The Gray Anxiety (Chapter 1)

sehun TGA

The Gray Anxiety – Part.1

By : Ririn Setyo

Oh Sehun || Song Jiyeon || Kim Jongin

Other Cast : Park Chanyeol || Zhang Yixing || Kris Duizhang

Genre : Romance ( PG – 17 )

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com  dengan cast yang berbeda.

 

Segalanya terasa semakin mencekik leher, menyumbat kerongkongan dan rongga pernapasan. Sesak ketakutan kian menghampirinya, menyeret paksa semua keberanian hingga kilatan kengerian itu semakin terhunus tepat ke jantungnya, menusuk tajam dan dalam. Napasnya satu-satu, wajahnya pias, keringat bercucuran membahasi wajah dan tubuhnya. Ia sangat berharap ada seseorang yang menolongnya, akan tetapi tidak ada seorang pun yang datang hingga Sehun membuka mata, tubuhnya melompat cepat saat ia mampu menarik diri dan kembali terjaga.

Sehun duduk di pinggiran ranjang tidurnya, kakinya yang gemetar menjuntai menjilat lantai kamar yang dingin. Suasana kamar terasa dingin dan mencekam, penyinaran remang-remang dari sebuah lampu hias di atas nakas, Sehun terdengar memaki takkala dirinya lupa menghidupkan semua lampu kamar. Ia meraih gelas berisi air di atas nakas dan meminumnya hingga tandas, mengedarkan pandangan ke segala arah bersama napasnya yang masih memburu cepat. Piyama hitam berbahan satin terbaik yang dikenakannya tak luput terkena imbas dari mimpi buruknya, basah oleh keringat ketakutan yang akan membuatnya tidak berani kembali terlelap di sisa malamnya.

Selalu seperti itu.

Tiap kali ia sendirian, Sehun selalu akan menghabiskan sisa malamnya dengan duduk meringkuk, mencengkram kuat selimut tebal yang membungkus seluruh tubuh gemetarnya dan berharap pagi akan segera menemuinya.

~ooo~

Suara dari mesin kendaraan roda dua yang digas berkali-kali adalah hal bising pertama yang menyambut Sehun di pelataran, ia menuruni beberapa anak tangga di beranda rumah mewahnya, berjalan tergesa untuk mencapai ke tempat bising yang telah mengusik ketenangan pagi yang sudah susah payah dibangunnya. Rambut gelap Sehun yang belum tertata rapi pagi ini, bergerak-gerak menutupi setengah dahinya, iris hitamnya yang sipit nyaris tanpa kelopak memicing tajam, membuat wajah tegas itu semakin sangar. Dia menatap Jongin yang terlihat sangat sibuk dengan tunggangan merah kesayangannya. Jongin sama sekali tidak sadar jika Sehun sudah berdiri tepat di belakangnya, menguarkan aura Tiran yang berpotensi akan menguliti tubuhnya kapan saja.

“Sudah berapa kali aku bilang padamu jika aku butuh ketenangan di pagi hari, tapi kau selalu saja membuatnya buruk bahkan sebelum aku sempat memulai hari. Haruskah aku membuang Ducatimu ke Sungai Han lebih dulu baru kau akan berhenti, Kim Jongin?”

Raut ketakutan jelas tidak akan pernah tersirat di wajah Jongin jika ia berhadapan dengan Sehun, pria tinggi, gelap, sangat tampan, terpahat bak patung lilin tanpa celah itu akan lebih memilih memasang wajah polos selayak bayi jika Sehun memarahinya. Dan jika ditambah senyum manis dengan sedikit renggekan, selalu manjur membuat Sehun yang awalnya ingin membunuh Jongin, berubah menjadi seorang Peri yang akan mengambulkan semua keinginan Jongin dengan tongkat saktinya.

“Hanya ini yang aku punya Hun, apa kau tega melihat sepupu tampanmu ini jalan kaki ke kantornya?” ucap Jongin dengan nada manja yang dibuat-buat, matanya berkedip beberapa kali bersama senyum mempesona di ujung bibir.

Aahh! Perlu dicoba.” Sehun menyeringai dingin. “Seorang pengusaha pipa baja jalan kaki menuju kantornya, eoh, ini pasti akan menjadi berita besar dan fenomenal. Kau juga akan mendapat predikat baru Jong, Pengusaha Kaya yang sangat merakyat.” Sehun tertawa terbahak-bahak, setidaknya pagi ini tidak seburuk yang ia bayangkan.

