The Gray Anxiety (Chapter 4)

sehun TGA

The Gray Anxiety – Part.4

By : Ririn Setyo

Oh Sehun || Song Jiyeon || Kim Jongin

Genre : Romance ( PG – 17+ )

Other Cast : Park Chanyeol || Zhang Yixing || Kris Duizhang

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com  dengan cast yang berbeda.

 

Kiara  memasuki rumahnya dengan wajah tertekuk, di belakangnya Chanyeol berjalan santai dengan menggendong Tyra yang sudah terlelap. Malam sudah sangat larut saat mereka memutuskan pulang dari acara pernikahan. Kiara menghempaskan kaki kirinya kuat-kuat hingga stiletto hitam yang dipakainya terlempar dan membentur tangga besar di rumah mereka, dia yang sejatinya tidak begitu menyukai sepatu hak tinggi itu juga melakukan hal yang sama pada kaki kanannya. Kiara sangat kesal, ia membalikkan badan, menatap tajam sosok Chanyeol yang hanya mengangkat kedua bahu.

“Ada apa?”

Oppa berhutang penjelasan padaku.” dress putih berbahan ringan di atas lutut yang Kiara  kenakan terangkat saat ia berkacak pinggang, aura pembunuh bayaran menguar jelas di wajah wanita campuran Korea Swedia itu.

Chanyeol tersenyum, ia memanggil satu pelayan dan memintanya untuk mengendong Tyra ke kamar tidur putrinya. Pria itu melepaskan jas abu-abu yang dipakainya, mendekati Kiara dan berdiri di depan wanita yang hanya setinggi bahunya jika tanpa sepatu hak tinggi. Tanpa kata Chanyeol melilitkan jasnya ke sekeliling pinggang ramping Kiara, mencium kening wanita itu lalu membalikkan badan. Chanyeol sedikit membungkuk, lalu menarik tangan Kiara untuk melingkar di bahunya, dalam satu gerakan cepat kini Kiara sudah berada di atas punggungnya.

“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Kau mau aku mulai dari mana, Nyonya Park?” Chanyeol berjalan pelan menaiki anak tangga, tersenyum saat Kiara menarik napas panjang lalu bersandar nyaman di bahunya.

“Sehun membeli Jiyeon, kenapa Oppa tidak mencegahnya?”

“Dari mana kau tahu?”

Oppa…,” Kiara  kembali berdecak kesal.

“Jiyeon salah satu pegawai kebersihan di kantor Sehun…,”

“Apa? Pegawai kebersihan?”

“Jangan menyela ucapanku, Kiara Park?” Kiara hanya memajukan bibirnya, kembali mendengarkan Chanyeol. Ia sangat hafal jika suaminya itu sangat tidak suka jika ada orang menyela saat dia bicara, termasuk dirinya. Hanya Tyra yang Chanyeol izinkan untuk menyela ucapannya.

“Sehun sudah merasa tertarik saat pertama kali dia melihat gadis itu, awalnya Sehun pikir itu hanya perasaan sesaat. Tapi ternyata tidak. Sehun menjadi sangat panik saat sadar jika gadis itu sudah tidak bekerja di kantornya. Dia bahkan sampai menelan obat tidur yang sudah dua tahun terakhir ini tidak dijamahnya, keadaan Sehun seperti saat delapan tahun lalu.”

Chanyeol menurunkan Kiara dari punggungnya setelah mereka berada di kamar, menarik jas yang masih melilit di pinggang Kiara lalu membuangnya ke lantai kamar.

“Kau tahu Sayang, Sehun menghancurkan apartemennya saat dia berada di Paris, hanya karena tidak menemukan Jiyeon di sampingnya saat dia terbangun.”

“Ap… apa?” mata Kiara melebar, wanita itu tampak benar-benar terkejut.

“Aku juga tidak percaya. Usahaku selama sepuluh tahun berakhir sia-sia.” Chanyeol melepaskan kemeja putih yang ia kenakan lalu membuangnya asal di lantai.

“Lalu karena itu Sehun menikahi Jiyeon?”

