I Love My Father (Chapter 5)

PicsArt_11-18-12.24.00

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

Seorang laki-laki dengan tinggi kurang lebih 180 cm berjalan mengitari suatu ruangan yang tak begitu luas. Matanya secara detail melihat satu persatu benda yang terdapat di dalamnya. Seperti seorang peneliti hebat yang sedang meneliti fosil dinosaurus ataupun manusia purba.

Salah satu tangannya ia ayunkan untuk mengambil salah satu frame foto. Seketika itu, desiran angin masuk melalui celah yang terbuka. Ia memandang lekat foto itu tanpa berkedip. “Foto siapa ini?” ia menunjukkan frame foto pada seorang gadis yang sedang tengkurap sambil mengerjakkan sesuatu.

“Fotoku.” Ujarnya enggan melihat frame foto tersebut.

Lelaki itu dibuat kesal olehnya. Ia mendesah panjang karena gadis itu asal menebak, dan tak mau melihatnya. “Hei lihat dulu! Kau ini asal tebak.”

“Tanpa aku lihat, aku sudah tau itu foto ku!”

“Kenapa kau bisa yakin kalau itu fotomu?” lelaki itu, ChanYeol, menurunkan tangannya disamping tubuhnya, masih setia memegangi frame foto tersebut.

“Kau berada di meja lampu sebelah kanan.”gadis itu, YoungAh, merubah posisinya. “Kalau di sebelah kiri, itu foto Ibu ku.” Ia mulai menerawang dan memikirkan wajah Ibunya.

ChanYeol mengangguk mengerti. Ia melihat foto yang ia pegang sekali lagi. Foto dimana seorang ayah yang menemani anaknya bermain di ayunan. Sudah jelas sekali bahwa orang yang ada di dalamnya adalah Luhan dan YoungAh kecil.

Ia berjalan kearah meja lampu sebelah kiri. Seperti intruksi yang diberikan YoungAh, kalau di meja kiri adalah frame foto ibunya.

Ia mengambil frame foto dengan ukuran yang paling besar. Ia pandangi seorang perempuan yang telah melahirkan sahabatnya itu. Wajah cantik nan rupawan, senyum indah bak putri raja. Rambut lurus se bahu, alis tebal bak artis india. Mata cantik seperti bulan sabit. Benar-benar seorang perempuan yang sempurna. Tak salah apabila Luhan sangat mencintai gadis ini.

Sekilas, tatapan ChanYeol beralih kepada anak nya, yang tak kalah cantik dengan ibunya, tapi kontras, tak mirip. Tatapannya kembali kepada 2 frame foto yang berada di kedua tangannya, menyamakan kedua wajah antara anak dan ibu tersebut.

“Hei, kemari lah sebentar.” Chanyeol memanggil YoungAh dengan tatapan masih tertuju kepada dua buah frame yang ada di tangannya.

YoungAh berdecak kesal karena kegiatannya di ganggu oleh ChanYeol. Ia menyembulkan kepalanya untuk melihat ChanYeol yang sibuk dengan kedua frame tersebut. “Hei! Kau tak lihat aku sedang apa? Aku masih menulis catatan sekolah! Ini maih banyak, kau tahu?” ia kembali dengan aktifitasnya, menulis catatan.

“Hei! Kan aku bilang hanya sebentar! Lagian catatan itu tak penting! Kau kan baru masuk sekolah, jadi guru memaklumkan apabila catatan mu tak lengkap!” ChanYeol menaikkan nada bicaranya. Tapi kali ini, ia melihat kearah YoungAh yang dengan sigap menghampiri ChanYeol. Mungkin ia takut karena nada suara ChanYeol yang sangat menakutkan.

‘Aishh dia ini, memang itu tak penting. Tapi kan kalau suatu saat ada ulangan dan catatan ku tidak lengkap bagaimana? Dia mau bertanggung jawab atas nilai ulangan ku yang hancur?’ umpat YoungAh. “Ada apa?” ia duduk diatas tempat tidur, tepat disamping Chanyeol.

