High School Of The Dead (Chapter 2)

HSOTD

HSOTD

~ HIGH SCHOOL OF THE DEAD CHAPTER 2 ~

 

Author                 : Riska Junaini

Genre                    : Horror, Psychology, Supernatural, Mystery, Romance

Rating                   : Teen

Length                  : Chaptered

Cast                       : Kim Hana (OC), Xi Luhan, Oh Sehun

 

Ingatlah bahwa ini hanya cerita fiksi dimana segala sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi. Cerita ditulis untuk kepentingan hiburan semata dan tidak bermaksud merugikan atau menjelekkan pihak manapun. Harap untuk tidak merepost fic ini di tempat lain tanpa seizin saya ^^~

 

DO NOT COPY MY STORY

DON’T READ IF YOU DON’T LIKE

~~~

Mataku terpaku pada sosok yang berseragam sama sepertiku. Gadis cantik dengan rambut panjang yang tergerai hingga punggungnya. Kulit dan bibirnya sangat pucat seperti seorang pesakitan. Ia berdiri sangat dekat tepat di depanku dengan pandangan memohon. Wajah yang sama dengan jasad seseorang yang kini tengah menjadi pusat perhatian dan perbincangan. Tangisan beberapa orang – yang merupakan temannya – pecah. Sosok itu masih menatapku dengan pandangan menyedihkan.

 

“Kenapa aku harus membantumu, Choi Sulli?”

 

Aku berucap dengan sangat lirih agar tak didengar oleh murid-murid di sekitarku. Untuk memperkecil anggapan bahwa aku bertingkah aneh karena bicara sendirian. Beruntung murid-murid di sekitarku sangat sibuk dengan spekulasi mereka masing-masing mengenai kejadian saat ini, jadi mereka tak begitu memperhatikan orang lain.

 

“Aku tidak melakukan bunuh diri.”

 

Keningku berkerut. Bingung dan bertanya-tanya akan pernyataannya barusan. Aku mulai memikirkan setiap kemungkinan dibalik kematian Choi Sulli. Pertama, gadis itu ditemukan dalam keadaan tewas akibat gantung diri. Kedua, adanya sebuah kursi di lokasi kejadian yang diduga menjadi pijakan untuk mencapai tali. Ketiga, dipastikan bahwa tak ada luka fisik pada jasad Choi Sulli. Terakhir, berdasarkan apa yang kudengar dari murid-murid lain, ia memang mengalami depresi akibat masalah keluarga dan nilai sekolahnya yang turun drastis hingga ia harus berada di peringkat seratus alias terakhir. Ditambah lagi kasus bunuh diri akhir-akhir ini meningkat di Korea, jadi itu semua memperkuat bukti bahwa ia melakukan bunuh diri. Lalu kenapa ia mendatangiku dan mengatakan bahwa ia tidak melakukannya?

 

“Percayalah padaku, Hana.”

 

Satu-satunya yang terpikirkan olehku setelahnya adalah ‘Choi Sulli dibunuh oleh seseorang’. Namun, banyaknya kejanggalan dibalik pemikiran itu membuatku ragu. Jika memang Choi Sulli dibunuh lalu kenapa si pelaku tak melukainya? Apa si pelaku sengaja agar terlihat seolah-olah peristiwa tersebut murni sebuah bunuh diri? Lalu kenapa si pelaku memilih sekolah sebagai tempatnya? Dan bagaimana pelaku tersebut bisa memasuki pekarangan sekolah dengan mudahnya? Ditambah lagi ia mengetahui letak gudang ini – tempat yang hampir tak pernah terjamah di sekolah.

 