“Bagus sekali.” Jongin bertepuk tangan, memasang wajah senang yang kentara dibuat-buat. “Tertawalah sepuasmu, aku tidak peduli.” Jongin membuang muka, kembali berkutat bersama motor besarnya.

“Ikutlah denganku,”

“Apa?”

“Aku akan mengantarmu ke kantor, udara di awal musim semi masih sangat tidak bersabahat, kau akan sakit jika memaksa pergi ke kantor dengan motormu.” ucap Sehun, wajahnya datar, seperti biasa.

Jongin tersenyum, ia menatap Sehun yang sudah berpaling darinya. Ada gurat lelah disana dan Jongin terlalu paham apa penyebabnya.

“Semalam, kau… tidur dengan baik?” Jongin berkata, ia masih menatap Sehun yang hanya mengangguk singkat sebagai jawaban pertanyaannya.

“Kau pasti bisa melawannya.” Jongin mengulurkan tangan, mengusap bahu Sehun hingga pria itu menatapnya.

“Seharusnya aku membawa seorang gadis untuk menemaniku semalam, jadi setidaknya aku bisa terjaga di dalam tubuh mereka dan membuatku lebih semangat pagi ini.”

Sehun tersenyum sekilas, ia tahu jika Jongin mengkhawatirkannya, pria itu terlalu mengenal dirinya melebihi siapapun. Sehun berbalik, berniat kembali masuk ke dalam rumah besarnya, namun langkah Sehun terhenti saat Jongin bersuara di belakang punggungnya.

“Kalau begitu, nanti malam kita akan berburu gadis cantik di tempat biasa, kau setuju ‘kan?”

Tanpa menoleh Sehun mengangkat tangan kanan ke udara, mengangguk singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya.

~ooo~

Sehun masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan, saat suara ketukan terdengar dari balik pintu ruang kerjanya. Pria yang sudah sangat sibuk sejak jalanan di distric Gangnam-gu masih sangat padat, mempersilahkan siapapun yang kini ada di balik pintu untuk masuk ke ruang kerjanya, tanpa repot-repot menatapnya lebih dulu. Pemilik Hemelsky Enterprise sebuah perusahaan property terbesar di Korea Selatan sekaligus perusahaan telekomunikasi yang super sibuk seperti Sehun, selalu menempatkan pekerjaannya sebagai prioritas utama.

Suara yang ditimbulkan dari tangan gemetar beradu dengan cangkir putih berukir yang hampir saja menyentuh meja kerja Sehun mengusik ketenangan pria itu, ia melirik sebentar dari ujung mata tangan pucat yang telah berhasil meletakkan cangkir berisi kopi kesukaannya di atas meja. Sehun mengerling sepintas, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, akan tetapi tangan pucat itu masih berada disana dan entah mengapa Sehun merasa perlu memperhatikan tangan itu lebih lama.

“Presdir, apa ada…,”

“Tidak ada.”

Suara Sehun yang terdengar dingin, tegas, tanpa celah untuk dibantah, menghentikan suara gadis yang masih berdiri di sisi meja kerja Sehun seketika. Gadis itu mengangguk singkat, memeluk nampan di depan dada seraya membalikkan tubuhnya. Namun langkah gadis itu tertahan begitu saja saat suara dingin Sehun terdengar dari balik punggungnya, kali ini bahkan terdengar lebih dingin hingga membuat gadis berseragam hitam putih itu kembali gemetar.

“Apa kau menambahkan gula di kopi ini?!”

Gadis itu membalikkan tubuhnya, membungkuk segera dan menjawab Sehun terbata-bata.

“Iy… iya Presdir. Ap… apa gulanya kurang?” gadis itu memberanikan diri untuk menatap Sehun yang sudah berdiri.

“Apa tidak ada yang memberitahumu jika aku tidak suka ada gula di cangkir kopiku?” gadis itu kembali menundukkan kepala, berkali-kali, hingga Sehun merasa jengah.

“Sebenarnya bukan aku yang bertugas mengantarkan kopi, aku bertugas untuk membersihkan semua ruangan. Tapi… karena Minra sangat sibuk, jadi aku membantunya. Membuatkan kopi dan mengantarkannya kemari.”

