You’re My Virus: Together with You (Chapter 1)

B3YGhWqCQAAwfnc

[2] You’re My Virus: Together With You

Author:
adindasone

Main Cast:
Park Chanyeol ― Choi Haneul

Romance | Fluff | School Life
Chaptered | PG-17

Support Cast:
Byun Baekhyun – Oh Sehun – Yeri ‘Red Velvet’

Disclaimer:
FF ini murni karya imajinasiku. Dilarang mengcopy, mencuri ide, dan mengakui hak karya. Bila ada kesamaan ide, mohon maaf karena itu sebuah ketidaksengajaan, ini murni hasil otakku.
Setelah membaca, di perkenankan untuk komen atau sekedar ‘like’, mengingat betapa susahnya membuat suatu karya tulis dan lebih baiknya kita menghargai karya orang lain J

Note: sudah pernah di publish di blog pribadi http://adindaramadhani.wordpress.com/ J

Chapter 1:

Langkah Haneul terhenti begitu merasakan ponselnya bergetar di sakunya.
Ia merogoh kasar sakunya dan menggeser tombol hijau di ponselnya.

Dari Chanyeol

“Haneul-ah, aku sudah berada di depan rumahmu”

“Arasseo. Aku akan kesana” Haneul memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas keluar dari rumah.

Haneul mendapati Chanyeol yang kini tengah memarkirkan mobilnya di depan rumah gadis itu. Membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada gadis itu, tidak lupa melemparkan senyuman tipis untuk Haneul.

Untuk yang kesekian kalinya, demi apa ia saat ini serasa ingin melayang mendapatkan senyuman manis dari manusia tampan itu secara cuma-cuma?

Tidak, tidak.

Haneul menggelengkan kepalanya, menepis jauh-jauh pemikiran aneh-aneh yang mulai bercabang di pikirannya.

Chanyeol itu kan murah senyum, bahkan pria itu di juluki sebagai “Happy Virus”, jadi wajar saja jika Chanyeol melempar sebuah senyum untuk Haneul,
karena semata-mata itu bentuk sebuah keramahan dirinya terhadap setiap orang.

“Masuklah”

Haneul membuka knop pintu mobil Chanyeol lalu melangkahkan kakinya masuk menuju mobil Chanyeol.

Baru saja gadis itu mendaratkan pantatnya ke jok empuk mobil milik Chanyeol, sesuatu dari belakang mengagetkan dirinya.

“Ige mwoya?!”

Mata Haneul membulat ketika ia mendapati tiga orang selain dirinya dengan Chanyeol berada di mobilnya.

“Ya, Haneul-ah. kenapa kau begitu kaget? Kau tak suka aku ajak mereka?” Ucap Chanyeol seraya menoleh kearah belakang.

Jujur, Haneul sebenarnya tidak keberatan sama sekali jika ada teman Chanyeol yang ingin ikut untuk observasi, tetapi ini….

“Yeri-ah?!” Sekali lagi Haneul membulatkan matanya tanpa mengerjapkannya sedikitpun. Her chairmate (teman sebangkunya)? Berada di mobil Chanyeol?

“Ya, jangan menatapku seperti itu” Yeri mengerucutkan bibirnya.

Haneul menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal,
ia masih terlihat bingung,
bukankah yang seharusnya mengikuti observasi hanya aku dengan Chanyeol?
kenapa mereka?… aish
Aku tidak keberatan tapi…,
berilah aku waktu untuk merasakan kebahagiaan saat berada di dekat Chanyeol.

“Kau kenal Yeri? Bagaimana bisa?” Bisik Haneul. Sesekali gadis itu menoleh kearah belakang dan mendapati sahabatnya yang terus tersenyum kearahnya seperti gadis idiot.

“Dia temanku saat SMP” Jawab Chanyeol datar, di barengi dengan anggukan Haneul pertanda mengerti.

“Baekhyun-oppa, Sehun-oppa, sekarang apa urusan kalian?” Haneul mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu terlihat sedikit risih akan kehadiran Baekhyun, Sehun, dan Yeri.
Ya (Hei), ayolah. Haneul hanya ingin berdua dengan Chanyeol, itu saja.

“Kami hanya akan mengantarkanmu ke bandara”

“Lalu, kenapa harus ramai seperti ini?”

