I Love My Father (Chapter 7)

picsart_11-18-12-24-00

Title: I Love My Father (Chapter 7)

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

Langit berselimut awan hitam. Desiran angin tak terasa malam ini. Tak ada pepohonan yang bergerak mengikuti angin, tak ada guguran daun yang menari diatas udara. Tak ada keramaian yang terdengar di tengah kota. Bumi seakan tak berpenghuni. Semua diam tak bersuara. Nafas tak terasa. Jantung tak berdetak. Semua seakan mati ditempat tanpa jasadnya. Gundukan tanah pemakaman terlihat sedikit, padahal seluruh manusia terlihat sudah mati saat ini juga.

YoungAh memasuki pekarangan rumah ChanYeol. Rumah yang begitu besar bak istana. Bercat abu-abu yang begitu elegan tetapi menyeramkan didalamnya. Aura negatif sudah menyelimuti tubuhnya saat berada di luar pagar rumah ChanYeol. Pagar cokelat mengkilap dengan gambar burung rajawali menambahkan kesan mistis. YoungAh memeluk dirinya, takut ada makhluk ghaib yang mencolek dirinya. Kabut asap terlihat dipintu rumah ChanYeol. Rumahnya begitu menyeramkan dan menakutkan. YoungAh sempat berfikir, ini adalah rumah hantu, dengan penhuni yang berdominan makhluk halus semua. Mungkin, hanya ChanYeol yang berstatus manusia di rumah ini. Entah, hanya ChanYeol yang tahu.

ChanYeol memasuki rumah nya terlebih dahulu tanpa melihat YoungAh yang sedang ketakutan. ‘Begitukah cara menyambut tamu?’ umpat YoungAh. Ia benar-benar geram terhadap ChanYeol, sedari tadi ChanYeol terus meninggalkannya. Mulai dari perpustakaan, sampai dirumahnya sendiri. Dia masih bisa memaafkan ChanYeol karena telah meninggalkannya di perpustakaan. Tapi kali ini, tidak! Ia sudah muak karena terus ditinggal olehnya. Dengan inisiatif yang cepat, ia segera mengambil langkah seribu untuk menyamakan langkahnya dengan ChanYeol. Ia mengalungi tangannya pada siku ChanYeol agar ChanYeol tak menghilang dari pandangannya. Tapi ChanYeol? Hanya cuek dan tak peduli!

“Hei! Kenapa rumah mu seram sekali?” YoungAh menatap keseluruh isi ruangan rumah ChanYeol. Barang-barang antik dan keramat. Begitu mistis dan menakutkan. Ada keris pusaka, keris keramat, batu akik, jimat, batu fosil dan masih banyak lagi. Ada dua buah benda yang membuatnya terlonjak kaget. Tengkorak manusia dan kepala harimau. Benar-benar menakutkan.

ChanYeol tak memperdulikan ocehan YoungAh yan terus berbicara tentang rumah nya ini. Ia membuka kenop pintu kamarnya yang dihias dengan 2 buah samurai kecil.

“Hahh aku bisa serangan jantung bila berlama-lama disini!” YoungAh membuang tasnya diatas kasur ChanYeol yang empuk. “Kau tak takut tinggal dirumah keramat seperti ini?”

“Sudah biasa.” ChanYeol merapikan buku-buku sekolahnya yang tadi ia bawa, dan memasukkan buku-buku sekolah yang harus ia bawa besok. “Aku sudah tinggal dirumah ini sejak aku lahir. Dan rumah ini sudah ditempati oleh 6 leluhur sebelum diriku.”

“6 leluhur? Maksudnya?” YoungAh mendudukan dirinya diatas lantai dan memperhatikkan ChanYeol yang berdiri memunggunginya.

“Susah menjelaskannya. Kau takkan mengerti!”

“Ayolah beritahu!!” rengek YoungAh.

“Baiklah!” ChanYeol membalikkan tubuhnya. Sorot matanya tertuju pada YoungAh yang seperti anak kecil untuk minta di dongengkan. “Aku ini keturunan ke 7, sedangkan Ayah ku keturunan ke 6. Lalu keturunan ke 5 adalah kakek ku. Lalu keturunan 4 adalah kakek buyut ku atau kakeknya kakek ku. Begitu seterusnya.” Ia melangkah pergi menuju lemari bajunya. Ia membuka blazer dan juga kemeja sekolahnya. Untung saja YoungAh tidak berbalik menghadapnya, karena ia masih sibuk berkutan dengan otaknya. Dan kesempatan ini ia manfaatkan untuk berganti pakaian.

