I Love My Father (Chapter 4)

PhotoGrid_1446989518098.jpg

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

Suatu malam yang dingin dan diselimut awan hitam dan bintang bintang yang menerangi dunia. Hembusan angin yang sedikit kencang membuat siapapun yang berada di alam terbuka pasti kedinginan, apalagi apabila ada yang tak menggunakan baju hangat, mungkin mereka akan sakit keesokan harinya.

Dua orang lelaki tampan sedang duduk didalam Cafe. Mereka diam tak berkata. Hanya menikmati secangkir cofee hangat di malam yang dingin.

“Tao, terimakasih telah menemukan anakku.” Luhan, lelaki itu memulai percakapan dengan kerabatnya yang telah lama hilang dan berubah 180 derajat.

“Tidak masalah.” Dingin. Satu kata yang menggambarkan sifatnya yang sekarang.

“Tapi, kenapa kau yakin bahwa YoungAh yang kau bawa itu adalah anakku?” Luhan berbicara hati-hati pada Tao. Takut Tao tersinggung karena tidak menghargai kerja kerasnya untuk mencari anaknya.

“Kau tak percaya padaku?” perubahan sikapnya mulai berubah. Luhan semakin heran kenapa Tao jadi cepat tersinggung seperti ini.

“Bukan tak percaya. Aku hanya ragu.” Setelah itu, terdengar suara decitan bangku yang bergeser. Ya, Tao bangkit dari duduknya. Seperti ingin pergi dari tempat tersebut.

“Kalau kau ragu, biarkan aku menjemput YoungAh dan membawanya pergi darimu! Aku tak akan membiarkan YoungAh tinggal bersama Ayahnya yang ragu atas darah daging nya sendiri!” Tao siap melangkahkan kakinya keluar dari cafe kalau Luhan tidak menghentikannya.

“Tunggu!” ucapnya sigap dan ikut berdiri sama seperti Tao sekarang. “Bukan itu maksud ku.” Luhan menuntunnya untuk duduk lagi ke singgahsananya. Tapi tetap saja Tao tak bergeming dengan posisinya saat ini. “Ada kejanggalan yang aku rasakan saat aku bertemu kembali dengan Anakku.”

“Kejanggalan? Kejanggalan apa lagi hah?! Belum cukup kau meragukan anakmu sendiri?! Dan sekarang! Kau malah merasakan kejanggalan pada diri YoungAh!” Tao mendengus kesal dan ingin rasanya meninggalkan Cafe kalau Luhan tidak terus menahannya.

“Aku merasa ia tidak mirip dengan YeRim. Ia sungguh berbeda.” Saat itu juga, Tao menghentikan gerak kaki nya dan berusaha diam untuk mendengar cerita Luhan. “Saat aku memeluknya, aku merasa pacuan jantungku semakin cepat. Sama seperti saat aku melihat YeRim dulu.”

Tao membalikan badannya menghadap sahabat lamanya yang tak kunjung bertemu. Ia tersenyum hangat pada Luhan sama seperti dulu. Saat Luhan jatuh dalam keterpurukan, ia selalu menunjukkan senyuman hangat tersebut agar Luhan kuat untuk menghadapi masalah tersebut. “Dia anak mu Luhan. Dia anak mu. Percayalah padaku karena aku sahabatmu. Aku tak pernah membohongimu selama ini, iya kan? Aku sealu berkata jujur padamu. Aku tak pernah mengecewakanmu. Aku selalu ada saat kau terjatuh. Jadi aku mohon, percayalah padaku.” Satu bulir air mata jatuh membasahi pipi Luhan. Ia merindukan sesosok sahabat seperti Tao. Dan akhirnya, ia menemukan Tao kembali dengan sifat aslinya.

