The Gray Anxiety (Part 3)

sehun TGA

The Gray Anxiety – Part.3

By : Ririn Setyo

Oh Sehun || Song Jiyeon || Kim Jongin

Other Cast : Park Chanyeol || Zhang Yixing || Kris Duizhang

Genre : Romance ( PG – 17 )

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com dengan cast yang berbeda.

Tak ada yang bisa Jiyeon kerjakan selain duduk termangu menatap bangunan paling menajubkan yang pernah dia lihat di sepanjang hidupnya, bangunan indah nan megah yang sejak kecil ingin sekali Jiyeon lihat dengan mata kepala. Sejak yarch yang membawanya ke Perancis merapat, seyogyanya Jiyeon tak dapat menahan kekagumannya, mendatangi salah satu negara paling indah di dunia seperti Prancis bukanlah daftar mimpi yang Jiyeon yakini akan menjadi kenyataan. Tapi disinilah Jiyeon berada sekarang, di sebuah apartemen mewah yang ia ketahui dari Jinhwan adalah milik Oh Sehun. Sangat dekat dengan bangunan paling tersohor di Paris, jika berjalan kaki hanya butuh waktu tak sampai sepuluh menit untuk sampai di sana.

Namun Jiyeon tak punya daya untuk melangkahkan kakinya yang seakan mati rasa ketika mengingat dengan siapa dia pergi ke Paris. Ia memilih untuk tetap berada di apartemen, di pavilion, duduk bersandar di kursi kayu berpelitur putih mengkilap, menatap Menara Eiffel yang berdiri nyata di depannya. Begitu perkasa, hitam mempesona, tinggi menjulang hingga hanya biru nirwana yang bisa mengajaknya bercerita.

Jiyeon mengerjab, letih mulai mendatangi matanya yang masih enggan beranjak dari keindahan Menara Eiffel. Ia menarik napas, panjang dan dalam, kembali memikirkan semua kejadian yang terjadi begitu cepat di dalam garis hidupnya tanpa pernah ia duga sebelumnya. Bahkan sebentar lagi takdir paling mengerikan akan dijalaninya, ia akan mengubah status menjadi istri dari pria yang tidak dikenalnya.

Oh Sehun mantan presiden direktur dimana Jiyeon bekerja sebagai staf kebersihan sejak tiga tahun silam, selama Jiyeon bekerja di perusahaan Sehun, ia hanya dua kali bertatap muka dengan pria itu. Jiyeon hanya tahu jika Sehun adalah pengusaha kaya, pemilik hampir semua perumahan dan apartemen mewah di Seoul. Selebihnya Jiyeon tidak tahu apapun tentang pria itu. Kehidupannya yang keras membuat Jiyeon tidak pernah punya banyak waktu untuk memikirkan orang lain, tidak seperti teman-temannya yang sering kedapatan sedang membicarakan Sehun, konglomerat tampan yang paling diminati oleh gadis manapun.

Satu sentuhan lembut di bahu membuat Jiyeon terkejut, serta merta ia menoleh, mendapati sosok Sehun sudah berada di depan wajahnya. Sangat dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, jika saja Jiyeon tidak cepat-cepat memundurkan wajahnya. Jiyeon mengeser duduknya, menjauhi Sehun. Namun pria itu meraih lengannya, menarik tubuhnya merapat dan bergeming saat ia berusaha menolak.

“Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu melihat Menara Eiffel dari dekat, tapi pekerjaanku terlalu banyak… sekarang aku justru mengabaikanmu disini.”

Suara Sehun terdengar samar di antara sapaan angin musim semi yang dibawa oleh riak sungai Siene, ada sejuta penyesalan tersirat saat pria itu menautkan pandangannya ke dalam sepasang mata bening Jiyeon yang balik menatapnya.

“Kau suka Perancis?”

Jiyeon bergeming, ia masih berusaha melepaskan genggaman Sehun namun pria itu justru semakin mengeratkan genggamannya.

“Atau… kau ingin mengunjungi negara lain yang selama ini ingin sekali kau datangi?”

Jiyeon tetap diam, ia berpaling, kembali memakukan pandangannya ke Menara Eiffel. Tak ada yang ingin ia bicarakan dengan Sehun, menatap wajah pria itu selalu membuat Jiyeon merasa muak dan marah. Ia bahkan ingin sekali menghajar Sehun hingga babak belur, tiap kali pria itu memperlakukannya seperti wanita murahan.

“Jiyeon, bicaralah sesuatu?”

“Apa yang bisa aku bicarakan dengan laki-laki sepertimu?” Jiyeon berpaling, menatap Sehun. “Laki-laki brengsek yang membeliku, laki-laki yang bahkan bisa menghancurkan keluargaku kapanpun kau mau.” nada Jiyeon begitu datar, wajahnya tanpa ekspresi, menatap tak peduli pada Sehun yang mulai terlihat geram.

“Kau?”

“Kenapa? Kau tidak terima? Cih! Itulah dirimu Oh Sehun, pria brengsek tak punya hati.”

Rahang Sehun mengatub begitu rapat, wajahnya kaku, menatap tajam Jiyeon yang melayangkan pandangan dingin hingga mengusik emosi Sehun yang perlahan merambat naik ke ubun-ubun.

“Ya benar sekali. Aku membelimu dari ayahmu untuk kujadikan wanitaku, aku akan melakukan hal paling mengerikan pada orang-orang yang kau sayangi, hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehmu sampai detik ini, jika kau berniat untuk lepas dariku, kau puas?!”

Sehun menghempaskan tangan Jiyeon yang digenggamnya sebelum beranjak, melangkah tergesa meninggalkan Jiyeon yang sudah meneteskan air mata di belakang sana.

