Closer (Chapter 4)

IMG_20151114_212209

Closer

Chapter 4. (Perfectly Trapped) – by Angel Devilovely95

 

Title     : Closer

Author : Angel Devilovely95 (Twitter:@MardianaSanusi)

Cast     : Oh Sehun – Im Neyna (OC) – Kim Jongin

Park Chanyeol & Lee Hyera (OC)

Genre  : Romance, Drama and Psychology

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Disclaimer: Don’t bash! This story based on my imagination.

 

Previous Chapter >> (Chapter 1) (Chapter 2) (Chapter 3)

 

Also posted on my WP https://angeldevilovely95.wordpress.com

 

 

 

When a handsome man force you to be his.

 

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Rambut panjang yang terurai bebas, wajah cantik bak boneka dengan mata indah yang terpejam sepenuhnya, serta tubuh mungil yang begitu indah menjadi objek paling menarik siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang memiliki fisik sempurna itu kini tengah tertidur lelap layaknya putri tidur di ranjang mewah bergaya klasik.

 

 

 

Tidur lelap gadis cantik dengan kulit putih pucat itu agaknya mulai berakhir saat ia merasa bahwa selimut yang menutupi tubuhnya kian tersingkap. Udara dingin musim semi menyeruak begitu saja menyentuh permukaan kulit, gadis cantik itupun perlahan membuka matanya merasa terusik dengan udara dingin yang menerpanya.

 

 

 

Lepas dari usikan dinginnya udara musim semi, rasa perih di lengan kanannyapun ganti menderanya. Keberadaan plester bening di lengannya tepat menutupi urat venanya. Entah luka apa yang ia alami, Neyna lebih memilih mengabaikannya. Netra indahnya lantas beralih pada ruangan asing yang ditempatinya saat ini.

 

 

 

Ruangan dengan interior yang begitu feminine dan begitu mewah itu terlihat seperti kamar putri-putri kerajaan. Kamar yang didominasi warna putih dan pink pastel itu mengingatkannya dengan kamar miliknya. Itu warna kesukaannya. Tapi kamar yang ditempatinya sekarang bukanlah kamarnya.

 

 

 

‘Dimana aku?’

 

‘Kenapa aku disini?’

 

‘Ini kamar siapa?’

 

 

 

Serentetan pertanyaan akan keberadaan dirinya saat ini meliputi benak gadis bermarga Im itu. Perlahan gadis cantik yang masih mengenakan tank top dress kemarin malam itupun turun dari ranjang, hendak melangkahkan kakinya keluar kamar. Langkahnya terhenti saat pemandangan ‘aneh’ mengunci perhatiannya. Foto-foto dirinya terpajang di nakas dekat jendela kamar. Foto-foto saat kelulusannya di SMA dan Universitas, foto candid dirinya saat mengajar bahkan foto dirinya saat tidur juga ada.

 

 

 

Tunggu… foto- foto candid dirinya saat mengajar dan tidur itu masih baru. Pakaian yang dikenakannya saat mengajar di foto itu sama dengan yang ia kenakan kemarin. Dan ia lebih tercengang saat menyadari bahwa foto candid yang menampilkan dirinya saat tidur itu sepertinya foto semalam.

 

 

 

Tank top dress yang ia kenakan saat ini sama persis di foto itu. Dan ranjang yang ia tiduri di foto itu adalah ranjang yang ia tempati tadi. Tanpa sadar gadis itu bergidik ngeri. Prasangka akan penggemar rahasia atau malah psikopat berdarah dingin dibalik ini semua menghantui benaknya.

 

 

 

Neyna menggeleng, berusaha menepis setumpuk prasangka buruk di benaknya. Tapi sayang ingatan akan kejadian semalam dimana Sehun meyambangi apartmentnya. Dimana pria itu mendekapnya menyeruak begitu saja dan… Oh no! Ia tidak sadarkan diri setelah itu. Tubuhnya reflex menegang, pria itu.

 

 

 

Pria dingin itu, apa jangan-jangan ia dalang dari semua ini? Neyna melangkahkan kakinya keluar kamar tergesa, takut-takut kalau dugaannya benar. Ia harus pergi dari sini. Pemandangan akan interior mewah di luar kamar yang ia tempati menyambut penglihatannya sesaat setelah ia berhasil keluar dari kamar. Dan…

.

.

.

DEG

.

.

.

Netra indahnya bertemu dengan netra tajam pria itu. Pria dingin yang ia harus hindari, Oh Sehun. Neyna begitu kalut, pria yang menjadi objek praduganya sebelumnya benar- benar nyata. Oh Sehun kini muncul dalam penglihatannya. Kegiatan mengancingkan lengan kemejanya terhenti saat Sehun melihat gadisnya itu keluar kamar. Pria dingin itu baru saja keluar dari ruang kerjanya, berniat membangunkan gadis cantiknya itu dan kebetulan sekali gadisnya ternyata sudah bangun.

 

 

 

Posisi ruang kerjanya yang terletak di sebrang kamar gadisnya mengharuskan Sehun berjalan agak jauh. Mengingat mansion yang ia tempati saat ini sangat luas. Dengan langkah santai ia menghampiri Neyna, senyuman tipis menghiasi wajah tampannya yang malah begitu mengerikan bagi gadis cantiknya itu. Menyadari Sehun semakin mendekat, Neyna memundurkan langkahnya.

 

 

 

Sebisa mungkin ia harus menghindari pria dingin itu. Ia harus pergi. Harus! Sehun menyadari pergerakan gadisnya. Gadisnya berniat kabur lagi darinya rupanya. Langkah jenjangnya tentu tidak sebanding dengan langkah gadis cantiknya itu. Dengan satu hentakan Sehun berhasil membopong tubuh mungil Neyna di pundak kekarnya, menghentikan pergerakan gadisnya itu seketika.

 

 

 

Neyna tentu tidak tinggal diam, ia meronta meminta Sehun menurunkannya. Gadis cantik itu memukul punggung pria yang membopongnya itu berkali-kali, berkali-kali pula ia menghentakkan kaki indahnya di bagian dada pria itu, tapi tetap tidak mempan. Sehun tetap tidak gentar. Tidak juga menurunkannya.

 

 

 

“Stop it!!” Bentakan lolos sempurna dari bibir Sehun, dengan lembut pria itu lantas mengelus bokong gadisnya. Neyna reflex menghentikan rontaannya, begitu terkejut dengan perlakuan pria dingin itu. Sehun membawanya kembali ke kamar yang tadi ia tempati. Menurunkannya dan mendudukannya di tepi ranjang setelahnya.

 

 

 

Tatapan yang begitu intens dari netra trajam pria dingin itu menjadi santapan gadis cantik bermarga Im itu saat ini. Sehun kini tengah berlutut di hadapan Neyna. Salah satu tangan kekarnya melingkar sempurna di pinggang mungil gadis cantiknya itu.

 

 

 

“Sehun-sshi kenapa aku bisa ada disini? “ Tanya Neyna pelan, berusaha memulai pembicaraan dengan pria di hadapannya saat ini.

 

 

 

“Aku yang membuatmu ada disini. Kenapa hmm?’ Repons Sehun sembari mengelus pipi mulus gadisnya dengan satu tangannya yang bebas.

 

 

 

Neyna terkesiap dengan jawaban Sehun, begitu kalut sekaligus penasaran. “A-apa maksudmu membawaku kesini Sehun-sshi?” Dengan sedikit terbata Neyna mengutarakan pertanyaanya, berharap rasa penasarannya terjawab oleh pria dingin di hadapannya itu.

