I Love My Father (Chapter 6)

picsart_11-18-12-24-00

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

Seorang anak laki-laki terlihat sibuk membaca bukunya. Ia tak terlihat risih mendengara suara bising dari teman-temannya yang mengaduh suara. Ia seperti tak mendengar cecaran dari teman-teman nya. Ia tak berhak memarahi mereka yang asih berteriak-teriak, karena ia tahu ini belum masuk jam pelajaran sekolah.

Seorang gadis dengan rambut cokelat panjang bergelombang dan bando pink yang menghiasi kepalanya, masuk kedalam kelas yang ramai bak kapal pecah. Ia tak menghiraukan para lelaki yang menggodainya dan membuntutinya kekelas. Karena, ia menggunakan headseat agar ia tak mendengar godaan dari para siswa laki-laki, dan hinaan yang ia terima dari siswi perempuan.

Langkah gadis itu terhenti karena seorang laki-laki yang duduk di barisan paling depan menahannya.

“Duduklah bersamaku!” ujar ChanYeol.

“Apa?” YoungAh pura-pura tak mendengar walaupun ia telah melepas headseat nya. Wajahnya ia condongkan agar bisa melihat ChanYeol. Sedetik kemudian, ia berdiri tegak sambil tersenyum manis. “Oke baiklah!” YoungAh langsung mengambil posisi duduknya tepat disamping ChanYeol.

“Kenapa kau menyuruhku duduk disini?” ujar YoungAh sambil menaruh tasnya diatas meja.

“Karena aku punya urusan dengan mu. Aku tak mungkin berdiskusi tentang masalahmu apabila jarak kita berjauhan.”

“Lalu, teman sebangkumu bagaimana?

“Sudah ku atur.” ChanYeol melihat YoungAh sekilas. Lalu kembali fokus kepada bukunya.  “Kau merubah tatanan rambutmu?”

Setelah ditanya seperti itu, YoungAh mulai merapikan rambut barunya itu. “Iya. Aku terlihat kacau kemarin. Jadi aku ubah tatanan rambutku.”

“Apa cara itu membuat masalah mu selesai?”

“Tidak.” YoungAh berdecak. “Kau tahu? Kemarin aku benar-benar menghindari ayah ku.” Ia mendesah pelan. “Saat ayah pulang malam, aku langsung masuk kekamar untuk menghindar dari tatapan ayah ku. Tadi pagi juga seperti itu, aku rasanya ingin berangkat sekolah bersamamu, tapi aku tidak punya nomer handphone mu!” tutur nya.

“Kau bodoh! Ayah mu saja sudah melupakan kejadian 2 hari yang lalu, masa kau tidak?!” ChanYeol menaikkan suaranya 1 oktaf. Masih fokus dengan buku yang ia baca.

“Sudahlah! Jangan ingatkan aku dengan kejadian itu! Kau bisa membuat ku frustasi lagi!!” YoungAh mengacak rambutnya kesal. “Untung saja kemarin Ayah bekerja saat libur. Jadi aku bisa bernafas lega.” Ia merebahkan kepalanya diatas meja sambil memperhatikan ChanYeol yang sama sekali tak memperhatikannya.

“Hei ChanYeol. Kau menyukai gadis baru ini hah??” seorang murid laki-laki menepuk bahu ChanYeol sambil membawa bola basket ditangannya.

“Tidak.” Jawabnya cepat.

“Kau jangan mengelak! Kalau kau menyukainya bilang saja! Aku bahagia melihatmu jatuh cinta.”

“Aku tidak menyukainya.” ChanYeol mengalihkan tatapannya pada bukunya dan beralih kearah mantan teman sebangkunya. “Walaupun gadis disampingku sudah dinobatkan sebagai gadis tercantik di sekolah. Aku sama sekali tak tertarik padanya!”

YoungAh mengangguk setuju dengan ucapan ChanYeol. “Dan aku tak ingin hal itu terjadi.”

“Kenapa?” tanya laki-laki itu penasaran.

