Timeless (Chapter 1)

Timeless Poster

Timeless Chapter 1 (Flashback)

 

Author  : Yoonra_Lee

Cast :

  • Xi Luhan (Luhan EXO M)
  • Lee Yoonra (OC as You)
  • You’ll find in this story

Ficlet : Chaptered (3.393 Words & DANGER TYPO BERTEBARAN!!! )

Genre : Romance,  Sad,Hurt, and Angst

Rating : GENERAL

FB/Twitter/IG : Lee Yoonra Luludeer/ @shiney_lee/@luludeer2029

Author Say’s : Hello Author yang udah setahun 10 bulan menghilang dari dunia perfanfic-an nonggol (?) langsung saja yeth tanpa mau beralay ria, cus aja langsung baca.DON’T BE SILENT RIDERS OK !!  see you di next chapter >> >

 

Keabadian adalah kata yang mustahil akan ‘dimiliki’ setiap  manusia, seperti kata pepatah tua “Manusia tak ada yang abadi”. Ya, keabadian itu adalah semata milik tuhan selaku pecipta alam semesta ini.

 

Sekali pun itu, hati dan perasaan ini juga bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudahnya kau dustakan.

 

 Aku mencintaimu, hanya mencintaimu.

 

Kau lah yang selalu di sisiku, hingga membuatku menjadikanmu Kebutuhanku.

 

Tetapi, ketika kelak kau lebih dulu pergi menghadap-Nya dariku.

 

Bisakah aku menganggap ’Cintaku padamu adalah suatu Keabadian?

***

 

August 4, 2014

07.30 AM

 

 

Yoonra POV

Ku tatap layar televisi itu dengan tatapan kosong. Entahlah apa yang sekarang tengah di siarkan benda persegi panjang itu.

“Annyeong Nuna…” Dengan hebatnya suara yang tak asing itu berhasil membuat arwah ku yang tadinya tengah menjelajah jauh entah kemana kini kembali ke tempatnya. Dapat ku dengar langkah kaki yang kuyakini adalah si pemilik suara ajaib tadi, berjalan ke arahku.

“Nuna… Apa yang kau lakukan?” Ucapnya sembari menepuk bahuku sedikit kasar.

Ku berpaling dan menatapnya dalam diam, “ Yak…. Bisakah nuna tak menatapku seperti itu? tatapan kosong itu membuat bulu kudukku merinding , coba lihat!” dengan tampang paniknya ia memperlihatkan kedua tangannya di hadapanku, atau bisa di katakan tepat di depan hidungku.

“Aku tak ingin mencium bau tanganmu Lee Yoon Jae, keumanhe!” seru ku dengan tampang datar.

“Ahhh… akhirnya kau meresponku nuna, hehe”. Namja di hadapanku terkekeh.

Namja kecil itu Namdongsaengku. Ia 8 tahun lebih muda dariku. Biar pun bukan saudara sedarah, tetapi aku sangat menyayanginya, Begitu pula sebaliknya. Yah… Lee Yoon Jae adalah adik angkatku, oh atau lebih tepatnya aku lah kakak angkatnya.

Aku adalah seorang anak yatim piatu dari Panti Asuhan Haengbok, aku di adopsi oleh orang tua Yoon Jae, 16  tahun lalu, ketika itu umurku menginjak 7 tahun. Marga awalku adalah Cheon, tetapi karena aku di adopsi oleh keluarga yang bermarga Lee, maka nama margaku pun di ganti menjadi LEE YOONRA.

 

“Jah… Eomma membuatkan bubur kedelai untuk nuna, rasanya sangat enak. Cobalah!” Yoon Jae menunjukan sebuah kotak makanan yang di bungkus kain berwarna merah dengan motif burung phoenix di seluruh permukaannya.

“Araseo… taruhlah di atas meja makan itu Yoon Jae-ya, aku akan memakannya setelah ini.”

“Ne… “ Dengan patuhnya, ia segera menaruh kotak makanan itu di atas meja makan yang berada di dapur.

Yoon Jae melirik Jam Tanganya. “Oe… Nuna aku akan segera kesekolah, sebentar lagi gerbang akan segera di tutup. annyeonghi gaseyo Nuna.” Setelah ia menaruh kotak makanan itu di meja  makan. Dengan cepat Anak yang tahun ini sudah berada di tahun terakhirnya di Seungri Middle School  itu melesat keluar dari apartemen.