 

 

 

“Menurutmu apa?” Bukannya menjawab pertanyaan gadisnya, Sehun malah membuat gadis cantik di hadapannya itu semakin penasaran.

 

 

 

“A-aku tidak tahu…”

 

 

 

“Sebelumnya aku sudah pernah bilang padamu kan, cepat atau lambat aku akan membuat mu tinggal denganku. Kau ingat sayang?” Penjelasan Sehun membuat gadis di hadapannya merinding. Ingatan akan perkataan Sehun kemarin menyeruak begitu saja. Sehun benar-benar membuktikan perkataannya. Sehun menculiknya lagi. Ia kembali terjebak bersama pria itu.

 

 

 

“Ta-tapi aku tidak bisa tinggal denganmu bi-bibiku pasti khawatir Sehun-sshi.” Neyna tahu benar bahwa Sehun tidak suka dibantah. Terakhir kali ia meminta pulang, pria itu malah murka dengannya. Tapi bagaimanapun ia harus menyampaikan alasannya kan?

 

 

 

Sehun geram gadisnya itu lagi-lagi menolak tinggal dengannya. “Aku sudah berbicara dengan bibimu mengenai ini. Ia setuju kau tinggal bersamaku. Dirumah ini. Rumah kita. Jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk menolak tinggal bersamaku!” Ucap Sehun sinis. Kemarin malam Sehun memang sudah berbicara dengan Bibi Song untuk mengajak gadisnya itu ‘tinggal bersama’ dan wanita paruh baya itu menyetujuinya.

 

 

 

Neyna membulatkan matanya tidak percaya. “Bohong!Kau pasti berbohong!” Ucap Neyna setengah berteriak. Sehun pasti berbohong. Bibinya mana mungkin mengizinkannya tinggal bersama pria dingin itu. Pria yang bukan suaminya. Bulir-bulir air mata memenuhi netra indahnya. Entah kenapa ia begitu kecewa akan kenyataan ini.

 

 

 

“Sstt… kekasihku tidak boleh berteriak seperti itu. Bibimu memang sudah merestui kita sayang…” Sehun menyeringai, jemarinya kembali membelai pipi mulus gadisnya itu.

 

 

 

“Aku tidak percaya.. Lepaskan aku Sehun-sshi… Aku mohon.” Neyna menghempaskan tangan kekar Sehun, seketika menghentikan belaian lembut jemari pria dingin itu pipinya. Kalimat lirih yang dilontarkannya barusan diharapkan mampu mengubah keputusan Sehun untuk melepaskannya kali ini.

 

 

 

Jemari yang sempat membelai pipi mulus gadisnya itu kini terkepal sempurna. Tatapan nyalang begitu menusuk ditujukkan pada gadis di hadapanya saat ini. “Tatap aku Nona Im!! Apa aku terlihat sudi melepaskanmu huh?” Gertakan lolos sempurna dari pria bermarga Oh itu. Pertanyaan yang ia ajukan pada gadisnya begitu sinis, lantas membuat gadis cantik di hadapannya menunduk takut.

 

 

 

Perkataan Sehun kelewat sarkastik, Neyna merasa Sehun berhasil memenjarakannya saat ini. Sehun tidak memberinya akses sedikitpun untuk melepaskannya. Tapi bagaimanapun juga ia harus berusaha keluar dari kungkungan pria dingin itu. Ada hal yang lebih penting yang menyelubungi benaknya saat ini. Neyna mendongak, jemari lentiknya sengaja bertaut kala menekan rasa takutnnya. Satu tarikan nafas ia indahkan sesaat sebelum menyuarakan kalimatnya “Sampai kapan aku harus tinggal disini Sehun-sshi?”

 

 

 

“Shut up! Pertanyaanmu sama saja seperti memintaku untuk melepaskanmu Nona Im!” Sergah Sehun sinis.

 

 

 

Neyna terkejut bukan main, kemungkinan untuk bebas dari penjara laknat pria dingin bermarga Oh itu kini kian menipis. Kalimat sinis yang dilontarkan Sehun bagai hantaman kuat bagi Neyna. Menyerah. Mungkin itu pilihan paling tepat bukan? Neyna lantas menutup kedua matanya, menyambut niatannya itu lamat-lamat. Pikirannya berpendar, masih tidak rela atas niatan sesatnya.

 

 

 

Sekelebat ingatan akan permintaan ketigapun berhasil menyapa pikirannya. Saved. Neyna harus membatalkan niatannya. Ia harus mengutarakan permintaan itu. Harus! Persetan dengan resiko terberat yang ia tanggung nantinya. Tinggal bersama Sehun bahkan lebih mengerikan dari resiko terberatnya saat ini.

 

 

 

Neyna sontak membuka matanya, berniat mengutarakan permintaan terakhirnya tersebut “A-aku minta maaf Se-sehun-sshi…A-aku tidak bisa tinggal denganmu. I-itu permintaan ke-ketigaku Sehun-sshi … Please…Please” Kepanikan sudah tidak terhitung menyergap benaknya, Neyna telah berhasil mengutarakan permohonannya lagi. Netra indahnya ia beranikan menatap lekat netra tajam Sehun, berusaha memperlihatkan kesungguhannya yang begitu membara.

 

 

 

Sehun menatap gadis cantiknya sinis penuh intimidasi, tawa sarkastikpun tak terindahkan setelahnya. “Permintaan ketiga huh? Siapa bilang kau masih berhak mengajukan permintaan ketigamu Nona Im?” Nada suara pria itu meninggi, rahang tegasnya mengeras. Terlihat sekali ia tidak suka dengan perkataan gadis cantiknya itu.

 

 

 

“A-apa maksudmu Se-sehun-sshi? Bukankah aku—“

 

 

 

“Kau sudah melanggar perintahku. Kau kabur dariku tiga hari lalu. Apa masih mungkin aku mengabulkan permintaan ketigamu Nona Im?” Bentak Sehun tegas.

 

 

 

“Ini tidak adil Sehun-sshi.” Ucap Neyna pelan, bentakan Sehun membuat nyalinya terasa ciut. Gadis cantik itu membulatkan netra indahnya, terkesiap dengan ucapan spontan yang dilontarkannnya barusan. Ia tidak menyangka kalimat protes yang dipendamnya rapat, terlontar begitu saja dari bibir ranumnya.

 

 

 

Sehun tersenyum meremehkan, ucapan gadisnya barusan begitu menggelitik pendengarannya. Diraihnya salah satu tangan gadis cantiknya, mengecup punggung tangan gadisnya itu lembut setelahnya. “Kau yang membuatku bertindak tidak adil sayang…” Seringaian licik begitu lekat di wajah tampannya saat ini. Ia pernah kalah telak sebelumnya, tapi kali ini ia akan ubah itu semua.

 

 

 

Neyna merasa dadanya begitu sesak. Sehun benar-benar egois, pria dingin itu sudah merampas haknya. Air mata yang sempat tertahan kini lolos sempura dari netra indahnya, membasahi pipi mulusnya. “A-apa kau juga akan menghapus permintaanku sebelumnya?” Tanya Neyna penasaran. Ia menghapus air matanya kasar, berusaha tegar di hadapan pria sinting bermaga Oh itu.

 

 

 

“Tenang saja…Aku tidak sejahat yang kau pikirkan sayang. Asal kau tidak kabur lagi dariku aku akan tetap mengabulkan dua permintaanmu sebelumnya.”

 

 

 

“Setidaknya sampai saat yang tepat ‘itu’ tiba.” Lanjut Sehun membatin. Senyuman misterius pun lantas terpatri di wajah tampannya. Sehun mengecup paha gadis cantiknya itu lembut setelahnya. Hening. Tidak ada protes apapun saat ini.

