The Gray Anxiety (Chapter 2)

sehun TGA

The Gray Anxiety – Part.2

By : Ririn Setyo

Oh Sehun || Song Jiyeon || Kim Jongin

Other Cast : Park Chanyeol || Zhang Yixing || Kris Duizhang

Genre : Romance ( PG – 17 )

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com  dengan cast yang berbeda.

 

Jiyeon melangkah gemetar saat ia melewati lorong panjang dengan jeruji besi di kedua sisinya, sedari tadi ia terus menggenggam ujung pakaian yang dikenakannya kuat-kuat hingga semua bukunya memutih. Jiyeon pucat pasi, begitu pula wanita paruh baya yang berjalan di sebelahnya, wanita itu bahkan sudah terisak seraya terus menghalau laju air mata dengan selembar kain kusam yang berada di genggaman tangannya.

Mereka menghentikan langkah kaki ketika dua orang laki-laki berseragam polisi yang mengawal mereka sejak tadi memerintahkannya, kedua polisi itu berteriak kencang pada dua pria kurus yang duduk meringkuk di balik dinginnya dinding penjara yang kini nyata mengurung mereka berdua.

“Cepat berdiri! Waktu kalian hanya dua puluh menit.” ucap salah satu polisi, dingin dan lantang.

“Ibu.” laki-laki di dalam jeruji besi yang berumur lebih muda menghambur lebih dulu, tangannya terjulur untuk mencapai wajah wanita paruh baya yang kini sudah menangis tersedu.

Jiyeon diam membeku, menatap sosok pria lain yang berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu kuyu, lebam menghiasi sebagian besar pipinya, pelipisnya robek, ujung bibirnya bahkan masih mengeluarkan darah. Berkali-kali terlontar kata maaf dari bibirnya yang gemetar. Jiyeon mendekat perlahan, mengusap wajah lebam pria itu bersama setetes air mata yang tak mampu lagi ia tahan. Lidahnya mengelu, ia hanya mampu menatap dalam diam, memuntahkan kesedihan dan ketakutan lewat air mata yang semakin membahasi kedua pipi pucatnya.

Noona.” Jiyeon berpaling, tangan gemetarnya mengusap wajah adik laki-lakinya yang sudah menangis.

“Aku tidak mau di sini, tolong keluarkan aku dan Yixing Hyung dari sini secepatnya. Aku mohon Noona.”

Jiyeon hanya mampu mengangguk, tangan kanannya menggenggam erat jemari Junkyu sedangkan tangannya yang lain menghapus air mata di pipi bocah laki-laki itu. Jiyeon sangat menyayangi Junkyu, meski mereka memiliki ikatan darah dari ayah yang berbeda. Jiyeon melirik sang ibu yang sudah menangis tersedu di sampingnya, lalu kembali menatap Junkyu, berusaha mengeluarkan suara dari kerongkongannya yang tersumbat.

“Tenanglah, Noona akan mengeluarkanmu dan Yixing Oppa secepatnya. Kau tidak perlu khawatir.” Jiyeon menatap Yixing sekilas lalu kembali melanjutkan kata-katanya. “Yixing Oppa akan menjagamu disini, benarkan Oppa?”

Yixing mengangguk cepat, mengusap kepala bocah laki-laki yang baru satu minggu lalu merayakan ulang tahunnya yang ke lima belas. “Tenanglah, semuanya akan segera baik-baik saja, Junkyu-ah.” ucap Yixing, berusaha menenangkan Junkyu.

Jiyeon kembali meneteskan air mata, lebih deras dari yang sebelumnya. Ia mengeratkan genggamannya pada Junkyu, gadis itu masih sangat terkejut dengan apa yang menimpa Yixing dan Junkyu. Jiyeon benar-benar tidak bisa mempercayai ketika mendapat kabar jika Yixing dan Junkyu ditahan karena kasus penganiayaan, mereka berdua dituduh menyerang rentenir sekaligus pemilik rumah bordil Baek Sungdo yang hendak menagih hutang pada keluarga Jiyeon.

Beberapa tahun terakhir ini keluarga Jiyeon terlilit banyak hutang, Choi Namjoon ayah tiri Jiyeon yang hobi mabuk-mabukan, kerap kali meminjam uang pada Sungdo untuk bermain di meja judi. Pria itu sudah tidak pernah lagi menafkahi keluarganya sejak dia dipecat dari pabrik susu tempatnya bekerja sepuluh tahun lalu, berperangai temperamental, sering memukul Jiyeon dan ibunya jika sedang kesal. Namjoon bahkan pernah hampir menjual Jiyeon pada saudagar kaya hanya untuk sejumlah uang.

