Bullets Und Schilde (Chapter 1)

ff

BULLETS UND SCHILDE CHAPTER 1

Author                  : PutriKim

Genre                   : Action, drama, romance

Lenghth               : Chaptered

Rating                   : PG-16 for harsh words

Main cast             : Thalia lee, Kai

 

Sore yang indah, angin menerpa lembut helaian rambutku yang ku biarkan terurai. Ku dudukan tubuhku di bangku taman dekat temat parkir, ku buka lembar demi lembar novel yang ku baca, angin masih setia menyapaku lembut membuat helaian poni ku yang sudah memanjang beterbangan.

“hey! What are you doing Thal?”

Suara seorang lelaki paling menyebalkan membuat konsentrasiku tarhadap novelku hancur bagaikan gelas kaca yang jatuh terlempar, ku coba tak peduli dengan lelaki yang menyapaku tadi, sungguh mendengar suaranya saja membuatku muak apalagi harus berbicara dengannya, Big no! Terus ku baca novelku meskipun aku sama sekali tak fokus.

“please answer me! Yau can hear me Thal!”

“just go!”

Hanya 2 kata yang mampu keluar dari mulutku, setiap aku mendengar suaranya serasa emosiku langsung memuncak sampai ubun-ubun. Ku rasakan bangku yang kududuki sedikit bergetar, sudah kupastikan lelaki menyebalkan ini mendudukan pantat jeleknya di sampingku.

“oh.. I’m really tired!”

Ku lirik dari sudut mataku dia meregangkan tubuhnya, menyisir kebelakan rambutnya yag terlihat sangat lembut, ku fokuskan lagi tatapanku ke arah novel di pangkuanku, membuka lembaran berikutnya meskipun lembaran yang berikutnya belum sempat aku baca.

Beberapa menit berlalu aku bisa memfokuskan kembali otaku pada novel yang ku baca, hobiku membaca novel sudah ku mulai sejak aku di tahun pertama JHS, hobi yang selalu mengisi hari-hariku. Tiba-tiba ku rasakan kepala yang menyandar dengan nyaman di bahuku, ku tiup poniku malas, dan menengok orang yang tertidur di pundaku lebih tepatnya pura-pura tertidur.

“wake up brat!”

Aku berusaha menyingkirkan kepalanya yang bersandar dengan nyamanya, seolah kepalanya di lem dengan pundaku, setiap aku menyingkirka kkepalanya selalu saja kembali pada posisi bersandar di pundaku.

Ku putar bola mataku, aku berdiri dan berjalan menjauhi lelaki menyebalkan yang seenaknya menyandarkan kepalanya di pundaku.

“oh! Shit!”

ku dengar umpatanya, aku juga mendengar kepalanya terantuk bangku tampan bekas tempat duduku. Aku tersenyum puas dan terus berjalan menuju gerbang kampusku.

Tiba-tiba kurasakan ponsel yang ku bawa bergetar, ku lihat ID yang tertera dan langsung ku angkat telfon yang masuk.

“hallo!”

“….”

“baiklah, aku akan segera ke markas!”

ku tutup telfon dan aku pun langsung berlari menuju ke parkiran, ki lihat lelaki menyebalkan itu sudah tidak ada di bangku yang kutempati tadi, ku fikir dia juga mendapat panggilan yang sama seperti panggilanku tadi.

Ku lajukan mobilku memecah padatnya lalu lintas kota, ku ijak lebih dalam pedal gas mobilku sampai angka menunjukkan 140 km/h di speedo meter mobilku.

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

Ku buka pintu dengan tergesa-gesa, ku lihat semua orang sudah berkumpul di markas, semua sudah duduk mengelilingi sebuah meja panjang.

“you’re late Thal!”

kata seorang lelaki, yang tak lain adalah lelaki menyebalkan yang tadi menggangguku di bangku taman kampus. Ku putar bola mataku malas dan langsung ku dudukan diriku di kursi yang tersisa.

“i’m sorry i’m late!”

“no problem!”

Mr. Dave tesenyum kearahku dan langsung membuka sebuah map berwarna biru tua yang ada di depannya, ku lihat sekeliling semua orang ada di sini, tapi entah mengapa ada yang kurang menurutku.

“we have a new mission, we must protect diamond from england!”

Perkataan Mr. Dave membuat kegiatanku mengamati seluruh orang yang ada di ruangan ini terhenti, ku lihat semua orang menganggukan kepala mantap termasuk aku.