“Karena kami cinta keramaian” Jawab Baekhyun dan di barengi tawaannya yang keras, bahkan semakin menjadi-jadi mengingat perkataannya tadi yang cukup terdengar konyol.
Byun Baekhyun, lelaki paling idiot yang pernah Haneul lihat.

“Pihak sekolah tidak akan menjemput kalian, Pabo. Mereka menunggu kalian di bandara. Dan kau tahu? Hanya satu guru yang akan mendampingi kalian”
Timpal Sehun, membuat semua orang yang berada di mobil itu kini menatap kearah namja itu dengan tatapan menerawang.

“bagaimana bisa kau― tunggu, hanya satu guru? Nugu (siapa)?” Haneul menatap Sehun lekat, menunggu jawaban yang keluar dari mulut namja berparas bak mayat hidup itu.

“Ahn-seongsaenim”

“AHN-SEONGSAENIM??!!” Haneul dan Chanyeol berteriak bersama kearah Sehun mendengar nama Ahn-seongsaenim di sebut.
Terlihat raut wajah kekecewaan bercampur kesal yang terpampang di wajah Haneul dan Chanyeol.

“Ya, bukankah kalian senang?” Sehun menarik sisi kiri bibirnya keatas menatap Chanyeol dan Haneul penuh goda.

“aku tahu jalan pikiranmu. Aku tidak seperti itu” Haneul menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya dan menggelengkan kepalanya cepat. Haneul menampakkan ekspresi geli, ngeri, bercampur menjadi satu.

“Ya, kau cepat merespon perkataanku. Apa kau sudah tidak sabar? Haha” Goda Sehun. Haneul mengernyitkan dahinya.

“Tidak sabar? Untuk apa?”

“Untuk…, tidur seranjang bersama…, ehm, Park Chanyeol” Ucapan Sehun benar-benar membuat mata Haneul membulat sempurna. Haneul meremas ujung parkanya, dan pipinya kini sudah mulai memerah.
Pipinya memerah bukan karena marah, melainkan di buat malu oleh Sehun.

“Sehun-ah, kurasa idemu perlu kucoba” timpal Chanyeol.
Chanyeol menyunggingkan smirknya kearah Haneul, sedangkan gadis itu sama sekali tidak menoleh kearah manapun, ia hanya mampu tertunduk dan meremas ujung parkanya.

Suasana di dalam mobil menjadi terasa begitu panas dan sesak-bagi Haneul. Ia benar-benar di terpojok, dan Haneul sudah mulai tidak tahan dengan keadaan itu.

“Kau mau melajukan mobilmu atau kita akan kena omelan Ahn-seongsaenim?”

Celetuk Haneul. Kini gadis itu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan berbicara, selama beberapa menit lamanya gadis itu hanya tertunduk.

“Ne, ne…” Chanyeol menghirup oksigen dengan rakusnya lalu membuang nafasnya kasar sebelum namja itu menancapkan gas lalu melaju hendak pergi.

―――

Incheon Airport, 09.30.

Udara di sekitar bandara-baik dalam maupun luar- terasa begitu sejuk, dan sedikit terasa dingin karena pagi ini salju menyelimuti kota Seoul.

Semua orang di bandara berjalan berlalu-lalang untuk mengetahui informasi mengenai jadwal penerbangan mereka, ada beberapa diantara mereka yang hanya duduk manis menunggu keberangkatan mereka.

-backtothestory-

“Angkat bawaanmu sendiri” Chanyeol menunjuk-nunjuk koper Haneul yang masih tergeletak di bagasi Chanyeol.

“Ya! Aku tidak kuat, Chanyeol-ah. jebal (Tolong)…” Haneul memasang wajah aegyo-nya dan membuat Chanyeol memutar kedua bola matanya.

“Arraseo, arraseo (Oke, oke)” Chanyeol menghela nafas pasrah dan kini namja itu mencoba untuk mengangkat koper Haneul yang super duper berat itu.

“Igo (ini)” Chanyeol menghentakkan koper Haneul, membuat Haneul mengukir seulas senyum tipis di wajahnya.

“Gomawo (Terima kasih)” Ucap Haneul sebelum gadis itu menarik dorongan kopernya lalu membawa koper itu pergi bersama dirinya.