“Berarti, kakeknya kakeknya kakekmu adalah keturunan ke 3. Lalu kakeknya kakeknya kakeknya kakekmu adalah keturunan ke 2. Lalu ….” saat ia sibuk menghitung dengan jemarinya, ChanYeol menghentikan aksi YoungAh menghitung leluhur-leluhurnya.

“Kau mau minum apa? Aku juga punya cemilan banyak dikulkas!” tawar ChanYeol.

“Kau ada minuman apa saja?” tanya nya balik.

“Air putih saja!”

YoungAh memutar kedua bola matanya. Ternyata, temannya ini selain menjengkelkan juga mempunyai sisi humor yang garing menurutnya. “Kalau ada nya hanya air putih, kau tak perlu bilang ‘Kau mau minum apa?’” ia menirukan cara bicara ChanYeol. Ia membalas semua perilaku ChanYeol terhadap dirinya saat disekolah, saat ia menirukan cara bicaranya saat gelisah memikirkan balasan Luhan, Ayahnya. “Ambilkan lah! Sekalian bawa cemilan mu yang banyak yaa..” YoungAh berlakon seperti Bos Besar yang sedang memerintah anak buah nya. Dan ChanYeol segera keluar dari kamarnya diiringi dengan suara kenop pintu yang berdecit.

Selagi si empunya kamar sedang tak berada di singgahsananya, YoungAh memanfaatkan dirinya untuk melihat kamar ChanYeol yang luasnya sama dengan luas kamarnya. Ia penasaran dengan 1 buah rak buku yang terisi penuh, tanpa ada cela. Rak buku yang ChanYeol miliki sama seperti rak buku yang ada diperpustakaan sekolahnya. ‘Kenapa ia tak bangun perpustakaan saja dikamar ini? Dia begitu gemar membaca rupanya.’

Di rak paling atas, terdapat buku pelajaran SD. Rak kedua, buku pelajaran SMP. Rak ketiga, buku pelajaran SMA. Padahal ia baru masuk 1 semester di SMA dan masih kelas 10. Tapi buku yang ia punya sudah menumpuk semua. ‘Apa dia meminjam semua buku-buku ini di perpustakaan? Hahh .. dia ini memang gemar membaca.’

Ia jadi teringat sesuatu di perpustakaan tadi, dia belum mengetahui buku apa yang ChanYeol pinjam. Ia berusaha mencari buku tersebut di rak ketiga. Tapi buku pinjaman dari perpustakaan banyak sekali. Tapi, ada 2 buku yang bukan termasuk buku pelajaran sekolah yang terselip di antara buku pelajaran yang tadi ia bawa. “The Power Of Telecinetics and Teleportation” ia mengeja salah satu dari 2 buku tersebut. “Itukan buku yang tadi dia baca. Berarti yang…” ia menunjuk buku yang berjudul ‘Indigo People’. Ia melihat cover depan dan belakang buku tersebut lalu membawanya ke atas kasur milik ChanYeol.

Beberapa menit kemudian, ChanYeol masuk kekamarnya membawakan 2 minum dan satu toples cemilan. YoungAh asik dengan kegiatannya dan tak menyadari ChanYeol telah datang. Dan sekarang, ia berada di daerah berbahayanya.

ChanYeol mengambil buku yang dibaca YoungAh kasar. “Kau sudah datang? Sepertinya perjalanan mu menuju dapur jauh sekali ya? Apa dijalan macet? Haha..” YoungAh melepas headseatnya sambil tertawa garing. Headseat, itu sebabnya ia tidak mendengar decitan kenop pintu yang terbuka.

“Kau tidak tahu? Rumah ku ini besar dan luas. Tentu saja aku lama mengambil pesanan mu!” ChanYeol menaruh kembali buku yang ada di tangannya ketempat semula.

“Semua pesanan? Kau hanya menyediakan air putih dan..” ia melihat setoples cemilan di lantai yang bersih. “Kuaci??”

