Freaky Girl [9]

freak girl

“Freaky Girl [9]”

Author : alfykmn || Casts : Kim or Park Chanyoung (OC), Casts : Chanyeol [EXO], Sehun [EXO], Baekhyun [EXO], Luhan [Xi] (ndak mau tau pokoknya dia masih masuk EXO pfft), etc || Genre : Friendship, Life, School-life, Love/Hate, AU || Lengrt : Chapter || Rating : Teen

.

.

.

.

“Kau gila? Ingin membuat skandal? Ya ampun, kalau mau membunuhku jangan dengan cara halus begini –memanfaatkan jasa gratis fansmu untuk melu–”

“Mereka melukaimu?” Chanyoung hanya mendengus lalu menatap Chanyeol tepat di matanya.

“Ya, kalau bukan mereka siapa lagi? Aku? Aku memang benar-benar ingin mati tapi bukan dengan menyiksa diri. Ah, kau baru tau ya? Kok baru tau sih?”

“Aku-” Suara Chanyeol tercekat. Dia bingung ingin membalas apa kalimat adiknya yang terbilang menyindir. Chanyoung benar, kakak macam apa yang tidak mengetahui adiknya luka, sakit, bahkan menangis?

Menangis….astaga, dengan keadaan cekcok seperti dulu saat mental kita masih lembek sudah berapa kali ia menangis?! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang??

“Sudahlah. Aku saja sudah cukup terharu karena kau akhirnya mulai melakukan pemberontakkan,” Chanyeol mengerjap matanya pelan lalu tersenyum samar. Ia menakup pipi kembarannya ini yang tirus –tidak berpipi bakpau seperti dulu. Ia tetap tersenyum meskipun beberapa detik kemudian, tangan adiknya yang bebas menepisnya kuat.

Yah, meskipun arti dari senyumannya sekarang benar-benar jauh berbeda dari senyum awalnya.

“Haduh haduh haduh, adikku ini tetap manis ya meskipun sikapnya tidak manis lagi.”

“Apa maksudmu?” Chanyeol tau pasti kembarannya tersebut akan menanyakan hal itu. Kalau dirinya mulai memuji –meskipun kata-kata tadi dia hanya pasti ada maksudnya dan sejujurnya pujiannya sekarang juga ada maksudnya.

“Kau masih ingat rupanya. Gampang. Kau hanya perlu pulang denganku dan kita kembali-”

“Tidak semudah itu. Cuma karena aku menerima pipa paralon darimu, mengajakmu bicara, dan ‘mengakuimu’ sebagai kakak, kau sudah berani mengajakku seakan-akan 2 tahun lalu tidak terjadi apapun? Oh astaga,” Chanyoung bertepuk tangan keras-keras seraya tertawa sinis.

Sementara itu, cengiran Chanyeol benar-benar sudah lenyap tak berbekas karena si empu hanya bisa terdiam tanpa bisa ngelak lagi. Tentu saja itu semua tetap saja salahnya meskipun 2 tahun yang lalu, dirinya sama seperti anak remaja lain. Terlalu labil untuk memutuskan sesuatu.

“Ah sudahlah,” Gadis itu mengibas-ibaskan tangannya lagi di udara. “Percuma saja membuatmu selalu merasa bersalah, toh mereka tetap tidak akan menganggapku juga. Lagipula kau ini kan bukan tipe orang gila yang masuk ke rumah dan teriak ‘tolong terima lagi kim chanyoung’ blablablabla. Bullshit haha,” Meskipun nada sinis lagi-lagi ia gunakan, Chanyoung tetap mengulum senyum simpul seakan-akan apa yang dia katakan bukanlah apa-apa.

“Hah~Dan kuharap kamu benar-benar tidak melakukan hal gila itu,” sahut Chanyoung lagi, kali ini dengan nada bersahabat. “Kalau alasan menolak keinginanmu bukan karena kejadian itu pun, aku tetap saja menolak karena ada janji dengan sahabat-sahabatku,” Chanyeol kembali menunjukkan cengirannya walalupun ekspresi wajahnya masih agak meredup.

“Tidak bisakah kau memprioritaskan diriku dibandingkan mereka? Aku ini ada hubungan darah denganmu. Aku-”

“Yah….itu benar. Tapi soal prioritas itu tergantung daftar di hatiku bukan? Kau memang kakakku –itu benar dan sampai kapan pun aku membantahnya sampai ke ujung dunia pun itu tidak akan berubah tapi baru-baru ini namamu naik ke posisi ke 7, posisi sahabat-sahabatku masih ada di atasmu. Arraseo?”

Nafas Chanyeol tercekat.

