Learning to Love : Confession

6QNjViY4F5

Title : Learning to Love : Confession

Author : Avatar

Main Cast : Park Chanyeol (EXO), Lee Yeonhee (OC)

Genre : Romance, Marriage life, AU

Rating : PG-15

Length : Oneshot (series)

Disclaimer : Don’ be Siders please & also please don’t be plagiators! Imagination world is big enough for all of us so please don’t copycat my story. This story is pure from my own wild imagination. Thank you.

All cast other than OCs belongs to God, their agency, and their relatives.

Karna ini adalah ff pertama aku hasil bolak balik di kasur, jadi mohon maaf kalo ga ngefeel :” awas typo gais, Happy Reading! J

.

.

.

.

.

.

.

Menjadi istri dari pengusaha muda paling sukses di Korea tentu bukanlah hal mudah. Ya, itulah yang dialamai oleh Lee Yeonhee. Di umurnya yang ke 24, Ia harus rela melepas status lajangnya dengan seorang pengusaha muda bernama Park Chanyeol.

Mereka menikah bukan atas dasar cinta asal kalian tahu, tapi karena dijodohkan. Ya, alasan yang sangat klise.

Bicara tentang klise, alasan mereka dijodohkan pun juga memiliki latar yang tidak beda jauh dari fanfic-fanfic yang biasa kalian baca. Ayah mereka bersahabat sejak dulu, dan berhubung ayah mereka adalah pengusaha, mereka juga sepakat untuk menginvestasikan saham mereka di perusahaan satu sama lain jika anak mereka dinikahkan.

*****

Aroma khas buah yang manis begitu menyeruak dalam kamar berbalut cat hitam putih dengan sentuhan furniture modern. Memberi kesan elegan dan rapi yang kuat, sangat berbanding terbalik dengan aroma manis nan ceria yang menguar di ruangan itu.

Ruangan itu adalah milik seorang gadis bertubuh ramping yang sedang terbaring di kasurnya. Mungkn Ia masih sibuk menjelajahi alam mimpinya, yang hanya dia-dan-Tuhan-yang-tahu sudah sampai langit keberapa.

Perlahan tapi pasti gadis itu membuka matanya. Mengerjap pelan lalu membuka matanya. Memperlihatkan sepasang netra coklat pekat yang jernih. Ia membalikkan tubuhnya malas dan mengelus seprei kasur di sebelahnya yang terasa dingin, menandakan bahwa tidak ada yang singgah di sebelahnya semalam. Yeonhee hanya bisa menghela napas dan mendudukkan dirinya di pinggir kasur dengan kaki menjuntai ke bawah. Untuk beberapa saat Ia memperhatikan kakinya dengan tatapan kosong.

“Satu hari baru lagi… Yeonhee, fighting!” Yeonhee memberi semangat pada dirinya sendiri

Ia pun bangkit menuju kamar mandi hendak membersihkan diri.

Setelah selesai mandi, ia pun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi suaminya. Walaupun menikah tanpa rasa cinta, istri tetaplah istri dan Yeonhee berusaha sebisanya untuk menjadi istri terbaik bagi suaminya, termasuk dengan cara menyiapkan sarapan.

Setiap pagi rutinitasnya tidak pernah berubah. Mulai dari bangun pagi, menyiapkan sarapan, lalu menyiapkan peralatan kantor suaminya. Ngomong-ngomong Yeonhee dan Chanyeol sepakat untuk tidak sekamar sampai cinta benar-benar menghiasi rumah tangga mereka. Jadi mereka sadar betul dengan batasan masing-masing, ya bisa dibilang semacam peraturan tak tertulis.

Tangannya bergerak cekatan memotong bahan-bahan yang dibutuhkan sambil menunggu sup buatannya matang. Memasak memang merupakan salah satu keahliannya. Tapi sepertinya keberuntungan sedang tidak berada di pihaknya hari ini.

“Aaakh! Aish, kenapa kau begitu ceroboh Yeonhee-ya? Jinjja.” Lirihnya pelan.

****

Wangi masakkan menguar menusuk indra penciuman pria yang baru saja bangun dari tidurnya. Menandakan bahwa sang istri telah bergeming di dapur menyiapkan sarapan untuknya.