ChanYeol menaikkan alisnya seraya menjawab, ‘Iya’. “Kau bilang, kau punya cemilan banyak? Tapi kenapa yang kau keluarkan hanya kuaci? Apa jangan-jangan kau hanya punya kuaci?” YoungAh menghantam ChanYeol dengan nada bicaranya yang sedikit keras.

“Iya. Aku hanya punya kuaci.” Jawabnya tak berekspresi.

“Kalau begitu, kenapa tadi kau bilang punya banyak cemilan?”

“Karena menurutku, jumlah kuaci 1 bungkusnya banyak. Jadi, aku bilang saja kalau aku punya banyak cemilan.”

YoungAh menepuk keningnya sedikit kencang. Tapi tak membuatnya kesakitan. “Kau ini memang punya selera humor yang tinggi ya. Sampai aku ingin menerkammu persis seperti macan menerkam mangsanya!” YoungAh menghardik ChnYeol yang tengah bersiap meminum air putihnya. Ia pura-pura mencekik ChanYeol dan terus mengacak rambutnya. Jeritan-jeritan kecil ChanYeol mulai terdengar dan ia mencoba menghentikkan tangan YoungAh yang sedari tadi mengacak rambutnya. Untung saja, rambut yang di miliki ChanYeol mudah diatur. Jadi, ia tak perlu khawatir dengan rambutnya setelah di buat seperti adonan kue oleh YoungAh.

“Hei apa yang kau baca tadi hah??” pertanyaan tersebut sukses menghentikan gerakan YoungAh. “Kau ini tak punya sopan santun! Kau mengambil barang orang tanpa izin terlebih dahulu!”

“Hehehe.. maaf!” YoungAh mengusap tengkuknya. “Kau saja yang datangnya lama! Aku tak suka membuang-buang waktu! Selagi aku bisa mengambil buku itu, kenapa tidak aku ambil? Kenapa harus menunggu mu dulu? Lagi pula, buku itu bukan milikmu! Tapi milik sekolah!”

ChanYeol mendesah panjang. “Apa yang kau baca dari buku itu?”

YoungAh berbalik, memunggungi ChanYeol. Ia berfikir terlebih dahulu sambil tersenyum jahil. “Indigo adalah warna nila. Anak indigo adalah anak nila. Ia mempunyai suatu kemampuan khusus, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Mempunyai 10 kekuatan. Yaitu, membaca pikiran, melihat masa depan, melihat masa lalu, melihat kejadian yang sedang terjadi, memindahkan barang, hipnotis, berkomunikasi dengan tuhan, IQ yang tinggi, dapat berkomunikasi dengan ruh dan memprediksi suatu kejadian.”

“Pintarnya dirimu untuk soal menghafal.” Puji ChanYeol yang membuat YoungAh berbalik badan dan mengusap tengkuknya. Pipinya merah seperti kepiting rebus akibat pujian ChanYeol. “Tapi bodohnya dirimu saat kau berfikir ayah mu akan cemburu terhadap dirimu!” ChanYeol menahan tawanya apabila mengingat kejadian di kelas tadi. Saat YoungAh membanting ponselnya keatas meja, sungguh ekspresi yang begitu lucu.

YoungAh mengerucutkan bibirnya. “Mana buku mu? Aku ingin membacanya!”

“Tuu..” ChanYeol memajukkan bibirnya menunjuk sebuah buku yang berad di rak buku.

YoungAh berjalan menuju ke rak buku untuk mengambil buku yang tadi di ambil ChanYeol. Sedangkan ChanYeol malah asik meminum air putih dan kuacinya.

Lembar demi lembar di bukanya. Terkadang, YoungAh menganggukkan kepalanya saat membaca. Mungkin ia mulai mengerti apa arti ‘Indigo’ sebenarnya.

“Hei! Minumlah dulu dan makan kuacinya! Kau ini malah sibuk dengan buku itu! Kau tidak menghargai kerja kerasku hah?” cecar ChanYeol yang sedang asik menggigit kulit kuaci.