“Karena aku sedang mencintai seseorang.” YoungAh sedikit menimbang-nimbang perkataanya.

“Siapa??” tanya laki-laki itu lagi.

“Pergilah. Jangan ganggu kami dulu.” YoungAh sangat berterima kasih karena ChanYeol paham dengan situasi seperti ini.

“Terima kasih!” ucapan YoungAh tidak di indahkan dengan ChanYeol, ia malah sibuk dengan bukunya.

***

Seorang laki-laki terlihat sedang merenungkan sesuatu. Suatu hal yang belum lama ia alami, dan sampai saat ini, ia masih memikirkannya. Suatu kejadian yang belum pernah ia alami dan ini adalah pertama kalinya. Kejadian tersebut membuat aliran darahnya berhenti dan jantungnya berdegup dengan kencang. Belum lagi sebuah mimpi aneh yang belum lama menghantuinya.

“Kau tahu Luhan? Aku merindukan mu!

“Aku juga merindukan mu YeRim!”

“Apa kau tidak merindukan anak mu? YoungAh?”

“Seharusnya aku yang bertanya, apa kau tak merindukannya?”

“Dia selalu bersama ku.”

“Dia bersama kita” sedetik kemudian, Luhan pun tertidur diatas pangkuan YeRim.

YeRim mengelus rambut hitam milik Luhan sampai ia benar-benar tertidur pulas. Satu detik kemudian, perlahan, ia menaruh kepala Luhan diatas bantal yang berbentuk awan. Ia tak menyadari bahwa ia berada di atas langit.

“YeRim! Jangan ganggu tidurku! Biarkan aku dalam posisi seperti ini! Jangan merubahnya! Nanti kau pergi lagi! Aku tak akan membiarkan kau pergi dan mennggalkanku lagi sendirian!”

YeRim tersenyum miris melihatnya. “Kau tidak akan sendirian sayang. Tidak akan.”

Ia mengingat semua mimpinya bersama YeRim. Dan mimpi itu yang membuat Luhan tak sengaja memeluk putri nya sendiri. Entah kenapa dekapannya begitu hangat.

Seorang laki-laki paruh baya memasuki ruang kerja Luhan sambil membawa beberapa berkas. “Manager Shin, ada beberapa orang calon karyawan baru yang ingin bekerja di perusahaan ini. Aku mohon kepada manager Shin untuk menyeleksinya.” Ia bertutur panjang lebar sedangkan lawan bicara tak menanggapi nya. “Manager Shin?” ia pun menepuk bahu Luhan hingga ia tersadar dari lamunannya.

“Oh ya? Ada apa?” Luhan membenarkan posisi duduknya yang mungkin sudah tak nyaman.

“Ini daftar nama calon karyawan di perusahaan ini. Mohon di seleksi terlebih dahulu.”

“Taruh saja disitu!” Luhan menunjukkan tempat kosong di atas mejanya.

“Kalau saya boleh tahu, apa yang terjadi dalam diri anda saat ini?” lelaki itu, Lee Hyun Sook, sekretaris Luhan bertanya dengan hati-hati. Mungkin orang –orang akan aneh karena Luhan mempunyai sekretaris laki-laki, bukan perempuan seperti kebanyakan orang. Itu karena, ia tak ingin berhubungan dengan perempuan mana pun. Ia takut jatuh cinta dengan sekretarisnya apabila sekretarisnya perempuan.

“Kemarin aku bermimpi tentang istriku. Dia mengatakan, kalu aku tak akan sendirian. Dan saat aku terbangun, aku berada di pelukkan anak ku. Seorang anak yang berumur 17 tahun. Aku merasa nyaman dalam dekapannya, dan aku merasa sangat hangat dalam pelukannya. Aku tak mengerti perasaan apa yang sedang meracau dalam fikiranku. Aku seperti mempunyai perasaan lebih terhadapnya, tapi aku selalu menepis pikiran buruk itu. Lalu, bagaimana tanggapan mu?” Ungkapnya.

