Live In You [One shot]

live-in-you-poster

Live In You

Author    :   Aurora Lu

Cast         :   1. Kim Joon Myeon

  1. Lee Son Hee (OC)

Genre      :   Angst

Rating     :   General

Author’s Note : FF ini pernah diposting di blog sebelah. Dan di antara keduanya, ada sedikit perbedaan di bagian akhir. Kebetulan yang di posting di sini itu sudah aku edit sedikit bagian akhirnya.

 

Happy reading All ^_^

 

Lee Son Hee, untuk kali pertama, ia akhirnya datang ke tempat ini. Menyeret langkahnya melewati lorong-lorong panjang yang menguarkan bau obat-obatan yang seolah datang dan menghambur dari segala penjuru arah. Ia menghela nafas berat berkali-kali. Tujuannya masih cukup jauh dari jangkauan daya lihat, namun langkahnya, makin kemari makin ke sini, sepertinya kian melambat.

 

Sungguh, jauh jauh sebelumnya, tak pernah sekalipun terpikir bahwa masa-masa seperti ini akan hadir dalam hidupnya. Satu babak kehidupan yang hampir menguras habis energi dan air matanya. Satu tahap kehidupan yang membuatnya selalu merasa bahwa ia benar-benar telah jatuh begitu dalam.

 

Ini tak pernah mudah baginya. Siapa yang menyangka, apa yang dulu terasa dan terlihat baik-baik saja, kini telah berubah menjadi luka dan derita.

 

Dan disinilah dia. Kamar rawat itu, kini berada tepat di depan mata. Tinggal menunggunya mengulurkan tangan membuka knop pintu. Sepuluh detik, dua puluh lima detik, empat puluh lima detik, hingga putaran jarum itu menggenapkan hitungannya di titik satu menit. Tak ada pergerakan apa-apa. Waktu berlalu dan ia hanya berdiri termangu dengan seraut wajah sendu yang terbingkai oleh mata yang sayu.

 

Ia masih tekun berdiri di sana ketika pintu itu tiba-tiba dibuka dari dalam. Terkejut, ia sedikit terhuyung ke belakang. Untungnya ia memiliki refleks yang cukup baik sehingga ia tak perlu mencicipi dinginnya lantai. Dan bersamaan dengan itu, seorang wanita paruh baya yang sudah sangat dikenalnya ikut terkejut dan kemudian dengan cepat mengulurkan kedua tangannya, berniat untuk membantu.

 

“Astaga… maaf, Nak! Aku mengagetkanmu,” ucap wanita itu tulus, nampak sedikit khawatir. “Aku tidak apa-apa, Bibi,” sambar Son Hee cepat, tak ingin membuat wanita itu semakin khawatir. “Syukurlah kalau begitu,” katanya lega yang hanya mampu dibalas Son Hee dengan seraut senyum lelah. “Kau sudah lama di sini?” wanita itu kemudian meraih lengannya dan membawanya duduk di kursi tunggu. “Baru saja,” jawab Son Hee sekenanya.

 

“Son Hee, kau tahu, Aku senang sekali, kau akhirnya datang kemari, Nak” ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Lingkaran hitam di bawah matanya kian nampak jelas. Son Hee bahkan baru menyadari jika wanita ini sekarang terlihat begitu tua dari yang seharusnya. Pipinya yang dulu cukup berisi kini menjadi begitu tirus. Kerutan pun seakan tak ingin ketinggalan untuk menghiasi wajahnya, seolah semua gurat kelelahan yang sudah ada belum cukup menyiksa.

 

Son Hee hanya mampu menatap wanita itu dengan nanar. Sejujurnya, ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi semuanya tertahan di pahit dan keringnya tenggorokan. Tak ada pilihan baginya selain menelan kembali semuanya.

 

Suasana kemudian berubah hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara derap langkah lalu-lalang berpadu dengan bunyi derit ranjang beroda yang kerap kali terdengar.

 

“Jadi.. bagaimana keadaannya?” Suara pertama dari Son Hee setelah sepuluh menit lamanya mereka dilanda kegaguan. “Tak pernah lebih baik,” jawab wanita itu. Son Hee tahu jawabannya akan seperti ini, tapi tetap saja, ini bukan jawaban yang ia inginkan.

 

“Son Hee…” Sebuah sentuhan lembut di bahu menyadarkannya dari lamunan. “Ya?”