ChanYeol duduk mengikuti YoungAh. Tubuhnya ia hadapkan kearah YoungAh yang menatap lurus kedepan. Ia mengadahkan tangannya yang memegang dua frame foto. “Terlihat mirip.” Dia berkata pelan, seperti bergumam. “Hei, YoungAh coba kau lihat kearahku. Diam saja. Jangan bicara.” Lanjutnya dengan wajah yang tertutup frame foto.

Sesuai perintah, YoungAh menghadapkan dirinya kehadapan ChanYeol yang wajahnya tertutup. Ekspresinya datar sesuai perintah ChanYeol. Ia menatap bagian belakang yang tertutup oleh frame. Tapi lama kelamaan, kedua frame tersebut seperti terbelah dua, dan wajah ChanYeol menyembul dari arah tengah. “Kau tak mirip.”

YoungAh mengendikkan bahu, dan menganggap enteng perkataan ChanYeol. “Memang iya.” Ia mengerutkan dagu sambil menatap lurus kedepan.

“Lalu? Kau hanya diam saja?”

“Bukan seperti itu, aku hanya meninkmati masa-masa seperti ini.” YoungAh terlihat sedang menerawang suatu kejadian yang menurutnya indah.

“Bukankah lebih cepat, lebih baik?” ChanYeol memiringkan wajahnya untuk melihat wajah YoungAh.

“Iya, kau benar.” YoungAh menoleh kearah ChanYeol, lalu mendesah berat. “Tapi aku ingin menikmati masa-masa seperti ini, masa-masa dimana aku selalu berada di sisi Ayah. Aku tak ingin sebuah kenyataan pahit memisahkan aku dan ayah.” Ia menatap lekat manik mata ChanYeol. “Kenyataan pahit kalau aku bukan anaknya dan ayah menyuruhku angkat kaki dari rumah ini.” Ia menunduk, merasakan kepedihan yang mendalam.

“Kalau kau sudah mengetahui kalau kau bukan anaknya, kau bisa angkat kaki dari rumah ini. Hei kau kan pasti punya rumah! Kau harus tahu diri!” ChanYeol sedikit menghentakkan suaranya.

“Tapi aku mencintainya!” ChanYeol menaikkan sudut bibirnya dan tidak mengindahkan perkataan YoungAh. Menurutnya itu hal yang wajar bagi seorang anak mencintai ayahnya. Karena hubungan batin mereka yang kuat. Tapi, seakan tahu arti smirk ChanYeol, ia pun menjawab, “Mencintainya sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai ayah.” Alis ChanYeol bertautan. Tatapan YoungAh kini beralih ke bawah, tepat di lantai kamarnya. “Perasaan cinta ku padanya adalah perasaan dari seorang wanita kepada pria. Bukan perasaan seorang anak kepada ayahnya.” YoungAh sangat sedih mengakui itu semua. Karena cintanya kepada Luhan adalah cinta terlarang. Walaupu dia sendiri tak tahu apa ia benar anaknya atau tidak.

YoungAh mengadahkan kepalanya. Ia seperti mengingat kejadian semalam. Kejadian yang membuatnya frustasi sampai sekarang. “Kau tahu? Semalam, apa yang aku lakukan bersama ayah?” ChanYeol menggeleng. “Dia memelukku saat tidur. Dan saat ada petir, aku memeluknya.”

“Lalu, apa tanggapan ayahmu setelah bangun dari tidur?”

“Aku tak tahu, aku bangun lebih lama kali ini. Tapi, ia memberikan note kecil diatas meja ku.”

“Boleh ku lihat?” YoungAh mengangguk. Dengan satu gerakkan, YoungAh mengambil note tersebut yang berada di seberang posisinya kali ini.

“Ini.” YoungAh memberikan note tersebut dengan wajah datarnya, mungkin ia sangat terbebani dengan masalah ini.

ChanYeol memandangi note tersebut dengan sorot mata tajam. Ia tak membacanya, hanya melihat. “Kau tahu? Aku mempunyai kekuatan seperti anak indigo??”