Ku pandangi punggung namja riang itu, sedikit ku sunggingkan ujung bibiku memandangi namja kecil itu yang tengah terburu-burunya memakai sepatu sekolahnya.

Seandainya aku bisa sebahagia Yoon Jae.

Bisikan hati itu terdengar, tanpa sadar ujung bibirku turun dalam jangka waktu sepersekian detik. Sial… mengapa kata-kata itu muncul dan terdengar oleh telingaku lagi? Hebat, hatiku kembali memberikan impuls ke otakku yang mau tidak mau merespon dengan memanggil memori masa lalu yang menyakitkan itu kembali berputar-putar di dalam kepalaku.

“ Aah, Cham, aku hampir melupakan sesuatu. Nuna… Pesan eomma kau harus memakan semuanya, dan sebentar mungkin eomma dan appa akan datang menjengukmu.”

Aku tertegun, suaranya barusan kembali menyadarkanku. “Hmmm Ne…” responku singkat. Mendengar itu ,Yoon Jae menolehkan kepalanya ke arahku, tatapan mata kami bertemu. Tanpa sadar, ku tersenyum kepadanya walau jelas terlihat senyum itu amat sangat di paksakan.

Dapat kulihat ekspresi Yoon Jae berubah, sorot mata yang tadinya ceria tiba-tiba berubah menjadi sorot mata sendu. Ada apa dengan anak itu?  “Nuna… Jebal, jangan terus bersikap seperti itu!”

Kata-kata itu bagaikan panah yang menusuk tepat di hatiku,perih. Tanpa berkata apapun ku tundukan kepalaku berusaha menghindari kontak mata dari anak yang hanya beberapa meter di hadapaku itu,

“Kami sedih melihatmu yang persis seperti orang  pesakitan Nuna.”lanjutnya

Mendengar perkatanya Yoon Jae, membuatku di penuhi rasa bersalah.  Mereka sedih karena ku? Kuangkat wajahku, dan Segera kutarik ujung bibirku hingga membentuk sebuah senyuman tipis, “ Tenanglah, Nuna baik-baik saja!” Hanyalah kalimat itu yang bisa ku  ucapkan untuk sekedar menenangkan hati namja kecil kesayanganku itu.

Selepas perkataanku suasana apartemet yang tidak terlalu luas ini menjadi hening. Tak ada yang bisa ia lakukan, remaja itu hanya menatapku nanar dari depan pintu apartemen yang terbuka lebar.

Sekitar 20 detik, keheningan yang menyelimuti itu berakhir dengan terdengarnya desahan pendek namun dalam dari adik angkatku itu “Aku akan datang lagi ketika jam sekolah telah berakhir.” Ia pun melesat pergi setelah menyelesaikan ucapannya.

“hhhh…” ku hembuskan nafasku kasar. Dengan langkah ringan ku perintahkan kaki ku untuk berjalan menuju dapur. Ku hampiri kotak makanan yang terbungkus rapi itu. Dengan santai ku buka kain yang menyelimuti kotak makanan dari ibu.

Sedikit tersentak, kudapati selembar kertas yang di dalamnya terdapat barisan tulisan rapi.

Makanlah bubur ini anakku, aku membuatkannya pagi ini khusus untukmu. Terakhir kali Eomma menjengukmu Kau tampak kurus sayang. Maafkan eomma yang tidak bisa setiap hari menjengukmu. Oh…iya setelah perkerjaan di kantor selesai eomma dan appa akan menjengukmu lagi, Gidalhae!

 

Saranghaneun uri ddal. Eomma ^___^       

Ku ukir sebuah senyuman ketika membaca surat yang di tulis oleh eomma ini, seketika perasaan hangat menjalar di setiap aliran darahku. Dengan segera ku ambil peralatan makan dan menyuapi bubur kacang kedelai ini ke dalam mulutku. Tentunya, aku tak boleh melewatkan masakan yang di buat special untuk ku ini.

 

 

 

“Wah… Kau sangat beruntung Ra-ya, kau lebih dulu mendapat orang tua angkat dari padaku. Padahal aku setahun lebih lama di tempat ini. Tetapi bagaimana pun juga selamat Cheon Yoon Ra, kini kau mendapatkan keluarga baru sekarang.”

 

“Aniyaa… Oppa adalah satu-satunya keluarga ku, tak ada yang lain.”