“Iya sebentar.” Perkataanya begitu lembut kali ini. Bukan seperti YoungAh yang hyperaktif, suka berbicara, sering berteriak, terlalu pede, dan keingin tahuan yang akut. Kali ini, cara bicaranya selembut sutra. ChanYeol sedikit tercengang saat mendengar nya. Tapi, seakan tersadar akan suatu hal, YoungAh mengalihkan pandangan terhadap buku yang ia baca. “Apa? Kerja keras? Hei! Itu hanya segelas air putih dan kuaci! Kenapa kau berfikir itu adalah sebuah kerja keras? Apa kau mengambilnya saat berada di zaman penjajahan? Apa mengambil air putih dan kuaci harus melewati gorong-gorong hah?” setelah pidatonya selesai, ia mulai membaca buku milik ChanYeol kembali.

“Jangan samakan aku dengan tikus!” ChanYeol mendesah kuat. Ia memalingkan wajahnya dari YoungAh dan menatap kearah yang lain. “Kau terlihat lembut saat mengatakan, ‘Iya sebentar.’ Tapi setelah itu, kau kembali menjadi monster.”

“Jangan memujiku seperti itu. Nanti kau tertarik padaku!” matanya masih fokus dengan bacaan di buku tersebut.

“Kau tak ingat tadi teman ku bilang apa?” YoungAh menutup bukunya. Dia menatap langit-langit kamar ChanYeol sambil berfikir,

‘Kau jangan mengelak! Kalau kau menyukainya bilang saja! Aku bahagia melihatmu jatuh cinta.’

“Aku mengingatnya!” ujarnya cepat.

“Aku belum pernah dan tidak akan pernah bisa merasakan jatuh cinta.”

“Apa?? Apa anak indigo tidak bisa merasakan jatuh cinta?”

“Hhh.. siapa yang bilang aku anak indigo? Aku kan bilang seperti anak indigo, bukan berarti aku anak indigo!”

“Lalu buku ini?” YoungAh menunjukkan buku yang ada dipangkuannya. “Kenapa kau mengambil buku tentang indigo?”

“Karena, kekuatan ku dengan anak indigo dan beberapa sifat-sifat nya hampir sama!” tutur ChanYeol.

“Lalu, sampai kapan kau tidak bisa jatuh cinta?”

“Seharusnya, tinggal 3 tahun lagi. Tapi aku berjanji akan membantumu dan mengambil kembali kekuatanku. Setelah masalahmu selesai, akan ku titipkan lagi dan aku akan memulainya dari awal, menunggu selama 5 tahun.” YoungAh terkejut mendengarnya. Ia menutup bibirnya dengan punggung tangannya.

“Jangan lakukan itu apabila itu menyiksa dirimu!” jawab youngAh bijak.

“Itu tidak menyiksaku! Kau tenang saja! Temanku pernah bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.” YoungAh terdiam.

“Lalu, bagaimana kekuatanmu bisa lahir didunia dan merasuk tubuhmu? Apa namanya?” YoungAh terlihat gugup dan segera mengganti topik pembicaraan.

“Hubungan cinta yang terjalin antara setan dan manusia. Sebuah cinta terlarang yang dibuat oleh orang tua dari leluhur pertama. Dan gara-gara cinta terlarang itu, seluruh keturunan 1 sampai 7 tidak bisa merasakan jatuh cinta apabila kekuatannya masih bersarang dalam dirinya. Ia bisa merasakan jatuh cinta apabila kekuatannya dicabut atau di titipkan dan dibersihkan dalam diri orang tersebut dan harus menunggu 5 tahun sampai kekuatan itu benar-benar bersih tak tersisa.” Jelas ChanYeol. “Kalau soal nama, aku tak tahu! Mungkin karena aku turunan ke-7 sekaligus menjadi keturunan terakhir, jadi aku sedikit cuek!”

“Ohh seperti itu..” YoungAh kembali membaca bukunya. Baru 1 kata ia baca, ia kembali menatap ChanYeol. “Oh iya! Aku belum bertanya padamu, apa tujuan mu membawaku kesini?”

“Aku ingin membahas soal rencana kita untuk mengupas misteri ini.”

YoungAh mengangguk sambil membulatkan bibirnya seraya ber ‘Ohh’ ria. Ia kembali membaca bukunya yang sempat tertunda. Sedangkan ChanYeol malah asik dengan kuacinya.

