The Gray Anxiety (Chapter 5)

sehun TGA

The Gray Anxiety – Part.5

By : Ririn Setyo

Oh Sehun || Song Jiyeon || Kim Jongin

Other Cast : Park Chanyeol || Zhang Yixing || Kris Duizhang

Genre : Romance ( PG – 17 )

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com  dengan cast yang berbeda.

Sehun mengusap wajahnya berkali-kali, duduk gelisah di sofa hijau yang ada di salah satu ruangan di rumahnya. Teh yang disajikan pelayan beberapa waktu lalu dibiarkan mendingin di atas meja kaca, ia sama sekali tidak berniat minum teh atau menikmati pagi yang hari ini terlihat cerah tak berawan. Rasa bersalah masih bergelayut di dalam benaknya, pagi ini ia sangat panik setelah menemukan Jiyeon yang tak sadarkan diri di sampingnya. Jiyeon demam tinggi, terdapat lebam di beberapa bagian tubuh mulusnya. Sehun sadar jika semalam dia sudah keterlaluan, menghantam tubuh wanita itu berkali-kali dan tidak menghiraukan hal buruk yang akan dialami Jiyeon setelah itu. Emosi dan kekecewaan membuat Sehun lupa, jika dia menyakiti Jiyeon, sama saja dia menyakiti dirinya sendiri.

“Berapa kali kau melakukannya, Sehun?”

Suara Chanyeol membuyarkan semua pikiran-pikiran Sehun, ia melirik Chanyeol yang duduk di seberang meja kaca. Dokter pribadinya itu sudah datang sejak tiga jam lalu, dia datang bersama dokter wanita untuk memeriksa keadaan Jiyeon.

“Aku tidak menghitungnya.”

“Dan kau tidak melakukan pemanasan. Lucu sekali. Kau terlihat amatir.”

Nada sindiran tersirat sangat jelas ketika Chanyeol bicara. Pria itu menumpukan genggaman tangannya di atas dengkul kanan yang ia silangkan dengan kaki kiri, menunggu pembelaan yang ia yakini akan terlontar dari Sehun sebentar lagi. Chanyeol sangat mengenal Sehun, pria itu pasti akan mencari pembelaan sebelum akhirnya mengakui kesalahannya.

“Aku sudah berusaha membuat semuanya menjadi mudah tapi dia menolak. Dia tidak mau minum obat perangsang yang aku tambahkan di cangkir tehnya semalam.”

“Apa kau bilang? Obat perangsang?”

“Iya. Permainan pertama kami akan terlihat mudah jika dia menginginkannya.” Sehun menjawab ragu, ia tidak berani menatap Chanyeol. Bukan. Bukan karena Sehun takut pada Chanyeol, dia hanya terlalu segan pada pria itu. Sehun terlalu menghormati Chanyeol seperti ia menghormati ayahnya atau pamannya, ayah Kim Jongin.

“Kau keterlaluan Sehun, bagaimana bisa kau lakukan itu?”

“Demi Tuhan Chan, aku tidak berniat menyakitinya. Aku bahkan sangat tersiksa saat dia menjerit kesakitan.” Sehun kembali mengusap wajahnya, mulai menyalahkan diri sendiri untuk kejadian tadi malam.

“Tapi nyatanya kau menyakitinya, Sehun. Vagina Jiyeon infeksi, kau tidak boleh menggunakannya selama satu minggu.”

Sehun tidak terlalu terkejut untuk berita itu, dia sudah bisa memperkirakan itu sebelumnya. Semalam dia tidak melakukan pemanasan yang semestinya, tidak menunggu sampai wanita itu siap untuk menyambut tubuhnya. Jiyeon belum pernah melakukan hubungan sex dengan pria manapun sebelumnya, seharusnya Sehun melakukannya dengan hati-hati dan mungkin hanya satu atau dua kali saja. Tapi semalam Sehun menghantam Jiyeon keras-keras, berkali-kali, kasar, dan terburu-buru, tentu saja itu membuat vagina Jiyeon terluka.

Sehun mengusap jari-jarinya, napasnya terdengar gusar. Semalam ia ingin sekali berhenti tapi hasrat yang bergelora di tubuhnya menghalanginya, seorang pria memang akan sangat sulit berhenti jika sudah setengah jalan. Apalagi ditambah rasa marah dan kecewa, yang membuat otak Sehun tidak bekerja sebagai mana mestinya. Sehun menyesal dan Chanyeol tahu pasti tentang itu.

“Semalam dia membuat emosiku tersulut, dia memanggil nama kekasihnya.”

“Lantas?”

Sehun meluruskan pandangannya pada Chanyeol, mencoba meredam rasa kesal yang kembali berbisik padanya. Tapi kelihatannya Chanyeol tidak sependapat, pria itu hanya menatap Sehun datar dan tanpa ekspresi apapun di wajahnya yang tegas dan berwibawa.

“Chanyeol, dia sedang bersama suaminya, tapi dia memanggil nama pria lain.”

“Jangan berlagak amnesia Oh Sehun. Jiyeon mengenalmu baru beberapa hari, kau memaksa Jiyeon untuk menikah denganmu padahal jelas-jelas kau tahu dia sudah punya kekasih. Dia membencimu, kau tahu itu. Jadi pantaskah dia membayangkan malam pertama penuh cinta bersamamu?” suara Chanyeol mulai meninggi, tapi aura wajahnya masih sama, datar dan tanpa ekspresi yang berarti.

“Semakin kau memaksanya, Jiyeon akan semakin menjauh darimu. Dia akan meninggalkanmu cepat atau lambat.”

Sehun hanya diam, dia tidak menjawab ataupun membantah ucapan Chanyeol. Ada gurat-gurat kecemasan yang terlukis kian nyata di wajah Sehun, setelah Chanyeol menuntaskan kalimat terakhirnya. Kecemasan yang memacu detak jantung hingga bertalu terlalu kencang dan membuat Sehun sesak napas.

“Aku tidak akan membiarkannya. Jiyeon tidak akan pernah meninggalkanku, apapun alasannya.”

~000~

 

Sehun memasuki kamarnya yang luas, berdiri di ujung ranjang, di belakang Jiyeon hingga wanita itu tidak menyadari keberadaannya. Ada enam pelayan yang melayani Jiyeon, empat di antara pelayan yang baru saja selesai membantu Jiyeon membersihkan diri tampak menunduk hormat saat menyadari Sehun berdiri di dekat mereka. Sehun melirik Jiyeon yang duduk di pinggiran ranjang, masih dalam balutan handuk mandi yang menutupi dada sampai sebagian paha. Rambutnya yang basah sedang dikeringkan dengan handuk oleh salah satu pelayan, sedangkan pelayan yang lain menyiapkan pakaian, memijat kaki, mengoleskan krim anti bengkak di pundak, pergelangan tangan, dan kaki wanita itu. Wajah Jiyeon pucat pasi, ia masih demam tapi bersikeras untuk mandi. Matanya bengkak, bibirnya gemetar, dia diam seperti patung.

Sehun membatu di tempat ia berpijak, dia ingin sekali bersimpuh di hadapan Jiyeon dan meminta maaf. Tapi Jiyeon tidak mau menemuinya, wanita itu langsung berteriak histeris jika Sehun tertangkap penglihatannya. Seperti tiga jam lalu, saat Sehun ingin melihat Jiyeon yang baru selesai diperiksa oleh dokter wanita yang datang bersama Chanyeol. Jiyeon menjerit, melempar lampu hias di atas nakas ke arah Sehun. Jiyeon benar-benar terlihat takut, tapi juga terlihat sangat marah. Sehun memilih duduk di sofa depan tv, menatap sesekali ke arah ranjang, Jiyeon sedang menyantap makanan di atas meja kayu lipat yang ada di antara kakinya yang terjulur.

