BULLETS UND SCHILDE (Chapter 2)

ff.jpg

BULLETS UND SCHILDE CHAPTER 2

Author                  : PutriKim

Genre                   : Action, drama, romance

Lenghth               : Chaptered

Rating                   : PG-15

Main cast             : Thalia lee, Kai

 

 

Previev chapter 1

 

Tubuhku bergetar, isakan demi isakan keluar dari mulutku, remasan di hatiku terasa semakin menyakitkan, ku pukul-pukul gundukan tanah yang ada di depanku, ingin ku salurkan emosiku yang telah memuncak, tapi yang keluar hanyalah tangisanku yang semakin keras.

                “kau bodoh! Kau bodoh! Kenapa kau harus mati!? Hah? Kenapa? Dan kenapa harus perluruku yang membuatmu terbunuh??”

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

Aku berdiri mengamati blazer seragam Saver yang aku letakkan di ranjangku, blazer yang 2 bulan yang lalu menjadi saksi bodohnya diriku, rasanya remasan di hatiku semakin terasa menyakitkan setiap aku mengingat kejadian 2 bulan yang lalu.

Ku alihkan perhatianku pada meja rias, ku dudukan diriku di depan meja rias, ku pakai cc cream, eyeliner tipis, dan sedikit lip balm, make up sederhana ku pun selesai. Ku gulung rambutku serapi mungkin lalu ku jepitkan jepitan rambut pemberian Myungsoo. Setelah selesai dengan rambut dan wajahku, ku buka lemari pakaianku, apakah aku harus memakai blouse? Ah kurasa tidak perlu! Aku terlalu malas untuk serapi itu, ku fikir tank top hitam yang ku pakai sekarang ini sudah cukup untuk tugasku hari ini.

Ku pakai blazerku, ku lihat diriku di depan kaca memastikan penampilanku, aku tersenyum tipis melihat pantulan tubuhku di kaca, aku pun beranjak meninggalkan kamarku. Ku sambar tas punggungku yang tergeletak di sofa.

Aku berjalan meninggalkan apartemenku, aku berdiri di depan lift menunggu lift terbuka. Dan setelah beberapa menit menunggu akhirnya pintu lift di depanku terbuka, dan tidak menampakkan siapapun di dalam lift, dan aku menyukainya, ku tekan tombol lantai basement, dan lift pun segera tertutup rapat.

Ku langkahkan kakiku menuju tempatku memarkir mobilku, anehnya aku juga tak menemukan siapapun di basement, mungkin mereka sibuk engan dunia mereka masing-masing. Aku masuk ke dalam mobilku dan ku lemparkan tas punggungku di kursi penumpang di sampingku, ku pasang handsfree di telingaku, berjaga-jaga bila ada yang menghubungiku di perjalanan. Setelah aku selesai dengan kegiatanku memasang handsfree ku hidupkan mobilku, aku pun langsung melaju di jalanan kota menuju markas Saver.

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

        Author Pov

 

          Thalia berjalan memasuki markas Saver, tas punggungnya setia menggangtung di pundak kirinya. Suara tapakan sepatu boot yang di pakainya memenuhi lorong yang sangat sepi, beberapa meter sebelum sampai di ruang meeting Thalia melihat Kai berjalan keluar dari ruang meeting, mereka berdua sempat saling melihat tapi hanya tatapan dingin yang di keluarkan dari mata kedua insan yang mungkin sekarang ini saling bermusuhan.

Thalia langsung memasuki ruang meeting yang di sambut seluruh anggota Saver minus Kai dan Luna? Hei.. di mana Luna? Thalia langsung mendudukan pantatnya di kursi samping Timo yang menatap Thalia agar duduk di sampingnya.

Soyu terlihat biasa saja di depan Thalia, hanya mengalihkan pandangan bila pandangan mereka bertemu, suasana begitu dingin di antara Soyu dan Thalia. Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan Luna yang masih berpenampilan berantakan. Mr. Dave yang melihat keadaan Luna, hanya menggelengkan kepalanya, dan menyuruh Luna duduk. Luna langsung duduk di samping Thalia sambil memakai blazernya yang tadi hanya tersampir di pundaknya.

Thalia menyenggol lengan Luna yang masih sibuk mengancingkan blazernya, Luna pun langsung menatap Thalia tajam, mungkin merasa sebal karena kegiatanya merapikan bajunya di ganggu Thalia.