~000~

 

Jiyeon kembali memilih duduk sendirian di dalam apartemen, memutar pandangan sekilas ke penjuru apartemen. Apartemen Sehun luas dan mewah, didominasi warna putih dan khaki, lantainya dari kayu yang diberi pelitur mengkilap, dilapisi permadani bermotif sama dengan sofa dan hordeng jendela. Semua perabotan di apartemen terlihat mahal, sofa, meja ataupun kaca dinding semua berbingkai ukiran sewarna emas, terlihat klasik, glamor, sekaligus hangat. Namun semuanya terlihat tidak berarti untuk Jiyeon, ia benar-benar tidak ingin melakukan apapun selain mengasihani hidupnya. Jiyeon bahkan tidak membiarkan tenggorokannya menelan apapun sejak tadi, mengabaikan sederet makanan Perancis dan berbagai cemilan roti khas negara itu yang disajikan pelayan Sehun

Jiyeon lemas, matanya merah, menahan desakan air mata tiap kali bayangan laki-laki yang ia cintai mendatanginya. Bayangan yang terasa begitu nyata, hingga air mata Jiyeon pada akhirnya berjatuhan tanpa ia mampu mencegahnya. Pria itu tersenyum, mengusap hangat wajahnya yang kini telah basah, menariknya ke dalam pelukan, Jiyeon terisak tertahan, dia memejamkan matanya, merasakan hembusan udara pagi yang begitu dia ingat menyapa lembut wajahnya. Ia mengerjab, mendapati dirinya tengah duduk di bawah sebuah pohon, bersama laki-laki yang kini telah tersenyum hangat untuknya. Persis seperti beberapa tahun lalu, saat dimana Jiyeon masih sangat percaya jika dunia akan membuatnya bahagia.

“Yixing Oppa?”

Hey! Kenapa kau ini hobi sekali menangis? Hemm?” tangan pria itu terulur, menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipinya lalu membawa dirinya untuk bersandar di bahu pria itu.

“Berhentilah menangis Jiyeon, ingat, kau harus selalu tersenyum agar aku bisa terus menarik napas di dunia ini.”

Jiyeon memejamkan matanya saat Yixing mengecup puncak kepalanya, membenamkan wajahnya di dada pria yang telah dikenalnya sejak kecil. Zhang Yixing pria yang selalu membantunya untuk segala hal, pria yang menjadi sandarannya saat kesedihan atas kematian sang ayah tujuh belas tahun silam menghantamnya. Pria yang rela terluka demi melindungi Jiyeon tiap kali Namjoon menghajar gadis itu, pria yang menjadi alasan Jiyeon untuk tetap kuat dan bertahan di dunia ini.

Oppa, apa kau akan selalu bersamaku hingga akhir?”

“Tidak.”

Seketika Jiyeon mengangkat kepalanya dari bahu Yixing, ia terkejut, kerutan samar terlihat di dahinya saat pria itu justru kini tengah tertawa kencang.

“Kenapa kau bertanya seperti itu, Jiyeon?” tanya Yixing disisa tawanya.

Oppa?” Jiyeon tampak semakin tidak mengerti.

“Tentu saja aku akan selalu bersamamu. Kau detak jantungku, kau adikku, kekasihku. Kau alasan pertama kenapa aku masih bernapas dunia ini, jadi masih pantaskah kau bertanya tentang itu?”

Yixing tersenyum, kedua tangannya membingkai wajah Jiyeon yang sudah tersenyum, mengecup kening gadis itu lalu membawanya kembali ke dalam pelukan.

“Aku sudah berjanji pada ayahmu, aku akan selalu menjagamu, Song Jiyeon.”

Oppa mencintaiku?”

“Lebih dari itu, aku sangat mencintaimu.”

Senyum Jiyeon melebar bersama rona merah jambu yang kini menghiasi kedua pipinya, ia memejamkan matanya saat Yixing kembali mengecup puncak kepalanya. Jiyeon mengerakkan tangannya, balas memeluk Yixing seerat pria itu memeluknya, di dalam hati Jiyeon merapal sebaris doa tanpa pernah ia beritahukan pada Yixing.

 

Tuhan, aku ingin menghabiskan sisa hidupku, bersama Yixing Oppa.

 

~000~

 

Pukul sepuluh malam Sehun kembali ke apartemen, wajahnya sedikit pucat, ia lelah. Pertemuan dengan rekan bisnisnya berjalan tidak seperti yang ia harapkan, membuat suasana hatinya yang sudah kacau menjadi semakin runyam. Seorang pelayan menyambutnya di ambang pintu, menanyakan sesuatu yang mungkin Sehun butuhkan namun pria itu hanya menggeleng. Ia tidak ingin apapun, ia hanya ingin memastikan jika Jiyeon masih berada di apartemen.

“Nona Jiyeon ada di dalam, seharian ini dia hanya di apartemen. Saya sudah menawarkan untuk mengelilingi kota, tapi dia menolak.”

Sehun kembali hanya mengangguk setelah mendengar laporan dari Jinhwan, pengawal pribadi yang telah mengawal Sehun sejak lima belas tahun silam.

Sehun kembali melanjutkan langkahnya, ia melepaskan jas dan dasi yang melilit lehernya. Matanya yang sayu mendadak berbinar, menatap Jiyeon yang tertidur di atas sofa. Sehun mendekat, meletakkan jas dan dasi di sandaran sofa. Sehun duduk bersimpuh di pinggir sofa, menatap tanpa bosan wajah tidur Jiyeon yang terlihat sangat tenang. Seketika rasa lelah yang mengelayuti tubuhnya menguap, berganti rasa senang yang kini nyata menjalar di tiap denyut nadinya. Tangan Sehun terulur, menelusup ke bawah leher gadis itu, ia mengangkat tubuh Jiyeon dengan sangat perlahan lalu merebahkannya di atas ranjang.

Sehun duduk di tepian ranjang, kembali menelusuri wajah Jiyeon, tangannya membelai lembut pipi pucat Jiyeon hingga tanpa sadar membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Entahlah Sehun merasa dirinya sangat bahagia dan nyaman, hanya dengan memandang wajah gadis itu. Sehun benar-benar tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik pada Jiyeon, Sehun hanya tahu dia sangat takut kehilangan Jiyeon, sangat cemas jika gadis itu menghilang dari kehidupannya.