“berlian yang akan kita awasi akan tiba di bandara lusa pukul 4 sore, jadi kita harus bersiap untuk misi kita kali ini, pameran berlian akan diadakan selama 2 hari di gedung pameran kota, jadi kita harus mengawasi berlian ini selama 4 hari penuh, catatan untuk kalian semua kemungkinan Tanned akan berusaha mencuri berlian ini, bulan ini Tanned berhasil mencuri 2 berlian di 2 pameran yang di adakan di paris, dan milan. Asal kalian tahu berlian ini bernilai 10 juta dolar.”

Aku hampir menjatuhkan rahangku mendengar penjeasan dari Mr. Dave, bukan karena nilai berlian yang begitu tinggi tapi karena aku harus melindungi sebuah benda mati dan harus berhadapan dengan Tanned, jujur saja aku segan mendengar seluruh cerita dari teman-teman dan Mr. Dave tentang siapa Tanned, seluruh pencurian yang terjadi hampir semua di akibatkan ulah Tanned. Aku yakin Tanned adalah orang yang sangat licin dan picik, tapi aku juga tidak mengingkari kalau Tanned adalah orang yang cerdas.

“apa kita semua akan bergabung dalam misi ini?”

Timo bertanya sambil memainkan pulpen yang ada di tangan kanannya, aku fikir Timo sedikit malas apabila mendapat misi mengawal benda mati, yah… dia sudah pernah mengatakannya padaku.

“tentu! Aku fikir akan lebih baik kalau kita semua terjun dalam misi ini!”

“apa kau yakin Tanned akan muncul?”

Tanyaku penasaran, jujur saja aku sedikit penasaran dengan sosok Tanned, di setiap aksinya Tanned bahkan tak pernnah tertangkap kamera, bahkan semua orang tak pernah melihat sosok Tanned yang sebenarnya.

“why Thal? Are you afraid?”

“shut up your mouth Kai!”

Ku pandang Kai pria yang paling menyebalkan di hidupku yang sehari ini sudah mengangguku di bangku taman, yah menggangguku membaca novelku, sungguh menyebalkan. Ku lihat dia malah membalas tatapanku dengan cengiran lebarnya yang terlihat manis, ups! Sepertinya aku sudah gila.

“menurutku Tanned pasti muncul, berlian yang kita kawal nilainya lebih prestisius dibanding berlian yang di curi di paris, dan milan, jadi ku pastikan Tanned menjadikan berlian ini sebagai target utamanya!”

Mr. Dave menutup map biru tuannya dan menatapku begitu lama, aku yang merasa risih dengan tatapan mr. Dave memberanikan diri bertanya.

“whats wrong with me ?”

“change your hair color!”

Oh, sungguh aku lupa bahwa warna rambutku sekarang begitu mencolok, bodohnya diriku memilih warna pirang, ku lihat Timo dan Kai menahan tawanya sambil menatapku, jujur saja aku malu, tapi hey… bukan salahku, aku hampir 2 bulan tidak menerima misi.

Ku lihat Mr. Dave sudah berjalan akan meningalkan ruangan ini, ku lihat rambut Mr. Dave sudah ada beberapa yang berwana putih, tapi entah mengapa seolah tak mengurangi kekuatan yang terpancar dari tubuhnya.

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

          aku berjalan di lorong markas, aku berhenti sejenak menatap pintu di seblah kananku pintu yang sudah hampir dua bulan aku tidak membukanya, yah.. kamarku di markas ini yang mengingatkanku pada kejadian yang terjadi 2 bulan yang lalu. Aku tesenyum pahit sambil menatap pintu yang begitu meremas hatiku.

“hey Thal!”

Ku tengokkan kepalaku mendapati Luna yang sedang berjalan kearahku, tubuhnya yang imut untuk ukuran pengawal, dan caranya berjalan seperti anak-anak membuatku tersenyum. Dulunya aku heran kenapa Luna bisa masuk menjadi anggota SAVER, ya.. nama dari keompok pengawal yang di ketuai Mr. Dave adalah SAVER, kembali membahas Luna, kemampuan bela dirinya hanya standar, dalam hal menembak pun dia tak pernah mengenai sasaran terkecil, paling bagus ada di lingkaran ke 4, tapi baru-baru ini aku baru tahu Luna bisa masuk SAVER karena Luna adalah keponakan Mr. Dave.

“oh! Hey!”

“mau ke salon bersama? Ku rasa aku harus membersihkan rambutku, dan mempercantik diri untuk misi kita!”

Luna mengakhiri kata-katanya dengan gelak tawa nyaring, aku tersenyum dan ku anggkan kepalaku, aku memang berniat mengganti warna rambutku yang sudah mendapat kritikan pedas dari Mr. Dave.