“hentikan kegiatanmu bodoh! Lihat Mr. Dave menatapmu tajam! Mungkin dia akan segera memakanmu! Haha” bisik Thalia di telinga Luna, Luna pun langsung menghentikan kegiatannya dan langsung menatap Mr. Dave dengan memasang wajah polosnya.

“baik semuanya, kita mulai meeting kita sebelum kita mulai misi kita hari ini. Semuanya buka map yang ada di depan kalian, baca dengan teliti dan bila ada yang kurang jelas kalian tanyakan padaku!”

Semua yang ada di ruang meeting membaca isi map yang sudah mereka pegang, sunyi pun mengisi ruang meeting mereka, hanya suara ketukan pulpen yang di lakukan Timo yang sesekali mengisi keheningan. Timo yang selesai membaca paling awal langsung menyikut lengan Thalia, tapi bukan tengkan kepala yang Timo dapatkan, malah injakan kaki yang Timo dapat.

Thalia melirik Timo yang meringis kesakitan, senyuam jahilpun langsung muncul di wajahnya. Sementara itu Timo langsung menatap Thalia dengan death glarenya, yang di balas juluran lidah dari Thalia.

Timo menulis sesuatu di note yang selalu dia bawa, entah kenapa saat menulis timo memasang wajah yang sangat serius. Di sisi lain Luna berkali-kali menyenggol lengan Thalia namun Thalia terus memasang wajah cuek seolah tidak terjadi apa-apa.

“hey! Dengarkan aku!” bisik Luna di telinga kanan Thalia, Luna tersenyum puas mendapat anggukan dari Thalia, setelah itu Luna langsung mendekatkan lagi bibirnya di telinga Thalia.

“kau tahu! Aku bertemu dengan Kai di lorong, dan dia memakai sepatu keluaran terbaru dari Nike, oh! Aku sangat menginginkannya! Dan kau tahu kou harus mejelaskan apa yang terjadi kemarin di kamarku! Tell me every detail!” Luna menekankan suaranya di kalimat terakhirnya, Thalia langsung membalas bisikan Luna.

“kau hanya ingin membicarakan sepatu?! Semuanya akan aku jelaskan nanti! Masih ada waktu 4 jam sebelum misi ini kita mulai!” setelah menyelesaikan kegiatan bisik-berbisik di antara Thalia dan Luna, Thalia langsung memfokuskan pandanganya pada Mr. Dave yang terlihat ingin berkata sesuatu.

Ada beberapa orang yang masih sibuk membaca isi map yang dipegang, sementara yang lainya memfokuskan perhatiannya pada Mr. Dave, tak terkecuali Thalia yang memfokuskan seluruh perhatiannya pada Mr. Dave. Di sisi lain Soyu sering mencuri pandang ke arah Thalia, sesekali pandangan keduanya bertemu namun di akhiri dengan mengalihkan pandangan.

“oke! Semuanya, sekarang aku akan membagi tugas kalian! Pertama kita akan mengawal berlian ini dari bandara, yang aku beri tugas mengawal Thalia, dan Kai, tapi karena Kai terluka posisi Kai akan di gantikan oleh Jin. Timo, Luna, Jimin, dan Jessi, kalian ikut mengawal dari jauh, Ku harap kalian bisa melakukan tugas kalian sebaik mungkin, untuk kontrol pusat dan pengamatan situasi Soyu, Suga, dan aku akan melakukannya dari mobil pusat kontrol kita. Lalu, untuk tugas pengawalan nanti malam akan aku serahkan pada Timo, Luna, Choa, dan Younho, pengawalan hari kedua di gedung pameran aku serahkan pada Thalia, Jin, Jimin, dan Jessi. Dan kita kan di bantu oleh personil dari kepolisian, apa semuanya sudah jelas?” Mr. Dave mengakhiri kalimatnya dengan suara yang sedikit lantang, dan di balas anggukan mantap dari seluruh anggota Saver minus Kai.

“dan untuk kalian ketahui, Kai hanya akan ikut misi ini di hari terakhir. Semuanya mengerti? Dan kau Thalia lee, luangkan waktumu setelah ini, ada beberapa hal yang harus di bicarakan!” Semua mengangguk mantap, Thalia menebak pasti yang akan Mr. Dave bicarakan mengenai masalahnya dengan Kai.