“Tidak! Itu tidak mungkin!”

 

Aku terlalu banyak berpikir hingga akhirnya berspekulasi macam-macam. Aku segera menipis semua anggapan bodohku. Mengalihkan pandanganku pada beberapa guru yang entah kenapa tampak cemas. Disaat penting seperti ini penglihatan ‘istimewa’ justru tak berfungsi sama sekali. Benar-benar kemampuan yang tak berguna.

 

“Panas!” “Panas!”

 

“Daiyu? Sulli? Kenapa?”

 

Mataku membulat saat dua sosok itu berteriak histeris. Dalam hitungan detik sosok Daiyu – yang selalu bersamaku – menghilang entah kemana tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Suhu di sekitarku pun tiba-tiba terasa panas dan sepertinya murid lain juga merasakannya meski tak separah dua ‘makhluk’ yang berada di sekitarku. Aku mulai gugup tanpa alasan yang jelas.

 

“Tolong… Kim Hana…”

 

“Sulli!”

 

Itu?

 

Aku benar-benar panik saat sosok Sulli perlahan terbakar hingga ia merayap tak berdaya sembari memohon bantuanku. Tanpa sadar aku berjalan mundur dengan degup jantung yang amat cepat. Aku bahkan hampir berteriak saat tangannya hampir meraih kakiku. Namun, sosoknya terlanjur lenyap sebelum sempat melakukan itu. Semua kepanikan itu hilang saat punggungku menabrak seseorang. Memaksaku untuk bersikap seolah tak melihat apapun.

 

Aku takut.

 

“Kau kenapa?”

 

“Apa yang terjadi?”

 

Api merah menyala yang membakar makhluk tak kasat mata. Kemampuan yang sama seperti yang ada pada mata kiriku yang selalu tertutupi poni. Tapi Aku tidak tahu bahwa ada orang lain yang memiliki kemampuan seperti itu. Tingkatannya juga terasa sangat berbeda hingga menimbulkan efek bagi manusia di sekitarnya. Ia melenyapkan sosok Sulli hanya dalam hitungan detik sementara waktu tercepatku ketika melenyapkan makhluk tak kasat mata – yang tentunya mengganggu – adalah dua menit.

 

Siapa orang itu? Dan kenapa ia melenyapkan Sulli?

 

“…Hana! Kim Hana!”

 

“Eh?”

 

“Kenapa kau melamun?”

 

“Tidak. Aku hanya sedang berpikir.”

 

Mengambil seribu langkah untuk menjauh dari Sehun sebelum ia semakin memojokkanku dengan semua pertanyaannya. Aku masih tak habis pikir dengan peristiwa barusan. Aku harus mencari tahu siapa orang yang memiliki kemampuan sama sepertiku. Apa mungkin orang itu sudah mengetahui bahwa aku juga memiliki kemampuan yang sama? Apa orang itu sengaja membakar roh Sulli agar aku melihatnya?

 

‘BRAAKK’

 

“UHUKKK!! LE-LEPASKAN AKU SOO-JUNG!! A-DA A-PA DENGANMU?!”

 

 

Panik.

 

Berhamburan tak tentu arah guna menyelamatkan diri saat Soojung – salah satu teman sekelasku yang merupakan sahabat Sulli – tiba-tiba bertingkah aneh dan mencekik murid di dekatnya. Gadis itu bahkan menggeram dan semakin menjadi saat para guru berusaha untuk menenangkannya. Satu-satunya yang dapat dipastikan adalah Soojung tengah dirasuki sesuatu.

 

“PANAS!”

 