“Aku ingin pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian. Kau masuklah ke dalam,” bujuk wanita itu penuh harap.

 

“Bibi…” dan belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, wanita itu dengan cepat menyela,

“Tidak apa-apa. Dia baru saja diberi beberapa suntikan. Sekarang ia sedang tidur. Jadi jangan takut. Masuklah,” ucapnya lembut, namun terdengar begitu mantap dan yakin.

“Bibi pulanglah. Aku akan menungguinya.”

“Dimana?”

“Di sini.”

“Son Hee…”

“Bibi…”

 

Untuk sejenak mereka berdua hanya saling berpandangan. Son Hee berusaha sebisa mungkin menarik segaris senyuman, mencoba meyakinkan bahwa ia sebaiknya memang menunggu di luar. “Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu, aku pulang dulu,” kata wanita itu mengalah dan kemudian beranjak pergi.

 

Son Hee memandangi punggung wanita itu dengan nanar. Ia bahkan bisa merasakan genangan air mata itu di pelupuk matanya. Ia dilanda kehampaan yang begitu hebatnya. Tak tahu harus bagaimana di satu sisi, namun di sisi lain, ia sangat tahu apa yang hatinya ingini.

 

Ia kemudian beralih menatap pintu kamar itu lagi. Perasaannya jadi tak menentu. Pikirannya pun melayang jauh entah kemana.

 

“Ku harap kau berubah pikiran, Nak,” suara itu tiba-tiba mengagetkannya. Wanita itu ternyata kembali lagi. “Jangan menangis,” ucap wanita itu lagi sambil menepuk pelan bahu Son Hee. Bujukan itu ternyata masih berlanjut. Wanita itu belum mau menyerah.

 

“Aku tidak apa-apa, Bibi. Biar aku disini saja,” gumamnya. Dan tentu saja itu hanyalah dusta. Seandainya ingin jujur, iapun sebenarnya tak ingin hanya diam dan pasrah di sini.

 

Untuk beberapa saat, wanita itu menatapnya ragu, tapi kemudian ia mengangguk pelan dan pergi berlalu meninggalkan tempat itu.

 

Dan selepas kepergiannya, Son Hee kembali menghela nafas berat. Sekali lagi, ia pandangi pintu itu sambil terus mengeraskan hati. Berkali-kali ia yakinkan pada diri sendiri bahwa ia tidak datang untuk berakhir seperti ini. Ia datang bukan hanya untuk kemudian pulang tanpa melakukan apa-apa. Ada sesuatu yang harus dilakukannya. Harus.

 

Dan maka dari itu, ia mulai bangkit dan berjalan meninggalkan kursinya. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai. Dan ia kembali berhadapan dengan pintu itu untuk kali kedua. Tangannya terulur untuk meraih gagang pintu. Tak ada ragu, ia putar knop itu dan terbukalah sedikit si daun pintu. Hanya sedikit celah, tapi dari celah yang sedikit itulah, ia akhirnya melihat sosok yang menjadi tujuannya datang kemari. Sosok yang begitu ia rindukan sampai rasanya ingin mati. Sosok yang tertidur dengan lelap diantara beberapa alat yang memerangkap. Sesosok pria yang begitu ia cintai namun tak pernah ia jumpai lagi selama hampir dua bulan ini.

 

Kim Joon Myun. Di atas ranjang besi dominan putih itu, ia tengah berjuang melawan kanker hati stadium tiga yang telah merenggut segenap kebebasan dan kebahagiannya. Divonis pertama kali empat tahu yang lalu, namun ia tak pernah sudi menjalani kemoterapi.

 

Alasannya begitu klasik dan sederhana. Demi tetap terlihat normal, katanya. Ia hanya berharap, di sisa waktu yang masih digenggamnya, ia bisa tetap tampil sebagaimana manusia normal lainnya. Baginya, penyakit ini saja sudah cukup menyiksa, tak perlu lagi ditambah dengan berbagai keanehan lainnya yang sudah pasti akan timbul jika ia menjalani serangkaian proses bernama kemoterapi itu.

 

Ia pernah berkata pada ibunya, selama 25 tahun hidupnya, hampir-hampir saja tak ada yang ia sesali, kecuali fakta bahwa ia dengan kejam telah membiarkan dirinya mencintai dan dicintai seorang Lee Son Hee hanya untuk menyakiti gadis itu pada akhirnya. Selalu ia katakan bahwa itu adalah kesalahan dan kebodohan terparah dalam hidupnya. Tidak seharusnya ia dan Son Hee bertemu, berkenalan hingga sampai jatuh hati.