“Ciri-ciri anak indigo adalah empatik, penuh rasa ingin tahu, berkeinginan kuat, sering dianggap aneh oleh teman dan keluarga, dan sering diam” ia membaca buku itu seperti mendongeng cerita agar ChanYeol tidur. “Pantas saja tadi kau bersikap dingin dan lebih banyak diam. Ternyata itu pengaruh kekuatanmu.”

“Ternyata kau mulai pintar sekarang!” ChanYeol sebenarnya ingin mengusap pucuk kepala YoungAh. Karena tangannya tak memungkinkan untuk sampai menyentuh kepala YoungAh, jadi ia urungkan niatnya.

YoungAh sudah merasa bosan membaca buku. Ia menutup buku ChanYeol yang ia pinjam dan menaruhnya tepat disampingnya. Ia meneguk segelas air putih dalam satu tegukan. “Apa rencana mu selanjutnya?” tanya nya saat menaruh gelas kosong di atas nampan.

“Memanggil kekuatanku!” jawab ChanYeol memasukkan beberapa kuaci kedalam mulutnya.

“Kau yakin akan memanggil kekuatanmu?”

“Iya aku yakin. Kalau aku tak memanggilnya, aku tak yakin bisa. Mungkin bisa, tapi akan berlangsung lama.” ChanYeol berdiri menghampiri laci meja lampu di samping tempat tidurnya. Ia memutar kunci untuk membuka laci tersebut dan mengeluarkan kunci yang berukuran besar serta keemasan.

“Kalau kau memanggil kekuatan mu dan kekuatannya bersarang pada dirimu, kau pasti tidak bisa bercanda, kau pasti terus diam tidak bersuara, hanya bicara seperlunya. Lalu, bagaimana aku bisa menceritakan sesuatu tentang Luhan padamu?” YoungAh menatap kosong ke depan. Raut wajahnya yang sedih membuat ChanYeol tertawa kecil tanpa suara. Wajah polosnya memang menggemaskan. Belum lagi ia masih duduk bersila di atas lantai tanpa alas, membuat nya seperti anak kecil yang merengek minta di gendong.

“Kau ingat kata-kata ku kemarin rupanya? Ku kira kau sedang tidak fokus dan melupakan konsekuensinya.” YoungAh masih diam, sibuk dengan fikirannya yang kosong. “Kau mau ikut?” tawar nya sambil memainkan kunci.

“Tidak, aku takut!” YoungAh menggeleng cepat. Ia mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Pendiriannya cukup kuat kalau diperhatikan dari gerak-geriknya.

“Yasudah kalau tak mau.” Tinggal dua langkah lagi menuju ujung pintu. Tiba-tiba angin malam berdesir kencang. Membuat horden berwarna biru laut berterbangan mengikuti alunan angin.

“Aku ikut!” YoungAh dengan cepat merubah pikirannya. Ia berdiri dan berlari menghampiri ChanYeol lalu mengalungkan tangannya pada tangan ChanYeol.

“Baiklah.” ChanYeol membuka kenop pintu dan keluar dari kamar.

YoungAh masih menggelayuti tangan ChanYeol, ternyata semakin memasuki rumah ChanYeol semakin menyeramkan. Dan dirumahnya begitu sepi tak berpenghuni.

“Rumah mu sepi sekali. Apa kau tinggal sendirian?” tanya YoungAh sambil terus mencengkram tangan ChanYeol.

“Ada orang tua ku!”

“Orang tua mu mana?

“Sudah tidur!”

“Cepat sekali.”

“Mereka memang seperti itu. Pulang kerja, langsung tidur!”

“Kalau mereka berdua seperti itu, berarti kau juga seperti itu?”

ChanYeol menghentikkan langkahnya tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna dark dengan hiasan lambang tengkorak bajak laut. “Aku juga seperti itu.”

“Lalu, kenapa sekarang kau tidak melakukan hal yang sama dengan orang tuamu?”

ChanYeol mengadahkan kepala untuk melihat langit-langit rumahnya. Ia tak tahan dengan pertanyaan yang dilontarkan YoungAh, ia begitu berisik dan bawel. “Karena ada kau! Kau mau aku tinggal tidur hah?!” YoungAh menggeleng kuat, ia tak mau hal itu terjadi, ia bisa mati ditinggal sendirian di tempat terkutuk seperti ini.