Dia yang jelas-jelas satu darah, lahir dari rahim yang sama, dan sama-sama satu ayah ibu ada diposisi ke tujuh –dibawah sahabat-sahabatnya. Jadi sebelum aksi anarkisnya ia lakukan sejak kemarin, dia itu berada di posisi keberapa? Dibawah enam kah? Memangnya daftar di hati Chanyoung sampai nomor berapa? Kalau sampai nomor ketujuh, Chanyeol benar-benar tidak bisa bernafas.

Apa dia sejahat itu hingga mendapat posisi di bawah sahabat-sahabat adiknya? Atau memang kalimat ‘friendship is everything’ itu benar?

Tunggu dulu…….Sahabat Chanyoung hanya ada 4. Lalu siapa yang diposisi kelima dan keenam?

“Siapa yang di posisi kelima dan keenam?” tanya Chanyeol langsung begitu saja. Chanyoung bergeming, sikapnya terlihat aneh saat tubuhnya kentara sekali menegang dan itu cukup memancing keinginan Chanyeol untuk menunjukkan seringainya.

Pasti ada yang tidak beres.

“Bukan urusanmu,” Chanyoung langsung mengalihkan pandangannya begitu saja dari sang kakak. Seingat Chanyeol, hanya ada dua hal alasan kalau Chanyoung mengalihkan pandangan : dia benar-benar tidak ingin membahasnya karena itu memiliki memori buruk atau hal yang dibicarakan itu rahasia.

“Aku kakakmu jadi itu urusanku.”

“Cih, kau baru mengakui aku ini adikmu setelah menghilang selama 2 tahun? Enak saja kembali-kembali langsung mengaku begitu,” cibir Chanyoung masih tak menatap pemuda di hadapannya.

“Terserah kau saja. Kau akan pergi dengan sahabat-sahabatmu bukan? Baiklah, aku akan ikut. Boleh?” Redupan di wajah Chanyoung mulai mudar dan ia kembali menunjukkan wajah senga-nya bukan wajah tak enak dilihat seperti tadi.

“Aku tidak tau apa diperbolehkan membawa orang lain atau apa. Yah sejujurnya aku juga keberatan kau ikut,” Meskipun Chanyeol jelas-jelas mendengar adiknya tak mau dirinya ikut tapi tetap saja ia yakin adiknya tak keberatan. Hanya saja faktanya, tidak ada sahabat Chanyoung yang mau menerimanya –terutama Sehun.

Mungkin Kyungsoo dan Luhan masih menerimanya –karena mereka yang paling dewasa dan Chen mungkin hanya menyindirnya seperti Chanyoung –bahkan Chanyeol sedikit merasa curiga kalau Chanyoung pintar menyindir karena ajaran Chen tapi tidak untuk Sehun. Chanyeol bahkan tidak bisa mendeskripsikan seberapa parahnya Sehun pada dirinya.

“Yah….” Pupus sudah harapan Chanyeol. Apalagi dia menyadari bahwa kemungkinan tempat nongkrong mereka setelah tragedi tangis menangis itu pasti cafe es krim yang rasanya enak begitupula dengan harganya yang enak untuk mengosongkan dompet anak pelajar seperti mereka.

Meskipun Chanyeol tinggal bersama orang tuanya yang terbilang sangat mampu itu, dia sebisa mungkin untuk tidak menggunakan uang dari orang tuanya sejak kejadian itu dan uang saku hasil jerih payahnya sekarang hampir menipis.

“Park Chanyeol yang kukenal tidak segampang menyerah begini. Hwaiting,” Benar juga ucapan Chanyoung. Dari dulu sampai sekarang dia bukan anak yang mudah menyerah –meskipun kejadian 2 tahun yang lalu cukup hebat untuk merenggut jiwa pantang menyerahnya tapi mendengar ucapan Chanyoung terdengar datar –tak sesuai dengan kata terakhir yang diucapkannya– tanpa nada menyindir , Chanyeol merasa lebih baik.

Jauh lebih baik dari sebelumnya.

****

Chanyeol POV

“Baekhyun-ah….”

“Baekhyun…..”

“Byun Baekhyun!” Baekhyun melirikkan matanya ke arahku. Mungkin dia merasa heran kenapa aku nekat mengajaknya bicara saat ulangan Kimia.

“Isk, Kau sudah selesai?”

“Hampir. Kau sudah?”

“Hampir juga. Aku ingin bertanya. Apa ada namja lain yang dekat dengan Chanyoung?” Baekhyun berhenti menyanggah kepalanya dengan tangan kirinya lagi.

“Kupikir tidak ada. Kalau ada pun hanya empat sahabatnya, dirimu, guru-guru. Kau kan kakaknya, coba perhatikan dengan teliti. Lagipula kenapa kau bertanya padaku?”Aku menopang dagunya sambil berpikir. Bukan berpikir tentang jawaban dari soal yang belum terjawab di kertas depan mataku, aku hanya berpikir siapa yang paling perhatian.