 

 

 

Neyna masih tercengang akan kalimat yang Sehun lotarkan barusan. Gadis bermarga Im itu lega karna Sehun tidak merampas haknya sepenuhnya .Tapi kelegaan yang ia rasakan terlalu lemah untuk melawan kekalutannya saat ini. Sehun benar-benar membuatnya tidak berdaya, membuatnya pasrah seuntuhnya.

 

 

 

Akses untuk lepas dari pria dingin itupun hilang sepenuhnya. Fakta bahwa mulai saat ini ia akan tinggal bersama Sehun begitu mengerikan baginya. Ia tidak bisa lagi kabur dari pria bermarga Oh itu. Sehun sudah memperingatkan sebelumnya atau kalau ia masih nekat entah apa yang pria itu lakukan padanya nantinya. Ia takut membayangkannya.

 

 

 

Sehun menyadari gadisnya itu masih terlarut dengan pikirannya. Terlihat dari tubuh mungil gadisnya yang masih membatu, Sehunpun semakin melancarkan aksinya. Ia semakin gencar mengecup, menghisap, dan melumat paha Neyna yang terekpos, berusaha menyadarkan lamunan gadis cantiknya itu.

 

 

 

“Eunghh…” Lenguhan lolos sempurna dari bibi ranum Neyna. Sehun menyeringai mengetahui aksinya itu berhasil. Kiss mark hampir terbentuk, pria dingin itupun lantas menyudahi kegiatannya di paha gadisnya. Ia lalu beralih merengkuh pinggang Neyna erat, masih dengan posisi berlutut.

 

 

 

“Morning kiss now hmm?” Tanya Sehun seduktif. Gadis cantik yang ditanya masih terdiam membisu, Sehun mendecak sebal. “Huh diam berarti setuju. Tidak. Kau memang harus setuju!” Sehun langsung menangkup wajah Neyna dengan kedua tangannya, mengecup bibir ranum gadis cantiknya itu kemudian. Lumatan-lumatan begitu menuntutpun tak terindahkan. Meski semalaman ia sudah bersenang-senang dengan bibir ranum gadisnya itu, tapi dahaga akan rasa manis itu selalu saja muncul.

 

 

 

Neyna terbelalak sempurna, pria dingin itu menciumnya saat ini. Sehun begitu gesit menjamah bibirnya, tidak mengizinkan penolakan apapun darinya. Dan ia semakin tersentak saat Sehun kini menarik pergelangan tangannya paksa. Sehun bahkan tidak memberikannya waktu untuk sekedar menghela nafas setelah ciuman panas itu terlepas .

 

 

 

Sehun menuntun Neyna menuju lemari besar di kamar bernuansa feminine tersebut. Cengkraman di pergelangan tangan gadisnya sengaja ia lepas. Pria dingin itu lantas bergerak membuka lemari itu setelahnya. “Ini untukmu sayang” Ucap Sehun sesaat setelah lemari besar tersebut terbuka.

 

 

 

Neyna membulatkan netra indahnya, begitu terpukau dengan apa yang dilihatnya saat ini. Mulai dari pakaian casual bahkan pakaian pesta, tas, dan sepatu branded dari berbagai designer terkenal, serta aksesoris lengkap terpajang di lemari besar di hadapannya kini.

 

 

 

Menyadari keterkejutan gadisnya. Sehun lantas kembali menghampiri Neyna, lalu memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Sehun membebaskan satu tangannya untuk beraksi di tubuh gadisnya. Mengelus lengan atas gadisnya secara berkala, membuat Neyna berjengit geli.

 

 

 

“Gantilah pakaianmu nanti dengan pakaian di lemari itu” Ucap Sehun seduktif. Sehun menggerakan bibirnya, menyentuh dan menggigit salah satu tali tank top dress gadisnya gesit, menyingkirkan penghalang kegiatan berikutnya itu kemudian. Tangan kekar yang sempat membelai lengan Neyna kini beralih mengelus dada penuh gadis cantiknya itu.

 

 

 

“Ukuran bramu D cup kan sayang? Gantilah juga nanti. Aku sudah pilihkan untukmu…” Bisik Sehun setengah mendesah. Pria dingin itu lantas mengecup bahu pucat gadisnya setelahnya.

 

 

 

Neyna tercekat, susah payah menahan desahan. Bibir ranumnya bahkan kini sudah ia gigit lamat-lamat, menghalau lantunan erotis miliknya. Ditengah kekalutannya, sebisa mungkin Neyna menggerakan tangannya untuk menghentikan aksi nakal Sehun di dadanya. Sehun peka. Pria dingin itu kemudian menyudahi kegiatannya dan bergerak menggendong tubuh mungil Neyna setelahnya.

 

 

 

Neyna tersentak saat tubuhnya sudah ada di gendongan Sehun “Se-sehun-sshi kau m-mau membawaku kemana lagi?” Tanya Neyna terbata-bata. Ia sontak mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher pria itu, takut-takut ia akan terjatuh nantinya. Sehun tidak membopongnya seperti sebelumnya, pria itu kini menggendongnya ala bridal.

 

 

 

Sehun tidak menjawab pertanyaan Neyna, pria dingin itu langsung membawanya ke kamar mandi. Menempatkan tubuh mungil gadisnya itu di bath tub setelahnya. “Kau harus mandi sekarang sayang, bukankan kau harus bekerja hmm?”

 

 

 

“Bekerja?” Tanya Neyna bingung.

 

 

 

“Kau lupa aku masih mengizinkanmu bekerja huh? Atau kau ingin berhenti bekerja hari ini juga? Biar aku hubungi dew—“

 

 

 

“Ja-jangan! A-aku masih mau bekerja Sehun-sshi.” Sergah Neyna cepat, memotong ucapan Sehun.

 

 

 

“Baiklah, aku tunggu di ruang makan. Kalau dalam lima belas menit kau tidak juga siap. Kau akan aku hukum! Mengerti?”

 

 

 

Neyna reflex mengangguk, begitu kalut akan kata ‘hukuman’ yang dilontarkan Sehun. Ia tidak mau dihukum pria dingin itu. Sehun membalikan tubuhnya, melangkah keluar dari kamar mandi. Membiarkan gadisnya itu membersihkan diri.

 

 

 

Susah payah ia menahan hasratnya untuk tidak ikut memandikan gadisnya itu saat ini. Gadisnya itu selalu berhasil membuat hasratnya memucak. Padahal gadis cantiknya itu tidak pernah melakukan aksi erotis apapun padanya. Sehun menghembuskan nafasnya berat, melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar gadisnya itu setelahnya.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

“Kenapa lama sekali huh?” Sehun yang kini duduk di salah satu kursi ruang makan berkali-kali menghela nafasnya gusar. Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya terus-terusan ditatapnya. Sudah hampir lima belas menit gadis yang ia tunggu-tunggu belum juga menampakkan wajahnya.

 

 

 

Mengingat hukuman yang akan ia berikan pada gadis cantiknya itu nantinya, Sehunpun menyeringai puas. Pria itu menyenderkan punggungnya di kursi yang ia duduki, menikmati waktu yang berlalu. Merubah pikirannya, berharap Neyna tidak akan muncul dalam waktu lima belas menit.

 

 

 

Sayang, harapan Sehun pupus seketika setelah melihat siluet gadis cantiknya kini tengah menuruni tangga. “Shit! ” Umpat Sehun saat mengetahui bayangan untuk menghukum gadis cantiknya itu tidak terpenuhi. Ia menegakkan tubuhnya, tidak lagi bersender pada sandaran kursi.