“Indigo?” sekarang, giliran YoungAh yang menautkan alisnya.

“Iya, seperti indigo, tapi bukan indigo! Aku mempunyai kekuatan Telepati, Klervonyas, dan Retrokognision. Kemampuan membaca pikiran, melihat kejadian yang sedang terjadi, dan kejadian di masa lampau.”

“Wahh hebatt!!”

“Apanya yang hebat? Aku malah membenci kekuatan itu!”

“Kenapa kau membencinya?”

“Dulu, aku mempunyai kekuatan Prekognision, kemampuan melihat dan mengubah masa depan. Saat aku duduk dikelas 6 SD, aku sudah mengetahui bahwa Ibu akan meninggal pada tanggal 20 Desember. Satu hari sebelum kejadian itu, aku sudah mengetahuinya. Tapi aku tak ingin merubah apa yang dikehendaki Tuhan walaupun aku bisa melakukannya. Dan saat itu, aku membiarkan Ibu ku meninggal seperti skenario yang dibuat oleh Tuhan.” ChanYeol meneteskan air mata saat menceritakan kisah terburuknya. “Waktu itu, aku sedang di Sekolah. Aku sedang memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran, tapi otakku malah fokus kepada Ibu ku yang tak lama lagi akan menghadapi mautnya. Saat kejadian itu tiba, tiba-tiba saja aku mematahkan pensil ku yang ku gengam erat. Aku langsung keluar dari kelas dan menghampiri ibu ku di kejauhan sana. Tak peduli guru ataupun teman sekelas ku memanggilku, saat itu yang aku pikirkan hanya Ibu ku.” YoungAh hanya tersenyum miris mendengarnya. “Saat itu, aku meminta kakek ku untuk mencabut kekuatan Prekognision ku itu. Dan kekuatan ku yang tersisa, aku titipkan kepada kakek ku.”

“Memang bisa?”

“Bisa. Karena kekuatan yang ku punya bukan permanen. Jadi bisa dicabut dan bisa dititipkan.” ChanYeol tersenyum, menyisakan sisa-sisa air matanya.

ChanYeol lupa akan note kecil yang masih ia pegang. Ia melihatnya kembali. Lebih tajam dan lebih tajam legi. “Aku bisa membaca kejadian sekaligus persaan ayahmu dalam note ini.”

“Benarkah??”

“Ayah mu tidak peduli dengan apa yang terjadi semalam. Menurutnya, perilaku yang kau buat dengan ayah mu, maupun perilaku yang ayah mu buat terhadap dirimu hanya sebatas batin seorang anak dan ayah saja.” ChanYeol masih menerawang note kecil tersebut. Sedangkan lawan bicaranya, mulai merasa gelisah tak karuan.

“Berarti harapan ku pupus sudah. Tak ada harapan lagi untukku mendapatkannya. Aku tak bisa membayangkan apabila kenyataan bahwa aku ini bukan ananknya. Aku pasti berpisah dengan dia, dan dia akan melupakanku.” Racau YoungAh.

ChanYeol memandang datar kelakuan temannya. “Dari mana kau mendapatkan kesimpulan seperti itu?”

“Bukankah kau bilang kalau perilaku yang kubuat dengan ayah ku, maupun yang ayahku buat terhadap ku hanya sebatas batin. Berarti dia tidak punya perasaan yang sama denganku.”

“Tidak. Masih ada kejanggalan terhadap diri ayah mu. Tapi aku tak tahu apa itu?!.”

“Benarkah?” senyum YoungAh mulai merekah. Tapi tak lama, senyum itu pudar dan diganti dengan rasa keingin tahuan yang pekat. “Tapi, bagaiman kau tahu? Bukankah sebagian kemampuan yang kau punya sudah kau titipkan?”

ChanYeol menarik sudut bibirnya, kali ini, senyumnya jauh lebih manis daripada sebelumnya. “Sisa-sisa dari kekuatan yang aku titipkan masi melekat di tubuhku. Beda dengan kekuatan ku yang telah ku cabut.”