Tiga jam Sehun lalui hanya dengan memandang Jiyeon dari sofa, seorang pelayan memastikan jika Jiyeon sudah tertidur setelah menelan beberapa obat. Perlahan Sehun mendekati ranjang setelah sebelumnya memerintahkan semua pelayan untuk meninggalkan kamar, menatap lekat wajah Jiyeon yang tertidur pulas di bawah selimut tebalnya. Ia duduk di pinggiran ranjang, meraih jemari Jiyeon yang dingin selayak es, menggenggamnya erat, menciuminya dengan rentetan kata maaf yang terus dilafalkan Sehun tanpa henti. Sehun membungkuk, membelai lembut pelipis Jiyeon, menyematkan kecupan di kening yang terasa begitu lembut, begitu dalam, meluapkan semua penyesalan Sehun untuk segala pesakitan yang telah ia torehkan pada wanita itu.

 

Sehun menyesal. Sangat menyesal.

 

Seharusnya semalam dia lebih bisa mengontrol emosinya, lebih bisa bersabar dan menunggu hingga Jiyeon terbiasa dengan kehidupan baru sebagai istrinya. Akan tetapi kecemasan dan ketakutan Sehun mengalahkan akal pikirnya, dia sangat takut jika dia menunggu maka akan ada celah bagi Jiyeon untuk melarikan diri darinya.

Sekilas Sehun terlihat seperti pria tidak waras. Menyukai gadis tanpa sebab dan tanpa perhitungan. Sebelumnya Sehun sempat berpikir jika dia menyukai Jiyeon, hanya karena faktor gangguan psikologi yang dia idap. Namun tiap kali ia menatap mata bening Jiyeon, tiap itu juga Sehun yakin jika dia benar-benar menginginkan wanita itu, terlepas dari fakta jika Jiyeon seperti obat penenang yang bisa mengendalikan kecemasaannya.

Dia menyukai Jiyeon tanpa alasan. Terdengar romantis sekaligus menakutkan, Sehun benar-benar tidak bisa menjabarkan kenapa dia bisa tertarik pada Jiyeon. Mungkin Jongin benar, otaknya terganggu setelah Jiyeon menghantam kepalanya dengan nampan. Kejadian tak terlupakan sekaligus selalu membuat Sehun tak mampu meredam tawanya. Jiyeon gadis pertama yang menolak saat ia menciumnya dengan paksa, biasanya gadis-gadis lain yang ditemuinya hanya pura-pura menolak sebelum akhirnya menyerahkan diri mereka di atas ranjang. Jiyeon gadis pertama yang memukul kepalanya. Waktu itu Sehun mengira dia akan menerima tamparan ketika Jiyeon menolak ciumannya, ternyata gadis itu melakukan hal yang lebih mengejutkan.

Sampai sekarang jika ditanya ulang, Sehun tetap tidak tahu pasti kenapa dia begitu menginginkan Jiyeon. Apa setelah nampan cokelat Jiyeon menghantam kepalanya, atau setelah dia menatap mata bening wanita itu. Yang pasti setelah dia sadar, dia sudah menyukai Jiyeon terlalu banyak dan sangat takut jika Song Jiyeon menghilang dari kehidupannya.

~000~

 

Jiyeon membuka mata perlahan dari atas ranjang tidurnya, mengerjab lemah, berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa sakit dari ujung kepala hingga kaki. Sejak dia sadarkan diri tadi pagi, lalu diperiksa intensif oleh dokter wanita Park Jungah dan mengatakan hal yang membuat bulu kuduknya meremang. Jiyeon benar-benar tak ingin melakukan hal apapun selain tidur. Tubuhnya serasa remuk redam, selangkangannya nyeri, bahunya kaku dan sakit, apalagi pergelangan kakinya, bengkak dan mati rasa. Jiyeon tidak ingin mengingat apapun tentang malam pertamanya bersama Sehun, dia bahkan berpikir akan meminum obat yang diberikan dokter lebih dari dosis yang seharusnya agar dia tidak pernah bangun lagi. Tapi apa daya para pelayan yang merawatnya sungguh tidak bisa diajak kompromi, dia juga harus mengurungkan niat menenggelamkan diri di dalam bathtube lagi-lagi karena para pelayan membantunya membersihkan diri.

Jiyeon kembali memejamkan mata, ia benar-benar tidak berniat bangun walau perutnya mulai terasa lapar, entahlah Jiyeon sudah menghabiskan berapa jam untuk tidur hari ini. Rasa hangat dan nyaman yang kini membalut tubuhnya membuat Jiyeon justru mengulung tubuhnya, hingga ia sadar jika ujung hidungnya baru saja menabrak sesuatu. Sesuatu yang berotot dan berdetak. Jiyeon memaksa matanya untuk terbuka, ia juga baru menyadari jika ada tangan kekar yang melingkar di pinggang dan bahunya. Jiyeon mendongak, seketika ia terkejut, menatap wajah pria yang memeluknya. Oh Sehun tengah memeluknya erat, sangat erat. Jiyeon menjerit tertahan saat Sehun mengeliat dan menariknya semakin masuk ke dalam pelukan pria itu, menghilang di balik kedua lengan.

Jiyeon panik, ia mencoba bergerak sekuat yang dia bisa, mendorong dada Sehun yang sepertinya masih tertidur pulas, tangan Jiyeon terangkat dan tanpa berpikir dua kali, ia menghantam kepala pria itu. Sehun terbangun sedetik setelahnya, ia mengaduh, mengusap kepalanya yang berdenyut. Satu matanya terbuka dan menatap Jiyeon, sedangkan yang satunya setengah tertutup, pria itu masih menahan sakit.

“Jiyeon, apa yang kau lakukan?” Sehun masih memegangi kepalanya, memandang Jiyeon yang sudah mundur menjauh dari rangkulannya.

“Kenapa memukul kepalaku?” Sehun masih mengusap kepalanya, ia bangkit lalu duduk di atas ranjang. Sepertinya Sehun baru sadar jika sesaat lalu dia tidur berdua dengan Jiyeon dan saling berpelukan.

Sehun  memutar ingatan, mencoba melangkah mundur dan mengingat semuanya. Bagaimana dia bisa berakhir tidur diranjang sambil memeluk Jiyeon, eoh, bahkan mereka berbagi selimut. Sepintas lalu mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang tak terpisahkan. Dan ya Sehun ingat. Beberapa jam lalu, setelah hanya memandangi Jiyeon yang tertidur, Sehun mendengar Jiyeon bergumam sesuatu dan terlihat gelisah. Lalu Sehun ikut merebahkan diri di ranjang, bermaksud menenangkan Jiyeon yang saat itu tampak semakin tidak tenang. Tapi Sehun justru ikut mengantuk setelah memeluk Jiyeon dan mendapati wanita itu tertidur pulas di dalam pelukannya.

Ia menatap Jiyeon yang tersudut di ujung ranjang, memandang waspada ke arahnya, wanita itu juga mencengkram selimut di depan dada.

“Aku tidak bermaksud buruk,” kata Sehun, masih mengusap kepalanya yang berdenyut. “Aku hanya ketiduran.” lanjutnya lagi.

“Lihat, aku bahkan masih mengenakan kemejaku tadi siang, jadi aku benar-benar ketiduran dan tidak sengaja memelukmu.” Sehun kembali berusaha menjelaskan, meminta Jiyeon untuk meneliti penampilannya. Kemeja hitam bergaris putih pas badan dengan lengan kemeja yang digulung sebatas siku.

Sehun tidak tahu pasti kenapa dia harus repot-repot menjelaskan situasi yang sejatinya tidak penting, tidak ada yang salah jika seorang suami tidur dengan memeluk istrinya, dan berbagi selimut. Namun latar belakang situasi yang cukup rumit di antara mereka memacu Sehun untuk menjelaskan ini itu, dia merasa saat ini Jiyeon menatap takut dan waspada ke arahnya, seolah-olah Sehun adalah pria kejam yang siap melakukan hal-hal mengerikan yang mengancam keselamatan wanita itu.