Ketika ia baru saja hendak memasuki kamar mandi, tiba-tiba ada suara teriakan wanita dari luar,yang tidak lain pastilah Yeonhee, istrinya. Secara refleks, Chanyeol bergegas keluar unutk melihat keadaan istirnya lalu menghampirinya.

“Yeonhee-ya, ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya panik kepada sang istri yang terlihat sedang memegangi jari telunjuknya, yang tak lama mengeluarkan darah yang lumayan deras.

“Kau berdarah! Coba kulihat.”

“Gwaenchana Chayeol-ah hanya teriris sedikit.”

“Ya! Berdarah begini bagaimana bisa tidak apa-apa? Sebentar, kau angkat tanganmu ke atas supaya darahnya berhenti mengalir dan tunggu di sini, aku akan mengambilkan obat.” Perintahnya kepada Yeonhee yang langsung mengiyakan dan mengangkat tangannya ke atas.

“Sini, biar kulihat.” Kata Chayeol sambil menarik tangan Yeonhee.

“AKH! Pelan-pelan Yeol.”

“Ah, mian aku tidak sengaja. Apakah masih terasa sakit?” Chanyeol segera mengobati luka di jari Yeonhee sambil meniup-niup pelan luka Yeonhee.

Chanyeol yang daritadi sibuk mengobati luka istrinya, tidak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh si empunya luka.

Baru kali ini Yeonhee mengamati wajah Chanyeol dari dekat. Kalau dilihat-lihat lagi, wajah Chanyeol sangat tampan, tapi memang pada dasarnya Chanyeol sudah tampan. Alisnya yang terbentuk sempurna, bibirnya yang penuh, dan sepasang netra coklat pekat jernih juga ikut membuat kadar ketampanan Chanyeol benar-benar di atas rata-rata.

Deg

Apa ini? Jantung Yeonhee berdetak tak karuan. Membuat rongga dadanya seolah-olah penuh dengan dentuman-dentuman tak karuan dari jantungnya. Oh belum lagi seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya mendesak untuk keluar.

Yeonhee akui Chanyeol memang memiliki wajah tampan, postur tubuh bak model, dan belum lagi pekerjaan yang bisa dibilang sangat mapan. Tentu cukup untuk membuat wanita mana pun jatuh hati kepada Chanyeol hanya dalam satu jentikkan jari. Namun ini baru pertama kalinya Yeonhee merasakan kerja jantungnya yang tak karuan saat berdekatan dengan Chanyeol. Tapi Yeonhee menepis perasaan itu jauh-jauh dan mencoba kembali ke alam sadarnya.

“Yeonhee-ya, apa masih sakit?” tanya Canyeol dengan nada khawatir. Khawatir? Apa ini? Apa Chanyeol mulai khawatir kepada Yeonhee?

‘Ah, tidak mungkin. Itu perasaanmu saja Yeonhee-ya.’ Kata Yeonhee dalam hati berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“A-ah, ani ya. Sudah lebih baik. Gomawo-yo Chanyeol-ah. Sekarang lebih baik kau mandi sementara aku menyiapkan sarapan, nanti kau bisa terlambat.”

“Ne, sama-sama. Lain kali berhati-hatilah. Baiklah kalau begitu aku mandi dulu.”

****

Suasana sarapan di ruang makan hanya dihiasi obrolan-obrolan ringan, sekedar basa-basi untuk mengulur waktu.

“Oh ya, hari ini sepertinya aku akan pulang malam. Ada rapat dengan klien dari Oh Corp. Jadi kau tak perlu menungguku nanti.” Jelas Chanyeol memecah keheningan.

“Ah, begitu. Baiklah.” Balas Yeonhee.

Sarapan pun berlangsung seperti biasa dan setelah selesai, Chanyeol mulai bersiap menuju kantor.

Yeonhee memakaikan jas suaminya itu dan mengaggumi betapa tegapnya punggung suaminya ini. Tas kerja dan alat-alat kantor pun sudah bertengger manis di tangan kanan mungil milik gadis itu. Chanyeol lalu mengambil tas kerjanya yang diberikan Yeonhee.