Ia meneriakkan hal yang sama seperti Daiyu dan Sulli sebelumnya. Guru-guru mulai kewalahan saat Soojung mulai bergulingan di tanah sambil menjambak rambutnya sendiri layaknya seorang yang depresi. Menangis dan terus berteriak tak jelas.

 

“Namaku adalah Lee Nami! Namaku adalah Lee Nami!! Namaku adalah Lee Nami!!!”

 

“Lee Nami?”

 

Sepasang mata menatapku tajam saat nama itu terucap olehku. Pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah wali kelasku, Choi seonsaengnim. Giginya bergemeretak sembari mencengkeram bahuku erat. Puluhan pasang mata mulai menoleh ke arahku.

 

“Darimana kau mengetahui nama itu, Kim Hana?”

 

Bingung.

 

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Choi seonsaengnim. Ditambah lagi tatapan murid-murid yang lain membuat nyaliku menciut. Aku tidak mungkin mengatakan pada mereka semua bahwa aku melihat sesuatu tentang sosok bernama Lee Nami itu. Tak semua orang bisa mempercayai pernyataan itu.

 

“Dia yang memberitahukannya padaku.”

 

Aku menunjuk Soojung atau lebih tepatnya sosok yang ada dalam tubuh Soojung. Choi seonsaengnim menghampiri Soojung dan menatap tajam ke dalam matanya. Entah bagaimana Soojung mulai tenang tak beringas seperti sebelumnya. Dilihat dari reaksinya saat mendengar nama Lee Nami, aku yakin Choi seonsaengnim mengetahui sesuatu tentang gadis itu.

 

“Apa itu kau, Lee Yoo Mi?”

 

“Ya.”

 

“Bisakah kau hentikan ini semua? Dia adalah muridku jadi aku tidak ingin dia terluka.”

 

“Aku akan pergi jika rasa panas ini hilang.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Hahahahahaha!! Aku akan pergi… setelah… MEMBUNUH GADIS ITU!”

 

 

“UGHHHH!!!”

 

Sakit!

 

Sejak kapan dia-?

 

Ini benar-benar menyiksa!
Tangannya mencekik leherku dengan sangat kuat hingga tubuhku terdorong menabrak dinding. Benturan keras mengenai bagian belakang kepalaku. Lingkungan sekitarku terasa terombang-ambing. Pandanganku mengabur. Kedua tanganku berusaha sekuat tenaga menyingkirkan tangan Soojung yang mencekik leherku tapi nihil. Lee Nami telah menguasai dirinya dengan sangat kuat. Sembari berusaha melepaskan diri dalam keadaan setengah sadar, aku terus memejamkan mata untuk menutupi mata heterochrome milikku.

 

“Bukan…aku…”

 

“AKU AKAN MENUSUKNYA!!”

 

 

‘GREB’

 

“JANGAN NEKAT!” “KAU GILA!”

 

 

‘TUSUK!’ ‘TUSUK!’ ‘TUSUK!’

 

Eh?

 

Apa yang–?

 

Seseorang memelukku?

 

Bukan, lebih tepatnya melindungiku.

 

“Sehun…?”

 

“Kau tidak terluka, kan?”

 

Aku mengangguk. Wajahnya meringis seolah menahan sesuatu. Tubuhnya perlahan hilang keseimbangan jika saja aku tak menahannya. Tapi ada sesuatu yang terasa mengalir di tanganku saat menyentuh punggungnya.

 

Darah!

 

Dia terluka karena melindungiku. Sebuah pena yang berlumuran darah tergeletak tepat di bawah kakinya. Cucuran darah menghiasi lantai berdebu itu. Semua mata mengarah padaku. Sesuatu yang dapat disimpulkan adalah laki-laki di hadapanku ini telah menyelamatkanku dari amukan Lee Nami.

 

Kenapa ia begitu peduli padaku?

 

Sehun.

 

“Terimakasih…”

 