“Waktu kalian sudah habis.”

Suara dingin dari polisi yang sejak tadi berdiri bersama mereka, membuat Jiyeon terhenyak. Ia kembali menangis tertahan saat Junkyu tak mau melepaskan tangannya, ketika dua polisi mulai menarik Jiyeon dan ibunya untuk menjauh.

“Ibu, Noona.” Junkyu terus menangis, menahan tangan Jiyeon agar tidak melepaskannya.

Namun Jiyeon tak punya daya selain melepas paksa genggaman Junkyu, kedua polisi yang berjaga kembali memerintahkannya untuk segera meninggalkan tempat itu. Jiyeon merangkul sang ibu yang hampir beringsut di lantai karena tak kuasa meninggalkan Junkyu dan Yixing di balik jeruji besi, mereka membalikkan badan segera setelah Yixing memeluk Junkyu. Jiyeon menarik sang ibu dan mengabaikan ratapan Junkyu di belakang sana, berjalan tertatih meninggalkan tempat itu bersama semua ketakutakan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya pada adik dan sang kekasih.

~000~

 

Bunyi dencitan terdengar saat Jiyeon mendorong pintu pagar kayu yang sebagian lapisannya sudah termakan rayap, berjalan memasuki pelataran rumah sederhana peninggalan almarhum ayahnya. Langkah kaki Jiyeon dan sang ibu langsung terhenti, mendapati sosok pria yang berdiri tegak di ambang pintu rumah mereka. Choi Namjoon berdiri jumawa di sana, tinggi, besar, selayak algojo di klub malam. Tekstur wajahnya kerasa dan kasar, mata sipit nyaris tanpa lipatan, menghunus tajam dan tak kenal belas kasihan.

“Dari mana saja kalian?!” hardik Namjoon, menatap dingin ke arah Jiyeon dan istrinya.

“Kau tahu pasti jika beberapa jam lalu Junkyu dan Yixing dibawa polisi dan diadili masa karena ulahmu, masih pantaskah kau bertanya ke mana aku dan Jiyeon pergi?” Jieun berseru, balas menatap Namjoon yang mulai mengeraskan rahangnya.

Ah! Sudah berani melawanku rupanya.” Namjoon meraih rambut Jieun dan menjabaknya kasar.

“Lepaskan ibuku.”

Satu tamparan keras membuat sudut bibir Jiyeon berdarah, ia menatap Namjoon tajam, napasnya memburu kasar, muak dengan sikap semena-mena Namjoon yang selalu memukulnya sejak bertahun-tahun silam.

“Jangan memukulnya Namjoon, pukul saja aku.” Jieun meratap, wanita itu beringsut di tanah saat Namjoon mendorongnya.

“Apa kalian pikir aku tidak mencemaskan Junkyu?” Namjoon menendang Jieun, pria itu semakin geram ketika Jiyeon menghalanginya dan kembali berteriak.

“Brengsek!! Berhenti memukul ibuku, Choi Namjoon!”

Satu pukulan keras membuat Jiyeon ikut beringsut di samping ibunya, darah segar mengalir dari salah satu hidungnya. Jiyeon menggerang kala menatap sang ibu memohon belas kasih pada Namjoon, dia memohon di kaki pria itu hingga tawa Namjoon yang memuakkan menguar di udara.

“Beberapa menit yang lalu dua pria kaya datang dan menawarkan bantuan padaku. Doamu terkabul Jieun, Tuhan telah mengirimkan bantuan untuk membalas semua doa-doamu selama ini.”

“Apa maksudmu?”

“Bukankah kau selalu bilang jika manusia rajin berdoa maka bantuan Tuhan akan datang? Mereka memberi kita banyak uang untuk membebaskan Junkyu dan Yixing dengan satu syarat mudah,” Namjoon melirik Jiyeon yang sudah dipeluk erat oleh Jieun.

“Jiyeon harus menemui salah satu dari pria itu besok pagi.”

“Kau menjualku?” Jiyeon membulatkan matanya, ia memekik tertahan saat Namjoon menarik lengannya, memaksanya untuk berdiri.