 

 

 

Gadis yang ia tunggu-tunggu itu kini sudah ada di hadapannya, di ruang makan. Ia menelisik penampilan gadisnya itu. Cantik. Gadisnya itu sangat cantik. Kemeja lengan pendek berwarna peach dan rok brukat putih selutut dengan belahan tiga senti di bagian samping begitu pas membalut tubuh molek gadisnya. Ia mendecak sebal menyadari bahwa tidak hanya dia yang akan menikmati penampilan gadis cantiknya itu nanti.

 

 

 

“Come here” Titah Sehun pada gadisnya itu. Ia menunjuk kursi disampingnya, menyuruh Neyna duduk bersebelahan dengannya. Neyna menuruti perintah Sehun. Ia duduk persis disebelah pria dingin itu. Sehun memutar tubuhnya kesamping, menghadap gadis cantiknya itu. Ia lalu menarik kursi yang diduduki Neyna, membuat gadis cantik itu mendekat padanya. Sehun kembali menyeringai puas karna bisa melihat wajah cantik gadisnya itu dengan leluasa.

 

 

 

Neyna begitu gugup dengan posisinya sekarang. Sehun begitu dekat dengannya. Seringaian puas pria di hadapannya itu begitu mengerikan baginya. Pasti Sehun akan melancarkan aksi aneh-anehnya lagi pikirnya. Sementara itu, seorang wanita paruh baya kini menghampiri Sehun dan Neyna. Wanita paruh baya yang mengenakan pakaian khas pelayan itu membungkuk sopan, lalu menghidangkan makanan untuk sarapan dua insan tersebut.

 

 

 

“Ini Nara ahjumma. Dia yang akan melayanimu” Ucap Sehun lantang, berusaha memperkenalkan wanita paruh baya bermarga Kang itu pada Neyna.

 

 

 

“Annyeonghaseyo ahjumma. Aku Im Neyna.” Neyna lantas menundukan kepalanya sopan. Nara ahjummapun tersenyum ramah pada Neyna sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan.

 

 

“Buka mulutmu.” Titah Sehun tegas seraya menyodorkan sesuap nasi dan lauk pada gadis cantiknya.

 

 

 

“A-aku bisa makan sendiri Sehun-sshi” Neyna menggeleng, berusaha menolak suapan yang Sehun berikan.

 

 

 

Sehun menatap gadisnya itu tajam. Ia memajukan tubuhnya lebih mendekat ke tubuh gadis cantiknya itu. Masih dengan sesendok nasi dan lauk di tangan kananya. Ia lantas mengecup bibir ranum gadisnya, melumat, dan menggigitnya singkat. Neyna reflex membuka bibirnya saat pria dingin itu menggigit bibirnya.

 

 

 

Mengetahui bibir gadis cantiknya itu terbuka, Sehun segera melesakkan suapan di tangan kanannya itu. “Cepat kunyah.” Ucap Sehun tegas. Neyna tidak bisa berkutik, ia akhirnya menuruti perintah Sehun. Terhitung sudah suapan keempat Sehun terus-terusan menyuapinya. Pria dingin itu kini kembali menyodorkan sesuap nasi dan lauk untuk gadis cantiknya itu.

 

 

 

“Sehun-sshi aku sudah kenyang.” Neyna menggeleng, menolak suapan Sehun.

 

 

 

“Jangan menolak! Darahmu bahkan sudah berkurang semalam. Kau harus makan yang banyak atau kau akan pingsan nanti.” Tandas Sehun dingin seraya menekan plester di lengan gadisnya.

 

 

 

“Da-darahku berkurang? Se-semalam? Aah…” Neyna lantas meringis perih saat Sehun malah semakin kuat menekan lengannya. Pria dingin itu nampak tidak suka gadisnya belum menuruti perintahnya. Mengabaikan suapannya.

 

 

 

Ringisan Neyna membuat Sehun menghentikan aksinya, berhenti menekan lengan gadisnya itu. Ia lalu beralih mengusap permukaan bibir Neyna dengan ibu jarinya. “You will know it later, so don’t ask too much sweetheart. Just eat now! Open your mouth!”

 

 

 

Neyna terpaksa kembali menerima suapan Sehun. Penasaran, takut, kalut kini bercampur menjadi satu. Sehun berhasil mencampur adukan itu semua. Entah apa maksud pria dingin itu. Neyna benar-benar tidak mengerti.

 

 

 

“Aku tunggu di mobil.” Tandas Sehun saat selesai menyuapi gadisnya. Ia menyodorkan segelas air putih pada gadisnya itu setelahnya. Pria dingin itu berdiri, lalu beranjak meninggalkan ruang makan.

 

 

 

“Tunggu…Sehun-sshi kau tidak sarapan?” Tanya Neyna kikuk sembari menggigit bibir bawahnya. Ia heran karna sejak tadi Sehun hanya sibuk menyuapinya tanpa menyentuh makanannya sama sekali.

 

 

 

Sehun menoleh, menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan gadisnya itu. Pria dingin itu menggeleng, lalu melanjutkan langkahnya setelahnya.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

Sehun melepas sabuk pengaman Neyna, menatap gadis cantiknya itu lekat. Ia mencondongkan tubuhnya, sengaja menghimpit tubuhnya dengan tubuh gadisnya. Sehun menyeringai menyadari gadis cantiknya itu tidak bisa berkutik. Sehun menghembuskan nafasnya di tengkuk Neyna, berusaha menggoda gadis cantiknya itu.

 

 

 

Kekalutan kembali menghinggapi benaknya saat ini. Dengan posisi sedekati ini, lagi-lagi Sehun membuatnya panik. Pria dingin itu selalu berhasil membuatnya tidak berdaya. “Se-sehun-sshi aku mau turun.” Ucap Neyna terbata, terlampau nervous dengan posisinya saat ini.

 

 

 

“Kau mau apa sayang? Turun hmm?” Jelas-jelas Sehun mendengar apa yang gadis cantiknya itu katakan. Ia hanya ingin main-main lebih lama dengan gadis cantiknya itu. Sehun kini malah menurunkan wajahnya di depan dada gadisnya, lalu memandang gadisnya itu seduktif.

 

 

 

“Sehun-sshi maksudku—“ Perkataan Neyna terhenti saat Sehun kini mengecup bibirnya lembut. Kali ini tanpa lumatan ataupun gigitan kasar yang biasanya pria itu lakukan. Sengaja. Sehun sengaja menandaskan nafsu liarnya kali ini demi merasakan buncahan aneh dalam dadanya. Buncahan perasaan yang mendominasinya beberapa hari ini. Dua menit berlalu Sehun lantas melepaskan ciumannya. Ia menjauhkan tubuhnya, menekan tombol otomatis untuk membuka mobilnya yang sempat terkunci kemudian.

 

 

 

“You can go now” Sehun lantas kembali memposisikan tubuhnya di depan kemudi.

 

 

 

Neyna menghela nafasnya lega, netra indahnya kini menatap Sehun lamat-lamat. Ekspresi pria di sampingnya itu kembali datar, menampakkan kesan dingin dan angkuh yang melekat erat pada pria itu. Teringat dengan kotak makan yang ia bawa, Neynapun lantas memberikan kotak makan itu pada Sehun.

 

 

 

Sehun mengerutkan dahinya, memandang heran kotak makan yang diberikan gadis cantiknya itu. “Apa ini?”

 

 

 

“Itu sarapan untukmu Sehun-sshi. Aku tahu kau belum sarapan.”

 

 

Sehun mengambil kotak makan itu, ia hanya diam memandangi kotak makan yang ada di genggamannya saat ini.

 

 

 

“Aku pergi dulu Sehun-sshi” Neyna turun dari mobil mewah itu setelahnya, meninggalkan Sehun yang masih termenung.