 

Namun ibunyapun tak pernah lelah mengingatkannya bahwa setiap orang, siapapun dia, berhak untuk mencintai dan dicintai, termasuk dirinya. Karena dalam cinta, syarat itu tak pernah ada. Cinta hanya tahu menerima. Cinta hanya kenal berbagi. Dan Lee Son Hee, jelas miliki cinta itu. Ibunya tak pernah berhenti untuk selalu mengingatkannya bahwa Son Hee sangat mencintainya.

 

Yah, dan Son Hee memang begitu mencintainya. Teramat mencintainya hingga rasanya begitu menyiksa. Gadis itu kini berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan membekap mulutnya sendiri. Seluruh tubuhnya gemetaran. Air matanya jatuh berderai tanpa mampu lagi ditahankan. Ada bagian dalam dirinya yang terasa begitu sakit dan tersiksa, berdenyut perih luar biasa. Dan itu sudah pasti hatinya.

Penyesalan telah memukulnya begitu hebat. Kenapa ia datang begitu terlambat disaat ia bisa saja datang lebih cepat?

 

Son Hee meringis pedih. Ditatapnya wajah pucat itu lekat-lekat, lalu meraih sebelah tangannya yang bebas dari jarum infus. “Hai…” sapanya lirih, hampir tak terdengar. “Maaf… aku datang. Aku hanya… sangat merindukanmu,” ucapnya dengan suara bergetar sambil berulang kali menciumi tangan yang terkulai lemas itu. Dan seolah mencium tangan saja tak pernah cukup, ia lalu mencium keningnya.

 

Dan tepat pada saat itulah, mereka akhirnya kembali bertemu.

 

Antara tatapan mendamba dan mengiba, Son Hee tersenyum dalam kegetiran. Joon Myun terbangun dari lelapnya. Dan ia menjadi orang pertama yang pria itu lihat ketika matanya membuka. Ada rasa haru, rindu dan pilu yang bercampur baur menjadi satu di dadanya.

 

“Hai…” Son Hee menyapa dengan canggung. Ia tahu, sapaan itu takkan berbalas. Raut wajah datar Joon Myun – yang Son Hee tahu pasti hanya dipaksakan dan dipalsukan – sudah menunjukkannya. Lagi pula, alat bantu pernafasan yang terpasang itu sudah pasti menghalangi Joon Myun untuk bicara, seandainyapun ia ingin bicara.

 

“Kau sudah bangun,” Son Hee coba berbasa-basi. Tak peduli dengan Joon Myun yang kini memilih untuk memejamkan mata, mengabaikan dirinya.

 

“Joon Myun.” Dan yang dipanggil membuka mata. Seraut wajah lelah itu menatap Son Hee tanpa ekspresi. Cukup lama mereka sama terdiam hingga akhirnya Son Hee tiba-tiba terlonjak kaget. Matanya membelalak tak percaya. Joon Myun berusaha membuka alat bantu pernafasannya.

 

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!” sahut Son Hee setengah berteriak sambil berusaha mencegah, tapi Joon Myun, dengan sisa tenaga yang ia miliki, dengan cepat menyingkirkan tangannya.

 

Tak ada yang bisa Son Hee lakukan selain berdiri pasrah menontoni pria itu perlahan-lahan dan dengan susah payah melepas alat itu dari kepalanya.

“Kau… mengapa… masih datang kemari? Joon Myun bergumam lemah. Nafasnya tersengal-sengal. Alat itu telah berhasil ia lepas.

 

Son Hee memejamkan mata menahan perih. “Aku merindukanmu dan aku ingin melihatmu,” ucapnya jengah sambil menatap lurus ke arah Joon Myun. “Lebih baik pasang kembali alat itu,” tegasnya seraya bergegas memasangkan alat itu.

 

“Bukankah sudah kubilang tidak usah kemari lagi?!” desis Joon Myun yang serta merta membuat tangan Son Hee terhenti di udara.

 

“Pergi!” bentaknya lemah, mengusir Son Hee. “Pergi!”

 

“Cukup! Berhenti! Kumohon berhenti! Bisakah kau berhenti memintaku untuk pergi?! Apa kau tahu, jika aku pergi, aku tidak akan kembali lagi?!” Son Hee balas membentaknya, terisak. Tubuhnya berguncang dengan tangan berpegangan pada sisi ranjang.