“Demi Junkyu dan demi pria tidak berguna yang kau cintai, temui pria kaya itu di tempat ini.” Namjoon melempar selembar kartu nama di depan wajah Jiyeon yang mengeras. “Atau kau lebih memilih Junkyu dan Yixing di penjara dan kau menjadi pelacur murahan di tempat Baek Sungdo, Song Jiyeon?”

Jiyeon mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan air mata yang sudah berkumpul di ujung pelupuk. Giginya beradu kala Namjoon tertawa sumbang di depannya, napas Jiyeon memburu cepat dan tiba-tiba ia melakukan satu hal yang membuat tawa Namjoon terhenti seketika. Jiyeon meludahi pria itu, ia sudah tak tahan lagi menahan penghinaan dan semua siksa yang Namjoon berikan padanya selama ini.

Tanpa ampun Namjoon memukul dan menendang tubuh Jiyeon bertubi-tubi, wajah pria itu merah padam, ubun-ubunnya serasa terbakar. Ia naik pitam, menghajar Jiyeon dan Jieun saat wanita itu melindungi tubuh Jiyeon yang sudah terkapar tidak berdaya.

“Temui pria kaya itu besok pagi dan jadilah pelacur terhormat demi adikmu dan Yixing, kau dengar itu gadis jalang?”

Namjoon menarik wajah Jiyeon dan menghempaskannya ke tanah sebelum ia berlalu keluar dari pelataran rumah, meninggalkan Jiyeon yang sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat dari balik dekapan erat Song Jieun.

~000~

 

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sebelum semburat jingga keemasan menghiasi langit. Bahkan sebelum Jieun terjaga dan sebelum Namjoon melontarkan sumpah serapah padanya, Jiyeon sudah mengendap-endap keluar dari pelataran rumah. Membungkus tubuhnya dengan mantel usang yang sudah tidak terlalu berfungsi, untuk melindungi tubuh kurusnya dari terpaan udara dini hari yang masih sangat dingin di awal musim semi.

Jalanan masih tampak lengang ketika Jiyeon berdiri sendirian di halte, menunggu bus untuk kemudian mengantarnya ke sebuah apartemen mewah tepat di jantung kota Seoul. Jiyeon menundukkan kepalanya dalam-dalam saat supir bus menatap khawatir ke wajah lebamnya. Bus itu kosong, Jiyeon memilih duduk tepat di belakang supir bus. Ia menarik napas panjang berulang-ulang, kembali menatap kartu nama yang tergenggam erat di tangan kanannya.

“Hati-hatinya Nak, kau tampak tidak sehat.” ucap sang supir saat Jiyeon turun di halte tak jauh dari apartemen yang dituju gadis itu.

Jiyeon melangkah pelan memasuki pelataran apartemen, ia menengadah, menatap bangunan tinggi dan kokoh yang berdiri congkak di depannya. Mengantarkan gelisah dan rasa takut hingga menghentikan kakinya untuk memasuki lobi apartemen. Jiyeon ingin sekali berbalik dan membatalkan pertemuan bersama pria yang tidak dikenalnya, namun tangisan Junkyu dan tatapan Yixing kemarin lagi-lagi memenuhi pikirannya, mengaburkan pandangan dan membuat napas Jiyeon terasa sesak.

Jiyeon meremas jari-jarinya, memaksa kakinya untuk melangkah dan menyelesaikan semua ini dengan cepat hingga Junkyu dan Yixing bisa segera terbebas dari dinginnya dinding penjara. Jiyeon mengerjab takjub, menatap lobi apartemen yang sangat mewah dari ambang pintu, seorang petugas keamanan apartemen tergopoh-gopoh menghampiri Jiyeon saat gadis itu baru saja hendak memasuki lobi.

“Apa yang ingin kau lakukan di sini, Nona?” pria tegab itu menatap menilai pada penampilan Jiyeon, dia sangat yakin jika Jiyeon salah tujuan.

Hemelsky Apartemen adalah salah satu apartemen termewah yang ada di Seoul, tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam apartemen itu apalagi orang semacam Jiyeon. Gadis itu terlihat seperti gelandangan yang kebingungan. Jiyeon tidak menjawab, ia hanya menyerahkan kartu nama yang sedari tadi digenggamnya kepada petugas keamanan tersebut.