 

 

 

Saat tubuh mungil Neyna sudah berada di depan gerbang Woo Sam High School, senyuman samar lantas menghias wajah tampan Sehun. “Thanks. Kau membuatku semakin kacau sayang.”

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

“Ya… Oh Sehun kau pacaran dengan Neyna?” Pekikan Chanyeol menggema di ruangan berlabel Presdir itu saat ini. Tatapan lekat penuh selidik lantas dilayangkan pria bermarga Park itu pada lawan bicaranya.

 

 

 

Fakta bahwa Sehun menjalin kasih dengan Neyna sebenarnya sudah ia ketahui dari Hyera. Yaa.. Hyera bahkan hanya membeo ‘Sehun memaksa Neyna menjadi pacarnya Oppa’ . Dan satu kalimat itu sukses membuatnya terlonjak. Biarpun Hyera sudah melaporkan hot news itu padanya. Tetap saja ia harus mengkonfirmasinya pada orang yang bersangkutan kan?

 

 

 

“Berisik sekali. Aku baru sampai Park Chanyeol” Tandas Sehun geram, masih enggan menanggapi pertanyaan pria di hadapannya.

 

 

 

“Ya..Jawab cepat!!!”

 

 

 

“Iya. Puas?” Ucap Sehun cuek seraya membuka kotak makan miliknya.

 

 

 

Chanyeol membulatkan matanya, tersentak dengan jawaban singkat bossnya itu. Ia menggeleng, menyudahi keterkejutannya setelahnya. “Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Jangan main-main Sehun-ah…”

 

 

 

“Im Neyna milikku dan aku tidak pernah berniat untuk mempermainkannya Chanyeol-sshi.” Ucap Sehun tajam.

 

 

 

Guratan serius di wajah Sehun meyakinkan Chanyeol akan satu hal. Bossnya itu benar-benar tertarik pada Neyna. Sangat malah. Chanyeol menyeringai, menatap Sehun lebih lekat setelahnya. “Obsesi, ambisi, cinta. Aku yakin kau bingung. Renungkan dulu Sehun-ah. Kau kan belum pernah menjalin kasih sebelumnya.”

 

 

 

Sehun mendecak sebal mendengar kalimat pria di hadapannya. “Ya… Aku tidak bodoh. Awalnya aku memang tertarik karna kecantikannya. Tapi ada yang lebih menarik bagiku diluar itu. Aku merasa begitu tak terkendali saat bersamanya. Jantungku berdebar tidak karuan. Bagai candu yang begitu memabukkan, aku selalu ingin merasakannya. Walaupun baru sekali aku melihatnya tersenyum, entah kenapa aku merasa senang. Gadis itu berhasil membuatku kacau. Membuatku begitu menginginkannya. Dan aku rasa aku mengalami ketiganya.”

 

 

 

“Kau gila kalau begitu. Aku yakin itu” Ejek Chanyeol kemudian. Pria bermarga Park itu tertawa terbahak melihat ekspresi Sehun yang begitu frustasi saat ini. Sehun mengerang, kesal dengan tanggapan pria bermarga Park itu.

 

 

 

Chanyeol mengerling jahil, lalu menjabat satu tangan Sehun paksa “Congrats bro. Finally you got your first love. Aku serius kali ini. Dan ohh… sejak kapan kau membawa bekal?” Chanyeol melepas jabatan tangannya pada Sehun. Fokusnya kini tertuju pada kotak makan milik sahabatnya itu.

 

 

 

“Aku belum sempat sarapan tadi” Tandas Sehun acuh, lalu menyuap nasi dan lauk ke mulutnya.

 

 

 

“Aah begitu… Tapi tidak biasanya kau sampai bawa bekal segala… ” Chanyeol mengernyit heran, masih gamang dengan apa yang dlihatnya saat ini.

 

 

 

Sehun mendesis sinis, menyadari pria di hadapannya masih saja meracau. “Bisakah kau pergi sekarang huh?” Pria bermarga Oh itu lalu kembali melanjutkan kegiatannya, memakan bekalnya lahap tanpa berniat menawarkan bekal miliknya itu pada pria di hadapannya.

 

 

 

“Haish…Ok. Ok. Aku pergi”

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Festival musim semi sekolah tinggal tiga hari lagi, guru-guru dan siswa Woo Sam High Schoolpun semakin disibukkan dengan segala persiapan untuk perayaan tahunan tersebut. Pukul enam sore, Neyna masih disibukkan mengurus agenda kegiatan festival dengan Yeri di ruang lab bahasa. Kegiatan dua guru muda itu sontak terhenti saat suara ketukan pintu tiba-tiba menggema.

 

 

 

Neyna beranjak dari duduknya, berniat membuka pintu. Setelah pintu itu terbuka, wajah bibinya lah yang ia dapati saat ini.

“Auntie kenapa bisa ada disini? Ada keperluan apa eoh?” Tanya Neyna to the point, heran dengan kehadiran bibinya itu saat ini.

 

 

 

“Neyna-ya handphonemu ketinggalan semalam. Auntie kesini untuk mengantarkannya.” Bibi Song kemudian memberikan handphone di genggamannya pada Neyna.

 

 

 

“Ah ya.. terimakasih Auntie.” Neyna lantas menerima handphone miliknya seraya tersenyum lembut pada bibinya.

 

 

 

“Ya sama-sama.. Eumm ada banyak panggilan dari nomor tidak dikenal di handphonemu. Auntie tidak berani menjawabnya tapi sepertinya kode nomor penelfon itu dari Jepang.”

 

 

 

Neyna tahu betul siapa penelfon yang dimaksud bibinya itu. Pria itu. Pria itu menelfon lagi rupanya. Neyna menghela nafasnya pelan, belum berniat memeriksa handphonenya sedikitpun saat ini. Ia lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke wanita paruh baya di hadapannya. “Eumm. Auntie ayo masuk dulu ada Yeri eonni juga di dalam”

 

 

 

“Tidak. Tidak usah… Auntie buru-buru. Auntie harus segera kembali ke butiq Neyna-ya… Ada pekerjaan yang harus Auntie segera selesaikan.”

 

 

 

“Auntie harus istirahat. Auntie baru saja pulang dari China. Apa Auntie tidak lelah eoh?”

 

 

 

Bibi Song menggeleng “Untuk klien Auntie yang satu ini Auntie tidak kenal kata lelah sayang…” Bibi Song lalu mengelus bahu Neyna, mengisyaratkan keponakanannya untuk tidak mengkhawatirkannya.

 

 

 

“Ya sudah ya Auntie pergi dulu… Semoga hari-harimu menyenangkan bersama kekasih tampanmu itu eoh…” Lanjut Bibi Song kemudian. Wanita paruh baya itu terkikik geli saat menandaskan kalimatnya, meninggalkan keponakannnya itu setelahnya.

 

 

 

Ucapan bibinya barusan menjadi bukti kuat bahwa wanita paruh baya itu memang sudah mengizinkannya tinggal bersama dengan pria dingin itu. Neyna merasa tubuhnya lemas seketika mengetahui fakta mengerikan tersebut.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Dress berwarna nude tanpa lengan dengan hiasan brukat begitu cantik dikenakan gadis yang tengah merias wajahnya saat ini. Setelas selesai, gadis itu kemudian menggerai rambut panjangnya yang sempat dikuncir. Hari ini adalah hari pernikahan sahabatnya, Hyera. Acara pernikahan sahabatnya itu akan berlangsung pukul 10. Dilihatnya jam dinding di kamar yang ia tempati, gadis itu menghela nafas pelan saat menyadari tinggal satu jam lagi pernikahan Hyera dimulai.