Tao menghampiri Luhan dan mengusap bahunya untuk menenangkan hati Luhan. “Itu bukan hal aneh Han. Kejadian itu sering terjadi apabila berpelukan dengan lawan jenis. Apalagi kau dan YoungAh telah terpisah 10 tahun lamanya. Pasti kau akan merasakan pacuan jantung yang begitu hebat. Itu karena hubungan batin mu dengan YoungAh yang sangat pekat. Kau hanya perlu beradaptasi dengannya. Kau juga belum mendapatkan pendamping baru selain YeRim. Mungkin itu salah satu faktornya juga. Kau mengerti?”

“Iya, aku mengerti.” Luhan menghentikan air matanya dan mengusap sisa air matanya di pipi. Dia sudah mulai tenang mendengar masukan dari sahabatnya.

“Yasudah aku pergi dulu.” Tao menepuk pundak Luhan lalu pergi meninggalkan Luhan di Cafe.

“Terima kasih sahabat ku..” ia mengucapkan kata-kata itu pelan. Bahkan, hanya Luhan lah yang mendengar ucapan tersebut. Ia tak mampu mengucapkan itu di hadapan sahabatnya yang telah pergi dari balik pintu. Tao baerubah. 1 kata yang ada di benak Luhan. Apa mungkin Tao akan selamanya seperti itu? Atau hanya sesaat? Semua keajaiban akan datang dengan sendirinya. Kita hanya menunggu keajaiban itu datang atau kah tidak.

***

“Aku pulang.”

“Ayahhh!! Akhirnya kau pulang!” YoungAh langsung menghambar tubuh Ayah nya begitu ia menutup pintu.

Luhan merengkuh tubuh mungil YoungAh dan mengelus pucuk kepalanya sayang. Dan sesaat kemudian, pacuan detak jantungnya berdetak lebih kencang. Sama seperti dulu saat ia memeluk YoungAh. Ia menepis pikiran buruk mengenai YoungAh dan terus mengiyakan perkataan Tao kepadanya.

‘YoungAh adalah anak ku! Ya. Ia memang lah anakku! Aku tak boleh ragu dengannya. Benar kata Tao, aku harus beradaptasi dengannya.” Batin Luhan berbicara.

“Kau merindukan ku?” tanya Luhan sambil mencium pucuk kepala YoungAh.

“Iya. Aku sangat merindukanmu Ayah. Kau pulang lebih larut hari ini.” YoungAh melepaskan pelukannya dari Luhan. Ia memandangi lekuk wajah Luhan yang terbentuk sempurna sambil sesekali tersenyum mengagumi ketampanan Ayahnya.

“Benarkah? Ayah tak menyangka anak Ayah dapat secepat itu merindukan Ayahnya.” Luhan membalas senyum YoungAh dengan simpul. “Kenapa kau belum tidur? Ini sudah jam 22.00. Besok kau bisa terlambat sekolah!”

“Tidak akan. Ini belum larut Ayah. Lagi pula ada film horror! Dan aku mau melihatnya! Ayah temani aku menonton yaa!!” YoungAh mulai merajuk Ayahnya.

“Oke baiklah.” Luhan menuruti perintah Anak nya lalu membuntutinya sampai ke sofa.

“Ayah? Bolehkah aku tidur di pangkuanmu?”

“Tentu saja!” YoungAh segera mengubah posisi duduknya dan beralih kepangkuan Luhan. Luhan dengan sigap membelai rambut YoungAh dengan lihai sambil menatap kedua bola mata YoungAh dalam.

“Ayah! Besok teman ku mau datang kesini! Ada kerja kelompok. Tapi hanya berdua saja. Boleh kan?”

“Iya boleh.” Luhan tersenyum, masih mengelus rambut YoungAh yang halus. “Baru masuk sekolah sudah dapat tugas kelompok?” Luhan menggelengkan kepalanya sedangkan YoungAh mengangguk mengiyakan. “Nama temanmu itu siapa?”

“Park Chan Yeol.”

“Laki-laki?” YoungAh pun menjawab dengan anggukan. “Apakah ia baik?” masih mengangguk.

“Ayah tau nggak? Apa kesan pertama ku saat bertemu dia?” Luhan manautkan kedua alisnya. “Dia aneh.”