“Aku pergi dulu.”

“Ne.”

Seperti itulah rutinitas pagi seorang Lee Yeonhee. Dia sudah terbiasa dengan rutinitas pagiinya ini yang dimulai sejak 6 bulan lalu setelah berstatus sebagai istri dari pemilik PC Group yang bernama lengkap Park Chanyeol itu.

*****

Sepersekian detik berlalu tak terasa menjadi beberapa jam. Sudah sekitar 10 jam semenjak Chanyeol pergi bekerja. Setiap hari Yeonhee selalu mengisi jam-jamnya dengan kegiatan bersih-bersih rumah untuk menghilangkan rasa bosannya. Bahkan saking seringnya bersih-bersih, lama-lama Yeonhee pun bingung apa yang harus dibersihkan lagi. Karena jika dia bersih-bersih lagi, bisa-bisa lalat yang hinggap di meja makan pun terpleset.

Yeonhee yang sedang asik menonton TV dengan sekantung besar kripik kentnag di pangkuannya sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Itu artinya, ia harus menyiapkan makan malam.

“Ah, iya, hari ini kan Chanyeol pulang malam. Aku perlu memasak makanan atau tidak ya?” gumam Yeonhee bicara sendiri sambil asik dengan acara TV nya.

“Aku masak sajalah. Lagipula tak ada salahnya tetap memasak.”

Yeonhee berjalan menuju kulkas untuk mengecek bahan-bahan apa yang akan disulapnya menjadi hidangan makan malam.

Ternyata persediaan kulkas mereka sudah menipis. Yeonhee pun berinisiatif untuk pergi ke supermarket terdekat yang jaraknya sekitar 1 km dari apartemennya. Perlu diketahui, bus jarang sekali lewat di daerah sekitar apartemen mereka karena tergolong kawasan elit yang rata-rata memakai mobil pribadi. Sedangkan Yeonhee tidak bisa menyetir. Jadi satu-satunya jalan adalah berjalan kaki.

Yeonhee pun bersiap dan meraih coat tebal selutut miliknya lalu keluar dari apartemennya dan mengunci kembali pintunya.

Sesampainya di luar gedung apartemen, Yeonhee pun disambut dengan suasana langit kelabu yang menandakan bahwa akan turun hujan.

“Semoga saja tidak hujan.” Ucap Yeonhee sambil melangkahkan kaki-kaki jenjangnya di atas trotoar.

***

Yeonhee yang sudah selesai berbelanja sedang berjalan saat…

Tes..tes…

“Huh? Air? Sial!” umpatnya karena hujan pun yang ditakutkan akan datang akhirnya turun juga.

Yeonhee pun yang tidak ingin belanjaannya basah kuyup akibat ulah hujan sialan ini menepi di halte bus terdekat. Rencananya ia hanya akan duduk sampai hujan mereda. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain. Yeonhee yang sudah menggigil pun tak tahan lagi membayangkan apartemennya yang hangat dan nyaman.

“Aish, jinjja! Persetan dengan hujan ini!” sumpah Yeonhee sambil mengumpulkan tenaganya untuk berlari menerjang hujan yang tidak berperi kehujanan ini. Dengan erat ia memegang kantong-kantong belanjaannya seperti hidupnya bergantung pada kantong-kantong itu. Masa bodoh dengan tatapan aneh yang diberikan orang-orang yang sedang berteduh di pinggir jalan padanya. Yang penting bagi Yeonhee sekarang adalah ia bisa secepatnya sampai ke apartemennya. Membayangkan kenyamanan dan kehangatan yang menunggu di depan mata membuatnya berlari seperti orang kalap.

****

Kaki-kaki jenjang itu perlahan menapakkan telapaknya masuk ke dalam apartemen bernomor 2427 itu. Terpampang sosok cantik yang basah kuyup karena telah ‘dimandikan’ alam di ambang pintu.

“Akhirnya sampai juga.” Kata Yeonhee menghela napas sambil berjalan menuju counter dapur untuk menaruh belanjaannya.