“Menurutku, itu hanya batin seorang anak terhadap ayah nya yang belum juga mempunyai seorang pendamping. Mungkin kau butuh sentuhan seorang wanita untuk menjalani hidupmu. Kau tak boleh berlama-lama menyandang status duda.”

“Kau benar! Aku harus mencari pendamping hidup! Tapi dengan siapa? Aku belum pernah jatuh cinta lagi setelah kehilangan istri ku. Aku hanya mencintai dia dan…” Luhan berhenti berucap. “Aishh kenapa aku memirkannya hah??” Luhan memukul kepalanya pelan.

“Bukankah kau bilang anakmu adalah reinkarnasi istrimu? Memang saat kecil wajahnya yang terlihat seperti reinkarnasi istrimu, tapi saat dewasa, mungkin jiwanya yang seperti reinkarnasi istrimu!”

“Benarkah?”

“Kalau kau percaya dia ankamu, percayalah! Yakinkan lah dirimu kalau gadis itu anakmu! Temanmu benar, kau harus beradaptasi dengannya.” Sekretaris Lee tersenyum hangat dan senyumnya membuat Luhan yakin bahwa YoungAh adalah anaknya.

“Terimakasih atas pendapatmu! Tak salah aku menceritakan semua masalah ku padamu sekretaris Lee.”

“Sama-sama manager Shin.”

***

Bel istirahat telah berbunyi. Seluruh siswa siswi berhambur berlarian keluar kelas. Tak ada satu pun orang di dalam kelas, hanya tersisa ChanYeol dan YoungAh yang masih sibuk memebereskan bukunya.

“Temani aku ke perpustakaan!” ucap ChanYeol mengawali perbincangan.

“Tumben sekali. Ku kira kau adalah anak yang lebih suka bermain bersama teman-teman ketimbang pergi ke perpustakaan.”

“Kau tak lihat sedari tadi aku membaca buku?” ChanYeol berjalan keluar kelas yang diikuti oleh YoungAh.

“Aku melihatnya!” YoungAh berusaha menyamakan langkahnya yang sedikit tertinggal di belakang ChanYeol. “Memang, buku yang kau baca tadi itu apa?”

“The Power Of Telecinetics and Teleportation.” ChanYeol memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.

“Apa itu?”

“Kekuatan memindah kan barang dan kekuatan berpindah tempat.”

“Apa kau ingin mempelajari kekuatan itu?”

ChanYeol menghentikkan langkahnya. Mata bundarnya membesar saat mendengar pertanyaan YoungAh. “Darimana kau tahu? Apa kau punya kekuatan Telepati yang bisa membaca pikiran orang?” ia menoleh kan kepalanya kehadapan YoungAh. “Iya. Aku ingin mempelajarinya!”

YoungAh tersenyum malu. “Ah tidak, aku tak mempunyai kekuatan seperti itu. Aku hanya asal menebak saja!” ChanYeol melangkahkan kaki nya kembali menuju perpustakaan yang sebentar lagi sampai. “Kau bilang, kau membenci kekuatanmu, sampai-sampai tiga kekuatanmu kau titip pada kekekmu. Sekarang? Kau malah ingin mempelajari kekuatan baru lagi.”

“Kau benar!” ChanYeol tersenyum sebelum memasuki ruang perpustakaan. “Aku hanya bercanda saja. Haha, buku yang tadi aku baca itu adalah novel non fiksi, bukan buku fiksi.” Ia tertawa melihat perubahan wajah YoungAh yang mendengus kesal. “Berarti kau tak punya kekuatan telepati!” ia membuka pintu perpustakaan yang diiringi dengan suara lonceng perpustakaan yang berada diatas pintu, pertanda ada orang yang masuk kedalamnya.

“Memang aku tak punya!” YoungAh melipat kedua tangannya di depan dada. Setelah itu, ia membuntuti ChanYeol untuk masuk kedalam ruang Perpustakaan.