 

“Yakkk… aku memang keluargamu,dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Akan tetapi sekarang aku bukanlah satu-satunya. Kau sekarang telah mempunyai orang tua yang akan menyayangimu sepenuhnya. Maka bersyukurlah!”

 

Seketika tubuhku kaku tak bergerak, kembali kilatan memori itu berhasil mengacaukan sistem motorikku. Sendok yang berisi bubur kedelai itu masih berada tepat di depan mulutku. Entahlah tiba-tiba kekuatan untuk sekedar membuka mulut pun sama sekali tak kumiliki, untuk saat ini.

“Aku akan tetap menjadi adik Oppa bukan?”

 

“Pastilah.  Bahkan Sampai cerita kehidupan ini berubah, aku akan tetap menjadi Oppamu. Sampai kapanpun!”

Seketika tubuhku melemas. Sendok yang tadinya ku genggam kini jatuh dan membuat bubur di atasnya berceceran di atas meja makan.

 

“Janji  Oppa tak akan meninggalkanku. Sekali pun aku sudah mempunyai keluarga baru”

 

“Ne… aku berjanji. “

Hatiku kelu, mataku memanas. Ku pukul dadaku yang tiba-tiba menyesak.

“DAN SEKARANG MENGAPA KAU MENINGGALKANKU?” teriakku  frustasi hingga membuat suaraku itu memantul di setiap sudut apartemen ini. Kata-kata itu spontan keluar dari bibirku, karena memori itu.

Ku tenggelamkan kepalaku di dalam lipatan kedua tanganku dan menangis sejadi-jadinya. Untuk kesekian kalinya aku terjebak kedalam labirin masa lalu.  Memori menyakitkan itu kembali menghantui hidupku.

Apakah kebahagian itu telah lenyap di dalam kehidupanku? Ataukah memang aku tak akan lagi bisa merasakannya?

***

DAN SEKARANG MENGAPA KAU MENINGGALKANKU ?

 

***

February 21, 1994

Terlihat sebuah mobil Import Rolls Royce model OV6 memberhentikan lajunya tepat di depan gerbang sebuah Gedung dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Terlihat Papan identitas yang terletak di samping kiri gerbang itu bertuliskan Panti Asuhan Happiness (Haengbok). Setelah gerbang itu terbuka, mobil mewah itu segera melesat masuk ke dalam areal Panti Asuhan.

Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama Panti Asuhan. Terlihat pula seorang wanita paruh baya dengan setelan ala ibu rumah tangga biasa tengah berdiri tepat di depan pintu utama Panti asuhan itu.

“ Annyeong haseyo. Ada yang bisa saya bantu Nyonya? “ Tampak wanita paruh baya itu sedikit membungkukan badannya sebagai tanda  hormat kepada  seorang wanita dengan setelan ‘Nyonya Presdir’ yang tampak lebih muda dari wanita itu keluar dari dalam mobil mewah yang merupakan salah satu dari tujuh mobil import mewah tersebut.

Wanita yang di panggil nyonya itu membuka sunglasses antik yang ia kenakan “Ne… Annyeong haseyo Kang Eomonim. Bagaimana kabar anda? Anda Selalu Sehatkan?”  Wanita itu tampak memberikan senyuman manisnya kepada wanita paruh baya yang tadi di panggilnya Kang Eomonim itu.

“Ne… Syukurlah Nyonya Jang, saya selalu sehat dan baik.” Kini gantian Kang eomonim lah yang memberikan senyum indahnya kepada wanita yang di panggilnya Nyonya Jang itu.

“Ada yang ingin saya bicarakan Kang Eomonim. Bisakah kita masuk terlebih dahulu?”

“Oh… Maafkan aku Nyonya Jang. Silahkan masuk, kita langsung keruanganku saja. Mari Silahkan!”

“Chamkaman…  il Kyeong-ah, keluarlah!”.  Mendengar seruan itu, seorang anak yang kira-kira berusia 3 tahun keluar dari dalam Rolls Royce itu. Setelah berada di luar, Tangan kecil anak itu segera meraih tangan kanan Nyonya Jang yang di ulurkan padanya.

Ketiga orang itu pada akhirnya masuk kedalam Panti Asuhan itu, terlihat banyak anak-anak yang dengan riangnya tengah bermain kejar-kejaran di areal dalam Panti Asuhan. “Eomma mengapa kita kesini?” Bisik anak yang tadi di panggil Il Kyeong kepada seseorang yang tengah merangkul  tangan kirinya itu, Nyonya Jang.