“Percayalah aku tidak akan menyakitimu lagi.”

Ada rasa perih menjalar di hatinya ketika Jiyeon bergeming, wanita itu masih menatap waspada dan tidak bergerak dari ujung ranjang. Sehun melirik jam besar yang menggantung di dinding, dekat pintu kamar, jarum panjangnya sudah berada di angka dua belas, sedangkan jarum pendeknya sudah berada di angka lima. Itu berarti dia dan Jiyeon sudah tidur selama hampir enam jam.

“Kau… baik-baik saja?”

Sehun bertanya ketika melihat Jiyeon meringis saat berusaha mengerakkan kakinya, ia turun dari ranjang, memutari ranjang dengan cepat lalu berdiri di sisi Jiyeon. Tak peduli ketika Jiyeon terlihat takut, Sehun justru membungkuk, menahan kedua lengan Jiyeon saat wanita itu baru saja akan menjauhinya.

“Maafkan aku—- aku benar-benar menyesal karena telah menyakiti tubuhmu.” suara Sehun sangat rendah, terdengar lembut seperti beludru, menyiratkan sejuta sesal yang berhasil membuat Jiyeon terdiam menatapnya.

Sehun duduk di tepi ranjang, meraih krim anti bengkak di atas nakas. Ia melirik pergelangan kaki Jiyeon yang bengkak lalu mengoleskan krim itu dengan hati-hati, meniupnya sesekali tanpa mengeluarkan sepatah kata. Lalu beranjak, kembali ke tempat semula, perlahan Sehun membuka dua kancing paling atas piyama sewarna safir yang Jiyeon kenakan.

“Aku tidak akan menyakitimu, percayalah.” ucap Sehun saat merasakan tubuh Jiyeon menegang. Dia menyibak piyama hingga bahu Jiyeon yang memar terlihat, Sehun pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada pergelangan kaki Jiyeon.

“Kau lapar?” tanya Sehun seraya meletakkan krim ke atas nakas. “Mau makan sesuatu?” tanyanya lagi, sekarang sudah menghadap Jiyeon, menatap wanita itu, lekat dan hangat.

Tapi Jiyeon tidak menjawab, wanita itu hanya diam ketika Sehun kembali mengancingkan piyamanya. Jiyeon lapar tapi dia masih sedikit takut pada Sehun, meski tatapan dan sentuhan pria itu jauh berbeda dari apa yang dilihat dan dirasakannya semalam. Tiba-tiba tanpa sempat Jiyeon sadari Sehun sudah menelusupkan tangan kanan ke belakang punggungnya dan tangan kiri di paha bawahnya, Jiyeon menjerit, menatap Sehun yang kini berjarak sangat dekat dengan wajahnya.

“Apa yang kau lakukan? Dokter Park bilang kau tidak boleh menyentuhku selama satu minggu penuh.” ucap Jiyeon dalam satu tarikan napas, matanya yang bening masih mengawasi Sehun waspada.

“Aku hanya akan mengendongmu ke meja makan, bukan ingin mengajakmu bercinta seperti semalam, Oh Jiyeon.”

Geram tapi wajah Jiyeon samar-samar merona, menatap Sehun yang hanya tertawa lalu membawanya keluar dari kamar, berjalan menuju ruang makan di lantai bawah. Para pelayan seketika menyambut mereka, senyum kagum penuh rasa iri namun membahagiakan terpancar dari wajah mereka setelah melihat Sehun mendudukkan Jiyeon di kursi makan, mengusap lembut puncak kepala Jiyeon sebelum ikut duduk di kursi, di depan Jiyeon.

Makan sore mereka dilalui dalam keheningan, hanya bunyi alat makan yang terdengar sesekali saat beradu dengan piring. Sehun memandangi Jiyeon setelah mereka selesai makan, ia ingin sekali mengajak Jiyeon berkeliling rumah jika saja kaki Jiyeon tidak bengkak. Sehun juga sepertinya akan membatalkan rencana bulan madu mereka yang sudah dia siapkan, makan malam di restaurant bawah laut yang ada di Abu Dhabi, lalu mengunjungi pulau pribadinya yang ada di Bahamas, dan jika Jiyeon mau, mungkin dia akan mengajak istrinya itu untuk kembali mendatangi Perancis , melihat Menara Eiffel dari dekat, berjalan-jalan di sepanjang sungai Siene sebelum mereka kembali ke Korea.

Sehun bangkit dari kursi saat melihat Jiyeon ingin beranjak, dengan gerakan super cepat namun terlihat sangat hati-hati ia kembali mengendong Jiyeon dengan kedua tangannya. Tak peduli saat Jiyeon mengeluarkan aksi protes dan memaksa untuk turun, Sehun tetap mengendong Jiyeon dan membawanya ke beranda samping. Sehun mendudukkan Jiyeon di atas sofa putih, menghadap kolam renang besar yang beriak tenang. Jiyeon yang awalnya ingin kembali berteriak memaki, mendapati dirinya terpukau hingga tak bisa bersuara, terlalu takjub dengan apa yang kini ada dihadapannya.

Jiyeon mengedarkan pandangan ke penjuru kolam renang, kursi santai di pinggir kolam berjejer rapi di sisi kanan dan kiri. Dari tempat duduknya, Jiyeon dapat melihat ekor pesawat jet milik Sehun yang terbebas dari garasi, terparkir di halaman belakang yang luas. Entah apalagi kemewahan yang belum Jiyeon lihat di rumah Sehun, setelah air mancur besar di halaman depan, pesawat jet di halaman belakang, kolam renang super besar. Jiyeon masih ingat jika Sehun juga punya helicopter dan yarch yang sangat mewah, apartemen pribadi di Perancis dan entah dimana lagi. Kepala Jiyeon berdenyut memikirkan berapa kira-kira jumlah uang di buku tabungan Sehun saat ini.

“Tadinya aku ingin mengajakmu berkeliling rumah atau bulan madu ke manapun yang kau mau, jika saja kakimu bisa berjalan.”

Kalimat Sehun membuyarkan pikiran-pikiran yang Jiyeon pun tidak mengerti kenapa dia memikirkan hal-hal semacam itu, dia tidak suka Sehun, bahkan membenci pria itu sebanyak oksigen yang dia tarik untuk memenuhi paru-parunya. Jiyeon yakin ini hanya euforia semu seseorang yang belum pernah berpapasan dengan kemewahan selama hidupnya.

“Aku tidak pernah bilang jika kakiku tidak bisa berjalan, kau saja yang berlebihan atau mungkin memanfaatkan keadaan.” jawab Jiyeon, ketus dan datar.

“Pergelangan kakimu bengkak Jiyeon, dan— itu… masih nyeri, aku yakin hingga besok, kau belum bisa berjalan sempurna.” ucap Sehun seraya menggaruk tengkuk, mengalihkan pandangan dari pangkal paha Jiyeon ketika ia merasa jika wajahnya dan wajah wanita itu sama-sama bersemu merah.

Hening melanda mereka selama beberapa menit, sampai seorang pelayan datang membawakan teh dan cupcake strawberry kesukaan Sehun.

“Jika kau sudah bisa berjalan…,” Sehun menahan ucapannya saat Jiyeon menyela kalimatnya dengan cepat.

“Aku bisa berjalan.”

“Baiklah. Maksudku, jika kakimu sudah tidak bengkak, kau bisa mengelilingi rumah. Karena akan terlihat aneh jika kau tersesat di rumahmu sendiri.”

“Ini rumahmu, bukan rumahku.”

“Ini rumah kita.”

Sehun meraih cupcake strawberry di atas meja, menikmatinya, santai dan tenang. Berpura-pura tidak melihat ke arah Jiyeon dan terlihat tak ambil pusing saat wanita itu terdiam setelah kalimat terakhir yang dia ucapkan, padahal nyatanya Sehun mati-matian menahan tawa karena rasa bahagia yang melingkupinya saat ini.