“Benar.” Chanyeol membelai wajah Kiara, menelusuri pahatan nyaris tanpa cela dari wanita yang selalu Chanyeol klaim sebagai malaikat hatinya. “Aku dan Jongin tidak akan membiarkan Sehun kembali terpuruk, karena jika itu sampai terjadi, akibatnya bisa sangat fatal.” Chanyeol menggenggam jemari Kiara lalu menciuminya lembut.

“Tapi kita juga tidak bisa mengorbankan Jiyeon?”

“Ayah Jiyeon sering memukuli gadis itu. Seharusnya Jiyeon bersyukur, karena Sehun dia terbebas dari ayah tirinya yang kejam.” Chanyeol merangkul pinggang Kiara, menariknya perlahan hingga jarak mereka terpangkas habis.

“Apa Jiyeon memiliki kekasih?” Kiara menahan bahu Chanyeol saat pria itu hampir saja menciumnya, membuat Chanyeol berdecak kesal.

“Iya Jiyeon memiliki kekasih. Tidak masalah ‘kan? Selama dia belum menikah, pria lain masih berhak memilikinya.” tanpa Kiara sadari tangan Chanyeol sudah menarik resleting dress yang dia kenakan, dalam satu tarikan yang terampil dress itu pun sudah beringsut di lantai.

“Tapi…,”

Suara Kiara  menghilang saat Chanyeol tiba-tiba sudah mengulum penuh bibirnya, melumatnya, menikmatinya penuh gairah. Chanyeol menjatuhkan tubuh keduanya di atas ranjang, ia menghisap bibir manis Kiara hingga wanita itu mendesah tertahan. Desahan Kiara semakin terdengar saat Chanyeol mulai menyentuh dadanya, menciuminya seraya menarik paksa pakaian dalam berwarna hitam berenda yang Kiara gunakan. Namun kegiatan Chanyeol tertunda ketika Kiara menjambak rambutnya.

Oppa ini keluaran Victoria’s Secret limited edition,”

“Lantas…?” Chanyeol berdecak, merasa kesal karena Kiara menghentikan kesenangannya.

“Jangan merusaknya.”

“Apa peduliku. Aku akan menggantinya, kau bisa membeli sebanyak yang kau mau.” ucap Chanyeol lalu kembali menarik paksa pakaian dalam Kiara, namun sia-sia karena bra hitam itu tak juga mau terlepas.

Melihat wajah kesal Chanyeol Kiara tertawa geli, ia menelusupkan tangannya ke belakang punggung, melepaskan pengait pakaian dalam itu dan melemparnya sembarangan ke lantai. Kiara mengangkat sedikit tubuhnya, menyambut bibir panas Chanyeol dalam lumatan panjang yang basah.

Oppa…,” Kiara kembali menjambak rambut Chanyeol, mendorong wajah pria itu hingga ciuman mereka terhenti.

“Apa lagi?!” Chanyeol sedikit berteriak, ia benar-benar kesal sekarang. Namun Kiara justru hanya kembali tertawa kecil, wanita itu sangat senang jika melihat wajah kesal Chanyeol tiap kali ia memberi jeda saat pria itu sedang mencumbunya.

“Apa menurutmu Sehun tidak terlalu kejam pada Jiyeon?”

Chanyeol menghembuskan napasnya kasar, berusaha menahan gairah yang sudah bergelora hebat di tubuhnya. Namun pria itu tak bisa melakukannya, tubuh polos istrinya lebih mengiurkan. Ia selalu merasa tidak bisa berhenti jika sudah menyentuh Kiara, dan sekarang Chanyeol  benar-benar sudah tidak berniat menjawab pertanyaan Kiara, setidaknya untuk saat ini.

Oppa?”

“Tidak sekarang Kiara…,” Chanyeol bersiap melanjutkan serangannya, tapi bukan Kiara namanya kalau tidak membuat urat kesabaran Chanyeol nyaris putus.

Oppa, belum menjawab pertanyaanku yang terakhir.”

“Apa???”

