Beautiful Pain (Chapter 4)

Author             : ndmyf;

Cast                 : Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Rian (OC);

Genre              : Romance, Friendship, Family;

Length             : Chapter;

Rating             : PG-16;

Summary         : Kebenaran yang terungkap begitu membuatku bahagia namun terasa sangat menyakitkan. Hanya ada dua pilihan, meneruskannya atau menghentikannya dan menguburnya dalam-dalam. -Kim Rian.

 

Baru ngeShare lagi ^m^..

Thanks and happy reading..

 

Menunggu bagai titik kosong tanpa kepastian. Kepastian akan sesuatu yang bahkan tidak tahu bagaimana akhirnya. Menunggu hatimu. Manusia hanya bisa berharap, Tuhan yang menentukan, tapi dari harapan itulah aku akan menunggu, sampai kau memberikan hatimu untukku… ‘Oh Sehun’

Mungkin kau disini bersamaku, tapi ada sesuatu yang belum bisa ku pastikan, apakah benar hatimu telah menjadi milikku? ‘Park Chanyeol’

 

Empat

****

Pandangannya fokus, namun pikirannya tidak hanya terfokus pada satu titik. Ingatan lainnya ikut menggerayami pikirannya sejak semalam. Kini perasaanya yang ragu, mulai menemukan titik kepastian, namun terasa sulit untuk jujur pada dirinya sendiri. Dengan satu tangannya memegangi lembaran faktur setelah memantau barang masuk di gudang penyimpanan.

Setelah mengecek daftar list barang hari ini, Rian kembali bergegas menghampiri ruang kerjanya. Berjalan ke lobi. Resah. Sesampainya di sana, berhadapan dengan orang-orang yang tak ingin ia temui.

Rian mendesah.

Beberapa orang berkerah putih yang baru saja keluar dari ruangan besar dengan dua pintu kayu mewah terpisah. Di atasnya masing-masing bertuliskan “Ruang Rapat”. Terlihat ekpresi yang berbeda-beda di sana, Rian memerhatikan saat tungkainya berjalan perlahan, sesuatu telah menarik perhatiannya, pembicaraan yang mengingatkannya pada sesuatu dimasa lalunya, ‘Oh S..’

Pintu ruangan satunya terbuka, membuatnya menoleh. Orang-orang lainnya keluar dari sana. Pandangannya menyempit terfokus pada satu arah yang menariknya, seseorang yang baru saja keluar dari ruangan itu. Rian menoleh sebentar, bingung melihat sekeliling lalu kembali berjalan keruang kerjanya.

Lambat laun muncul perasaan bahwa ia tengah diamati. Sehun mendongakkan kepala mulai mencari. Perlahan ia berjalan menghampiri. Dalam bingkai kayu berlapis kaca. Saat itu keduanya saling menatap. Perasaan-perasaan yang mulanya tersembunyi rapat, kini mulai timbul kepermukaan. Pesan-pesan singkat mulai tersampaikan dengan hanya satu moment yang berbeda, satu sensasi baru yang ia rasakan. ‘Biasanya aku tahu apa yang kulakukan, biasanya aku yakin dengan langkah yang kuambil, tapi sekarang, semuanya hancur tak terkendali. Dan itu karenamu..’.

**

‘Malam tadi.. ‘Part-1’

Hujan terasa amat lama jika sedang tidak dinikmati. Dalam naungan atap yang sama melindungi keduanya dari air hujan. Sehun bersin beberapa kali, setelahnya mengusap-ngusapkan jarinya kehidung. Dingin mulai menyeruak bersama dengan malam yang mulai larut. “Sajangnim, kenapa kau tidak pulang? Sepertinya kau sakit” Sehun hanya mendecikkan bahu, tidak tahu. “Lalu kau?”

“Aku akan pulang, Selamat malam,-“

“Aku ikut pulang ke rumahmu,-” satu kalimat membuat gadis itu menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya mendapati mata yang tengah menatapnya. “Mwo? Kenapa kau tidak pulang kerumahmu?”

“Aku tidak punya uang, aku tidak bisa bayar taxi, kau mau membayarnya?”

Rian menelan ludah pahit. Sekonyong-konyong dua pikiran berbeda menghampirinya, pertama kekesalannya mulai muncul, apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki ini? Apa mungkin ia psikopat? Rian bergidig merinding. Dan yang kedua, apa mungkin Sehun sengaja dan akan terjebak hujan lebih lama bersamanya disini? ‘Ah, tidak-tidak,, jangan bodoh Kim Rian’ susah payah ia menghalau dua pemikiran aneh tadi.