Jiyeon keras kepala dan hobi berdebat, itulah kesimpulan awal yang bisa Sehun ambil dari sifat istrinya. Sepertinya Jiyeon juga bukan tipe wanita penakut jika dia diperlakukan tidak adil, kesimpulan kedua yang Sehun ambil setelah mengingat insiden pukulan nampan tempo hari. Ah, apapun itu, Sehun senang dengan segala sesuatu yang melekat dalam diri Jiyeon, istrinya.

Pikiran-pikiran tentang Jiyeon yang akan mengabaikan atau diam seribu bahasa paska tragedi malam pertama mereka, ternyata tidak pernah terjadi. Mereka kini jusru duduk berdua di beranda, menyambut Sang Penguasa Langit kembali keperaduan. Lembayung jingga menggantung di kaki cakrawala, semburat merah, kuning keemasan, berlomba-lomba mencemari langit, selayak gurita yang mengeluarkan tinta, berserakan tapi sangat menawan. Menjadi bonus pemandangan untuk mereka berdua, di senja pertama mereka sebagai suami istri.

Meskipun Jiyeon hanya mengenakan piyama tidur, tidak berdandan dan rambut panjangnya sedikit acak-acakan, tapi bagi Sehun Jiyeon tetap saja terlihat tanpa cela. Dan ketika Jiyeon kembali berdebat tentang kesanggupan kakinya untuk berjalan, bahkan berlari kencang, saat itulah senyum bahagia Sehun terlukis, membingkai wajah tampannya yang berbinar.

~000~

 

Pagi di hari berikutnya Jiyeon bangun setelah Sehun membangunkannya. Sebenarnya Jiyeon sudah bangun tiga puluh menit sebelum Sehun membangunnya, dan ingin sekali turun dari ranjang. Tapi semalam Sehun berpesan dia tidak boleh turun dari ranjang sebelum pria itu bangun, kalau tidak tragedi seperti di Paris akan terulang lagi. Bulu-bulu di tengkuk Jiyeon meremang jika mengingat hal itu. Sehun terlalu sulit ditebak, pria itu bisa berubah watak hanya dalam hitungan detik. Mungkin tipikal penerus tahta yang selalu dimanja semasa kecil, memicu sifat aneh Sehun tersebut. Entahlah Jiyeon tidak tahu, tidak mau tahu lebih tepatnya.

Jiyeon duduk di tepi ranjang, memandang Sehun yang tengah bersiap di depan sebuah kaca seukuran badan. Pria itu terlihat gagah dengan kemeja putih yang dibalut jas Armani biru gelap, berdiri membelakangi Jiyeon, masih sibuk berkutat dengan dasi bergaris selang seling, biru muda dan biru gelap. Jiyeon mendesah pelan, menatap penampilannya yang masih sangat berantakan. Dia belum mandi, masih mengenakan piyama tidur dan rambutnya berantakan selayak Singa. Sejujurnya Jiyeon bingung, tapi terlalu tinggi hati untuk mengakuinya, apalagi untuk bertanya pada Sehun. Dia sudah bertekat akan menjaga jarak dan membatasi percakapan seminimal mungkin dengan pria brengsek itu.

“Apa kau memang tidak terbiasa mandi pagi?”

Ujung sepatu hitam mengkilap yang dikenakan Sehun adalah hal pertama yang Jiyeon lihat setelah pria itu mengajaknya bicara, ia mendongak hanya untuk mendapati Sehun tengah menyisir rambut hitamnya dengan jari ke arah belakang, lalu menggeleng gelengkan kepala beberapa kali sehingga rambut hitamnya yang sehalus sutra itu sudah tertata rapi begitu saja.

“Tidak juga.” Jiyeon menjawab singkat, datar, terdengar sangat tidak minat untuk menjawab.

“Lalu apa yang kau tunggu? Apa kau baru mau bergerak setelah aku tergoda untuk tidak berangkat ke kantor?”

Senyum miring Sehun membuat Jiyeon merasa kesal, ia memicing, menatap Sehun yang justru hanya tersenyum dan mulai membungkukkan tubuhnya.

“Kau mau apa?”

Tubuh membungkuk Sehun semakin dekat, Jiyeon pun membuat ancang-ancang penyelamatan. Ia menyilangkan tangan di depan dada seraya memundurkan tubuhnya, Jiyeon hampir menjerit ketika jemari Sehun tiba-tiba menyentuh helaian rambutnya.

“Kau tahu, penampilanmu yang seperti ini justru membuatku hampir lupa, jika aku tidak boleh menyentuhmu selama satu minggu.”

Dalam gerakan cepat yang terampil Sehun sudah menggulung rambut panjang Jiyeon ke atas, menyambar bolpoint di atas nakas, lalu menyelipkan ke gulungan rambut wanita itu. Sehun juga memberi kening Jiyeon hadiah kecupan lembut yang terasa hangat, hingga cacian yang baru saja akan terlontar dari mulut Jiyeon redam tanpa pernah disadarinya.

“Kau sudah bisa berjalan?” Sehun sudah menegakkan tubuhnya.

“Sejak kemarin aku bisa berjalan.” jawab Jiyeon sengit, wajah terkejutnya beberapa detik lalu belum hilang sepenuhnya.

Oh, baiklah, aku lupa. Istriku bisa berjalan.” Sehun tersenyum sekilas. “Aku ingin menerangkan beberapa hal padamu.” Sehun menyambar jemari Jiyeon lalu menyembunyikannya di balik genggaman, menariknya pelan agar wanita itu mengikuti langkahnya.

“Aku tidak mau ikut denganmu.” Jiyeon berusaha melepaskan genggaman Sehun, namun pria itu bergeming dan tetap menariknya keluar dari kamar.

“Kau harus menemaniku sarapan.”

Jiyeon menahan lengan Sehun hingga langkah mereka berhenti di tengah-tengah tangga besar yang meliuk indah di rumah Sehun, ia menatap Sehun yang menatapnya lekat, bahkan sangat lekat, seolah-olah Jiyeon adalah poros kehidupannya.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu.” Jiyeon mengangkat dagu, memberi kesan menantang yang sayangnya hanya ditanggapi dengan tatapan hangat penuh sayang dari Sehun.

“Pertama aku harus pulang ke rumah untuk mengambil pakaianku. Kedua aku tidak akan melakukan hal-hal yang biasa wanita kaya lakukan. Aku tidak akan membantumu memakai dasi, jas atau semacamnya. Aku juga tidak akan mengunakan dress panjang atau sepatu tinggi, aku juga tidak ingin ke salon, pokoknya semua hal yang biasa orang kaya lakukan. Aku tidak mau.” wajah Jiyeon terlihat galak, satu tangannya berkacak di pinggang.

“Ada lagi?” tanya Sehun, sangat lembut dan tenang.

Hemm…,” Jiyeon berpikir sejenak, tapi sialnya dia tidak bisa berpikir jika Sehun menatapnya selekat ini. Manik gelap Sehun yang tajam namun hangat, benar-benar mengganggunya.

“Pakaianmu sudah dipindahkan, aku juga sudah menyiapkan segala sesuatu hal yang kau butuhkan. Dan perlu kau tahu. Aku tidak akan memintamu melakukan hal-hal yang kau sebutkan tadi, aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau hanya perlu berdiri di dekatku, sebagai istriku. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.”

Sehun kembali menarik Jiyeon untuk menuruni sisa tangga, berjalan menuju meja makan yang telah siap dengan berbagai hidangan sarapan. Sangat banyak mulai dari galbi (iga panggang), spicy seafood salad, oi naengguk (sup mentimun dingin) sampai moo saengchae (kimchi dari lobak yang diiris-iris), semua lengkap tersaji di atas meja, hingga Jiyeon merasa air liurnya hampir meleleh.