Nyonya Jang mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga anak gadis itu“Sebentar lagi ini akan menjadi tempat tinggal barumu. Dan aku tak perlu lagi bersusah-susah membesarkan seorang anak haram seperti mu!” Bisik Nyonya Jang tajam kepada. Tampak Il Kyeong ketakutan melihat sorot mata penuh kebencian yang di tunjukan padanya.

“Silahkan Nyonya, ini ruangan nya.” Dengan sopan Kang eomonim yang sedari tadi berjalan di depan mempersilahkan Nyonya Jang dan Il Kyeong  masuk duluan kedalam ruangannya tersebut.

Dengan sebuah senyuman, Nyonya Jang segera masuk kedalam ruangan itu tentunya dengan tangan Il Kyeong yang masih dalam genggam erat tangan kanan Nyonya Jang. Menyusul Kang eomonim  masuk kedalam ruangan itu dan mempersilahkan duduk kedua tamunya.

“Apakah yang membawa anda kemari, Nyonya Jang?” Pertanyaan itu membuka percakapan antara ia dan Nyonya Jang.

“Baiklah kita langsung ke intinya saja Kang eomonim. Aku ingin menitipkan anak ini ke Panti Asuhan anda Eomonim.”

“Ada apa? Mengapa anda menitipkan anak cantik ini kepada kami?”

“Untuk itu aku tak dapat memberitahukannya sekarang. Aku akan membayar berapa pun juga asalkan  anda mau mengasuh anak ini, Eomonim.”

“Maafkan saya Nyonya Jang, Panti Asuhan kami hanya mengasuh anak yang betul-betul tak mempunyai orang tua. Jika anda masih mempunyai hati, Rawatlah anak ini dengan baik sendiri!” Dengan tegas Kang Eomonim menolak permintaan wanit di hadapannya tersebut.

“ Kami tidak membutuhkan uang Nyonya. Silahkan cari Panti Asuhan lain yang mau mengasuh anak anda. Untuk Panti Asuhan ini kami menolak mengadopsi anak anda. Terimakasih.”lanjutnya, Kang eomonim segera bangkit dari duduknya. Tetapi tindakannya itu segera di cegat oleh Nyonya Jang dengan meraih kedua tangan Kang eomonim.

“Ku mohon dengarkan dulu penjelasan ku Kang eomonim. Aku menyayangi anak ini, sangat menyayanginya. Akan tetapi….” Nyonya Jang memotong ucapannya. Tampak Kang Eomonim memasang raut muka penuh Tanya.

“Akan tetapi???” Kang eomonim mengulang kalimat yang di terpotong itu dengan penasaran.

“Saat ini aku sedang dalam proses pengobatan Kang Eomonim. Sudah 3 tahun ini kanker payudara menggerogoti hampir di seluruh tubuhku. Aku khawatir ketika aku telah tiada nanti, siapa yang akan merawat anak  ini? aku sangat menyayanginya maka dari itu aku menitipkannya kepada seseorang yang sangat aku percaya seperti Eomonim.”

“……………”

“Ku mohon Kang Eomonim. Kau tahukan suamiku baru saja meninggalkanku seminggu yang lalu? Jadi kelak ketika aku menyusul suamiku secara otomatis anakku ini akan menjadi seperti anak-anakmu yang lainnya? Jebal-eo eomonim tolong aku. Hikss hikss hikss”

“Selagi… aku masih mempunyai kesempatan, ijinkan aku memintamu secara langsung eomonim” Sambung Nyonya Jang dengan di dalam tangisan palsunya.

Luluh,Kang eomonim menepuk bahu Nyonya Jang  lembut.

“Araseo… Jang Hye In aku akan merawat anak ini dengan baik.” Ucap Kang eomonim lembut.

“Gomapsumnida… Neomu gomapsumnida Eomonim.” Balas nyonya Jang penuh syukur, segera mencium tangan Kang Eomonim sebagai tanda terimakasih.

“Baiklah … aku akan kembali ke Seoul untuk mengambil pakaian Il Kyeong. Ku titipkan dia eomonim.”

“Araseo… serahkan dia padaku. Fokuslah pada pengobatanmu Hye In-ah.”