Bukannya mengeringkan diri dan mengganti bajunya dulu, Yeonhee malah mengeluarkan bahan-bahan belanjaannya dan menatanya di kulkas.

“Brrrr d-dingin sekali. Sebaiknya aku membersihkan diri dulu.” Ucapnya sambil mengusapkan kedua telapak tangannya lalu menempelkannya di kedua pipinya. Terasa kehangatan sesaat menggerayangi pipinya dan mulai turun ke seluruh tubuhnya.

Kakinya pun berjalan-setengah-menyeret tubuhnya menuju kamar mandi.

****

Terdengar suara pancuran yang nyaring. Gadis itu sedang sibuk dengan kegiatannya dengan air hangat yang menghujani kulit putih mulusnya. Sejenak terlintas wajah Chanyeol saat sedang mengobati lukanya tadi pagi di pikiran gadis itu. Tunggu. Apa?

“Ada apa denganmu Yeonhee-ya?” Yeonhee berusaha mengenyahkan sosok yang baru saja menghantui pikirannya.

Setelah selesai, ia pun mematikan pancuran dan mengeringkan tubuhnya, lalu melilitkan handuk di tubuhnya yang ramping sebatas dada dan jatuh persis sejengkal di atas lutut. Menampilkan kulit putihnya yang terekspos, menambah kesan menawan pada pemilik tubuh berparas cantik itu.

Ia berjalan menuju cermin dan sejenak memandangi refleksi dirinya di sana.

Deg

Bayangan itu lagi. Sosok itu lagi. Chanyeol. Sosok yang sedari tadi berhasil membuyarkan atensinya

“Sebenarnya ada apa denganmu, hah?” gumamnya pada dirinya-lebih tepatnya refleksinya di cermin.

“Park Chanyeol, apa yang telah kau lakukan padaku?”

****

“Huaaah…cape sekali. Mau remuk punggungku rasanya.” Keluh pria bermarga Park itu.

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mencuri atensinya. Sebuah foto pernikahan berbingkai yang menampilkan mempelai pria dan wanita yang sedang tersenyum. Sang mempelai wanita sedang merangkul lengan kiri suaminya dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya. Tanpa sadar sebuah kurva tipis terbentuk di wajah pria itu.

“Apa kau tahu Yeonhee-ya?” ucap pria itu entah pada siapa dan berharap akan mendengar jawaban dari sosok pemilik nama yang disebutkannya. Ia masih saja memegang sambil memandangi foto itu lamat-lamat. Netranya masih terkunci dengan foto sang mempelai wanita-yang bukan lain adalah istrinya sendiri.

“Aku mencintaimu.”

****

“Hatchiiiii!!”

“Aigoo…kenapa jadi flu begini? Dasar bodoh. Seharusnya tadi aku langsung mengeringkan diri setelah sampai di apartemen.” Rancau Yeonhee pada dirinya sendiri.

“Sebaiknya aku mulai masak saja. Cha, mulai dari mana ya?”

Yeonhee pun mulai memotong-motong sayur dan tidak sengaja matanya tertuju pada perban pada jari telunjuknya yang teriris tadi pagi. Seketika bayangan Chanyeol langsung muncul dan jantungnya mulai berdegup tak terkendali. Buru-buru ia mengeyahkan sosok pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Yeonhee berusaha menetralkan detak jantungnya, yang dirasa jika tidak dinetralkan bisa-bisa organ vitalnya itu meletup keluar. Tapi tiba-tiba…

“Akh! Kepalaku sakit sekali….” lirihnya sambil memijat pelipisnya saat merasa kepalanya seperti akan pecah. Yeonhee menghentikan aktivitas motng-memotong yang sedang dilakukannya. Ia berusaha berjalan menuju sofa di ruang tengahnya dengan sisa-sisa tenaganya. Pandangannya pun mulai mengabur dan

BRUK!

Seketika semuanya menggelap.

****

“Baiklah kalau begitu Tuan Park. Sepertinya kita sudahi dulu rapat kali ini dan kita lanjutkan lagi lain waktu.” Kata direktur dengan kulit putih pucat, rahang runcing dan tegas, serta alis yang sempurna. Wanita mana pun akan langsung jatuh hati begitu melihat direktur muda Oh Corp ini.