“Kau hubungi saja pegawaimu, suruh mereka menjemputmu,-”

“Aku tidak membawa ponsel,-” timpalnya datar. Sambil meliriknya sebentar, Sehun melipat lengannya di dada. Rian kehabisan kata-kata dan perutnya mulai mulas, hanya satu tarikan napas yang tersisa, dan ia berkata “Kupinjami ponselku, aaa-” Rian menunduk menatap ponselnya dengan layar hitam pekat kehabisan baterai, ‘Kenapa disaat seperti ini,?’ Wajahnya terangkat, bibir bawahnya terangakat. Memanyun “Bagaimana bisa kau keluar rumah dengan tidak membawa apa-apa!,” Gadis itu menggigit bibir kesal, tubuhnya terasa panas bahkan serasa mengeluarkan asap keluar dari kepalanya.

“Ya! Apa kau lupa, aku ini atasanmu!”

Rian berdecak dan kembali memanyun.

Sehun kembali melanjutkan kalimatnya “Niatku hanya berjalan-jalan mencari udara segar, dan ternyata hujan. Aku hanya memiliki uang seadanya, dan tidak membawa ponsel. Jadi kau akan menampungku atau tidak?” Perut Rian makin mulas. Dan sekarang tangannya mulai dingin. “Sajangnim, apa kau sedang berdalih? kau yakin tertarik padaku? Bukannya dendam? kau,-” satu bekaman mendarat dimulutnya, yang sontak membuat gadis itu terkesiap dan berhenti berbicara.

“Cukup, ayo pergi,-“

‘Sial..’

Wajahnya seketika menyernyit lalu ia putuskan untuk mengangguk, setelah bekaman itu menghilang bersamaan dengan beberapa langkah kaki berjalan didepannya. ‘Terserah, lagi pula aku tidak punya uang untuk membayarkannya taxi. Tapi bukan hanya itu asalan yang sebenarnya,..’ Rian menggigit bibir. Punggung itu mulai berjalan menjauh didepannya. ‘Secara tidak langsung aku bersyukur, Sepertinya aku ingin—aku ingin lebih lama bersamamu,-‘ Rian makin tertekan dengan ketidakpastian hatinya, ia coba tekankan sekali lagi dalam hatinya, hentikan perasaan ini sebelum benar-benar lebih dalam, tapi ternyata lebih sulit dari yang diperkirakan.

Hujan memagari, air terjatuh dari langit memanjang membentuk garis-garis tak terputus. Jalanan masih belum terlihat sepi walau malam mulai larut. Pas untuk julukan kota yang tidak pernah tidur. Mobil-mobil masih melintasi jalanan. Sehun melirik ke arah Rian yang semakin lama semakin menundukkan kepalanya, tertidur. Seperti ‘de javu, adegan itu seakan terulang kembali, namun berbeda versi. Rian yang tertidur disampingnya, ketika ia meminta agar menuliskan sebuah kalimat dihalaman pertama ‘Dream booknya. Dan ketika itu pula ia berniat mengatakan perasaannya pada gadis itu. Walau pada akhirnya, satu kalimat pengakuan itu, tak tersampaikan dan hanya memendamnya dalam diam.

Sehun masih mengingat itu semua, kenangan manis yang pernah tertorehkan dalam hatinya. Perasaan ini terasa sama namun dalam keadaan yang berbeda, gadis itu kini tak sendiri ia memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Jika saja waktu itu keberaniannya telah terkumpul, mungkin semuanya akan berakhir berbeda, ‘Mungkin saja, sekarang ini kau telah menjadi milikku’. Tangannya terulur mengelus pelan ujung kepala Rian yang alhasil, membuatnya bersandar dibahunya.

Sehun kembali menatap keluar jendela, sembari mengulum senyum.

Bis mulai menapaki bibir halte, Rian masih menguap, setelah dibangunkan paksa oleh Sehun. Keduanya kompak tidak saling bicara sampai akhirnya sampai tepat didepan pintu apartemen milik Rian.

Pintu terbuka setelah kombinasi password ia selesaikan, “Aku pulang,-” teriaknya. Keduanya masuk masih dengan tanpa bicara. Naya teman satu kamarnya masih belum terlihat kedatangannya. Rian merebahkan tubuhnya di sofa dengan berbagai umpatan menjurus untuk Naya, sedangkan Sehun ia sibuk memandangi setiap sudut ruangan apartemen kecil teramat sederhana milik Rian.