Sehun mengangkat satu alis saat gadis di depannya ini terus saja mengoceh, memukul-mukul kepalanya sendiri tanpa menghentikan ucapannya.

“Aku benar-benar ceroboh, seharusnya aku bertanya lebih dulu pada Minra. Maafkan aku Presdir, aku akan mengantinya dan…,” gadis itu berhenti bicara saat Sehun tiba-tiba sudah berdiri di depannya, menekan keningnya bersama seulas senyum samar di ujung bibir.

Sehun menyerahkan cangkir kopi yang dipegangnya ke tangan gadis itu.

“Minum kopi ini sampai habis.” perintah Sehun, ia lagi-lagi tak bisa menahan senyum saat gadis itu mengerjab lalu melebarkan irisnya dengan mulut setengah terbuka.

“Apa?”

“Kau tuli, Song Jiyeon?”

Kali ini Sehun tersenyum sedikit lebih jelas, menangkap keterkejutan dari mata bening gadis di depannya, setelah mendengar fakta jika Sehun mengetahui nama gadis itu. Sepertinya gadis si petugas kebersihan di kantornya itu lupa, jika dia mengunakan papan nama yang tersemat di dada kirinya. Sehun mengeja namanya saat gadis itu menurunkan nampan dan menyelipkannya di antara lengan kiri dan tubuhnya.

Jiyeon menggeleng cepat, menerima cangkir kopi dengan tangan kanan yang kembali sudah gemetar. Susah payah Jiyeon menghabiskan kopi di dalam cangkir, dia tidak suka kopi sama sekali namun tak punya keberanian untuk membantah Sehun.

Sehun memperhatikan Jiyeon dengan seksama, beberapa kali gadis itu menautkan pandangan ke manik hitam miliknya. Sehun tidak tahu alasannya, ia hanya merasa ingin menatap mata gadis itu lebih lama, mata bening yang telah berhasil mengunci perhatiannya tanpa rencana.

Jiyeon mengusap bibirnya dengan punggung tangan setelah ia menghabiskan kopi di dalam cangkir, gerakan yang justru membuat Sehun semakin merasa tertarik dengan semua yang ada pada gadis itu. Bibir Jiyeon yang setengah terbuka dan basah, entah mengapa terlihat begitu mengoda di mata Sehun, ia merasa menginginkan bibir itu saat ini juga.

Dan ketika Jiyeon kembali mengerakkan bibir untuk melafalkan namanya, saat itulah Sehun merasa tubuhnya tak bisa lagi menahan hasrat yang tiba-tiba saja sudah menguasai pikirannya. Tanpa pernah Jiyeon duga bahkan Sehun pun tidak menduganya, tiba-tiba dia telah menyambar bibir Jiyeon yang setengah terbuka, menyesapnya, memberi gadis itu ciuman yang basah dan panas. Tak peduli ketika Jiyeon terkejut dan menjatuhkan cangkir serta nampan ke lantai, berteriak tertahan, berusaha mendorong Sehun menjauh.

Namun Sehun justru mengulum permukaan bibir manis itu tanpa jeda bernapas, mendorong tubuh Jiyeon hingga membentur tembok di ruang kerjanya. Sehun meraih tangan Jiyeon yang terus mendorong dadanya, mencengkramnya kuat hingga Jiyeon merasa jika tulang tangannya retak. Sehun semakin menghimpit tubuh Jiyeon yang masih berusaha melawan, ia bahkan menjejalkan tangannya ke balik kemeja yang Jiyeon gunakan. Menjelajah di tiap inch tubuh Jiyeon, tanpa melepaskan bibir panasnya yang telah melumat habis bibir tipis gadis itu dengan penuh gairah.

Jiyeon mulai kehabisan tenaga untuk melawan Sehun, napasnya satu-satu, terasa semakin berat karena Sehun tak membiarkannya untuk menarik napas. Jiyeon menatap nanar Sehun yang masih menciuminya, matanya mengerjab, meneteskan air mata yang sejak tadi sudah berkumpul di ujung pelupuk.