“Ya! Tunggu aku” Chanyeol berlari kecil kearah Haneul sembari bersusah payah menarik kopernya yang juga tak kalah berat dari koper milik Haneul.

Chanyeol berhenti sejenak, ia melupakan sesuatu.

“Gomawo chingu-ya! (Terima kasih teman!)” Chanyeol melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil yang kaca nya terbuka, menampakkan sosok teman-temannya yang berada di mobil tersebut.

“Jadilah pria baik! Jangan macam-macam dengan Haneul-ku ya!” Ucap Yeri kencang dari arah jok mobil belakang. Membuat Chanyeol mengulas senyum tipisnya saat mendengarkan kata-kata ‘Jangan macam-macam dengan Haneul-ku’.

Chanyeol berlari ke arah Haneul yang kini sudah terlampau jauh.
Chanyeol menepuk pundak Haneul kencang.

“Aw” Haneul meringis seraya memutar cepat tubuhnya memastikan siapa yang sudah menepuk pundaknya.

“Nappeun yeoja! Kau tinggalkan aku sendiri tadi di sana” Chanyeol menopang tubuhnya dengan tumpuan tangan di lututnya seraya menunjuk ke arah pintu utama bandara.

“Mianhae, aku pikir kau di belakangku” Haneul membungkukkan badannya sebelum gadis itu dan Chanyeol berjalan beriringan.

Mereka terlihat seperti sepasang kekasih selebriti jika orang-orang melihat mereka berdua secara sekilas.
Jelas saja, mereka sangat fashionable dan pintar-pintar me-“mix&match” kan pakaian yang akan mereka pakai.

Haneul, gadis itu memakai setelan T-shirt hitam dengan celana jeans ketat, di lapisi dengan jaket parka biru dongker dan sepatu sneakers berwarna putih. Tidak lupa dengan kacamata hitam yang selalu ia pakai setiap pergi ke airport dan rambutnya yang ia biarkan bebas terurai.

Chanyeol, namja itu memakai sweater berwarna putih yang cukup tebal dengan celana jeans pendek seukuran di bawah lutut, dengan sneakers berwarna putih yang ia kenakan. Tak lupa benda keramat yang selalu ia bawa dan ia genggam kemanapun, handphone dan earphonenya. Ia bisa mati kebosanan tanpa menyentuh kedua benda keramatnya itu.
Sebagai sedikit penghias, namja itu menutupi bagian kepala dan rambutnya dengan snapback hitam polos yang ia kenakan secara terbalik.
Fashion Haneul dan Chanyeol bisa di katakan….., Sempurna.

Sembari berjalan beriringan, Chanyeol dan Haneul memiliki tujuan yang sama.
Yup, mencari keberadaan Ahn-seongsaenim yang kabarnya sudah tiba duluan di bandara.

Setelah di rasa cukup lelah karena sedari tadi mereka hanya berlalu lalang di sekitar bandara dan tidak menemukan Ahn-seongsaenim, mereka memutuskan untuk duduk sejenak di bangku yang tidak jauh dari jangkauan mereka.

“Chanyeol-ah”

“Hm?” Jawab Chanyeol datar tanpa menoleh Haneul yang sedari tadi memanggilnya, ia nampak asyik memainkan game musik di ponselnya.

“Bagaimana kalau kita berpencar saja untuk mencari Ahn-seongsaenim? Aku kesini dan kau kesana” Haneul meregangkan kedua tangannya seraya memunculkan telunjuk pertanda gadis itu menunjukkan jalan.

“Shireo (Tidak)! Kau bisa hilang juga kalau kita berpencar. Apa kau tidak tahu kegunaan ponsel, eoh?” Chanyeol mengunci layar ponselnya dan menatap Haneul tajam,
ide bodoh macam apa ini?

Haneul menepuk dahi-nya, benar juga apa yang di katakan Chanyeol. Kenapa mereka harus repot-repot untuk berpencar mencari Ahn-seongsaenim jika mereka masih mempunyai ponsel dan ada kontak Ahn-seongsaenim yang bisa di hubungi?

“Hubungin Ahn-seongsaenim, Tuan Park. Kau ini lamban sekali” Haneul menoleh kearah Chanyeol, dan tatapan gadis itu turun ke arah ponsel yang Chanyeol genggam.
Memangnya se-seru apa sih game yang Chanyeol mainkan? Sampai-sampai namja itu melupakan tujuannya untuk datang ke airport pagi-pagi begini.-batin Haneul.