“Kenapa kau bisa katakan aneh?” YoungAh bangkit dari posisi nya. Dan duduk tepat di depan Ayahnya.

“Dia bilang, katanya dia pernah bertemu denganku sebelumnya.” Luhan terus menyimak cerita YoungAh dengan pendengaran yang tajam. “Katanya, penyebab aku hilang ingatan adalah dirinya.” Luhan semakin bingung dan tak mengerti dengan kata-kata YoungAh. Anaknya mengatakan sesuatu yang menggantung, dan sulit membuat otaknya mencerna kata-kata nya. “Dia bilang, dia yang menabrak ku sampai lupa ingatan.”

“Apaa?? Lalu dia tidak bertanggung jawab? Apa dia tidak masuk penjara??” Luhan mulai naik pitam dan segera berdiri dari posisi sebelumnya.

“Ayah kau mau kemana? Tunggu penjelasan ku sebentar!” YoungAh menahan tangan Luhan yang hendak keluar rumah dan mungkin saja akan melaporkan ChanYeol kekantor polisi.

Luhan kalut atas perkataan Anaknya. Ia pun kembali ke posisi awal dengan nafas terengah-engah karena emosi yang menyulut dirinya. “Dia bilang, dia sudah dilepaskan oleh seorang laki-laki. Kemungkinan besar laki-laki yang dimaksud adalah paman Tao”

“Tao?”

“Iya. Dia juga bilang, saat dia menabrakku. Aku menggunakan baju kantor, bukan seragam sekolah.”

“Apa maksudnya ini? Ini merupakan mistery.” Rasa ragu dalam diri Luhan mengenai anak nya mulai timbul. Ia jadi tak yakin bahwa YoungAh yang ada di hadapannya ini adalah anak nya.

“Ya, aku juga tak tahu. Salahkan otak ku karena tak mengingat satu kejadian pun.” YoungAh menggembungkan pipinya. “Otak ku seperti di perbaharui kembali. Aku benar-benar tak ingat apapun.”

“Yasudah tak apa. Suatu saat, Ayah yakin kau pasti akan mengingatnya kembali.” Luhan mengelus pipi anaknya dan YoungAh kembali keposisi awal, tidur dipangkuan Luhan.

“Aku pernah merasakan ini sebelumnya, saat memory card handphone ku ke format semua. Mulai dari foto-foto ku, lagu-lagu ku dan sebagainya terhapus. Dan itu sungguh menjengkelakn. Begitu juga dengan otak ku ini, semua kenangan yang pernah aku alami hilang semua. Dan tak tahu kapan aku mengingatnya.”

“Setahu Ayah, Ayah tidak pernah membelikan mu handphone saat umurmu 7 tahun.”

“Bukan 7 tahun, tapi 10 tahun! Apa kau tak mengingatnya?

“Saat kau 10 tahun, kau di culik!”

“Oh iya! benar!” aneh. Satu kata yang ada di pikiran YoungAh. Siapa sebenarnya dirinya? Asal-usul nya? Kenapa semua yang dikatakan Luhan berbanding terbalik dengan ingatannya yang masih seumur jagung?. YoungAh memalingkan tatapannya pada Luhan. Ia mulai menonton film horror yang tak lagi menyeramkan. Ia benar-benar dirundung perasaan bingung yang memuncak.

“Youngie, sebenarnya Tao adalah teman Ayah dan Ibu. Bukan paman mu.”

“Benarkah?. Kenapa dia harus berbohong?” cecarnya

“Mungkin dia berbohong agar kau bisa tenang.” YoungAh mengangguk mengerti. Ia menoleh kearah tv yang menampilkan Ending film Horror yang sempat di tontonnya.

“Apa? Sudah habis? Hei aku belum nonton sepenuhnya tahu! Kenapa habisnya cepat sekali?” YoungAh mendengus kesal karena film tersebut sudah habis, padahal ia belum dapat feel dari film tersebut.