~~~

 

“Syukurlah kau sudah sadar, Hana.”

 

“UKS?”

 

“Ya, tadi kau pingsan setelah insiden mengerikan itu jadi kami membawamu kemari.”

 

Sudah berapa lama aku tertidur? Apa yang terjadi selama aku tak sadarkan diri? Apa yang terjadi pada Soojung dan sosok mengerikan bernama Lee Nami itu?

 

“Apa kau memiliki hemophobia (phobia pada darah), Hana?”

 

“Tidak, memangnya kenapa?”

 

“Aku mengira kau pingsan karena melihat darah.”

 

Tidak mungkin aku phobia pada darah atau hal menjijikkan lainnya setelah setiap hari melihat wujud-wujud makhluk astral yang wajah dan anggota tubuhnya tak beraturan. Penyebabnya adalah benturan keras pada kepalaku saat Soojung mendorong tubuhku ke dinding sekuat tenaga. Bahkan kepalaku masih terasa berdenyut sampai sekarang.

 

Aku melirik jam yang ada di ruangan. Sudah hampir pukul 01.00 siang. Berarti aku telah tertidur lebih dari tiga jam. Apa saja yang sudah terlewatkan dalam kurun waktu itu?

 

“Seulgi, apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri?”

 

“Semua murid dikumpulkan di aula dan kepala sekolah menyampaikan sesuatu yang membuat kami semua terkejut dan bertanya-tanya.”

 

“Apa?”

 

“Ia ingin agar kepolisian tidak ikut campur atas kasus bunuh diri yang terjadi pada Sulli. Ia juga memperingatkan semua murid untuk tidak membocorkan peristiwa yang terjadi di sekolah pada orang lain selain warga sekolah. Dan memperingatkan kami untuk tidak menyebut nama Lee Nami.“

 

Lee Nami…

 

Siapa sebenarnya gadis itu? Apa kematian Choi Sulli ada hubungannya dengan gadis itu? Kenapa para guru dan kepala sekolah seakan takut saat nama itu terdengar oleh murid-murid. Mengingat sikapnya saat merasuki tubuh Soojung, aku bisa menyimpulkan bahwa ia memang berbahaya. Terutama saat ia menusuk punggung Sehun berkali-kali seolah Sehun hanyalah tahu yang sangat lunak dan mudah dihancurkan.

 

Sehun?

 

“Bagaimana dengan Sehun?”

 

“Ia dilarikan ke rumah sakit.”

 

Aku beranjak dari ranjang dan keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru. Seulgi mengikutiku di belakang tanpa berkomentar apapun. Ia paham bahwa aku tengah khawatir pada orang itu. Ya, aku khawatir pada laki-laki bernama Oh Sehun. Entah sudah berapa kali ia selalu berada di sampingku setiap kali aku mendapatkan masalah.

 

Aku mengetahuinya.

 

Bahwa orang itu memiliki perasaan istimewa terhadapku tapi aku selalu menanggapinya dingin. Aku tidak pandai menunjukkan perasaanku yang sebenarnya. Aku hanya diam dan diam. Aku telah membuat diriku sendiri terlihat payah di depannya tapi ia masih saja melindungiku. Aku terlalu sibuk melihat hal-hal tak kasat mata hingga akhirnya buta pada hal-hal nyata seperti Sehun yang selalu ada di hadapanku.

 

“Luhan!”

 

Ia menoleh. Tersenyum padaku yang entah kenapa sukses membuatku muak. Tentu saja karena itu adalah senyuman mengejek yang seolah mengatakan ‘akhirnya kau memanggilku duluan, peringkat dua’ atau mungkin itu hanyalah ilusi kebencian akibat rasa kesalku padanya yang masih melekat.

 

“Tidak biasanya kau menyapaku, Kim Hana.”

 

“Bagaimana keadaan Sehun?”

 

“Oh? Kau mengkhawatirkannya?”

 

“Jawab saja pertanyaanku.”

 

“Entahlah, aku tidak ikut mengantarnya ke rumah sakit.”

 

“Kenapa kau tidak menemaninya?”

 

“Guru tidak mengizinkanku untuk ikut.”

 

Ada apa sebenarnya?

 

Seulgi akhirnya menyusul langkah cepatku dan tampak terkejut saat menyadari bahwa aku tengah berbicara dengan Luhan. Tentu saja karena sepengetahuannya aku sangat benci pada laki-laki berambut uban itu tapi tiba-tiba saja aku justru bicara dengannya.

 

“Bagaimana dengan jasad Choi Sulli?”

 

“Hanya ada tiga orang guru termasuk kepala sekolah yang mengantar jasadnya ke rumah. Semua sepakat untuk menutupi berita kematiannya agar tak terdengar para awak media demi nama baik sekolah.”

 

Menutupi?

 

Terkesan mencurigakan tapi jika alasannya adalah demi nama baik sekolah maka aku bisa memakluminya. Sekolah ini termasuk salah satu sekolah terfavorit di Korea dan tak pernah terdengar kabar buruk apapun. Jika tiba-tiba berita seperti ini menyebar maka para awak media akan mencari keburukan-keburukan lain tentang SMA Yosen yang akhirnya berdampak pada reputasi sekolah.