“Tunggu, Haneul-ah. Sebentar lag― Hey!” Ucapan Chanyeol terputus begitu Haneul merampas paksa ponsel namja itu dan gadis itu menyentuh menu ‘kontak’ di ponsel Chanyeol.

Mana sih…, aha! Ini dia. Batin Haneul begitu nama ‘Ahn-seongsaenim’ tertera di ponsel Chanyeol.

Haneul menekan kontak Ahn-seongsaenim dan menyodorkan ponsel-nya kearah Chanyeol, membiarkan pria itu yang menghubungi sendiri Guru Ahn.

“Hubungi sekarang atau kau akan mati” Haneul menatap tajam Chanyeol. Bukannya bergidik ngeri, namja itu malah memukul puncak kepala Haneul.

PLAK!

Pukulan pertama Chanyeol mendarat mulus di kepala Haneul. Gadis itu meringis dan mengelus-elus permukaan kepalanya yang terasa sakit.

“Aku tidak akan mati di tangan mu meskipun aku tidak menghubungi Ahn-seongsaenim” Chanyeol menyunggingkan smirk-nya, lalu kembali merampas ponselnya yang seharusnya miliknya.

“Ya! Kau tidak ingat tujuan kita ke bandara ini apa, eoh? Buat apa kita kesini pagi-pagi kalau hanya―

“Ssst.., bawel, berisik. Ini tempat umum, Pabo-ya” Chanyeol menempelkan satu telunjuknya kearah bibir Haneul tanpa sama sekali menoleh kearah Haneul karena tangan Chanyeol yang satunya sedang asyik melanjutkan permainan game yang sempat tertunda.

Sial!
Itulah sekiranya isi hati Haneul saat ini. Sial, karena gadis itu harus merasakan tubuhnya kembali menegang.
Aliran listrik macam apa yang kini sudah menjalar ke tubuh gadis itu? Entahlah, yang jelas aliran listrik itu sudah mulai menjalar ke jantungnya hingga membuat detakannya jauh lebih kencang dari sebelumnya.
Membuat jantungnya terasa ingin loncat dari tempatnya, atau bahkan
bisa saja jantung itu meledak seketika di tempat karena terlalu memakan banyak aliran listrik.

“Ternyata kalian disini”

Terdengar suara berat seorang ahjussi dari sebrang sana. Si pemilik suara melangkahkan kakinya ke arah Chanyeol dan Haneul yang sedang duduk.

Chanyeol menyipitkan matanya, wajah si pemilik suara terlihat samar dari jauh. Begitu jarak ahjussi sudah dekat dengan Chanyeol dan Haneul, mereka berdua spontan berdiri dan membungkukkan badan sembilan puluh derajat

“Ah, annyeong haseyo. Ahn-seongsaenim” Ucap Chanyeol dan Haneul berbarengan, di ikuti dengan bungkukkan ringan ahjussi yang di panggil Ahn-seongsaenim itu.

“Ayo, pesawat akan lepas landas” Dengan cepat Chanyeol, Haneul, dan Ahn-seongsaenim pergi untuk melanjutkan perjalanan mereka.

* * *

Chanyeol PoV

Aku, Haneul, dan Ahn-seongsaenim kini sudah berada di dalam pesawat. Kami mengikuti semua prosedur yang di berikan oleh pramugari.
Setelah di rasa cukup, pramugari kembali ke tempatnya dan kami pun duduk manis.

Ahn-seongsaenim duduk terpisah dengan kami. Awalnya aku menawarkan aku saja yang duduk sendiri namun Guru Ahn tidak mau.
Sial, duduk bersama gadis ini saja sudah cukup buruk bagiku.

Tapi…, hey. Aku mulai terbiasa dengan semuanya. Apa yang gadis itu lakukan sampai-sampai aku perlahan mulai nyaman di dekatnya?
Jujur aku tak pernah merasakan hal ini.
Memandang gadis itu tidur terlelap saja sudah membuat semuanya terasa damai.

Tidak-tidak.
Ini pasti hanya kebetulan.

“Chanyeol-ah…” Haneul memanggil namaku lembut, ia perlahan membuka matanya yang terasa berat karena baru bangun tidur.

