I Love My Father (Chapter 3)

PhotoGrid_1446989518098

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

Mentari pagi menyambut sekumpulan orang yang masih tertidur dalam ranjang empuknya. Masih meninkmati mimpi indah

Keesokan harinya, Luhan membawa YoungAh pergi ke SHS (Senior High School/SMA). Karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang Ayah untuk menyekolahkan Anaknya.

“Sekarang ini adalah sekolah barumu. Lupakan kejadian kemarin oke! Ayah sudah bilang padamu bahwa itu efek kedewasaan dari dirimu, bukan karena kau bukan anak kandung Ayah dan Ibu mu. Oke?” Luhan mengawali pembicaraan dengan YoungAh sebelum ia menghambur masuk kedalam sekolah.

“Iya Ayah. Aku pergi ya”

“Baiklah.” YoungAh turun dari mobil lalu melambaikan tangan pada Luhan. Setelah itu, ia berbalik menatap sekolahnya yang begitu mewah dan megah. Ia menghirup udara segar dan mengawali hari baru dengan senyum merekah nya. Ia pun bergegas masuk kedalam sekolahnya dengan berlari kecil.

Ia berjalan melewati koridor sekolah dengan melihat seluruh penjuru sekolah. Kaki nya pun terhenti tepat di ruang Guru. Ayahnya berpesan agar ia pergi ke ruang guru terlebih dahulu.

Ia membuka pintu itu hati-hati dan membungkuk hormat pada semua guru

“Kau mencari siapa?” tanya seorang salah satu seorang Guru.

“Saya mencari Bu Choi Soon Yi.”

“Oh Guru Choi. Dia ada di situ!” Guru itu menunjuk seorang Guru yang sedang duduk menghadap komputer tepat di dekat jendela.

“Terimakasih Bu.” YoungAh menunduk lalu pergi ketempat Guru tersebut.

“Permisi Ibu Choi Soon Yi.” Sapa YoungAh sopan.

“Iya, ada apa?”

“Saya Shin Young Ah, anak dari Shin Luhan yang kemarin baru daftar sebagai murid di sekolah ini.”

“Ah ya, Shin Young Ah. Aku ingat itu. Ada perlu apa?” tanya Guru Choi sambil mematikan komputernya.

“Aku ingin tahu kelas yang akan kutempati. Aku ingin segera masuk ke kelas.”

“Kelas mu ada di lantai 2. Kelas X-A.”

“Terimakasih Bu. Saya permisi ke kelas.” YoungAh pamit pada Gurunya dan langsung berbalik memunggunginya.

“Tunggu..” suara Guru Choi menghentikkan langkah YoungAh.

“Ya?” YoungAh dengan sigap membalikkan badannya menghadap guru Choi.

“Sekolah ini luas. Kau pasti susah menemukannya. Biar nanti kita ke kelas bersama ya. Aku ini Wali Kelasmu. Aku juga ada jam dikelasmu. Ya?” YoungAh masih ragu atas perkataan gurunya. Ia benci menunggu. Ia ingin cepat-cepat beradaptasi dengan teman-teman barunya.

TEEETT.. TEETTTT….

            “Sudah bel kan? Ayo kita kekelas!” ajak Guru Choi. YoungAh membuntuti Guru nya yang akan menunjukkan jalannya kekelas.

“Kau pindahan dari sekolah mana? Kemarin, Ibu belum sempat menanyakan pada Ayahmu karena Ibu benar-benar mengantuk. Salahkan Ayahmu karena datang saat malam. Tak biasanya ada tamu datang malam seperti itu.” Guru Choi memulai perbincangan. Sedangkan YoungAh hanya tertawa kecil karena sebenarnya ia yang menyuruh Ayahnya datang malam ke sekolah untuk mendaftarkannya sebagai murid baru. Itulah YoungAh, orangnya tidak sabaran.

“Aku tidak tahu Bu.” Jawabnya tanpa berfikir panjang, membuat Guru Choi mengerutkan alisnya.

“Kenapa kau bisa tidak tahu?”

“Aku lupa ingatan.” Jawab YoungAh singkat.

“Apa? Lupa ingatan? Kenapa bisa kau lupa ingatan? Kecelakaan kah? Atau terbentur kah?” tanya Guru Choi bertubi-tubi.

“Aku tidak tahu.” YoungAh mengangkat kedua bahunya.