“Aku tidak terbiasa sarapan berat, tapi ibumu bilang kau terbiasa sarapan nasi, jadi aku meminta pelayan menyiapkan ini semua untukmu.” ucap Sehun, ia menganduk sebentar mangkuk serealnya sebelum menikmati sarapan favoritnya dengan tenang.

“Ibuku?” jawab Jiyeon saat baru saja duduk di sofa makan.

“Ya, beliau memberitahu banyak hal tentangmu.”

“Apa?” Jiyeon terkejut, di dalam hati ia berharap ibunya tidak mengatakan hal aneh dan memalukan, seperti kebiasaannya yang makan terlalu banyak.

“Aku tidak akan melarangmu keluar rumah, kau bebas pergi kemana pun yang kau suka.”

“Memang seharusnya seperti itu, kalau tidak aku akan terlihat seperti tawanan ketimbang sebagai wanita yang kau nikahi.”

Alis Sehun terangkat satu, ia menatap Jiyeon yang menatap jengah ke arahnya. Ia menawarkan cereal pada Jiyeon tapi wanita itu pura-pura tidak melihat, dan memilih mengambil cangkir tehnya, menyesap teh yang masih terlalu hangat dengan terburu-buru. Jiyeon menggigit lidahnya yang menghangat, dia belum menyentuh sarapannya, walau tak bisa dipungkiri jika dia sudah tidak bisa menahan untuk melahap semuanya.

“Pelayan, penjaga dan supir, akan mematuhi semua yang kau katakan. Jika ada dari mereka yang kau anggap tidak sopan atau mengganggumu, kau bisa memecat mereka kapanpun kau mau.”

Jiyeon meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit bantingan, bunyi benturan antara pantat cangkir dan piring kecil di bawahnya menghentikan niat Sehun untuk meneguk susu strawberry  dari dalam gelas yang sudah berada di depan mulutnya. Dia kembali menatap Jiyeon, wanita itu balik menatapnya tajam, dadanya naik turun, wajahnya menahan kemarahan yang belum dipahami Sehun sepenuhnya.

Cih! Aku bukan orang tak punya hati sepertimu Oh Sehun, aku tidak akan memecat orang seenaknya hanya karena aku tidak suka.”

“Aku tidak memintamu untuk memecat seenaknya, aku bilang “jika” tapi— kalau kau merasa keberatan, kau tidak perlu melakukannya.” Sehun menahan senyum saat Jiyeon mengumpat, terdengar seperti “Mati saja kau Oh Sehun”, ya semacam itu.

“Lakukan apa yang kau suka. Tapi ingat, kau harus sudah berada di rumah sebelum aku pulang atau kau akan melihat rumah ini hancur. Jangan pernah membuat aku cemas, kau mengerti?” Sehun mengatakan hal yang membuat Jiyeon membeku dengan nada sangat biasa, pria itu bahkan tersenyum setelah menuntaskan kalimatnya.

Sehun beranjak setelah menyelesaikan sarapannya, ia menatap Jiyeon lalu membungkuk, memberikan kecupan lembut di puncak kepala wanita itu sebelum berlalu tanpa kata tambahan. Meninggalkan Jiyeon yang terdiam dengan wajah bodoh di belakang sana.

~000~

 

Seorang pria berwajah sangat tampan dengan ekspresi wajah tengik menyebalkan menyambut Sehun di muka lobi kantornya, berdinding kaca tembus pandang, keramiknya yang sewarna mutiara hitam tampak mengkilap hingga orang-orang yang berlalu lalang dapat melihat wajah mereka di lantai. Manik cokelat pria itu yang terlihat lebih besar dari Sehun menyipit, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membuat lengkungan simetris yang apik, hingga menyempurnakan wajah rupawannya menjadi terlihat nyaris tanpa cela.

Pria itu adalah sepupu Sehun yang tampan. Ya siapa lagi kalau bukan Kim Jongin, Sehun hanya punya satu sepupu laki-laki di dunia ini, pria yang memutuskan pulang ke rumah orangtuanya setelah Sehun menikah dengan Jiyeon. Alasannya agar Sehun bisa meniduri istrinya kapanpun dan di manapun, tanpa merasa terganggu oleh kehadirannya. Pria yang ternyata memiliki hobi mengedipkan mata kirinya. Dulu Sehun pernah berpikir mungkin Jongin punya kelainan di mata kirinya, tapi Jongin selalu berpendapat jika yang dilakukannya adalah hal paling keren dan mujarab untuk menggait puluhan gadis dalam hitungan menit.

“Kau terlihat sangat senang, berarti semuanya berjalan baik, benar begitu?” pertanyaan Jongin lebih terdengar sebagai pernyataan, ia menelitik seksama air muka Sehun yang berbinar, lalu menyimpulkan jika sepertinya Sehun sudah berhasil kembali meniduri istrinya tadi malam.

Yeah! Begitulah. Semuanya terlihat semakin terkendali, lebih cepat dari yang aku bayangkan.” Sehun tersenyum saat beberapa karyawannya, memberikan bungkukan hormat ketika melewatinya.

“Dia menyerah?”

“Maksudmu?” kening Sehun sedikit mengernyit, ia ingin melangkah ke dalam lift tapi tertahan karena Jongin kembali berbicara.

“Apa dia sudah ketagihan dengan tubuhmu?”

Sehun meloloskan napas panjang. “Aku ganti rencana,” Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga Jongin, memastikan jika tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka, para karyawannya berlalu lalang melewati mereka tiap dua menit sekali.

“Aku tidak akan menahannya dengan sex, tapi lebih ke hubungan yang lebih manis. Yeah, kau pasti paham maksudku, Chanyeol yang memberi saran.”

Eoh, aku tahu. Cara kuno Chanyeol yang sangat membosankan. Benar ‘kan?” Jongin menjauhkan wajahnya dari Sehun, nada bicaranya sedikit sinis.

“Kau terdengar tidak suka. Masih tidak rela dengan kejadian lima tahun lalu?” tanya Sehun setengah hati, sebenarnya dia tidak ingin membahas ini tapi Jongin yang memulai lebih dulu.

“Tidak juga, hanya saja—-“

“Tidak rela. Akui saja.” Sehun kembali terlihat tersenyum pada karyawannya, sekretaris pribadinya terlihat berjalan terburu-buru menuju lift setelah menatapnya dan memberikan ucapan selamat pagi. “Maafkan aku Jong, untuk kali ini aku berpihak pada Chanyeol.”

“Kau selalu memihaknya.”

“Jongin.” Sehun mengusap bahu Jongin yang menegang. “Kau tahu pasti seberapa penting kalian berdua untuk hidupku.”

Jongin tidak menjawab, ia hanya mencoba berlari menjauh dari tatapan Sehun yang serasa menghakiminya.

“Kau, Chanyeol, dan Kiara adalah saudaraku. Saat kau menyakiti Kiara aku merasakan sakitnya, tapi ketika Kiara bahagia bersama Chanyeol aku juga merasakan euforianya.”

Jongin terdengar tertawa untuk pembicaraan berat mereka pagi ini, terdengar sumbang dan hambar. Pria itu merapikan jas hitam yang dipakainya dan bergegas menghentikan pembicaraan yang selalu membuat Jongin ingin memutar waktu. Ia meminta Sehun untuk berjalan menuju lift yang dikhususkan untuk presiden direktur, membahas masalah proyek kerja sama mereka yang terdengar lebih pantas untuk dibicarakan saat ini.

“Apa pria itu benar-benar berulah untuk proyek baru kita? Aku mendengarnya saat berada di Jepang?” tanya Jongin setelah mereka berada di dalam lift.

“Sedikit. Kris Duizhang kembali membuatku kesal, dia pikir perusahaan kecilnya itu bisa mengusik ketenangan Hemelsky Enterprise.”

Sehun memulai pembicaraan yang sebenarnya di antara mereka, pembicaraan yang membuat Jongin mendatangi kantornya pagi ini. Mereka berdua tengah berada dalam proyek bersama untuk kesekian kali, bekerja sama dengan pemerintah untuk membuat Stadion raksasa bagi negara mereka.