“Kalau kau tak punya, kenapa kau tidak mengelak saat aku bilang kau punya kekuatan telepati?” ChanYeol berbicara sambil mengitari seluruh isi rak buku yang berada di dalam perpustakaan. Perpustakaan ini sunggu megah dan besar. Ada banyak buku-buku yang ada di dalamnya. Dan jajaran rak-rak buku membuatnya sulit menemukan buku yang ia cari.

“Karena ku fikir aku memang mempunyai kekuatan itu. Kalu aku punya, aku akan mencobanya sepulang sekolah untuk mengetahui isi hati ayah ku terhadap diriku. Apa dia….”

“Heiii!!!!!” suara gemaan ChanYeol mendominasi seluruh ruang Perpustakaan. Demi menghentikan perkataan YoungAh yang tak punya malu, ia rela dirinya dipermalukan di Perpustakaan ini dari pada harus mendengar penuturan YoungAh yang bisa menghancurkan dirinya sendiri. Ia tak ingin YoungAh meneruskan perkataannya walaupun suaranya hanya bisa didengar oleh serangga sekalipun. “Kau tak perlu mengatakan itu semua di depan umum, perkataan mu cukup aku dan kau yang tahu. Tanpa kau jelaskan aku sudah tau apa maksud kata-kata mu. Aku bukan lah orang yang bodoh! Aku bisa mencerna arti dari sebuah kalimat hanya dengan 3 kata.” ChanYeol mengacak rambutnya kesal. “Kau hanya mempermalukan dirimu apabila kau melengkapi kalimatmu itu!” ChanYeol pergi meninggalkan YoungAh, dan berlalu ke rak selanjutnya.

YoungAh terdiam, menunduk, sambil meneteskan air mata. Sudah dua kali ia di bentak oleh ChanYeol dan kali ini pertama kalinya ia menangis atas ucapan Chanyeol. Ia tahu, ini demi kebaikan dirinya. Seharusnya ia berterimakasih, bukan menangis seperti ini.

YoungAh membalikkan tubuhnya. Disekelilingnya, ada banyak siswa dan sisiwi yang memperhatikannya. Ia mengusap jejak air matanya yang tertinggal di pipi tirus nya. Lalu menunduk untuk meminta maaf atas kesalahan yang dibuat oleh ChanYeol. Ya kalian harus tau, ini di Perpustakaan, dan tak boleh ada seorang pun yang berbicara dengan suara lantang seperti Chanyeol. Itu membuat beberapa sisiwa akan terganggu nantinya. “Maafkan ChanYeol, ia tak bermaksud untuk mengganggu ketenangan kalian. Maafkan ChanYeol!” Setelah itu, ia pergi dari tempat nya dan berlari menghampiri ChanYeol yang tak tahu dimana sekarang.

“Kau ingin mencari buku apa?” tanya YoungAh setelah menemukan keberadaan ChanYeol. “Maaf tadi aku tak bisa menghentikkan perkataan ku. Aku juga sudah meminta maaf pada murid-murid yang tadi menyaksikan keributan yang kau buat.”

ChanYeol tak mengindahkan ucapaan YoungAh. Ia malah melengos pergi meninggalkan YoungAh yang berusaha berbicara padanya. Ia malah menganggap ucapan YoungAh hanyalah semilir angin yang lewat begitu saja, dan hilang begitu saja.

YoungAh mengerutkan dagu, ‘Mungkin ia belum bisa memaafkanku dan masih marah padaku.’ YoungAh mendesah pelan dan melangkahkan kaki mengikuti ChanYeol yang terlebih dulu berjalan meninggalkannya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah buku tebal berwarna merah yang menarik perhatiannya. Ia baru saja ingin mengambil buku tersebut kalau saja ia tak mendengar suara lonceng perpustakaan yang berbunyi. Pertanda seorang Park Chan Yeol telah angkat kaki dari perpustakaan ini. Ia buru-buru melangkahkan kaki nya untuk menyusul kerabatnya tersebut. Ia tak peduli soal buku yang mempengaruhi hidupnya, yang terpenting adalah sebuah maaf dari ChanYeol.