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

Seorang lelaki sedang sibuk di depan 5 layar komputer kesayanganya, di samping tangan kirinya ada begitu banyak bungkus makanan ringan, tak tupa beberapa cup kopi yang sudah kosong. Matanya sibuk mengamati deretan angka dan huruf yang muncul di layar komputernya. Suara keyboard yang beradu seolah sudah bagaikan lagu kesayangannya setiap harinya.

“keamananya! Benar-benar mudah! Bahkan aku sangat mudah membobol ini! Aku fikir pemerintah kota benar-benar bodoh!” gumamnya, tangannya terus memencet keyboard yang ada di depannya.

“hey man! Lihat! Semua CCTV di bandara, di jalan menuju stand pameran, dan stand pameran sudah aku hack, aku rasa misimu kali ini akan lancar!” sambungnya lagi, namun kali ini sedikit berteriak, mengeluarkan suaranya yang sedikit bass.

“baiklah! Kua kontrol semuanya dari sini, aku akan mulai mengawasi mutiara itu saat tiba di bandara! Dan jangan terlalu banyak memakan snack bodoh! Aku takut Kyungri akan meninggalkan mu saat kau obesitas!” kata seorang lelaki yang sekarang duduk di samping seorang lelaki yang memiliki kulit pucat. Sementara sang lelaki berkulit putih pucat malah meninju lengan lelaki yang ada di sampingnya.

“aku masih ideal kau tahu! Bahkan aku jauh lebih tampan dari bintang Hallyu!” jawab sang namja berkulit pucat, sambil menyibakkan rambutnya yang menutupi dahinya, dan memang apa yang di katakannya benar, wajah tampan dengan garis rahang yang tegas, kulit seputih susu, proporsi tubuh yang hampir sempurna, dan tentu saja karismanya.

“kau terlalu berlebihan Oh Sehun!” kata lelaki di sampingnya sambil mengambil snack yang ada di tangan Sehun lalu beranjak pergi meninggalkan Sehun yang masih duduk di kursi dengan wajah sebalnya.

“diam kau! Jangan ambil snack ku!” Sehun berteriak, sambil berjalan mengejar temannya yang melenggang sambil membawa snack kesukaannya.

Seorang wanita tiba-tiba muncul di pintu ruangan Sehun sambil membawa sebuah tas di tangan kananya, melenggang dengan indahnya memperlihatkan tubuhnya yang berbentuk sempurna yang hanya di lapisi tank top putih yang sedikit transparan, dan hot pants denim yang super mini.

“oh! Hey Kyungri! You’re look beautiful today!”

“i’m always beautiful!” jawabnya, Kyungri mendudukan dirinya di sofa sambil menyeret Sehun agar duduk di sampingnya, sepersekian detik kemudian Kyungri sudah bersandar dengan nyamanya di dada Sehun, tak lupa lengan Sehun yang sudah melingkar sempurna di pinggang ramping Kyungri.

“apa kalian pamer padaku!?”

“tidak! Bawa tas ini! HacklerkochMK-23 semi otomatis, modul lasernya juga sangat efektif, itu aku dapatkan dari temanku di amerika, jangan sia-siakan barang ini, jangan lupa jangkauan maksimal pistol ini 100 meter!” Kyungri berkata sambil mendorong tas yang ada di meja sofa dengan kaki jenjangnya.

“okay! You’re best girl!”

“sekarang pergilah! Aku butuh waktu dengan Sehun!” Kyungri menunjuk pintu yang sudah terbuka, sambil memasang wajah seriusnya. Sementara itu Sehun sudah sibuk dengan leher dan pundak Kyungri yang sedari tadi sudah menjadi hiburan baginya, di sisi lain tangan Sehun sudah jauh menelusup di balik tank top tipis Kyungri.

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

Thalia bejalan memasuki ruangan senjata dimarkas Saver. Didalam ruang senjata, Timo dan Luna sudah duduk sambil menyiapkan senjata mereka masing-masing. Luna yang mendengar pintu ruangan dibuka, langsung menengokkan kepalanya dan langsung berjalan menghampiri Thalia.

“kau berhutang penjelsan padaku! Sekarang jelaskan semuanya padaku!” Luna berkata sambil menarik tangan Thalia, lalu menuntun Thalia agar duduk di kursi di tengah ruang senjata, di samping kursi Timo sudah menunggu dengan tampang menyelidiknya.