“Kau tinggal ditempat seperti ini?” Rian menyipit, seketika ia berdiri sambil menyilang lengan di dada, “Mwo? Kau tidak suka? Pergi sana!” Sehun hanya meliriknya sebentar sambil bergidig, ia edarkan lagi pandangannya. Setiap furniture tak lepas dari matanya. Pandangannya tertarik pada satu objek, kakinya melangkah menghampiri tanpa memalingkan pandangannya, sebuah frame foto.

Sosok yang sangat ia kenali. Bibirnya bergumam tak karuan.

Sehun termangun.

Bunyi ‘beep terdengar lagi..

“Aku pulang, Rian-ah, kau bersama siapa? Chan? Apa itu kau Chanyeol?” Rian berangsur menghampiri pintu, Naya tengah melepas hilsnya, “Ya! Kalian berpacaran sampai selarut ini?” Naya melayangkan tatapan mengintimidasinya, Rian hanya berdecak kesal, kalimat itu lebih tepat jika ditunjukan padanya.

Pendengarannya jelas-jelas tidak tuli, ia mendengar apa yang gadis itu katakan, sangat jelas saat mengucap nama Chanyeol. Sementara itu, Sehun masih belum bergeming. Laki-laki bertopi dengan jacket katun merangkul gadis berambut hitam panjang dengan pose huruf ‘V’ di tangannya. Dengan background pohon sakura saat musim semi.

Terasa ada yang salah, perasaannya seperti beradu tercampur tak karuan. Marah, kesal, sedih, bahkan merasa ingin menangis sambil berteriak sekeras mungkin. Menyesakkan. Seperti tangisan, namun tak sedikitpun air mata keluar dari sana, hanya isakkan dalam dada.

Yang menjadi fokusnya sekarang ini adalah cepat-cepat keluar dari sini, tidak perduli diluar sana hujan es atau pun batu, ia tak perduli.

“Sajangnim, kau mau kemana?”

“Eeeh,?” Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulutnya, sambil menujuk kearah sosok yang sangat ia kenal. “Sajangnim?,-” teriak Naya kemudian. Sehun buru-buru memakai sneakernya, tanpa basa-basi ia kemudian beranjak membuka pintu, lalu menghilang berbarengan dengan bunyi ‘beep saat pintu tertutup.

**

‘Semuanya terlalu rumit, terlalu sulit untukku terima. Kahilanganmu sama-sama menyakitkannya dengan saat kehilangan kedua orang tuaku. Aku tak sanggup kehilanganmu, Rian-ah’.

“Kim Rian!”.

Sehun menghela napas, dadanya naik turun susah payah mencari udara yang seakan enggan melegakan paru-parunya. Beberapa jam yang lalu setelah ia kembali dari ruang rapat, ia masih berkutat dengan macbooknya, namun entah sejak kapan ia mulai terlelap. Pijatan-pijatan lembut di dahi membuat perasaannya sedikit membaik, walau dalam arti sebenarnya perasaannya sulit untuk dikatakan ‘membaik’.

Sementara Rian, gadis itu hanya terdiam dengan mengetuk-ngetukkan bolpoin ke keyboard, sebelah tangannya menopang dagu sembari memerhatikan monitor komputer. Dia sedang tidak mood hari ini, pikirannya campur aduk dengan kejadian semalam. Juga peasaannya. ‘Apa aku mencintai dia? Aku rasa bukan. Belum,−aku ralat. Bukan belum dalam artian sebenarnya. Hanya saja aku belum yakin. Aku memang menyukainya−dari dulu, aku sangat ingin dia bersamaku, tapi−apa benar itu cinta?’. Wajahnya terangkat, meningtip dari balik monitornya, rekan kerjanya tidak ada di tempat, waktu yang tepat untuk mencari udara segar. Rian buru-buru keluar ruangan setelah menekan tombol turn off.

Kilauan cahaya membuatnya sedikit berpaling ketika pintu terbuka. Bibirnya terangkat, tersenyum saat langkahnya menembus kilauan itu yang berubah menjadi keindahan alam. Matanya memejam, kedua tangannya terlentang merasakan sentuhan angin menyapa tubuhnya. Rian mendesah dengan senyuman di wajahnya, kilauan itu kembali menyeruak setelah matanya terbuka. Berjalan menghampiri dinding pembatas atap. Mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kota yang terlihat jelas memanjakan mata.

