhan! Terimakasih telah mempertemukanku kembali kepada putri sulungku yang telah lama hilang. Termakasih tuhan!’

“Ya, Luhan. Sesuai janji ku kemarin, aku akan membawa putrimu kepadamu dalam waktu seminggu ini. Aku kira tak akan secepat ini, tapi ternyata tuhan berkata lain. Ternyata tuhan menghendaki kalian bertemu secepatnya. Kau sudah bertahun-tahun terpisah dari putri mu, sekarang aku membawa putrimu kembali ke pelukanmu.” Luhan tersenyum simpul saat mendengar tutur kata Tao. Matanya berbentuk eye smile, begitu tampan bagai malaikat.

“YoungAh! Kemari sini! Ini Ayah mu!” Youngah menghampiri Tao. Mensejajarkan diri nya disamping Tao.

YoungAh bertemu pandang dengan Ayah nya, Luhan. YoungAh memandangnya tak berkedip. Ayah nya memang sempurna, ia sangat tampan. Dengan matanya yang sipit, tapi akan terbentuk eye smile saat ia tersenyum ataupun tertawa. Bibirnya yang mungil juga tipis. Dan pipi yang chubby membuat ayah nya terlihat menggemaskan.

‘Apa benar ini Ayah ku? Ia jauh lebih tampan dibanding perkiraanku. Kalau Ayah ku seperti ini, bagaimana wajah Ibu ku?’ batin Youngah.

“Youngie..” Luhan memanggil YoungAh dengan nama kesayangannya dulu dan menghampiri YoungAh yang masih terus memandangnya lekat-lekat. Luhan menangkup wajah YoungAh sambil mengelus pipinya lembut. Matanya tak henti-hentinya menatap manik mata YoungAh intens. Memperhatikan wajahnya yang begitu ia rindukan.

“Kau benar Youngie putriku? Benarkah itu?” setetes air mata turun membasahi pipinya. YoungAh yang mendengar pertanyaan Luhan hanya mengagguk karena ia tak kuasa mengeluarkan satu kata pun.

Luhan menarik pundak YoungAh kepelukannya. Memeluknya erat tanpa mau melepaskannya. Tak ada celah yang dapat terlihat dari pelukan antar Anak dan Ayah. Mereka saling memeluk erat, seperti seseorang yang baru menemukan barang berharga. Airmata Luhan jatuh meluap kearah pipinya. Pipinya basah akan air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk matanya. YoungAh yang masih ada didekap Luhan hanya bisa tersenyum bahagia, ia tak mengeluarkan setetes air mata seperti Luhan. Ia menyuruh air matanya agar tak keluar disaat moment seperti ini. Tao yang berdiri didekat pintu hanya tersenyum dan mengeluarkan setetes mutiara bening dari matanya, setelah ia menyadari pipinya telah basah, ia langsung menghapusnya agar kedua orang itu tak melihatnya.

Luhan melepas pelukan tersebut. Ia menangkup wajah YoungAh setelah ia menghapus air matanya. Ia melihat putrinya secara mendetail. Melihat lekuk wajah putrinya yang terbentuk sempurna.

“Kau sangat cantik Youngie. Seperti Ibu mu, kau begitu….” suara Luhan berhenti. Ia menggerakan kedua bola matanya kekanan dan kekiri, melihat kearah manik mata YoungAh yang kanan maupun yang kiri.

‘Ada apa ini? Apa aku salah lihat? Kenapa wajah Youngie tidak mirip dengan YeRim? Padahal waktu ia kecil, ia terlihat seperti reinkarnasi YeRim. Tapi, kenapa sekarang berbeda?’ batin Luhan. Tapi ia buru-buru menepis pikiran negatif yang melanda otaknya.

            ‘Tidak-tidak! Youngie sudah tumbuh menjadi remaja. Perubahan fisiknya pun telah berubah menjadi lebih dewasa. Sekarang! Disini! Dihadapanku! Putri ku, Shin Young Ah telah tumbuh menjadi seorang remaja dewasa, bukan anak kecil seperti dulu. Ia tetap reinkarnasi dari istri ku Shin Ye Rim. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi YeRim. Tak akan kubiarkan kau lepas dari sisiku, karena aku akan senantiasa menjagamu. Tak akan ada yang berkurang atas rasa sayangku padamu.’ Luhan kembali tersenyum seperti beberapa menit yang lalu. Luhan kembali memeluk YoungAh sambil membelai rambutnya lembut

Deg deg.. deg deg..