Sehun melepaskan pagutan bibirnya kala ia merasa jika pipi Jiyeon basah, tubuh gadis itu juga melemas, ia menatap Jiyeon yang menatap kosong ke arahnya. Gadis itu tidak mengeluarkan suaranya, bibirnya yang sudah membiru gemetar. Dia hanya menangis tanpa suara, memundurkan tubuhnya perlahan seraya mengancingkan dan merapikan kemejanya yang sudah berantakan. Sehun menatap Jiyeon dalam diam, tak punya barisan kalimat yang bisa ia verbalkan pada gadis itu untuk apa yang sudah ia lakukan.

Jiyeon meraih nampan yang tergeletak di atas lantai, kembali mendekati Sehun yang masih memandanginya. Ia menatap Sehun sekali lagi, selanjutnya tanpa pernah Sehun perkirakan sebelumnya, Jiyeon mengayunkan nampan yang telah ia genggam erat-erat tepat di kepala Sehun.

BUUKKK!!!—-

~000~

Jongin hanya bisa tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Sehun, sepupunya itu bahkan mengeluh jika kepalanya masih berdenyut hingga sekarang. Jongin mengusap kepala Sehun lembut, seraya menyesap wine yang berada di dalam genggaman tangannya sejak tadi. Tawa Jongin kembali menggelegar, riuh rendah di antara music keras yang berdentum tanpa henti. Mereka berdua sedang berburu gadis-gadis cantik di salah satu klub malam terkenal di Seoul.

Sehun mendengus sebal, satu tangannya yang bebas meraih wine di atas meja. Ia berpaling ke arah gadis yang berada di atas pangkuannya, menyeringai puas saat sang gadis mendesah tertahan tiap kali tangan kanannya memberikan remasan seduktif di dada gadis itu. Sehun kembali menjejalkan bibir panasnya ke permukaan bibir wanita penghibur yang terlihat mulai membiru, membagi wine yang berada di dalam rongga mulutnya hingga ciuman mereka terasa semakin panas. Bahkan gadis yang sudah setengah dihimpit Sehun hingga nyaris terbaring di atas sofa, hampir melepaskan pakaiannya kala Sehun mempercepat tempo ciuman mereka, mengulum tanpa memberi celah gadis itu menarik oksigen untuk paru-parunya yang kian menipis.

Sehun melepaskan ciuman panasnya saat seseorang menginjak kakinya, ia juga dapat mendengar kalimat permintaan maaf setelah itu. Seketika mata Sehun membulat kala matanya menatap wajah gadis di depannya, berseragam kemeja ketat yang memperlihatkan belahan dada dan rok super mini dengan nampan di kedua tangan. Putaran dunia terasa berhenti, suara bising menghilang dalam hitungan detik ketika mata mereka bertemu. Tak ada kata yang terucap, gadis itu cepat-cepat meletakkan minuman di atas meja dan pergi dari hadapan Sehun.

Namun lagi-lagi Sehun tidak mengerti kenapa ia ingin sekali memperhatikan gadis itu, sorot kehampaan yang berpendar dari balik iris bening gadis itu mulai mengusik Sehun. Dia tidak suka, namun tak punya daya untuk mengabaikannya.

Sehun telah memerintahkan wanita penghibur yang berada di atas pangkuan untuk menyingkir, ia bahkan mengabaikan Jongin saat pria itu menunjukkan sederet gadis yang bisa Sehun pilih untuk menemaninya di atas ranjang malam ini. Sehun lebih tertarik pada sosok Jiyeon di depan sana, gadis itu sedang berusaha menolak seorang pria hidung belang yang baru saja merayunya.

Dan entah mengapa Sehun merasa sangat senang hingga tertawa terbahak-bahak, saat Jiyeon pada akhirnya mengayunkan nampan ke kepala pria penggoda. Membuat pria itu jatuh tersungkur di atas lantai klub malam yang dingin, diiringi gelak tawa para pengunjung lainnya yang timbul tenggelam bersama suara music yang terus mengalun keras malam itu.

~000~

Sehun yang pagi ini memulai hari dengan tersenyum, mendapati semua rasa senang yang sejak tadi memayungi hatinya menguap hanya dalam satu tarikan napas. Ia mendesah gelisah, merasa gundah setelah menemukan sosok gadis lain yang mengantarkan kopi ke ruang kerjanya hari ini. Gadis bernama Minra yang disebutkan Jiyeon kemarin. Eoh, Sehun bahkan bisa mengingat nama waitress di kantornya karena Jiyeon.