Tanpa Sehun sadari sentuhan tangannya membuat Jiyeon mengeliat, mengerjab, sebelum akhirnya gadis itu terbangun dan langsung terkejut. Satu dorongan kuat membuat Sehun hampir terjungkal dari atas ranjang, jika saja ia tidak berpegangan pada nakas di samping ranjang. Gadis itu menatapnya waspada, tangannya mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya, bergerak merapat pada sandaran ranjang saat Sehun memajukan wajahnya.

“Besok pagi tubuhmu akan terasa pegal-pegal jika semalaman kau tidur di sofa, kita akan tidur di ranjang ini,” ucap Sehun tanpa ekspresi, beranjak menuju kamar mandi dan meninggalkan Jiyeon yang terlihat pucat pasi.

Jiyeon mengedarkan pandangan, mencari celah untuk keluar dari kamar selama Sehun di kamar mandi. Namun saat ia baru saja hendak turun dari ranjang, Sehun sudah keluar dari kamar mandi, menatapnya sekilas seraya melepaskan kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya lalu membuangnya asal ke lantai kamar, menyisakan singlet putih yang mencetak samar otot perut pria itu yang terbentuk sempurna. Jiyeon semakin kalut, jantungnya sudah berdetak kian cepat, wajahnya pias, menatap takut ke arah Sehun yang mendekati ranjang.

“Hari ini sangat melelahkan.” ucap pria itu samar, lalu naik ke atas ranjang. “Kris benar-benar membuatku kesal.” lanjut pria itu dengan wajah geramnya.

Sehun menepuk nepuk bantal putih yang dipegangnya, memastikan jika bantal itu sudah cukup nyaman untuk menyanggah kepalanya. Sesekali ia melirik Jiyeon yang semakin membeku, tersenyum samar lalu menarik selimut dan merebahkan tubuhnya. Sehun kembali melirik Jiyeon, gadis itu terlihat sangat ketakutan.

“Tenanglah. Aku tidak akan melakukan hubungan sex denganmu sebelum kita menikah, kau tidak ingin terlihat seperti pelacur murahan, bukan?” Sehun menarik tangan Jiyeon, membuat gadis itu tersentak dan menjerit tertahan.

“Tidurlah sebelum aku berubah pikiran.”

Jiyeon menatap Sehun yang masih menggenggam tangannya, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Laki-laki di sampingnya ini sangat berkuasa, melawannya sama saja seperti menceburkan diri ke dalam neraka dunia. Ragu namun akhirnya Jiyeon merebahkan tubuhnya, bersembunyi di bawah selimut putih yang sama dengan pria itu. Jiyeon kembali tersentak saat Sehun membawa tangannya tepat di atas dada pria itu, detak jantung Sehun yang memompa cepat terasa nyata di lapisan kulit telapak tangannya.

“Aku hanya ingin memastikan kau tidak melarikan diri saat aku tertidur.” Sehun mengeratkan genggaman tangannya. “Berjanjilah kau tidak akan turun dari ranjang, sebelum aku bangun besok pagi. Kau mengerti, Jiyeon?”

Jiyeon bergeming, Sehun berpaling, menatap lekat wajah gadis itu hingga akhirnya membuat Jiyeon mengangguk samar.

“Selamat malam, Song Jiyeon.” ucap Sehun sesaat sebelum memejamkan kedua matanya, meninggalkan Jiyeon yang memilih untuk tetap terjaga entah sampai kapan. Gadis itu masih sangat takut dengan hal yang mungkin saja terjadi saat ia membiarkan matanya terlelap.

~000~

 

Keesokan harinya Sehun terbangun dalam satu hentakan, cahaya matahari pagi menyapa dari balik jendela kaca yang hordengnya sudah tersemat tali kuning emas berbandul logam bulat yang juga berwarna emas di kedua sisi jendela. Ia sangat terkejut ketika tak menemukan Jiyeon di sampingnya. Kalut seketika berdengung di dalam otaknya, ia panik luar biasa, beranjak tergesa dari atas ranjang seraya meneriakkan nama gadis itu.

“Jiyeon!!”

Sehun semakin panik saat tak ada sautan, ia mulai mengerang, napasnya memburu kasar. Wajahnya pucat dalam hitungan detik, bahkan peluh sudah berdatangan membasahi keningnya. Sehun kembali berteriak, langkah kakinya terhuyung, Jiyeon tak juga menjawab panggilannya.

“SONG JIYEON!!!”

Sehun keluar dari kamar, berjalan tergesa menuju ruang makan. Ia kembali berteriak kalut, mengerang, menyapukan lengannya di atas meja makan hingga semua hidangan yang tertata rapi dan vas bunga jatuh berserakan di lantai. Sehun terhuyung, tubuhnya terasa lumpuh tak bertulang hingga akhirnya ia beringsut di lantai. Napasnya kian sulit keluar dari paru-parunya saat ia merasa tersedak, dia benar-benar cemas sampai-sampai air mata mengalir melewati tulang pipinya. Sehun melipat kedua kaki, memeluknya dalam ketakutan yang mengikat kuat tubuhnya.

 

Ji… Jiyeon…,”

 

Tanpa sadar Sehun menggumamkan nama Jiyeon, ia semakin menenggelamkan wajahnya yang pucat pasi di antara kedua lengan. Tak menyadari jika sosok Jiyeon baru saja keluar dari kamar mandi, masih berbalut pakaiannya semalam, memandang terkejut untuk semua kekacauan yang terjadi. Jiyeon berdiri mematung di sisi Sehun, ia sangat bingung saat mendengar Sehun berteriak, menunda acara mandi pagi dan bergegas keluar dari kamar mandi. Perlahan Jiyeon menunduk, duduk bersimpuh di samping Sehun, memberanikan diri untuk menyentuh bahu Sehun yang bergetar hebat.

“Se—- Sehun.” seketika kepala Sehun terangkat, matanya melebar, menatap Jiyeon yang berada di depannya.

“Ap—- apa yang terjadi?”

Jiyeon kembali mengeluarkan suaranya, namun ucapannya tertahan ketika ia mendapati wajah Sehun yang basah oleh air mata. Sehun menangis. Pria yang selalu ia kumandangkan sebagai manusia brengsek tak punya hati itu, kini terlihat rapuh dan menyedihkan.