 

Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Kemarahan yang bercampur rasa kecewa terasa membakarnya. Ia sungguh tidak paham, kenapa Joon Myun bisa bersikap sebegini kejam. Apakah pria itu tidak tahu betapa hatinya begitu sakit? Apakah pria itu tidak mengerti bahwa ia sangat ingin tinggal untuk menemaninya? Dan tak bisakah pulakah pria itu biarkan saja dirinya?

 

Ia tidak meminta begitu banyak. Cukup biarkan ia tetap disini. Cukup tolong dirinya dengan tidak lagi memintanya untuk pergi. Cukup begitu saja. Dan ia takkan meminta apa-apa lagi.

 

“Pergi. Sekarang,” ucap Joon Myun tegas tanpa sedikitpun melihat ke arah Son Hee. Bulir-bulir keringat mulai bermunculan di dahi dan ujung hidungnya. Sejujurnya, ia begitu lelah. tubuhnya mulai gemetaran. Sakitpun tak mampu ia elakkan. Tapi ia harus bisa menahan. Joon Myun tak ingin Son Hee menyaksikannya kesakitan.

 

“Kau… mana boleh seperti ini… kumohon jangan seperti ini, Joon Myun…” ucap Son Hee putus asa. Ia begitu tak berdaya. Air matanya pun tak henti-hentinya tumpah. Joon Myun begitu tega padanya. Bahkan bukan hanya padanya saja, tapi pada diri pria itu sendiri.

 

“Son Hee, aku… mohon, pergilah… dari sini. Jangan… datang lagi.” Dengan begitu susah payah, Joon Myun mengusirnya sekali lagi. Suaranya tak lagi sejelas tadi. Wajahnyapun pucat pasi. Dan menyaksikan semua ini, perih di hati Son Hee semakin menjadi.

 

Bukan hanya karena dimintai untuk pergi, tapi keadaan Joon Myunlah yang membuatnya begitu tersiksa. Pria itu sangat kesakitan. Sangat menderita. Son Hee bisa merasakannya. Ia bahkan bisa merasakan tubuhnya ikut bergetar hebat dan mengeluarkan keringat dingin.

 

Son Hee benci keadaan ini. Ia benci untuk tidak bisa melakukan apa-apa. Ia benci melihat Joon Myun tersiksa. Ia tahu, tak ada lagi pilihan baginya. Ini sudah cukup jadi peringatan untuknya. Joon Myun menderita dan ia penyebabnya. Semakin lama ia disana, semakin Joon Myun akan menderita. Dan Son Hee tak ingin melihat kekasihnya menderita. Tidak jika ia adalah penyebabnya.

 

Mungkin memang sudah saatnya ia cukupkan ini semua. Tak ada lagi yang bisa menyudahi drama penderitaan ini selain dirinya. Meskipun berat, meski tak sedikit rasa sakit yang ia dapat, namun ia berusaha – sebanyak yang ia bisa – untuk merelakan, mengikhlaskan. Dan semoga saja ia mampu. Semoga saja.

 

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Aku akan pergi,” ucap Son Hee pada akhirnya, begitu berat. “Tapi, sebelum aku pergi, aku akan memasangkan kembali alat ini.” Dan ia memasangkannya dengan hati-hati. Alat itu kini sudah kembali ke tempat dimana ia seharusnya berada.

 

“Joon Myun, di mulai di titik awal pertemuan kita hingga akhirnya kau meminta untuk berpisah, tak pernah ada yang kusesali. Sedikitpun tak ada. Kuharap kaupun demikian. Kau harus tahu, kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu. Dan cinta itu sampai detik ini, besar dan banyaknya masih sama. Tempatmu di hatiku juga masih seindah yang sudah-sudah. Tak ada yang berubah, Joon Myun. Tak akan ada…” Son Hee menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis yang lagi-lagi ingin pecah. Hatinya menjerit-jerit begitu kerasnya, adakah pilihan lainnya yang ia punya.Tapi nyatanya tidak ada. Perpisahan inilah pilihan satu-satunya.

 

Sebelum berbalik dan pergi, di dalam sedikit kesempatan yang masih ia miliki, Son Hee sempatkan dirinya sekali lagi mengamati wajah itu lamat-lamat dari tempatnya berdiri. Ia hafalkan segalanya, setiap detailnya, semuanya untuk ia simpan di suatu tempat di dalam hatinya.