“cepat duduk!” Timo menatap Thalia sok garang sambil menunjuk kursi yang ada di depannya, sementara Thalia hanya memasang wajah malasnya, sungguh teman-temannya sangat berlebihan.

Thalia duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya, sementara itu Timo dan Luna malah saling menatap dengan wajah bingung mereka. Sunyi menyelimuti ruangan itu, hanya suara ketukan sepatu boots Thalia yang mengisi ruangan, Timo dan Luna masih asik saling pandang, sesekali saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan tapi Thalia tetap cuek.

“yak! Cepat katakan apa yang kau lakukan pada Kai!!” Timo berteriak tepat di depan wajah Thalia, sementara Thalia yang kaget langsung mendorong wajah Timo agar menjauh dari depan wajahnya.

“kau! Wajahku basah karena air luirmu bodoh!” Thalia memengang wajahnya yang sedikit basah karena ulah Timo, lalu Luna dengan sigap memberi Thalia tissue untuk mengeringkan wajah Thalia.

“ah! Maafkan aku! Cepat katakan!” Timo sedikit merengut, mungkin sekarang ini Timo sangat malu karena tingkahnya yang sok garang tapi malah ‘muncrat’ yang terjadi.

Setelah selesai mengeringkan wajahnya dari ulah bodoh Timo, Thalia langsung mulai menceritakan kejadian yang terjadi di kamar Luna tempo hari, Timo dan Luna hanya manggut-manggut sesekali bertanya. Sementara Thalia menceritakan setiap kejadian sedetail mungkin sebisanya, tapi saat di akhir cerita Timo malah tertawa terbahak-bahak mendengar bahwa Kai di banting Thalia dengan mudahnya.

Setelah selesai bercerita tentang apa ang terjadi di kamar Luna tempo hari, Luna langsung bertanya tentang apa yang Mr. Dave bicarakan dengan Thalia setelah selesai meeting tadi. Thalia pun langsung menceritakan pada yang dibicarakannya dengan Mr. Dave, mulai dari warna rambutnya yang belum sempat Thalia ganti dan terkena sedikit omelan Mr. Dave, sampai masalahanya dengan Kai, dan sedikit membicarakan Myungsoo.

“apa paman tidak memarahimu karena kau membanting Kai dan membuat Kai tidak bisa ikut misi pengawalan kita hari ini?” Luna bertanya dengan wajah seriusnya, di tambah Timo yang manggut-manggut di sampingnya.

“entah lah! Hanya saja dia menyuruhku lebih profesional, aku juga sadar kalau aku memang bertindak berlebihan, kalau masalah Kai tidak ikut misi pengawalan ini, mungkin karena Kai bukan pengawal terbaik di sini, kemampuannya biasa saja, menurutku lebih bagus Jin!” Thalia menjawab sesuai pandangannya, sementara Timo malah menggebrak meja kecil yang ada di sampingnya.

“yak! Apa yang kau lakukan bodoh?!” Luna berteriak karena ulah Timo yang tiba-tiba menggebrak meja, sementara Timo malah memasang muka seriusanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Luna dan Thalia bergantian dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain memegang dagunya.

“kalian tidak pernah melihat kemampuan Kai yang sebenarnya, asal kalian tahu aku pernah melihat Kai membanting Myungsoo saat latihan, dia bahkan bisa mengunci tubuh myungso dengan mudahnya, tapi anehnya saat kita semua sedang berlatih bersama dia seolah-olah menyembunyikan kemampuannya!”

“tidak mungkin! Kau tahu Myungsoo adalah yang terbaik di Saver, sedangkan Kai? Dia hanya anak baru di sini, Thalia bahkan bisa membantingnya dengan sangat mudah! Kau pasti berhalusinansi bodoh!” Luna menjitak kepala Timo setelah menyelesaikan kalimatnya, sementara Thalia malah sibuk dengan fikirannya sendiri.

‘Timo mungkin saja benar, aku bahkan pernah melihatnya membanting Myungsoo hanya dalam satu gerakan saat ada di klub waktu itu, tapi rasanya ini sedikit mustahil’

 

—BULLETS UND SCHILDE—

 

Seluruh tim Saver sudah menunggu kedatangan berlian di depan pintu kedatangan di bandara, seluruh tim Saver sudah membawa senjata dan seluruh peralatan pengawalan mereka masing-masing, Thalia dan Jin berdiri tepat di depan pintu kedatangan sedangkan Timo, Luna, Choa dan Younho menyebar dari tempat Thalia dan Jin berada, jarak mereka sekitar 25 meter.