~000~

 

Jiyeon berjalan nyaris tertatih saat memasuki rumah besar Sehun, kendati sejak kemarin ia sudah berada di rumah pria itu, namun tidak ada satu pun yang menarik minatnya walau semua hal di rumah itu sangat mewah dan elegan. Tangga besar yang meliuk mewah di tengah ruangan, membingkai lukisan besar 3D menjadi pemandangan pertama yang Jiyeon lihat saat ia memasuki rumah itu. Rumah Sehun didominasi warna putih dengan ukiran sewarna kuning keemasan di sepanjang pinggiran langit-langit dan bagian atas pintu. Sebagian besar lantainya dilapisi karpet kashmir dengan kualitas terbaik, dinding kaca yang berjejer, pilar-pilar penyangga, semuanya terlihat kokoh dan mewah.

Jiyeon tidak tahu ada berapa ruangan di rumah besar Sehun, namun dari beberapa ruangan yang ia lewati atau sempat ia masuki semuanya sangat mewah. Dari langit-langit selalu menjuntai lampu hias yang gemerlap, lukisan-lukisan indah dalam bingkai keemasan, terlihat kontras bersanding bersama sofa besar dengan warna dan gaya yang selalu berbeda di tiap ruangan.

Jiyeon mulai menaiki anak tangga, gadis itu sudah tidak memakai gaun pengantinya, tapi sebuah gaun merah berbahan ringan, sebatas lutut tanpa lengan dengan potongan dada bulat yang tidak terlalu rendah. Hadiah pernikahan dari orang tua Chanyeol untuknya. Kakinya juga sudah beralas stiletto warna merah, sedikit lebih terang dari gaunnya. Wajah Jiyeon masih sama pucatnya seperti saat pesta pernikahan digelar, rambutnya yang tergerai tampak menutupi setengah wajahnya saat ia berjalan terlalu menunduk.

Langkah Jiyeon terhenti saat ia menabrak seseorang, ia mendongak, mendapati Sehun yang sejak tadi berjalan di depannya berhenti tiba-tiba. Pria itu menatapnya lekat, memutar knop pintu yang berada tepat di samping tubuhnya. Tanpa kata Sehun menggenggam jemari Jiyeon yang dingin, menarik gadis itu untuk memasuki kamar. Jiyeon masih bungkam walau tak bisa dipungkiri jika ia sempat terkesiap, mendapati kamar Sehun yang luas.

Tak banyak perabotan di kamar itu. Hanya ada ranjang tidur ukuran besar di tengah ruangan, di atas kepala ranjang terdapat lukisan yang sangat indah berbingkai keemasan. Dua kursi dengan sandaran tinggi ada di sisi kanan ranjang. Di ujung kamar ada sofa besar, menghadap layar tv LED 60 inch yang menempel di dinding. Kamar itu terlihat semakin mahal dengan dua lampu hias yang menjuntai mewah dari langit-langit, dikelilingi beberapa lampu kecil yang menyorot di sepanjang pinggir plafon.

Jiyeon berhenti di muka pintu, tak berniat melangkah di atas karpet coklat bermotif yang menutupi hampir semua bagian lantai kamar, membuat Sehun juga ikut berhenti.

“Pelayanku sudah membuatkan teh hangat untukmu.” Sehun menunjuk cangkir teh yang ada di atas nakas, tepat di sisi ranjang.

“Aku ingin membersikan diri. Biasakan dirimu dengan kamar ini, karena mulai sekarang ini kamar kita.” ucap Sehun seraya melepaskan genggamannya, berjalan memasuki kamar mandi lalu menghilang di balik pintu. Meninggalkan Jiyeon yang masih memaku di tempatnya berpijak.

~000~

 

Kiara menggerakkan kedua kakinya, menopang dagunya di atas kedua tangannya yang terlipat di dada Chanyeol. Wanita itu kini tengah berbaring di atas tubuh Chanyeol, menikmati lagu A Thousand Years milik Christina Perri yang dinyanyikan pria itu untuknya.