 

“Aku pergi sekarang. Sehatlah kembali seperti sedia kala, Joon Myun…”

 

Dan di dalam ketidaktahuannya, Joon Myun menangis selepas kepergiannya.

 

***

 

Di bawah payungan hitam pekat langit malam, Son Hee berjalan tak tentu arah. Langkahnya gontai, tertatih dan begitu rapuh. Matanya redup memandang lurus ke depan tanpa benar-benar memandang sesuatu. Ia nampak begitu kacau dan kusut.

 

Entah kemana langkah ini akan ia bawa. Entah akan seperti apa dan bagaimana dirinya di hari esok, ia tidak tahu. Tapi yang pasti… setelah malam ini, hidupnya tidak akan lagi sama. Setelah malam ini, hidupnya mungkin saja hanya tinggal hidup tanpa makna.

 

Bukankah hidup harusnya baru bisa benar-benar dikatakan hidup jika kau punya alasan untuk hidup? Lalu bagaimana jika alasanmu untuk hidup memintamu menyingkir dan pergi menjauh? Son Hee tak perlu menjawabnya.

 

Ia hanya perlu terus berjalan. Terus berjalan hingga langkahnya terhenti nanti. Ia hanya perlu terus berjalan, karena di setiap ayunan langkahnya, mungkin akan ada rasa sakit yang ikut terbuang.

 

Ia akan terus berjalan. Terus berjalan sampai rasa sakit itu hilang dan tak lagi membayang. Ia hanya perlu untuk terus berjalan, terus berjalan, terus berjalan, hingga langkah itu akhirnya benar-benar harus terhenti.

 

Segalanya terjadi dengan begitu cepat. Suara decitan yang cukup memekakkan telinga. Cahaya lampu yang menyilaui mata. Semuanya hadir dengan tiba-tiba. Ia bahkan tidak sempat berkedip ketika akhirnya ia merasakan sesuatu yang keras telah menabraknya. Tubuhnya melayang beberapa meter sebelum akhirnya jatuh terhempas menghantam aspal. Mobil itu melaju meninggalkan dirinya yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan.

 

Son Hee masih bisa merasakan darah segar terus mengalir dari kepala dan hidungnya, namun ia tidak lagi mampu merasakan tubuhnya sendiri. Ia coba mengerjap-erjapkan mata. Segalanya nampak begitu kabur yang kemudian perlahan-lahan menjadi gelap.

 

Dan ia, dengan kesadaran yang tersisa, masih sempat mengucapkan nama itu.

 

Kim Joon Myun.

 

***

Dua bulan yang lalu di sebuah dermaga

 

“Kau tahu apa yang sedang kau bicarakan? Kau pasti hanya bercanda, kan? Kau tidak sungguh-sungguh,kan?!” Son Hee membelalak tak percaya. Sore yang harusnya indah seketika berubah menjadi nelangsa.

 

Ia tidak paham apa-apa. Sejak dua tahun yang lalu, sejak Joon Myun dan dirinya resmi menjalin hubungan, mereka setiap sore memang akan selalu datang ke dermaga ini untuk menyaksikan senja di musim semi.

 

Dan sama saja seperti hari-hari kemarin, hari inipun ia datang dengan tujuan yang sama. Ke tempat yang sama, meski ada yang sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya, mereka tidak datang berdua. Dan ini atas permintaan Joon Myun. Aneh memang, tapi Son Hee berusaha untuk tidak merisaukan itu semua. Ia tahu Joon Myun akan kemari. Dan memang benar, Joon Myun ada di sini. Ia bahkan datang jauh lebih awal dari dirinya.

 

Tapi tiba-tiba, tanpa ia duga-duga…

 

Kabar itu menghantamnya bagai benda maha besar yang dijatuhkan tepat di atas kepalanya. Ia ambruk dan hancur dalam seketika. Sore yang harusnya jadi indah. Senja yang harusnya dinikmati dalam tawa bahagia. Malam yang harusnya disambut dengan peluk hangat dan mesra, kini telah berubah jadi neraka dunia.

 

Joon Myun ingin berpisah darinya. Dan alasan perpisahan itu membuat Son Hee harus jatuh terhantam untuk kedua kalinya.

 

Joon Myun sakit, tapi ia tidak tahu, dan tidak pernah diberi tahu. Joon Myun sakit sudah begitu lama, tapi ia baru tahu sesaat yang lalu.