 

“Siapapun yang melanggar kesepakatan akan diberi sanksi berat.”

 

Seulgi berucap kemudian. Entah kenapa pikiranku terasa semakin terbebani akan semua hal yang terjadi. Seperti seorang detektif yang dihadapkan pada banyak kasus tanpa petunjuk yang jelas. Padahal aku bukanlah seorang detektif. Sebuah kebingungan yang tak diperlukan.

 

“Aku tidak melakukan bunuh diri.”

 

Hal yang paling membebani pikiranku adalah misteri akan kejadian sebenarnya dibalik kematian Sulli. Apa yang terucap olehnya masih terekam dengan sangat jelas dan terus berputar ulang di otakku. Hal selanjutnya yang menjadi titik fokus adalah seseorang yang membakar jiwa Sulli. Orang yang memiliki kemampuan sama sepertiku. Aku yakin orang itu mengetahui sesuatu dan ia tidak ingin aku mengetahuinya. Itulah alasan ia melenyapkan Sulli yang berusaha memberiku petunjuk.

 

 

“Datanglah ke Seoul Hospital jika kau ingin menjenguk Sehun.”

 

Aku mengangguk. Pria berambut putih itu melenggang dari hadapanku. Aku juga menyuruh Seulgi untuk kembali ke kelas dengan alasan aku ingin sendirian. Padahal alasan sebenarnya adalah karena aku ingin menyelidiki sesuatu dan aku tidak ingin orang lain mengetahuinya.

 

Aku melirik keadaan sekitar yang terasa hening meski beberapa murid terus berlalu-lalang. Terlalu hening hingga terasa tak wajar dan membuat bulu kuduk merinding.

 

Benar juga.

 

Sejak tadi aku tak merasakan atau pun melihat kehadiran makhluk-makhluk itu di sekolah ini. Padahal biasanya mereka bertebaran di setiap sudut sekolah menjaga daerah hunian masing-masing. Namun, entah bagaimana hari ini mereka semua lenyap tak bersisa.

 

Terlalu banyak keanehan yang terjadi hanya dalam waktu satu hari. Ada banyak hal yang menjadi pertanyaan dan entah kepada siapa aku bisa menemukan jawabannya. Sejenak terpikirkan olehku untuk mencari sosok bernama Lee Nami yang masih menjadi tanda tanya besar tapi aku mengurungkan niatku setelah mengingat apa yang berusaha ia lakukan padaku sebelumnya. Lagipula, belum tentu sosok itu masih ada di sekitar sekolah.

 

Choi seonsaengnim.

 

Obsidianku tertuju pada Choi seonsaengnim yang berjalan di koridor sekolah. Memperhatikan murid-murid yang berjejeran di koridor. Namun, di mataku ia tidak sedang memperhatikan melainkan memastikan. Aku teringat akan reaksinya saat mendengar nama Lee Nami dan bagaimana sosok itu berubah tenang saat Choi seonsaengnim datang meski akhirnya tetap menyerangku.

 

Benar!

 

Aku harus menanyakan semuanya pada Choi seonsaengnim. Aku yakin ia mengetahui sesuatu tentang Lee Nami. Aku juga ingin mengorek informasi mengenai keputusan kepala sekolah yang terkesan menutupi sesuatu.

 

“Choi seonsaengnim.”

 

“Oh? Hana? Bagaimana keadaanmu?”

 

“Sudah lebih baik.”

 

“Syukurlah.”

 

“Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, Choi seonsaengnim.”

 

“Tentang?”

 

“Lee Nami dan alasan dibalik keputusan kepala sekolah.”

 

Choi seonsaengnim menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. Memijit keningnya perlahan. Jelas sekali bahwa ia tengah menimang-nimang apakah harus mengiyakan permintaanku atau menghindar.

 

“Baiklah, tapi sebaiknya kita bicara di tempat yang tak terdengar oleh murid lain dan berjanjilah kau tidak akan menyebarkannya pada yang lain.”

 

“Aku janji akan merahasiakannya.”