Eoh, Nona tamu Tuan Kim Jongin?” Jiyeon hanya mengangguk. “Beliau sudah berpesan agar Nona segera ke lantai 20, maafkan aku, aku tidak menyangka Nona datang sepagi ini.” ucap pria itu cepat, memperhatikan kembali penampilan Jiyeon dari atas kepala hingga kaki.

Jiyeon tidak mengeluarkan sepatah kata, ia kembali  hanya mengangguk, tak begitu peduli dengan apa yang dipikirkan oleh pria berseragam itu, ia lebih memilih cepat-cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai 20.

~000~

 

Sementara itu di lantai 20, aroma kopi sudah menyeruak memenuhi tiap sudut apartemen saat Sehun menyeduhnya, pria dalam balutan piyama hitam, rambut acak-acakan dan masih terlihat menguap sesekali. Duduk sendirian di depan layar TV LED 60 inch, menyajikan berita pagi yang tidak menarik minatnya sama sekali. Sehun lebih memilih menikmati kopi favoritnya, sambil memikirkan beberapa kemungkinan yang sejak tadi bercokol di dalam pikirannya.

 

Di kartu nama itu tertulis namaku, jadi… gadis itu pasti akan datang, percayalah padaku.”

 

Perkataan Jongin semalam kembali mengusiknya, memaksanya untuk kembali memikirkan dua kemungkinan yang akan terjadi. Namun disaat Sehun masih berkutat bersama kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan jawaban, terdengar suara bell apartemen sebanyak dua kali, membuat Sehun beranjak dari sofa dan meninggalkan cangkir kopinya di atas meja.

Sehun terkejut sekaligus senang saat mendapati wajah Jiyeon di layar monitor yang tertempel di samping pintu, ia pun bergegas membuka pintu, tersenyum lebar menyambut Jiyeon yang tampak terkejut saat mereka sudah saling menatap satu sama lain.

“Kau?!” pupil Jiyeon melebar, menatap Sehun yang juga tampak tak kalah terkejut dari dirinya.

“Jiyeon, wajahmu?” seketika rasa cemas mengelayuti Sehun, ia mengulurkan tangannya, ingin menyentuh wajah Jiyeon yang lebam dan penuh luka.

“Jangan menyentuhku!” ucap Jiyeon dingin, ia menepis kasar tangan Sehun yang hampir menyentuh wajahnya.

“Jika aku tahu pria kaya yang memberi bantuan adalah kau dan bukan Kim Jongin, aku pasti tidak akan pernah datang kemari.” Jiyeon mengepalkan tangannya kuat-kuat, bayangan Sehun yang menciumnya dengan paksa kembali memenuhi benaknya.

Sehun memandang Jiyeon sekali lagi, menahan sekuat tenaga rasa khawatir pada gadis itu. Ia mengeraskan rahangnya, dagu runcingnya terangkat, menatap tajam sosok Jiyeon seraya mencengkram kuat tangan gadis itu hingga terdengar rintihan yang sejatinya membuat Sehun merasa sesak.

“Tidak perlu meletakkan harga dirimu di langit paling tinggi Song Jiyeon, akuilah jika kau membutuhkan bantuanku. Membutuhkan uangku untuk adik dan juga kekasih sampahmu itu.”

Jiyeon berusaha melepaskan cengkraman Sehun, mengeluarkan makian pada pria itu. Namun Sehun bergeming, ia justru menarik Jiyeon masuk ke dalam apartemen, menghempaskan tubuh gadis itu di atas sofa lalu menindihnya hingga Jiyeon tidak bisa bergerak.

“Pria tidak tahu diri itu menjualku padamu, benar ‘kan? Dan sekarang kau akan meniduriku selayak pelacur murahan yang sudah kau beli dengan uangmu, kau benar-benar brengsek.”

Sehun tak membalas ucapan Jiyeon, ia hanya diam menatap mata bening Jiyeon yang berkabut, mata yang terasa sangat kosong dan hampa. Sunyi menyelimuti mereka kemudian, yang terdengar hanya deru napas mereka masing-masing, menerpa wajah mereka satu sama lain. Sehun menelusuri wajah lebam Jiyeon, pelipis gadis itu robek, pipi dan sudut bibirnya bengkak, bahkan terdapat darah yang belum terlalu mengering di bibir gadis itu.

“Apa laki-laki itu memukulmu?” tanya Sehun dingin, ia tak mengalihkan pandangannya, menatap ke dalam mata bening Jiyeon yang kian berembun.