“Ada lagi yang Presdir butuhkan?” tanya Minra dengan kepala setengah menunduk.

Sehun diam, membatu di atas kursi kuasanya. Otaknya terasa beku hingga tak mampu diajak berpikir. Ia hanya merasa semakin resah, gelisah, hingga napasnya sesak dan wajahnya memucat. Sehun menggeleng pelan, lalu melanjutkan pekerjaannya. Lebih tepatnya mencoba melanjutkan pekerjaan namun ia tak bisa, rasa yang selama bertahun-tahun menghantui tidur malamnya kembali datang, mengejarnya lebih cepat dari biasa hingga Sehun memeluk gemetar kursi kuasanya.

Ji…Jiyeon…,”

Tanpa sadar Sehun menggumamkan nama Jiyeon, ia tidak mengerti namun ia sangat berharap gadis itu muncul di hadapannya, memeluknya dan berjanji tidak akan meninggalkannya untuk satu alasan apapun. Sehun mencoba berjuang melawan rasa yang semakin mengikis habis kesadarannya, berusaha untuk bernapas normal walau nyatanya wajah pria itu sudah dipenuhi peluh dan semakin pucat pasi.

Sehun mengerakkan tangannya ke arah laci meja, meraih botol cokelat bertuliskan Lexotan 3 miligram di dinding luarnya. Dalam sekejab Sehun sudah menelan satu tablet merah muda itu, lalu ia merasa dunianya bergerak lebih lamban, semakin lamban hingga akhirnya mengabur dan menghilang.

~000~

Sehun mengerutkan dahi ketika kesadaran mulai datang menghampiri, ia mengerjab beberapa kali, meraba kepalanya yang terasa berputar hingga ia merasa enggan untuk mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer. Alih-alih bangun Sehun justru kembali merapatkan kedua matanya. Namun itu tidak berlangsung lama, aroma teh hijau yang melintas di depan indra penciuman membuat Sehun memaksa matanya untuk terbuka.

Sehun baru menyadari jika ia terbaring di atas sofa panjang dengan selimut tebal membungkus tubuhnya, masih di dalam ruang kerjanya. Penunjuk waktu yang berdiri kokoh di dekat meja kerjanya yang luas sudah menunjukkan pukul dua belas, itu berarti Sehun sudah terlelap selama 180 menit. Ia berpaling dan menemukan sosok Jongin sudah tertidur dalam posisi duduk di atas sofa marun, di depannya.

Sehun mengubah posisi dari terlentang menjadi duduk bersandar, meraih cangkir putih di atas meja, menghirup aroma teh yang menguar dengan mata setengah terpejam sebelum menyesapnya perlahan. Membiarkan rasa hangat dari teh favoritnya melewati kerongkongan, menghilangkan sedikit demi sedikit rasa pusing yang masih setia mendera kepalanya.

“Hun, kau sudah bangun?”

Suara Jongin terdengar sengau, wajah setengah tidur pria itu mengisyaratkan kelegaan, menatap Sehun yang terkekeh menyebalkan dari balik cangkir teh hijaunya.

“Apa aku terlihat buruk saat kau menemukanku tertidur di meja kerja?” Sehun kembali menyesap teh hijaunya, melirik Jongin sekilas lalu beralih menatap uap tipis yang masih mengepul dari dalam cangkir.

“Tidak juga. Kau hanya terlihat sedikit lebih cantik dari Xi Luhan.” Jongin tertawa saat Sehun memakinya.

Sehun sangat tidak suka jika wajah tampannya yang maskulin disamakan dengan Luhan. Pria berwajah sangat cantik, pemilik klub malam langganan mereka yang sudah mereka kenal sejak dua tahun silam. Sehun menduga jika dulunya Luhan adalah seorang perempuan.

“Apa yang terjadi? Apa mimpi itu datang lagi?” Jongin beranjak, duduk merapat di sisi Sehun.

“Tidak, aku hanya…,”

“Jiyeon. Siapa dia?”

Sehun menoleh cepat ke arah Jongin, ia terkejut hingga memuntahkan sisa teh yang masih berada di dalam rongga mulutnya.

“Apa?”