 

 

 

Seketika ia teringat dengan Sehun. Semalam ia tidak bertemu dengan pria dingin itu karna pukul 8 ia sudah tertidur. Hari ini Sehun juga pastinya akan menghadiri pernikahan Hyera. Mengingat pria dingin itu adalah sahabat Yeol Oppa. Ia hendak melangkahkan kakinya keluar kamar, tapi pergerakannya terhenti saat Nara ahjumma lebih dulu menghampirinya dengan senyum simpulnya.

 

 

 

“Selamat pagi Nona Im… Aigoo Nona cantik sekali.” Puji Nara ahjumma, kagum dengan penampilan Nona mudanya itu.

 

 

 

“Terimakasih ahjumma.” Pujian Nara ahjumma sukses membuat Neyna tersipu malu.

 

 

 

“Nona akan pergi ke pesta pernikahan Tuan Chanyeol bersama Tuan Sehun kan?” Tanya Nara ahjumma menyelidik. Nara ahjumma memang mengetahui pernikahan Chanyeol dengan Hyera. Neyna sempat bercerita sedikit kemarin saat Nara ahjumma menjemputnya setelah mengajar.

 

 

 

“Eumm… Aku tidak tahu ahjumma.” Neyna memang tidak tahu ia akan pergi dengan pria dingin itu atau tidak. Pasalnya Sehun tidak mengatakan sepatah katapun tentang berangkat bersama ke pernikahan Hyera. Tapi pergi sendiri lebih baik pikirnya.

 

 

 

“Saran saya lebih baik Nona pergi dengan Tuan Sehun. Tapi masalahnya sampai saat ini Tuan Sehun belum juga bangun. Bisakah Nona membangunkannya?”

 

 

 

“A-apa? A-aku takut ahjumma. Aku takut Sehun-sshi marah kalau aku membangunkannya.”

 

 

 

“Tuan Sehun tidak akan marah kalau Nona yang membangunkannya. Tuan Sehun justru akan marah kalau saya yang membangunkannya.” Nara ahjumma tersenyum lembut, berusaha meyakinkan Nona mudanya itu.

 

 

 

“Baiklah” Ucap Neyna lesu.

 

 

 

Gadis bermarga Im itu lantas melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar Sehun. Neyna berhenti tepat di depan kamar pria dingin itu. Ia mengetuk pintu kamar Sehun, tapi tidak ada tanda-tanda penghuni kamar akan keluar dari kamarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar pria dingin itu. Kebetulan Sehun tidak mengunci kamarnya.

 

 

 

Kamar Sehun tidak kalah luas dan mewah dengan kamarnya. Dapat ia lihat tubuh Sehun yang masih terbaring di ranjang king sizenya. Oh no! Neyna baru menyadari satu hal. Saat ini pria dingin itu tidur dengan bertelanjang dada. Neyna sontak terpaku di posisinya. Ia ragu untuk membangunkan pria dingin itu. Tapi bagaimanapun Neyna harus membangunkan pria bermarga Oh itu saat ini.

 

 

 

Neyna menatap Sehun yang tertidur pulas. Wajah Sehun saat tertidur begitu damai kontras dengan wajah dingin dan datar yang biasanya ia tunjukkan.

 

“Sehun-sshi…” Panggil Neyna pelan. Hening. Sehun belum juga terbangun. Neyna menghela nafasnya pelan.

 

 

 

“Sehun-sshi…bangun ini sudah jam 9 pagi.” Neyna menaikkan volume suaranya sedikit kali ini, ia lalu menempelken telunjuknya di pipi Sehun. Menyentuhnya berkali-kali. Aksi gadis bermarga Im itu berhasil saat tatapan tajam Sehun terbuka sempurna. Pria dingin itu lantas menangkap pergelangan tangan Neyna, sontak membuat sentuhan gadisnya itu di pipinya terhenti. Neyna terkejut dengan aksi sigap pria dingin itu.

 

 

 

Sehun mendudukan tubuhnya, lalu melepas genggamannya di pergelangan tangan gadisnya. Ia kemudian melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang gadisnya, menarik tubuh mungil itu mendekat dengan tubuhnya. “Aku masih mengantuk sayang kenapa kau membangunkanku huh?” Tanya Sehun menggerutu seraya menetralkan kesadarannya seutuhnya.

 

 

 

“Ma-maaf, tapi i-ini sudah jam 9 Sehun-sshi. Apa kau tidak pergi ke pernikahan Yeol Oppa?”

 

 

“Aku juga pergi kesana. Memangnya jam berapa acaranya dimulai?” Sehun mendongak, menatap wajah cantik gadisnya.

 

 

 

“Jam 10” Jawab Neyna singkat.

 

 

 

Sehun menghela nafasnya berat, ia melepas pelukannya pada tubuh mungil gadisnya setelahnya. “Aku mandi dulu. Kau tetap disini jangan kemana-mana! Mengerti?” Titah Sehun tegas.

 

 

 

“I-iya.” Neyna lantas mengangguk patuh. Setelah itu, Sehun beranjak dari ranjang king sizenya menuju kamar mandi, membiarkan gadisnya menunggunya.

 

 

 

Neyna mendudukan dirinya di tepi ranjang Sehun. Sepuluh menit berlalu pintu kamar mandi akhirnya terbuka, menampilkan sosok tinggi Sehun dengan balutan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saja.

 

 

 

Neyna sontak terkesiap, Sehun benar-benar sexy saat ini. Dada bidang pria itu terekspos jelas, tubuh atletis Sehun menjadi pemandangan indah sekaligus menyesakkan baginya. Neyna menunduk, entah kenapa jantungnya bekerja di luar batas. Ia mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan kegugupannya saat ini.

 

 

 

Sehun berjalan mendekati Neyna, seringaian tercetak di wajah tampannya kala melihat gadis cantiknya itu menuruti perintahnya sebelumnya. Sehun membungkukkan tubuhnya sedikit, berusaha mensejajarkan pandangannya dengan wajah gadisnya yang masih menunduk.

 

 

 

“Jangan bilang kau tengah berpikiran kotor tentangku Nona Im?” Tanya Sehun menyelidik, berusaha menggoda gadis cantiknya itu.

 

 

 

Neyna reflex mendongak, menggelengkan kepalanya berusaha mengelak tuduhan Sehun.

 

 

 

“Tapi wajahmu memerah sayang…” Sehun tersenyum angkuh, bangga menyadari gadisnya nervous karnanya.

 

 

 

Neyna memegang pipinya, malu dengan kenyataan bahwa ia memang nervous saat ini.

 

 

 

“Bantu aku berpakaian.” Titah Sehun otoriter, ia lalu mendudukan dirinya menghadap gadis cantiknya di tepi ranjang.

 

 

 

“A-apa?” Tanya Neyna kaget, begitu terkejut dengan ucapan Sehun.

 

 

 

“Bantu aku berpakaian sayang…Pilihkan pakaian untukku.” Ulang Sehun seraya mempoutkan bibirnya, berusaha merajuk pada gadis cantiknya itu.

 

 

 

Neyna begitu terkejut dengan perintah Sehun yang satu ini. Dilihatnya ekspresi Sehun yang tengah mempoutkan bibirnya mengingatkannya dengan aksi merajuknya tiga hari lalu.

 

 

 

“Ba-baiklah” Respons Neyna akhirnya, menyanggupi perintah Sehun.

 

 

 

Sehun tersenyum tipis mendengar respons gadisnya itu. Neyna melangkahkan kakinya menuju lemari Sehun, membukanya dan memilih kemeja berwarna putih, jas, dan celana bahan serta ikat pinggang hitam senada. Ia menutup matanya sedikit saat memilihkan pakaian dalam untuk pria dingin itu.