“Sudahlah Hun, tidak usah pura-pura formal.” Balas Chanyeol yang menatap direktur muda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Supaya terlihat keren, Yeol. Hahaha.” Kelakar direktur muda bernama lengkap Oh Sehun itu.

“Oh ya, bagaimana pernikahanmu? Apakah berjalan lancar? Apa Yeonhee sudah mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya?” lanjut Sehun sambil menatap rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.

“Ah, molla Hun.”

“Kusarankan kau secepatnya mengutarakan perasaanmu supaya kalian bisa cepat-cepat memberikanku Yoda-Yoda kecil.”

“YA! Buang pikiran kotormu itu jauh-jauh. Kalaupun aku mengatakannya, aku rasa kami juga masih harus memikirkan matang-matang mengenai mempunya anak.”

“Ah, begitu rupanya. Jadi, bagaimana kabar istrimu itu? Aku heran mengapa dia bisa tahan tinggal bersamamu.”

“Cih, dasar. Ngomong-ngomong aku pulang duluan ya Hun. Aku sudah rindu setengah mati dengan Yeonhee. Bye Hun.” Kata Chanyeol sambil buru-buru meninggalkan ruang rapat yang hanya diisi oleh mereka berdua, meninggalkan Sehun sendiri yang hanya bisa memaklumi tingkah sahabatnya itu. Dengan langkah tergesa-gesa, Chanyeol berjalan menuju lift dan segera menekan lantai basement di mana mobilnya diparkir.

“Dasar, dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Ck.” Decak Sehun sebal sekaligus geli melihat tingkah sahabatnya itu.

****

Chanyeol merasa hatinya gusar entah kenapa. Ia merasa ada yang janggal dan sesuatu yang tidak baik terjadi. Tapi ia buru-buru menepis pikiran negatif itu jauh-jauh.

‘Hanya perasaanmu saja.’ Batin Chanyeol setengah berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada istrinya.

Chanyeol pun tersadar dari lamunannya ketika klakson mobil terdengar dari belakangnya dan ia baru tersadar lampu lalu lintas sudah berganti warna menandakan tanda untuk jalan bagi para pengemudi kendaraan bermotor.

****

Kaki-kaki panjang milik seseorang bersuara bariton itu pun melangkah masuk ke kediamannya yang ditinggalinya bersama istrinya. Matanya langsung mencari keberadaan istrinya itu yang barangkali masih terjaga. Tapi hasilnya nihil.

“Mungkin dia sudah tidur.” Ujarnya sambil melepas kaos kaki yang baunya-tidak-usah-ditanya dan memasukkannya ke dalam sepatu. Ia pun berjalan menuju dapur karena merasa haus. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan mendapati gadisnya terkulai lemah di atas karpet ruang tengah.

“Yeonhee-ya!!!” buru-buru Chanyeol menghampiri gadis itu dan mengguncangkan bahu istrinya itu, namun tidak membuahkan hasil apa-apa. Chanyeol pun mengangkat Yeonhee ala bridal style menuju kamar tidur Chanyeol. Dibaringkannya tubuh istrinya itu dan ia menaruh punggung telapak tangannya di atas dahi istrinya untuk memastikan keadaannya.

“Omo! Kau panas sekali!” Chanyeol yang terkejut dengan betapa panasnya suhu tubuh istrinya itu langsung beranjak berdiri untuk mengambil handuk beserta air hangat. Tapi tiba-tiba ada suara yang tertangkap telinganya, lebih mirip lirihan.

“Chanyeol-ah…” Chanyeol berbalik badan untuk memastikan tapi mata indah milik istrinya masih terpejam. Ia pun berjalan mendekati istrinya yang masih terbaring tak sadarkan di atas kasur.

“Kau mengigau Yeonhee-ya…” lirih Chanyeol saat melihat istrinya mulai menggumam tidak jelas. Mungkin karena efek demam tingginya.

“Chanyeol-ah…” igau Yeonhee lagi.

“Aku di sini Yeon-ah. Aku akan selalu di sini.” Kata Chanyeol sambil memegangi tangan kiri istrinya lalu menciumnya.