“Hm?” Aku menoleh ke arahnya antusias, entah sejak kapan aku bersikap ‘reflek’ bila berada di dekat Haneul.

“Aku lapar” Haneul menoleh ke arahku dengan wajah lesu.

Hey, tunggu. Raut wajahnya terlihat berbeda.
Apa dia…, sakit?!

Dengan cepat aku membolak-balikkan telapak tanganku di dahi Haneul.
Ya Tuhan, badannya panas sekali.

“Kau sakit Haneul-ah. Habis makan, kau minum obat ne?” Aku menatapnya penuh dengan rasa ke-khawatiran.

“Shireo! Aku hanya ingin makan!” Haneul menggeleng cepat menolak tawaran ku barusan. Aigoo, yeoja ini…

“Kau ingin minum obat atau aku laporkan Ahn-seongsaenim?” Aku sedikit menggretaknya dengan beberapa ancaman yang aku lontarkan kepadanya.
Dan…, syukurlah, ancaman itu sukses membuat Haneul ngeri.

“Arasseo, arasseo” Mendengar persetujuan terlontar dari mulutnya aku bergegas memanggil pramugari.

“Ada yang bisa di bantu?” Ucap pramugari itu lembut.

“Aku butuh beberapa makanan untuk gadis yang ada di sampingku ini. Dan.., oh ya, beserta obat pereda demam. Apakah ada?”

“Ye?” Haneul membelalakkan matanya begitu mendengar kata ‘beberapa makanan’.

“Tentu saja ada, Tuan. Tunggu sebentar ne, akan saya antar” Pramugari itu memutar tubuhnya melangkahkan kaki hendak pergi untuk mengambil beberapa makanan dan obat yang aku pesan.

“Tuan” Pramugari itu datang dengan membawa dorongan yang di atasnya berupa makanan dan obat yang berada di genggaman si Pramugari.

Pramugari itu menaruh makanan di atas meja tempat dudukku dan Haneul. Dan tidak lupa ia menyodorkan obat yang berada di genggamannya.

“Selamat menikmati Tuan, Nyonya. Dan semoga Nyonya cepat sembuh ne” Pramugari itu mengembangkan senyumnya sebelum pramugari tersebut kembali ke tempatnya.

“Makanlah makananmu dan jangan lupa minum obatnya” Ucapku yang hanya di respon dengan gumaman Haneul yang sedang melahap makanannya tanpa menoleh kearahku sedikitpun.

Aku tidak menyentuh makananku sama sekali, sedari tadi hanya bergelut dengan pemikiranku sendiri.
Mengapa aku bisa begitu mengkhawatirkannya padahal aku saja baru mengenalnya?

Yaa, dia partnerku, jadi dia tidak boleh sakit.
Itu akan menghancurkan semuanya.

“Kau sudah selesai?” Aku memandangi Haneul yang kini tengah menghempaskan tubuhnya kekursi seraya mengelus-elus perutnya yang terasa kekenyangan itu.

“Hm” Haneul mengangguk.

“Kau tidak lupa dengan obat-mu kan?”

“Tentu saja tidak, aku sudah meminumnya tadi”

“Yasudah, sekarang kau tidur. Aku pastikan saat kau membuka mata kau kita sudah sampai. Aku juga mau tidur, aku lelah” Ucapku seraya mengacak-acak rambut Haneul.

Sebelum aku memejamkan mataku, aku menoleh ke arah belakang untuk memastikan keadaan Ahn-seongsaenim di belakang sana.
Dan, syukurlah, Guru Ahn masih dalam keadaan baik bahkan pria paruh baya tersebut tengah terlelap.

* * *

Author PoV

Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi.
08.30 am

“Aaahh akhirnya sampai juga” Haneul merentangkan kedua tangannya dan membusungkan dadanya, membiarkan angin menerpa tubuhnya dan mengibaskan rambut panjangnya.

“Aku rasa kita sudah di jemput” Ahn-seongsaenim menunjuk kearah seseorang yang membawa nametag besar di atas kepalanya dan di sana tercantum nama Ahn Ji Sung―nama asli Ahn-seongsaenim―

“Kajja”

Chanyeol berjalan mendahuli Ahn-seonsaengnim dan Haneul.
Chanyeol mempercepat langkahnya hingga berlari kecil ke arah seseorang yang akan menjemput mereka.