“Aku peringatkan, kau jangan berisik saat masuk kedalam ruangan ini. Kau harus sopan dengan ruh yang ada di dalam.” ChanYeol memasukkan kunci kelubang kunci pintu ruangan tersebut.

“Hei tunggu!!” suara gemaan YoungAh menghentikan pergerakan tangan ChanYeol yang ingin memutar kunci. Ia melepas cengkraman tangannya pada ChanYeol. “Apa yang kau maksud tentang ruh hah?”

Chanyeol berdiri tegap, menyamakan tingginya dengan YoungAh. “Kau belum tahu soal kakekku?” YoungAh menjawab dengan gelengan yang kuat. “Kakekku sudah meninggal, dan jasadnya di awetkan sampai aku benar-benar bersih dari kekuatan yang ku punya. Setelah semuanya bersih, jasad kakekku akan dikuburkan dalam ruangan ini bersama leluhur yang sudah terlebih dahulu di kubur jasadnya.”

“Apa? Kenapa harus di awetkan?” seluruh tubuh YoungAh mulai merinding mendengar cerita ChanYeol. Ia memeluk dirinya demi melindungi dirinya dari malapetaka.

“Itu sudah tradisi keluarga Human Devil. Hei! Aku mengetahui nama keturunan ku.” ChanYeol tersenyum senang karena ia mengingat nama keturunannya. “Setiap ada keturunan baru, keturunan lama tidak boleh meninggalkan dunia. Ia harus tetap di dunia sampai keturuna baru tidak menginginkan kekuatannya lagi. Walaupun keturunan lama telah meninggal, tapi ruhnya harus tetap tinggal di bumi.”

“Kenapa seperti itu?” wajah YoungAh menggambarkan bahwa ia ketakutan dan ingin keluar dari rumah ini secepatnya.

“Karena, kalau keturunan baru tidak ingin memakai kekuatannya, ia akan meminta pada siapa untuk mengeluarkan kekuatannya itu kalau tidak pada keturunan lama? Mentransfer kekutan juga dibutuhkan keturunan yang lama, setelah semua kekuatan telah ditransfer, barulah keturunan lama meninggal.”ChanYeol memandang YoungAh yang sangat pucat, menahan semua rasa takutnya. “Setelah semua kekuatan ku ini bersih dari tubuhku, rumah ini akan lenyap dan diganti dengan rumah yang baru. Masih ditanah yang sama, dengan bangunan yang berbeda. Rumah ku ini juga mempunyai unsur supranatural.”

“Maksudnya?”

“Mata batin mu sudah ku buka sejak dalam perjalanan, agar kau bisa melihat rumah ku dengan bangunan yang sesungguhnya. Kalau kau melihatnya dengan mata batin tertutup, kau akan melihat rumah ku dengan bangunan indah dengan cat berwarna putih keemasan.” ChanYeol melanjutkan kegiatannya membuka kunci. Dan alhasi, pintu itu terbuka dan memperlihatkan isi ruangan yang mengeluarkan aura negatif.

ChanYeol masuk terlebih dahulu, diiringi dengan YoungAh yang membuntutnya dari belakang. YoungAh terus memeluk dirinya dan menoleh ke kanan dan kekiri, takut-takut ada seseuatu yang ghaib yang menampakan dirinya.

Ruangan yang luas dengan aura negatif yang mencekam. Berjajar lemari laci terbentuk mengikuti sudut ruangan ini. Beberapa pajangan juga terlihat dari sini. Mulai dari barang antik, sampai barang keramat. Cahaya lampu yang minim menambah kesan mistis dalam ruangan ini.

“Lebih baik aku berdiam diri dikamar mu daripada aku harus ikut dengan mu kesini.” Satu kalimat yang terlontar dari bibir YoungAh membuat ChanYeol menatap tajam kearahnya. Seakan teringat perkataan ChanYeol, ‘Aku peringatkan, kau jangan berisik saat masuk kedalam ruangan ini. Kau harus sopan dengan ruh yang ada di dalam.’. YoungAh menunduk meminta maaf pada ChanYeol.