“Sejujurnya aku tidak setuju dengan rencana ini,” bibir Kiara mengerucut memandang Chanyeol yang hanya tersenyum, tangan pria itu masih menelusuri punggungnya yang terbebas dari selimut dengan sentuhan lembut yang protektif.

“Ini tidak adil untuk hubungan Jiyeon dan kekasihnya. Bagaimana jika mereka sudah merencanakan masa depan?”

“Aku juga menikahi seorang gadis yang telah merencanakan masa depannya dengan pria lain, dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Wanita itu kini hidup bahagia bersamaku, bahkan sampai sisa umurnya habis di dunia ini.”

Kiara terdiam, memandang Chanyeol yang kini telah memiringkan tubuhnya, mengapai selimut lalu menutupi tubuh polos mereka berdua, menarik Kiara untuk tenggelam di dalam pelukannya.

“Kita berbeda.”

“Aku hanya memberi contoh. Tidak ada yang salah menikahi gadis yang belum menikah.”

“Tapi Jongin dan Sehun telah membuat satu keadaan dimana Jiyeon tak punya pilihan, bukankah itu terlihat kejam.” Kiara menenggelamkan wajahnya di dada Chanyeol yang hangat, mendesah tertahan untuk meluapkan hal yang sejatinya bertolak belakang dengan nuraninya.

Kiara sudah tahu semuanya dari Sehun. Ia yang sangat peduli dengan krisis kemiskinan dunia dan perlindungan hak-hak perempuan, merasa jika sekarang dia sedang menghianati dirinya sendiri.

“Yah, mungkin itu satu hal yang salah dalam masalah ini. Tapi percayalah…,” Chanyeol menunduk, memberi kecupan hangat dan dalam di pelipis Kiara, berusaha menenangkan istrinya yang Chanyeol tahu pasti sedang gundah.

“Akan ada banyak hal indah yang terjadi setelah ini.”

“Aku harap begitu.” jawab Kiara ragu. “Karena jika itu tidak terjadi, aku akan merasa sangat bersalah pada Jiyeon.”

Chanyeol mengeratkan pelukannya, menghujani puncak kepala, pipi dan bahu Kiara dengan kecupan hangatnya. Berharap kegundahan Kiara cepat berlalu, karena Chanyeol juga mengharapkan hal yang sama untuk Jiyeon dan juga Sehun.

~000~

 

Jiyeon duduk memaku di pinggiran ranjang, menatap jari-jarinya yang sudah membeku selayak salju, memeluk erat cangkir putih berisi teh yang harus diminumnya, menemani rasa pesakitan yang kian mendesak air mata untuk turun dari pelupuk matanya. Kepedihan ini terlalu menyakitkan, bayangan wajah Yixing bersama mimpi-mimpi mereka tentang masa depan berputar acak di benak Jiyeon. Menghujam jantungnya selayak belati, mengoyak tanpa ampun hingga Jiyeon tak bisa bernapas.

 

“Maaf… maafkan aku… maafkan aku Yixing Oppa.”

 

Pandangan Jiyeon kian kabur, selaput bening di ujung mata kian menebal seiring rasa bersalah yang datang mengrogoti seluruh hatinya. Ia telah berjanji akan selalu menjadi detak jantung untuk Zhang Yixing, untuk selalu berada di sisi pria itu hingga kematian Tuhan menjemputnya suatu hari nanti. Namun kenyataannya ia menghianati Yixing, menghianati satu-satunya pria yang dicintainya di dunia ini.

Susunan kenangan mulai memakinya ketika setetes air mata jatuh melewati tulang pipi, menudingnya tak punya hati dan memaksa Jiyeon untuk menghapus semuanya. Namun Jiyeon tidak bisa melakukannya, Yixing terlalu berharga untuk dihapus. Jiyeon memilih memberontak, mengabaikan status dirinya yang sudah terikat dengan pria lain. Jiyeon berlari, mengejar kenangannya bersama Yixing yang perlahan mulai membelakanginya. Berjalan menjauhinya.

“Oppa, sejauh apa Perancis  itu?”