Luhan? Ah, dia sangatttt dekat dengan Chanyoung tapi dari cara memandang adikku itu terkesan lembut, mature, dan tanpa tanda-tanda spesial.

Kyungsoo? Dia memang perhatian –bukan perhatian lagi tapi over. Hanya banyak bicara kalau ada yang perlu perhatiannya, sisanya dia hanya bicara saat ditanya –bahkan terkadang tak bersuara kalau tau pertanyaan itu tak penting. Chanyoung dulu –entah sekarang tidak suka orang seperti itu tapi dia malah menganggapnya oppa.

Chen? Tidak mungkin kalau Chanyoung menyukainya meskipun kudengar selera Chanyoung sedikit melenceng dari normal. Tapi Chen bukan melenceng dari normal lagi, tapi sudah tidak normal. Meskipun dia terkesan charming dan tampan –meskipun semua orang tau kalau aku lebih tampan dari anak itu tapi dia bisa tertawa hanya karna melihat proses menghirup udara seseorang. Apa orang seperti itu kalian masih bilang dia charming?

Sehun? Aku…..sedikit curiga dengan anak itu. Securigaku dengan Baekhyun, eh?

Chanyoung bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain. Lagipula cara ‘pedekate’ ala Chanyoung terhadap teman baru itu tidak biasa, luar binasa maksudku. Dia akan bermusuhan –bahkan kudengar akan main tangan dengan anak yang sedang ‘pedekate’ padanya. Apa Baekhyun juga termasuk?

Sehun Baekhyun

Sehun Baekhyun

Sehun Baekhyun

Ya! Nama itu sudah tertanam di daftar yang perlu di curigai!

“Ckckck, Park Chanyeol Park Chanyeol. Bukannya menjawab soal malah menulis nama nama tak jelas di lembar jawaban.”

“Huuuuuuuuuu…..” koor satu kelas terutama para lelaki tapi aku hanya bisa memamerkan gigi besar-besarnya membuat Baekhyun hanya bisa memutar kedua bola matanya.

“Adek dan kakak sama saja. Sama-sama aneh,” desisnya membuat senyumanku makin lebar.

Chanyeol POV END

***

KRINGGG…..

Semua anak langsung beranjak dari kursinya. Semuanya sudah siap untuk pulang sejak 5 menit yang lalu –tentu saja, 1 jam sudah mereka nganggur akibat guru matematika tak hadir, dan tentu saja freetime kali ini dimanfaatkan sebaik mungkin untuk tidur atau sekedar mengobrol biasa.

“Aku keluar duluan ya untuk mengumpulkan mereka-mereka yang suka berpencar. Nanti kau menyusul di lapangan,” ujar Luhan setelah dia mencolek-colek bahu Chanyoung agar gadis itu sekedar mengalihkan pandangannya dari buku true story favoritnya untuk melihat, tidak tidak hanya sekedar mendengar yang mengajaknya berbicara lebih dari cukup.

Luhan lekas cepat keluar dari kelas saat melihat anggukkan kepala dari Chanyoung.

“Hey! Park Chanyoung!”Chanyoung mengangkat kepalanya dan melihat seorang namja menjulang tinggi tengah tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahnya.

Chanyoung menutup bukunya dan berjalan menghampiri namja menjulang itu bersama tas penuh yang sudah dia gendong dengan malas-malasan.

“Luhan waktu lihat aku bilang dia sedang mengumpulkan yang lain. Nanti kita ke lapangan. Apa mau ke lapangan sekarang?” Namja menjulang dengan name tag ‘Park Chanyeol’ dalam tulisan hangul di sisi dada kirinya memberikan aba-aba agar Chanyoung tidak berbicara dulu.

“Sebelum itu aku membawa sahabatku. Byun-”

“Gadis salju, kau suka es krim juga ternyata. Kukira kau hanya menyukai salju ha-ha,” Chanyoung menyipitkan matanya meskipun orang yang baru mengajaknya bicara itu jelas-jelas ada di belakang Chanyeol dan bisa terlihat dengan jelas. Bukan karena ada namja itu –dia merasa siapa lagi sahabat kakaknya kalau bukan bocah keparat itu tapi karena panggilan untuk dirinya.

“Gadis sal –apa? nama panggilan macam apa itu,” sahutnya malas. “Kupikir es batu tidak ikut makan es krim. Memangnya dia punya-” Chanyeol mengangkat tangan sebelah kanannya yang cukup menarik perhatian Chanyoung agar tidak mengeluarkan suara lagi.