 

 

 

 

“Ini pakaianmu Sehun-sshi” Neyna menyerahkan pakaian yang ia pilihkan pada Sehun kemudian.

 

 

 

Sehun menerima pakaian pilihan gadisnya itu. Ia beranjak dari duduknya, berdiri menghadap gadis cantiknya. “Aku akan melepas ini semua sayang… ” Ucap Sehun seduktif, ia mengarahkan salah satu tangan gadisnya menyentuh ujung handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya itu.

 

 

 

Neyna menutup matanya sigap, sesegera mungkin menghalau penglihatannya. Sehun tersenyum miring melihat tingkah lucu gadisnya. Ia kemudian melepas asal handuknya, lalu menggenggam pergelangan tangan gadisnya yang sempat ikut menyentuh ujung handuknya.

 

 

 

Sehun menempatkan tangan Neyna di genggamannnya itu ke pinggangnya. Ia kemudian meraih satu tangan Neyna yang masih terkulai untuk ikut memegang pinggangnya. Setelah kedua tangan gadisnya menempel sempurna di pinggangnya, ia segera memakai pakaian dalam, celana bahan serta ikat pinggangnya.

 

 

 

Neyna masih memejamkan netra indahnya. Ia tahu Sehun masih sibuk berpakaian. Sampai saat ia merasa kedua tangannya terangkat, tubuhnyapun reflex sedikit berjinjit. Sehun kini menempatkan kedua tangan mungil gadisnya itu di lehernya. Ia menyampirkan kemejanya, mengecup pipi mulus gadis cantiknya itu setelahnya.

 

 

 

“Buka matamu sayang…” Ujar Sehun dengan suara beratnya.

 

 

 

Neyna tersentak saat menyadari jarak Sehun dengannya saat ini begitu dekat. Ditambah posisi kedua tangannya yang saat ini melingkar sempurna di leher pria dingin itu.

 

 

 

“Bantu aku mengancingkan kemejaku.” Bisik Sehun di telinga gadis cantiknya.

 

 

 

Neyna menurut, ia melepaskan tautan tangannya di leher Sehun. Gadis cantik bermarga Im itu mulai mengancingkan kemeja Sehun. Jemarinya bergetar, terlalu gugup dengan aktivitasnya saat ini. Tatapan tajam dan seduktif Sehun menambah kegugupannya. Sampai saat ia berhasil mengancingkan kemeja Sehun seluruhnya, pria dingin itupun menginterupsi.

 

 

 

“Kau sangat cantik hari ini sayang” Puji Sehun saat menyadari penampilan gadisnya yang begitu cantik hari ini. Ia lalu mengecup bibir ranum gadisnya itu gemas, membuat gadisnya lagi-lagi terkesiap. “Let’s go” Ucap Sehun sesaat setelah ciuman itu terlepas, ia langsung menarik pergelangan tangan gadisnya kemudian.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

“Neyna-ya kenapa kau datang bersama Sehun eoh?” Tanya Hyera menyelidik. Setau Hyera Neyna sudah berhasil kabur dari Sehun. Tapi apa yang dilihatnya sekarang eoh? Sahabatanya itu saat ini malah datang ke pernikahannya bersama pria bermarga Oh itu.

 

 

 

“A-aku—“

 

 

 

“Dia tinggal bersamaku sekarang, jadi wajarkan kalau dia datang bersamaku Hyera-sshi…” Sela Sehun sigap, memotong jawaban Neyna. Hyera refleks memekik, terlalu terkejut dengan ucapan Sehun.

 

 

 

“Wow daebak!! Pantas saja beberapa hari ini kau tidak pernah memesan wanita penghibur seperti biasanya Presdir Oh…” Chanyeol tersenyum mengejek, berusaha menyindir pria bermarga Oh itu.

 

 

 

“Diam kau!” Desis Sehun geram seraya mengeratkan rangkulannya di pinggang gadis cantiknya.

 

 

 

“Neyna-ya aku ingin berbicara denganmu sebentar. Bolehkan Sehun-sshi?” Tanya Hyera, berusaha meminta izin pada pria dingin yang tengah merangkul posesif pinggang sahabatnya itu.

 

 

 

Sehun menggeleng “Tidak. Neyna tetap disini bersamaku!” Tolak Sehun tegas setelahnya.

 

 

 

“Sudah sudah lebih baik kalian duduk eoh. Aku dan istriku akan menemui tamu-tamuku dulu. Kami akan menemui kalian lagi nanti Ok?” Ucap Chanyeol kemudian. Ia dan Hyera lantas pergi meninggalkan Sehun dan Neyna.

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Sehun dan Neyna kini masih menunggu Chanyeol dan Hyera di ruangan khusus bagi kerabat dekat kedua mempelai. Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa menit. Sampai saat suara berat Sehun menginterupsi. “Kau tidak cemburu padaku Nona Im?” Tanya Sehun menyelidik.

 

 

 

“Cemburu?” Neyna mengernyit, tidak mengerti arah pertanyaan Sehun.

 

 

 

“Eumm” Sehun mengangguk. “Ucapan Chanyeol tadi, kau ingat?” Lanjut Sehun kemudian seraya mendekatkan tubuhnya menghadap gadis cantiknya itu.

 

 

 

Neyna terdiam, berusaha mengingat apa saja yang diucapkan Chanyeol beberapa menit lalu. Ejekan Chanyeol pada Sehun tentang wanita penghibur atau apalah itu menyeruak seketika. Ia mengalihkan pandangannya pada Sehun, menatap pria dingin yang tengah menunggu jawabannya itu lekat.

 

 

 

Entah keberanian dari mana Neyna mendekatkan tubuhnya, mempertipis jaraknya dengan pria bermarga Oh itu. “I.won’t. jealous.with.you. Mr Oh.” Ucap Neyna penuh penekanan. Neyna menjauhkan tubuhnya setelahnya, terkesiap dengan tindakannya barusan. Sehunpun juga terkejut dengan tindakan tiba-tiga gadis cantiknya itu. Sehun menyeringai saat kesadarannya pulih, ia mendekatkan wajahnya berusaha mengikis jarak yang sempat terputus oleh gadisnya sebelumnya.

 

 

 

Neyna memejamkan netra indahnya, bersiap menghadapi serangan Sehun nantinya. Sehun semakin mendekatkan wajahnya, hendak mengecup bibir ranum gadisnya. Tapi belum sempat niatannya terlaksana, suara deheman menginterupsi kegiatannya. Neyna sontak membuka matanya, menghela nafasnya lega setelahnya.

 

 

 

Sehun menoleh ke arah sumber suara, menghembuskan nafasnya kasar saat mengetahui Chanyeolah pelakunya. “Ya bisakah kau tidak mengganggu kami!” Protes Sehun geram seraya mengacak rambutnya gusar.

 

 

 

“Kau bisa lanjutkan nanti Presdir Oh.” Chanyeol tertawa puas karna berhasil mengganggu kegiatan bossnya itu. Ia mendudukan dirinya di hadapan Neyna, sementara Hyera yang dari tadi disisinya duduk berhadapan dengan Sehun.

 

 

 

“Bisakah kau tidak duduk di hadapan kekasihku.” Cecar Sehun sinis, tidak suka dengan posisi duduk Chanyeol yang berhadap-hadapan dengan gadisnya saat ini

 

 

 

“Aish… iya iya aku pindah. Dasar pencemburu.” Chanyeol menggerakan jemarinya, mengisyaratkan istrinya untuk berganti posisi. Hyera mendengus sebal mengetahui tingkah Sehun yang begitu posesif pada sabahatnya itu. Ia akhirnya mendudukan dirinya di kursi yang diduduki suaminya sebelumnya.