“baiklah! Kita pergi bersama! Tapi temani aku mengambil tas dan uangku di kamarku!”

Aku dan Luna berjalan menuju sebuah kamar di ujung lorong, entah kenapa lorong hari ini begitu sepi, Taeyang yang biasanya bercanda di lorong bersama Yuta hilang entah kemana, anya suara mesin pendinginruangan dan langkah kakiku dan Luna yang mengisi kekosongan lorong.

“apa kau tidak akan pernah tidur di markas lagi Thal? Kamarmu tak pernah kau pakai!”

“entahlah, aku hanya belum bisa meluapakan kenanganku di markas ini, ku rasa lebih baik aku tidur di rumahku dulu!”

Aku menjawab seadanya, ya memang karena itu aku belum berniat kembali ke markas Saver, terlalu banyak kenagan yang terjadi di asrama markas Saver, dan aku membenci itu.

Aku dan Luna sudah sampai di depan pintu kamar Luna, ku lihat papan nama yang tertera di daun pintu, aku mengernyit heran, ada dua nama “luna & soyu”. Aku asing dengan nama Soyu, sebenarnya siapa Soyu, seingatku tidak ada anggota Saver bernama Soyu.

“dia anak baru, dia sekarang bagian dari kita! Dia ahli hack, kau tahu kemampuannya sangat luar biasa”

“oh, baiklah! Ku rasa Saver akan lebih baik!”

“thal! Kau bisa masuk lebih dulu ke kamarku! Aku harus menemui si tua bangka Dave, lihat bahkan dia mengirimku pesan seolah aku adalah suruhanya!”

Luna menunjukkan layar ponselnya ke arahku, aku hanya bisa menahan tawa melihat tingkah luna yang sangat childish, dan memang dia yang paling muda di antara anggota Saver. Ku anggukan kepalaku dan ku gidikkan daguku untuk menyuruh Luna segera menemui Mr. Dave.

Setelah Luna berjalan menjauhi ku, ku buka pintu kamar Luna, pelan-pelan ku buka, tapi tiba tiba Timo mengagetkanku, ku tatap wajahnya yang di hiasi senyuman konyolnya.

“ada apa?”

“tidak ada, hanya saja aku suka dengn warna rambutmu!”

Setelah Timo menyeesaikan kata-katanya tawanya langsung meledak, ku putar bola mataku malas, ku tendang betisnya dengan sepatu boot yang ku pakai, aku yakin itu pasti sakit, dan aku tertawa puas melihat reaksinya yang meringis kesakitan sambil memegang betisnya.

Ku lanjutkan kegiatanku yang terhenti karena ulah bodoh Timo, ku pegang gagang pintu kamar Luna, ku dorong pelan lalu ku beranikan diri memasuki kamar Luna. Mataku membelalak tak percaya melihat pemandangan yang ada di depam mataku.

“a-apa? A-apa yang kalian lakukan?”

Aku bertanya sambil tergagap-gagap, ku lihat Soyu langsung merapikan pakaiannya sedangkan pasangannya masih berbaring dengan santainya di ranjang Soyu.

“Oh, Hey Thal! Kami hanya bersenang-senang disini, ada sesuatu yang kau butuhkan?”

Entah kenapa emosiku memuncak melihat kegiatan yang dilakukan Soyu dan Kai, serasa flashback tentang diriku 2 bulan yang lalu terputar jelas di otakku, ku kepalkan tanganku kuat-kuat menahan emosiku agar tidak meledak saat ini juga.

“hey ! kenapa kau diam? Ada perlu apa?”

Kai bertanya aku tanpa ada wajah malu sedikitpun yang terlihat di sorot matanya, ku gelengkan kepalaku, ku langkahkan kakiku untuk keluar dari ruangan ini, namun di langkah keduaku ada lengan yang menarik tanganku.

“ku fikir kau butuh sesuatu, silahkan ambil keperluanmu!”

Ku tatap Soyu tak percaya dengan apa yang baru saja Soyu katakan padaku, bahkan Soyu denggan santainya tersenyum ke arahku.

“APA KALIAN GILA?! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI MARKAS INI! KALIAN FIKIR INI HOTEL?! HAH! YOU’RE TWO CRAZY BRAT!”

Aku membentak Soyu dan Kai, mereka hanya menatapku kosong, sedangkan aku yang tadi mati-matian menahan emosiku akhirnya meledak. Ku lihat Kai menatapku tajam, sepersekian detik kemudian muncul smirk khas di wajahnya.