“Dia memang licik dan pantang menyerah.”

Jongin duduk di sofa hitam di ruangan Sehun, ia baru saja memesan kopi pada sekretaris Sehun yang ada di meja depan. Kwon Eunji gadis cerdas, cantik, tinggi semampai, bersurai jingga menyala (sekretaris Sehun yang pernah dirayu Jongin, namun gagal karena Eunji sudah punya kekasih) tampak gugup karena hari ini hampir terlambat datang. Dia juga mengucapkan selamat untuk pesta pernikahan Sehun, mata abu-abu Eunji berbinar saat mengucapkannya. Semua karyawan Sehun telah mengetahui perihal pernikahannya, Sehun tidak terlalu ambil pusing darimana mereka semua mengetahuinya. Mungkin dari berita yang tersebar di surat kabar dan televisi. Beberapa paparazzi berhasil mengambil gambar pesta pernikahan, lalu menyebar luaskan pada hampir sebagian besar penduduk kota yang haus akan berita sensasional.

Pengusaha Oh Sehun menikahi gadis Cinderella yang jelita dalam pesta kebun mewah di kediamaan konglomerat Park Junseok.

Salah satu tajuk besar surat kabar yang Sehun temukan di meja sekretarisnya, setelah Eunji meninggalkan meja menuju pantry.

“Dia menawarkan pemerintah membangun Departemen Store dengan harga murah untuk merekrut pedagang-pedagang kecil agar terlihat lebih rapi, dan mengatakan pembangunan stadion baru dirasa belum diperlukan mengingat negara kita sudah memiliki beberapa stadion yang bertaraf internasional. Jika pemerintah menerima tawaran pria licik itu dan membatalkan pembangunan stadion, harga sahamku pasti akan anjlok.”

“Presiden kita adalah teman dekat ayahmu, dia berhutang banyak pada Hemelsky, mana mungkin dia memberi perintah untuk membatalkan kontrak ini.”

“Pembangunan belum dimulai, kita juga belum menandatangani kontrak kesepakatan, masih ada kemungkinan walau itu sangat kecil. Tapi aku tidak akan membiarkannya, apa dia pikir hanya DuizhangStar Corp saja yang bisa membangun departemen store.”

Yeah, kau benar.” Jongin menyeringai. “Aku harap ada rencana yang menyenangkan.”

Jongin hafal betul siapa Oh Sehun. Pengusaha pintar, tidak takut dalam hal apapun, bijaksana dan ramah, namun akan berubah menjadi pemimpin berdarah dingin jika ada yang mengusiknya. Melibas semua orang yang mengganggu ketenangannya. Oh Sehun adalah salah satu pengusaha paling ditakuti di Korea Selatan.

Obrolan mereka terhenti saat seorang waitress masuk dan membawakan kopi pesanan Jongin, Sehun melirik sepintas pegawainya itu sebelum dia berlalu dari ruangan.

“Kau masih trauma dengan nampan?” tanya Jongin, dia cekikikan dari balik cangkir kopinya yang masih mengepul.

“Sedikit.” jawab Sehun, pikirannya terbang ke saat Jiyeon memukulnya tempo hari. Dan tanpa sadar Sehun mengusap kepalanya, lalu Jongin tertawa terbahak-bahak.

Eoh! Tertawalah sepuasmu Kim Jongin, aku tidak peduli.” jawab Sehun sambil lalu.

~000~

 

“Jadi kita akan mulai dari kamar anda dulu, Nyonya Oh.” ucap pelayan paruh baya yang belakang Jiyeon ketahui bernama Jung Sooim, dia sudah bekerja untuk keluarga Oh, sejak Sehun baru berusia dua tahun.

Awalnya Jiyeon berpikir jika Sooim tidak ramah, meneliti dari raut wajahnya yang kaku dan tidak pernah tersenyum sejak Jiyeon tiba di rumah Sehun. Bentuk wajah Sooim persegi, matanya segaris dan tertarik ke atas, alis tipis, kulit lebih gelap dari orang Korea kebanyakan. Cara bicaranya sangat formal, dan satu lagi, Jung Sooim tidak pernah menjawab lebih dari dua kata tiap kali Jiyeon menyapanya. Tapi ketahuilah jika Jung Sooim adalah orang pertama yang memberinya pelukan hangat dan kata-kata menenangkan, ketika dia ketakutan lalu mengamuk pada Sehun kemarin pagi.

“Bibi Jung, panggil aku Jiyeon saja, tidak perlu pakai nyonya.” Jiyeon menyentuh rambutnya yang sudah tergerai rapi, ia juga sudah memakai dress lucu berwarna ungu, panjangnya jauh di atas lutut dan berlengan kecil. Ada beberapa lipatan berpola di bagian pinggang, membuat dress itu bawahnya agak mekar.

“Baiklah, Oh Jiyeon.”

Jiyeon tersenyum, ia merangkul lengan Sooim dan hanya kembali tersenyum sedikit lebih lebar saat Sooim menatapnya, mereka lalu melangkah ke arah pintu yang sejak kemarin sudah mengusik rasa ingin tahu Jiyeon. Pintu di samping kanan sebelah kamar mandi.

Jiyeon membelalakkan matanya ketika mereka sudah berada di dalam ruangan itu. Lemari kayu yang tersembunyi di dalam tembok dengan pintu kaca mengelilingi ruangan, ada meja besar dan laci-laci kecil di bawahnya tepat di tengah ruangan. Dan mata Jiyeon semakin melebar saat Jung Sooim membuka pintu lemari kaca satu per satu, lusinan pakaian berjejer rapi di sana. Dari pakaian santai, dress tidak terlalu formal sampai gaun-gaun indah yang biasanya hanya Jiyeon lihat di majalah fashion kini ada di depan matanya.

“Ini walk in closet milikmu, Jiyeon.”

“Ap…apa? Milikku?”

“Ya milikmu. Walk in closet Tuan Muda Oh ada di sebelah kanan.” Sooim menunjuk pintu yang ada di ujung ruangan.

“Lalu pintu sebelah kiri itu, adalah tempat untuk menyimpan semua sepatu dan tas milikmu.”

“Ap…apa?” Jiyeon merasa jika kakinya mulai mati rasa saat Sooim mengajaknya ke ruangan yang baru ditunjuknya.

Bagaimana tidak Jiyeon seperti masuk ke dalam toko sepatu super besar, etalase dari kayu dengan rak-rak kecil yang dicat putih mengkilap berjejer rapi di sepanjang dinding, semuanya berisi sepatu yang terlihat mewah dengan limit terbatas. Di rak paling atas berjejer tas bermacam-macam model dan warna dari brand ternama. Satu sofa peach di tengah ruangan, kaki sofa berwarna keemasan, terlihat kontras dengan lantai keramik putih bermotif bintang warna kuning di tiap bagian tengah keramik, dilengkapi juga dengan sofa kecil putih tempat Jiyeon bisa meletakkan kakinya jika pelayan sedang memasangkan sepatu di kakinya kelak.

Ini terlalu menajubkan bagi Jiyeon, namun Jiyeon tetap berusaha focus dan tidak terlena. Tapi… ayolah, wanita mana yang tidak akan tergiur dengan tas dan sepatu? Apalagi jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Jiyeon mengumpat pelan, membuang pikiran-pikiran aneh di kepalanya.

“Dia bukan tipe wanita yang akan luluh hanya dengan ratusan pasang sepatu, ‘bukan?” pikir Jiyeon dalam benaknya, berusaha meyakinkan diri sendiri.

Buru-buru Jiyeon menggeleng, dia membenci Sehun, sangat benci. Karena lelaki brengsek itu dia harus terpisah dari Yixing, Jiyeon juga masih sangat ingat jika Sehun yang memerintahkan Jongin untuk menghajar Yixing hingga babak belur hanya untuk memaksanya menikah dengan pria itu. Yah, Jiyeon tidak akan pernah melupakan hal itu.