“Aishh kau ini! Ditanya oleh Guru malah tidak tahu. Sebenarnya apa yang kau tahu?!” Guru Choi mulai jengkel dengan kelakuan murid barunya itu.

“Aku tidak mau tahu! Makanya aku tak tahu.” Guru Choi berhenti melangkah dan YoungAh pun mengikuti pergerakan Gurunya. Tepat di sebuah ruang kelas yang terdapat tulisan X-A. “Ini kelasnya?” tanyanya

“Ya. Kau jangan masuk dulu sebelum Ibu menyuruhmu. Mengerti?”

“Iya. Aku mengerti.” Guru Choi masuk terlebih dahulu dan membiarkan YoungAh berdiri sendirian di ambang pintu.

“Selamat pagi Anak-anak!” Guru Choi menyapa anak muridnya sambil meletakkan tasnya diatas meja guru.

“Selamat pagi Bu!” ucap murid-muridnya serempak.

“Bagaimana kabar kalian?”

“Baik Bu!!”

“Hari ini kelas kita kedatangan murid baru, namanya Shin Young Ah. Mari YoungAh, silahkan masuk dan perkenalkan dirimu!” YoungAh segera masuk kekelas dan menunjukkan dirinya kehadapan teman-temannya.

“Selamat pagi teman-teman! Nama saya Shin Young Ah! Senang bisa bertemu dengan kalian! Semoga kalian suka dengan kehadiran saya disini dan bisa menjadi teman yang baik. Terimakasih!” YoungAh sangat senang saat memperkenalkan dirinya kehadapan teman-temannya. Senyumnya tak pernah luntur dari bibir mungilnya. Dan, ia tak mengetahui bahwa ada seorang anak laki-laki yang memperhatikannya dengan wajah terkejut.

“Ada yang mau bertanya? Untuk 3 orang saja” tanya Guru Choi. Dan ada beberapa yang mengacungkan tangannya.

“Dulu kau bersekolah dimana?” tanya salah satu murid.

“Tidak tahu” jawabnya cepat. Sedangkan Guru Choi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.

“Kenapa kau tidak tau?”

“Karena aku lupa ingatan!” YoungAh masih terus tersenyum walaupun jawabannya sangat singkat.

“Kenapa bisa?”

“Aku tak tahu!”

“Kenapa kau tak tahu?”

“Cukupp.!!” Guru Choi bangkit dari duduknya. Ia benar-benar naik pitam karena kedua muridnya yang beradu argumen dan tak ada yang mau mengalah.

“HyeSung! Kenapa sifat penasaranmu masih melekat hah? Berhenti lah menanyakan hal yang tak penting padanya! Kau ini membuatku pusing.” Guru Choi memijat pelipisnya. Ia tak kuat mempunyai murid seperti mereka. Mereka berdua cantik, tapi sifatnya yang tak cantik.

“Tapi aku masih penasaran Bu! Aku akan berhenti bertanya sampai aku menemukan jawabannya.”

“Tapi kau sudah mengajukan lebih dari 3 pertanyaan!”

“Lalu kenapa? Aku masih jadi orang pertama yang mengajukan pertanyaan. Jadi aku bebas menanyakan sesuat hal padanya!”

“Aisshh kau inii..”

“Ibu kan menyuruh 3 orang murid untuk mengajukan pertanyaan. Ibu tidak menyuruh untuk mengajukan 3 pertanyaan saja kan? Seharusnya..”

“Ya ya.. baiklah. Kau lanjutkan sesi pertanyaan mu. Ibu memang selalu kalah bila berargumentasi denganmu!” Guru Choi duduk kembali dan menaruh kepalanya diatas meja dengan wajah kusut.

“Jawab pertanyaan ku yang tadi.” Sahut Hyesung.

“Karena aku tidak mau tahu.”

“Kenapa kau tak mau tahu?”

“Karena menurutku itu tidak penting.”

“Lalu apa yang menurutmu penting?” YougAh diam sejenak sambil memikirkan sesuatu. Entah mengapa ia tak ingin terlalu cepat menjawab pertanyaan yang satu ini.

“Orang tua ku.”

“Alasannya?”

“Karena seorang anak tidak akan bisa hidup tanpa orang tua.”

“Jawaban yang bagus. Terimakasih telah menjawab pertanyaanku.” Hyesung tersenyum simpul dan dibalas dengan anggukan YoungAh dan senyum nya juga.