“apa aku perlu memasang kaca di seluruh bangunan ini? Hah? Heol! Apa kau tidak ingat bagaimana tingkahmu 2 bulan yang lalu? Hah?”

“jangan pernah berani mengungkit tentangku bangsat!!”

“ku fikir kau marah karena kau ingat apa yang kamu lakukan dengan Myungsoo 2 bulan yang lalu, bahkan yang kalian lakukan lebih dari yang aku lakukan tadi! KAU! THALIA LEE! MYUNGSOO FUCK YOU 2 HOURS BEFORE DOING OUR MISSION! Siapa yang lebih baik antara kau dan aku sekarang! Beraninya kau membentakku!”

Air mataku mengalir seiring kata-kata yang keluar dari mulut Kai, ku tundukkan kepalaku, emosi, sakit, dan flashback tentangku 2 bulan yang lalu menambah deras aliran air mataku. Ku usahakan aku tidak terlihat lemah di depan Kai, tai semakin aku berusaha semakin air mataku mengalir tak terbendung.

“lihat aku Thal! Katakan siapa yang lebih baik di antara kita!”

Aku tahu Kai sekarang ini telah berdiri tepat di depan tubuhku, sungguh rasanya ingin ku banting tubuh Kai sekarang ini, ingin ku tembak tepat di kepalanya. Tiba-tiba ku rasakan tangan Kai bergerak akan meraih daguku, ku tahan tangannya sebelum menyentuh kulitku. Ku alikan padanganku tepat ke kedua bola matanya, sepersekian detik kemudian ku pegang erat tangan Kai, lalu ku banting tubuhnya dengan keras, tubuh Kai terbanting tepat di meja kaca yang ada di sampingku, ku injak perutnya sekuat tenagaku.

“jangan pernah mengungkit Myungsoo, kau bahkan selemah ini untuk aku hacurkan di depan wanitamu! Kau sadar kau sangat menjijikan, kau bahkan hanya seorang bajingan di mataku!”

Aku mendesis tepat di telinga Kai, sekali lagi ku injak perutnya. Ku lirik Soyu yang hanya berdiri memaku di dekat pintu kamar, ku lihat dari sorot matanya pasti dia kaget dengan pemandangan yang dilihatnya beberapa menit yang lalu, aku tersenyum kearahnya, namun yang ku lihat Soyu malah mengeluarkan air matanya.

Aku beranjak akan meninggalkan ruangan ini, namun tepat di samping Soyu ku hentikan langkahku.

“kau bahkan terlalu bodoh memberikan tubuhmu pada lelaki bajingan sepertinya!” bisikku, ku ambil slingbagku yang sempat terjatuh lalu aku berjalan keluar dari kamar Luna.

Aku sadar mungkin kondisiku sekaang sudah acak-acakan, ku sisir rambutku dengan jari-jariku, lalu kebenarkan posisi blazer yang melekat di tubuhku. Moodku benar-benar hancur hari ini, ku lihat jam yag ada di pergelangan tanganku, masih pukul 4 sore, belum terlalu sore untuk pergi ke tempat tujuan baruku.

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

Ku taruh sebuket bunga babys breath di depan nisan yang aku kunjungi, kakiku melemas, aku terududuk tepat di depan nisan yang masih terlihat baru, ku usap nisan yang terbuat dari marmer yang terpatri nama orang yang aku cintai. Air mataku menetes dengan mulusnya.

“aku sendiri sekarang, kau tahu rasanya sangan menyakitkan! Apa kau bisa merasakannya? Kau bodoh mati secepat ini!”

Tubuhku bergetar, isakan demi isakan keluar dari mulutku, remasan di hatiku terasa semakin menyakitkan, ku pukul-pukul gundukan tanah yang ada di depanku, ingin ku salurkan emosiku yang telah memuncak, tapi yang keluar hanyalah tangisanku yang semakin keras.

“kau bodoh! Kau bodoh! Kenapa kau harus mati!? Hah? Kenapa? Dan kenapa harus perluruku yang membuatmu terbunuh??”

 

TBC

 

6 thoughts on “Bullets Und Schilde (Chapter 1)

  1. AAaA thorrr……ini seru banget sama masih penasaran sama kenangan thalia
    Kok udah tbc aja sih thorrr huhu T_T
    Kurang panjang thor ceritanya
    Next jangan lama lama ya thorrrr
    Fightinggggg!!!!

  2. Seruuuuuuuuuuuuu
    Hubungan apa yh Thalia sma Kai hmzzzzz mrka sma2 bajingan kah woahhhhh kata2 ku ahhahahahahahah
    Seruuu seruuuu aq sukaaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s