“Apa ayah tirimu memukulmu, Song Jiyeon?” Sehun kembali bertanya, amarah mulai mendatangi kepala pria itu.

“Untuk apa kau ta…,”

“Jawab aku Song Jiyeon! Apa Choi Namjoon memukulmu?!”

Jiyeon tersentak saat Sehun berteriak kencang, gadis itu bahkan sampai meneteskan air matanya. Sehun mengumpat tertahan, ia beranjak dari atas tubuh Jiyeon, menarik Jiyeon menuju kamar tidurnya dan menghempaskan gadis itu di atas ranjang. Sehun mengatupkan rahangnya saat Jiyeon merintih, ia dapat melihat lebam di kedua kaki gadis itu.

Dalam satu gerakan cepat Sehun menyambar handphone yang tergelak di atas nakas, berjalan tergesa keluar dari kamar seraya memberi perintah dingin saat panggilannya sudah tersambung dengan pengawal pribadinya di seberang sana.

~000~

“Dia baik-baik saja, aku sudah memberinya analgesik, antibiotic dan krim anti memar. Dia akan segera membaik, kau tidak perlu khawatir.” ujar seorang pria tinggi, tampan, pucat, dengan mata yang sedikit lebih besar dari orang Korea kebanyakan, pria yang baru saja keluar dari kamar dimana Jiyeon sudah tertidur. Pria itu menatap Sehun, lalu duduk di atas sofa bersama Sehun yang masih tampak gusar.

“Aku pikir kau membutuhkan tambahan obat penenang, hingga harus mengganggu hidupku sepagi ini.” pria itu meraih kopi dingin Sehun di atas meja, menyesapnya pelan dan tidak peduli saat Sehun memakinya.

“Sebenarnya aku lebih senang jika Kiara yang berada di sampingku saat ini dan bukan kau Park Chanyeol, tapi sayangnya istri tercintamu itu masih harus berada di London hingga akhir pekan. Menghadiri pesta membosankan, bersama para bangsawan yang aku yakini akan membuatnya menguap seharian.”

Kekehan Chanyeol mengalun setelah Sehun menuntaskan kalimatnya, ia mengangguk setuju seraya membayangkan wajah cantik istrinya yang tertekuk selama pesta berlangsung. Chanyeol lebih dari paham jika istrinya, lebih tertarik mengikuti kegiatan kemanusiaan di pelosok Benua Hitam, ketimbang menghadiri pesta yang mengharuskan wanita itu menggunakan gaun panjang dan high heel yang merepotkan.

“Tapi jika dia yang berada disini, dia pasti akan memberimu banyak pertanyaan.” Chanyeol meletakkan kembali cangkir kopi yang telah kosong di atas meja.

“Memangnya kau tidak ingin bertanya sesuatu tentang gadis itu?” Sehun berpaling, memandang Chanyeol yang kembali terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak pernah peduli dengan kehidupan sexmu Oh Sehun, lagipula aku masih sangat percaya jika kau bukan maniak gila yang akan memukul wanitamu hingga babak belur sebelum kau menidurinya.” Chanyeol menoleh, menatap Sehun lebih tegas dari yang sebelumnya.

“Yang aku pedulikan hanyalah jadwal terapimu bulan ini, kau sudah melewati empat kali sesi terapi dengan alasan paling membosankan.”

“Aku benar-benar sibuk, Chanyeol.” Sehun mengaruk tengkuk, senyum lebar telah menghiasi wajah tampannya hingga terlihat jenaka.

“Memangnya hanya kau yang sibuk bersaing di pasar saham?” Chanyeol mendengus kesal ketika Sehun hanya tertawa menyebalkan.

“Dan hari ini aku berjanji akan menguliti tubuhmu lalu mencincangnya untuk kujadikan makanan Piranha kesayanganku, jika kau kembali melewati terapimu.”

“Chan, kau terlihat seperti Psycopat di film favorit Jongin.” Sehun yang awalnya ingin kembali tertawa, terlihat menahannya begitu saja kala mata hitam Chanyeol memicing tajam, menghujam Sehun hingga wajah pria itu memucat dalam hitungan detik.

“Jam empat sore. Jangan terlambat.” ucap Chanyeol kemudian, ia tersenyum, tangannya mengusap rambut Sehun dan membuat pria itu menghembuskan napas lega. “Kau terlihat lucu saat merasa takut padaku.”