Tanpa penjelasan Sehun langsung menarik Jiyeon dan memeluknya erat, sangat erat hingga Jiyeon merasa sesak. Gadis itu kembali merasa takut dan ingin melepaskan pelukan Sehun, namun ia mendapati niatnya mengantung di udara saat Sehun membisikkan kalimat disela-sela isaknya. Kalimat yang membuat Jiyeon memaku dan membiarkan Sehun tetap memeluk tubuhnya hingga puluhan menit ke depannya.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Song Jiyeon.”

~000~

 

Dengan langkah terburu-buru Chanyeol berjalan menuju landasan pesawat yang ada di halaman belakang kediaman Sehun, beberapa menit yang lalu jet pribadi Sehun baru saja mendarat. Chanyeol terlihat marah dan panik dalam waktu bersamaan, ia marah karena Sehun kembali melewati jadwal terapi. Sehun benar-benar tidak mendengarkannya, bahkan pria itu membawa Jiyeon dalam perjalanan bisnisnya ke Perancis dan sekarang Chanyeol mendapat kabar jika Sehun mengamuk di apartemennya tadi pagi.

Chanyeol memberi jeda pada langkahnya ketika ia melihat Sehun dan Jiyeon berada di ujung selasar, di belakang mereka berdiri Jinhwan, diam dan dingin seperti biasa. Napas Chanyeol seketika memburu kasar, melanjutkan langkah cepatnya, menatap geram pada Sehun yang tersenyum lebar ke arahnya.

“Park, kau…,”

 

BUUKK!!!—-

 

Satu pukulan keras Chanyeol membuat Sehun tersungkur, dia terkejut, mengusap pipi kanannya yang berdenyut dan memaki pelan. Jiyeon yang berdiri di sisi Sehun terlonjak, wajahnya langsung memucat. Gadis itu memandang Chanyeol yang menatap tajam ke arahnya, sebelum pria itu memerintahkan Jinhwan untuk membawa Jiyeon menjauh dan dia menyeret Sehun masuk ke dalam ruangan di depan sana.

Chanyeol menghempaskan Sehun di atas sofa, ia masih mencoba mengatur napasnya yang memburu. “Berapa kali aku harus bilang padamu, untuk tidak melewati terapi Oh Sehun! Sekarang lihat, kau bahkan membahayakan dirimu sendiri. Apa sekarang kau masih menganggap teori psikologiku omong kosong?”

“Park Chanyeol!”

“Jawab aku, Oh Sehun!” Chanyeol kembali berteriak, ia menatap tajam Sehun yang hanya mendegus kesal ke arahnya.

“Kau berlebihan, aku hanya…,”

“Mengamuk, menghancurkan barang. Ingat, kau telah melewati masa itu empat tahun yang lalu.”

Sehun diam, ia mengalihkan pandangannya dari Chanyeol. Tak punya rangkaian kalimat yang bisa ia verbalkan untuk menyangkal Park Chanyeol, dokter psikiater yang selama sepuluh tahun terakhir ini menangani gangguan psikologi yang sudah dideritanya sejak lima belas tahun silam.

“Aku sangat yakin jika detak jantung dan tekanan darahmu di atas normal,” ucapan Chanyeol terhenti saat Sehun bersuara, pria itu menatapnya bersama senyum tipis di ujung bibir.

“Aku memeluknya dan semuanya berangsur membaik.”

“Apa?”

“Jiyeon bahkan mengusap punggungku dan aku tidak butuh obat penenang untuk tidur setelah itu.” Sehun menarik napas, panjang dan dalam, meminta Chanyeol untuk duduk di sampingnya.

“Maaf sudah membuatmu cemas, tapi percayalah aku baik-baik saja.” ucap Sehun tulus, ia lebih dari paham jika Chanyeol sangat mencemaskannya. “Jongin tidak tahu tentang ini ‘kan?”

“Dia masih di Jepang.” Sehun mengangguk senang.

“Song Jiyeon. Kenapa dia harus datang dan kembali mengacaukanmu,” Chanyeol mengusap wajahnya sepintas, kembali menatap Sehun yang justru hanya tertawa pelan.

“Kau terlihat sangat manis tiap kali kau mengkhawatirkanku.”

“Kau memberiku bayaran yang pantas, jika kau mati maka aku akan kehilangan pemasukanku, karena itulah aku mengkhawatirkanmu. Aku benar ‘kan?” Chanyeol menyeringai, ia senang sekali membuat Sehun merasa kesal.

“Sejak dulu kau selalu menyebalkan.” Sehun bersandar di sofa, ia menengadah, menatap langit-langit ruangan yang berkilau keemasan saat cahaya lampu memantul ke arahnya.

“Malam ini aku akan menginap di sini, besok pagi kau harus terapi sebelum kau bekerja.”

Sehun mengangguk, ia mengusap pipinya yang masih menyisakan rasa nyeri. “Ah! Haruskah kau memukulku sekeras itu? Ini benar-benar sakit.”

“Sayangnya aku tidak peduli.” Chanyeol menyeringai, terkekeh pelan seraya mengusap kepala Sehun, namun pria itu segera menepisnya.

“Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil.”

“Aku memang lebih tua darimu, ingat itu.”

Cih! Dasar pria tua menyebalkan, aku bahkan tidak habis pikir bagaimana caranya Kiara bisa bertahan bersamamu selama lima tahun ini.”

“Dia bahkan akan bertahan seumur hidupnya bersamaku.” Chanyeol tertawa pelan, ia ikut menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.

“Apa kau sudah punya rencana selanjutnya untuk gadis itu?”

Hemm, tentu saja. Jongin yang mengaturnya untukku.”

“Jongin?” Chanyeol mengeryit, menatap Sehun sekilas dengan tetap bersandar di sofa.

“Besok aku akan menikahinya.”

Chanyeol yang baru saja berniat memejamkan mata, seketika terbelalak, menegakkan punggungnya, menatap tidak percaya dengan apa yang Sehun katakan.

“Apa yang kau katakan?”

“Iya Park Chanyeol. Besok aku akan menikahi Song Jiyeon.”