 

~~~

 

Choi seonsaengnim mengambil sebuah buku besar dan tebal yang tampak usang dari dalam laci mejanya. Terlihat seperti sebuah album foto. Ia mengusap cover buku tersebut dan tersenyum simpul. Ada sebuah perasaan tak terungkap dibalik senyuman itu. Perasaan yang menggambarkan kesedihan, kesepian, dan penyesalan.

 

“Ini adalah data-data murid SMA Yosen 25 tahun yang lalu.”

 

“Angkatan pertama?”

 

Ia mengangguk. Aku membuka halaman pertama dimana terpampang sebuah foto bersejarah yaitu bangunan SMA Yosen 25 tahun yang lalu. Gedung sederhana yang hanya terdiri atas satu lantai dengan beberapa kelas dan dua lapangan. Keadaannya benar-benar berbeda jauh jika dibandingkan dengan bangunan saat ini yang sudah seperti sekolah internasional.

 

Mataku kemudian terfokus pada halaman berikutnya yang menampilkan deretan nama-nama murid angkatan pertama SMA Yosen. Hanya ada 80 nama yang tertera di halaman tersebut. Sesuatu yang wajar untuk sekolah yang baru dibuka.

 

Choi Jin Woo’

 

Bukankah itu nama lengkap Choi seonsaengnim?

 

Ia tersenyum simpul – lagi – setelah melihat reaksiku. Mengiyakan sesuatu yang bahkan belum sempat aku tanyakan padanya. Aku tidak pernah menduga bahwa Choi seonsaengnim adalah alumni angkatan pertama SMA Yosen. Ia tidak pernah mengatakan mengenai hal itu pada murid-muridnya. Sebagai seorang guru ia sangat profesional dan pintar menyembunyikan hal yang menurutnya tak berhubungan dengan siswa.

 

Choi seonsaengnim meraih buku tersebut. Melewati beberapa halaman hingga akhirnya berhenti pada lembaran yang menampilkan foto-foto siswa angkatan pertama. Mataku langsung tertuju pada foto seorang gadis berambut cokelat dan mata yang juga berwarna cokelat.

 

Lee Nami.

 

Cantik.

 

Wajahnya menggambarkan sebuah keluguan. Dengan senyuman tipis yang membuatnya terlihat cantik. Entah kenapa aku merasa bahwa gadis dalam foto tersebut memiliki kemiripan denganku. Rambut dan mata yang berwarna cokelat kecuali mata kiriku yang berbeda warna.

 

“Aku langsung teringat padanya saat melihatmu.”

 

“…”

 

“Bukan hanya itu.”

 

Alisku bertaut. Menandakan sebuah ketertarikan untuk mengetahui lebih dalam tentang gadis itu. Choi seonsaengnim kembali membuka lembaran berikutnya. Sebuah lembaran yang berisi daftar prestasi siswa angkatan pertama SMA Yosen. Yang membuatku takjub adalah hampir separuh dari daftar itu terisi oleh nama Lee Nami.

 

“Ia adalah gadis jenius sepertimu. Perbedaannya adalah ia gadis yang sangat ceria dan selalu berteman dengan banyak orang.”

 

Secara tidak langsung ia mengatakan bahwa aku adalah gadis pemurung dan penyendiri. Benar-benar seorang guru yang jujur dan apa adanya. Mataku kemudian tertuju pada nama berikutnya yang mengisi urutan kedua dalam daftar siswa berprestasi. Tak lain dan tak bukan adalah Choi seonsaengnim.

 

“Aku selalu berusaha untuk mengalahkannya tapi tak pernah berhasil. Selalu memperhatikan segala hal yang ia lakukan hanya untuk mengalahkannya dan pada akhirnya akulah yang kalah. Kalah karena aku justru jatuh hati pada gadis jenius nan lugu itu.”

 

Choi seonsaengnim menyukai Lee Nami?

 

Jadi itulah alasan mengapa Lee Nami melunak – saat merasuki Soojung – ketika Choi seonsaengnim menghampirinya . Tapi aku masih ragu saat Choi seonsaengnim mengatakan bahwa Lee Nami adalah gadis yang ceria setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku masih sangat terbawa suasana itu dan langsung memberi cap ‘berbahaya’ padanya.

 