“Aku ingin bertanya!” sahut salah satu murid laki-laki dengan antusias. “Selain orangtuamu, apa lagi yang menurutmu penting?”

“Hemm.. menurutku pendidikan.”

“Kalau pendidikan, kenapa saat HyeSung bertanya sekolah asalmu dulu kau menjawab tidak tahu dan tidak mau tahu?”

“Karena saat ini aku sedang lupa ingatan. Dan menurutku yang terpenting adalah asal-usul kedua orang tuaku. Bukan berarti sekolahku yang dulu tidak penting. Hanya saja, aku belum mau mengetahui jati diriku sebenarnya. Aku ini sifatnya seperti apa? Hobi ku seperti apa? Saat aku kecil aku seperti apa? Seringkah aku membuat kesalahan? Apa aku pernah mengecewakan orangtuaku? Aku tak suka melihat kebelakang, aku lebih suka melihat kedepan. Toh, penyakit yang aku alami bukan permanen. Ini bisa disembuhkan asal ada yang mengingatkanku kembali. Dan kata orang-orang, seseorang yang lupa ingatan dapat disembuhkan dengan cepat apabila si pengidap membenturkan kembali kepalanya. Tapi aku tak tahu apa itu berhasil atau tidak. Biarkan hidup ini mengalir seperti air.” Tutur YoungAh dan disambut tepukan tangan dari temannya dan juga Guru Choi. Entah sejak kapan Guru Choi menikmati sesi pertanyaan itu.

“Sekarang giliranku.” Seorang anak laki-laki lagi yang bertanya. Tapi kali ini ia berdiri dari tempat duduknya dan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.”Aku ingin bertanya, apa kau mengenalku?” segelak tawa pun mendominasi ruangan kelas. Guru Choi pun ikut tertawa atas pertanyaan yang diajukan muridnya itu. Tapi tidak untuk YoungAh, ia malah terlihat berfikir. Sepertinya ia mencoba mengingat sosok laki-laki yang telah mengajukkan pertanyaan itu.

“Aku tidak mengingatnya. Maaf..”

“Coba kau ingat kembali.”

“Aku tidak bisa.”

“Aisshh kau ini! Aku belum lama bertemu denganmu. Masih di bulan ini, tapi aku lupa tanggalnya.”

“Kau bertemu dengan ku dimana?” dan saat itu juga lelaki itu menundukkan kepalanya dan duduk ditempat duduknya.

“Sudahlah lupakan kalau kau tak ingat.” YoungAh dibuat terkejut olehnya karna ia tak menjawab pertanyaannya.

“Baiklah kalau sudah selesai sesi pertanyaan nya. Kau bisa duduk YoungAh.” YoungAh menunduk hormat lalu pergi ketempat duduk yang berda dipaling belakang. Dan mata laki-laki tersebut masih terus memperhatikan gerak-gerik YoungAh sampai gadis itu duduk ditempatnya.

“Hei! Apa yang kau lihat? Apa kau menyukai murid baru itu?” tepukan kecil di bahunya membuat ia tersadar dan salah tingkah karena pertanyaan teman yang duduk dibelakangnya.

“Tidakkk..” lelaki itu pun segera duduk diposisi yang benar sambil memperhatikan Guru Choi yang sedang menulis di papan tulis.

***

“Heii..” lelaki itu datang ketempat duduk YoungAh saat bel istirahat berbunyi.

“Ya? Ada apa? Oh iya, senang bertemu kembali!” YoungAh mengangkat tangannya seraya menjabat tangan lelaki itu.

“Aishh itu tak penting.” Lelaki itu menepis tangan YoungAh dengan lembut. “Tapi apa benar kau tidak ingat padaku?”

“Tidak..” YoungAh mengerutkan dagu seraya memikirkan suatu cara agar dapat mengenal lelaki tersebut. “Memang nama mu siapa?” lanjut YoungAh lagi.

“Park Chan Yeol.” Setelah lelaki itu menyebutkan namanya, YoungAh langsung berfikir dengan keras apa ia pernah mengetahui orang disampinya .

“Hmm.. Park Chan Yeol? Sepertinya aku pernah melihat nama mu.” Ucapan YoungAh sukses membuat ChanYeol terlonjak kaget.

“Benarkahh?? Kau lihat dimana hemm??”