“Perancis ?” kening Yixing berkedut, tersenyum sekilas saat Jiyeon mengangguk.

“Oppa tahu, aku ingin sekali ke sana suatu hari nanti.”

“Perancis  sangat jauh Jiyeon. Melewati benua dan lautan yang sangat luas, jika menggunakan pesawat akan menghabiskan waktu puluhan jam.”

“Benarkah?”

“Hemm… begitulah.” Yixing mengusap kepala Jiyeon dengan senyum yang mengembang.

“Apa suatu hari nanti, kita bisa ke sana?”

“Memangnya apa yang ingin kau lihat disana?” kening Yixing mengernyit, tak paham dengan keinginan tidak masuk akal dari malaikat hatinya itu.

“Kita.”

“Apa?”

“Kita dan kebahagiaan.”

“Aigoo, gadis kecilku, sudah pandai membual sekarang.” Jiyeon terkekeh, menghambur dalam pelukan Yixing. Tertawa bersama mimpi-mimpi mereka yang indah.

Bayangan Yixing memudar ketika tetesan air mata Jiyeon kian deras berjatuhan ke dalam cangkir teh yang bergerak-gerak karena tubuhnya gemetar, menahan isak hingga wajahnya tertunduk kian dalam. Jiyeon tidak sadar jika sejak tadi sosok Sehun berdiri di dekatnya, menatap terluka untuk semua kesedihan yang ia ciptakan untuk gadis itu. Tangan Sehun mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya, membuang rasa bersalah dan memilih untuk bersikap egois.

 

Dia membutuhkan Jiyeon. Dan akan mempertahankan gadis itu apapun caranya.

 

“Kenapa belum diminum?”

Jiyeon terlonjak, ia mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan, lalu menjawab Sehun dingin dan datar. “Aku sedang tidak ingin minum teh.”

“Aku tidak bertanya kau sedang ingin atau tidak untuk minum teh, Jiyeon. Aku ingin kau minum teh itu segera, sebelum aku menyakitimu.”

“Sejak awal kau sudah menyakitiku, Oh Sehun.”

Jiyeon melempar cangkir teh ke tembok di sampingnya hingga hancur berkeping-keping, tak peduli saat serpihan cangkir mengenai tangannya. Jiyeon bangkit dari duduknya, pandangannya begitu datar, tanpa ekspresi. Menatap menantang sosok Sehun yang tampak mengatubkan rahangnya begitu rapat, gigi-giginya pun sudah beradu, pria itu menahan emosinya yang mulai tersulut.

“Aku tidak mau minum teh Oh Sehun, kau dengar itu?!”

Tatapan Sehun berubah dingin, mata hitamnya terlihat kian gelap dan menakutkan. Ia menyambar pergelangan tangan Jiyeon, mencengkramnya kuat hingga Jiyeon merintih karena tulang tangannya terasa retak.

“Kau yang memilihnya Jiyeon, jangan salahkan aku jika aku menyakitimu. Lebih dari yang kau bayangkan.”

“Aku muak denganmu! Aku sangat membencimu. Apa salahku padamu? Kenapa kau menghukumku seberat ini,”

“APA SALAHKU OH SEHUN!!!”

“Kesalahanmu adalah…,” Sehun mencengkram Jiyeon lebih erat. “Kau datang ke hidupku dan membuatku takut kehilanganmu!”

Jiyeon terdiam, napasnya memburu kian cepat, menatap  Sehun penuh kemarahan dan kebencian hingga wajahnya kaku. Tiba-tiba saja Sehun menarik tangan Jiyeon yang digenggamnya hingga tubuh gadis itu menabrak dadanya, lalu langsung melumat tanpa ampun bibir Jiyeon yang bergetar.