“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Lee Nami? Kenapa para guru terlihat ketakutan saat mendengar namanya?”

 

“Lee Nami tewas akibat diperkosa dan dibunuh oleh seseorang bernama Choi Junho. Jasad Lee Nami ditemukan di bangunan tempat dimana Choi Sulli melakukan bunuh diri.”

 

Pemerkosaan dan pembunuhan?!

 

“Yang lebih menarik adalah Choi Junho merupakan sahabat karibku. Kami menyukai gadis yang sama dan Junho menyadari bahwa Lee Nami memiliki perasaan istimewa padaku. Entah bagaimana ia bisa memutuskan untuk melakukan hal keji itu pada Nami.”

 

Sebuah cinta segitiga yang berdarah. Aku tidak menyangka bahwa hal seperti itu benar-benar ada di dunia nyata. Aku turut prihatin saat melihat air muka Choi seonsaengnim yang semakin berubah. Jelas sekali ada rasa kehilangan disana.

 

“Lalu, apa yang terjadi pada Junho?”

 

“Ia mengakhiri hidupnya dengan menegak racun. Setelah itu aku benar-benar putus asa karena kehilangan dua orang yang sangat berharga bagiku. Aku tidak pernah membenci Junho atas perbuatannya karena ia melakukannya atas alasan yang manusiawi.”

 

Alasan yang manusiawi?

 

“Cemburu.”

 

Cinta segitiga yang berakhir mengerikan. Penyesalan yang menimbulkan efek depresi hingga kehilangan akal sehat dan memutuskan untuk mengakhiri hidup. Beranggapan bahwa dengan lenyapnya ia dari dunia ini berarti dosanya telah terhapuskan. Jika aku berada di posisi Choi seonsaengnim maka aku tidak akan pernah memaafkan orang itu.

 

“Beberapa bulan kemudian peristiwa aneh terus terjadi.”

 

“Peristiwa aneh?”

 

“Tanpa alasan yang jelas murid-murid SMA Yosen terus melakukan bunuh diri.”

 

DEG!

 

“Siapa saja yang berusaha melaporkan kejadian-kejadian tersebut ke kepolisian pun akan ditemukan tewas keesokan harinya.”

 

DEG!

 

“Semua murid SMA Yosen pada saat itu menyebutnya sebagai kutukan Nami. Kematian siswa akibat bunuh diri terus terulang setiap tahun tapi kutukan itu akhirnya berhenti saat angkatan pertama lulus. Dan hari ini salah satu siswa ditemukan tewas akibat bunuh diri dan kami para guru yakin bahwa kutukan Nami telah kembali.”

 

Kutukan?

 

Kematian?

 

Itu tidak mungkin. Tidak ada yang namanya kutukan di dunia ini. Kutukan hanyalah sebuah omong kosong yang diciptakan untuk menakut-nakuti seseorang agar tak melanggar aturan.

 

“Tidak ada hal semacam kutukan di dunia ini.”

 

 

‘PRANK!!’

 

Sebuah buku tebal melayang dari arah belakang Choi seonsaengnim. Mengenai tepat bagian belakang kepalanya. Tubuhnya merosot dari kursi yang ia duduki dan tertelungkup di lantai.Ia jatuh pingsan akibat hantaman buku di kepalanya.

 

“Aku setuju denganmu, Kim Hana.”

 

Eh?

 

“Tidak ada kutukan yang ada hanyalah kebohongan.”

 

“Nami…”

 

“Apa kau menyadarinya, Kim Hana? Choi Jin Woo sangat suka angka nol.”

 

 

~ TBC ~

 

Terimakasih buat yang sudah meluangkan waktunya untuk baca fic abal-abal ini. Masih belajar nulis genre mystery jadi kalo masih banyak kekurangan harap dimaklumi. Kritik dan saran akan sangat membantu imajinasi saya untuk chapter selanjutnya ^^~

22 thoughts on “High School Of The Dead (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s