“Beritahu ayahmu kau akan pulang telat hari ini!” YoungAh yang baru saja duduk di bangkunya mendesah berat mendengar ucapan ChanYeol. Tidakkah ia melihat YoungAh yang kelelahan mengejarnya?

“Iya, nanti aku beritahu.” Nada suaranya belum lah stabil. Ia masih berusaha menyesuaikan denyut jantungnya yang banyak mengeluarkan energi.

“Sekarang!” perintah ChanYeol acuh tak acuh. Ia masih melanjutkan novel non fiksinya yang  tadi ia baca sebelum masuk sekolah.

Dengan berat hati, YoungAh menjawab, “Baiklah.” Ia mengeluarkan ponselnya dari saku blazer sekolah miliknya. Saat ia mulai mencari kontak dengan nama ‘Ayah’ , ia berhenti menggerakan jemarinya. “Ayahku pasti akan bertanya alasan aku pulang terlambat. Lalu, apa alasan yang harus aku berikan padanya?”

“Bilang saja kau ingin mengerjakkan catatan yang belum kau lengkapi. Karena temanmu tak ingin catatan nya di bawa kerumah dan di inapkan.”

“Hmm baiklah.” YoungAh melanjutkan kegiatannya mengirim pesan pada Ayahnya yang di yakini sedang sibuk dengan pekerjaannya.

To: Ayah

From: Youngie

Ayah, hari ini aku pulang terlambat ya.. aku ingin menyelesaikan catatan ku yang tertinggal. Kemarin, saat temanku kerumah, aku baru mengerjakannya setengah. Kau tak perlu khawatir, hanya sebentar saja. Catatan ku juga sebentar lagi selesai. Kau tahu sendiri kan kalau aku bisa menulis cepat? Hehe..

Message send.

“Terlalu baik.” Ungkap ChanYeol menaikkan sudut bibirnya.

“Apa kau bilang? Hei jangan gunakan kekuatanmu itu untuk meniliti perasaan ku! Kau ini! Kekuatan masih dititipkan tapi sisa-sia kekuatanmu malah salah dipergunakan!” YoungAh berkacak pinggang sambil terus memperhatikan handphone nya, menunggu balasan dari Ayahnya.

“Menurutku, ayahmu itu cuek. Dan kau berlebihan. Hei! Jangan jadi wanita murahan!” sekarang, malah ChanYeol yang lebih kesal di banding YoungAh.

“Apa? Murahan? Hei! Dia itu ayahku! Wajar saja apabila aku baik padanya!”

“Belum tentu!” ChanYeol mengambil bukunya kembali dan membacanya. “Kau kan lupa ingatan. Dan kau tak punya bukti yang kuat untuk mengatakan Luhan adalah ayahmu!”

YoungAh mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, menimbang perkataan ChanYeol yang ada benarnya juga. Sesaat kemudian, ia menolehkan kepalanya kearah handphonenya. “Hei! Ayahku membalas!”

To: Youngie

From: Ayah

Apa dia akan mengantarmu pulang?

YoungAh terdiam membaca pesan Ayahnya. Ia menoleh pada ChanYeol yang terlihat serius membaca novel fiksinya. “Apa kau akan mengantarku pulang?”

“Ya.” Balasnya dengan dua kata singkat yang merupakan inti dari jawaban semua petanyaan.

To: Ayah

From: Youngie

Iya ayah, temanku akan mengantarkan ku pulang.

Message send.

“Aku rasa, ayah mu adalah seseorang yang mempunyai sifat keingin tahuan yang besar.” ChanYeol mengendikan bahunya sambil menutup bukunya. YoungAh menoleh pada ChanYeol meminta pertanggung jawaban atas perkataannya. “Apa? Aku memang menggunakan kekuatan ku! Ini gara-gara kemarin aku membaca note kecil pemberian ayahmu dan berusaha melihat isi hati ayah mu lewat tulisannya.”