“Mari kita lanjutkan, Jiyeon.”

Eoh, iya, mari bibi Jung.” jawab Jiyeon terbata, dia masih sempat melirik deretan sepatu sebelum keluar dari ruangan bersama Sooim.

Ternyata rumah Sehun lebih besar dari yang Jiyeon perkirakaan. Di halaman belakang misalnya, Sehun memiliki bandara sendiri dengan landasan yang berukuran 7.500 kaki atau sekitar 2.280 meter. Pesawat jetnya yang ternyata lebih dari satu diparkirkan di pavilion khusus, di sebelah lapangan tenis. Rumah besar itu memiliki lima kamar tidur, delapan kamar mandi, sepuluh ruangan, termasuk ruang makan, bioskop, dan gudang wine. Kolam renang yang sangat luas, garasi berkapasitas 15 mobil, ruang bilyard, lapangan golf dan taman buah strawberry. Dilengkapi juga dengan banyak balkon dan dapur mewah yang luas.

Sebuah Audi R8 warna biru terang dan salah satu dari tiga Maserati yang terparkir di garasi adalah mobil yang Sehun hadiahkan untuk Jiyeon, ia baru mengetahuinya setelah memasuki garasi mobil.

“Yang di tengah, Maserati putih adalah milikmu. Tuan Muda Oh tidak sempat mengatakan langsung, jadi dia berpesan padaku untuk mengatakannya padamu.”

Jiyeon mengusap bodi mobil yang mengkilap, matanya berbinar. Mobil itu terlihat menajubkan untuk Jiyeon, bahkan deretan mobil mewah di dalam garasi, semuanya membuat Jiyeon merasa berada di Wonderland, dunia Alice Kingsleigh yang tak biasa dan penuh keajaiban.

“Sayangnya aku tidak bisa menyetir, Bibi Jung.” ucap Jiyeon setengah kecewa.

“Kau bisa mempelajarinya nanti.”

Jiyeon hanya menatap Sooim sepintas, lalu menaikkan kedua bahu.

Setelah lelah mengelilingi rumah, Jiyeon memilih duduk sendirian di beranda belakang yang berdinding kaca, menghadap garasi pesawat. Sooim meninggalkannya bersama cookies cokelat dan segelas teh lemon dingin di atas meja. Jiyeon memandang lurus-lurus, menembus apa saja yang berada di jangkauan pandangannya, membawanya jauh ke masa-masa indah bersama orang-orang yang dia sayangi. Dua hari ini Jiyeon berusaha berdamai dengan kehidupan barunya, demi kehidupan orang-orang yang dia sayangi. Semalam ibunya menelepon, membicarakan banyak hal yang membuat Jiyeon merasa muak, senyum getir tampak terulas di ujung bibir ketika Jiyeon mengingat kata-kata terakhir yang ibunya ucapkan semalam sebelum percakapan mereka selesai.

“Berprilakulah sebagai seorang istri yang terhormat tanpa pikiran-pikiran picik yang akan mencoreng martabat dan nama baik suamimu, kau sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk pernikahan ini. Jadi cobalah bertanggung jawab atas keputusan yang kau buat, kau mengerti Jiyeon?”

Jiyeon menunduk, ia memutar-mutar cincin pernikahannya. Cincin batu safir biru yang dikelilingi berlian putih melingkar di jarinya, kilaunya yang mahal dan sanggup menjadikan siapa pun yang melihatnya akan berdecak kagum dan merasa iri, tetap saja tak mampu membuat senyum Jiyeon mengembang. Cincin seharga ratusan juta Won itu adalah cincin terindah yang pernah Jiyeon lihat dan di pakai jarinya selama dia menarik napas kehidupan di dunia ini, tapi sayangnya cincin itu juga adalah pengikat hidup paling sadis yang membuat Jiyeon merasa miris dan teriris.

Jiyeon mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan desakan air mata agar tidak jatuh di pipinya yang pucat. Jiyeon tidak akan menyerah begitu saja pada suratan yang tertulis di hidupnya, dia tidak akan pernah melakukan apa yang ibunya harapkan, karena bagi Jiyeon semua yang dia lakukan sekarang hanyalah sekedar mencari celah untuk bebas dari kekuasaan Oh Sehun. Cepat atau lambat Jiyeon akan lari sejauh mungkin dari pria itu, dari pria kejam yang telah memporakporandakan hidupnya.

~000~

 

Hujan deras mengguyur kota sejak sore hari, trotoar basah, jalanan aspal lebih licin, hitam mengkilap-kilap. Bau tanah menyeruak di halaman belakang yang terbebas dari rumput, bercambur wangi segar nan manis dari deretan strawberry yang siap panen. Udara menjadi lembab dan basah, suhu pendingin ruangan dinaikkan jika tidak ingin susunan tulang menjadi mati rasa. Jiyeon melamun di atas ranjang tidur, ujung kaki sampai pinggang rampingnya tertutup selimut tebal. Sehun keluar dari walk in closet, pria itu baru saja selesai membersihkan diri setelah tiba di rumah sekitar satu jam lalu, ketika hujan turun sangat lebat bersama petir yang menyambar-nyambar.

“Belum tidur?”

Jiyeon menggeleng tanpa jawaban. Ia tidak menatap Sehun sama sekali, pandangannya lurus ke tembok cokelat susu yang ada di depannya.

“Tidak bisa tidur?” Sehun bertanya lagi, lalu naik ke atas ranjang. Dia bisa merasakan tubuh Jiyeon beringsut menjauhi tubuhnya yang sejatinya sudah berjarak.

“Takut petir?” tanya Sehun setelah suara petir terdengar menggelegar di atas atap rumahnya, menyisakan cahaya terang, berkedip-kedip di balik hordeng hijau daun yang menutupi semua jendela kamar. Jiyeon tertangkap penglihatannya, bergidik dan memejamkan mata.

“Aku bukan wanita seperti itu.” jawab Jiyeon ketus, terlihat sekali jika dia tidak suka dengan pertanyaan Sehun yang terdengar seperti pernyataan di pendengarannya.

“Aku tidak suka hujan.” lanjut Jiyeon masih dengan nada yang sama. Jiyeon merebahkan tubuhnya setelah itu, menarik selimut hingga menutupi lehernya.

Sehun menatap Jiyeon yang pura-pura memejamkan mata, ia pun ikut merebahkan tubuh lelahnya, menarik selimut sebatas pinggang. Sehun menelusupkan tangan kirinya di bawah selimut, setelah itu terdengar pekikan tertahan ketika ia menarik tangan kanan Jiyeon lalu meletakkannya di atas dada.

“Hanya untuk berjaga-jaga. Aku tidak ingin kau…,” kalimat Sehun tertahan saat suara melengking Jiyeon terdengar.

“Memangnya aku bisa lari kemana?!” untuk pertama kalinya Jiyeon menolehkan pandangannya pada Sehun, mukanya merah, matanya memancarkan kemarahan.

“Aku bahkan seperti tawanan di dalam istanamu ini.” suara Jiyeon semakin dingin, sedingin udara di luar ketika hujan yang sudah mulai reda kembali turun sangat lebat.

“Bukankah sudah kukatakan, kau boleh ke manapun yang kau mau. Kau bisa menggunakan mobilmu atau meminta supir untuk mengantarmu bepergian.”

“Aku tidak bisa menyetir dan aku takut pada Im Jinhwan. Bahkan semua orang takut padanya, dia mengawasiku seperti pembunuh berdarah dingin.”

“Benarkah?”

Sehun menanggapi hati-hati dan berusaha keras untuk tidak tertawa. Ekspresi wajah Jiyeon ketika mengatakan dia takut pada Jinhwan, terlihat sangat lucu di matanya.

“Dia benar-benar menyeramkan. Haruskah dia selalu berada di jarak pandanganku? Dia bahkan tidak pernah tersenyum— eoh, atau— dia memang tidak tahu caranya tersenyum.”