            Suara dentuman jantung Luhan berbunyi. Ia tercengang dengan apa yang ia rasakan. Aliran darahnya berhenti berdesir. Sekujur tubuhnya kaku. Ia tak pernah lagi merasakan seperti ini. Ia menepis fikiran aneh yang selalu melintas dalam fikirannya.

Ia melepas pelukannya lalu mencium kening YoungAh. Ia memejamkan matanya begitu juga YoungAh. Kecupan tulus yang diberikan oleh Luhan kepada YoungAh. Kecupan sayang yang diberikan oleh Ayah kepada seorang Anak.

Deg.. deg.. deg..

            Kini, suara jantung YoungAh yang terdengar. Pacuan nya 2x lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Ini benar-benar ubnormal. Ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Ia terus mengendalikan dirinya, mengatur nafasnya senormal mungkin. Ia sangat sesak berada dalam situasi seperti ini. Ingin rasanya ia melepaskan tautan ini, tapi entah kenapa disatu sisi ia merasa nyaman dalam posisi ini.

“Selamat datang Youngie. Selamat datang dirumah ini, dan selamat datang pada kehidupan barumu.” Luhan tersenyum saat ia melepas kecupannya. Youngah pun ikut membalas senyuman dari Luhan.

“Kau masuklah duluan, nanti Ayah menyusul. Ayah ingin berbicara pada Tao.”

“Iya, Ayah.” YoungAh pun memasuki rumah tersebut. Tak lupa ia membungkuk dan berterimakasih kepada Tao atas semua kebaikan yang ia dapat.

***

YoungAh memasuki rumah Ayah nya, Luhan. Rumah yang begitu megah dan mewah. Didalamnya terdapat lukisan maupun foto yang terpampang rapih didinding. Manik mata YoungAh berhenti tepat di foto yang menampilkan sosok seorang laki-laki yang begitu tegapnya dan seorang perempuan dengan paras cantik yang mempesona. Senyum yang merekah manampilkan bahwa mereka –yang ada difoto itu- sangatlah bahagia. Dengan pakaian pengantin yang menutupi tubuh mereka.

YoungAh tersenyum saat mengetahui siapa yang berada di foto itu. Mereka adalah orangtua YoungAh, Luhan dan YeRim.

‘Apa benar itu eommaku Shin Ye Rim? Dia begitu cantik dan anggun.’ YoungAh menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang tak kalah indah dengan bulan sabit. Eommanya terlalu perfect di matanya.

“Hai Nona!” sapa seorang perempuan paruh baya membuyarkan fikiran YoungAh.

“Hai Bibi!” balas YoungAh sambil membungkuk.

“Selamat datang di rumah ini Nona. Nama saya Han Soo Ya. Saya adalah pembantu dirumah ini.” Sapanya ramah. “Dulu saya yang merawat Nona dari kecil.” lanjutnya.

“Benarkah? Bukan Ayah ku yang merawat?” tanya YoungAh dengan bibir yang berbentuk huruf ‘O’

“Tuan Shin kan bekerja. Bagaimana bisa ia merawat Nona? Ia pulang bekerja saja sudah larut malam, sedangkan Nona sudah terlelap. Tuan Shin hanya bisa merawat Nona saat ia libur saja. Selebihnya, Saya yang merawat Nona.”

“Oh begitu ya.” YoungAh mengangguk, mengiyakan perkataan pembantunya. “Apa itu Ibu ku?” tanya YoungAh sambil menunjuk foto yang sedari tadi ia perhatikan.

“Iya. Itu Ibu mu Nona, Nyonya Shin. Memang kenapa?” tanyanya asal.

“Dia sangat cantik…”

“Dan juga baik.” SooYa menyela perkataan YoungAh sambil tersenyum menatap manik mata YoungAh. “Dia juga ramah, sama sepertimu Nona!” SooYa mengelus puncak kepala YoungAh. “Kajja Nona! Kita kekamar mu!” SooYa mengamit tangan YoungAh dan menuntunnya sampai kekamar.

***

Luhan berjalan menghampiri Tao yang diam membisu. Tao sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun mengingat tadi bukan saat nya ia mengeluarkan suaranya.

“Tao! Terimakasih kau telah menemukan Anakku! Aku benar-benar berhutang padamu!”

“Tidak han! Ini adalah kewajibanku untuk menolongmu, karena kita sahabat! Benarkah itu?”

“Ne. Itu benar. Kau menemukannya dimana?