“Chanyeol-ah… aku mencintaimu.” Kalimat yang terakhir hampir seperti bisikan tapi indra pendengaran Chanyeol cukup tajam untuk mendengar sederet kalimat-2 kata-7 silabel-yang berhasil membuat jantungnya berdebar cepat.

“Aku…men..cintaimu…Chanyeol-ah”

Sebuuah senyum tipis pun terukir tanpa sadar oleh si pemilik nama yang daritadi disebutkan oleh gadis itu.

“Aku juga mencintaimu Yeon-ah. Sangat mencintaimu.” Balas Chanyeol kepada istrinya lalu perlhan ia mendekatkan bibirnya dan mendaratkan kecupan hangat di kening gadis itu. Dunia bagai berhenti berputar dan jantungnya berpacu sangat cepat. Chanyeol memejamkan matanya dan ingin rasanya berlama-lama seperti ini. Namun ia kembali teringat bahwa gadisnya sedang sakit. Ia pun segera keluar untuk mengambil handuk dan air hangat lalu kembali lagi.

Disingkirkannya anak-anak rambut Yeonhee yang menghalangi kening gadis itu lalu ditaruhnya handuk yang sudah dibasahi air hangat itu di atas kening Yeonhee. Chanyeol duduk di samping istrinya sambil menggenggam tangannya.

Netranya mengamati wajah cantik istrinya lamat-lamat. Bibir pink yang selama ini selalu menyuguhkan senyuman manis itu kini pucat.

“Yeon-ah, tak tahukah kau susahnya menahan godaan untuk tidak mencium bibirmu itu? Cepatlah bangun, hm? Ayo kita mulai lagi dari awal. Bersama-sama. Aku mencintaimu Yeon-ah. Cepatlah sembuh.” Kata Chanyeol dengan nada lembut sambil menggenggam erat tangan istrinya dan kembali mencium tangan berkulit putih itu. Berlama-lama Chanyeol mencium tangan istrinya, memanjakan indra penciumannya dengan feromon Yeonhee yang memabukkan.

****

“Eungh…” Yeonhee perlahan membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya kamarnya. Tapi tunggu dulu. Ini bukanlah kamarnya, ini adalah kamar Chanyeol. Dan apa ini? Ada handuk kecil di keningnya. Siapa yang menaruhnya di kening Yeonhee? Yeonhee mengambil handuk kecil itu dan mencoba untuk duduk.

“Bagaimana aku bisa di sini?” Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya semalam. Tapi tiba-tiba rasa sakit di kepalanya kembali datang, spontan Yeonhee memegang pelipisnya dengan kedua jari telunjuk dan tengah sembari memijitnya.

Ah ya, Yeonhee ingat sekarang. Semalam saat ia sedang memotong sayur, rasa sakit yang amat sangat tiba-tiba menyerang kepalanya. Lalu semuanya menjadi gelap. Tapi siapa yang membawanya ke kamar Chanyeol? Mungkinkah?

“Tidak mungkin, jangan konyol Yeonhee.”

Yeonhee merutuki kebodohannya karena telah hujan-hujanan dan tidak langsung mengeringkan tubuh.

Saat Yeonhee akan bangun dari ranjangnya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok tinggi yang sangat ia kenali berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya.

“Eoh? Kau sudah bangun?” sapa Chanyeol sambil berjalan ke arah Yeonhee lalu menaruh nampan berisi semangkuk bubur dan susu hangat yang dibawanya di meja sebelah ranjang.

“Kau membuatku panik setengah mati semalam, kau tahu? Apa yang terjadi, hm?” tanya Chanyeol dengan nada lembut kepada Yeonhee sambil menndudukkan dirinya di pinggir ranjang, di sebelah Yeonhee.

Chanyeol tidak tahu, Yeonhee sudah berusaha mati-matian untuk mengontrol detak jantungnya hanya karena sebuah pertanyaan dari Chanyeol. ‘Sialan kau Park Chanyeol!’ Yeonhee membatin.

“A-ah itu… a-aku—“

“Tak usah dipaksakan, lain kali saja ceritanya.”