Setelah setengah jam menunggu berlian yang akan mereka kawal akhirnya tiba di pintu keddatangan, terlihat sudah ada sekitar 10 polisi yang mengawal berlian itu sejak turun dari pesawat, Thalia dan Jin langsung menunjukkan tanda pengenal mereka lalu langsung berdiri di samping kanan dan kiri boks yang berisi berlian itu.

“thalia, awasi arah jam 3!”

                Thalia menganggukkan kepalanya, lalu mengarahkan kepalanya ke arah jam 3, tak ada yang terliaht mencurigakan selain penumpang dan keluarga mereka yang sedang berkumpul setelah kedatangan.

Seluruh tim Saver langsung bergerak mengikuti arahan dari Soyu dan Mr. Dave yang berada di mobil pusat kontrol, termasuk Thalia yang sekarang ini sedang mengawal berlian yang akan di masukkan ke dalam mobil anti peluru.

                Entah kenapa tiba-tiba Thalia merasa ada yang aneh dengan mobil berwarna hitam yang berada 3 mobil di belakang mobil yang Thalia jaga saat ini, Thalia sangat serius mengamati gerak-gerik mobil yang di lihatnya. Setelah hampir 5 menit Thalia mengamati mobil itu, pintu mobil itu terbuka memperlihatkan seorang lelaki yang memakai sweater berwarna putih dengan celana jeans sebagai pasangannya, dan juga sepatu adidas zero, tak lupa snapback dengan warna perpaduan putih dan hitam, tapi anehnya pria yang keluar dari mobil itu selalu menghindari tatapan Thalia, bahkan separuh wajahnya tertutup snapback yang di pakainya.

                “thalia! Fokus dengan pengawalanmu! Apa ada yang mencurigakan?” tanya Mr. Dave di sambungan mereka, namuan thalia menggelangkan kepala sebagai balasannya.

                “tetap fokus! Masu ke mobil kita akan ke tempat pemeran!” sesuai dengan Perintah dari Mr. Dave, Thalia langsung masuk ke dalam mobil di bagian penumpang depan dan mobil yang di tumpanginya langsung melaju di jalanan kota.

Hampir 1 jam Thalia ada di dalam mobil yang membawa berlian itu, sampai akhirnya tiba di tempat pameran yang di tuju, Thalia turun dari mobil dan langsung memutar arah pandanganya ke seluruh arah di sekitarnya.

Thalia memberi isyarat pada 2 orang yang ada di dalam mobil yang bertugas membawa boks berlian bahwa kondisi aman, setelah itu ke dua orang pembawa Boks di sambut oleh anggota Saver lain yang sudah menunggu di Stand pameran, dan tugas pengawalan Thalia hari ini selesai.

Thalia sekarang sedang berjalan menuju toilet yang ada di gedung pameran, lampu-lampu yang ada di gedung itu seluruhnya sudah di hidupkan, sekarang ini sudah hampir jam 9, jadi langit sudah berubah menjadi gelap. Lorong yang Thalia lewati sangat sepi, tak seorangpun ada di lorong yang di lewatinya. Suara langkah kaki Thalia menggema di sepanjang lorong, sampai akhirnya Thalia sampai di depan pinti toilet wanita, dan langsung memasukinya.

Thalia melepaskan gulungan surainya yang masih berwarna blonde, membuat surainya terurai dengan indahnya, setelah itu Thalia mencuci mukanya dan melepaskan blazer yang di pakainya, lalu mengeluarkan sebuah kaos putih yang longgar sebagai gantinya.

Setelah selesai dengan kegiatanya di toilet, Thalia langsung berjalan bermaksud keluar dari toilet, namun saat Thalia akan membuka pintu Thalia melihat seorang pria yang juga keluar dari toilet pria dengan mantel dan topi berwarna hitam, Thalia sempat mengamati sepatu yang di pakau lelaki itu, dan sama dengan sepatu yang di pakailelaki mencurigakan yang ada di bandara tadi.

Setelah beberapa sat berfikir akhirnya Thalia memutuskan untuk mengikuti lelaki tadi, Thalia berjalan mengendap-endap sebisa mungkin meredam suara langkah kakinya. Thalia melihat lelaki itu berbelok memasuki lorong panjang dan Thalia terus mengikutinya, entah kenapa Thalia merasa familiar dengan cara berjalan orang yang di ikutinya.