YoungAh menggembungkan pipinya seraya mengangguk. YoungAh mulai mengerti kekuatas gaib yang ChanYeol punya. Untungnya, ChanYeol menitipkan semua kekuatannya pada kekeknya, kalau tidak? Mungkin bulu kuduknya sudah berdiri sekarang.

Ia teringat akan mimpinya semalam. Mimpi buruk yang ia alami setelah ia lupa ingatan. “Oh iya, kemarin aku bermimpi. Mimpi yang sangat menyeramkan. Mimpi itu seperti nyata, tapi aku tak pernah mengalaminya. Mungkin pernah, tapi aku tak mengingatnya.”

“Mimpi apa?” tanya ChanYeol acuh.

“Dalam mimpiku, aku sedang berlari dengan kencang. Dan ada seseorang yang memanggilku untuk kembali, tapi aku tak mau. Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang ingin menghantamku, lalu aku terbangun dari tidurku.”

“Sepertinya, itu penggalan ingatanmu. Suatu kejadian sebelum akhirnya kau hilang ingatan.” YoungAh mulai mencerna perkataan ChanYeol, kenapa teka-teki ini begitu rumit di tebak? “Apa kau ingat gambaran mobil yang menabrakmu?”

“Aku ingat!” jawab YoungAh cepat.

ChanYeol beranjak dari posisinya. Ia berjalan kearah jendela kamar YoungAh yang terbuka, tepat didepan YoungAh. “Apa mobilnya seperti itu?” ChanYeol menunjuk mobil Lamborghini hitam miliknya yang terlihat dari arah jendela kamar YoungAh.

Seakan menerima panggilan dari ChanYeol, YoungAh bangkit berdiri dan melangkahkan kaki ketempat ChanYeol berada. YoungAh mendelikkan pandangannya, menyipitkan matanya untuk mengetahui apa mobil yang dimiliki ChanYeol itu persis dengan mobil yang berada di mimpinya. “Iya. Mobilnya seperti itu!”

“Berarti aku yang menabrakmu. Kau percayakan kan?” YoungAh tidak mengindahkan perkataan ChanYeol. Ia masih sibuk dengan ingatannya tentang mobil tersebut. “Apa suara seseorang yang berada di mimpimu adalah suara laki-laki?” YoungAh tak menjawabnya secara visual, tetapi melalui anggukan kepala. “Artinya, lelaki itu lah yang mengejarmu.”

Suatu kesimpulan yang dibuat ChanYeol membuat YoungAh menoleh kearahnya. “Lelaki?”

“Apa saat kau berada di rumah sakit, tak ada yang menjagamu?”

“Paman Tao?”

“Tao?” ChanYeol tengah berkutat dengan pikirannya mengenai seorang laki-laki yang ia temui saat YoungAh tertabrak. “Apa perawakannya tinggi sekitar 180 cm, dengan mata kucing dan alis seperti samurai, dan juga hidung mancung disertai bibir tipis, dan dia juga mempunyai dagu yang lancip? Apa sosok Tao seperti itu?”

“Iya, dia seperti itu.” Pikiran buruk tentang pamannya mulai muncul. “Tapi, aku tak yakin kalau orang yang ada di mimpi ku adalah paman ku. Suaranya begitu lembut, sangat kontras dengan orang yang ada dalam mimpiku.” Ia menepis pikiran buruk yang melandai otaknya.

“Aku juga tak yakin. Karena, orang yang punya perawakan seperti itu bukan hanya paman mu saja, tapi banyak.” ChanYeol berusaha menenangkan YoungAh yang telah kacau. “Mau aku bantu untuk menyelidiki kasus ini?” tawarnya.

“Mau.” YoungAh menjawabnya dengan lesu.

“Baiklah. Tapi, kau harus siap dengan perubahan sifat ku.”

“Iya iya..” jawab YoungAh asal. ChanYeol yakin, YoungAh sedang tidak fokus sekarang.

TBC

6 thoughts on “I Love My Father (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s