“Ne. Chanyeol-ah, lebih baik kau siap-siap, bisa-bisa kau terlambat kerja.”

“Aku tidak kerja hari ini. Aku ingin mengurus istriku.” Kata Chanyeol dengan tatapan yang terkesan menerawang ke arah Yeonhee.

Deg

Lagi-lagi jantung Yeonhee serasa mau copot dari tempatnya. ‘Mungkin dia hanya merasa tidak enak jika meninggalkanku sendirian. Ya, spertinya begitu. Jangan terlalu berharap Lee Yeonhee.’ Kata Yeonhee dalam hati.

“Gwaenchana Chanyeol-ah, aku sudah merasa jauh lebih baik.”

“Tapi aku sudah terlanjur cuti, jadi hari ini aku akan mengurusmu.” Chanyeol berusaha meyakinkan Yeonhee.

Chanyeol mengambil bubur yang tadi diletakkan di meja dan kembali duduk di pinggir ranjang.

“Yeonhee-ya, ini kubuatkan bubur, maaf kalau rasanya sedikit err… eksotis? Hahaha“

“Ne Chanyeol-ah, gomawo-yo.”

“Yonhee-ya, aaaaa…” perintah Chanyeol sambil membuka mulutnya membentuk huruf ‘A’.

“E-eh Chan, aku bisa sendiri.”

“Tidak boleh. Aku kan sudah bilang bahwa hari ini aku cuti untuk mengurusmu. Aku tidak ingin cuti ini terbuang sia-sia.”

“Tapi Yeol—“

“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang buka mulutmu. Aaaaa….”

Terkutuklah jantung Yeonhee, mukanya pasti sudah memerah sekarang. Untung ia masih demam, jadi bisa dijadikan alibi. Yeonhee tidak bisa berhenti mengagumi ketampanan suaminya itu. Ia sibuk memperhatikan wajah Chanyeol yang daritadi masih sibuk menyendokkan bubur ke dalam mulut Yeonhee.

Yeonhee tidak tahu bahwa Chanyeol sadar dirinya sedang diperhatikan daritadi. Kalau boleh jujur, Chanyeol merasa senang diperhatikan oleh istrinya itu. Sangat malah.

“Apa aku setampan itu? Sampai-sampai pandanganmu tak bisa lepas dariku?” Goda Chanyeol sambil menunjukkan senyum miringnya.

“Cih, percaya diri sekali kau.” Yeonhee berharap bumi bisa menelannya saat ini juga hidup-hidup.

“Sudah Yeol, aku kenyang, aku mau mandi. Minggir kau.” Usir Yeonhee pada Chanyeol dengan nada ketus.

“Ya, aku hanya bercanda Yeon-ah.”

Bulu kuduk Yeonhee merinding mendengar nada bicara Chanyeol, dan apa tadi? Yeon-ah? Apa Yeonhee tidak salah dengar?

‘Jangan terlalu berharap Yeonhee.’

Yeonhee sedang berjalan ke arah kamar mandi saat ia tiba-tiba merasakan ada lengan kekar yang melingkari perutnya.

“Aku mencintaimu Yeon-ah. Aku amat sangat mencintaimu.”

Yeonhee merasa kupu-kupu menyerbu di dalam perutnya dan jangan tanyakan bagaimana keadaan jantungnya.

Yeonhee menahan napasnya, ketika napas Chanyeol terasa berhembus di leher jenjangnya. Kepala Chanyeol yang bertengger di pundaknya, kemudian ia membenamkan wajahnya di sana.

“Chanyeol-ah….”

“Kumohon, biarkan seperti ini saja. Hanya untuk semenit, kumohon.” Balas Chanyeol yang kembali membenamkan wajahnya di pundak istrinya. Membiarkan dirinya hanyut dalam feromon Yeonhee.

Yeonhee berharap Chanyeol tak mendengar detak jantungnya saat ini. Ia juga tak bisa munafik, bahwa dirinya juga menikmati saat ini. Berharap Tuhan mau menghentikan waktu agar momen ini tidak berlalu begitu saja.