 

 

 

Neyna menatap sahabatanya itu lekat, lengkungan manis pun terukir di wajah cantiknya sebelum memulai pembicaraan.“Hyera-ya…Selamat atas pernikahanmu hmm. Semoga kau selalu bahagia.. Aku menyayangimu.”

 

 

 

“Aku juga menyayangimu Neyna-ya…Terimakasih hmm.” Hyera mengelus bahu kanan Neyna, berusaha menyalurkan rasa terimakasihnya pada sahabatnya itu.

 

 

 

Senyum simpul terpatri di wajah tampan Chanyeol melihat adegan istrinya dengan Neyna saat ini. Berbeda dengan Chanyeol, Sehun justru tidak ada minat untuk tersenyum, ia lebih memilih tetap mempertahankan ekspresi dingin dan angkuhnya saat ini.

 

 

 

Perhatian Neyna terpecah saat ia mendengar handphonenya berdering. Ia mengambil handphone miliknya itu di tas yang ia bawa. Ia menghela nafas gusar saat mengetahui lagi-lagi pria itu menelfonnya. Disaat yang bersamaan Sehun juga merasakan getaran handphone disaku celananya. Ia melirik gadis di sampingnya yang belum juga menjawab panggilan telfonnya.

 

 

 

Lelah diabaikan, deringan handphone itupun terhenti, digantikan deringan singkat pesan masuk yang berhasil mengalihkan perhatian si empunya handphone untuk melihatnya. Neyna begitu tersentak melihat isi pesan masuk tersebut. Pesan dari pria itu. Pria yang sempat ia abaikan telfonnya tadi. Pria itu memintanya bertemu di alamat yang tertera di pesan tersebut sekarang. Kata-kata bahwa pria itu akan tetap menunggunya sampai ia datang membuat tubuh Neyna reflex tergerak.

 

 

 

Neyna bangkit dari duduknya, menatap Chanyeol dan Hyera seraya mengatur nafasnya yang sedikit tercekat untuk mengutarakan niatnya setelahnya. “Ma-maaaf aku harus segera pergi. Aku harus menemui Auntieku sekarang.” Bohong. Neyna sengaja berbohong. Masalahnya ia sudah begitu terdesak saat ini. Neyna melirik Sehun takut-takut, membuat Sehun terpanggil untuk melantukan lisannya. “Pergilah. Aku masih ingin disini.” Ucap Sehun acuh. Neyna lalu melangkahkan kakinya, berjalan tergesa meninggalkan ruangan.

 

 

 

 

 

 

——- Closer——-

 

 

 

 

 

Hellys Cafe tampak seorang pria berkulit tan yang kini tengah menyesap kopinya, pandangannya mengedar memerhatikan tiap orang yang masuk ke cafe. Pria itu tersenyum senang saat sosok cantik yang begitu ia nanti menyapa penglihatannya. Pria itupun menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, berusaha rileks saat gadis cantik yang ia nanti itu menghampirinya.

 

 

 

Sampai saat gadis cantik itu berada tepat di hadapannya. Pria berkulit tan itupun segera menegakkan tubuhnya. “Duduklah Neyna-ya” Suara yang sempat tertahan kala menanti gadis di hadapannya itu akhirnya terlontar juga. Tanpa basa-basi, Neyna lantas duduk di hadapan pria berkulit tan itu.

 

 

 

“Kenapa kau tidak mengangkat telfonku hmm?” Tanya pria itu to the point, berusaha memulai pembicaraan.

 

 

 

Neyna meneguk salivanya, begitu kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan pria di hadapannya itu. Jengah dengan kebisuan yang mencekam gadis di hadapannya, pria itupun kembali bersuara. “Aku dengar kau sudah bekerja sebagai guru eoh?”

 

 

 

“Darimana kau tahu Oppa? Kenapa Oppa kembali? Kenapa Oppa menghubungiku lagi?” Tanya Neyna retoris, berhasil menghapus rasa kelu yang sempat menderanya dalam sekali hentak. Suara gadis itu begitu parau, tersiksa akan perasaan sesak yang bergemuruh di dalam dada. Tatapan yang begitu sendupun tak teridahkan. Sekuat tenaga ia menahan pasokan air mata yang mendesak di pelupuk matanya.

 

 

 

Sesak. Pria itu kini merasa sesak dengan serentetan pertanyaan yang dilontarkan gadis di hadapannya. Tubuhnya menegang, keberanian yang ia pupuk sedari tadi serasa kebas tak bersisa. Pria tampan itu lantas meraih jemari Neyna yang terkulai di atas meja, menggenggamnya hangat bersiap memuntahkan beban pikirannya. “Oppa meridukanmu Neyna-ya.” Tiga kata yang begitu sederhana itupun lolos dari bibir pria berkulit tan itu, lekas mewakili serentetan pertanyaan gadis cantik di hadapannya.

 

 

 

Kalimat yang dilontarkan pria itu layaknya pecutan yang begitu lembut tapi begitu menyiksa di saat yang bersamaan bagi Neyna. Bagaimana bisa setelah dua tahun lamanya pria itu dengan mudahnya mengatakan rindu padanya. Neyna sudah tidak tahan, pertemuannya dengan pria berkulit tan itu agaknya sia-sia. Tanpa diperintah, air mata yang sempat tertahan kini lolos juga.

 

 

 

Neyna melepas tautan hangat jemari Jongin, lalu bangkit dari duduknya. “Oppa.. Jongin Oppa tidak boleh merindukanku. Oppa sudah punya Kurumi eonni. Jangan buat aku—“

 

 

 

Dekapan hangat bersamaan geraman pria berkuli tan itu sukses menghentikan kalimat gadis cantik di hadapannya. Bukan kesal atau apapun yang di rasa pria yang diketaui bernama Jongin itu saat ini, tapi rasa penat karna satu hal yang belum tersampaikanlah yang mendominasinya.

 

 

 

“Aku masih mencintaimu. Sangat. Maaf telah menyakitimu, maaf telah meninggalkanmu, Aku benar-benar minta maaf Neyna-ya. Aku sudah bercerai dengan Kurumi. Aku.. Aku mohon kembalilah padaku Na-ya..”

 

 

 

Dilain pihak tatapan tajam berpusat pada dua objek yang kini tengah berpelukan mesra. “Good job Nona Im” Pria itu lantas memukul kencang kemudi di hadapannya, melampiaskan amarah yang membara. Pria itupun memutuskan kembali menyalakan mesin mobilnya, memacu mobil mewahnya meninggalkan objek yang telah dipantaunya sedari tadi.

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

Hallo aku balik lagi hehe…Disini keungkap kan siapa pria yang nelfonin Neyna melulu ^^… Aku mau minta maaf kalo di chapter ini tambah absurd. Dan aku ngucapin makasih buat readers yang nyempetin waktunya buat baca dan komen ^^

 

 

Regards

 

 

Angeldevilovely95

 

 

 

Iklan

143 thoughts on “Closer (Chapter 4)

  1. Pas ada kalimat “berkulit tan”, udah ketebak kalo itu Kai (Jong In), wkwk
    Bikin Sehun-nya celaka dong /jahatnya diriku, wkwk/ Terus nanti si Neyna-nya ngerasa bersalah gitu. Eh, terus Sehun-nya ternyata amnesia, wkwk
    Atau buat Sehun-Neyna cepetan bahagia deh. Gak tega gue lama-lama liat Neyna kek begitu, hehe
    Gomawo kakak author udah bikin cerita yang the best banget ini. Fighting! Nulis ceritanya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s