‘Ketika menyukai seseorang tanpa suara. Hanya akan menatapnya dari kejauhan. Aku ingin menyapamu, tapi aku malu, bukan malu dalam artian sebenarnya, aku malu−karena aku menyukaimu.’ Ketika sesuatu yang lain telah menarik perhatiannya. Seakan ada magnet menarik dirinya untuk mendekat, tidak terlalu membuatnya terkejut, sejak pertama memang laki-laki itu mampu membuatnya terpesona, terlepas laki-laki itu adalah Oh Sehun, seseorang yang ia kenal sejak dulu.

Dengan sebelah tangan yang menutupi keningnya, ia bersandar di dinding pembatas, dengan melipat sebelah kakinya. Laki-laki itu terlihat terlelap begitu tenang. Gadis itu berangsur mendekat, membungkuk lalu duduk dihadapannya. Belum ada tanda-tanda ia akan bicara, masih termangun menatap lelaki yang masih diam dalam posisinya yang sama.

Aku jatuh cinta kepadanya saat guyuran hujan siang itu, di pinggir lapangan sepak bola sekolah. Ia duduk sendirian memerhatikan hujan yang tiba-tiba turun. Kau duduk bersila saat aku datang untuk berteduh di bawah kursi tribun penonton. Lalu kau berkata “Mereka turun tiba-tiba, padahal hari sedang cerah,”. Lalu kau kembali memandang langit.

Aku tahu, ini bukan pertama kalinya kami duduk bersama saat hujan, tapi ada sesuatu yang aneh kurasakan saat itu. Saat kau memberikan jaketmu untukku, dan kau pergi menerobos hujan. “Rian-ah, jangan sakit. Tunggulah sebentar lagi. Aku pergi duluan,-“ Moment sederhana namun sampai hari ini, aku masih bisa mengingatnya’.

Sehun yang menyadari kehadiran seseorang, akhirnya meringsut bergerak, matanya terbuka perlahan, termangun saat iris coklat yang basah telah menatapnya. “Apa ini mimpi? Dan kenapa kau malah menangis dalam mimpiku?” Sehun mengulurkan tangannya, menghapus cairan bening yang sudah menghiasi pipi Rian.

“Aku senang kau hadir dalam mimpiku, bahkan terasa begitu nyata,-” Sehun tersenyum samar, seraya mendaratkan kedua telapak tangannya, Rian memejam meresapi sentuhan hangat dikedua pipinya, dengan menyunggingkan senyuman. ‘Ternyata aku memang mencintainya..’. Sejurus kemudian ketika kedua matanya terbuka, bersamaan saat Sehun menempelkan dahi dengan dahinya. Mata hitamnya bertemu dengan mata coklat bening milik Rian, mereka saling menatap. Terasa hening, belum ada yang mengawali pembicaraan, keduanya terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing sampai akhirnya Sehun memejam.

“Mimpiku benar-benar indah,-” Bibirnya tersenyum dan menggeleng pelan, memperlihatkan giginya yang berderet rapi.

“Hun-ah, ini bukan mimpi,”

“Mm.. Benarkah? Tapi lebih baik ini mimpi. Aku tidak perlu terbangun jika ingin lebih lama bersamamu.”

Belum sempat bicara, Sehun memberi gesture agar gadis itu diam. “Biar saja tetap seperti ini,” Sehun mengulum senyuman di wajahnya, yang makin membuatnya memesona.

Dan dimulailah ketika jantungnya bedegup kencang, napasnya yang menjadi tak beraturan dengan berbagai fantasi yang bermain-main dalam otaknya. Sambil menggigit bibir Rian ikut memejam, ada gambaran mereka berdua dalam benaknya. Minggu sore, saat langit setengah mendung. Bersama awan kelabu yang berarak mengikuti arah angin, yang mampu membekukan langkah kakimu, hanya sekedar untuk diam memandangi langit.

Rian tersenyum.

Fantasi itu indah bukan?, ketika kau membayangkan segala keinginan dalam pikiranmu menghempaskan semua kenyataan yang ada.

“Apa yang membuatmu begitu terlihat manis saat tersenyum?” Tiba-tiba Sehun angkat bicara, suara lembutnya mampu membuat gadis itu bergidig dalam ketenangan. Masih dalam posisi yang sama, Sehun menyentuh pelan pipi Rian dengan ujung punggung tangannya. Rian menggeleng pelan dengan pipinya yang sedikit merona, dan Sehun mendesah dalam pikirannya sendiri.