“Di Rumah sakit. Aku melihat ia tertabrak oleh mobil. Lalu aku membawanya ke rumah sakit. Dan pelakunya, sudah ditemukan. Tapi aku memaafkannya karena ia masih seorang pelajar.” Tutur nya panjang lebar.

“Kalau begitu, kenapa kau bisa yakin kalau Youngie yang kau bawa adalah putriku?”

“Sudah lah, jangan banyak bicara! Kalau kau tak percaya, aku akan membawa pulang anak itu!” Tao mulai menaikkan nada bicaranya. “Aku pulang!” ia pun berbalik memunggungi Luhan.

“Tunggu!” ucap Luhan menghentikkan pergerakannya. “Berapa yang harus aku bayar?”

“200 juta” jawabnya singkat.

“Aku minta nomer rekening mu. Biar kukirim uang itu”

“Nanti akan beritahu!” Tao pun pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Membuat siempunya rumah tercengang hebat.

‘Sifatnya memang tak berubah dari dulu. Sama saja seperti itu. Aku kira kau akan berubah saat kita bertemu nanti. Ternyata tidak! Sama saja! Aku rindu pada sosok Tao yang riang gembira. Tapi, kemana perginya sifatmu itu sahabatku??’

***

            YoungAh memasuki kamarnya yang berdominan berwarna biru. Terdapat walpaper dengan gambar boneka beruang. Begitu lucu dan menarik.

“Kita sampai dikamar mu Nona! Kamar yang dulu kau tempati. Dulu, Tuan Shin juga sering tidur dikamar ini untuk menemani mu.” SooYa menjelaskan kamar ini secara mendetail. Sedangkan si empunya kamar hanya memutar manik matanya untuk melihat seluruh isi kamarnya dan tidak begitu mendengar perkataan Pembantu nya.

YoungAh menghampiri meja lampu yang terdapat diedepannya saat ini. Ia melihat beberapa foto Luhan yang bersama dengan seorang anak kecil, yang sudah ia ketahui bahwa itu dirinya. Ada banyak foto disana, ada foto Luhan dengan anak bayi yang masih berada diruang bayi. Ada juga foto Luhan dengan anak berumur kurang lebih 1 tahun. Dan foto Luhan dengan seorang anak perempuan dengan umur sekitar 7 tahun. YoungAh mengambil foto dirinya saat ia berumur 7 tahun. Difoto itu terlihat bahwa dirinya sedang berada di ayunan dengan tertawa riang, sedangkan Luhan yang berada tepat di sampingnya tersenyum riang sambil memperlihatkan gigi-giginya. Ia tersenyum saat melihat fotonya yang terlihat begitu bahagia bermain dengan sang Ayah.

YoungAh meletakkan foto itu kembali pada tempat semula. Ia mengedarkan pandangannya ke meja lampu disisi kiri kasurnya. Dia menggerakan kakinya memutari kasurnya, melewati sang Pembantu yang berdiam diri di ambang pintu sambil melihat gerak-geriknya.

Dia melihat deretan frame foto dengan foto yang berbeda-beda. Deretan frame foto itu membuat hatinya sedih. Foto Luhan bersama YeRim yang sedang Hamil. Ada 3 foto disana, sama seperti sebelumnya. Foto Luhan bersama Yerim dengan usia kandungannya yang menginjak 5 bulan dan 9 bulan. Yang satu lagi foto Yerim sendiri, tanpa ada Luhan disampinya. Di foto itu, terlihat wajah Yerim yang begitu berbinar. Foto itu berukuran lebih besar daripada yang lain.

YoungAh mengambil foto YeRim yang berukuran lebih besar dari pada yang lain. Ia mengusap foto itu seakan-akan ia mengusap wajah Ibu nya. Ia tersenyum sedih bahwa kenyataan Ibu nya telah tiada. Meninggalkan dunia untuk selamanya. Setetes air mata jatuh menyentuh frame itu. Saat ia mengetahui benda bening itu jatuh, ia langsung menyikapnya agar air mata itu tak terlihat lagi.

“Tuan Shin sengaja memberikan ukuran foto Ibu mu lebih besar dan di letakkan di kamar mu agar kamu selalu ingat dengan Ibu mu!” sahut SooYa yang berada dibelakang YoungAh. Sedangkan lawan bicaranya hanya diam membisu, masih fokus dengan frame didepannya.