“Ne… Eomonim.”  Nyonya Jang segera keluar dari dalam ruangan Kang eomonim tersebut, sekilas tampak sebuah senyum puas terukir jelas di kedua sudut bibir nya.  ‘Akhirnya aku dapat menyingkirkan anak haram itu, walaupun dengan sedikit kebohongan. Hah… Ini semua salah mu Yeobo, seandainya sedari awal kau tak pernah berhubungan dengan pembantu sialan itu hingga menghasilkan seorang anak . Maka ini semua tak akan pernah terjadi.’ Tanpa menoleh kebelakan, dengan segera wanita itu mempercepat langkahnya menuju keluar gedung  Panti Asuhan tersebut.

Setelah di tinggal Nyonya Jang, Il Kyeong tak beranjak sedikit pun dari posisinya. Ia masih diam mematung di tempatnya ”Baiklah siapa nama lengkap anak manis ini?” Seru Kang eomonim kepada anak berusia 3 tahun di hadapannya itu.

“Joesonghamnida… Saya tidak mempunyai nama” itulah Kalimat pertama yang keluar dari bibir mungil anak 3 tahunan itu sembari menundukan kepalanya,siapapun dapat menangkap aura dingin di setiap bait kata demi kata dalam kalimat tersebut.

Merasa aneh, Kang eomonim berkata “Ne ? jangan bercanda sayang, bukankah tadi ibumu memanggilmu il kyung?”

“Aku hanya tidak menyukainya, Nae Ireumi” balas anak itu singkat.

Seketika suasana hening menyelimuti ruangan tersebut. Kang eomonim di buat bingung akibat perkataan anak yang tepat duduk di hadapannya, dan anak itu pun tak berkata sepatah katapun setelahnya.

 

“Eum…Ku mohon bisakah anda memberiku identitas yang baru aku, aku hanya tidak ingin mengingat mereka kembali.” Kini keheningan sejenak itu buyar. Akan tetapi Kang Eomonim menjadi semakin bingung dengan perkataan anak itu untuk yang kedua kalinya,

“Ne? Bisakah kau menjelaskan apa maksudmu sayang?”

“Nama ini di berikan oleh ayah yang meninggalkanku bersama eomonim jahat itu. Aku benci mereka.” Suara anak itu mulai bergetar,Ia menambahkan “Aku…Aku hanya membenci ibu dan ayah yang pergi ke surga tanpa mengajakku bersama mereka hiks hiks” titik-titk cairan bening menetes jatuh ke pangkuan kecil anak itu.

Melihat itu, Kang eomonim segera membawa anak itu kepelukannya. Ia pun menyadari, semua perkataan Nyonya beberapa menit yang lalu adalah sebuah kebohongan semata.

Kang eomonim berusaha menenangkan anak berambut panjang tersebut dengan mengelus rambut hitam lebatnya.“Maafkan eomonim sayang… eomonim terlambat menyadarinya, seharusnya eomonim…” belum selesai, anak itu memotong “Jangan… aku tidak mau kembali dengan ibu monster itu, ku mohon ijinkan aku tinggal di sini.” Anak itu mengangkat kepalanya, tampak sorot mata sendu di pancarkan oleh anak berusia 3 tahun tersebut.

 

Mendengar perkataannya, Kang eomonim tersenyum. Ia menghapus air mata yang masih bercucuran di pipi anak di hadapannya itu.” Baiklah anak manis. Mulai detik ini Bangunan besar ini adalah rumahmu, aku adalah ibumu, pekerja-pekerja di sini adalah paman dan bibi mu, dan anak-anak di panti asuhan ini adalah teman,kakak, dan adikmu. Ok ^^”

Tampak Anak berusia 3 tahun itu sangat senang atas ucapan Kang eomonim barusan. Ia pun memeluk erat Kang eomonim “ Terimakasih eomonim.” Ucapnya.

“Baiklah, sekarang bisakah kamu memberitahukanku nama mu siapa?” pertanyaan itu sontak membuat anak di dalam pelukannya itu mengendurkan pelukannya.

“Mm… jeo mollaseoyo eomonim. Aku akan memikirkannya.”

“Baiklah selagi kau memikirkannya, aku akan mengantarmu ke kamar barumu. Ikutlah!” Ajak Kang Eomonim melepaskan pelukannya dan mengulurkan  tangan ke pada ‘putri barunya’ itu , “ Oh… iya, jangan memanggilku dengan sebutan eomonim lagi, panggil aku eomma mulai dari sekarang, ne?”