YoungAh tak menjawab gurauan ChanYeol. Ia malah sibuk membaca pesan masuk dari Ayahnya.

To: Youngie

From: Ayah

Temanmu wanita atau pria?

“Apa yang harus aku jawab??? Dia bertanya….”

“Jawab saja yang sejujurnya!” cela ChanYeol.

“Hei jangan gunakan kekuatanmu! Kau tidak punya sopan santun karena menyela perkataan ku.”

“Itu reflek! Sudah kubilang ini pengaruh sisa kekuatanku yang kemarin aku pakai.”

YoungAh menatap layar handphone nya. Sebenarnya ia tak ingin berkata jujur kepada ayahnya. “Apa aku harus berkata jujur dan bilang temanku pria?”

“Iya harus!” ChanYeol mencondongkan tubuhnya untuk melihat ekspresi YoungAh. “Kenapa? Kau tak mau melakukannya? Takut ayah mu cemburu? Tingkat kepedeanmu tinggi juga ternyata!” ia menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka bahwa inilah sifat asli teman barunya.

To: Ayah

From: Youngie

Iyaa, temanku pria.

Message send.

Ia membanting ponselnya keatas mejanya dan menutup telinganya. Ia seperti seseorang yang takut akan kesalahan yang ia perbuat. “Apa balasannya nanti? Apa yang dia rasakan saat membaca pesanku? Ashh tuhannn!! Tolong beritahu aku!”

“Berlebihan.” Satu kalimat itu sukses membuat YoungAh naik pitam dan mendengus seperti halnya banteng melihat kain berwarna merah.

“Apa kau bilang? Hei ini semua gara-gara kau! Seharusnya tadi aku berbohong saja pada Ayahku!!! Kau ini!!” YoungAh memukul pundak ChanYeol berulang-ulang. Ia tak terima apabila jati diri ayahnya hancur melihat pesan yang dikirimnya. Ia mungkin saja akan mengutuk ChanYeol saat itu juga.

YoungAh menghentikkan aksinya saat ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk dengan nama pengirim yang tertera dalam layar. Ia terlihat panik saat membuka pesan tersebut. Ia terus menggigit bibir bawahnya karena takut balasan dari ayah nya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.

To: Youngie

From: Ayah

Baguslah kalau begitu. Ayah jadi tenang kalau yang mengantarmu seorang pria. Bahaya apabila yang mengantarkan wanita. Tidak ada yang bisa menjagamu kalau ada bahaya. Lebih baik ayah yang mengatarkanmu pulang dari pada kau harus diantar oleh teman wanita mu. Ajaklah kerumah lagi saat ayah ada. Ayah benar-benar minta maaf karena tak dapat bertemu dengannya kemarin.

“Hei, dia tidak marah!” ada nada sedih dalam diri YoungAh saat mengetahui ayahnya tidak marah padanya.

Gelak tawa ChanYeol mulai terdengar. Ia meremehkan YoungAh karena ia mempunyai tingkat pede di luar batas. “Hei! Kenapa kau tertawa?”

“Lucu saja, haha. Sedari tadi kau gelisah memikirkan jawaban ayah mu. Apa balasannya nanti? Apa yang dia rasakan saat membaca pesanku? Ternyata, ia malah menyetujuinya. Haha, YoungAh.. YoungAh.. kau ini jangan berharap lebih pada seseorang yang tak pasti!” ChanYeol mencoba menirukan gaya bahasa YoungAh saat ia gelisah.

“Baiklah. Aku tak akan berharap lebih! Terimakasih masukannya.” Jawabnya datar.

To: Ayah

From: Youngie

Baik Ayah.

Message send.

TBC

5 thoughts on “I Love My Father (Chapter 6)

  1. wah ternyata youngAh berharap lebih yah ke ayahnya (atau lebih tepatnya sih yah luhan bukan ayahnya) Karena mungkin YounAh yang asli udah gak Ada dan sudah berada di atas bersama istrinya luhan lanjutannya ditunggu yah author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s