“Jiyeon. Kau memanggil nama itu berulang-ulang saat kau tertidur. Apa dia sangat seksi dan hebat di atas ranjang, hingga kau membiarkan gadis itu mengganggu tidurmu?”

Sehun mengalihkan pandangannya dari Jongin, meletakkan cangkir di atas meja kaca di depannya. Sehun mengusap sisa teh yang tertinggal di ujung dagu runcingnya, ia tampak gugup, beberapa kali ia melirik Jongin yang masih setia menatapnya, menanti jawaban dan penjelasan masuk akal darinya.

“Bukan siapa-siapa.” manik hitam Sehun bergerak gelisah, ia meremas jari-jarinya, gundah mulai datang menghampiri.

“Jangan berbohong padaku.”

“Tidak. Sungguh, dia bukan siapa-siapa.”

“Kalau begitu aku akan menjadikan Jiyeon sebagai milikku.”

“Apa?” dalam gerakan sangat cepat Sehun kembali menatap Jongin, kekalutan terlihat jelas di wajah Sehun yang menegang.

“Kenapa? Bukankah dia bukan siapa-siapa?” Jongin tersenyum, mata teduhnya terus mengejar Sehun agar mengatakan hal yang sebenarnya.

“Apa dia yang membuatmu menelan Lexotan tiga jam lalu?”

“Jong…,”

“Siapa dia hingga membuatmu sangat cemas.”

Sehun mengusap wajahnya sepintas, menyerah untuk berbohong pada Jongin. Sejak dulu pria itu seperti Cenayan, tahu tentang apa saja yang ia sembunyikan di dalam otaknya.

“Seorang pegawaiku. Entahlah, aku bingung, aku hanya merasa ingin melihatnya, aku merasa sangat cemas saat tidak menemukannya pagi ini.” Sehun kian meremas jari-jarinya yang sudah sedingin salju, napasnya mulai berat dan wajahnya kian pias.

“Jong, aku…,”

“Tenanglah,” Jongin mengusap bahu Sehun lembut, berusaha menenangkan Sehun seperti yang biasa ia lakukan selama bertahun-tahun.

“Bagaimana wajahnya? Apa dia cantik?” senyum Jongin mengembang, mendapati wajah Sehun yang terlihat malu-malu.

“Dia cantik… sangat cantik. Matanya bening, indah, dan memabukkan. Rambutnya hitam sebatas pinggang, jika di kantor dia tidak memoles wajahnya dengan makeup, tapi jika di klub dia berdandan  dan berpenampilan sedikit seronok. Tapi aku tahu jika dia tidak nyaman dengan riasan dan penampilannya itu.”

“Klub?”

“Dia juga bekerja sebagai waitress di klub milik Luhan.”

“Menarik.” ucap Jongin. “Kita temui gadis itu, bagaimana?”

“Apa? Kau gila ya?” Sehun berusaha tertawa namun gagal, suaranya hanya terdengar seperti dengungan lebah yang jauh dari pendengaran.

“Memangnya kenapa? Bukankah kau ingin melihatnya?”

Yeah, tapi, aku, tidak punya alasan untuk itu.”

“Kalau begitu aku akan membuat alasan agar kalian bisa bertemu.”

“Sudahlah.” Sehun memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Kemarin aku telah menciumnya dengan paksa, jadi… aku rasa dia tidak akan mau menemuiku lagi.”

Jongin tertawa pelan. “Aku janji. Apapun caranya, aku pastikan mulai besok kau akan melihat gadis itu.

Jongin mengangguk yakin, ia kembali tersenyum. Senyum yang tanpa sadar membuat kegelisahan Sehun beberapa saat lalu lamat-lamat mulai memudar.

TBC

Enjoy – XOXO

28 thoughts on “The Gray Anxiety (Chapter 1)

  1. Kasihan ya sehun😦 dia insomnia berat dan cemas akut akan sesuatu.
    Halo author aku reader baru hehe
    Sebelumnya aku baca chap 5 trus tertarik dan mulai baca dari awal🙂
    Aku lanjut dulu ke chap 2 yee hehe

  2. hay readers baru nih ijn bc y.
    hmm maknae satu ini agresif yeach. hahaha..
    jd ngebayangin sehun jd agresif gt ddunia nyata… pasti akan lucu
    ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s