“Teori psikologi brengsekmu yang membuatku terlihat seperti manusia tak punya nyali.” Sehun menyingkirkan tangan Chanyeol yang masih bertengger di atas kepalanya. “Dan sejak kapan kau berani mengancamku, Park Chanyeol?”

“Sejak kau sering mengancamku lebih dulu. Aku belajar darimu, ingat itu.” Chanyeol kembali tersenyum, beranjak dari sofa, berjalan menuju dapur.

“Hun, dimana kopimu?!” Chanyeol berteriak dari depan deretan laci yang menempel pada dinding, berjejer rapi di dapur Sehun. Ia terdengar mengumpat saat Sehun tidak menjawabnya, pria itu malah memutar chanel tivi yang menyajikan berita tentang ramalan cuaca di Seoul hari ini.

“Sehun aku ingin minum kopi, cepat kemari?!” Sehun bergeming.

“OH SEHUN!!!”

Aish! Yak!!!” seketika Sehun beranjak dari sofa, berjalan menghampiri Chanyeol sebelum pria itu kembali berteriak dan membuat telinganya tuli lebih cepat.

~000~

 

Sentuhan lembut di kepala dan hembusan hangat napas seseorang yang menerpa wajahnya membuat Jiyeon mengerjabkan kedua mata, berkali-kali seraya mengumpulkan semua nyawa yang masih beterbangan di sekelilingnya. Sejujurnya Jiyeon tidak ingin bangun. Kepalanya berputar menyakitkan, Jiyeon juga merasa tubuhnya lemas dan sedikit gemetar.

“Kau sudah bangun?”

Sapaan lembut dari seseorang membuat Jiyeon melebarkan matanya, ia terkejut bukan kepalang, menemukan wajah seorang pria berada tepat di depan hidungnya. Sangat dekat, hanya sejauh helaan napas. Seketika Jiyeon terlonjak, mendorong kuat pria di depannya dan segera bangun.

“Kau?!” hardik Jiyeon, gadis itu menunjuk pria di depannya dengan pupil yang masih melebar.

Pria itu geming, tubuhnya yang sempat terdorong ke belakang kini sudah kembali duduk tegap. Manik hitamnya yang tajam menghunus Jiyeon, tak ada senyum di wajahnya yang jumawa, terlihat kontras dengan pahatan rahangnya yang tegas hingga menambah kesan dingin dan tak tersentuh dari sosok pria yang sejatinya sangat rupawan.

“Sebenarnya kau ini sangat lelah atau karena jumlah obat tidur yang Chanyeol berikan padamu terlalu besar, sehingga kau tidur seharian penuh seperti orang mati, Song Jiyeon?”

Jiyeon tidak begitu mendengar apa yang pria itu katakan, dia lebih memilih memperhatikan ruangan yang kini ia tempati. Ruangan itu tidak terlalu luas, ranjangnya dikelilingi buffet berbahan kayu dengan pelitur cokelat tua. Atapnya rendah, tembok kayu di belakang punggungnya sedikit melekung, dengan empat jendela yang hordengnya dibiarkan terbuka. Jiyeon sadar jika ia berada di atas ranjang yang berbeda dari ranjang yang sebelumnya. Ia sangat yakin jika sekarang dia bukan lagi berada di apartemen pria itu, bahkan kini piyama satin sewarna jingga sudah membalut tubuhnya.

“Dimana ini?” tanya Jiyeon, ia menatap sekilas ke arah jendela di belakangnya, namun buru-buru berpaling lagi dan mulai cemas saat pria itu duduk merapat ke arahnya.

“Yang pasti sekarang kita berada jauh dari Korea.”

Tangan pria itu terulur, membelai helai demi helai rambut panjang Jiyeon yang tergerai tak beraturan. Jiyeon ingin sekali menepis tangan pria itu, namun rasa terkejut dan tubuhnya yang sangat lemas membuat Jiyeon tak punya daya untuk banyak bergerak.

“Kau pasti lapar karena tidak makan hampir tujuh belas jam… mungkin lebih, sebentar lagi pelayanku akan mengantarkan makanan untukmu. Tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan beberapa hal padamu.” pria itu menyeringai, tangannya kini menelusuri wajah Jiyeon, membelai lembut dari dahi, pipi, lalu tertahan di dagu.