Tiba-tiba lelaki yang Thalia ikuti hilang entah kemana, Thalia memutar arah pandangnya ke seluruh penjuru lorong, namun hasilnya nihil, tak ada seoangpun di lorong tempat Thalia berada sekarang ini. Thalia menjambak rambutnya kasar, dan kemudian Thalia memutuskan berjalan lurus dan keluar dari gedung.

Saat Thalia berjalan di lorong, tiba-tiba tubuh Thalia di tarik entah siapa sehingga masuk di dalam ruangan perkakas yang ada di lorong itu, Thalia sedikit menjerit namun mulutnya di bekap oleh seseorang. Thalia merasakan tubuhnya di kunci ada sebuah lengan yang sekarang berada di lehernya, mengapit tubuhnya agar tidak bisa kemana-mana terhimpit di antara dinding ruangan yang begitu gelap dan lengan entah milik siapa, sementara itu kedua tangan Thalia sudah berada di punggungnya di pegang sebuah tangan yang begitu erat memenjarakan tanganya, sementara kaki Thalia di kunci sedemikian rupa sehingga Thalia benar benar tidak bisa bergerak.

“kau mencariku hm??” bisik seorang lelaki tepat di samping telinga kiri Thalia, membuat bulu kuduk Thlia meremang saat itu juga, suara itu begitu seduktif namun di sisi lain juga suara yang sangat mengancam.

“siapa kau?” tanya Thalia dengan rasa takut yang hampir mencapai puncaknya, baru sekarang ini Thalia menemukan kawan yang bisa mengunci pergerakan tubuhnya sesempurna ini.

“apa itu penting!? Dengarkan aku! Jangan mempersulit pekarjaanku dan pulanglah! Jangan lupa ganti warna rambutmu! Kau terlalu mencolok sebagai seorang pengawal!” bisik lelaki itu lagi, namun sekarang ini jauh lebuh dekat dengan telinga Thalia bahkan sesekali bibir pria itu menyentuh telinga Thalia.

“cepat katakan siapa dirimu sebenarnya!”

“sssttt! jangan berisik! Kau hanya perlu diam! Sekarang catat di otakmu apa yang aku katakan! Jangan pernah mempersulit tugasku dan jangan pernah mengikutiku, kau tahu aku bisa membunuhmu sekarang ini Lee Hyunjo!”

Thalia mebelalakkan matanya mendengar apa yang baru saja lelaki yang mengunci tubuhnya katakan, bagaimana bisa lelaki itu mengetahui nama asli Thalia, bagaimana bisa. Thalia mengambil nafas dalam, Thalia mencoba tetap tenang dan mencoba mengatur rasa takutnya, namun tiba-tiba Thalia merasa sangat familiar dengan aroma parfum yang di pakai lelaki yang ada di depannnya sekarang ini.

“baiklah! Ku harap kau bisa mempermunah tugasku! Terimkasih Lee Hyunjo!” Thalia membelalakanmatanya sekali lagi, setelah menyelesaikan kalimatnya lelaki itu mencium bibir Thalia lembut, namun hanya ciuman singkat lalu meninggalkan Thalia di ruangan itu.

Thalia merasa air matanya sudah mengucur deras saat ini, Thalia keluar dari pintu ruangan perkakas itu dengan gontai, tubuhnya terduduk di lantai lorong dan tangisnya keluar dengan sempurna. Thalia melihat tangan kanannya, terdapat tulisan TND, dan Thalia sekarang ini begitu terpukul dan merasasangat hancur.

 

 

‘siapa sebenarnya kau? Parfum itu kau! Yang mengetahui nama asliku kau! Tapi ciuman itu sama sekali bukan dirimu! Dan bibir itu sangat berbeda dengan bibirmu! Apa kau Myungsoo?’

 

Tbc

 

       

 

            Jreng,, PutriKim balik lagi, heheh

Makasih ya yang chapter 1 kemaren bialng pada seru, maaf juga kalo chapternya kependekan, ini karya author yang author buat dengan penuh cucuran keringat yang terkumpul hampir se ember lo…. jadi hargain ya! Comentnya yang banyak ya! Heheehe…. author juga ngarep dapet banyak saran sama kritik dari temen-temen semua, hehe….

Tapi maaf banget ya kalo banyak typo…

6 thoughts on “BULLETS UND SCHILDE (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s