‘Bisakah kuubah semuanya? Bisakah tidak berakhir seperti ini? Bisakah aku memilikimu?’.

Sehun membatin. Mengingat kenyataan yang ia ketahui, sangat membuatnya meradang. Istilah ‘Kehilangan’ telah membekas dalam kamus hidupnya, bukan lagi hal yang aneh melainkan hal biasa, namun manusia dibelahan bumi mana yang menginginkan kehilangan.

Sehun menarik napas panjang, tubuhnya semakin mendongak, jarak diantara mereka hanya menyisakan beberapa sentimeter, sedikit lagi gerakan mungkin saat itu juga bibir mereka saling beradu. Angin berhembus menyapa, menyejukkan setitik gejolak dalam dadanya, Sehun menatap gadis itu dengan tatapan nanar. Ia telan segalan keinginannya bersamaan dengan ludah pahit yang kemudian menghilang di tenggorokan.

Kembali beradu pandang setelah beberapa menit. Rian mulai ingin angkat bicara “Hun-ah?” Ucapnya pelan, setelah membuka mata, Sehun kembali menelan ludah yang bahkan terasa kering dimulutnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, apakah aku harus menjadi egois? Sialan.. Chan-ah, aku…’

Tangannya mengepal.

“Eoh?..” Rian terkesiap tiba-tiba ketika Sehun meniup wajahnya. Ia menjauhkan wajahnya sehingga mata mereka beradu kembali. Tawanya meledak, bukan hanya karena ekpresi lucu dari Rian, juga tentang menyembunyikan perasaannya.

“Oh Sehun,,!” Gadis itu mendengus kesal.

‘Aku benar-benar merasa terikat denganmu. Satu-satunya seseorang yang mampu membuatku merasa ‘ada’. Akan ku sediakan banyak waktu luang hanya untuk mendengar omelanmu, cerita-cerita tentang kehidupanmu dulu, bahkan tentang kisahmu bersama Chanyeol, walau sakit akan kurekam semuanya dalam memori otakku, asalkan bersamamu lebih lama.’

Sehun mendesah. Lalu angkat bicara.

“Apa yang membuatmu tersenyum sampai-sampai pipimu memerah seperti tadi?”

Rian mengubah posisi duduknya lalu merangkul kakinya, mencoba menghindar. “Aku tidak ingin membicarakan hal itu.” Rian menggerutu, bibir bawahnya terangkat cemberut, melihat ekpresinya itu Sehun langsung macak-acak rambutnya. Rian menumpangkan dagunya ke lutut dan memandangi Sehun yang terdiam menatapnya, dengan ekpresi yang tak bisa digambarkan olehnya.

“Sekarang apa? Mungkinkah seorang Oh Sehun menjadi semelankolis ini?” Rian bergantian menatap laki-laki itu dengan ekpresi yang sulit digambarkan, banyak kemungkinan yang ia pikirkan tentang Sehun, juga tentang perasaannya terhadap laki-laki itu.

Sehun menatap Rian sendu, “Aku hanya terlalu merindukanmu,” sekali lagi Sehun mengelus lembut pipi gadis itu. Senyumnya kembali merekah walau lebih terlihat seperti alibi yang membosankan. “Kenapa kau tidak pernah menghubungiku? Aku tidak pernah membayangkan sampai selama ini menunggumu,-”

‘Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tetap menunggumu. Bahkan Aku tak pernah merasa bosan menunggumu, meski waktu terus berjalan, sedangkan kau tak kunjung datang.’

Sehun menghela napas, “Jawabannya… rumit.”, ia kembali bersandar, memejam matanya untuk beberapa saat. Dagunya terangkat, lalu ekspresinya mendadak datar.

Banyak hal yang belum kuceritakan padamu’.

“Mm?..” Rian masih menunggu, namun tak ada jawaban disana, lelaki itu hanya tersenyum menenangkan. “Aku menyesal telah membuatmu menunggu, Aku tidak bermaksud untuk.. Aku pergi dengan… terburu-buru.”

Rian memiringkan wajahnya tidak mengerti, dua alisnya nyaris bertaut memerhatikann ekpresi Sehun yang seakan ingin meralat ucapannya tadi. Kemudian ekpresinya melembut. “Tapi kau tidak akan pergi lagi, kan?” Terlihat Sehun menarik napas panjang, tubuhnya kembali mendongak, sambil melihat kilat tatapan mata memohon gadis itu.