Anak itu hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil tanda setuju.

Dalam perjalanannya ke kamar, Kang eomonim dan anak itu tiba-tiba di kagetkan oleh sebuah suara yang menginstruksi mereka “Kang Eomonim …Kang Eomonim.” Sontak kedua insan itu berbalik kepada  sang pemilik suara.

“Ada apa Se Ra-ya?”

“Eotteokhe Eomonim, tubuh Hye Sun tiba-tiba panas lagi. sampai ia menggigil eomonim”

“Mwo… bukankah dia sudah sembuh kemarin?”

“Entahlah eomonim, sepertinya kita harus membawanya kerumah sakit lagi.”

“Baiklah… tapi bagaimana dengan anak ini. aku harus mengantarkannya dulu ke kamar.” Panik, Kang eomonim menatap anak perempuan yang masih setia merangkul tangannya itu.

Untuk kesekian kalinya sebuah suara asing menginstruksi mereka bertiga, “Aku akan mengajaknya bermain terlebih dahulu eomma. Anda silahkan bawa Hye Sun ke rumah sakit terlebih dahulu.”

“Ah… Luhan-ah,  neo wasseo. Baiklah, kau ajak putrid eomma berkeliling dalu yah. Aku dan Se Ra Nuna akan membawa Hye Sun kerumah sakit. Dowajuseyo Han-a”

“Araseo, eomma.”

Kang eomonim melepaskan kontak fisiknya dengan anak itu lembut. “Sayang… Bermain lah dengan Luhan oppa dulu ne, eomma harus membawa putri eomma lainnya kerumah sakit.” Ijin Kang eomonim. Sekali lagi anak itu hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

Dengan terburu-buru Kang eomonim segera meninggalkan sepasang anak kecil tersebut dan berlari bersama Yeoja muda yang tadi di panggilnya Se Ra.

“Nan Luhan, neon?” Luhan mengulurkan tangannya kepada gadis kecil di hadapannya.

“Nan Ireumi eobsoyeo. Kau bisa memanggilku apa saja.” balas anak gadis itu dengan ekspresi wajah datar.

“Yak… dangsin-eun nongdami-eo ?, mana ada seseorang yang tak mempunyai nama di dunia ini?” Tanpa merespon ucapan Luhan barusan, anak itu segera melangkah kan kakinya keluar menuju ke areal tempat anak-anak lain bermain.

“Yak… eodi ganeungeoya? kkajiga! “

Tanpa memperdulikan ocehan Luhan, anak itu terus melangkahkan kakinya ke tempat tujuannya. “Yakkkk dengarkan aku. Heiiii” Dengan cepat Luhan segera meraih tangan kecil anak yang berusia  setahun lebih muda darinya itu. Bagaimana tidak,  Setelah tadi hampir saja seorang anak lain yang tengah bermain kejar-kejaran hampir menabrak anak itu. Well, bisa di bilang Luhan menyelamatkan anak itu dari kecelakaan kecil yang hampir menimpanya.

“Lihat kau hampir terluka kan.” Ucap Luhan lembut sambil tersenyum kepada anak di hadapannya.

Menyadari tanganya berada dalam genggaman anak laki-laki di hadapannya. Anak itu dengan kasar melepas kontak fisiknya tersebut.

Dalam kepala anak berusia 3 tahun itu ia sudah menyusun strategi bagaimana ia dapat menjauh dari anak lelaki yang setahun lebih tua darinya itu. Ya… berlari sekuat mungkin hingga tak dapat terkejar adalah salah satu cara yang ia pikirkan.

Tetapi belum sempat rencana itu terjadi, anak perempuan tersebut telah lebih dulu mengurungkan niatnya ketika mendengar ucapan anak lelaki yang berdiri tepat di hadapannya tersebut. “Aku tak nyaman jika hanya memanggilmu dengan sebutan Hey atau Kau. Kamu tidak mempunyai nama bukan, bagaimana sekarang jika aku membuatkan sebuah nama untukmu.”

“Apa yang kau katakan? Kau akan menamaiku?” Kini anak perempuan itu memfokuskan kedua bola matanya ke Luhan.

“ Baiklah… Mulai sekarang namamu Cheon Yoonra!” Ucap Luhan dengan suara  yang sengaja di buat-buatnya menjadi berat, Oh… sepertinya anak berusia 4 tahun itu tengah meniru gaya bicara presiden korea yang ia lihat di tv kemarin malam, sangat lucu.