“Karena film nya sudah habis, sekarang kau tidur oke!” Luhan membangun kan YoungAh dari posisinya.

“Tapi Ayah temani aku tidur yaa!” YoungAh mengeluarkan jurus puppy eyesnya untuk merajuk Luhan. Sedangkan yang dirajuk hanya tersenyum geli melihat nya.

“Iya iya Ayah temani.” Satu detik kemudian, YoungAh memeluk Luhan dengan rasa kasih sayang yang tak terhingga.

***

“Heii mau lari kemana kau??”

“Jangan ikuti aku! Pergilah menjauhh!!”

“Aku tak akan melepaskan mu pergi!! Tak akan pernahh!!”

TIINNNN TINNNN…..

BRAKKK

***

“Hahh… hah…” ia terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah seperti seorang buronan yang dikejar sekelompok polisi.

‘Apa itu Cuma mimpi? Itu terlihat kenyataan. Kejadian itu seperti pernah terjadi dalam diriku. Apa itu sebagian ingatan ku yang telah hilang? Kenapa begitu menyeramkan?”

JJDERR….

Malam yang mencekam dengan langit hitam diatasnya. Sekilas cahaya bertabrakan di atas langit dan mengakibatkan suara yang begitu dahsyatnya. Angin diluar sana juga tak kalah kencangnya. Pohon-pohon mungkin bisa tumbang karena angin yang berhembus terlalu kencang. Seperti angin topan dan angin puting beliung. Tapi tak nampak sedikitpun pusaran angin yang berputar diatas langit yang mengakibatkan hancurnya dunia.

Kain lembut bewarna kuning terlihat menari-nari mengikuti arah angin. Udara tak segar yang diikut bercak air hujan masuk melalu jendela yang tak tertutup. Membuat si empunya kamar ingin segera menutupnya. Tapi entah kenapa, tubuhnya sangat berat untuk bangkit dari posisi tidurnya. Seperti ada yang menahan tubuh mungilnya, atau ada yang memberi beban berat diatas tubuhnya. Atau mungkin, tubuhnya sudah semakin berat hinnga ia tak bisa bergerak. Ia menolehkan kepalanya kekiri. Ia sungguh terkejut dengan pemandangan yang terjadi. Seorang laki-laki yang baru kemarin ia kenal. Ayahnya, Luhan, tidur disamping dirinya.

‘Ayah? Kau begitu tampan. Kenapa setiap aku menatapmu, desiran darah dalam diriku selalu berhenti? Pacuan jantungku juga berdetak lebih kencang. Ini benar-benar tak normal. Setiap kali aku memelukumu, ingin rasanya aku memiliki mu lebih. Bukan sebagai seorang Ayah. Melainkan sebagai kekasih dan akan menjadi pendampingku kelak. Aku janji, aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan terus disampingmu. Biarkan aku jadi pengganti Ibu. Biarkan aku jadi istri mu nanti. Aku sungguh mencintai mu lebih dari perasaan seorang anak kepada ayahnya. Ini sungguh aneh bukan? Seorang anak yang mencintai ayahnya sendiri. Apakah ayah juga punya perasaan yang sama denganku? Haha.. aku bergurau! Tentu saja tidak! Aku ingin semua kebenaran itu terungkap! Mulai dari foto Ibu ku yang tak mirip denganku. Perasaan ku yang berlebihan terhadap ayah. Kasus tertabraknya diriku karena ChanYeol. Dan, mimpi itu. Aku mohon tuhan! Tolong aku! Bantu aku! Kembalikan semua ingatan ku Tuhan! Aku mohon!’

Dengan gerakan hati-hati, YoungAh memindahkan tangan Luhan yang melingkar di perutnya. Perlahan-lahan agar Luhan tak terbangun dari mimpi indahnya. Tapi satu gerakan cepat membuat YoungAh menghentikan aksinya.