Sehun menggeleng, seraya tersenyum.

**

‘Malam tadi..’ Part-2′

Terasa sesak, susah payah ia menarik napas. Tanpa ia sadari buliran airmata yang kian memenuhi pelupuk matanya, menetes, menghiasi pipinya. Jika saja ia tidak menginginkan untuk datang kemari, semuanya tidak akan terjadi. Tubuhnya meringsut kelantai, sambil membungkukan tubuhnya ia tenggelamkan wajahnya diantara ampitan kedua kakinya.

‘Akan lebih baik jika aku tidak mengetahuinya, akan lebih baik jika laki-laki itu bukan Chan, aku lebih menerima jika laki-laki itu orang lain’. Sehun menghela napas, ia menghapus air matanya kasar, melangkahkan kakinya menerobos hujan.

“Eoh, Hun-ah? Kau Oh Sehun?”

‘Bagian menyebalkan apa lagi ini?’

           “Eoh? Kau.. Chanyeol?”

‘Sang keajaiaban sepertinya tidak memilih datang kepadaku hari ini.’

Sehun tersenyum.

5 menit, 10 menit. Sembari memerhatikan jalanan lewat tirai yang masih terguyur hujan, Rian menggigit ujung kukunya. Bingung. Sejak tadi Naya bicara ini itu, tapi ia tulikan pendengarannya dan berusaha mengabaikannya. Namun ada satu pertanyaan yang bahkan menembus pertahanannya, “Kenapa tiba-tiba kau bersama Sajangnim? Apa hubunganmu dengannya?” Pertanyaan sama yang selalu ia dengar saat berada di tempat kerja.

Rian memejam.

Sampai pada akhirnya ia beranjak mengambil payung, lalu berlari keluar apartemen.

Pria dengan coat selutut berdiri tepat dihadapannya, dengan payung navy melindunginya dari air hujan. Benar-benar tidak mengenakan diposisi seperti ini, berada diantara mereka berdua. Laki-laki dalam frame foto itu.

Park Chanyeol’.

“Hun-ah? Oh Sehun, ya bangapta.. Lama sekali kita tidak bertemu!”

“Mm.. Ne,- bagaimana kabarmu?” balasnya, berusaha terlihat biasa.

Belum sempat bicara, satu pemandangan yang membuatnya termangun, dua laki-laki saling berhadapan didepan sana. Ia melangkah perlahan, namun tetap menjaga jarak dari keduanya.

Gadis itu menggenggam erat payungnya. Kalimat pengakuan itu membuatnya terhenyak, ternyata keraguannya salah, ia benar-benar orang itu, seseorang dari masa lalunya. ‘Tapi, kenapa ia tidak mengatakannya padaku?’

“Tapi, apa yang kau lakukan disini?” Sehun angkat bicara, ia berharap kedatangan laki-laki itu bukan untuk menemui Rian, ia ingin jawaban lain. “Apartemenku tidak jauh dari sini, awalnya aku akan mampir ke apartemen Rian untuk memberikan ini,” menunjukan kantung hitam yang sedari tadi ia genggam, “Tteoppoki, tapi sepertinya ia sudah tidur, ah benar Rian tinggal di sini, apa kau sudah bertemu dengannya? Ia bekerja di perusahaanmu” tambahnya.

“Aah, Iya.. Chan-ah, aku harus pergi,-“

“Eoh?, iya−sampai bertemu lagi. Nanti..” Balas Chanyeol ragu.

‘Sepertinya tidak ada yang memihak padaku’. Berjalan sendirian menembus hujan, dengan perasaan yang tak menentu membuatnya benar-benar terpuruk. Jika akhirnya seperti ini lebih baik ia menolak permintaan Kakeknya dan tinggal di London. Tapi sepertinya universe tak mengijinkan keinginannya. Mungkin cinta datang tanpa direncanakan, tapi tidak ada yang salah bukan? semua orang berhak jatuh cinta pada siapapun, termasuk dengan sahabat sendiri.

Sehun menegadahkan wajahnya menghadap hujan. Menangis walau tak terlihat, namun ujung bibirnya terangkat membentuk simpul senyum. ‘Tidak usah menyesalinya, toh tidak akan ada yang berubah. Tapi satu hal yang membuatku bahagia. Bisa melihatmu lagi’.

****

5 thoughts on “Beautiful Pain (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s