Ciuman itu kasar dan penuh rasa pesakitan dan penyesalan, Sehun semakin merapatkan tubuh mereka berdua ketika Jiyeon berusaha memberontak. Gadis itu memukul dan mencakar bagian tubuh Sehun yang bisa digapainya, terus meronta sekuat tenaga. Namun Sehun justru semakin kasar, pria itu meraih tubuh Jiyeon dan setengah membantingnya ke ranjang. Merobek gaun merah yang dikenakan Jiyeon, menghisap habis seluruh permukaan bibir Jiyeon dengan penuh gairah. Tangannya menangkup dan menekan dada gadis itu dengan kasar, menjelajah tiap jengkal tubuh Jiyeon yang masih meronta. Ia mengapit satu tangan Jiyeon dengan sangat kuat, mengapit kaki gadis itu hingga semua usaha Jiyeon untuk melepaskan diri terasa sia-sia.

Gairah, ketakutan dan kemarahan sudah menguasai Sehun sepenuhnya, ia sudah tak peduli jika apa yang dilakukannya menyakiti Jiyeon, tak peduli saat gadis itu menangis di bawah himpitannya. Keinginan untuk memuaskan hasrat yang telah membakar dirinya, membuat Sehun melumat bibir Jiyeon tanpa ampun, tanpa jeda bernapas, hingga Jiyeon terengah-engah karena hampir tak bisa bernapas. Jiyeon menahan desahannya sekuat tenaga, sentuhan sensual Sehun yang terkadang lembut mulai mengusik sedikit rasa gairah di tubuhnya. Namun rasa takut dan kebencian masih membuatnya sadar, membuat Jiyeon kembali berusaha meronta bersama air mata yang semakin tak terbendung, meleleh dari kedua matanya

Sehun menatap nanar wajah pucat Jiyeon, perlawanan gadis itu mulai habis termakan oleh air mata yang terus mengalir. Sehun ingin berhenti namun terlambat, Jiyeon benar-benar membangkitkan hasrat paling liar di dalam tubuhnya meski gadis itu terang-terangan menolaknya. Sehun harus menyelesaikannya, tapi ternyata semua tidak berjalan seperti yang Sehun perkiraan. Tepat saat Sehun ingin melepaskan diri, saat itulah Jiyeon menyebut nama satu pria yang seketika membuat emosinya kembali tersulut dan akhirnya membuat Sehun menghajar Jiyeon tanpa ampun.

~000~

 

“Song Jiyeon!!!”

 

Seketika Yixing terlonjak, matanya membuka lebar dan napasnya memburu tak beraturan. Seorang pasien yang ada di balik tirai, di samping ranjangnya, memberi peringatan agar Yixing tidak membuat keributan.

“Yixing Hyung, kau baik-baik saja?”

Yixing menoleh, mendapati Junkyu sudah ada di sampingnya, bocah laki-laki itu tampak mencemaskannya.

“Junkyu.” ucap Yixing pelan, ia baru sadar jika ia berada di rumah sakit, banyak luka di wajah dan tubuhnya.

“Aku dan ibu langsung kemari setelah menemui Jiyeon Noona, aku dan ibu sangat mengkhawatirkanmu Hyung.”

“Jiyeon, dimana dia? Apa dia baik-baik saja?” seketika Yixing merasa dadanya sesak, merasa kesedihan yang teramat sangat tiba-tiba memayungi hatinya.

Hemm…,” Junkyu mengangguk. “Hari ini Jiyeon Noona menikah dengan Sehun Hyung. Noona terlihat sangat cantik…,” ucapan Junkyu terputus saat suara sang ibu yang baru kembali dari membeli minuman di kantin rumah sakit mengintrupsi.

“Junkyu.”

“Ibu.”

Jieun menatap Yixing yang menerawang, ia tahu dengan pasti jika pria itu tengah menahan kesedihan yang tak akan bisa dipahaminya.

“Junkyu, bisakah mau menunggu di luar sebentar? Ada yang perlu ibu bicarakan dengan Yixing.” Junkyu mengangguk mengerti dan langsung meninggalkan ruangan.