“YeRim! Jangan ganggu tidurku! Biarkan aku dalam posisi seperti ini! Jangan merubahnya! Nanti kau pergi lagi! Aku tak akan membiarkan kau pergi dan meninggalkanku lagi sendirian!” Luhan semakin mengeratkan pelukannya diperut YoungAh. Wajahnya pun terus menelusup tengkuk YoungAh untuk mencari kehangatan yang tertinggal selama 17 tahun lamanya.

Desiran darah yang mengalir dalam diri YoungAh berhenti. Pacuan detak jantungnya semakin kencang. Ia merinding mendengar ucapan Luhan yang menggelitik tengkuknya. Sekarang, hanya berdiam tanpa bernafas yang bisa ia lakukan. Semua organ tubuhnya sudah tidak bekerja dengan sebagaimananya. Otot-ototnya sudah mati rasa. Dan nadinya sudah tak berdenyut. Wajah Luhan sudah sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan, saat ia menoleh kemungkinan besar bibirnya akan bersentuhan dengan bibir Luhan. Dagu Luhan yang menempel tepat di bahunya membuatnya tak bisa bergerak.

Ia ingin sekali berbalik untuk menghadap ayahnya. Ingin melihat wajah polosnya saat tertidur, ingin memeluk dan mengusap rambut hitamnya. Ingin sekali ia melakukan hal itu. Tapi rasa takut menguasai dirinya, ia benar-benar takut melakukan hal seperti itu. Lebih baik ia meloncat dari atas gedung pencakar langit dari pada harus berbalik menghadap ayahnya.

Hembusan nafas yang berasal dari Luhan membuat ia tak tahan untuk menghadap wajahnya. Hembusan nafas itu benar-benar membuat tengkuk YoungAh bergetar. ‘Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?’ cecarnya dalam hati.

JDERRR…

Suara kilat dari awan hitam membuat YoungAh segera membalikkan tubuhnya untuk memeluk Luhan. Melindungi Luhan dari cahaya kilat yang begitu mematikan.

Saat kilat-kilat itu tak terlihat. YoungAh mulai melanjutkan aksinya. Ia membelai lembut rambut Luhan dengan kasih sayang yang tak berujung. Ia juga mencium pucuk kepala Luhan, sama seperti saat Luhan mencium pucuk kepalanya. “Ayah! Kau tak sendirian. Ada aku yang selalu menemanimu, dalam kehangatan. Aku akan selalu melindungi mu dari marabahaya. Peganglah tanganku saat kau bingung ke arah mana kau harus berjalan. Peluklah aku saat kesedihan mulai mencuat ke dalam dirimu. Aku bersedia memberi sandaran bahu ku untuk setiap tetesan air mata mu. Karena aku, mencintaimu!” YoungAh menangis dalam diam. Kenyataan pahit yang dialaminya mulai terasa. Kenyataan pahit bahwa dirinya adalah anak dari Shin Luhan, orang yang mulai dicintainya.

TBC

9 thoughts on “I Love My Father (Chapter 4)

  1. young ah itu kayanya bukan anak luhan deh atau jangan2 umur young ah bukan 17 tahun ???? masih banyak misteri di sini next chapter d tunggu

  2. Oh jelas sekali bahwa YoungAh bukanlah anaknya luhan. Tapi apa alasan Tao membohongi YoungAh dan juga Luhan.. ugh semakin membuat penasaran saja . Dan juga luhan malah merasakan hal yang lain bukan sebagai perasaan ayah kepada anak. Tapi malah sebagai seorang laki-laki…
    Next chapternya ya

  3. Akhirnya di lanjut, Young Ah ngga mirip sama Ye Rim? Terus pas Luhan meluk Young Ah perasaannya beda. Ini cerita makin seru, apalagi ada Chanyeol^^
    Semangat terus thor, di tunggu chapter 5

  4. Pasti bukan, kan? Mereka kayanya udah saling suka gitu.
    Oh ya, genre ff ini ada supranaturalnya kan? Kayanya belum muncul ya??
    Dan penasaran kenapa Tao harus bohong, pun gimana masa lalu Youngah yang sebenarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s