 

“Maafkan aku, Son Hee…” ucap Joon Myun getir, pahit. Kepalanya tertunduk lesu. Kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

 

“Kenapa kau lakukan ini padaku? Kau tahu, ini sangat tidak adil. Kau sembunyikan sakitmu setelah sekian lama, lalu kau ungkap semuanya baru sekarang. Dan pada saat yang sama kau ingin kita berpisah? Joon Myun, ini kejam namanya,” Son Hee menatap Joon Myun pedih, lalu meraih kedua tangannya yang dingin dan menggenggamnya rapuh. Sekali lagi, ia coba telusuri jauh ke dalam mata pria itu, berharap untuk menemukan setidaknya satu saja pembenaran atas sikap Joon Myun padanya. Tapi ia tak menemukan apa-apa. Dan memang seharusnya tidak menemukan apa-apa, karena baginya, tidak ada sedikitpun alasan untuk membenarkan semua ini.

 

“Maafkan aku, tapi kita benar-benar harus berpisah,” Joon Myun melepaskan tangannya dari genggaman Son Hee, lalu meraih kedua bahu Son Hee yang terkulai lemah, menepuknya pelan dan halus. “Son Hee, hiduplah bahagia. Maafkan aku karena telah begitu lancang mengajakmu masuk ke dalam penderitaanku. Maafkan aku.”

 

“Joon Myun, kau…”

 

“Son Hee, dengarkan aku. Untuk terakhir kalinya, aku ingin meminta sesuatu darimu,” Joon Myun menghentikan ucapannya sejenak, lalu menghela nafas berat. Son Hee bisa rasakan beban dan kepedihan itu di sana. Ia ingin menyela, tapi Joon Myun dengan cepat kembali melanjutkan, “Jika besok atau lusa, kau dengar kabar bahwa aku di rawat di rumah sakit atau apapun itu, kau jangan pernah datang. Bahkan jika kau dengar bahwa aku sudah tidak lagi bernyawa, kau jangan pernah datang,” ucapnya lirih, pedih. Sekuat tenaga ia tahan air mata yang kini menggenang di pelupuk matanya.

 

“Dan maaf, permintaanmu kutolak dengan sepenuh hati, Kim Joon Myun. Jangan harap aku akan mengabulkannya!” desis Son Hee menahan marah. Ia menatap Joon Myun tajam. Ucapan itu sangat melukainya.

 

“Ini semua kulakukan demi kebaikanmu, karena aku mencintaimu. Kau sama sekali tidak layak untuk menderita. Dan aku sama sekali tidak layak untukmu. Apa lagi yang bisa kau harapkan dari orang sakit sepertiku?”

 

“Joon Myun! Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kau jadi seperti ini?” lirih Son Hee frustasi. Ia mendadak seperti kehilangan kekuatan. Tiada lagi mampu berdaya. Bahkan bernafaspun terasa begitu menyiksa. 

 

“Hei! Hei, dengarkan aku,” Joon Myun menangkupkan kedua tangannya di wajah Son Hee, ia kembali menghela nafas berat, kemudian melanjutkan, “Saling mencintai tidak selalu berarti dua orang harus berakhir dan hidup bersama. Cinta itu urusan hati, Son Hee. Dan aku mencintaimu, percayalah. Kau sendiri pasti akan bisa merasakannya. Entah aku ada, entah aku tiada. Yang perlu kau tahu hanya satu. Dari pertama aku mengenalmu hingga detik ini aku ingin melepasmu, aku masih mencintaimu dan akan selamanya begitu. Aku tidak ingin kau terluka lebih banyak lagi dengan melihatku tertatih dan menderita. Jadi kumohon jangan pernah datang untuk temui aku. Kumohon…” Son Hee terisak dengan hati yang hancur. Perpisahan mendadak ini telah meninggalkan perih yang luar biasa, yang menyayat hingga ke ulu hati. Ia bahkan tidak tahu, apakah ini bisa terobati atau mungkin selamanya akan sakit begini.

 

Son hee tidak mampu berkata apa-apa lagi. Air matanya sudah cukup jadi bahasanya. Hatinya terlampau sakit. Jiwanya terus meronta. Ia tak sanggup lagi.

 

“Maaf… aku pergi.” Dan Joon Myun pergi meninggalkannya.