Jieun menatap Yixing, tersenyum samar bersama air mata yang entah mengapa kini sudah mendatangi kedua soket matanya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada padamu dan Jiyeon, tapi kemarin ada seorang laki-laki bernama Sehun yang datang padaku dan meminta Jiyeon untuk menjadi istrinya. Aku memang tidak mengenal laki-laki itu, tapi… hari ini saat aku bertemu Jiyeon, putriku sudah siap dengan gaun pengantinnya.” Jieun meremas tangannya gusar, memandang Yixing yang semakin memaku, wajah laki-laki itu pucat pasi, matanya mengisyaratkan sejuta kepedihan yang membuat Jieun merasa sesak.

“Aku melihat keluarga laki-laki itu menerima Jiyeon dengan hangat walaupun mereka dari keluarga yang sangat kaya, mereka bahkan menyambutku dan Junkyu selayak keluarga.” suara Jieun mulai tercekat saat melihat air mata menetes dari sudut mata Yixing, ia meraih tangan Yixing yang terbebas dari selang infuse. Menatap dengan penuh kasih sayang dan penyesalan yang teramat dalam, Jieun tahu jika luka yang Jiyeon torehkan untuk Yixing sangat dalam.

“Kau laki-laki terbaik yang pernah bersama putriku, aku benar-benar minta maaf jika kini Jiyeon menyakitimu.” Jieun tak bisa membendung air matanya. “Sejak dulu aku selalu menganggapmu sebagai keluargaku sendiri, aku harap kau bisa memaafkan putriku. Sampai kapanpun kau tetap keluargaku, Zhang Yixing.”

Yixing mencengkram kuat pinggiran ranjang saat Jieun beringsut dari ruangan, tak peduli dengan luka yang masih mengnganga di punggung tangannya. Hatinya lebih sakit dari luka fisiknya, tubuhnya sudah beku dan mati rasa. Ia meremas pakaiannya di depan dada, tubuhnya membungkuk, menahan semua sesak yang mendera jantungnya, terasa seperti ada belati tajam menancap begitu dalam disana. Air mata mulai semakin tak bisa Yixing bendung, ia menangis, menahan triakkan pesakitan yang tak mampu keluar dari tenggorakannya yang terasa terkunci.

Seluruh tubuhnya bergetar, kesedihan sudah menjalar di tiap aliran darahnya, menyayat dan menghancurkan di tiap urat nadinya. Yixing menangis sendirian, tenggelam dalam rasa bersalah karena Jiyeon harus menanggung semuanya seorang diri. Song Jiyeon melindunginya, mengorbankan dirinya sendiri dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, tak ada yang lebih disesali Yixing dari ini semua. Ia kembali mengerang, teriakkannya terhisap oleh air matanya. Yixing meratap, meluapkan semua penyesalannya pada Jiyeon, penyesalan yang takkan sanggup dimaafkan oleh dirinya sendiri.

“Maafkan aku… Song Jiyeon.”

TBC

Hi EXO-L

Mudah2an part ini gak lewat dari PG-17+ soalna di versi asli yang ada blog saya part ini ratingnya NC-17 … NC sengaja saya skip biar kalian gak repot minta-minta Password.

Gak masalah ‘kan? Yang penting jalan ceritanya, ya gak?

Enjoy dan ditunggu komen kecenya. XOXO

 

 

21 thoughts on “The Gray Anxiety (Chapter 4)

  1. Aaaaaa jiyeeeooonnn maafkan akuu yang sudah berprasangka buruk padamu di chapter sebelumnyaa. Kuakui kamu memang menderita karna sehun yang terlalu egois, kupikir sehunlah yang menderita karna kamu.. Hngg hngg😭 Be strong yaa jiyeon..

    Jjanggg

  2. Yixing kasihan bngeett ;-(
    lebih kasihan lagi jiyeon
    aduh sehun sadarlah, baik sedikit kenapa ?
    Tpi keknya aku salpok deh thor, aku lbih suka scenenya chanyeol-kaira, so sweet gmna gitu, chanyeollie emng paling romantis deh, dn itu apa coba si tyra maksa jongin untk mnikahinya ? Dasar yh😀, bagian ini kalo gk slah chapter 3 yh thor tp gk papa komennya dsni aja😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s