~000~

 

Seorang wanita berumur tak lebih dari dua puluh lima tahun, jika dilihat dari wajah dan lekuk tubuhnya yang sempurna, menyeruak masuk ke dalam rumah besar Sehun. Cantik bahkan tak cukup untuk mengambarkan kesempurnaan wajahnya yang terpahat nyaris tanpa cela, rambut hazel sedikit melewati bahu yang ia biarkan terurai, tampak berkilau keemasan saat matahari senja yang berkedip disela-sela jendela kaca menyorotinya. Kakinya yang beralaskan stiletto 10 centimeter tak menyurutkan langkah cepatnya, sesekali ia terlihat tersenyum samar kepada para pelayan yang berpapasan dengannya.

Tanpa basa basi wanita itu langsung berseru ketika ia sudah berada di dalam ruangan bercat putih dengan ukiran berwarna emas mendominasi pinggiran plaffon dan daun pintu, tiga orang pria yang tengah duduk di sofa khaki super besar di ruangan mewah itu pun terlihat terkejut, mendapati kehadiran sosok malaikat hati yang sore itu terpahat seperti seorang Ninja Assasain yang siap membunuh mereka kapan saja.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi di sini?”

Wanita itu berkacak pinggang, mata hijau kebiruannya menyorot tajam sosok tiga laki-laki yang justru tersenyum lebar, menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat.

“Kiara, kapan datang?” Sehun memeluk wanita itu singkat, disusul Jongin, namun wanita itu mendorongnya dan kembali menajamkan matanya.

Sayang, kau bahkan belum menyapaku.” kali ini Chanyeol yang mendekat, menarik pinggang wanita itu seraya memberi kecupan singkat di bagian bibir hingga emosi wanita itu samar-samar meredup.

Oppa, Sehun mau menikah hari ini dan aku baru mengetahuinya beberapa jam yang lalu. Jika aku tidak memutuskan pulang kemarin malam, aku pasti akan melewati pesta pernikahan ini, benar ‘kan?” Chanyeol mengangguk, mengapit bahu wanita yang sangat ia cintainya itu seraya mengusapnya lembut.

“Aku juga baru mengetahuinya kemarin malam, kita semua baru mengetahuinya, Kiara”

“Apa wanita itu hamil?”

“Aku bahkan belum menyentuhnya.” Sehun menyela.

“Lantas?” Kiara semakin terlihat tidak sabar.

“Sehun membutuhkannya. Dan menurut Jongin, satu-satunya cara untuk mengikat gadis itu hanyalah dengan pernikahan.” terang Chanyeol.

“Aku semakin tidak mengerti.” Kiara memilih duduk di sofa bersama Chanyeol, tepat di belakang lukisan besar yang indah. Kiara menatap sang suami dan Jongin bergantian, sorotan sang surya yang mulai meredup masih berdesakan menyinari ruangan dari jendela kaca besar yang hordengnya terbuka sempurna.

“Song Jiyeon gadis keras kepala dengan harga diri selangit.” Jongin mulai menjelaskan. Dia duduk di seberang sofa Chanyeol dan Kiara, melirik Sehun sepintas yang memilih duduk di sisi kanan, di sebelah lampu hias dengan tiang peyangga yang tinggi.

“Jiyeon yang terlihat tidak takut sama sekali saat ia memukul kepala presiden direkturnya sendiri, bukanlah tipe wanita yang akan mudah terikat hanya dengan sejumlah uang. Percayalah padaku jika dia tidak tertarik dengan deretan mobil mewah ataupun pulau pribadi milik Sehun, wanita seperti Jiyeon hanya akan tunduk pada pernikahan.”

“Kenapa Sehun harus menikahinya?” Kiara masih terlihat tidak paham.

“Karena…,” Jongin yang baru saja akan melanjutkan, mendapati ucapannya tertahan begitu saja saat Sehun mengintrupsi.

“Karena aku menyukai gadis itu, aku tidak ingin pria lain memilikinya. Kau tentu lebih dari paham tentang itu, ‘kan?”

Kiara mendesah, ia bersandar di bahu Chanyeol. “Aku tahu. Sejak dulu kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dengan segala cara, tapi… kali ini kau tidak memaksanya ‘kan?”

“Tentu saja tidak. Ini pernikahan, bukan membeli barang.”

“Baiklah kalau begitu.” Kiara bangkit berdiri, merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. “Apa aku bisa menemuinya?”

“Aku rasa jangan,” ucap Jongin.

“Kenapa?”

“Dia wanita yang menyebalkan.”

“Kalau begitu aku akan membuktikannya.” Kiara tersenyum, membungkuk lalu mengecup pipi kanan Chanyeol sebelum ia berlalu dari ruangan.

“Bagaimana jika Kiara mengetahui yang sebenarnya.” Sehun memandang Jongin, ia tampak cemas.

“Tenanglah. Dia tidak akan mengatakan apapun pada Kiara.” jawab Jongin dengan senyum samarnya yang terlihat dingin.

~000~

 

Saat Kiara membuka pintu ruangan di ujung selasar, saat itulah ia melihat seorang gadis cantik dalam balutan gaun pengantin putih yang melekat pas di tubuhnya. Sebukat mawar merah juga telah berada di dalam genggaman gadis itu, wajahnya tanpa ekspresi, pandangan matanya menerawang jauh menembus jendela kaca di depannya. Duduk membeku di atas sofa peach, seolah-olah jiwanya telah pergi meninggalkan raga. Beberapa jam lagi acara pernikahan akan digelar.

“Song Jiyeon. Ternyata kau jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan.” Kiara memilih duduk di depan Jiyeon, menatap lekat gadis itu yang masih bungkam.

“Aku Kiara Park.” Kiara tersenyum saat Jiyeon mulai menatap ke arahnya. “Kau terlihat tidak senang, apa Sehun memaksamu untuk menikah dengannya?”

Jiyeon hanya bungkam, ia mengeratkan genggamannya pada buket mawar.

“Sehun memang suka memaksa, tapi sejatinya dia laki-laki yang baik.” Kiara tersenyum, memandang Jiyeon yang lagi-lagi hanya bungkam. Namun setelah itu ia tampak terkejut dengan sederet kalimat yang meluncur dari bibir Jiyeon.