“Dulu sebelum kau tidur, kau selalu memeluk foto Nyonya Shin. Mau tidur siang ataupun tidur malam kau selalu memeluk fotonya. Setiap Nona ingin dibacakan dongeng oleh saya ataupun Tuan Shin, kau selalu memeluknya sampai kau bangun nanti. Setiap pergerakanmu, frame foto itu tak pernah terlepas dari pelukanmu. Kau selalu tidur lelap saat kau memeluk foto Nyonya Shin. Kau tak akan pernah bisa tidur tanpa foto itu.” Setetes air mata jatuh dari kelopak mata YoungAh. YoungAh tak bisa lagi menahan harunya saat mendengar ucapan Pembantunya. “Tuan Shin bahkan pernah menangis saat melihat apa yang Nona lakukan saat ingin tidur. Nona begitu mencintai Nyonya Shin walaupun Nona tak pernah bertemu sebelumnya. Ikatan batin yang sungguh teramat kuat.” Pundak YoungAh bergerak keatas dan kebawah. YoungAh menangis sejadi-jadinya. Cerita SooYa begitu sedih dan menyayat hatinya, hingga tangisnya menjadi sangat dominan di kamarnya.

SooYa hanya bisa berdiam diri dibelakang YoungAh. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi saat isak tangis YoungAh pecah begitu hebatnya. Ia bisa mengetahui bagaimana rasanya saat Ibu kita meninggal saat kita masih bayi. Masih belum mengenal sosok Ibu, merasakan cinta dan sayang dari Ibu, dan merasakan belaian lembut dari Ibu. Pasti rasanya sangatlah sedih. Maka dari itu, SooYa membiarkan YoungAh menangis sekencang-kencangnya.

“Saya permisi keluar Nona!” SooYa membungkuk hormat pada majikannya, setelah itu ia melenggak keluar dari kamar.

Didalam sana, YoungAh duduk ditepi kasur nya. Masih dengan mata sembab yang penuh air mata dan masih memegang erat frame foto Ibu nya. Isakan itu semakin deras seiring keluarnya SooYa dari kamar nya.

“Ibu, apakah yang dikatakan Bibi SooYa itu benar? Apa aku selalu memeluk foto mu saat aku ingin tidur? Apa benar aku melakukan itu setiap aku ingin tidur? Aku sangat menyayangi mu Ibu, benarkah? Ibu, temani aku disini. Aku ingin Ibu disisiku dan menemaniku. Aku ingin melihat wajah cantik Ibu. Aku ingin merasakan kasih sayang Ibu yang belum pernah ku dapati.” YoungAh langsung memeluk foto Ibu nya. Dan rasa hangat pun menjalar keseluruh tubuhnya. Ia membayangkan sesosok Ibu nya datang dan memeluknya erat.

Sepintas fikirannya kembali teringat dengan perkataan Tao.

‘Kau lihatlah dirimu dicermin. Kau sangat cantik. Dan Eommamu itu juga pasti sangat cantik.’ Ia langsung menghapus air matanya yang begitu membanjiri pipinya. Ia segera bangkit berdiri dan melangkahkan kaki kearah cermin lemari yang berada didepannya.

“Apa benar aku mirip sekali dengan Ibu?” YoungAh berbicara sendiri kepada pantulan dirinya didepan cermin.

Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ibu nya. Memperhatikan lekuk wajahnya dan Ibu nya. Manik matanya bergerak kearah kanan dan kiri melihat apakah ada yang salah dengan matanya?

“Ada apa ini? Kenapa aku sama sekali tidak mirip dengannya? Apa aku salah liat?” ia menggeleng kepalanya kuat. Ia meletakkan kembali frame itu dengan cepat kilat lalu mengambil foto Luhan dan Yerim.

Ia melakukan hal yang sama dengan yang tadi. Sesaat kemudian ia terduduk dilantai sambil menangis lagi, lebih kencang dibanding tadi. Foto kedua orangtuanya ia letakkan di bawah lantai. Ia terus memegang dada nya sambil terisak kencang.

Tok tok tok..

            Suara ketukan pintu berbunyi. YoungAh dengan sigapnya menghapus seluruh air matanya yang bercerai berai.

Seseorang masuk kedalam kamar YoungAh tanpa seizin empunya kamar, walaupun sebenarnya hak milik rumah ini adalah punya Ayahnya. Luhan masuk menghampiri anaknya yang teduduk lemah dilantai. Ia sudah mengetahui apa yang terjadi dikamar YoungAh dari pembantunya, makanya ia tak perlu khawatir melihat YoungAh yang bersedih seperti itu.

“Youngie kau kenapa?” Luhan merangkul bahu YoungAh sambil mengelusnya.

“Ayah? Kenapa aku tidak mirip dengan kalian?”

TBC

8 thoughts on “I Love My Father (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s