“Annyeong haseyo. Kau yang akan menjemput kami, ne?” Chanyeol membungkukkan badannya seraya tersenyum, terlihat raut wajah kebahagiaan disana.

“Ne, Tuan” Jawab lelaki itu setelah melihat Ahn-seonsaengnim yang berada di belakang Chanyeol, memberi isyarat lelaki itu untuk menjawab ‘Iya’.

Chanyeol, Haneul, dan Ahn-seonsaengnim melangkahkan kakinya menuju mobil. Lelaki tadi―atau sebut saja ia pelayan― membukakan knop pintu mobil agar mereka bisa masuk.

Selama di perjalanan, Haneul hanya memandang indahnya langit pagi kota Jambi dari kaca mobil, tak sama sekali menoleh ke arah Chanyeol yang sedari memandanginya dengan penuh senyuman.

Mereka tidak menyangka tugas observasi sampai ke luar negeri seperti ini.
Namun mereka tidak memikirkan itu, mereka hanya terfokus pada tugas yang akan mereka hadapi.

Mobil yang membawa Chanyeol, Haneul, dan Ahn-seongsaenim melaju menuju hotel.
Mereka hanya menginap selama 3 hari di penginapan tersebut, hanya untuk sekedar menghilangkan rasa lelah selama hampir berjam-jam mereka berada dalam penerbangan dari Korea menuju Indonesia, sekaligus merasakan nikmatnya berjalan-jalan di kota Jambi.

Mereka telah tiba di hotel. Ahn-seongsaenim memesan 2 kamar dan receptionist menyodorkan 2 kunci kamar pada Guru Ahn.

“Seonsaengnim, kenapa hanya memesan dua kamar?” Tanya Haneul dengan sedikit nada memprotes.

“Haneul-ah, kita harus menghemat uang kita. Kita akan berada di sini selama seminggu, kita harus mempergunakannya dengan baik” Haneul memutar bola matanya seraya mengangguk pelan, ia benar-benar sudah bosan mendengar kata demi kata nasihat yang di lontarkan gurunya itu.

Tanpa berfikir panjang Chanyeol, Haneul, dan Ahn-seonsaengnim melangkahkan kakinya menuju lift yang tidak jauh darinya.

Haneul memperlambat langkahnya, ia memandang berbagai macam arsitektur yang ada pada bangunan hotel ini.
Terlihat tradisional, namun sangat indah.

Chanyeol yang sedari tadi menatap Haneul memberhentikan langkahnya, membuat Ahn-seonsaengnim yang berjalan beriringan di sampingnya ikut memberhentikan langkahnya.

“Haneul-ah, ppalli (Cepat)!” Haneul memberhentikan aktivitasnya yang sedang mengagumi berbagai sudut bentuk arsitektur hotel itu, dan berlari kecil ke arah Chanyeol.

“Kita sampai” Ahn-seonsaengnim melepaskan tangannya dari pegangan dorongan kopernya.

“Chanyeol-ah, igo” Ahn-seonsaengnim menyodorkan kunci kamar pada Chanyeol. Dengan cepat Chanyeol meraih kunci kamar yang sebelumnya berada di genggaman Guru Ahn.

“Aaah, aku lupa” Suara Ahn-seonsaengnim menyadarkan Haneul yang sedari tadi hanya terpaku di depan pintu kamar yang akan ia tempati.
Ia akan tidur sendiri, kan? Ia harap begitu.

“Chanyeol-ah, bisakah kau tidur bersama Haneul? Aku benar-benar tidak bisa tidur berdua dengan orang lain kecuali dengan istriku. Tak apa, kan?”
Ucapan Ahn-seonsaengnim benar-benar membuat sepasang bola mata Chanyeol dan Haneul membulat sempurna,
mereka sempat saling melirik. Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.

Chanyeol sedikit mendekatkan jaraknya dengan Haneul, dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu,

“Sudah pasrah saja” Chanyeol menatap seduktif Haneul dengan suara yang sedikit di buat-buat agar terdengar menggoda.

Kini kedua bola mata Haneul rasanya ingin keluar dari tempatnya karena belum lagi satu kenyataan yang belum bisa ia terima,
ini lagi di timpal oleh perkataan Chanyeol yang mengada-ada.