“Hal baik apa yang bisa aku pikirkan dari laki-laki yang membeliku untuk kesenangannya, laki-laki yang bahkan hampir meniduriku di atas kapal pesiar miliknya, seolah-olah aku adalah pelacur murahan yang harus melayaninya kapan saja. Lantas, itukah yang kau sebut laki-laki baik?”

“Apa?” iris toska Kiara melebar.

“Kalian semua sama saja, kalian hanyalah sekelompok bangsawan brengsek yang menindas manusia lainnya dengan uang yang kalian punya.”

Wajah Kiara merah padam, menahan luapan emosi yang seketika tersulut hingga ke ubun-ubun. Sejatinya wanita cantik itu hampir tak bisa menahan emosinya, jika saja ia tidak memikirkan Oh Sehun, bisa dipastikan Kiara akan melayangkan bogeman keras ke wajah Jiyeon. Kiara benar-benar tersinggung.

“Aku janji kau akan menyesali semua perkataanmu, Song Jiyeon.”

Kiara keluar dari ruangan ditemani amarah yang masih menyala-nyala, menghampiri Sehun yang berdiri di ujung tangga. Wanita itu baru saja akan memuntahkan amarahnya pada Sehun, namun tertahan begitu saja saat ia melihat Chanyeol berdiri di belakang Sehun. Pria itu menatapnya tenang, menggeleng pelan bersama senyumnya yang meminta pengertian.

“Apa yang terjadi, Sweetie?” Sehun bertanya.

Mata Kiara terpejam sesaat, ia menarik napas panjang, lalu kembali menatap Sehun yang sudah mengusap lembut bahunya.

“Jongin benar, gadis itu menyebalkan.”

~000~

 

Saat Sang Mentari mulai tertunduk lesu di ujung cakrawala yang tengah bermandikan semburat jingga keemasan, saat itulah pesta pernikahan digelar. Di kebun bunga milik keluarga Chanyeol yang sudah disulap menjadi tempat perhelataan pesta. Tenda putih besar di tengah kebun mulai dipenuhi para tamu undangan, pilar-pilarnya dililit bunga mawar merah, kursi putih berukir di sisi kanan dan kiri mengapit karpet putih panjang. Tidak terlalu banyak tamu yang datang, Sehun hanya meminta keluarga Jongin, Kiara dan Chanyeol untuk hadir di pesta pernikahan.

Jongin tampak semakin tampan dalam balutan jas Armani hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya, berdiri di depan tenda bersama seorang gadis kecil berumur tiga tahun, menggunakan gaun putih mekar dan hiasan bulu di kepala, terlihat sibuk dengan keranjang bunga yang diapit tangan kanannya. Para pramusaji berlalu lalang membawakan makanan dan minuman, di ujung tenda rombongan orchestra yang datang sejak satu jam tadi telah memainkan music klasik, mendayu-dayu memenuhi tiap sudut tenda. Di luar tenda, rumput taman sudah ditaburi kelopak mawar merah dan putih, ditambah puluhan kupu kupu warna warni yang baru saja dilepaskan dari toples besar yang dibawa salah satu pelayan, terbang rendah di atas kelopak mawar, atau hinggap di pilar tenda, suasana pun semakin terlihat semarak dan indah.

Chanyeol mengenakan jas abu-abu untuk melapisi kemeja putih yang dipilihkan Kiara untuknya, ia tampak sibuk bersama orangtua Jongin yang baru saja datang, pria itu mencoba menjelaskan tentang pesta pernikahan yang terlalu tiba-tiba.

“Sebenarnya ini sudah disiapkan sejak lama, tapi, kalian tahu ‘kan, Sehun sangat sibuk, karena itulah semua terasa tiba-tiba.”

Sebenarnya Chanyeol tidak enak hati karena harus berbohong pada orangtua Jongin, dia sudah mengenal mereka sejak kecil. Keluarga Jongin dan Sehun sudah selayak saudara kandung untuk Chanyeol.

“Tyra semakin cantik, putrimu benar-benar terlihat seperti ibunya.” Taekmin memandang ke arah Tyra yang tengah berdebat bersama Jongin, bocah kecil itu sedang memaksa Jongin untuk menikahinya.

“Bibi benar, aku memiliki dua malaikat yang sangat cantik.” senyum Chanyeol melebar. Presiden Direktur dari sebuah Rumah Sakit mewah yang memiliki puluhan cabang itu, selalu memproklamirkan jika dirinya adalah pria paling beruntung di dunia.

“Ngomong-ngomong ke mana Kiara? Aku belum melihatnya sejak tadi?”

“Dia sedang bersama calon mempelai pria, Oh Sehun merasa sedikit gugup.” jawab Chanyeol, pria itu memberikan segelas minuman pada Seokbin dan Taekmin, mengantar mereka ke deretan kursi tamu bagian depan.

Sementara itu di dalam salah satu ruangan yang ada dikediaman keluarga Park, Jiyeon masih duduk memaku, wajahnya semakin pucat, pandangannya kosong. Ia bahkan sudah menjatuhkan buket mawarnya ke lantai, tak punya kekuatan bahkan untuk sekedar mengerjabkan kedua mata. Gaun pengantin putih model kemben yang dikenakannya tampak sangat indah, tetapi tidak terasa menarik perhatiannya sama sekali. Tangannya mengepal kuat, menarik napas panjang berulang-ulang, berharap ia bisa mengontrol segala pesakitan dan kegundahan yang menghisap habis oksigen di sekitarnya.

Namun Jiyeon tak mampu melakukannya, tetesan air mata mulai berjatuhan di atas kedua tangannya yang terkepal kuat. Ia terisak tertahan, kaki dan tubuhnya sudah membeku dan mati rasa, merasa tak kuat dengan garis hidup yang harus ia lalui sekarang. Jiyeon menangis sendirian, tertunduk kian dalam. Membiarkan kejadian paling menyedihkan di dalam hidupnya beberapa jam lalu kembali datang, mengoyak jantungnya hingga hancur berkeping-keping.