“Adikmu Choi Junkyu dan… pria itu sudah bebas, semua hutang ayahmu sudah lunas. Dan kupastikan jika mulai detik ini Choi Namjoon, tidak akan pernah mengangkat tangannya lagi padamu ataupun pada ibumu.”

Rasa terkejut berbalut kelegaan berpendar nyata di wajah Jiyeon, walau gadis itu hanya diam namun matanya yang berbinar tertangkap jelas oleh pria itu. Kenyataan yang membuat Sehun merasa senang.

“Apa yang kau lakukan padanya?” Jiyeon menatap lekat pria di depannya.

“Lebih dari yang pernah dia lakukan padamu dan ibumu.” pria itu beranjak dari ranjang, merapikan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya.

“Lantas, sekarang apa yang harus aku lakukan, Oh Sehun?”

“Sebenarnya aku mengajakmu ke sini agar kita bisa menikmati pagi yang indah ini bersama-sama, tapi kau justru tertidur seperti orang mati.” Sehun mengancingkan jas hitamnya, kulit wajahnya yang pucat berpendar bak pualam di bawah terpaan cahaya lampu di ruangan itu.

“Tetap disini sampai aku kembali.” Sehun berbalik, berniat hendak berlalu, namun ia mendapati langkahnya berjeda saat Jiyeon kembali bersuara.

“Tidak!” Jiyeon mengeraskan rahangnya, ia mencengkram kuat selimut katun yang sejak tadi menutupi tubuhnya.

“Apa?” Sehun membalikkan badan, kembali berdiri menghadap Jiyeon.

“Aku tidak mau disini!”

“Kau mau pergi? Pergi saja. Tapi aku tidak bisa memberimu tumpangan, kau bisa berenang hingga ketepian jika kau mau.”

“Apa maksudmu?” sudut mata Jiyeon berkedut, keningnya halus mengerut, tak paham dengan apa yang Sehun maksud.

Sehun tidak menjawab, ia hanya tersenyum samar. “Oleskan krim anti bengkak ke wajahmu sesering mungkin, setelah kita kembali ke Korea kita akan menikah.”

Pupil Jiyeon kembali melebar, ia terkejut hingga tak mampu menemukan detak jantungnya sendiri. Tubuhnya kian gemetar, menatap Sehun yang hanya menatap dingin ke arahnya.

“Aku tidak sudi menjadi istrimu. Aku akan membayar hutang-hutangku…,”

“Sayangnya aku tidak butuh uangmu, aku menginginkanmu. Song Jiyeon.” Sehun kembali mendekati ranjang, sedikit menunduk, menyatukan tatapan penuh kebencian yang Jiyeon lemparkan padanya.

“Lebih baik aku mati daripada aku harus menjadi istri dari pria bejat sepertimu.”

“Apa kau benar-benar ingin aku menidurimu sebagai pelacur, bukan sebagai wanitaku yang sah?”

Dalam gerakan yang tidak terduga, Sehun sudah mendorong tubuh Jiyeon hingga tertidur di atas ranjang. Ia menarik piyama tidur Jiyeon hingga semua kancingnya terlepas saat gadis itu mendorong kuat bahunya, menjejalkan bibirnya ke dalam bibir gadis itu dengan kasar. Sehun merobek piyama Jiyeon dan menahan kedua tangan gadis itu dengan tangannya, menghimpit tubuh gadis itu hingga Jiyeon yang sejatinya sangat lemas tidak bisa berbuat banyak, gadis itu hanya mampu meneteskan air mata ketika Sehun menelanjangi tubuhnya.

Tiba-tiba Sehun menghentikan kegiatannya, ia menatap Jiyeon yang terisak di bawah kuasanya. Gadis itu menatapnya nanar, mata beningnya mengerjap lemah, luka yang teramat perih berpendar disana. Sehun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, mengerang tertahan sebelum beranjak dari tubuh Jiyeon. Dalam satu gerakan pria itu menutupi tubuh Jiyeon dengan selimut, lalu bergegas mendekati pintu.

Seorang pria tinggi bermata sipit dengan pandangan tajam selayak ujung mata pedang, sudah berdiri di muka pintu takkala Sehun baru membukanya. Sehun tampak melirik Jiyeon yang masih bergeming di atas ranjang, lalu menutupi celah pintu dengan tubuhnya, memastikan jika pria di depannya ini tidak bisa melihat keadaan Jiyeon di dalam sana.