“Hmm aku tidak tau pasti dimana. Tapi yang aku ingat, aku tahu namamu berkat name tag mu itu.” YoungAh menujuk name tag ChanYeol yang berada di dada sebelah kanan.

“Ohh seperti itu.” Raut wajah ChanYeol pun berubah. Entah apa yang membuat ia berubah.

“Kenapa raut wajah mu jadi berubah seperti itu?”

“Aku bingung, apa aku harus memberitahumu atau tidak?”

“Beritahulah!”

“Tapi.. setelah aku memberitahumu, kau janji jangan menghukum ku ya. Kau juga tak boleh marah padaku. Kau juga jangan masukan aku kedalam bui. Karena lelaki itu sudah melepaskanku.” Perkataan ChanYeol sukses membuat YoungAh malah tambah penasaran. Sejujurnya YoungAh benar tak ingat apapun, kenapa ChanYeol mesti takut?

“Iya, aku janji!”

“Sebenarnya penyebab kau lupa ingatan adalah diriku.” YoungAh mengerutkan dahinya. Ucapan ChanYeol menggantungkan, dan ia tak mengerti apa yang dimaksud ChanYeol. “Saat itu aku menabrakmu sehingga kau terbentur sangat keras. Sejujurnya itu bukan salahku sepenuhnya. Itu salah mu! Karena saat kau menyebrang kau tak lihat lampu lalu lintas! Saat itu lampu hijau masih menyala. Dan kau menyebrang seakan akan sudah lampu merah. Tak melihat ke kanan dan kekiri. Otomatis kau tertabrak oleh mobil ku.” Tuturnya panjang lebar.

“Benarkah?” YoungAh masih belum mencerna penjelasan ChanYeol. Ia masih bimbang. Apa benar yang di katakan ChanYeol?

“Iya benar! Saat kau terbaring di aspal dengan bercucuran darah, aku langsung turun dari mobil dan melihat ke adaan mu.” YoungAh memalingkan wajahnya dari ChanYeol dan berusaha keras untuk mengingat kejadian itu walaupun semuanya nihil, ia tak mengingat satu kejadian pun. Ia seperti baru memperbaharui otaknya kembali, yaa seperti bayi yang baru lahir. Masih belum punya kenangan sedikit pun. “Hei apa yang kau pikirkan? Kau bukan termasuk korban tabrak lari! Aku masih melihat keadaan mu walaupun aku tidak menjenguk mu di rumah sakit karena perintah lelaki itu. Kau bahkan sempat minta tolong saat aku menaruh kepalamu di pangkuanku.”

“Apa? Minta tolong? Untuk apa?” YoungAh benar-benar frustasi dengan penuturan ChanYeol. Apa yang sebenarnya terjadi? Ini salahnya karena tidak menanyakan sebab ia lupa ingatan pada Tao, Paman nya.

“Mana ku tahu! Tanyakan lah pada dirimu!” YoungAh semakin bingung kenapa ia harus meminta tolong? Ini membuatnya semakin gila karena tidak mengingat satu pun kejadian. “Saat itu kau juga mengenakan baju kantoran, bukan seragam sekolah. Saat aku melihat mu sekarang, ternyata kau masih SMA.”

“Berarti kau salah lihat!”

“Tidak! Aku tak salah lihat! Aku yakin itu dirimu!” ChanYeol tak mau kalah dengan argumen yang diberikan YoungAh.

“Hei! Orang yang mirip denganku itu banyak! Hanya aku saja yang tidak tahu dimana saja orang itu tersebar.” ChanYeol sedikit menimbang-nimbang perkataan YoungAh.

“Yaa kau benar. Tapi..”

“Ahh sudahlah jangan dibahas lagi! Aku pusing mendengar pernyataan mu! Kau tahu? Aku tidak ingat apa-apa! Biarkan saja ingatan ku seperti ini. Suatu saat nanti aku pasti mengingatnya!” YoungAh segera berdiri dari tempat duduknya. “Kau mau kekantin tidak? Aku traktir nanti! Karena kau adalah orang pertama yang jadi temanku!”

“Oke baiklah!” ChanYeol membuntuti YoungAh dari belakang dan segera menuju kekantin.

6 thoughts on “I Love My Father (Chapter 3)

  1. Nah nah kayanya Young Ah yang ini seumuran sama Luhan/? Terima kasih kepada Chanyeol yang udah nabrak dia jadi ada sedikit hint nih /sok tahu/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s