 

Senja yang dua tahun lalu menjadi saksi pertemuan mereka, hari ini menjadi saksi perpisahan mereka. Di tempat yang sama. Di musim yang sama.

 

***

Pukul 03.00 dini hari. Ia terbangun dengan jantung berdebar-debar. Matanya nyalang memandang ke satu titik di atas sana, di langit-langit kamar tidurnya yang hanya diterangi lampu kuning temaram.

 

Mimpi itu datang lagi untuk yang kesekian kali. Mimpi bertajuk pertemuan kembali yang mampu memberinya efek kejut luar biasa menyiksa sekaligus juga memuaskan dahaga rindu dalam dada. Ini memang bukanlah mimpi buruk. Tapi tetap saja, ini terasa begitu menyiksa. Karena dibalik semua keindahan mimpi itu, ada satu sebab ia begitu benci. Itu semua karena ia pernah begitu terluka.

 

Dulu.. setahun yang lalu, disaat ia menganggap bahwa segala mimpi dan harapan apapun tak akan ada lagi gunanya, keajaiban datang menghampiri. Ia begitu bahagia kala itu. sejenis bahagia yang tak mampu untuk diungkap apalagi dilukis. Ia merasa seperti bayi dalam kandungan yang sudah begitu siap untuk dilahirkan. Ia akan terlahir kembali. Ia bahkan bisa merasakan, hidup yang bahagia memanggil-manggil namanya tiada henti.

 

Ia masih ingat dengan jelas, saat itu masih pagi-pagi sekali. Ibunya datang dan bilang kalau ia akan kembali sehat seperti sedia kala. Ia juga masih ingat betapa besar luapan rasa haru yang membuncah di dada kala itu. Betapa tidak, ini adalah mimpinya. Ia ingin sembuh. Dan mimpi itu akan segera jadi nyata.

 

Dan memang benar jadi nyata. Ia akhirnya sembuh dari kanker hatinya. Pertama kali membuka mata, tak ada yang lebih ingin dilakukannya selain mewujudkan mimpi-mimpinya yang lain. Ia ingin bertemu dengan kekasihnya. Ia ingin meminta maaf atas kebodohannya di waktu dulu karena telah membiarkannya pergi. Ia ingin menebus kesalahannya. Ia tak akan biarkan gadis itu pergi lagi.

 

Dan baru ketika itulah ia tahu bahwa segalanya tak lagi sama. Kisahnya, mimpinya, hidupnya, semuanya. Ia yang kala itu mendadak merasa seperti kehilangan diri sendiri, baru menyadari bahwa telah ada begitu banyak yang terjadi di dalam ketidaktahuannya. Tak banyak yang bisa ia ceritakan tentang bagaimana perasaannya ketika itu. Tapi satu hal yang pasti. Ia hidup tapi rasanya bagai mati. Hanya sebatas itulah ia mampu menggambarkan luka di hatinya.

 

“Coba katakan padaku Son Hee, di bagian mana aku harus kembali untuk memperbaiki segalanya? Ke bagian mana waktu bisa kuputar untuk mengubah segalanya?” Isakan tangis itu kembali pecah. Bahunya berguncang hebat. Ia menjambaki rambutnya frustasi.

 

Sekali lagi, ini bukanlah mimpi buruk. Namun entah mengapa, hatinya hingga kini masih terlampau sakit untuk sekedar mengakui bahwa itu indah.

 

Lukanya yang parah masih berdarah. Dulu, kini, tak ada yang berubah. Sakitnya masih sama. Pedihnya masih terasa.

 

Ia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hati dan pikiran. Dan pada saat yang sama, matanya menangkap sesuatu yang berada di atas meja di sisi ranjang. Secarik kertas yang sudah lusuh akibat terlalu banyak digenggam. Tangannya terulur untuk meraih. Kertas itu hampir hancur. Namun tulisan tak rapi yang tertera disana masih cukup jelas terbaca olehnya.

 

Hidup bahagia bersama adalah mimpi kita. Mimpi itu sekarang jadi nyata. Aku hidup di dalam dirimu. Begitu dekat denganmu. Dengan begitu, kita akan bersama selamanya. Jangan menangis. Jangan marah padaku. Jangan pula benci dirimu. Kau sudah miliki hatiku. Hiduplah dengan baik bersamanya. Semoga kau selalu bahagia. Aku mencintaimu, Joon Myun.  

 

THE END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “Live In You [One shot]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s