“Tuan Oh Sehun, helicopter anda sudah siap.” ucap pria itu dengan kepala sedikit menunduk, suaranya terdengar datar dan dingin.

“Baiklah.” Sehun kembali melirik Jiyeon sepintas. “Selama aku tidak ada, pastikan dia baik-baik saja, kau mengerti Im Jinhwan?”

Pria itu mengangguk dan berjalan di belakang Sehun, mereka berdua tidak ada yang menyadari jika Jiyeon sudah bangkit dari ranjang, melilitkan selimut ke tubuhnya dan bergegas keluar dari ruangan. Jiyeon mengikuti kemana Sehun melangkah, suara gemuruh dari baling-baling yang berputar  rendah mulai memekakkan telinganya. Jiyeon menaiki beberapa anak tangga, hembusan angin kencang menyambutnya takkala Jiyeon sudah berada di atas. Di depan sebuah helicopter yang baru saja dinaiki oleh Sehun.

Perlahan helicopter pun lepas landas, meninggalkan Jiyeon yang termangu dalam keterkejutan hingga pijakan kakinya terhuyung. Bukan, Jiyeon bukan terkejut dengan kehadiran helicopter yang tiba-tiba. Jiyeon memaku ketika dia sadar dimana kakinya kini berpijak. Mata Jiyeon membesar, ia tertegun mendapati hamparan biru yang bergerak tenang di sepanjang ia melemparkan pandangan. Jiyeon… kini berdiri di atas sebuah yarch.

“Nona Song Jiyeon, makanan anda sudah siap.”

Jiyeon terlonjak dan segera berbalik, mendapati seorang pelayan wanita yang sudah membungkuk hormat padanya. Gadis itu kembali tersentak ketika seorang pria yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya, membungkuk dan memintanya untuk segera menikmati makanannya.

“Se—- sebenarnya…, kita, kita—- ada dimana?” gumam Jiyeon terbata, ia masih memandang hamparan biru di depannya, mengantarkan angin sepoi-sepoi yang membelai lembut helaian rambut hitamnya.

“Kita berada di laut Mediterania, Nona Song Jiyeon.”

Panik seketika berdenyut di dalam otaknya, mulut Jiyeon terbuka lebar, kakinya lemas hingga hampir beringsut di lantai jika saja pria di depannya tidak menahan kedua bahu.

“Anda baik-baik saja, Nona?”

Jiyeon hanya mengangguk samar, ia menarik napas dalam-dalam, menormalkan detak jantungnya yang kian bergemuruh. Jiyeon menengadah, menatap helicopter Sehun yang semakin menjauh meninggalkan yarch.

“Tuan Oh Sehun berpesan Anda harus makan dan kita tidak perlu menunggu beliau pulang dari pertemuan pentingnya. Setelah Anda bersiap, kita akan berlayar menuju Perancis.” lanjut pria itu, ia memeritahkan pelayan wanita membantu Jiyeon turun ke lantai dua dan menikmati makanan yang sudah dihidangkan

Jiyeon tidak mampu berpikir kecuali mengikuti apa yang pria itu katakan,  ia bungkam bersama rasa kalut yang menghisap habis kesadarannya. Karena kini Jiyeon sangat yakin, jika dia akan kesulitan untuk lepas dari Oh Sehun. Pria yang memegang kendali penuh pada kehidupannya dan kehidupan orang-orang yang disayanginya.

TBC

Enjoy Manusia KECE

Gimana? Saya ragu-ragu mau lanjut, soalnya sedikit banget yang suka FF ini -_- tapi buat yg suka dan meninggalkan komentar, makasih banyak ya—- kalian yang terbaik. XOXO

 

 

 

 

 

Iklan

33 thoughts on “The Gray Anxiety (Chapter 2)

  1. Huuaaaa gila,
    sehun sumpah menyebalkan tpi agresif gimana gitu, sebegitu sukanya kah kau pada song jiyeon ??
    Aku smpai menganga lebar thor pas tahu mereka ada di laut mediterania wtf, dasar oh sehun gila kaya raya yg bikin aku ngiri sama jiyeon 😀

  2. Sebenernya sehun sakit apa ya????sehun bisa lsg suka sama jiyeon…di ff ini sehun gak terlalu dingin n sombong….dri awal kyknya sehun mmg ada niat baik sama jiyeon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s