“Sudah sudah, nanti gadis salju bisa meleleh karena suasana mulai memanas. Satu lagi, Byun Baekhyun itu bukan es batu. Dia itu es krim. Sangat beku hingga membuat gigimu ngilu tapi saat es krim itu sudah ada di dalam kerongkonganmu, akan terasa-”

Shut up,” Baekhyun menyeret Chanyeol dengan tangan kanannya yang menarik tangan korbannya. Kekehan terlepas dari bibir tebal Chanyeol seakan-akan dia menikmati seretan Baekhyun bukannya malu karena diseret oleh orang yang lebih pendek darinya.

Chanyoung memiringkan kepalanya –mungkin beberapa orang menganggapnya dia sedang menatap pasangan Baekyeol itu tapi sebenarnya dia sedang berpikir keras.

Dia itu es krim. Sangat beku hingga membuat gigimu ngilu tapi saat es krim itu sudah ada di dalam kerongkonganmu, akan terasa-

Terasa apa? Manis?

Chanyoung meneguk air liurnya dengan susah payah saat kata ‘manis’ terbesit pertama kali di pemikirannya. Byun Baekhyun? Byun Baekhyun yang es batu itu dibilang manis? Byun Baekhyun yang datar-dingin itu manis?!

Kalau harus diakui, yah memang Byun Baekhyun itu manis –manis seperti perempuan maksudnya karena ada eyelinear khas make up perempuan tergores rapih di sekitar matanya. Tapi kenapa harus kata ‘manis’ yang muncul di benak duluan?!

“Kau? Masih mematung disana saja?” Chanyoung kembali mendarat ke bumi dan melihat Baekhyun menatapnya. Pandangan mereka bertemu dan itu cukup membuat Chanyoung merasa errr tidak nyaman mungkin?

“Kau ini apa?”tanya Baekhyun mulai berjalan ke arah Chanyoung. Chanyoung hampir saja mau berpikiran untuk berjalan mundur ke belakang tapi pemikiran itu dia tolak mentah-mentah, Byun Baekhyun pasti akan menggodanya karena aksinya yang tidak biasa.

“Manusia.”

“Aku juga manusia bodoh. Maksudku kau ini apa? Kemarin kasar dan di akhir malah menangis kejar. Sekarang baik dan terlihat rapuh seperti anak perempuan. Kau memang begitu? Seaneh-anehnya Chanyeol, dia tidak separah dirimu,” Buku-buku jari Chanyoung memutih, ini pasti efek tangannya yang dia kepal sedaritadi. Dia benci dibilang rapuh.

“Tidak semua anak perempuan rapuh,”desis Chanyoung dalam hati makin mengeratkan kepalan tangannya.

“Aku tidak aneh. Ini unik kau tau? Aku ini hanya anti-mainstream!”

“Anti-mainstream itu apa? Aneh,”tanya Baekhyun acuh tak acuh. Chanyoung jadi bingung sendiri, namja di depannya memang kurang update atau memang kata mainstream bukan kata umum? Tapi kenapa teman-temannya –yang bukan perempuan tentunya– tau? Atau hanya orang ‘pinggiran’ yang tau?

“Ah sudahlah aku disini mengajakmu bicara baik-baik karena sadar kakakmu yang lebih polos dibandingkan adiknya. Jadi kau tidak usah memakai topeng jahatmu dulu. Be yourself for your brother oke? Dan kau harus serius dengan kakakmu. Dia bukan mainan. Aku memberitahumu karena peduli lho.”

Chanyong tidak gugup –dia sudah berhasil mengurangi rasa tak nyamannya, hanya saja sekarang ia tengah menahan nafas lalu memutar kedua bola matanya.

“Ya, kakakku bukan mainan dan para gadis juga bukan mainan,”sindirnya sebelum dia mundur beberapa langkah untuk melihat ekspresi Baekhyun –dan jaga jarak tentunya. Dingin dan sarat dengan…..perasaan campur aduk mungkin?

“Kudengar kau sudah ratusan kali berpacaran padahal umurmu masih 18 tahun. Apa lagi kalau kau hanya bermain dengan para gadis ngeung?”

“Kim Chanyoung! Ayo kita ber-” Senyuman ceria langsung menghilang, tergantikan oleh wajah datar yang biasa ia tunjukkan pada semua orang saat pandangannya menabrak punggung namja yang akhir-akhir ini mengotori pandangannya di dunia.

Chanyoung hampir saja menggigit jarinya kalau saja sikap mengigit jarinya tidak akan mengurangi suasana kali ini yang bukan mencekiknya saja, tapi juga bisa membunuhnya.

Siapa lagi kalau bukan kedatangan seorang Oh Sehun?

-TBC-

Iklan

5 thoughts on “Freaky Girl [9]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s