Kali ini Sehun tidak bisa lagi menahan tawanya, dia tertawa seketika, tidak terbahak-bahak, hanya tawa kecil yang dia perkirakan tidak akan membuat ketersinggungan.

“Dia orang yang paling aku percayai untuk melindungimu.”

“Satu-satunya orang yang akan menyakitiku hanya kau, lalu untuk apa Jinhwan melindungiku?”

Mata Jiyeon berkedip saat suara petir kembali terdengar, lalu setelah itu keadaan kamar jadi sunyi tanpa percakapan, menyisakan suara percikan hujan yang membentur kaca jendela.

“Kau benar…,”

Tiba-tiba Sehun kembali bersuara, membuat Jiyeon yang sudah menatap lampu hias yang menggantung di langit-langit, memalingkan wajahnya pada Sehun.

“… di rumah mungkin hanya aku yang akan menyakitimu,” Sehun berhenti sejenak, ada rasa perih menelusup ke dalam detak jantungnya. “Tapi saat kau sudah berada di luar rumah, akan ada banyak sekali orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan paparazzi yang mengincarmu.” Sehun memiringkan tubuhnya, menatap lekat sosok pucat Jiyeon yang mengeryitkan dahi.

“Apa maksudmu?”

“Sekarang kau adalah Oh Jiyeon. Istri dari pemilik Hemelsky Enterprise, salah satu perusahaan terbesar dan paling berpengaruh di negeri ini. Banyak sekali rekan bisnisku yang berotak picik, berpikir jika aku adalah ancaman dan kau adalah kelemahanku. Menyakitimu diyakini akan membuatku jatuh.”

Jiyeon memaku, ia ingin berpaling namun manik hitam Sehun menguncinya. Kecemasan yang teramat sangat berpendar  nyata di balik manik hitam itu, genggaman tangan Sehun semakin mengerat, Jiyeon juga bisa merasakan jika detak jantung pria itu memacu lebih cepat.

“Apa kau membaca surat kabar atau melihat berita di televisi?”

“Tidak. Bibi Jung melarangnya.”

“Baguslah.” Sehun mengulas senyum samar. “Tidak ada gunanya mengetahui kabar yang dibuat, hanya untuk memanasi situasi hati orang-orang yang merasa dikalahkan olehmu.”

“Apa?”

“Banyak sekali yang menginginkan posisimu, kau mengerti maksudku ‘kan?”

Jiyeon tidak menjawab hingga Sehun kembali ke posisi semula, lalu hening, mereka sama-sama menatap langit-langit kamar bersama pikiran masing-masing.

“Kau tahu Jiyeon,” Sehun kembali bersuara. “Aku merasa jika rumah ini terasa kurang sejak Jongin memutuskan kembali ke rumahnya, meskipun rumah ini juga terlihat berbeda karena kehadiranmu.”

Jiyeon tidak berminat memberi tanggapan, dia membenci Jongin sebanyak dia membenci Sehun.

“Jongin adalah sepupuku satu-satunya, kami tumbuh bersama-sama. Kau ingat Kiara Park?” Sehun melirik Jiyeon sepintas, lalu melanjutkan saat Jiyeon tidak merespon. “Kiara  adalah sabahatku dan Jongin. Aku mengenalnya sejak berusia lima tahun, kami selalu bersama-sama bahkan sampai di universitas.”

“Dia mirip denganmu, hobi berdebat dan sulit diatur.”

“Apa?”

Sehun tertawa lalu kembali memiringkan tubuhnya, ia sangat senang melihat Jiyeon yang menatapnya, kendati wajah gadis itu mengeras.

“Aku rasa semua orang pasti akan berdebat, jika berhadapan dengan manusia sepertimu.”

“Mungkin.” jawab Sehun santai. “Kau tahu, hanya Chanyeol yang bisa mengendalikan Kiara .”

“Dokter Park Chanyeol?” tiba-tiba saja Jiyeon merasa tertarik, dia mulai sedikit menggali ingatan. Walau tidak terlalu banyak, tapi Jiyeon bisa melihat saat pesta pernikahan betapa Chanyeol sangat memanjakan istrinya yang cantik itu.

“Iya Chanyeol. Dia teman dekat kakakku, Paman Park Junseok adalah sabahat orangtuaku.”

“Kakakmu?”

Hemm… almarhum kakakku.”

Eoh, maaf.” Jiyeon prihatin.

“Tidak perlu. Sudah lama sekali, aku bahkan sudah melupakan hari menyedihkan itu.”

“Orangtuamu?” Jiyeon memberanikan diri, sejatinya ia sudah menanamkan keingintahuan tentang orangtua Sehun yang tidak pernah dilihatnya.

“Ayahku sudah meninggal, ibuku— ada di tempat yang jauh. Jika waktunya sudah tepat— aku akan mengenalkannya padamu.” Sehun berpaling, kembali menatap langit-langit. “Tidurlah. Ini sudah lewat tengah malam.” ucap Sehun kemudian tanpa pernah berpaling lagi.

Hujan masih turun ketika Sehun merasakan jika tangan Jiyeon melemas, dia menoleh dan mendapati Jiyeon sudah tertidur. Senyum menghiasi wajah Sehun tanpa sempat ia menyadarinya. Sehun memiringkan tubuhnya, menelusuri wajah pucat Jiyeon di dalam matanya yang berbinar. Tangan Sehun terulur, menyentuh kening Jiyeon, lalu turun ke pipi dan berhenti lama di sana. Wajah Jiyeon sangat dingin nyaris beku.

“Jiyeon— bisakah kau berjanji untuk selalu bersamaku, untuk tidak meninggalkanku seperti mereka, bisakah?”

Sehun membenarkan tata letak selimut yang membungkus tubuh Jiyeon, perlahan dia menelusupkan tangannya di bawah leher Jiyeon, bermaksud untuk memeluk wanita itu. Namun sebelum Sehun sempat melakukannya, Jiyeon sudah menggeliat dan membuat Sehun menahan napasnya. Alih-alih terbangun, Jiyeon justru bergulung ke arah Sehun, membenamkan wajah dinginnya ke dada Sehun yang bergemuruh. Sehun terkesiap, tak bergerak untuk beberapa detik. Ia mengatur napasnya yang seketika terasa pendek, udara dingin di sekitarnya kini terasa hangat, meronakan wajahnya bersama euforia membuncah dari dalam perutnya.

Dan ketika Jiyeon semakin merapat, Sehun memilih untuk mengerakkan kedua tangan, menarik Jiyeon masuk ke dalam pelukannya. Meletakkan ujung dagu di atas kepala Jiyeon, lalu memejamkan mata, terlelap bersama rasa bahagia yang melindunginya dari mimpi buruk masa lalu yang selama ini mengejarnya selayak hantu.

TBC

 

 

23 thoughts on “The Gray Anxiety (Chapter 5)

  1. Ternyata sehun pnya masa lalu yg buruk….ibunya sehun kenapa ya????moga2 aja jiyeon bisa tulus cinta sama sehun…cinta bisa dtg krn terbiasa….

  2. Mian bru bisa komen disini thor 😫
    Lgi Lgi Asyik Bacanya Hehehe

    Sehun buat Ak Gram Dsniiiii , disakitin tu Anak Oraaanngg, kasihan tuuu, uggghhh dasar Emosian Kau Cehun, 😠
    Yang Sabar Aja Jiyeon Ah. . . Smga Sehunnya Insaf Dan Jiyeon bisa nerima Sehunn 😆
    Ayooo Hun Insaf Hahag tapi ntr Yixing otteee??? Bakalan sama suho ntr ??? 😰
    Chanyeol ma Kiara so Sweet uuiyy

    Menarik Thor, lanjutiinn Yaaa Onnieee,
    Penasaraaan Niii 😭😭
    Fighting!!! keep Writinggggg 😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s