Sedangkan anak perempuan di hadapannya hanya menatapnya bingung.“Cheon Yoonra? Dari mana kau mendapat nama itu?”

“  Entahlah… Cheon Yoonra mengingatkanku dengan kata Cheonsa. Kau cantik seperti malaikat. “ Ucap Anak berumur 4 tahun itu dengan burat merah muda yang sangat kentara di kedua sisi pipinya.

Awalnya Anak perempuan akan berkata “Bukankah itu tidak masuk akal? Itu tidak ada hubungannya” akan tetapi setelah melihat burat merah muda yang terlihat jelas di kedua sisi pipi cubby anak laki-laki bermata layaknya bayi rusa membuat perutnya menjadi geli seketika “hahahahahahahahah… Kau tampak lucu dengan ekspresi seperti itu.”

“Eo wae…Ada apa dengan ekspresiku?” kini gantian Luhan  lah yang menjadi bingung sekarang. Ada apa dengan anak berumur 4 tahun itu?

“Hahahahah… lihat sekarang ekspresi mu berubah Oppa,”

“Mwoo… Kau memanggilku apa tadi?”

“Oppa…” Luhan terseyum mendengar perkataan anak perempuan itu.

Tiba-tiba Anak perempuan itu mengulurkan tangan Kanannya “ Baiklah… kita ulangi perkenalan kita, Nan Cheon Yoonra, neon?”

Mendengar itu Luhan tersenyum. Anak berusia 4 tahun itu menyambut uluran tangan anak perempuan di hadapannya.“Margaku Lu dan nama tengahku Han, Luhan. Hobi ku bermain bola. Idolaku Christiano Ronal…..” Belum sempat Luhan menyelesaikan Ucapannya, Yoonra dengan cepat memotong nya. “Yakkk… aku sedang tidak menulis biodata tentang mu oppa. Geumanhe.”

“Heheheh… Araseo.”

“hehe” Yoonra terkekeh geli melihat tingkah  lucu anak di hadapanya itu.

Seperti Sihir mood Yoonra yang tadinya sangat buruk akibat kejadian memilukan sejam yang lalu kini berubah menjadi baik kembali. Tak perlu di tanyakan lagi alasannya, tentulah sikap Konyol dan easy going Luhan lah yang merubahnya.

Yoonra tersenyum kepada Luhan, Luhan membalas senyuman itu.

Yoonra meraih jemari kecil Luhan “ Oppa… aku mengalami sesuatu yang  sangat buruk hari ini. “

“Sesuatu yang buruk  seperti apa?” Tanya Luhan bingung. Yoonra kembali tersenyum kepada Luhan “Aku akan menceritakan nya kepada oppa nanti. Yang jelas saat ini aku sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi,di dunia ini.” Raut wajah Yoonra berubah ketika mengatakannya. Anak perempuan itu menundukan kepalanya dalam-dalam.

Tersentuh, Luhan mengusap lembut rambut hitam legam anak berusia setahun lebih muda darinya itu “Kau tak sendiri, Mulai saat ini aku adalah keluargamu.” Mendegarnya, Yoonra mengangkat kepalanya hingga membuat sorot mata keduanya bertemu.

Tiba-tiba jari kelingking Yoonra terangkat ke atas ”Luhan oppa janji. Oppa akan menjadi keluargaku satu-satunya mulai detik ini.” Luhan tersenyum, anak laki-laki itu membalas dengan menautkan jari kelingkingnya kecilnya di kelingking Yoonra.

“Ne… Aku berjanji. Aku adalah keluarga mu satu-satunya dan  tak akan pernah meninggalkanmu sendiri.”

Dengan kelingking kecil yang saling bertautan. Luhan mengucap janjinya untuk selalu berada di sisi Yoonra.

***

Kau menemukan aku,

Kau mengubah ku,

Itulah mengapa aku menjadi terbiasa dengan kehadiranmu,

Terbiasa dengan senyum,celotehanmu,pelukan,dan kasih sayang mu.

Akan tetapi, mengapa kini kau pergi meninggalkanku sendiri di dunia kejam ini?

Sebatang kara…

Kini aku sebatang kara di dunia yang penuhi oleh drama memuakan ini.

.

.

.

.

To Be Continue

 

Iklan

2 thoughts on “Timeless (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s