Beberapa jam yang lalu, sebelum seorang Jongin menemukannya, sebelum gaun pengantin dipakaikan paksa ke tubuhnya, semua hal mengerikan itu terjadi. Jiyeon mencoba melarikan diri dari kekuasaan otoriter Oh Sehun.

Berlari. Itulah yang Jiyeon lakukan saat ia berhasil mengelabui penjagaan ketat dari Im Jinhwan, ia tak punya tujuan, Jiyeon hanya terus berlari sejauh mungkin dari kediaman Sehun. Jalanan tampak lengang, tak ada satu orang pun yang bisa Jiyeon temui untuk memberinya petunjuk, dimanakah halte bus paling dekat. Napas Jiyeon yang kian memburu mulai memendakkan langkahnya, ia sangat lelah setelah berlari terlalu jauh.

Jiyeon bersandar pada tembok beton salah satu rumah besar dari deretan rumah mewah di kawasan itu, berniat mengatur napasnya yang kian sesak. Namun saat itulah tiba-tiba seorang pria dari belakang mendekap kuat mulutnya, menyeretnya masuk ke dalam sebuah mobil setelah pria itu menekan salah satu persendiannya, membuat Jiyeon terkulai dan kehilangan kesadarannya.

Jiyeon tidak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri. Tapi saat ia membuka mata ia sudah berada di sebuah beranda dengan dua pintu kaca yang mengapit perapian, di atas kursi rotan panjang beralas sofa kecoklatan yang indah. Ia mengerjab guna mengembalikan kesadarannya yang sempat tercecer, menatap terkejut sosok laki-laki tampan yang tersenyum hangat ke arahnya.

“Sudah bangun, Song Jiyeon?” suara laki-laki itu terdengar bersahabat, akan tetapi Jiyeon lebih dari paham jika itu semua hanyalah basa basi semata, dia melihat sosok dingin Im Jinhwan berdiri di sisi pria itu.

“Aku ingin membuat kesepakatan denganmu.” pria itu menegakkan punggungnya, menatap tajam Jiyeon dari sofa khaki yang didudukinya.

“Siapa kau?”

Pria itu mencondongkan tubuhnya, memangkas jarak mereka yang hanya dibatasi oleh sebuah meja eboni mengkilap.

“Aku Kim Jongin. Sepupu Oh Sehun, pria yang dalam beberapa jam lagi akan menjadi suamimu.”

“Kau?!” Jiyeon tampak kaku, pelariannya ternyata sia-sia. Kim Jongin bahkan bisa menemukannya dengan mudah.

“Aku ingin kau menjadi istri Sehun, menjadi seorang Oh Jiyeon yang terhormat.”

“Tidak.”

“Sudah kuduga kau akan mengatakan hal itu.” Jongin menegakkan tubuhnya, menatap Jinhwan sekilas. “Tapi aku yakin jika sebentar lagi kau akan menyesal karena telah mengatakan, tidak.”

Dari balik pintu yang ada tepat di samping Jinhwan berdiri, muncul sosok Yixing yang tangannya diapit oleh dua orang lelaki bertubuh besar dan hitam. Sangat menakutkan hingga Jiyeon kehilangan suaranya, ia hanya mampu menatap Yixing dalam kengerian karena ia tahu pasti apa yang akan terjadi setelah ini.

Dan benar dugaan Jiyeon, dua pria besar itu mulai menghajar Yixing. Jiyeon menjerit, ia berlari mendekati Yixing namun Jinhwan sigap menahan, mengapit pinggangnya saat ia mencoba meronta, menyeretnya menjauh dari Yixing yang memandang penuh penyesalan ke arahnya. Air mata membahasi pipi Jiyeon dalam hitungan detik, ia menatap benci pada Jongin yang berdiri jumawa di depannya. Tak ada belas kasih yang berpendar di mata pria itu, dia hanya menatap dingin ke arah Jiyeon tanpa sepatah kata.

Tubuh lemah Yixing ambruk di lantai marmer yang dingin, darah mengalir dari luka-lukanya, mengotori lantai marmer cokelat kelabu bercorak putih garis-garis. Jiyeon lemas, tubuhnya beringsut di lantai saat Jinhwan melepaskan cengkramannya. Ia terisak tertahan, tak mampu menahan kesedihan yang kini ditanggungnya.

“Lakukan apa yang aku perintahkan, maka aku akan menjamin kehidupan pria itu. Kau mengerti, Song Jiyeon?”

Jiyeon tidak menjawab, dia diam bersama kebencian dan kesedihan yang meluap bersamaan, bersemayam di dalam detak jantungnya. Tangannya samar mengepal kuat, ia menatap Yixing yang diam tak bergerak di lantai. Terseok namun Jiyeon berusaha untuk berdiri, ia mengalihkan pandangan hampanya pada Jongin. Dan setelah itu Jiyeon berbalik, berjalan pelan bersama Jinhwan yang siap membawanya ke tempat dimana Jongin telah menyiapkan kehidupan baru yang suka atau tidak suka harus dijalananinya entah sampai kapan.

~000~

 

Noona.”

Jiyeon tersentak dari lamunannya, ia berputar, matanya terbelalak, menatap Junkyu dan ibunya sudah berdiri di muka pintu.

“Junkyu… Ibu…,”

Jiyeon bangkit dan segera menghambur ke dalam pelukan Jieun, ia menangis sejadi-jadinya, tak peduli jika nanti tatanan make up wajahnya menjadi rusak. Ia hanya ingin menangis di dalam pelukan sang ibu, melampiaskan semua pesakitan yang telah menghancurkan hatinya tanpa sisa. Jiyeon melepaskan pelukan, ia menatap Junkyu dan memeluk adik tersayangnya itu erat, bahkan sangat erat.

Noona, kau cantik sekali.”

Jiyeon tertawa pelan, ia membiarkan Jieun menghapus sisa air mata yang masih setia membasahi pipinya.

“Ibu, bagaimana kalian bisa kemari?” Jiyeon membawa Junkyu dan ibunya duduk di atas sofa, ia tak melepaskan genggamannya pada sang ibu.

“Dari Oh Sehun. Pagi tadi dia datang pada ibu, meminta izin untuk menikahimu.”