Terasa ikatan tangan Chanyeol melonggar dan tangannya kini berada di pundak Yeonhee, memutar tubuh gadis itu hingga berhadapan dengannya. Chanyeol menatap netra Yeonhee lekat-lekat, tangan Chanyeol kini menangkup wajah gadisnya dan kedua ibu jarinya mengelus lembut pipi mulus gadis itu.

“Yeonhee-ya, tatap aku. Katakan, apakah kau juga mencintaiku?” tanya Chanyeol dengan nada lembut penuh makna.

“Kau tak perlu menjawab sekarang. Aku tahu kau perlu waktu, kuhargai itu.” Tangan Chanyeol menarik wajah gadis itu dan mencium dalam-dalam kening Yeonhee. Lalu ia melepaskannya dan berjalan menuju pintu kamar hendak keluar. Tapi tiba-tiba gadis itu membuka suara.

“Aku juga mencintaimu Chanyeol-ah.” Suara yang keluar dari bibir pink itu hampir seperti bisikan.

Langkah Chanyeol pun terhenti mendengar jawaban dari gadis itu. Chanyeol tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat itu.

“Bisa tolong kau ulang perkataanmu? Otakku sedang tidak bisa bekerja normal sekarang.” Pinta Chanyeol yang telah membalikkan badannya kembali, berhadapan dengan gadis itu.

“Kau tuli atau bagimana, huh? Aku mencintaimu Park Chanyeol!!” suara Yeonhee mulai bergetar. ‘Oh tidak, jangan sekarang’ pikirnya

Entah kenapa dada Yeonhee terasa begitu sesak dan lega secara bersamaan. Matanya terasa memanas dan pandangannya mulai mengabur. Kristal-kristal bening itu pun jatuh saat Chanyeol merengkuhnya ke dalam pelukannya. Ia pun tak bisa menahan isakkannya di dalam rengkuhan Chanyeol. Air matanya membasahi dada bidang milik Chanyeol. Ia bisa merasakan satu tangan Chanyeol berada di punggungnya dan yang lainnya sedang menahan kepala gadis itu.

Chanyeol merasakan sesuatu yang basah dalam pelukannya. Ia lalu memegang dagu Yeonhee dan mengarahkannya ke atas supaya mata mereka saling bertemu. Ditatapnya lekat-lekat sepasang mata indah istrinya. Isakan masih keluar dari bibir indah Yeonhee. Tanpa pikir panjang Chanyeol menghapus sisa jarak antara mereka berdua dan mempertemukan bibir mereka. Bibir Yeonhee terasa begitu manis. Chanyeol melumat lembut bibir gadisnya, hanya lumatan lembut penuh cinta, tanpa gairah. Chanyeol berhenti ketika udara di alveolusnya terasa menipis dan ketika ia merasakan sesuatu yang asin membasahi ciuman mereka.

“Hey…. jangan menangis, hm? Aku berjanji akan selalu berada di sisimu. Tak apa, kita bisa mulai lagi semua dari awal.” Kata Chanyeol, tangannya masih sibuk menangkup wajah Yeonhee dan ibu jarinya mengusap lembut kristal-kristal bening yang menghiasi wajah cantik Yeonhee. Ia pun kembali menghapus jarak antara mereka dan menautkan kembali bibir mereka.

Chanyeol menikmatinya begitupun Yeonhee. Mereka menikmati kesunyian ini, kesunyian penuh arti. Kesunyian yang menjadi saksi bisu bagaimana sepasang suami istri membuka lembaran baru dalam hidup mereka.

FIN

Author’s Note:

Makasih buat kalian yang udah sempetin baca dan ngasih komen. Buat para silent readers yang cuma mereka dan Tuhan yang tahu, plis banget komen karna kritik dan saran kalian itu berharga banget, soalnya kalau kalian kurang srek bagian mana kan bisa aku perbaikin jadi kalau aku ngirim ff lagi kalian sendiri bacanya juga enak. Bagi yang mau aku buat sequelnya komen aja ga usah malu-maluu kucing. Kalo emang pada minat baca sequelnya aku usahain buat nanti. Sekian dan terima kasih!

34 thoughts on “Learning to Love : Confession

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s