YoungAh berdiri di sudut ruangan, tepat disamping pintu. Ia berfikir apabila ia merasa di goda oleh makhluk astral, ia bisa keluar dengan cepat. Walau kemungkinan ia akan tersesat dirumah ini, tapi, melarikan diri dari ruangan ini sudah cukup lega baginya.

ChanYeol mengambil kayu bakar yang tersimpan di samping lemari baju yang berada di sudut kanan ruangan. Ia meletakkan beberapa kayu bakar tesebut di tengah ruangan dan menyalakan pematik untuk menyalakan api.

ChanYeol mengarahkan pandangannya pada sesosok gadis yang bernama YoungAh yang juga memperhatikan dirinya. Ia menaikkan sudut bibirnya dan menghampiri gadis yang sedang dirundung rasa takut itu.

“Kau mau ikut aku ketengah ruangan?” dengan cepat, YoungAh menolak ajakan ChanYeol. “Kau akan lebih takut bila disini sendirian.” YoungAh menatap dalam manik mata ChanYeol. Ia menerima ajakkan ChanYeol. Ia percaya, temannya akan melindunginya pada saat seperti ini.

“Kau takut darah?” ChanYeol mengambil satu buah samurai panjang nan tajam. Ia mencoba samurai itu terlebih dahulu sebelum ia pakai, apakah tajam? Ataukauh tidak?!. “Pakai ini!” ChanYeol menyerahkan selembar kain merah serta ipod pada YoungAh.

“Untuk apa?” suara YoungAh mulai parau. Ia benar-benar berada di klimaksnya.

“Aku takut kau tidak kuat melihat dan juga mendengarnya. Lebih baik kau pakai, daripada kau pingsan.” YoungAh menerima uluran tangan dari ChanYeol dan segera memakainya untuk menutup penglihatan dan pendengarannya.

Dengan satu gerakan, samurai itu mengenai telapak tangan kanan ChanYeol, membuat darahnya bercucuran dilantai yang selalu bersih walaupun tak dibersihkan. ChanYeol meletakkan tangannya di atas api dan membiarkan darah yang ia buat jatuh mengenai api suci itu.

Kedua telapak tangannya ia satukan seraya memohon sesuatu, suara mantra pemanggil ruh mulai terdengar. Tiga tetes darah sudah jatuh mengenai api tersebut, segera ia memanggil kakekya sebanyak tiga kali. “Kakek.. kakek.. kakek…” ia memejamkan mata dan terus berkonsentrasi.

Sekumpulan asap mulai terlihat dari peti yang berdiri tegak didepan api tersebut, dan keluarlah sesosok laki-laki paruh baya yang tak menapak bumi.

“Aku ingin meminta kekuatan telepati ku kembali, kakek! Aku ingin membantu gadis disampingku ini.” ChanYeol masih menutup matanya sambil berkonsentrasi penuh.

“Baiklah, akan aku berikan.”

Lelaki paruh baya itu mengankat tangannya. Dari telapak tangannya terpancar cahaya putih dengan gradiasi warna biru laut. Lama kelamaan, lelaki paruh baya itu menghilang seiring menghilangnya cahaya tersebut.

Mata ChanYeol terbuka, api yang ia nyalakan padam sudah, kayu bakar yag ia pakai telah kembali ketempat semula. Sungguh aneh tapi nyata. Gadis disampingnya yang di yakini sudah banjir keringat. Seluruh badannya gemetar, tak kuat menahan aura yang ada. Dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk. Untungnya ada ChanYeol yang sigap menahan berat tubuh YoungAh. Ia membiarkan tubuh YoungAh terbaring diatas lantai dan kepalanya miniduri paha nya. Ia melepas kain yang menutupi mata indah YoungAh. Dan ia pun melepas headseat yang terpasang di telinga YoungAh. ChanYeol memasang headseat itu di telinganya, dan, “Aishh.. kenapa kau bandel sekali hah? Liat apa yang terjadi pada dirimu? Kenapa kau tidak memainkan lagu di ipod ini? Ini akibatnya karena kau mencoba mendengar pembicaraan ku dengan kakek.” ChanYeol membopong tubuh YoungAh keluar dari ruangan yang amat mencekam ini. Ia sendiri pun tahu bahwa ruangan ini mempunyai energi negatif yang cukup kuat dan pekat.

TBC

5 thoughts on “I Love My Father (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s