“Ap… apa?”

“Sebenarnya ibu tidak terlalu mengerti Jiyeon, kau dan Yixing…,” Jieun menahan ucapannya sebentar. “… lalu sekarang, kau dengan Sehun. Ibu bahkan baru tahu jika dia adalah atasanmu di kantor, dia terlihat sangat baik dan sopan. Dia membelikan ibu hanbok dan juga jas untuk Junkyu, meminta kami datang kemari.” Jiyeon masih bungkam, ia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada ibunya.

“Ayahmu…,”

“Apa yang terjadi padanya?”

“Kemarin ada orang yang menyerangnya di jalan, dia luka parah.” Jieun membekab mulutnya dengan satu tangan, mata wanita itu berkabut. “Kedua tangannya nyaris patah, tapi tangan kanannya yang paling parah. Dokter bilang setelah dia pulih, mungkin tangannya tidak akan bisa sekuat dulu.”

“Be…benarkah?” Jiyeon memaku saat Jieun mengangguk, ia kembali teringat dengan kata-kata Sehun kemarin. Pria itu benar-benar melakukan semua yang dia katakan, bahkan lebih mengerikan dari yang sudah Jiyeon bayangkan sebelumnya.

“Yixing Hyung kecelakan Noona, sekarang dia ada di rumah sakit.” Jiyeon berpaling menatap Junkyu. Ia tak bisa menahan air mata, mengeratkan genggaman tangannya pada Jieun, berharap ia mendapatkan kekuatan lebih untuk semua rasa penyesalannya pada Yixing.

Jieun menarik Jiyeon ke dalam pelukannya, wanita itu mengusap punggung Jiyeon yang bergetar. “Hari ini kau sangat cantik, ayahmu pasti senang melihatnya.” Jiyeon semakin terisak.

“Berhentilah menangis Jiyeon ini hari bahagiamu, mulai sekarang kau harus bahagia. Selama ini kau selalu menderita, bekerja siang malam untuk ibu dan Junkyu. Jadilah istri yang baik untuk Sehun, karena mulai hari ini kau adalah seorang Oh Jiyeon.”

Jiyeon semakin menangis, ia mengeratkan pelukannya tanpa bisa menghentikan tangisannya. Ia ingin sekali berteriak, dan meminta seseorang untuk membawa pergi kesedihannya. Namun semua terasa beku dan tidak peduli. Tidak angin, tidak pula hujan. Bahkan semesta ikut menangis bersamanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Kesedihan ini hanyalah miliknya seorang, menghempaskan dirinya ke dalam lautan lara tanpa pernah bertepi.

~000~

 

Semua tamu undangan telah menunggu dalam gelisah, beberapa orang bergumam disela-sela gelak tawa yang sesekali masih terdengar di dalam tenda. Sehun tampak gagah dengan tuxedo putihnya, berdiri di depan altar, gelisah dan gugup telah menemani pria itu sejak tadi. Tapi kemudian orang-orang terdiam seraya memutar pandangan ke arah pintu tenda saat suara music terdengar lebih kencang, Song Jieun berjalan gugup dengan kepala setengah menunduk di sepanjang karpet putih yang membentang hingga ke depan altar, di sampingnya ada Park Junseok dan Park Mingroung yang kali ini mewakili orang tua Sehun. Jieun mengunakan hanbok dengan jeogori berwarna biru tua dan Chima berwarna marun, terlihat kontras dengan Mingroung yang mengunakan hanbok berwarna sedikit lebih muda dari Jieun, sedangkan Junseok terlihat gagah dalam balutan Armani hitamnya.

Ohhhh! Sweet Heart.” Chanyeol bergumam, melihat Tyra tersenyum lebar di depan pintu tenda.

Kiara merangkul lengan Chanyeol dan bersandar manja di sana, mereka berdua tampak senang melihat putri kecil mereka yang antusias dengan pekerjaan barunya sebagai penabur bunga. Di belakang Tyra, Jiyeon merangkul lengan Junkyu seerat yang ia bisa, saat ini dia benar-benar membutuhkan penopang agar tubuhnya tidak beringsut di karpet putih yang kini di pijaknya. Jiyeon terlihat cantik walau kini wajahnya pucat pasi, menatap Sehun yang berdiri tenang di depannya. Pria itu tersenyum saat Junkyu menyerahkan Jiyeon padanya, membawa gadis itu menghadap pria berjubah yang akan menikahkan mereka sebentar lagi.

Suara tepuk tangan mengiringi wajah terharu para tamu undangan, mereka tampak bahagia ketika Sehun menyematkan cincin di jari Jiyeon yang pucat. Tepuk tangan pun kembali membahana saat Sehun mengecup kening Jiyeon, mengenggam jemari gadis itu dalam senyumnya yang kian lebar. Tapi kebahagian yang kini menaungi semua orang tidak berlaku untuk Jiyeon, gadis itu hanya diam, membeku dalam kesedihan di antara riuh rendah pesta yang terasa seperti neraka untuknya.

Hidup Jiyeon akan benar-benar berubah setelah ini, tapi dia sangat yakin jika semuanya tidak akan berjalan sebaik apa yang orang-orang pikirkan.

TBC

Enjoy my FF Manusia KECE

 

 

24 thoughts on “The Gray Anxiety (Part 3)

  1. Kai kejam amat, apa sehun tahu ?? Astga yixing oppa kasihan banget, duuuhh jiyeon hrus tanggung jawab nih,
    ngiri lihat kai-chan couple, punya anak lagi
    aduh jiyeon yg sabar yh, semoga panahnya cupid bisa segera menembus hatimu yg sudah terlanjur terukir nama yixing biar kamu bisa tahu kalo sehun mmbutuhkanmu😀

  2. Jiyeon lama2 pasti bisa cinta sama sehun….sehun msih pnya hormat mnta izin sama keluarga jiyeon..msih penasaran sama sehun…apa jng2 sehun dulu pernah kenal sama jiyeon????

  3. aissshhh knp sih jiyeon tdk mw sj iklaskn mnilah dgn sehun. toh sehun sgt baik tdk prnah berlaku kasar kpadax malh menikahinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s