Haneul menginjak kaki Chanyeol dan membuat Chanyeol memekik kencang,
“Nappeun namja! Dasar otak mesum!”

“Ya! Wae? Kalian tidak terima? Oke jika itu mau kalian, tidak masalah. Hanya saja aku hanya mengurangi nilai mata pelajaran geografi dan sejarah kalian saja, beres” Ancaman yang keluar dari mulut Guru Ahn benar-benar tidak dapat di bantah lagi oleh keduanya.
Oh, tidak. Mungkin hanya Haneul yang menolaknya.
Secara Chanyeol lama-kelamaan mulai menyukai situasi ini.
Tunggu, menyukai?…

“Jebal, seongsaenim. Aku juga ta―” Ucapan Haneul terpotong begitu Guru Ahn menatapnya dengan tatapan, “Turuti aku atau kau akan mati!”

“Arrasseo, arrasseo” Haneul menghirup nafasnya dengan sangat rakus sebelum gadis itu membuang nafasnya kasar.

“Sini” Haneul menoleh kearah kunci kamar yang sedang Chanyeol genggam, lalu gadis itu menyambar kasar kunci tersebut dari genggaman Chanyeol.

Haneul membuka knop pintu kamarnya yang telah ia buka.
Ia begitu terkejut begitu mendapati kamar yang akan ia tempati ini begitu indah. Dekorasi serba kayu, sebuah sofabed dan satu TV berukuran 24 inch ia rasa cukup untuk menjadi tempat ia berhuni selama beberapa hari kedepan.
Kini pandangannya terhenti oleh satu kasur yang terlihat tidak terlalu lebar, dan cukup untuk dua orang.

“Shit” Haneul menggerutu begitu apa yang ia takutkan sedari tadi malah terjadi.

“Masuk!” Chanyeol mendorong Haneul agar masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya dengan kencang, namun sebelum itu ia membungkukkan padanya pada Ahn-seonsaengnim seraya tersenyum. Guru Ahn membalasnya dengan senyuman juga.

“Ya!!!” Haneul berteriak begitu keras di telinga lebar milik Chanyeol.

“Kau lama sekali sih masuknya, aku sudah lelah ingin istirahat” Jawab Chanyeol.

“Terus kau tidur di mana?” Haneul menatap namja di hadapannya ini penasaran, semoga namja itu memilih untuk tidur di sofabed ketimbang di kasur.

“Kasur” Ucapan Chanyeol seakan sambaran petir bagi Haneul. Bagaimana bisa ia tidur satu kasur dengan lelaki? Tidak, tidak boleh.-batin Haneul

“Tapi aku ingin tidur di kasur” Haneul memelas, namun tak di acuhkan oleh Chanyeol.

“Kalau mau tidur di sampingku. Aku tidak akan macam-macam, lagipula aku lelah.” Tanpa berfikir panjang namja itu membuka jaket yang sedari tadi melekat di tubuhnya dan ia letakkan ke sembarang arah lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel empuk itu.
Ia menyalakan AC kamarnya karena suhu di kota Jambi sedang panas.

“Aku tidak bisa”

Chanyeol bangkit dari tidurnya dan menarik kasar tangan Haneul agar gadis itu tidur di sampingnya. Haneul membelalakkan matanya begitu jaraknya dengan namja yang di sukainya itu benar-benar sangat dekat,
tepatnya kini Haneul berada di atas tubuh Chanyeol,
bahkan gadis itu bisa merasakan hembusan nafas Chanyeol yang terasa hangat, wangi maskulin menyeruak, wangi yang sangat memabukkan bagi Haneul.

“Tidurlah dan jangan ganggu ketenanganku, arasseo?”

TBC

Annyeong haseyo!! You’re My Virus kini sudah memasukki chapter kedua. Horeee! Who’s excited?😀 berilah jejak setelah membaca ya. Beri saran / komentar atau sekedar memberikan like.
RCL Juseyo!^^

3 thoughts on “You’re My Virus: Together with You (Chapter 1)

  1. Aaaa next thorrr sumpah keren abis
    Bikin deg degan banget
    TAPI KENAPA HARUS TBC??WAEEE???
    Chanyeolnya lucu banget diam diam menghanyutkan
    Next ya thor!!!!!fightinggg!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s